Minggu, 24 Januari 2016

Sejarah Penemuan Batu Rosetta dan penerjemahan Papirus Rhind



Penerjemahan papirus rhind baru memungkinkan untuk dilakukan secara cepat karena pengetahuan yang diperoleh dari Batu Rosetta. Penemuan lemping basal hitam mengkilap ini adalah kejadian yang paling signifikan dari ekspedisi Napoleon. Batu ini ditemukan oleh seorang perwira pasukan Napoleon dekat Rosetta di sungai Nil pada tahun 1799, ketika mereka menggali pondasi sebuah benteng. Batu Rosetta terdiri atas tiga panel, yang masing-masingnya ditulis dengan tiga jenis tulisan berbeda. Huruf Yunani pada bagian ketiga, (paling bawah), naskah demotik bertuliskan huruf Mesir, (bentuk pengembangan huruf hieratik) pada bagian tengah, dan huruf hieroglif kuno pada bagian paling atas dan agak rusak. Cara membaca huruf yunani tidak pernah hilang, cara membaca huruf hieroglif dan demotik tidak pernah ditemukan. Untungnya disimpulkan dari naskah yunani itu bahwa ternyata kedua panel lainnya membawa pesan yang sama, sehingga naskah tersebut merukan teks tiga bahasa yang dapat digunakan untuk menguraikan alfabet hieroglif.
                Pentingnya Batu Rosetta segera disadari orang-orang perancis, terutama Napoleon, yang memerintahkan naskah itu diperbanyak dengan salinan-salinan cetak tinta dan dibagikan kepada para ilmuwan di Eropa. Ketertarikan publik sangat tinggi sehingga ketika Napoleon dipaksa untuk melepaskan Mesir pada Tahun 1801, salah satu dari artikel dari pakta penyerahan mencantumkan penyerahan batu tersebut kepada Inggris. Seperti halnya semua artifak yang terkumpulkan. Batu Rosetta akhirnya menjadi milik museum Inggris, dimana pembuatan dan penguraian empat cetakan Gips di Universitas-universitas Oxford, Cambridge, Edinburgh, dan Dublin, dimulai dengan analisis komparatif.  Permasalahannya menjadi lebih rumit dari yang dibayangkan, sehingga membutuhkan 23 tahun dan oenelitian yang intensif dari para ilmuwan untuk mencari solusinya.
                Bab terakhir dari Batu Rosetta, seperti halnya misteri pertama, ditulis oleh seorang ilmuwan perancis, Jean Francois Champollion (1790-1832). Sebagai orang yang paling berpengaruih berkaitan dengan penelitian tentang Mesir, sejak kecil Champollion telah melihat pertanda bahwa dian akan memainkan peran penting dalam mengungkapkan buda Mesir kuno. Sejarah mencatat bahwa pada usia 11 tahun dia berjumpa dengan matematikawan Jean-Baptiste Fourier, orang yang menunjukkan kepadanya beberapa Papirus dan lempengan batu bertuliskan huruf Hieroglif. Meski diyakinkan bahwa tidak ada seorangpun yang mampu membacanya, sang bocah memberi jawaban yang lebih meyakinkan, “ saya akan melakukannya jika saya dewasa nanti”. Dari momen itulah hampir segala sesuatu yang Champollion lakukan selalu berkaitan dengan ilmu tentang Mesir (Egiptologi). Pada usia 13 tahun, dia mampu membaca tiga bahasa dari kawasan timur, dan ketika berusia 17 tagun, dia menuju Universitas Grenoble dan melakukan study disana. Pada tahun 1822, dia telah mampu mengumpulkan kosa kata hieroglif dan membaca secara lengkap panel bagian atas yang tertera pada batu Rosetta.
                Dari waktu ke waktu hurf0-hurf hieroiglif berkembang dari suatu sitem gambar-gambar, dari kata-kata lengkap menjadi sistem yang mengikuti lambang-lambang alfabet sekaligus simbol-simbol fonetik. Pada naskah hieroglif batu rosetta, kerangka-kerangka oval yang disebut cartouches (kata dalam bahasa perancis yang berarti cartridge atau pelor) digambarkan mengelilingi karakter-karakter tertentu. Karena hanya tanda-tanda ini sajayang menunjukkan penekanan khusus, Champollion menyimpulkan bahwa simbol-simbol yang dikelilingi oleh pelor-pelor tersebut mewakili nama dari penguasa tersebut, Ptolemy, seperti yang disebutkan dalam teks yang berbahasa Yunani. Champollion juga memiliki salinan naskah-naskah yang terdapat pada sebuah obelisk, dan alas tumpuannya, dari Philae. Alas tersebut memuat tulisan yunani yang mengagumkan Ptolemy dan istrinya Cleopatra ( BUKAN Cleopatra terkenal yang konon matinya bunuh diri). Pada obelisk itu sendiri, yang berpahatan huruf hieroglif, terdapat dua pelor yang didekatkan, jadi mungkin bahwa dua pelor tersebut menekankan ekuivalen-ekuivalen Mesir untuk nama diri dari orang tersebut. Selain itu salah satu pelor tersebuat memuat karakter-karakter hieroglif yang terdapat dalam pelor-pelor yang ditemukan dalam Batu Rosetta. Uji silang ini sudah cukup bagi Champollion untuk membuat penguraian awal. Dari nama-nama bangsawan tersebutdia kemudian menetapkan hubungan antara simbol-simbol hieroglif dan huruf-huruf Yunani. Ketika itu dimana tulisan hieroglif mulai tersibak selimut misterinya, Champollion melaui usaha tanpa henti, selama bertahun-tahun, dikabarkan menangis setengah berteriak, “ Aku menemukannya!” dan terjatuh pingsan.
                Sebagai puncak bagi studi seumur hidupnya, Champollion menulis karyanya berjudul Grammarie Egiptienne en Encriture Hieroglyphique, yang diterbitkan dan mendapatkan penghargaan pada tahun 11843. Di dalamnya dia merumuslkan sebuah sistem gramatika dan uraian umum yang menjadi landasan bagi semua karya yang kemudian dihasilkan oleh para egiptolog lainnya. Batu Rosetta telah memberikan kunci pemahaman terhadap salah satu peradaban hebat dimasa silam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar