Penerjemahan
papirus rhind baru memungkinkan untuk dilakukan secara cepat karena pengetahuan
yang diperoleh dari Batu Rosetta. Penemuan lemping basal hitam mengkilap ini
adalah kejadian yang paling signifikan dari ekspedisi Napoleon. Batu ini
ditemukan oleh seorang perwira pasukan Napoleon dekat Rosetta di sungai Nil
pada tahun 1799, ketika mereka menggali pondasi sebuah benteng. Batu Rosetta
terdiri atas tiga panel, yang masing-masingnya ditulis dengan tiga jenis
tulisan berbeda. Huruf Yunani pada bagian ketiga, (paling bawah), naskah
demotik bertuliskan huruf Mesir, (bentuk pengembangan huruf hieratik) pada
bagian tengah, dan huruf hieroglif kuno pada bagian paling atas dan agak rusak.
Cara membaca huruf yunani tidak pernah hilang, cara membaca huruf hieroglif dan
demotik tidak pernah ditemukan. Untungnya disimpulkan dari naskah yunani itu
bahwa ternyata kedua panel lainnya membawa pesan yang sama, sehingga naskah
tersebut merukan teks tiga bahasa yang dapat digunakan untuk menguraikan
alfabet hieroglif.
Pentingnya
Batu Rosetta segera disadari orang-orang perancis, terutama Napoleon, yang
memerintahkan naskah itu diperbanyak dengan salinan-salinan cetak tinta dan
dibagikan kepada para ilmuwan di Eropa. Ketertarikan publik sangat tinggi
sehingga ketika Napoleon dipaksa untuk melepaskan Mesir pada Tahun 1801, salah
satu dari artikel dari pakta penyerahan mencantumkan penyerahan batu tersebut
kepada Inggris. Seperti halnya semua artifak yang terkumpulkan. Batu Rosetta
akhirnya menjadi milik museum Inggris, dimana pembuatan dan penguraian empat
cetakan Gips di Universitas-universitas Oxford, Cambridge, Edinburgh, dan
Dublin, dimulai dengan analisis komparatif. Permasalahannya menjadi lebih rumit dari yang
dibayangkan, sehingga membutuhkan 23 tahun dan oenelitian yang intensif dari
para ilmuwan untuk mencari solusinya.
Bab
terakhir dari Batu Rosetta, seperti halnya misteri pertama, ditulis oleh
seorang ilmuwan perancis, Jean Francois Champollion (1790-1832). Sebagai orang
yang paling berpengaruih berkaitan dengan penelitian tentang Mesir, sejak kecil
Champollion telah melihat pertanda bahwa dian akan memainkan peran penting
dalam mengungkapkan buda Mesir kuno. Sejarah mencatat bahwa pada usia 11 tahun
dia berjumpa dengan matematikawan Jean-Baptiste Fourier, orang yang menunjukkan
kepadanya beberapa Papirus dan lempengan batu bertuliskan huruf Hieroglif.
Meski diyakinkan bahwa tidak ada seorangpun yang mampu membacanya, sang bocah
memberi jawaban yang lebih meyakinkan, “ saya akan melakukannya jika saya
dewasa nanti”. Dari momen itulah hampir segala sesuatu yang Champollion lakukan
selalu berkaitan dengan ilmu tentang Mesir (Egiptologi). Pada usia 13 tahun,
dia mampu membaca tiga bahasa dari kawasan timur, dan ketika berusia 17 tagun,
dia menuju Universitas Grenoble dan melakukan study disana. Pada tahun 1822,
dia telah mampu mengumpulkan kosa kata hieroglif dan membaca secara lengkap
panel bagian atas yang tertera pada batu Rosetta.
Dari
waktu ke waktu hurf0-hurf hieroiglif berkembang dari suatu sitem gambar-gambar,
dari kata-kata lengkap menjadi sistem yang mengikuti lambang-lambang alfabet
sekaligus simbol-simbol fonetik. Pada naskah hieroglif batu rosetta,
kerangka-kerangka oval yang disebut cartouches
(kata dalam bahasa perancis yang berarti cartridge
atau pelor) digambarkan mengelilingi karakter-karakter tertentu. Karena
hanya tanda-tanda ini sajayang menunjukkan penekanan khusus, Champollion
menyimpulkan bahwa simbol-simbol yang dikelilingi oleh pelor-pelor tersebut
mewakili nama dari penguasa tersebut, Ptolemy, seperti yang disebutkan dalam
teks yang berbahasa Yunani. Champollion juga memiliki salinan naskah-naskah
yang terdapat pada sebuah obelisk, dan alas tumpuannya, dari Philae. Alas
tersebut memuat tulisan yunani yang mengagumkan Ptolemy dan istrinya Cleopatra
( BUKAN Cleopatra terkenal yang konon matinya bunuh diri). Pada obelisk itu
sendiri, yang berpahatan huruf hieroglif, terdapat dua pelor yang didekatkan,
jadi mungkin bahwa dua pelor tersebut menekankan ekuivalen-ekuivalen Mesir
untuk nama diri dari orang tersebut. Selain itu salah satu pelor tersebuat
memuat karakter-karakter hieroglif yang terdapat dalam pelor-pelor yang
ditemukan dalam Batu Rosetta. Uji silang ini sudah cukup bagi Champollion untuk
membuat penguraian awal. Dari nama-nama bangsawan tersebutdia kemudian
menetapkan hubungan antara simbol-simbol hieroglif dan huruf-huruf Yunani.
Ketika itu dimana tulisan hieroglif mulai tersibak selimut misterinya,
Champollion melaui usaha tanpa henti, selama bertahun-tahun, dikabarkan
menangis setengah berteriak, “ Aku menemukannya!” dan terjatuh pingsan.
Sebagai
puncak bagi studi seumur hidupnya, Champollion menulis karyanya berjudul Grammarie Egiptienne en Encriture
Hieroglyphique, yang diterbitkan dan mendapatkan penghargaan pada tahun
11843. Di dalamnya dia merumuslkan sebuah sistem gramatika dan uraian umum yang
menjadi landasan bagi semua karya yang kemudian dihasilkan oleh para egiptolog
lainnya. Batu Rosetta telah memberikan kunci pemahaman terhadap salah satu
peradaban hebat dimasa silam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar