Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI METODE PENEMUAN TERBIMBING SISWA KELAS VII SMP NEGERI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
“Aktivitas hidup manusia membutuhkan matematika”. Demikianlah ungkapan sederhana yang menunjukkan bahwa matematika memiliki peranan penting dalam kehidupan kita. Pada dasarnya sejak kecil dan sejak memasuki jenjang pendidikan kita telah belajar dan diajarkan matematika. Namun rendahnya hasil belajar matematika siswa yang menjadi masalah di setiap jenjang pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sangat sulit dipahami oleh siswa. Akibatnya pelajaran matematika yang diharapkan dan seharusnya disenangi para siswa justru menjadi bomerang dan cenderung dihindari siswa pada umumnya. Padahal untuk mempelajari dan menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi kita membutuhkan matematika.
Sejauh ini kegiatan pembelajaran matematika yang berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan formal didominasi pandangan bahwa pengetahuan matematika sebagai seperangkat fakta-fakta yang harus dihapalkan, kelas berfokus pada guru sebagai sumber pengetahuan. Pembelajaran matematika yang berorientasi pada target penguasaan materi tersebut, mungkin terbukti berhasil dalam kompetensi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Belajar matematika dirasakan sebagai tekanan dan beban, yang sering terjadi adalah materi yang telah dipelajari mudah dilupakan dan tidak bermakna bagi siswa. Akibatnya semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi materi pembelajaran matematika, semakin sulit pula bagi siswa untuk memahami matematika.
Adanya kesan dan fakta yang demikian itu, seharusnya membuat kita peka bahwa mungkin saja proses pembelajaran yang cenderung oriented text book kurang tepat diterapkan untuk pelajaran matematika. Pembelajaran konsep yang cenderung abstrak akan sulit dipahami siswa. Pola belajar yang cenderung menghapal dan mekanistik menjadikan pembelajaran kurang bermakna. Guru kurang memperhatikan kemampuan berpikir siswa sehingga motivasi belajar menjadi sulit ditumbuhkan. Sedangkan untuk mempelajari matematika, tidak cukup dengan menghapal rumus-rumus yang diberikan guru. Siswa harus memahami konsep-konsep matematika yang saling bertalian satu sama lain.
Mencermati hal tersebut di atas, sudah saatnya untuk diadakan perubahan merancang proses pembelajaran matematika yang lebih memberdayakan dan mengoptimalkan potensi siswa dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri. Proses pembelajaran matematika membutuhkan inovasi sehingga belajar matematika menjadi bermakna bagi siswa, menjadi kesenangan bagi siswa yang diikuti implementasi dalam action-nya ke arah pencapaian tujuan pembelajaran matematika yang meliputi kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis dan bukan sekedar menerima ilmu yang siap saji. Oleh karena itu, upaya-upaya guru dalam mengelola dan memberdayakan berbagai variabel pembelajaran merupakan bagian penting dalam keberhasilan siswa mencapai tujuan yang direncanakan.
Mengajar berarti memberikan banyak pengalaman belajar kepada siswa dengan berbagai informasi, fakta, konsep dan teori sebagai materi pembelajaran. Walaupun saat ini telah banyak tersedia media belajar berupa buku cetak yang siap digunakan dalam proses pembelajaran. Akan tetapi, bagi pelajaran matematika guru harus tetap merancang metode penyampaian yang tepat dalam membelajarkan konsep agar mudah dipahami oleh siswa. Penggunaan metode yang tepat menyebabkan konsep yang diajarkan akan lebih berkesan dan mantap dalam ingatan siswa. Menurut Suryosubroto (1997) bahwa dalam proses pendidikan anak adalah yang utama, bukan mata pelajaran. Guru seharusnya menjadi penunjuk (guide) bagi anak, bukan merupakan kamus berjalan bagi anak. Sedangkan tujuan belajar adalah agar apa yang dipelajari berguna dikemudian hari, yakni membantu kita dapat belajar dan terus belajar dengan cara yang lebih mudah, penguasaan prinsip-prinsip fundamental mengembangkan sikap positif terhadap pelajaran, penelitian penemuan, pemecahan masalah atas kemampuan sendiri. Oleh karena itu tugas guru yang utama bukan lagi menyampaikan pengetahuan, melainkan memupuk pengertian mereka belajar sendiri.
Salah satu metode pembelajaran yang dianggap perlu dikembangkan dan nantinya dapat diterapkan dalam proses pembelajaran adalah metode penemuan terbimbing. Jerome S. Bruner sangat menganjurkan kemampuan siswa menemukan  sendiri dan yang paling penting ditemukan adalah struktur disiplin ilmu. Sukar diramalkan pengetahuan apa yang berguna bagi siswa di masa mendatang. Namun yang terpenting adalah bagaimana memupuk sikap dan teknik belajar, agar terus belajar sepanjang hayat. Untuk itu metode penemuan terbimbing hendaknya dapat diterapkan dalam pembelajaran dan diupayakan untuk melatih siswa sedini mungkin untuk belajar menemukan sendiri pengetahuannya.
Seperti kebanyakan sekolah pada umumnya, SMP Negeri 15 Makassar juga mengalami hal yang sama bahwa hasil belajar matematika siswa sangat rendah. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi bahwa ketuntasan belajar matematika siswa baik perorangan maupun klasikal sangat rendah. Hasil observasi langsung terhadap proses pembelajaran matematika di kelas VII sekolah tersebut, tampak bahwa penyampaian materi cenderung dengan pembelajaran tradisional. Media pembelajaran berupa alat peraga dan sumber belajar tidak digunakan dalam proses pembelajaran. Buku catatan siswa menjadi satu-satunya media belajar siswa. Dengan suasana pembelajaran yang demikian, mungkin saja dirasakan mudah bagi siswa yang berkemampuan tinggi. Akan tetapi, kemampuan setiap siswa dalam satu kelas berbeda-beda. Sehingga hanya siswa yang tahulah yang tampak aktif dalam proses pembelajaran. Sebaliknya, siswa yang tidak tahu lebih memilih diam atau melakukan aktivitas lain di dalam kelas. Guru matematika bukan tidak menyadari fenomena tersebut. Akan tetapi menurut argumen mereka, kekurangannya terletak pada tidak adanya buku paket pegangan siswa.
Bertolak dari berbagai masalah tersebut di atas, peneliti menerapkan metode penemuan terbimbing dalam pembelajaran matematika. Siswa perlu diajarkan bagaimana membentuk pengetahuan matematika mereka, bagaimana menemukan konsep dan hubungan di antara konsep-konsep tersebut, dan yang terpenting adalah bagaimana memupuk sikap positif siswa terhadap pelajaran matematika. Sehingga walaupun matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit dan dengan keterbatasan media belajar, tetapi justru dianggap sebagai tantangan yang harus dipecahkan. Untuk membelajarkan hal tersebut kepada siswa sedini mungkin, peneliti menerapkan pembelajaran matematika melalui metode penemuan dan memilih kelas VII SMP Negeri 15 Makassar.
Pendapat siswa bahwa pelajaran matematika identik dengan rumus-rumus dan letak kesulitan belajar siswa adalah bagaimana menggunakan berbagai rumus tersebut dengan tepat dan memahami bahasa matematika dalam rumus-rumus tersebut. Selain itu, pada umumnya siswa tidak memiliki buku paket sebagai pegangan. Melalui pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing yang diperkenalkan di sekolah ini untuk kali pertama, pembelajaran dirancang berupa kegiatan penemuan rumus matematika melalui pengalaman belajar siswa dengan bantuan alat peraga. Oleh karena itu, peneliti memilih pokok bahasan bangun segiempat yang berorientasi pada penemuan sifat-sifat, menyimpulkan pengertian masing-masing bangun segiempat tersebut berdasarkan sifat-sifatnya dan menemukan rumus keliling dan luas daerah bangun segiempat.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah:
“Apakah pembelajaran matematika dengan metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 15 Makassar?”
Hasil belajar matematika yang dimaksud adalah perolehan skor tes hasil belajar matematika, ketuntasan belajar siswa dan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran. Aktivitas belajar siswa tersebut meliputi: kehadiran siswa, memberi tanggapan atas pertanyaan guru dan teman, mengajukan pertanyaan, dapat menemukan sendiri dan membuat kesimpulan.
C.    Pemecahan Masalah
Sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 15 Makassar, pembelajaran matematika pokok bahasan bangun segiempat diterapkan dengan menggunakan metode penemuan terbimbing.
D.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 15 Makassar melalui pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing pada pokok bahasan bangun segiempat.
E.     Manfaat Penelitian
1.      Bagi siswa
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa, memberikan kesan dan menumbuhkembangkan kesadaran siswa tentang pentingnya aktivitas dalam belajar untuk menemukan sendiri informasi; fakta; konsep; prinsip; dan teori yang dapat diperoleh melalui penggunaan metode penemuan terbimbing.
2.      Bagi guru
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kesan bagi guru, menjadi salah satu alternatif metode pembelajaran matematika yang dapat diterapkan demi peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar matematika siswa.
3.      Bagi sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam rangka perbaikan hasil belajar siswa dan peningkatan kualitas pembelajaran matematika khususnya di sekolah tempat penelitian ini berlangsung.
4.      Bagi peneliti
Penelitian ini merupakan pengalaman berharga yang dapat dijadikan bekal kelak ketika terjun langsung sebagai pendidik, bagaimana untuk mengoptimalkan penerapannya di masa yang akan datang. Sebagai bahan referensi dan perbandingan baik bagi peneliti maupun bagi yang akan mengkaji masalah yang relevan dengan penelitian ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tinjauan Pustaka
1.      Matematika sekolah
Istilah matematika berasal dari perkataan Yunani, awalnya dari kata mathema berarti pengetahuan (knowledge, science). Secara sederhana matematika dikenal sebagai ilmu menghitung dengan menggunakan bilangan-bilangan. Namun penerapan matematika banyak digunakan di berbagai bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Bahkan dikenal ungkapan “matematika adalah queen of science (ratu ilmu)”. Ini menunjukkan bahwa matematika selain sebagai ilmu yang berkembang secara tersendiri, reputasi matematika telah mampu merambah ke bidang lain. Definisi matematika pun berkembang. Matematika adalah cabang ilmu yang sistematis dan eksak, pengetahuan mengenai kuantitatif dan ruang. Matematika bagian dari kehidupan manusia, alat mengembangkan cara berpikir, menolong manusia menafsirkan berbagai ide dan kesimpulan secara eksak. Akan tetapi yang utama adalah memahami karakteristik matematika.
Adapun karakteristik matematika adalah sebagai berikut:
a.       Memiliki objek telaah yang abstrak.
b.      Dijiwai oleh kesepakatan-kesepakatan.
c.       Berpola pikir deduktif aksiomatik.
d.      Memiliki simbol yang kosong dari arti.
e.       Memperhatikan semesta pembicaraan.
f.       Konsisten dalam sistemnya.
Menurut Elea Tinggih (1972) secara etimologis matematika adalah suatu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar (Suherman, dkk., 2001). Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia melalui pengalaman nyata yang diproses dengan penalaran dalam struktur kognitif. Sehingga objek dasar yang dipelajari adalah abstrak yang kemudian disusun sebagai suatu pola dan struktur matematika. Bell (1981) mengemukakan bahwa objek telaah matematika terdiri atas objek langsung dan objek tak langsung. Objek langsung meliputi fakta, konsep, operasi dan prinsip. Sedangkan objek tak langsung meliputi transfer belajar, kemampuan menemukan, pemecahan masalah, disiplin diri dan apresiasi terhadap struktur matematika (Rahman, 2002). Berkaitan dengan objek langsung matematika, fakta berupa konvensi yang diungkapkan dengan simbol, konsep adalah ide abstrak untuk mengklasifikasikan sekumpulan objek, operasi adalah pengerjaan matematika berupa suatu fungsi yaitu aturan memperoleh elemen tunggal dari satu atau lebih elemen yang diketahui yang kemudian disebut hasil operasi, prinsip sebagai objek matematika yang kompleks merupakan hubungan antara berbagai objek dasar matematika.
Hudoyo (1990) menemukakan bahwa pada hakikatnya landasan berpikir matematika adalah kesepakatan-kesepakatan. Menurut Soedjadi (2000) bahwa kesepakatan yang amat mendasar adalah aksioma dan konsep primitif. Kesepakatan-kesepakatan sebagai bahasa matematika agar konsep-konsep matematika mudah dipahami dan dimanipulasi. Dan melalui kesepakatan-kesepakatan memungkinkan berkembang berbagai struktur yang tetap konsisten dalam objek dasar matematika. Sehubungan dengan objek telaah yang abstrak digunakan simbol-simbol yang kosong dari arti sehingga memungkinkan intervensi matematika di berbagai bidang. Matematika memperhatikan semesta pembicaraan menunjukkan bahwa dalam menggunakan matematika diperlukan kejelasan dalam lingkup apa simbol tersebut digunakan.
Matematika dikenal dengan pola pikir deduktif aksiomatik. Gie (1993) mengemukakan bahwa penyimpulan secara deduktif adalah suatu tata alur yang menurunkan suatu kesimpulan secara runtun dari aksioma atau konsep primitif yang diketahui atau ditetapkan (Suherman, dkk., 2001). Jadi meskipun dalam mencari kebenaran dimulai dengan cara induktif, tetapi generalisasi harus dibuktikan secara deduktif.
Demikian pentingnya peranan matematika sehingga penting untuk diajarkan sejak usia dini. Akan tetapi, mencermati karakteristik matematika tersebut di atas nampak jelas bahwa matematika akan sulit dicerna oleh peserta didik dengan kemampuan dan pemikirannya yang masih terbatas. Oleh Karena itu, matematika yang diajarkan hanya bagian dari matematika sebagai ilmu yang berorientasi pada tujuan pendidikan matematika yang kemudian dikenal dengan matematika sekolah. Matematika sekolah yaitu matematika yang diajarkan di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Penyajian matematika sekolah dimulai dari yang sifatnya sederhana, terbatas dan konkrit. Bahkan proses pembelajarannya dapat menggunakan pola pikir induktif sesuai dengan tahap perkembangan intelektual siswa. Matematika sekolah baik dalam hal penyajian maupun materinya harus dapat memenuhi kebutuhan siswa. Sebagaimana tujuan umum matematika sekolah yang dikemukakan Soedjadi (2000) antara lain mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan dalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien serta mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari Ilmu Pengetahuan.
2.      Pembelajaran matematika
Proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan di sekolah dengan melibatkan guru dan siswa yang melakukan aktivitas belajar dan mengajar. Menurut Hamalik (1994) pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Heinich, dkk., (1996) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan susunan dari informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi belajar (Suherman, dkk., 2001). Berdasarkan pengertian pembelajaran tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika sebagai suatu proses dimana terjadi interaksi dan organisasi untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika. Interaksi dalam pembelajaran matematika meliputi interaksi pedagogik antara siswa dan guru yaitu belajar dan mengajar. Menurut Gelder (1991) belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap (Haling, 2004). Sedangkan mengajar sebagai upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik (Hamalik, 1994). Dan menurut Usman (2003) Proses belajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbalbalik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.
Organisasi dalam pembelajaran matematika meliputi rencana dan penataan komponen-komponen yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran. Sedangkan tujuan utama pembelajaran adalah mengupayakan agar siswa belajar. Hal tersebut menunjukkan bahwa peran guru sangat penting dalam interaksi dan organisasi untuk menciptakan iklim pembelajaran yang efektif. Upaya guru dalam mengelola dan memberdayakan berbagai variabel pembelajaran merupakan bagian penting dalam keberhasilan siswa mencapai tujuan yang direncanakan. Oleh karena itu, pemilihan strategi, model, pendekatan dan metode pembelajaran yang tepat adalah sangat penting. Memilih strategi dapat pula berarti mengatur siasat dalam kaitannya dengan pembelajaran yang sengaja direncanakan sebelum melaksanakan pembelajaran. Model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi  siswa dengan guru yang terkait dengan strategi, pendekatan, metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran matematika Pendekatan terkait dengan cara yang ditempuh guru agar konsep yang disajikan dapat diadaptasikan dengan siswa. Sedangkan metode terkait dengan cara-cara menyajikan materi ajar.
Proses pembelajaran diharapkan senantiasa melibatkan siswa aktif dalam belajar baik secara mental, fisik maupun sosial. Strategi pembelajaran sebelum melaksanakan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pembelajaran, mempersiapkan media pembelajaran, perangkat pembelajaran dan instrumen penilaian.
Salah satu model pembelajaran matematika adalah model pembelajaran langsung. Model pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang dirancang agar siswa dapat mengembangkan belajarnya, memperoleh informasi dan pengetahuan yang diajarkan secara terstruktur. Model pembelajaran langsung memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa.
Tujuan pembelajaran dikemukakan secara spesifik termasuk mengemukakan tingkat ketercapaian kinerja yang diharapkan dari siswa.
b.      Sintaks pembelajaran
Pada model pembelajaran langsung terdapat 5 fase yang sangat penting, yaitu:
1).    Menyampaikan tujuan dan menyiapkan siswa.
Pembelajaran matematika diawali dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan menyiapkan siswa belajar, menarik perhatian siswa agar terfokus pada pokok pembicaraan dan diharapkan siswa mampu membuat hubungan antara suatu pelajaran tertentu dan relevansinya terhadap kehidupan nyata.
2).    Presentasi dan demonstrasi.
Fase kedua ini meliputi pemberian informasi secara jelas dan spesifik diikuti langkah-langkah demonstrasi yang efektif. Dengan menyampaikan informasi tahap demi tahap, demonstrasi akan berlangsung terarah dan tetap terfokus pada tujuan pembelajaran.
3).    Menyediakan latihan terbimbing.
Setelah siswa memperoleh informasi dan demonstrasi, fase berikutnya adalah guru mempersiapkan dan melaksanakan pelatihan terbimbing. Diupayakan memberikan latihan dengan melibatkan siswa secara aktif sampai siswa menguasai konsep yang dipelajarinya namun tetap memperoleh bimbingan guru secara tepat agar pembelajaran tetap berlangsung efektif. Melalui latihan terbimbing siswa diharapkan mampu menerapkan konsep dan keterampilan pada situasi yang baru.
4).    Mengecek pemahaman dan memberikan umpanbalik.
Fase yang keempat dalam model pembelajaran langsung ini ditandai dengan guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk mengecek pemahaman siswa, kemudian siswa memberikan jawaban menurut pendapat mereka dan guru merespon jawaban siswa tersebut. Hal ini dapat dilakukan baik secara lisan maupun tertulis. Dengan mengecek pemahaman siswa dan memberikan umpanbalik, diharapkan siswa dapat memperbaiki kekurangan atau kesalahannya dan dapat menguasai suatu keterampilan dengan mantap. Di sisi lain guru memperoleh gambaran tentang hasil belajar siswa yang dapat dijadikan sebagai refleksi bagi guru untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya.
5).    Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.
Fase ini sebagai tahap akhir dalam model pembelajaran langsung. Informasi, pengetahuan dan keterampilan yang baru saja diperoleh perlu segera mungkin diaplikasikan sebagai tindak lanjut agar pembelajaran dapat lebih bermakna. Untuk itu, fase ini memberikan kesempatan kepada siswa secara mandiri menerapkan keterampilan yang baru bahkan dalam situasi baru yang lebih kompleks atau kehidupan nyata. Latihan mandiri dapat berupa tugas, tes dan atau pekerjaan rumah.
c.       Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan.
Merencanakan dan mengelola waktu dan lingkungan belajar merupakan kegiatan yang sangat penting dalam pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus memastikan bahwa waktu yang disediakan sepadan dengan bakat dan kemampuan siswa serta mengupayakan pengelolaan kelas yang baik agar siswa tetap melakukan tugas-tugasnya dengan perhatian yang optimal. Melalui perencanaan belajar dan sistem pengelolaan yang baik, lebih mudah untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang perlu dikembangkan adalah pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Melalui Contextual Teaching and Learning dapat membantu siswa dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, membuat hubungan antara pengetahuannya dengan penerapanya dalam kehidupan nyata sehingga pembelajaran matematika dapat lebih bermakna. Selain itu proses pembelajaran memerlukan adanya metode penyampaian bahan ajar yang harus dikuasai guru agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Metode yang digunakan memungkinkan siswa dapat terlibat secara aktif agar terjadi interaksi semua unsur pembelajaran.
3.      Metode penemuan terbimbing
Agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik, guru hendaknya menguasai berbagai metode pembelajaran. Menurut Hudoyo (2005):
Metode mengajar adalah suatu cara atau teknik mengajar topik-topik tertentu yang disusun secara teratur dan logik yang di dalamnya termuat interaksi antara guru dengan siswa dan interaksi antara siswa dengan materi yang dipelajarinya.
Salah satu metode pembelajaran matematika adalah metode penemuan terbimbing. Sebelum membahas metode penemuan terbimbing terlebih dahulu kita tinjau metode penemuan. Penemuan oleh Maier (1995) disebut sebagai ‘heuristik’ apa yang hendak ditemukan, proses semata-mata ditentukan oleh siswa sendiri (Widdiharto, 2003). Bruner (1960) mengusulkan teorinya yang disebut “free discovery learning”. Menurut teori ini proses belajar berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (konsep, teori, definisi dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan aturan yang menjadi sumbernya (Atmowidjoyo, 2000). Dengan kata lain, Bruner menyarankan keaktifan siswa dalam proses belajarnya.
Metode penemuan dalam pembelajaran matematika (Hudoyo, 2005) merupakan cara penyampaian topik-topik matematika tertentu yang memungkinkan suatu proses belajar dimana siswa menemukan sendiri pola-pola atau struktur-struktur matematika melalui serentetan pengalaman-pengalaman belajar yang lampau. Melalui metode penemuan siswa diharapkan dapat menemukan sendiri hal-hal baru baginya berupa konsep, dalil, teorema, rumus, aturan, pola dan sebagainya. Sehingga keterangan-keterangan yang harus dipelajari tidak disajikan dalam bentuk akhir tetapi siswa diwajibkan melakukan aktivitas mental sebelum keterangan yang disajikan itu dapat dipahami. Dengan demikian pembelajaran menjadi bermakna karena siswa tidak hanya belajar untuk mengetahui sesuatu tetapi juga belajar melakukan, belajar menjiwai, belajar bagaimana seharusnya belajar dan memungkinkan siswa belajar bersosialisasi dengan guru ataupun dengan teman-temannya.
Beberapa keunggulan yang dapat dimiliki siswa yang memperoleh pembelajaran dengan metode penemuan, antara lain:
a.       Siswa aktif dalam kegiatan belajarnya sebab metode penemuan dapat memicu keingintahuan siswa, memotivasi mereka untuk berpikir menggunakan kemampuan untuk memperoleh hasil akhir.
b.      Siswa dapat memahami betul materi yang dipelajarinya (tingkat penguasaan tinggi), sebab ia mengalami sendiri proses menemukannya. Juga memungkinkan materi tersebut dapat diingat lebih lama dan mudah mengingatnya kembali jika ia lupa.
c.       Sesuatu yang ditemukan sendiri menimbulkan kepuasan tersendiri dan memungkinkan timbulnya semangat ingin tahu lebih lanjut.
d.      Melatih siswa untuk banyak belajar sendiri dan meningkatkan minat belajarnya sehingga memungkinkan timbulnya sikap ilmiah melakukan penemuan-penemuan.
e.       Siswa lebih mudah mentransfer pengetahuan ke berbagai konteks atau kepada orang lain dan dapat mendukung kemampuan memecahkan masalah siswa (Widdiharto, 2005).
Di samping keunggulannya, metode penemuan memiliki beberapa kelemahan antara lain:
a.       Metode ini memerlukan banyak waktu sehingga proses pembelajaran berjalan dengan lambat, apalagi untuk materi-materi tertentu.
b.      Umumnya siswa cenderung tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan. Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini dan tidak menjamin bahwa selama proses pembelajaran siswa akan tetap bersemangat menemukan sendiri.
c.       Tidak semua topik cocok disampaikan dengan metode penemuan (Widdiharto, 2005).
Berangkat dari kelemahan-kelemahan itulah sehingga muncul metode penemuan terbimbing. Metode penemuan yang ekstrim tidak mungkin dilaksanakan, karena pada umumnya sebagian besar siswa masih butuh pemahaman konsep dasar untuk dapat menemukan sesuatu. Siswa pada dasarnya bukan penemu tetapi sebagai calon penemu. Oleh karena itu, siswa masih memerlukan bimbingan dan pertolongan guru mengembangkan kemampuannya untuk memahami pengetahuan baru. Walaupun sebenarnya siswa harus mengatasi kesulitannya sendiri tetapi petunjuk dari guru sangat perlu diberikan ketika siswa tidak menunjukkan kemampuan.
Metode penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator yang senantiasa membimbing siswa dimana ia dibutuhkan dan juga bertindak sebagai pengawas dan penunjuk jalan. Siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri, memiliki pengalaman dan melakukan percobaan sehingga dapat menemukan prinsip-prinsip berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan oleh guru. Dengan metode penemuan terbimbing siswa dihadapkan pada situasi dimana ia bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Terkaan, intuisi dan mencoba-coba (trial and error) sangat dianjurkan dalam pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing. Guru membantu siswa agar mempergunakan ide, konsep, keterampilan yang telah mereka pelajari sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan yang baru atau dengan kata lain siswa dibimbing secara induktif (Sudana, 1989) untuk memahami suatu kebenaran umum.
Adapun langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing, sebagai berikut:
a.       Merumuskan masalah yang diberikan kepada siswa dengan data secukupnya.
b.      Dari data yang diberikan guru siswa mengamati dan melakukan observasi, kemudian menyusun, mengorganisir dan menganalisis data tersebut.
c.       Sis­wa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukan.
d.      Setelah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, verbalisasi konjektur diserahkan kepada siswa untuk menyusunnya. Perlu diingat bahwa induksi tidak menjamin 100 persen kebenaran konjektur (Widdiharto, 2005).
Melalui pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing, guru bukan menyelesaikan masalah bagi siswa, melainkan menyajikan masalah dan mengantarkan siswa menyelesaikan masalah. Bantuan guru hanya pada bagian-bagian yang diperlukan sehingga memungkinkan pembelajaran berlangsung seefektif mungkin dan tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal baik oleh guru maupun siswa. Oleh sebab itu merencanakan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing, guru hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
a.       Perencanaan kegiatan awal perlu memperhatikan kebutuhan dan minat siswa terhadap prinsip-prinsip, generalisasi, pengertian dan hubungannya dengan apa yang dipelajari.
b.      Mengatur setting pembelajaran sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas berpikir siswa, interaksi antar siswa dengan guru dan siswa dengan siswa.
c.       Perumusan dengan data secukupnya harus jelas, hindari pertanyaan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah. Selain itu penggunaan alat peraga, gambar atau demonstrasi juga perlu.
d.      Memberikan kesempatan siswa bekerja dengan data, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja sebab bimbingan yang terlampau berlebihan akan mematikan inisiatif siswa.
e.       Bimbingan guru sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju. Bersikap membantu jawaban, pandangan dan tafsiran siswa yang berbeda-beda untuk menarik kesimpulan yang benar.
f.       Mengajukan pertanyaan-pertanyaan baik tingkat tinggi maupun tingkat sederhana.
g.      Memberikan penguatan dan memuji siswa yang sedang bergiat dalam proses penemuan.
h.      Hasil (bentuk akhir) ditemukan sendiri oleh siswa.
i.        Setelah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa hasil temuan siswanya.
Pada kenyataannya bahwa ilmu pengetahuan diperoleh melalui penemuan sehingga diharapkan siswa secara aktif terlibat dalam proses penemuan lalu kemudian terbiasa dengan proses penemuan. Sebab siswa adalah calon penemu dan setiap siswa adalah manusia yang kreatif. Metode penemuan dapat meningkatkan kreativitas siswa dan kemampuan memecahkan masalah. Seperti yang diketahui bahwa matematika menggunakan konsep yang abstrak sehingga diharapkan dapat lebih melekat bila diajarkan dengan metode penemuan terbimbing. Dengan demikian metode penemuan terbimbing perlu diterapkan dalam proses pembelajaran matematika.
4.      Hasil belajar matematika
Hasil sebagai bentuk akhir dalam suatu aktivitas. Sama halnya dalam proses pembelajaran hasil belajar merupakan salah satu unsur penting sebagai bentuk akhir setelah siswa mengalami aktivitas belajarnya. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Segala perencanaan pembelajaran dipersiapkan untuk membuat prosedur pembelajaran yang efektif dan berorientasi pada pencapaian hasil belajar yang optimal. Hasil belajar bermanfaat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dan sebagai umpanbalik untuk memperbaiki proses pembelajaran. Untuk mengukur berhasil tidaknya suatu pembelajaran diperlukan adanya penilaian terhadap hasil belajar. Penilaian adalah kegiatan membandingkan hasil pengukuran (skor) sifat suatu objek dengan acuan yang relevan sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu kualitas yang kuantitatif. Jadi penilaian hasil belajar pada hakikatnya adalah penilaian terhadap perubahan tingkah laku siswa setelah mengikuti proses belajar.
Untuk dapat melakukan penilaian hasil belajar yang dicapai siswa dalam suatu bidang studi tertentu diperlukan alat sebagai instrumen dan metode mengukur keberhasilan belajar siswa. Nurkancana (1983) berpendapat bahwa ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengetahui kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar yang mereka lakukan yaitu metode tes dan metode observasi. Untuk metode tes, digunakan alat berupa tes hasil belajar dan untuk metode observasi diperlukan adanya lembar dan pedoman observasi. Tes adalah suatu alat penilaian berupa serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara sengaja dalam suatu situasi yang distandardisasikan dengan maksud untuk menilai kemampuan dan hasil belajar individu atau kelompok. Sedangkan observasi adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung dan sistematis.
Berdasarkan pengertian hasil belajar yang dikemukakan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah hasil yang dicapai oleh seorang siswa setelah mengikuti proses pembelajaran matematika dalam kurun waktu tertentu yang dapat diketahui dengan memberikan tes hasil belajar sebagai alat penilaian. Adapun hasil belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika setelah diberikan tindakan metode penemuan terbimbing pada siswa. Hasil belajar siswa diamati dengan menggunakan lembar observasi selama proses pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing dan diharapkan adanya perubahan tingkah laku sebagai tujuan pembelajaran matematika.
Salah satu penilaian terhadap skor tes hasil belajar matematika siswa adalah dengan menentukan daya serap siswa terhadap materi yang telah diajarkan. Menentukan daya serap siswa sangat berguna sebagai balikan untuk memperbaiki proses pembelajaran berikutnya dan kemudian menjadi acuan untuk menentukan dan mengetahui ketuntasan belajar siswa terhadap materi yang telah diajarkan. Jadi daya serap siswa diartikan sebagai persentase penguasaan siswa terhadap materi yang telah dipelajarinya. Setelah menentukan daya serap siswa, ditentukan pula ketuntasan belajar siswa baik perorangan maupun klasikal berdasarkan pencapaian daya serap siswa terhadap materi. Adapun kriteria ketuntasan belajar siswa menurut Usman (2003) adalah sebagai berikut:
Seorang siswa dikatakan tuntas belajar untuk program satuan pelajaran, bila daya serap yang diperoleh minimal 65 persen sedangkan ketuntasan belajar klasikal adalah apabila 85 persen jumlah siswa telah mencapai daya serap sekurang-kurangnya 65 persen.
B.     Hipotesis Tindakan
Berdasarkan tinjauan pustaka yang dikemukakan di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah:
“Jika pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode penemuan terbimbing, maka hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 15 Makassar dapat ditingkatkan.”

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Setting Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Lokasi penelitian bertempat di SMP Negeri 15 Makassar yang berada di sebelah barat kota Makassar, Jl. Permandian Alam Barombong. Adapun subjek penelitian adalah siswa kelas VIIA SMP Negeri 15 Makassar pada semester genap tahun ajaran 2005/2006. Jumlah siswa kelas VIIA sebanyak 33 orang. Pemberian tindakan ini dilaksanakan pada proses pembelajaran pokok bahasan bangun segiempat.
B.     Faktor yang Diteliti
Adapun faktor-faktor yang diteliti untuk menjawab permasalahan tersebut di atas terkait dengan siswa sebagai subjek belajar meliputi aktivitas belajar siswa dan skor tes hasil belajar siswa. Faktor aktivitas belajar siswa meliputi kehadiran siswa, siswa yang memberikan tanggapan atas pertanyaan guru,  siswa yang memberikan tanggapan atas pertanyaan teman, siswa yang mengajukan pertanyaan, siswa yang masih memerlukan bimbingan dan siswa yang dapat menarik kesimpulan. Sedangkan faktor skor tes hasil belajar siswa melalui tes hasil belajar yang diberikan pada akhir Siklus I dan Siklus II meliputi daya serap siswa terhadap materi dan ketuntasan belajar siswa serta ketuntasan belajar klasikal.
C.    Rencana Tindakan
Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri atas 2 siklus. Siklus I dilaksanakan dengan 5 kali pertemuan dan Siklus II dilaksanakan dengan 4 kali pertemuan. Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Sehingga desain penelitian tindakan kelas ini mengikuti model Kemmis dan Taggart yang meliputi perencanaan, tindakan dan pengamatan, serta refleksi.
Untuk dapat menyusun perencanaan tindakan maka dilakukan observasi awal. Observasi awal juga dimaksudkan untuk memastikan apakah guru matematika kelas VIIA SMP Negeri 15 Makassar berkompeten dan dapat diajak berkolaborasi dalam penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan yang dimulai pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2006.
1.      Observasi/pengamatan awal
Sebelum melaksanakan pemberian tindakan pada penelitian ini, terlebih dahulu Peneliti melakukan observasi awal. Adapun kegiatan selama observasi awal tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Menelaah kurikulum matematika kelas VII SMP Negeri 15 Makassar untuk semester genap.
b.      Mengadakan wawancara dengan pihak sekolah mengenai keadaan siswa dan proses pembelajaran di SMP Negeri 15 Makassar.
c.       Mengadakan wawancara dengan guru matematika mengenai keadaan siswa kelas VII SMP Negeri 15 Makassar dan proses pembelajarannya.
d.      Melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran matematika di kelas VIIA SMP Negeri 15 Makassar.
e.       Menyusun perencanaan dan rancangan pemberian tindakan.
f.       Konsultasi dengan guru matematika kelas VIIA SMP Negeri 15 Makassar mengenai perencanaan tindakan dan pemilihan subjek penelitian.
2.      Perencanaan tindakan
Sebelum pelaksanaan tindakan pada Siklus I, dibuat perencanaan tindakan. Adapun tahap-tahap perencanaan tindakan tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Membuat kisi-kisi materi dan instrumen penelitian.
b.      Membuat perangkat pembelajaran berupa Rencana Pembelajaran (RP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS).
c.       Membuat lembar observasi siswa dan lembar tanggapan siswa.
d.      Menyiapkan alat dan bahan serta alat peraga yang diperlukan sebagai media pembelajaran.
e.       Mengkonsultasikan kisi-kisi, instrumen, perangkat pembelajaran, lembar observasi kepada dosen pembimbing dan divalidasi. Kemudian kisi-kisi, instrumen, perangkat pembelajaran, lembar observasi dikonfirmasikan kepada guru matematika kelas VIIA SMP Negeri 15 Makassar.
Sedangkan perencanaan tindakan sebelum melaksanakan Siklus II berupa revisi perencanaan tindakan berdasarkan hasil observasi, skor tes hasil belajar siswa dan hasil refleksi yang diperoleh pada Siklus I.
3.      Pelaksanaan tindakan dan pengamatan
Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a.       Melaksanakan skenario pembelajaran sesuai rencana pembelajaran yang telah dibuat pada tahap perencanaan.
b.      Melakukan pengamatan selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi siswa.
c.       Siswa mengerjakan LKS dan tugas.
4.      Refleksi
Refleksi dilakukan baik di setiap akhir pertemuan pada Siklus I dan Siklus II maupun setelah pemberian tes hasil belajar Siklus I dan Siklus II. Refleksi di setiap akhir pertemuan pada Siklus I dan Siklus II dilaksanakan berdasarkan hasil observasi. Sedangkan refleksi setelah pemberian tes hasil belajar Siklus I dan Siklus II dilaksanakan berdasarkan perolehan skor tes hasil belajar matematika siswa. Analisis hasil observasi dan evaluasi juga dilaksanakan dalam tahap ini. Dari hasil yang diperoleh dilakukan refleksi diri atas kekurangan-kekurangan yang terjadi pada setiap pertemuan. Kekurangan baik dari proses pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing maupun kelemahan-kelamahan yang dialami siswa, berusaha diminimalkan pada pertemuan berikutnya. Kekurangan-kekurangan pada Siklus I juga digunakan sebagai acuan untuk  merevisi perencanaan tindakan pada Siklus II. Bentuk refleksi pada Siklus II antara lain dengan mengamati perubahan-perubahan yang terjadi pada Siklus I dan apakah dengan pemberian tindakan, proses pembelajaran mengalami kemajuan serta dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIA SMP Negeri 15 Makassar.
D.    Data dan Teknik Pengumpulannya
1.      Sumber data: berasal dari siswa.
2.      Jenis data: data yang diperoleh berupa data kuantitatif dari tes hasil belajar dan data kualitatif dari lembar observasi.
3.      Teknik pengumpulan data:
a.       Data hasil belajar diperoleh dengan memberikan tes hasil belajar kepada siswa.
b.      Data mengenai aktivitas belajar siswa diperoleh melalui lembar observasi pada saat pemberian tindakan.
c.       Data mengenai tanggapan siswa pada proses pembelajaran diperoleh melalui lembar tanggapan siswa. 
E.     Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Data hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa dan hasil tanggapan siswa menggunakan analisis kualitatif. Sedangkan data hasil belajar matematika menggunakan analisis kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS For Windows 11,0 dan Mikrosoft Exel.
Adapun metode penilaian hasil belajar matematika adalah sebagai berikut:
Untuk menentukan daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan pada saat pemberian tindakan didasarkan pada perolehan skor tes hasil belajar matematika setiap siswa pada setiap siklus.  Sedangkan untuk menentukan ketuntasan belajar siswa, berdasarkan pada daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan pada setiap siklus. Secara perorangan siswa dikatakan tuntas belajar apabila daya serap siswa mencapai minimal 65 persen. Dari ketuntasan belajar yang diperoleh setiap siswa, ketuntasan belajar klasikal dikatakan tercapai apabila dari 33 siswa kelas VIIA minimal sebanyak 85 persen siswa mencapai ketuntasan belajar secara perorangan. Adapun kategorisasi ketuntasan belajar siswa yang terdiri dari kriteria tuntas dan tidak tuntas dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut:


Tabel 1 Kategorisasi Ketuntasan Belajar Siswa
Daya Serap Siswa
Kategori Ketuntasan Belajar
0% - 64%
Tidak tuntas
65% - 100%
Tuntas

F.    Indikator Kinerja
Indikator kinerja yang menunjukkan keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah jika terjadi peningkatan rata-rata skor hasil belajar matematika pada Siklus II, dan peningkatan ketuntasan belajar klasikal yaitu 85 persen jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar perorangan. Terjadi peningkatan jumlah siswa yang melakukan aktivitas belajar.