Menurut sebagian besar catatan sejarah, geometri adalah ilmu yang pertama ditemukan di antara bangsa mesir dan berasal dari pengukuran luas tanah mereka. hal ini penting bagi mereka karena sungai nil meluap dan menghapus batas-batas antara tanah-tanah mlik mereka.
meski perhatian awal ditujukan pada matematika yang berdaya guna, pada akhirnya matematika menjadi suatu ilmu yang kemudian dipelajari secara mandiri. Aljabar pada akhirnya berkembang dari tekhnik-tekhnik perhitungan, dan geometri teoretis dimulai pada pengukuran luas tanah.
kebanyakan ahli sejarah mencatat dimulainya penemuan kembali sejarah kuno adalah pada saat dimulainya invasi Napoleon Banaparte pada tahun 1798 pada bulan April tahun tersebut. Napoleon berlayar dari Toulun bersama armada lautnya yang berjumlah 328 kapal dan mengangkut kuranglebih 38.000 serdadu di dalamnya. dia bermaksud menaklukkan mesir agar dapat menguasai jalur darat menuju wilayah taklukan inggis yang kaya di India. Meski komandan AL inggris bernama Laksamana Nelson berhasil menghancurkan banyak armada perancis sebulan setelah serdadu mereka berhasil mendarat di Alexandria, penaklukan tersebut berlangsung selama 12 bulan berikutnya sebelum Napoleon meninggalkan kawasan tersebut dan bergegas kembali ke prancis. Meski demikian, bencana bagi pasukan prancis ini membawa serta kejayaan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Napoleon bersama pasukan ekspidisinya membawa serta satu komisi ilmu pengetahuan dan seni, yang beranggotakan 167 ilmuwan terpilih, termasuk dua matematikawan Gaspart Monge dan Jean-Baptiste Fourier yang bertugas mengumpulkan informasi dengan meneliti tiap aspek kehidupan mesir pada masa-masa kuno dan zaman modern. rencana utama dari aktifitas tersebut adalah untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dunia tentang mesir, sambil mendinginkan keadaan akibat serangan militer prancis dengan cara menghilangkan perhatian mereka pada kehebatan budaya mesir.
Para ilmuwan anggota komisi tersebut ditangkap oleh pasukan inggris yang bermurah hati melepaskan mereka untuk kembali ke perancis dengan membawa serta catatan - catatan dan gambar-gambar karya mereka. ketika waktunya tiba, mereka menghasilkan karya yang monumental dengan judul Description de I'Egipte. Karya ini ditulis dalam 9 seri teks folio dan 12 seri teks lempengan, yang diterbitkan selama lebih dari 25 tahun. Teks itu sendiri dibagi menjadi empat bagian yang secara berurutan membahas tentang peradaban mesir kuno, monumen-monumen yang mereka bangun, mesir modern, dan sejarah alamnya. Tidak ada sebelumnya catatan yang buat tentang negara asing dengan begitu lengkap, begitu akurat, begitu capat, dan dibuat pada kondisi-kondisi yang begitu sulit.
Description de I’egipte beserta kemewan
dan ilustrasi-ilustrasinya yang luar biasa bagus, mendorong kekayaan dan budaya
mesir kuno memasuki suatu masyarakat yang telah terbiasa dengan kekunoan yunani
dan Romawi. Pemaparan mendadak terhadap bangsa yang sudah maju, yang lebih tua
dari peradaban manapun menurut catatan sejarah, memunculkan ketertarikan
yang tinggi bagi kebudayaan dan
komunitas ilmiah Bangsa Eropa. Yang membuat ketertarikan itu makin besar adalah
kenyataan bahwa catatan-catatan sejarah pada peradaban awal ini ditulisdalam
sebuah naskah yang tidak ada seorangpun yang mampu menerjemahkannya ke dalam
salah satu bahasa modern. Invasi militer serupa yang dilakukan Napoleon
akhirnya memberikan petunjuk literal terhadap masa lalu bangsa Mesir, ketika
salah satu teknisinya menemukan Batu Rosetta dan kemudian mengungkap
kemungkinan bahwa batu tersebut berguna untuk menerjemahkan tulisan hieroglif.
Sebagian besar
pengetahuan kita tentang urutan matematika Mesir berasal dari dua papirus yang
berukuran cukup besar, yang masing-masingnya dinamai dengan para pemilik dua
papirus itu yaitu papirus Rhind dan Papirus Golenischev. Papirus yang disebut
belakangan biasa disebut Papirus Moskow, karena ia dimiliki oleh museum seni
murni di Moskow, Papirus Rhind dibeli di Luxor, Mesir, pada tahun 1858oleh
orang Skotlandian yang bernama A. Henry Rhind, yan kemudian disumbangkan kepada
museum inggris. Ketika kesehatan pengacara muda ini menurun drastis, ia
mengunjngi wilayah Mesir yang beriklim lebih hangat dan menjadi arkeolog, yang
memiliki spesialisasi dalam bidang penggalian makam-makam di Thebes. Di kota
Thebes inilah pada reruntuhan bangunan kecil
di dekat Ramesseum, dikatakan bahwa papirus tersebut diteukan.
Papirus Rhind
ditulis dalam naskah Hieratik (bentuk kursif hieroglif yang lebih sesuai untuk
penggunaan pena dan tinta) Pada sekitar 1650 SM. Oleh seorang penulis bernama
Ahmes, yang meyakinkan kita bahwa papirus tersebut dibuat mirip karya awal dari
Dinasti Kedua Belas, tahun 1849-1801 S.M. meski papirus tersebut bentuk aslinya
merupakan gulungan dengan panjang 18 kaki dan tinggi 13 inci, ia tiba di Museum
Inggris dalam dua bagian, dimana bagian tengahnya hilang. Mungkin papirus
tersebut telah robek ketika dibentangkan oleh seseorang yang tidak memiliki
keahlian dan memelihara dokumen rapuh seperti itu, atau mungkin ada dua penemu
dan masing-masing meminta satu bagian. Dipandang dari segi manapun tampaknya
bagian kunci dari papirus itu hilang selamanya bagi kita, hingga seseorang
mendapatkan kesempatan untuk menemukan dan mengungkapkannya, yang kadang memang
terjadi dalam dunia arkeologi. Sikitar empat tahun setelah Rhind melakukan
pembelian terkenalnya, Edwin Smith sebagai seorang ahli bangsa Mesir asal
Amerika, membeli apa yang dikiranya Papirus pengobatan. Papirus ini ternyata
tipuan belaka, karena ia dibuat dengan menempelkan potongan-potongan dari papirus lain pada sehelai gulungan
model. Pada hari kematiannya tahun 1906, koleksi benda Mesir kuno milik Smith
dipamerkan kepada masyakat sejarah New York pada tahun 1922, potongan dari
gulungan model itu teridentifikasi sebagai
bagian dari papirus Rhind. Penguraian Papirus Rhind menjadi lengkap saat
potongan-potongan yang hilang itu dibawa ke museum Inggris dan digabungkan pada
kondisi yang semestinya. Rhind juga membeli naskah pendek yang ditulis di atas
kulit, gulungan kulit matematika Mesir, pada saat yang sama dia membeli
papirusnya, tetapi terlihat kondisinya yang sangat rapuh, gulungan
tersebut tetap tidak dulu diteliti
selam lebih dari 60 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar