Sabtu, 30 Januari 2016

skripsi: Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) Pada Siswa Kelas X



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu dimensi yang memiliki keterkaitan dengan sistem yang berlaku dalam kehidupan masyarakat dan sekaligus menjadi salah satu faktor penentu perkembangan kehidupan masyarakat dewasa ini sehingga dapat menyesuaikan kehidupannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan IPTEK telah membawa implikasi perubahan dalam dunia pendidikan. Tanpa pendidikan kita tidak akan mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia tidaklah mungkin tumbuh dan berkembang dengan sendirinya secara alami, tetapi harus melalui suatu proses pengembangan yang dilakukan secara sistematis, konsisten dan profesional.
Pengembangan kualitas sumber daya manusia yang pada hakikatnya adalah usaha membudayakan manusia yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pentingnya peranan pendidikan ini memacu pada tujuan pendidikan nasional sebagaimana dituntun oleh UUSPN No. 20 tahun 2003 bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan tetap banyak masalah yang harus diselesaikan untuk mencapainya. Suatu hal yang harus diingat bahwa yang diharapkan berhasil mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran adalah siswa sedangkan tujuan guru mengajar adalah agar konsep yang diajarkan dapat dikuasai dan dipahami sepenuhnya oleh siswa, sehingga suasana belajar dan pemahaman yang dicapai lebih baik dan sesuai yang diharapkan. Dalam hal ini peranan pendidikan matematika adalah sangat penting. karena matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang mengantar manusia berpikir secara logis, analisis dan sistematis.
Namun demikian, mata pelajaran matematika dianggap sulit dan membosankan oleh sebagian siswa. Masalah yang umumnya timbul pada siswa saat ini adalah rendahnya hasil belajar siswa. Sebagian besar siswa tidak menyenangi pelajaran matematika sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar matematika. Anggapan mereka terhadap matematika adalah pelajaran yang berisi banyak konsep dan aturan (rumus dan definisi).
Pada umumnya siswa belajar menghafal konsep matematika bukan belajar untuk mengerti konsep matematika. Sehingga siswa mengalami kesulitan mengaitkan konsep yang dipelajarinya di kelas dalam kegiatan kehidupan sehari-hari. Selama ini umumnya guru masih menerapkan pengajaran langsung dimana pembelajaran berpusat pada guru, siswa hanya sebagai pendengar dan penerima informasi dari guru,  pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan seorang guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa di antaranya adalah memilih dan menggunakan model pembelajaran yang relevan. Pembelajaran inovatif yang relevan untuk pembelajaran di sekolah, adalah teknik pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered), yaitu pembelajaran yang menekankan agar siswa sendirilah yang akan membangun pengetahuannya. Sedangkan guru harus merancang kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan atau mengubah pengetahuan awal siswa. Dengan adanya kondisi demikian, maka peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran inovatif untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
Pembelajaran kooperatif dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa kita yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.
Model pembelajaran yang digunakan diharapkan mampu melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial, dan mampu meningkatkan kemampuan kerjasama antar siswa. Model pembelajaran Group Investigation (GI) adalah salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif yang merupakan kegiatan belajar yang berorientasi pada siswa. Siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Dengan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation siswa belajar bersama, saling membantu, dan berdiskusi dalam menemukan dan menyelesaikan masalah.
Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari  materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain.
Oleh karena itu, dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigasi (GI) dipandang baik karena akan memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
Atas dasar uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian eksperimen dengan judul  “Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI)  Pada  Siswa Kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:
1.    Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI)?
2.    Bagaimana aktivitas siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI)?
3.    Bagaimana respon siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI)?
4.    Apakah pembelajaran kooperatif tipe group investigation (GI) efektif diterapakan dalam pembelajaran matematika siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa?


C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1.    Untuk memperoleh informasi tentang hasil belajar matematika siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI).
2.    Untuk mengetahui aktivitas siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI).
3.    Untuk mengetahui respon siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI).
4.    Untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) dalam pembelajaran matematika siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa.
D.    Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah
1.    Bagi Siswa: Dengan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa.
2.    Bagi Guru: meningkatkan prifesionalisme seorang guru dan memberikan informasi tentang kemjuan yang diperoleh siswa.
3.    Bagi Sekolah: Sebagai informasi yang dapat dijadikan bahan pertimbangan atau masukan untuk mendapatkan pola pembelajaran efektif dalam setiap proses pembelajaran di kelas.

BAB II
KAJIAN TEORITIK DAN HIPOTESIS
A.      Kajian Teoritik
1.      Pengertian Efektivitas Pembelajaran
Efektivitas berasal dari kata “efektif”. Menurut kamus Bahasa Indonesia, efektif berarti dapat memberikan hasil; ada pengaruhnya; ada akibatnya; ada efeknya.
 Menurut Sardiman (Trianto, 2010 : 20 ). Keefektifan pembelajaran adalah hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan proses belajar mengajar.
Menurut Soemosasmito (Trianto, 2010 : 20) mengatakan bahwa suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila memenuhi persyaratan utama keefektifan pengajaran, yaitu : 1) Presentasi waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap kegiatan belajar mengajar (KBM). 2) Rata- rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi diantara siswa. 3) Ketetapan antara kandungan materi ajar kemampuan siswa (orientasi keberhasilan belajar) diutamakan. 4) mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa efektifitas pembelajaran adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan proses belajar mengajar.
Dalam penelitian ini, kriteria keefektifan pembelajaran matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigasi ditinjau dari 3 aspek yaitu

a.       Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar dapat dilihat dari hasil belajar yang telah mencapai ketuntasan individual dan klasikal, yakni siswa telah memenuhi kreteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan oleh sekolah SMAN 1 Bontonompo adalah 70 dari skor idealnya 100. Standar ketuntasan belajar siswa sebagai acuan efektivitas pembelajaran pada penelitian ini adalah 80% dari jumlah siswa yang mencapai nilai KKM.  
b.      Aktivitas siswa
Aktivitas siswa matematika adalah proses komunikasi antara dari hasil interaksi siswa dan guru atau siswa dengan siswa sehingga menghasilkan perubahan akademik, sikap dalam bertanya / menjawab.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran bisa positif maupun negatif. Aktivitas siswa yang positif misalnya; mengajukan pendapat atau gagasan, mengerjakan tugas atau soal, komunikasi dengan guru secara aktif dalam pembelajaran dan komunikasi dengan sesama siswa sehingga dapat memecahkan suatu permasalahan yang sedang dihadapi, sedangkan aktivitas siswa yang negatif misalnya menggangu sesama siswa pada saat proses belajar mengajar di kelas, melakukan kegiatan yang lain tidak sesuai dengan pelajaran yang diajarkan oleh guru.
Kriteria keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian ini ditunjukkan dengan sekurang- kurangnya 75% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran baik aktivitas siswa yang bersifat fisik ataupun mental.

c.       Respon siswa
Angket respon siswa digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai pembelajaran matematika yang setelah model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation diterapkan pada siswa.
Model pembelajaran yang baik dapat memberi positif bagi siswa setelah mereka mengikuti kegiatan pembelajaran. Kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah minimal 80% siswa yang memberi respon positif terhadap jumlah aspek yang ditanyakan. 
2.      Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi para pelajar atau mahasiswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu. Belajar meliputi tidak hanya mata pelajaran, tetapi juga penguasaan, kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan, dan cita-cita.
Untuk memperoleh pengertian belajar yang objektif, maka perlu dirumuskan secara jelas pengertian belajar yang sudah banyak dikemukakan oleh para ahli. Menurut Sobry Sutikno (Fathurrahman 2011: 5)  bahwa:
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dalam lingkungannya”.

Skinner (Sagala 2011: 14) berpendapat bahwa:
“Belajar sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat orang belajar maka responnya menjadi baik. Sebaliknya bila ia tidak belajar maka responnya menurun”.
Beda lagi dengan Gagne (Suprijono 2012: 2) mendefinisikan bahwa:
“Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktifitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh dari proses pertumbuhan secara ilmiah.

Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar yang dikemukakan di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa pangertian belajar adalah pada hakikatnya merupakan perubahan yang terjadi pada diri seseorang setelah melakukan aktifitas tertentu baik itu dari hasil pengalaman maupun interaksi dengan lingkungan.
3.      Hasil Belajar Matematika
Belajar matematika adalah belajar tentang konsep dan struktur matematika serta hubungan antara konsep dan struktur matematika. Matematika berkenaan dengan ide atau konsep abstrak yang diberi simbol-simbol dan tersusun secara hirarki.
Hasil belajar merupakan suatu ukuran berhasil atau tidaknya seseorang siswa dalam proses belajar mengajar. Untuk mengetahui keberhasilan seseorang dalam belajar, diperlukan suatu alat ukur. Dengan mengukur hasil belajar seseorang dapat diketahui batas kemampuan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap atau nilai dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Abdurahman (Rosnani, 2007;6) menyatakan bahwa:
“Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”.
Hasil belajar tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan kegiatan belajar. Kenyataan menunjukkan bahwa untuk mendapatkan hasil belajar yang baik tidak semudah yang dibayangkan tetapi harus didukung oleh sebuah kemauan dan minat dalam belajar serta program pengajaran yang baik.
Hasil belajar matematika yang dikemukakan oleh Aspida (2012 : 13 ) adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang berkenaan dengan materi suatu mata pelajaran. Hasil belajar ini dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Belajar merupakan suatu proses yang diarahkan kepada pencapaian suatu tujuan. Sehingga kualitas belajar matematika adalah mutu atau tingkat prestasi yang dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar matematika.
Keberhasilan seseorang mempelajari matematika tidak hanya dipengaruhi minat, kesadaran, kemauan, tetapi juga bergantung pada kemampuannya terhadap matematika serta diperlukan keterampilan intelektual, misalnya keterampilan berhitung. Hasil yang dimaksud adalah tingkat penguasaan untuk mengukur hasil belajar sesuai dengan tujuan pencapaian kognitif disesuaikan dengan taraf kognitif siswa.
Hasil belajar yang dikemukakan oleh Sudjana (Fahrul, 2007;10) bahwa:
“Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar”.

Hal-hal yang dipengaruhi hasil belajar meliputi intelegensi dan penguasaan anak tentang materi yang dipelajari, adanya kesempatan yang diberikan oleh anak, motivasi dan usaha yang dilakukan oleh anak.
Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar matematika adalah sesuatu yang dicapai siswa dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki dalam menguasai bahan pelajaran matematika setelah mengikuti proses belajar dalam kurun waktu tertentu dan diukur dengan menggunakan tes.
4.      Pembelajaran Kooperatif
Menurut Kauchak dan Eggen (Ratumanan, 2004;129), belajar kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar yang digunakan siswa untuk membantu satu dengan yang lain dalam mempelajari sesuatu. Menurut Slavin (Ratumanan, 2004;130) dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerja sama dalam kelompok kecil saling membantu untuk mempelajari suatu materi.
Pembelajaran kooperatif memanfaatkan kecenderungan siswa berinteraksi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa setting kelas, siswa lebih banyak belajar dari satu teman ke teman yang lainnya di antara sesama siswa bila dibandingkan dengan belajar dari gurunya. Pembelajaran kooperatif melatih siswa menemukan dan memahami konsep-konsep yang dianggap sulit dengan cara bertukar pikiran (berdiskusi) dengan teman-temannya. Diskusi merupakan salah satu metode yang dapat mengaktifkan siswa dan memungkinkan siswa menguasai konsep atau memecahkan suatu masalah melalui suatu proses yang memberi kesempatan berfikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif.
Roger dan David Johnson (suprijono 2012: 58 ) mengatakan tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil maksimal, lima unsur dalam pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Lima unsur tersebut adalah:
1.      Positive interdependence (saling ketergantungan positif)
2.      Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan)
3.      Face to face promotive interaction (interaksi promotif)
4.      Interpersonal skill (komunikasi antaranggota)
5.      Group processing (pemrosesan kelompok)
Tabel 2.1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase
Tingkah laku guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa


Fase 2
Menyajikan informasi.

Fase 3
Mangorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.

Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

Fase 5
Evaluasi



Fase 6
Memberikan penghargaan.

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Guru menyajikan informasi dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.


Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efesien.

Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.


Guru mengevalusi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

5.      Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation (GI)
Investigasi kelompok / Group Investigation (GI) merupakan  salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet.  Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.
Teknik Kooperatif GI dikembangkan oleh Sholomo Sharan dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv, Israel. Secara umum perencanaan pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik kooperatif GI adalah kelompok 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan unit materi (pokok pembahasan) yang akan diajarkan, dan kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok. Selanjutnya, setiap kelompok mempresentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagai dan saling tukar informasi temuan mereka. Menurut Sharan & sharan, 1992 (2009 :140) dalam (Tukiran Taniredja 2012: 75) karakter unik Investigasi kelompok ada pada integrasi empat fitur dasar yaitu Investigasi, interaksi, penafsiran, dan motivasi intristik.
Slavin (dalam Asthika, 2005 : 24) mengemukakan tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation adalah sebagai berikut:


Tahap Pengolompokan ( Grouping)
Yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta membentuk kelompok investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai 6 orang. Pada tahap ini: 1) siswa mengamati sumber, memilih topik, dan menentukan kategori-kategori topik permasalahan, 2) siswa bergabung pada kelompok-kelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki, 3) guru membantu dalam mengumpulkan informasi dan menfasilitasi pengaturan.
Tahap Perencanaan (Planning)
Tahap Planning atau tahap perencanaan tugas-tugas pembelajaran. Pada tahap ini siswa bersama-sama merencanakan tentang: (1) Apa yang mereka pelajari? (2) Bagaimana mereka belajar? (3) Siapa dan melakukan apa? (4) Untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut?
Tahap Penyelidikan (investigation)
Tahap Investigasion, yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi siswa. Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diselidiki, 2) masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok, 3) siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan pendapat.
Tahap Pengorganisasian (Organizing)
Yaitu tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan siswa sebagai berikut: 1) anggota kelompok menentukan pesan-pesan penting dalam proyeknya masing-masing, 2) anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya, 3) wakil dari masing-masing kelompok membentuk panitia diskusi kelas dalam presentasi investigasi.
Tahap Presentasi (Presenting)
Tahap presenting yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut: (1) penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi bentuk penyajian,  (2) kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif sebagai pendengar, (3) pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang disajikan. Misalnya: 1) siswa yang bertugas untuk mewakili kelompok menyajikan hasil atau simpulan dari investigasi yang telah dilaksanakan, 2) siswa yang tidak sebagai penyaji, mengajukan pertanyaan, saran tentang topik yang disajikan, 3) siswa mencatat topik yang disajikan oleh penyaji.
Tahap Evaluasi (evaluation)
Pada tahap evaluating atau penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa. Pada tahap ini, kegiatan guru atau siswa dalam pembelajaran sebagai berikut: 1) siswa menggabungkan masukan-masukan tentang topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang pengalaman-pengalaman efektifnya, 2) guru dan siswa mengkolaborasi, mengevaluasi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan, 3) penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa. Misalnya: 1) siswa merangkum dan mencatat setiap topik yang disajikan, 2) siswa menggabungkan tiap topik yang diinvestigasi dalam kelompoknya dan kelompok yang lain, 3) guru mengevaluasi dengan memberikan tes uraian pada akhir siklus. Artikel (http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajaran kooperatif-tipe-gi.html#ixzz25B6Koqpy)
d.        Kerangka Pikir
Kegiatan belajar mengajar dipandang berkualitas jika berlangsung efektif, bermakna dan ditunjang oleh sumber daya yang wajar. Dikatakan berhasil jika siswa menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas- tugas belajar yang harus dikuasai dengan sasaran dan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dan pengajar sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang ingin dicapai pada setiap mata pelajaran. Proses belajar mengajar bukanlah hal yang sederhana, karena siswa tidak sekedar mengejar informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilaksanakan terutama bila diinginkan hasil belajar lebih baik.
Dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation maka siswa akan selalu terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran melalui kegiatan menemukan sendiri konsep- konsep pelajarannya, sehingga dengan keterlibatan ini materi yang dibahas akan selalu teringat dalam pemikirannya dan konsep yang harus dikuasai siswa akan mudah diterimanya. Hal ini sesuai dengan prinsip learning by doing yang menyatakan bahwa pembelajaran akan cepat dikuasai siswa jika siswa itu aktif dan ambil bagian dalam proses pambelajaran.
Bertolak dari pemikiran bahwa siswa aktif dalam pembelajaran akan memudahkan siswa menerima konsep yang harus dikuasainya maka secara otomatis langkah membawa siswa aktif dalam belajar, ini merupakan langkah yang efektif untuk menyampaikan suatu materi ajar, terutama terhadap pemahaman konsep matematika pada siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa yang selama ini dirasakan belum memuaskan walaupun guru sudah menggunakan dan mengkolaborasikan beberapa metode pembelajaran dalam pembelajaran matematika di kelas selama ini. Oleh Karena itu, dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigasi (GI) dipandang baik karena akan memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
e.         Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir yang telah dikemukakan  di atas, maka pengujian hipotesis penelitian ini adalah
“ Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa”.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian pre eksperimen, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali. Dalam penelitian ini melibatkan kelompok tunggal dan tidak ada perbandingan dengan kelompok non perlakuan dibuat.
B.     Desain Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki apakah pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) efektif diterapkan pada siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa.
Untuk penyelidikan tersebut digunakan suatu desain penelitian yaitu Studi Kasus Tembakan ( The One Shot Case Study ). Adapun skema desain penelitian ini adalah
                                    R         T          O2
Keterangan :
R         =          Random
T          =          Perlakuan pembelajaran dengan model pembelajaran
kooperatif tipe  Group Investigation (GI).
            O2        =          Posttest setelah perlakuan pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI).

C.    Satuan Eksperimen dan Perlakuan
Pada penelitian ini dipilih secara random satuan eksperimen sebanyak enam kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa pada tahun ajaran 2012/ 2013. Karena nilai rata-rata hasil belajar matematika untuk semua kelas relatif sama, antara kelas yang satu dengan kelas yang lain dianggap homogen terutama dari segi hasil belajarnya.
Oleh karena itu, pemilihan satuan eksperimen dapat dilakukan secara random yaitu memilih satu kelas sebagai kelas eksperimen dengan  menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI), selanjutnya akan diterapkan pada kelas yang telah terpilih.
D.    Prosedur Penelitian
         1.      Menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam melaksanakan proses pembelajaran, meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), dan Tes Hasil Belajar (THB). Serta mempersiapkan lembar observasi aktivitas siswa dan angket respon.
         2.      Mengelompokkan siswa menjadi kelompok kecil selanjutnya melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI).
         3.      Pada pertemuan keempat memberikan tes hasil belajar.
         4.      Melakukan analisis pada data tes hasil belajar matematika.
E.       Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah
1.            Tes Hasil Belajar Matematika
Untuk memperoleh data tentang hasil belajar matematika siswa, digunakan satu perangkat instrument yaitu tes hasil belajar untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi setelah belajar dalam jangka waktu tertentu. Bentuk tes yang digunakan adalah bentuk uraian. Namun sebelum tes itu dibuat, terlebih dahulu dibuatkan kisi-kisi agar bagian dalam meteri terwakilkan secara proporsional dalam tes.
2.      Lembar observasi aktivitas Siswa
Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Komponen-komponen penilaian berkaitan dengan aktivitas siswa perhatian, kesungguhan, kedisiplinan, dan keterampilan siswa.
3.      Angket Respon Siswa
Angket respon siswa dirancang untuk mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan. Aspek respon siswa menyangkut suasana belajar, minat mengikuti pelajaran berikutnya, dan cara-cara guru mengajar, serta  saran- saran.
F.       Teknik Pengumpulan Data
Data hasil penelitian dari kelompok perlakuan, dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa tes hasil belajar matematika, lembar observasi, dan angket respon.
1.            Data mengenai hasil belajar matematika siswa diperoleh dari posttest yang dilaksanakan pada akhir pertemuan penelitian.
2.            Data tentang aktivitas belajar mengajar diambil pada saat dilakukannya tindakan dengan menggunakan lembar observasi keaktifan siswa.
3.            Data tentang respon siswa diperoleh dengan cara memberikan angket kepada siswa.
G.      Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh adalah dengan menggunakan analisis statistika deskriptif.
Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa, aktivitas siswa selama pembelajaran, serta respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model kooperatif tipe Group Investigation (GI).
1.         Hasil Belajar Matematika
Kriteria yang digunakan untuk menentukan hasil belajar matematika adalah menurut standar kategorisasi Departemen Pendidikan Nasional (Ayudiah : 2007) yang dinyatakan dalam tabel berikut:
Tabel 3.1 Kategorisasi Standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional
No.
Skor
Kategori
1.
0  54
Sangat rendah
2.
54  64
Rendah
3.
64  79
Sedang
4.
79  89
Tinggi
5.
 89  100
Sangat tinggi
Hasil belajar matematika siswa juga diarahkan pada pencapaian hasil belajar secara individual dan klasikal. Kriteria seorang siswa dikatakan tuntas apabila memiliki nilai paling sedikit 70 dari skor ideal 100 sesuai dengan KKM (kriteria ketuntasan minimal) yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah, sedangkan ketuntasan klasikal tercapai apabila minimal 80 %  siswa di kelas tersebut telah mencapai skor paling sedikit 70.
Tabel 3.2. Kategori Standar Ketuntasan Minimal Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa
Tingkat Penguasaan
Kategori Ketuntasan Belajar
0 70
Tidak tuntas
70 100
Tuntas

2.      Aktivitas Siswa
Analisis data aktivitas dilakukan dengan menentukan frekuensi dan persentase frekuensi yang dipergunakan siswa dalam pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Inve.stigation (GI).
Langkah-langkah analisis aktivitas siswa adalah sebagai berikut :
a.       Menentukan frekuensi hasil pengamatan aktivitas siswa setiap indikator dalam satu pertemuan.
b.      Mencari persentase frekuensi setiap indikator dengan membagi besarnya frekuensi dengan jumlah siswa, kemudian dikalikan 100%.
Kriteria keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian ini ditunjukkan dengan sekurang- kurangnya 75% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran baik aktivitas siswa yang bersifat fisik ataupun mental.
3.      Respon siswa
Data tentang respon siswa diperoleh dari angket respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) dan selanjutnya dianalisis persentase. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis data respon siswa adalah sebagai berikut :
a.       Menghitung persentase banyak siswa yang memberikan respon positif dengan cara membagi jumlah siswa yang memberikan respon positif dengan jumlah siswa yang memberikan respon kemudian dikalikan dengan 100%.
b.      Menghitung persentase banyaknya siswa yang memberikan respon negatif dengan cara membagi jumlah siswa yang memberikan respon negatif dengan jumlah siswa yang memberikan respon kemudian dikalikan 100%.
Kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan bahwa siswa memiliki respon positif terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) adalah 80 % dari mereka memberi respon positif terhadap sejumlah aspek yang ditanyakan.








DAFTAR PUSTAKA
Aspida. 2012. Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan  Pembelajaran Kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)  Pada Siswa Kelas VII SMPN 4 Mappakasunggu Kab. Takalar. Skripsi UNISMUH Makassar.

Arman. 2012. Efektivitas Pembelajaran Matematika dengan menggunakan model Pembelajaran Group investigatigation Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Enrekang  Kabupaten Enrekang. Skripsi UNISMUH Makassar.

Fathurahman, Pupuh dkk. 2011. Strategi Belajar Mengajar : Melalui Penanaman konsep Umum & Konsep Islami. Bandung : Replika Aditama. Cet. Ke- 5.

Fahrul. 2007. Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Inpres Batua II Bertingkat Makassar Melalui Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together. Skripsi UNISMUH Makassar.

Munassar, Arliah. Efektivitas pembelajaran Matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) Siswa Kelas VII MTs Muallimi Muhammadiyah Makassar. Skripsi UNISMUH Makassar.

Rosnani. 2007. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Koopertif Model Missouri Mathematics Project Pada Siswa Kelas VIII SMP NEGERI 3 Herlang Kab.Bulukumba. Skripsi UNISMUH Makassar.

Suprijono, Agus. 2011. Cooperatif Learninng : Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet. Ke- 8.

Sukardi. 2011.  Metedologi Penelitian Pendidikan : Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta : Bumi Aksara. Cet. Ke- 9.

Sagala, Saiful. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta. Cet. Ke- 9.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta.Cet. Ke- 14.

Tiro, Muhammad Arif. 2000. Dasar- Dasar Statistika Matematika. Makassar : State  University of Makassar Press.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif . Bandung: Alfabeta.
Taniredja, Tukiran dkk. 2012. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Bandung: Alfabeta.Cet. Ke- 3.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar