BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu dimensi yang memiliki
keterkaitan dengan sistem yang berlaku dalam kehidupan masyarakat dan sekaligus
menjadi salah satu faktor penentu perkembangan kehidupan masyarakat dewasa ini
sehingga dapat menyesuaikan kehidupannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Kemajuan IPTEK telah membawa implikasi perubahan dalam dunia
pendidikan. Tanpa pendidikan kita tidak akan mendapatkan sumber daya manusia
yang berkualitas. Sumber daya manusia tidaklah mungkin tumbuh dan berkembang dengan
sendirinya secara alami, tetapi harus melalui suatu proses pengembangan yang
dilakukan secara sistematis, konsisten dan profesional.
Pengembangan kualitas sumber daya manusia yang pada
hakikatnya adalah usaha membudayakan manusia yang bertujuan untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia. Pentingnya peranan pendidikan ini memacu pada tujuan
pendidikan nasional sebagaimana dituntun oleh UUSPN No. 20 tahun 2003 bahwa
pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, bukanlah hal
yang mudah untuk dilakukan tetap banyak masalah yang harus diselesaikan untuk
mencapainya. Suatu hal yang harus diingat bahwa yang diharapkan berhasil mencapai
tujuan pendidikan dan pembelajaran adalah siswa sedangkan tujuan guru mengajar
adalah agar konsep yang diajarkan dapat dikuasai dan dipahami sepenuhnya oleh
siswa, sehingga suasana belajar dan pemahaman yang dicapai lebih baik dan
sesuai yang diharapkan. Dalam hal ini peranan pendidikan matematika adalah sangat
penting. karena matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang mengantar
manusia berpikir secara logis, analisis dan sistematis.
Namun
demikian, mata pelajaran matematika dianggap sulit dan membosankan oleh
sebagian siswa. Masalah yang umumnya timbul pada siswa saat ini adalah
rendahnya hasil belajar siswa. Sebagian besar siswa tidak menyenangi pelajaran
matematika sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar matematika. Anggapan
mereka terhadap matematika adalah pelajaran yang berisi banyak konsep dan
aturan (rumus dan definisi).
Pada
umumnya siswa belajar menghafal konsep matematika bukan belajar untuk mengerti
konsep matematika. Sehingga siswa mengalami kesulitan mengaitkan konsep yang dipelajarinya
di kelas dalam kegiatan kehidupan sehari-hari. Selama ini umumnya guru masih
menerapkan pengajaran langsung dimana pembelajaran berpusat pada guru, siswa
hanya sebagai pendengar dan penerima informasi dari guru, pembelajaran dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif
dari seluruh siswa.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan seorang guru untuk
meningkatkan hasil belajar siswa di antaranya adalah memilih dan menggunakan
model pembelajaran yang relevan. Pembelajaran inovatif yang relevan untuk
pembelajaran di sekolah, adalah teknik pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered), yaitu pembelajaran
yang menekankan agar siswa sendirilah yang akan membangun pengetahuannya.
Sedangkan guru harus merancang kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan atau
mengubah pengetahuan awal siswa. Dengan adanya kondisi demikian, maka peneliti mencoba
menerapkan model pembelajaran inovatif untuk meningkatkan hasil belajar
matematika siswa.
Pembelajaran kooperatif dianggap cocok diterapkan dalam
pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa kita yang menjunjung
tinggi nilai gotong royong.
Model pembelajaran yang digunakan diharapkan mampu
melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial,
dan mampu meningkatkan kemampuan kerjasama antar siswa. Model pembelajaran Group Investigation (GI) adalah salah
satu tipe dari model pembelajaran kooperatif yang merupakan kegiatan belajar
yang berorientasi pada siswa. Siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang
heterogen. Dengan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation siswa belajar bersama, saling membantu, dan
berdiskusi dalam menemukan dan menyelesaikan masalah.
Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab
siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa
tidak hanya mempelajari materi yang
diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut
pada anggota kelompoknya yang lain.
Oleh karena itu, dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Group Investigasi
(GI) dipandang baik karena akan memberikan peluang kepada siswa untuk lebih
aktif dalam pembelajaran. Dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil
belajar matematika siswa.
Atas dasar uraian diatas, maka penulis tertarik untuk
mengadakan suatu penelitian eksperimen dengan
judul “Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) Pada
Siswa Kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang maka rumusan
masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:
1.
Bagaimana hasil belajar
matematika siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa yang diajar dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation (GI)?
2.
Bagaimana aktivitas siswa kelas
X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation
(GI)?
3.
Bagaimana respon siswa kelas X
SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI)?
4.
Apakah pembelajaran kooperatif
tipe group investigation (GI) efektif
diterapakan dalam pembelajaran matematika siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo
Kabupaten Gowa?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di
atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1.
Untuk memperoleh informasi
tentang hasil belajar matematika siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa
yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI).
2.
Untuk mengetahui aktivitas
siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa yang diajar dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation (GI).
3.
Untuk mengetahui respon siswa
kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI).
4.
Untuk mengetahui keefektifan
model pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation (GI) dalam pembelajaran matematika siswa kelas X SMAN 1
Bontonompo Kabupaten Gowa.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah
1.
Bagi Siswa: Dengan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar
siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa.
2.
Bagi Guru: meningkatkan prifesionalisme seorang guru dan memberikan
informasi tentang kemjuan yang diperoleh siswa.
3.
Bagi Sekolah: Sebagai informasi yang dapat
dijadikan bahan pertimbangan atau masukan untuk mendapatkan pola pembelajaran
efektif dalam setiap proses pembelajaran di kelas.
BAB
II
KAJIAN
TEORITIK DAN HIPOTESIS
A.
Kajian Teoritik
1.
Pengertian Efektivitas Pembelajaran
Efektivitas berasal dari kata “efektif”. Menurut kamus Bahasa
Indonesia, efektif berarti dapat memberikan hasil; ada pengaruhnya; ada
akibatnya; ada efeknya.
Menurut Sardiman
(Trianto, 2010 : 20 ). Keefektifan pembelajaran adalah hasil guna yang
diperoleh setelah pelaksanaan proses belajar mengajar.
Menurut Soemosasmito (Trianto, 2010 : 20) mengatakan
bahwa suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila memenuhi persyaratan utama
keefektifan pengajaran, yaitu : 1) Presentasi waktu belajar siswa yang tinggi
dicurahkan terhadap kegiatan belajar mengajar (KBM). 2) Rata- rata perilaku
melaksanakan tugas yang tinggi diantara siswa. 3) Ketetapan antara kandungan
materi ajar kemampuan siswa (orientasi keberhasilan belajar) diutamakan. 4)
mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa efektifitas pembelajaran adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh
mana hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan proses belajar mengajar.
Dalam penelitian ini, kriteria keefektifan pembelajaran
matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigasi ditinjau dari 3 aspek yaitu
a.
Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar dapat dilihat dari hasil belajar yang
telah mencapai ketuntasan individual dan klasikal, yakni siswa telah memenuhi
kreteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan oleh sekolah SMAN 1
Bontonompo adalah 70 dari skor idealnya 100. Standar ketuntasan belajar siswa
sebagai acuan efektivitas pembelajaran pada penelitian ini adalah 80% dari
jumlah siswa yang mencapai nilai KKM.
b.
Aktivitas siswa
Aktivitas siswa matematika adalah proses komunikasi
antara dari hasil interaksi siswa dan guru atau siswa dengan siswa sehingga
menghasilkan perubahan akademik, sikap dalam bertanya / menjawab.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran bisa positif maupun
negatif. Aktivitas siswa yang positif misalnya; mengajukan pendapat atau
gagasan, mengerjakan tugas atau soal, komunikasi dengan guru secara aktif dalam
pembelajaran dan komunikasi dengan sesama siswa sehingga dapat memecahkan suatu
permasalahan yang sedang dihadapi, sedangkan aktivitas siswa yang negatif
misalnya menggangu sesama siswa pada saat proses belajar mengajar di kelas,
melakukan kegiatan yang lain tidak sesuai dengan pelajaran yang diajarkan oleh
guru.
Kriteria keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian
ini ditunjukkan dengan sekurang- kurangnya 75% siswa terlibat aktif dalam
proses pembelajaran baik aktivitas siswa yang bersifat fisik ataupun mental.
c.
Respon siswa
Angket respon siswa digunakan untuk menjawab pertanyaan
mengenai pembelajaran matematika yang setelah model pembelajaran kooperatif
tipe Group Investigation diterapkan
pada siswa.
Model pembelajaran yang baik dapat memberi positif bagi siswa
setelah mereka mengikuti kegiatan pembelajaran. Kriteria yang ditetapkan dalam
penelitian ini adalah minimal 80% siswa yang memberi respon positif terhadap
jumlah aspek yang ditanyakan.
2.
Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua
lapisan masyarakat. Bagi para pelajar atau mahasiswa kata “belajar” merupakan
kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu. Belajar meliputi tidak hanya
mata pelajaran, tetapi juga penguasaan, kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat,
penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan, dan cita-cita.
Untuk memperoleh pengertian belajar yang objektif, maka
perlu dirumuskan secara jelas pengertian belajar yang sudah banyak dikemukakan
oleh para ahli. Menurut Sobry Sutikno (Fathurrahman 2011: 5) bahwa:
“Belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil
dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dalam lingkungannya”.
Skinner (Sagala 2011: 14) berpendapat bahwa:
“Belajar sebagai suatu proses adaptasi
atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. juga dipahami
sebagai suatu perilaku, pada saat orang belajar maka responnya menjadi baik.
Sebaliknya bila ia tidak belajar maka responnya menurun”.
Beda lagi dengan Gagne (Suprijono 2012: 2)
mendefinisikan bahwa:
“Belajar adalah perubahan disposisi atau
kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktifitas. Perubahan disposisi
tersebut bukan diperoleh dari proses pertumbuhan secara ilmiah.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian
belajar yang dikemukakan di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa pangertian
belajar adalah pada hakikatnya merupakan perubahan yang terjadi pada diri
seseorang setelah melakukan aktifitas tertentu baik itu dari hasil pengalaman
maupun interaksi dengan lingkungan.
3.
Hasil Belajar Matematika
Belajar matematika adalah belajar tentang konsep dan
struktur matematika serta hubungan antara konsep dan struktur matematika.
Matematika berkenaan dengan ide atau konsep abstrak yang diberi simbol-simbol
dan tersusun secara hirarki.
Hasil belajar merupakan suatu ukuran berhasil atau
tidaknya seseorang siswa dalam proses belajar mengajar. Untuk mengetahui
keberhasilan seseorang dalam belajar, diperlukan suatu alat ukur. Dengan mengukur
hasil belajar seseorang dapat diketahui batas kemampuan, kesanggupan,
penguasaan seseorang tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap atau nilai
dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Abdurahman (Rosnani, 2007;6) menyatakan bahwa:
“Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui
kegiatan belajar”.
Hasil belajar tidak akan pernah dihasilkan selama
seseorang tidak melakukan kegiatan belajar. Kenyataan menunjukkan bahwa untuk
mendapatkan hasil belajar yang baik tidak semudah yang dibayangkan tetapi harus
didukung oleh sebuah kemauan dan minat dalam belajar serta program pengajaran
yang baik.
Hasil belajar matematika yang dikemukakan oleh Aspida
(2012 : 13 ) adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses
belajar mengajar yang berkenaan dengan materi suatu mata pelajaran. Hasil
belajar ini dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Belajar
merupakan suatu proses yang diarahkan kepada pencapaian suatu tujuan. Sehingga
kualitas belajar matematika adalah mutu atau tingkat prestasi yang dicapai
siswa setelah mengikuti proses belajar matematika.
Keberhasilan seseorang mempelajari matematika tidak
hanya dipengaruhi minat, kesadaran, kemauan, tetapi juga bergantung pada
kemampuannya terhadap matematika serta diperlukan keterampilan intelektual,
misalnya keterampilan berhitung. Hasil yang dimaksud adalah tingkat penguasaan
untuk mengukur hasil belajar sesuai dengan tujuan pencapaian kognitif disesuaikan
dengan taraf kognitif siswa.
Hasil belajar yang dikemukakan oleh Sudjana (Fahrul,
2007;10) bahwa:
“Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajar”.
Hal-hal yang dipengaruhi hasil belajar meliputi intelegensi
dan penguasaan anak tentang materi yang dipelajari, adanya kesempatan yang
diberikan oleh anak, motivasi dan usaha yang dilakukan oleh anak.
Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa
yang dimaksud dengan hasil belajar matematika adalah sesuatu yang dicapai siswa
dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki dalam menguasai bahan pelajaran matematika
setelah mengikuti proses belajar dalam kurun waktu tertentu dan diukur dengan
menggunakan tes.
4.
Pembelajaran Kooperatif
Menurut Kauchak dan Eggen (Ratumanan, 2004;129), belajar
kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar yang digunakan siswa
untuk membantu satu dengan yang lain dalam mempelajari sesuatu. Menurut Slavin
(Ratumanan, 2004;130) dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerja sama dalam
kelompok kecil saling membantu untuk mempelajari suatu materi.
Pembelajaran kooperatif memanfaatkan kecenderungan siswa
berinteraksi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa setting kelas, siswa lebih
banyak belajar dari satu teman ke teman yang lainnya di antara sesama siswa
bila dibandingkan dengan belajar dari gurunya. Pembelajaran kooperatif melatih
siswa menemukan dan memahami konsep-konsep yang dianggap sulit dengan cara
bertukar pikiran (berdiskusi) dengan teman-temannya. Diskusi merupakan salah
satu metode yang dapat mengaktifkan siswa dan memungkinkan siswa menguasai
konsep atau memecahkan suatu masalah melalui suatu proses yang memberi
kesempatan berfikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif.
Roger dan David Johnson (suprijono 2012: 58 ) mengatakan
tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk
mencapai hasil maksimal, lima unsur dalam pembelajaran kooperatif harus
diterapkan. Lima unsur tersebut adalah:
1.
Positive interdependence (saling
ketergantungan positif)
2.
Personal responsibility (tanggung jawab
perseorangan)
3.
Face to face promotive interaction
(interaksi promotif)
4.
Interpersonal skill (komunikasi
antaranggota)
5.
Group processing (pemrosesan kelompok)
Tabel 2.1.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
|
Fase
|
Tingkah laku guru
|
|
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Fase 2
Menyajikan informasi.
Fase 3
Mangorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
Fase 5
Evaluasi
Fase 6
Memberikan penghargaan.
|
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Guru menyajikan informasi dengan jalan demonstrasi atau lewat
bahan bacaan.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok
belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara
efesien.
Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan
tugas mereka.
Guru mengevalusi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari
atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil
belajar individu dan kelompok.
|
5.
Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation (GI)
Investigasi kelompok / Group Investigation (GI) merupakan salah satu
bentuk model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan
aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan
dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau
siswa dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan,
baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui
investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik
dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group
Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir
mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap
pertama sampai tahap akhir pembelajaran.
Teknik Kooperatif GI dikembangkan oleh Sholomo Sharan
dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv, Israel. Secara umum perencanaan
pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik kooperatif GI adalah kelompok
2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan unit materi
(pokok pembahasan) yang akan diajarkan, dan kemudian membuat atau menghasilkan
laporan kelompok. Selanjutnya, setiap kelompok mempresentasikan atau memamerkan
laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagai dan saling tukar informasi
temuan mereka. Menurut Sharan & sharan, 1992 (2009 :140) dalam (Tukiran
Taniredja 2012: 75) karakter unik Investigasi kelompok ada pada integrasi empat
fitur dasar yaitu Investigasi, interaksi, penafsiran, dan motivasi intristik.
Slavin (dalam Asthika, 2005 : 24) mengemukakan
tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation adalah sebagai
berikut:
Tahap Pengolompokan ( Grouping)
Yaitu tahap mengidentifikasi topik
yang akan diinvestigasi serta membentuk kelompok investigasi, dengan anggota
tiap kelompok 4 sampai 6 orang. Pada tahap ini: 1) siswa mengamati sumber,
memilih topik, dan menentukan kategori-kategori topik permasalahan, 2) siswa
bergabung pada kelompok-kelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih
atau menarik untuk diselidiki, 3) guru membantu dalam mengumpulkan informasi
dan menfasilitasi pengaturan.
Tahap Perencanaan (Planning)
Tahap Planning atau tahap perencanaan
tugas-tugas pembelajaran. Pada tahap ini siswa bersama-sama merencanakan
tentang: (1) Apa yang mereka pelajari? (2) Bagaimana mereka belajar? (3) Siapa
dan melakukan apa? (4) Untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut?
Tahap Penyelidikan (investigation)
Tahap Investigasion,
yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi siswa. Pada tahap ini, siswa
melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) siswa mengumpulkan informasi,
menganalisis data dan membuat simpulan terkait dengan permasalahan-permasalahan
yang diselidiki, 2) masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada
setiap kegiatan kelompok, 3) siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi
dan mempersatukan ide dan pendapat.
Tahap Pengorganisasian (Organizing)
Yaitu tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini
kegiatan siswa sebagai berikut: 1) anggota kelompok menentukan pesan-pesan
penting dalam proyeknya masing-masing, 2) anggota kelompok merencanakan
apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya, 3) wakil dari
masing-masing kelompok membentuk panitia diskusi kelas dalam presentasi
investigasi.
Tahap Presentasi (Presenting)
Tahap presenting
yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap
ini adalah sebagai berikut: (1) penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam
berbagai variasi bentuk penyajian, (2) kelompok yang tidak sebagai penyaji
terlibat secara aktif sebagai pendengar, (3) pendengar mengevaluasi,
mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang
disajikan. Misalnya: 1) siswa yang bertugas untuk mewakili kelompok menyajikan
hasil atau simpulan dari investigasi yang telah dilaksanakan, 2) siswa yang
tidak sebagai penyaji, mengajukan pertanyaan, saran tentang topik yang
disajikan, 3) siswa mencatat topik yang disajikan oleh penyaji.
Tahap Evaluasi (evaluation)
Pada tahap evaluating atau penilaian proses
kerja dan hasil proyek siswa. Pada tahap ini, kegiatan guru atau siswa dalam
pembelajaran sebagai berikut: 1) siswa menggabungkan masukan-masukan tentang
topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang
pengalaman-pengalaman efektifnya, 2) guru dan siswa mengkolaborasi,
mengevaluasi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan, 3) penilaian hasil
belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa. Misalnya: 1) siswa
merangkum dan mencatat setiap topik yang disajikan, 2) siswa menggabungkan tiap
topik yang diinvestigasi dalam kelompoknya dan kelompok yang lain, 3) guru
mengevaluasi dengan memberikan tes uraian pada akhir siklus. Artikel (http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajaran
kooperatif-tipe-gi.html#ixzz25B6Koqpy)
d.
Kerangka Pikir
Kegiatan belajar mengajar dipandang
berkualitas jika berlangsung efektif, bermakna dan ditunjang oleh sumber daya
yang wajar. Dikatakan berhasil jika siswa menunjukkan tingkat penguasaan yang
tinggi terhadap tugas- tugas belajar yang harus dikuasai dengan sasaran dan
tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dan pengajar sesuai
dengan tuntutan pembelajaran yang ingin dicapai pada setiap mata pelajaran.
Proses belajar mengajar bukanlah hal yang sederhana, karena siswa tidak sekedar
mengejar informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun
tindakan yang harus dilaksanakan terutama bila diinginkan hasil belajar lebih
baik.
Dengan
menerapkan model pembelajaran Group
Investigation maka siswa akan selalu terlibat secara langsung dalam proses
pembelajaran melalui kegiatan menemukan sendiri konsep- konsep pelajarannya,
sehingga dengan keterlibatan ini materi yang dibahas akan selalu teringat dalam
pemikirannya dan konsep yang harus dikuasai siswa akan mudah diterimanya. Hal
ini sesuai dengan prinsip learning by
doing yang menyatakan bahwa pembelajaran akan cepat dikuasai siswa jika
siswa itu aktif dan ambil bagian dalam proses pambelajaran.
Bertolak
dari pemikiran bahwa siswa aktif dalam pembelajaran akan memudahkan siswa
menerima konsep yang harus dikuasainya maka secara otomatis langkah membawa
siswa aktif dalam belajar, ini merupakan langkah yang efektif untuk
menyampaikan suatu materi ajar, terutama terhadap pemahaman konsep matematika
pada siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa yang selama ini dirasakan
belum memuaskan walaupun guru sudah menggunakan dan mengkolaborasikan beberapa
metode pembelajaran dalam pembelajaran matematika di kelas selama ini. Oleh
Karena itu, dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigasi (GI) dipandang baik
karena akan memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif dalam
pembelajaran. Dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar
matematika siswa.
e.
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan
kajian teori dan kerangka pikir yang telah dikemukakan di atas, maka pengujian hipotesis penelitian
ini adalah
“ Model
pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation (GI) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada
siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa”.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian pre eksperimen,
yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan
tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali. Dalam penelitian ini
melibatkan kelompok tunggal dan tidak ada perbandingan dengan kelompok non
perlakuan dibuat.
B. Desain Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki apakah
pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation (GI) efektif diterapkan pada siswa kelas X SMAN 1 Bontonompo
Kabupaten Gowa.
Untuk penyelidikan tersebut digunakan suatu desain
penelitian yaitu Studi Kasus Tembakan ( The
One Shot Case Study ). Adapun skema desain penelitian ini adalah
R T O2
Keterangan :
R = Random
T = Perlakuan pembelajaran dengan model
pembelajaran
kooperatif tipe Group
Investigation (GI).
O2 = Posttest
setelah perlakuan pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI).
C. Satuan Eksperimen dan
Perlakuan
Pada penelitian ini dipilih secara random satuan
eksperimen sebanyak enam kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa pada tahun
ajaran 2012/ 2013. Karena nilai rata-rata hasil belajar matematika untuk semua
kelas relatif sama, antara kelas yang satu dengan kelas yang lain dianggap
homogen terutama dari segi hasil belajarnya.
Oleh karena itu, pemilihan satuan eksperimen dapat
dilakukan secara random yaitu memilih satu kelas sebagai kelas eksperimen
dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Group Investigation
(GI), selanjutnya akan diterapkan pada kelas yang telah terpilih.
D. Prosedur Penelitian
1.
Menyiapkan perangkat pembelajaran
yang akan digunakan dalam melaksanakan proses pembelajaran, meliputi Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), dan Tes Hasil Belajar
(THB). Serta mempersiapkan lembar observasi aktivitas siswa dan angket respon.
2.
Mengelompokkan siswa menjadi
kelompok kecil selanjutnya melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation (GI).
3.
Pada pertemuan keempat
memberikan tes hasil belajar.
4.
Melakukan analisis pada data
tes hasil belajar matematika.
E.
Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah
1.
Tes Hasil Belajar Matematika
Untuk memperoleh data tentang hasil belajar matematika
siswa, digunakan satu perangkat instrument yaitu tes hasil belajar untuk
mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi setelah belajar dalam jangka
waktu tertentu. Bentuk tes yang digunakan adalah bentuk uraian. Namun sebelum
tes itu dibuat, terlebih dahulu dibuatkan kisi-kisi agar bagian dalam meteri
terwakilkan secara proporsional dalam tes.
2.
Lembar observasi aktivitas Siswa
Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang
aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Komponen-komponen
penilaian berkaitan dengan aktivitas siswa perhatian, kesungguhan,
kedisiplinan, dan keterampilan siswa.
3.
Angket Respon Siswa
Angket respon siswa dirancang untuk mengetahui respon
siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan. Aspek respon siswa
menyangkut suasana belajar, minat mengikuti pelajaran berikutnya, dan cara-cara
guru mengajar, serta saran- saran.
F.
Teknik Pengumpulan Data
Data hasil penelitian dari
kelompok perlakuan, dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa
tes hasil belajar matematika, lembar observasi, dan angket respon.
1.
Data
mengenai hasil belajar matematika siswa diperoleh dari posttest yang
dilaksanakan pada akhir pertemuan penelitian.
2.
Data
tentang aktivitas belajar mengajar diambil pada saat dilakukannya tindakan
dengan menggunakan lembar observasi keaktifan siswa.
3.
Data
tentang respon siswa diperoleh dengan cara memberikan angket kepada siswa.
G.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis
data yang diperoleh adalah dengan menggunakan analisis statistika deskriptif.
Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui
hasil belajar siswa, aktivitas siswa selama pembelajaran, serta respon siswa
terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model kooperatif tipe Group Investigation (GI).
1.
Hasil Belajar Matematika
Kriteria yang digunakan untuk menentukan hasil belajar
matematika adalah menurut standar kategorisasi Departemen Pendidikan Nasional
(Ayudiah : 2007) yang dinyatakan dalam tabel berikut:
Tabel 3.1 Kategorisasi Standar yang ditetapkan oleh
Departemen Pendidikan Nasional
|
No.
|
Skor
|
Kategori
|
|
1.
|
0
54
|
Sangat rendah
|
|
2.
|
54
64
|
Rendah
|
|
3.
|
64
79
|
Sedang
|
|
4.
|
79
89
|
Tinggi
|
|
5.
|
89
100
|
Sangat tinggi
|
Hasil belajar matematika siswa juga diarahkan pada
pencapaian hasil belajar secara individual dan klasikal. Kriteria seorang siswa
dikatakan tuntas apabila memiliki nilai paling sedikit 70 dari skor ideal 100
sesuai dengan KKM (kriteria ketuntasan minimal) yang telah ditetapkan oleh
pihak sekolah, sedangkan ketuntasan klasikal tercapai apabila minimal 80 % siswa di kelas tersebut telah mencapai skor
paling sedikit 70.
Tabel 3.2. Kategori Standar Ketuntasan Minimal Hasil
Belajar Matematika Siswa Kelas X SMAN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa
|
Tingkat Penguasaan
|
Kategori Ketuntasan Belajar
|
|
0
70
|
Tidak tuntas
|
|
70
100
|
Tuntas
|
2.
Aktivitas Siswa
Analisis data aktivitas dilakukan dengan menentukan
frekuensi dan persentase frekuensi yang dipergunakan siswa dalam pembelajaran
matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Inve.stigation (GI).
Langkah-langkah analisis aktivitas siswa adalah sebagai
berikut :
a.
Menentukan frekuensi hasil
pengamatan aktivitas siswa setiap indikator dalam satu pertemuan.
b.
Mencari persentase frekuensi
setiap indikator dengan membagi besarnya frekuensi dengan jumlah siswa,
kemudian dikalikan 100%.
Kriteria keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian
ini ditunjukkan dengan sekurang- kurangnya 75% siswa terlibat aktif dalam
proses pembelajaran baik aktivitas siswa yang bersifat fisik ataupun mental.
3.
Respon siswa
Data tentang respon siswa diperoleh dari angket respon
siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) dan selanjutnya dianalisis persentase.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis data respon siswa adalah
sebagai berikut :
a.
Menghitung persentase banyak
siswa yang memberikan respon positif dengan cara membagi jumlah siswa yang
memberikan respon positif dengan jumlah siswa yang memberikan respon kemudian
dikalikan dengan 100%.
b.
Menghitung persentase banyaknya
siswa yang memberikan respon negatif dengan cara membagi jumlah siswa yang
memberikan respon negatif dengan jumlah siswa yang memberikan respon kemudian
dikalikan 100%.
Kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan bahwa siswa memiliki
respon positif terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) adalah 80 % dari mereka memberi respon
positif terhadap sejumlah aspek yang ditanyakan.
DAFTAR PUSTAKA
Aspida. 2012. Efektivitas
Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan
Pembelajaran Kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) Pada Siswa Kelas VII SMPN 4
Mappakasunggu Kab. Takalar. Skripsi UNISMUH Makassar.
Arman. 2012. Efektivitas
Pembelajaran Matematika dengan menggunakan model Pembelajaran Group
investigatigation Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Enrekang Kabupaten Enrekang. Skripsi UNISMUH
Makassar.
Fathurahman, Pupuh dkk. 2011. Strategi
Belajar Mengajar : Melalui Penanaman
konsep Umum & Konsep Islami. Bandung : Replika Aditama. Cet. Ke- 5.
Fahrul. 2007. Meningkatkan Hasil Belajar
Matematika Siswa Kelas V SD Inpres Batua II Bertingkat Makassar Melalui
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together. Skripsi UNISMUH
Makassar.
Munassar, Arliah. Efektivitas pembelajaran Matematika melalui model pembelajaran kooperatif
tipe Numbered Head Together (NHT) Siswa Kelas VII MTs Muallimi Muhammadiyah
Makassar. Skripsi UNISMUH Makassar.
Rosnani. 2007. Peningkatan
Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Koopertif Model Missouri
Mathematics Project Pada Siswa Kelas VIII SMP NEGERI 3 Herlang Kab.Bulukumba.
Skripsi UNISMUH Makassar.
Suprijono, Agus. 2011.
Cooperatif Learninng : Teori dan Aplikasi
Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet. Ke- 8.
Sukardi. 2011. Metedologi Penelitian Pendidikan : Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta
: Bumi Aksara. Cet. Ke- 9.
Sagala, Saiful. 2011. Konsep dan
Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Cet. Ke- 9.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian
Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung :
Alfabeta.Cet. Ke- 14.
Tiro, Muhammad Arif. 2000. Dasar-
Dasar Statistika Matematika. Makassar : State University of Makassar Press.
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif . Bandung:
Alfabeta.
Taniredja, Tukiran dkk. 2012. Model-Model Pembelajaran Inovatif.
Bandung: Alfabeta.Cet. Ke- 3.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar