Sabtu, 30 Januari 2016

Skripsi: keefektifan pendekatan pembelajaran matematika realistik ( PMR ) pada siswa kelas VI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sampai batas tertentu matematika hendaknya dapat dikuasai oleh segenap warga negara Indonesia. Lebih lanjut matematika dapat memberi bekal kepada siswa untuk menerapkan matematika dalam berbagai keperluan. Akan tetapi persepsi negatif siswa terhadap matematika tidak dapat diacuhkan begitu saja. Umumnya pelajaran matematika di sekolah menjadi momok bagi siswa. Sifat abstrak dari objek matematika menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika. Akibatnya prestasi matematika siswa secara umum belum menggembirakan.
Pendekatan matematika realistik awalnya di Negeri Belanda. Pendekatan didasarkan pada konsep Freudental (Ariyadi Wijaya, 2011:20), mengatakan bahwa matematika merupakan aktivitas manusia (human activities), ide utamanya adalah siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika tanpa bimbingan orang dewasa (guru). Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi persoalan-persoalan “realistik” yakni yang berkaitan dengan realitas atau situasi yang dapat dibayangkan siswa. Pendekatan matematika realistik dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu teori belajar yang sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini, seperti konstruktivisme dan realistik.
Pendekatan matematika realistik adalah pendekatan pengajaran yang bertitik dari hal-hal yang “real” bagi siswa, menekankan keterampilan, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok. Pada pendekatan ini peran guru tak lebih dari seorang fasilitator, moderator atau evaluator sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan, melatih nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang lain.
Hasil observasi awal peneliti terhadap proses pembelajaran matematika di SMP PGRI Sungguminasa pada semester ganjil tahun ajaran 2012/2013 menunjukan bahwa guru masih menerapkan pembelajaran matematika yang bersifat konvensional, dimana guru masih memegang peran dominan (teacher center) di dalam kelas sehingga secara umum siswa menampilkan sikap kurang bersemangat, bergairah dan tidak siap dalam pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar siswa kurang aktif berinteraksi antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa. Mereka cenderung lebih menunggu apa yang disajikan oleh guru.
Mengingat hal tersebut di atas, maka pembelajaran matematika harus lebih ditekan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari, untuk selanjutnya menerapkan konsep matematika tersebut pada kehidupan sehari-hari atau pada bidang lain yang mudah dipahami anak. Sejalan dengan pandangan ini, Freundenthal (Ariyadi Wijaya, 2011:20) mengatakan bahwa matematika sebagai aktivitas manusia dan oleh karena itu matematika harus dihubungkan dengan realitas dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu penerapan pembelajaran matematika yang menekankan pada proses matematisasi pengalaman sehari-hari  dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pendekatan matematika realistik. Pendekatan matematika realistik merupakan suatu pendekatan pembelajaran dalam pendidikan matematika yang berakar pada masalah pragmatis.
Berdasarkan hasil penelitian baik penilitian kuantitatif dan kualitatif ditemukan pendekatan matematika realistik, meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah. Pendekatan matematika realistik juga dikenal sebagai pembelajaran matematika realistik diketahui sebagai pendekatan yang telah berhasil di Netherlands. Hal ini di jelaskan oleh Becker dan Selter (Mawir, 2012:2) bahwa ada suatu hasil yang pasti dan menjanjikan dari penelitian kuantitatif dan kualitatif, dimana telah ditunjukkan bahwa siswa dalam pendekatan matematika realistik mempunyai skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendekatan konvensional dalam hal keterampilan berhitung, lebih khusus lagi pada aplikasi.
Salah satu materi matematika yang diajarkan di SMP Kelas VII adalah aritmetika sosial. Konsep aritmetika sosial secara formal belum pernah diperoleh siswa sehingga dapat kita katakan konsep ini merupakan konsep yang sama sekali baru bagi siswa walaupun erat kaitannya dengan bilangan dan operasinya. Materi ini pula sering muncul dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, dengan menerapkan pendekatan matematika realistik dalam pembelajaran matematika pada konsep aritmetika sosial diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi tersebut. Oleh karena itu, penulis ingin melakukan suatu penelitian eksperimen dengan judul Keefektifan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik pada Siswa Kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa.

B.  RUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan uraian dari latar belakang maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini “apakah pendekatan pembelajaran matematika realistik efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika di kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa?” Ditinjau dari:
1.    Bagaimana keterlaksanaan pembelajaraan matematika melalui penerapan pendekatan pembelajaran realistik?
2.    Bagaimana aktivitas siswa  kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran realistik?
3.    Bagaimana respon siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang diajar dengan penerapan pendekatan pembelajaran realistik?
4.    Seberapa besar hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran realistik?
C.    TUJUAN PENELITIAN
                 Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh jawaban atas masalah yang telah dirumuskan di atas, berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan pendekatan matematika  realistik  dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa, yang ditinjau dari:
a.    Bagaimana keterlaksanaan pembelajaraan matematika melalui penerapan pendekatan pembelajaran realistik?
b.    Bagaimana aktivitas siswa  kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran realistik?
c.    Bagaimana respon siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang diajar dengan penerapan pendekatan pembelajaran realistik?
d.   Seberapa besar hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran realistik.
D.    MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang diharapkan setelah penelitian ini dilaksanakan adalah :
1.      Bagi guru
Penelitian ini akan memberikan pengalaman yang bermanfaat dalam merancang pembelajaran realistik dan memfasilitasi pembelajaran. Dari pengalaman tersebut diharapkan guru dapat mengembangkan pembelajaran, LKS dan sumber belajar sejenis pada pokok bahasan yang lain dan dapat mengimplementasikannya dalam kelas.
2.      Bagi siswa
Penelitian ini akan sangat bermanfaat karena secara tidak langsung mereka terbantu dalam diajar konsep-konsep matematika yang sangat memberi peluang bagi siswa untuk meningkatkan hasil belajar mereka secara optimal. Hal ini disebabkan karena pembelajaran realistik memberikan kesempatan yang luas untuk berinteraksi dengan teman-temanya dan materi yang dipelajari dirancang terkait atau berhubungan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa menjadi  termotivasi serta lebih tertarik belajar matematika.
3.      Untuk Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi pengembangan strategi pembelajaran yang mengaitkan materi ajar dengan kehidupan sehari-hari (real). Hasil penelitian ini akan memberikan informasi yang rinci tentang keunggulan dan kelemahan pendekatan pembelajaran realistik yang teruji secara eksperimen.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.  KEEFEKTIFAN  PEMBELAJARAN
Keefektifan secara harfiah berarti keberhasilan tentang usaha atau tindakan (Tim PKP3B, 1990:219). Istilah efektivitas yang lazim digunakan dalam manajemen pendidikan misalnya efektivitas program, efektivitas pembelajaran dan efektivitas pengelola. Kata efektif sendiri berarti berhasil guna (Tim PKP3B, 1990:219). Slamet (2001:32) mendefinisikan efektivitas sebagai ukuran yang menyatakan sejauh mana tujuan (kualitas, kuantitas, dan waktu) telah dicapai. Sedangkan Mawir dalam Nugraha (2006:6) mengemukakan bahwa efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang telah direncanakan dapat tercapai, semakin banyak rencana yang dapat dicapai, berarti semakin efektif pula kegiatan tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa efektivitas adalah hal, ukuran atau keadaan yang berkaitan dengan sejauh mana keberhasilan dari suatu usaha atau tindakan.
Dalam penelitian ini, kriteria keefektifan pembelajaran matematika melalui penerapan pendekatan pembelajaran realistik ditinjau dari 4 aspek yaitu :
1.    Keterlaksanaan pembelajaran
Guru merupakan salah  satu faktor yang mempengaruhi hasil pelaksanaan dari pembelajaran yang telah diterapkan, sebab guru adalah pengajar di kelas. Keterlaksanaan  pembelajaran adalah kemampuan guru dalam melaksanakan setiap tahap-tahap pembelajaran selama proses belajar mengajar berlangsung. Untuk mengetahui sejauh mana keterlaksanaan  pembelajaran di kelas maka digunakan lembar pengamatan keterlaksanaan  pembelajaran
2.    Aktivitas siswa
Aktivitas siswa adalah proses komunikasi antara siswa dan guru atau siswa dengan siswa sehingga menghasilkan perubahan akademik, sikap dalam bertanya atau menjawab.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran bisa positif maupun negatif. Aktivitas siswa yang positif misalnya; mengajukan pendapat atau gagasan, mengerjakan tugas atau soal, komunikasi dengan guru secara aktif dalam pembelajaran dan komunikasi dengan sesama siswa sehingga dapat memecahkan suatu permasalahan yang sedang dihadapi, sedangkan aktivitas siswa yang negatif misalnya mengganggu sesama siswa pada saat proses belajar mengajar di kelas, melakukan kegiatan yang lain tidak sesuai dengan pelajaran yang diajarkan oleh guru.
Kriteria keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian ini ditunjukkan dengan sekurang- kurangnya 80% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran baik aktivitas siswa yang bersifat fisik ataupun mental.
3.      Respon siswa
Angket respon siswa digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai pembelajaran matematika yang setelah pendekatan realistik diterapkan pada siswa. Pendekatan  pembelajaran yang baik dapat memberi dampak positif bagi siswa setelah mereka mengikuti kegiatan pembelajaran. Kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah minimal 80% siswa yang memberi respon positif terhadap jumlah aspek yang ditanyakan.
4.      Ketuntasan Belajar Siswa
Salah satu tujuan penerapan suatu metode pembelajaran adalah untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran. Ketercapaian tujuan pembelajaran dapat dilihat dari keberhasilan siswa dalam belajar atau dengan kata lain ketuntasan belajar siswa yang diukur dengan tes hasil belajar. Jadi, dalam penelitian ini seorang siswa dikatakan tuntas belajar apabila sekurang-kurangnya 80% dari jumlah siswa telah mencapai nilai 70.
Pada akhirnya kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan pembelajaran dikatakan efektif adalah minimal 3 dari 4 poin di atas dipenuhi dengan syarat poin 4 yaitu ketuntasan klasikal harus terpenuhi.
B.  HASIL BELAJAR MATEMATIKA
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang bersifat menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional (Al Ikhwan, 2012:38).
A.J. Romiszowski dalam Al Ikhwan (2012:38) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu sistem proses masukan (inputs). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja (performance). Menurut Romiszwoski, hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari empat macam kategori, yaitu pengetahuan tentang fakta, pengetahuan tentang prosedur, pengetahuan tentang konsep dan pengetahuan tentang prinsip. Keterampilan juga terdiri dari empat kategori, yaitu keterampilan untuk berpikir atau keterampilan kognitif, keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik, keterampilan bereaksi atau bersikap, dan keterampilan berinteraksi.
Hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi dan penguasaan awal anak tentang materi yang akan dipelajari. Ini berarti bahwa guru perlu menetapkan tujuan belajar sesuai dengan kapasitas intelegensi anak dan pencapaian tujuan belajar perlu menggunakan bahan apersepsi, yaitu bahan yang telah dikuasai anak sebagai batu loncatan untuk menguasai bahan pelajaran baru. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan yang diberikan kepada anak. Ini berarti bahwa guru perlu menyusun rancangan dan pengelolaan pembelajaran yang memungkinkan anak bebas untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya (Al Ikhwan, 2012:40).
Hasil belajar matematika yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai bahan pelajaran setelah memperoleh pengalaman belajar matematika dalam suatu kurun waktu tertentu. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam usaha belajarnya tersebut digunakan suatu alat ukur yang disebut tes hasil belajar.



C.    Pendekatan Matematika Realistik
1.     Pengertian Pendekatan matematika realistik
Pendekatan matematika realistik awalnya di Negeri Belanda. Pendekatan didasarkan pada konsep Freudental (Ariyadi Wijaya, 2011:20), mengatakan bahwa matematika merupakan aktivitas manusia (human activities), ide utamanya adalah siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika tanpa bimbingan orang dewasa (guru). Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi persoalan-persoalan “realistik” yakni yang berkaitan dengan realitas atau situasi yang dapat dibayangkan siswa. Pendekatan matematika realistik dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu teori belajar yang sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini, seperti konstruktivisme dan kontekstual.
Pendekatan matematika realistik adalah pendekatan pengajaran yang bertitik dari hal-hal yang “real” bagi siswa, menekankan keterampilan, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok. Pada pendekatan ini peran guru tak lebih dari seorang fasilitator, moderator atau evaluator sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan, melatih nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang lain.


2.    Prinsip Pendekatan Matematika Realistik
Ada tiga prinsip utama dalam pendekatan matematika realistik (Sofa; 2) yaitu:
a.         Penemuan kembali secara terbimbing dan proses matematisasi secara progresif.
Berdasarkan prinsip ini, para siswa semestinya diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama dengan proses saat konsep-konsep matematika ditemukan. Selain itu prinsip ini dapat pula dikembangkan berdasarkan prosedur penyelesaian informal.
b.         Fenomena yang bersifat mendidik
Berdasarkan prinsip ini penetuan situasi yang mengandung penerapan topik matematika didasarkan pada dua pertimbangan, yaitu (i) untuk mengungkapkan jenis aplikasi yang harus diantisipasi dalam pembelajaran, dan (ii) mempertimbangkan pantas tidaknya konteks itu sebagai hal yang berpengaruh dalam proses matematisasi progresif.
c.         Mengembangkan sendiri model/langkah
Pada prinsip ini dinyatakan bahwa model yang dikembangkan sendiri oleh siswa berperan menjembatani perbedaan antara pengetahuan informal dan matematika formal.




3.     Karakteristik Pembelajaran matematika realistik
Menurut Treffers (Ariyadi Wijaya, 2012;21) merumuskan lima karateristik pendidikan matematika realistik, yaitu:
·         Penggunaan konteks
Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal pembeljaran matematika. Konteks tidak harus berupa masalah dunia nyata namun bisa dalam bentuk permainan, pengguanaan alat peraga, atau situasi lain selama hal tersebut bermakna dan bisa dibayangkan dalam pikiran siswa.
Melalui pengguanaan konteks, siswa dilibatkan secara aktif untuk melakukan kegiatan eksplorasi permasalahan. Hasil eksplorasi siswa tidak hanya bertujuan untuk menemukan jawaban akhir, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan berbagai srtategi penyelesaian masalah yang bisa digunakan. Manfaat lain penggunaan konteks diawal pembelajaran adalah untuk meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa dalam belajar matematika (De Lange dalam Ariyadi Wijaya, 1997;22). Pembelajaran yang langsung diawali dengan penggunaan matamatika formal cenderung akan menimbulkan kecemasan matamatika (mathematics anxiety)
·      Penggunaan model untuk matematisasi progresif
Dalam pendidikan matematika realistik, model digunakan dalam melakukan matematisasi secara progresif. Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan (bridge) dari pengetahuan dan matematika tingkat kongkrit menuju pengetahuan matematika tingkat formal.
Hal yang perlu dipahami dari kata “model” merupakan suatu alat “vertikal” dalam matematika yang tidak bisa dilepaskan dari proses matematisasi (yaitu matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal) karena model merupakan tahapan proses transisi level informal menuju level matamatika formal.
·      Pemanfaatan hasil kontruksi siswa
Mengacu pada pendapat freudental bahwa matematika tidak diberikan kepada siswa sebagai suatu produk yang siap dipakai tetapi sebagai suatu konsep yang dibangun oleh siswa maka dalam Pendidikan Matematika Realistik siswa ditempatkan sebagai subyek belajar.
Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah sehingga diharapkan akan diperoleh strategi yang bervariasi. Hasil kerja dan konstruksi siswa selanjutnya digunakan untuk landasan pengembangan konsep matematika.
·      Interaktivitas
Proses belajar seseorang bukan hanya suatu proses individu melainkan juga secara bersamaan merupakan suatu proses sosial. Proses balajar siswa akan menjadi lebih sisngkat dan bermakna ketika siswa saling mengkomunokasikan hasil kerja dan gagasan mereka.
Pemanfaatan interaksi dalam pembelajaran matematika bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan afektif siswa secara simultan.
·      Keterkaitan
Konsep-konsep dalam matematika tidak bersifat parsial, namun banyak konsep matematika yang memiliki keterkaitan. Oleh karena itu, konsep-konsep matematika tidak dikenalkan secara siswa secara terpisah atau terisolasi satu sama lain. Pendidikan matematika realistik menempatkan keterkaitan (intertwinement) anatar konsep matematika sebagai hal yang harus dipertimbangkan dalam proses pembelajaran/ melalui keterkaitan ini, satu pembelajaran matematika diharapkan bisa mengenalkan dan membangun lebih dari satu konsep matematika secara bersamaan (walau ada konsep yang dominan).

4.    Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Matematika Realistik
Pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika realistik mempunyai dua kelebihan. Membimbing siswa mencari hal-hal yang nyata atau konkrit (melalui proses matematisasi horizontal, matematika dalam tingkat ini adalah matematika informal). Biasanya para siswa dibimbing terhadap masalah-masalah realistik. Dalam falsafah realistik, dunia nyata digunakan sebagai titik pangkal pemulaan dalam konsep-konsep dan gagasan matematika. Menurut Treffers dan Goffree (Tim MKPBM UPI, 2003:125) bahwa masalah realistik dalam kurikulum realistik berguna untuk mengisi sejumlah fungsi:
a.      Pembentukan konsep
Dalam fase pertama pembelajaran, para siswa diperkenankan untuk masuk ke dalam matematika secara alamiah dan termotivasi.
b.      Pembentukan model
Masalah-masalah realistik memasuki dasar siswa belajar operasi, prosedur, notasi, aturan, dan mereka mengerjakan ini dalam model-model lain yang kegunaannya pendorong dalam berfikir.
c.      Keterterapan
Masalah realistik menggunakan “reality” sebagai sumber dan domain untuk terapan.
d.     Praktek dan latihan dari kemampuan spesifik dalam situasi terapan.
Pendekatan matematika realistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan mengkonstruksikan konsep-konsep matematika berdasarkan pada masalah realitas yang diberikan oleh guru. Pendekatan matematika  realistik pada dasarnya dalam menyelesaikan masalah menggunakan cara-cara informal. Cara-cara informal siswa yang memegang peranan penting dalam penemuan kembali dan mengkonstruksikan konsep.. Oleh karena itu, pendekatan matematika realistik memiliki kelebihan dan kelemahan dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut.





Tabel 2.1. Kelebihan dan kelemahan pendekatan matematika realistik
Kelebihan
Kelemahan
1.      Menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi dalam memecahkan masalah;
2.      Menjadikan siswa aktif dan kreatif;
3.      Menumbuhkan rasa senang;
4.      Memupuk kerjasama dalam kelompok;
5.      Melatih keberanian siswa karena harus menjelaskan jawaban sendiri;
6.      Melatih siswa untuk terbiasa berpikir dan mengemukakan pendapat.
1.      Guru kesulitan memberikan bimbingan atau petunjuk bagi siswa yang kesulitan jika kelas cukup besar;
2.      Membutuhkan waktu yang banyak.


5.    Langkah-langkah Pembelajaran matematika realistik

Menurut Zahra (2010:3), pada pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik ada lima tahap yang perlu dilalui oleh siswa, antara lain
a.         Memahami masalah realistik
Guru memberikan masalah realistik dalam kehidupan sehari-hari kepada siswa dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut serta memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan masalah yang belum di pahami.
b.         Menjelaskan masalah realistik
 Jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami.
c.         Menyelesaikan masalah
Siswa mendeskripsikan masalah  realistik, melakukan interpretasi aspek matematika yang ada pada masalah yang dimaksud, dan memikirkan strategi pemecahan masalah. Selanjutnya siswa bekerja menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya, sehingga dimungkinkan adanya perbedaan penyelesaian siswa yang satu dengan yang lainnya. Guru mengamati, memotivasi, dan memberi bimbingan terbatas, sehingga siswa dapat memperoleh penyelesaian masalah-masalah tersebut.
d.        Membandingkan jawaban
Guru meminta siswa membentuk kelompok secara berpasangan dengan teman sebangkunya, bekerja sama mendiskusikan penyelesaian masalah-masalah yang telah diselesaikan secara individu (negosiasi, membandingkan, dan berdiskusi). Guru mengamati kegiatan yang dilakukan siswa, dan memberi bantuan jika dibutuhkan.
e.         Menyimpulkan
Dari hasil diskusi kelas, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan suatu rumusan konsep/prinsip dari topik yang dipelajari.
D.    KERANGKA  PIKIR
Secara umum hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep matematika masih berada dalam tataran rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep dasar matematika guru diharapkan mampu berkreasi dengan menerapkan model ataupun pendekatan dalam pembelajaran matematika yang cocok. Model atau pendekatan ini haruslah sesuai dengan materi yang akan diajarkan serta dapat mengoptimalkan suasana belajar.
Salah satu pendekatan yang membawa alam pikiran siswa ke dalam pembelajaran dan melibatkan siswa secara aktif adalah pendekatan matematika realistik. Pendekatan pembelajaran matematika realistik adalah suatu pendekatan yang menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran dimana siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan matematika formalnya melalui masalah-masalah realitas yang ada. Dengan pendekatan ini siswa tidak hanya mudah menguasai konsep dan materi pelajaran namun juga tidak cepat lupa dengan apa yang telah diperolehnya tersebut. Pendekatan ini pula tepat diterapkan dalam mengajarkan konsep-konsep dasar dan diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan meningkatnya hasil belajar siswa maka pendekatan ini dapat dikatakan efektif.

E.  Hipotesis Penelitian                
Berdasarkan kaitan antara masalah yang dirumuskan dengan teori yang dikemukakan maka dapat disusun suatu hipotesis penelitian bahwaPendekatan pembelajaran realistik efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika di kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa dengan kriteria efektivitas sebagai berikut:
1.    Keterlaksanaan  pembelajaran, apabila rata-rata kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran matematika melalui pendekatan pembelajaran matematika realistik dari segi aspek yang dinilai berada pada kategori baik atau baik sekali.
2.    Aktivitas siswa yang terlibat aktif harus mencapai 80% dari keseluruhan siswa.
3.    Respons positif siswa terhadap pembelajaran melalui penerapan pendekatan pembelajaran realistik minimal 80% dari keseluruhan responden.
4.    Ketuntasan hasil belajar minimal 80 % dari keseluruhan siswa yang mencapai nilai KKM.

 

BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian pra eksperimen, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali. Dalam penelitian ini melibatkan kelompok tunggal dan tidak ada perbandingan dengan kelompok non perlakuan dibuat.
B.     Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa tahun ajaran 2013-2014 dan subjek penelitiannya adalah Siswa kelas VIIA dengan jumlah siswa 37 orang terdiri dari 17 orang perempuan dan 20 orang laki-laki.
C.    Desain  Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah desain kelompok one group pretest-postest. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan penerapan  pembelajaran matematika melalui pendekatan realistik. Adapun desain penelitiannya disajikan dalam tabel 3.1.
Tabel 3.1 One Group Pretest-Posttest

Pretest
Variabel Treatment
Posttes
O1
X
O2



Keterangan:
X   : Pengajaran melalui penerapan pendekatan realistik
O1 : Nilai pretest sebelum dilaksanakan pembelajaran
O2 : Nilai potstest sesudah dilaksanakan pembelajaran
D.    Definisi Operasional Variabel
Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang variabel dalam penelitian ini, maka diberikan batasan operasional variabel sebagai berikut :
a.       Keefektifan  pembelajaran
Keefektifan secara harfiah berarti keberhasilan tentang usaha atau tindakan (Tim PKP3B, 1990:219). Sedangkan Mawir dalam Nugraha (2006:6) mengemukakan bahwa efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang telah direncanakan dapat tercapai, semakin banyak rencana yang dapat dicapai, berarti semakin efektif pula kegiatan tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa efektivitas adalah hal, ukuran atau keadaan yang berkaitan dengan sejauh mana keberhasilan dari suatu usaha atau tindakan.
Dalam penelitian ini, kriteria keefektifan pembelajaran matematika melalui penerapan pendekatan pembelajaran realistik ditinjau dari 4 aspek yaitu :
1.      Keterlaksanaan pembelajaran
2.      Aktifitas siswa
3.      Respon siswa
4.      Ketuntasan hasil belajar
Pada akhirnya kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan pembelajaran dikatakan efektif adalah minimal 3 dari 4 poin di atas dipenuhi dengan syarat poin 1 yaitu ketuntasan klasikal harus terpenuhi.
b.      Pendekatan  pembelajaran  matematika realistik
Pendekatan matematika realistik adalah pendekatan pengajaran yang bertitik dari hal-hal yang “real” bagi siswa, menekankan keterampilan, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok. Pada pendekatan ini peran guru tak lebih dari seorang fasilitator, moderator atau evaluator sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan, melatih nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang lain.
c.       Keterlaksanaan pembelajaran
Keterlaksanaan  pembelajaran adalah kemampuan guru dalam melaksanakan setiap tahap-tahap pembelajaran selama proses belajar mengajar berlangsung. yang diukur dari hasil observasi oleh observer selama pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik.


d.      Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Tingkat keterlaksanaan aktivitas siswa adalah rata-rata keterlaksanaan aktivitas atau perilaku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran diukur dari hasil observasi selama pengajaran melalui pendekatan realistik.
e.       Respon siswa terhadap pembelajaran.
Respons siswa adalah ukuran kesukaan, minat, ketertarikan, atau pendapat siswa tentang cara mengajar guru, LKS dan suasana kelas. Respon siswa terhadap pembelajaran diukur dengan pemberian angket untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran.
f.       Hasil belajar matematika
Hasil belajar matematika yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai bahan pelajaran setelah memperoleh pengalaman belajar matematika dalam suatu kurun waktu tertentu..
E.       Prosedur Penelitian
Pada penelitian ini, langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut.
1.      Menyusun  media pembelajaran (RPP, LKS, Silabus, dll) yang nantinya digunakan selama proses belajar mengajar pada kelompok eksperimen.
2.      Menyusun instrumen penelitian.
3.      Mengkonsultasikan instrumen penelitian dengan guru matematika, dosen matematika, dan dosen pembimbing.
4.      Mengadakan validasi instrumen penelitian.
5.      Melaksanakan penelitian yaitu memberikan perlakuan kepada kelas eksperimen berupa pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran realistik.
6.      Memberikan  pretest sebelum diberikan perlakuan dan posttest pada akhir penelitian.
7.      Menganalisis data hasil penelitian.
F.       Instrumen Penelitian
 Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah :
1.      Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran
Lembar observasi keterlaksanaan  pembelajaran digunakan  untuk mengetahui kemampuan guru mengelola pembelajaran dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung. Instrumen ini dikembangkan sesuai dengan yang tercantum pada RPP.
2.      Lembar Observasi  Aktivitas Siswa
Instrument ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa  selama proses pembelajaran berlangsung. Komponen-komponen penilaian berkaitan dengan aktivitas siswa, perhatian, kesungguhan, kedisiplinan, dan keterampilan siswa.
3.      Angket Respon Siswa
Angket respon siswa dirancang untuk mengetahui respon siswa terhadap pendekatan pembelajaran yang diterapkan. Aspek respon siswa menyangkut suasana belajar, minat mengikuti pelajaran berikutnya, dan cara-cara guru mengajar..
4.      Tes Hasil Belajar Matematika
Untuk memperoleh data tentang hasil belajar matematika siswa, digunakan satu perangkat instrument yaitu tes hasil belajar untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi setelah belajar dalam jangka waktu tertentu. Bentuk tes yang digunakan adalah bentuk uraian.
G.    Teknik Pengumpulan Data
Data hasil penelitian dari kelompok perlakuan, dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa tes hasil belajar matematika, lembar observasi,  dan angket respon.
1.      Data tentang keterlaksanaan pembelajaran diambil pada saat pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajar yang dinilai oleh observer yaitu guru bidang studi.
2.      Data tentang aktivitas siswa diambil pada saat dilakukannya tindakan dengan menggunakan lembar observasi aktifitas siswa.
3.      Data tentang respon siswa diperoleh dengan cara memberikan angket kepada siswa.
4.      Data mengenai hasil belajar  matematika siswa diperoleh dari  pretest  sebelum diberikan perlakuan dan posttest yang dilaksanakan pada akhir pertemuan penelitian.


H.      Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis statistika deskriptif untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa, aktivitas siswa, aktivitas guru mengelola pembelajaran, dan respon siswa.
1.        Keterlaksanaan pembelajaran
Data tentang keterlaksanaan pembelajaran dianalisis dengan skor rata-rata. Data tersebut dikategorikan. pengkategorian tidak baik:1    2, kurang baik: 2    3, baik: 3    4, dan baik sekali:  = 4. Sebagai kriteria pembelajaran dikatakan terlaksana atau baik, apabila rata-rata kemampuan guru dalam mengola pembelajaran matematika melalui pendekatan pembelajaran matematika realistik dari segi aspek yang dinilai berada pada kategori baik atau baik sekali.
2.        Aktivitas Siswa
Data hasil pengamatan aktivitas siswa selama pembelajaran dianalisis sebagai berikut:
PTa  = Persentase aktivitas siswa untuk melakukan suatu jenis aktivitas  tertentu
 = Jumlah jenis aktivitas tertentu yang dilakukan siswa setiap pertemuan
  = Jumlah seluruh aktivitas setiap pertemuan.
Nilai rata-rata persentase keterlaksanaan aktivitas siswa dalam mengelola pembelajaran minimal 80%

3.        Respon Siswa
Data tentang respon siswa diperoleh dari angket respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran. Selanjutnya dianalisis dengan mencari persentase jawaban siswa untuk tiap-tiap pertanyaan dalam angket. Respon siswa dianalisis dengan melihat presentase dari respon siswa.
Presentase ini dapat dihitung dengan rumus:
P =  × 100%
Keterangan:
P  = Presentase repon siswa yang menjawab ya dan tidak
f   = Frekuensi siswa yang menjawab ya dan tidak
N = Banyaknya siswa yang mengisi angket
Kriteria yang ditetapkan untuk mengatakan bahwa para siswa memiliki respon positif terhadap kegiatan pembelajaran adalah lebih dari 80% dari mereka memberi respon positif. Respon positif siswa terhadap pembelajaran dikatakan tercapai apabila kriteria respon positif siswa untuk kegiatan pembelajaran terpenuhi.
4.        Hasil Belajar
Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskriptifkan karakteristik responden. Untuk keperluan tersebut digunakan rata-rata, skor minimum, skor maksimum dan simpangan baku. Untuk keperluan analisis deskriptif, pengkategorisasian hasil belajar matematika siswa akan dikategorikan menurut standar kategorisasi dengan skala lima yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Tabel 3.2 Kategorisasi Standar yang Ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional
No.
Skor
Kategori
1.
0 ≤ × ≤ 54
Sangat Rendah
2.
54 < × ≤ 69
Rendah
3.
69 < × ≤ 79
Sedang
4.
79 < × ≤ 89
Tinggi
5.
89 < × ≤ 100
Sangat Tinggi
Sumber: Departemen Pendidikan Nasional (Ayudiah:2007)

Tabel 3.3 Kategorisasi Standar Ketuntasan Belajar SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa
Skor
Kategori Ketuntasan  
0 – 69
Tidak Tuntas
70 – 100
Tuntas

Hasil belajar matematika siswa dapat dilihat dari hasil belajar yang secara individual, kriteria seorang siswa dikatakan tuntas ketika memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditentukan oleh sekolah yakni 70.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar