BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang
mempunyai peranan penting dalam upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Sampai batas tertentu matematika hendaknya dapat dikuasai oleh
segenap warga negara Indonesia. Lebih lanjut matematika dapat memberi bekal
kepada siswa untuk menerapkan matematika dalam berbagai keperluan. Akan tetapi
persepsi negatif siswa terhadap matematika tidak dapat diacuhkan begitu saja.
Umumnya pelajaran matematika di sekolah menjadi momok bagi siswa. Sifat abstrak
dari objek matematika menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam
memahami konsep-konsep matematika. Akibatnya prestasi matematika siswa secara
umum belum menggembirakan.
Pendekatan matematika realistik awalnya di
Negeri Belanda. Pendekatan didasarkan pada konsep Freudental (Ariyadi Wijaya, 2011:20), mengatakan bahwa matematika merupakan
aktivitas manusia (human activities), ide utamanya adalah siswa harus
diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika tanpa
bimbingan orang dewasa (guru). Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan
berbagai situasi persoalan-persoalan “realistik” yakni yang berkaitan dengan
realitas atau situasi yang dapat dibayangkan siswa. Pendekatan matematika
realistik dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu teori belajar yang
sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini, seperti konstruktivisme
dan realistik.
Pendekatan matematika realistik adalah
pendekatan pengajaran yang bertitik dari hal-hal yang “real” bagi siswa,
menekankan keterampilan, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan
teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri dan pada akhirnya
menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu
maupun kelompok. Pada pendekatan ini peran guru tak lebih dari seorang
fasilitator, moderator atau evaluator sementara siswa berfikir,
mengkomunikasikan, melatih nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang
lain.
Hasil observasi awal peneliti terhadap proses pembelajaran
matematika di SMP PGRI Sungguminasa pada semester ganjil tahun ajaran 2012/2013
menunjukan bahwa guru masih menerapkan pembelajaran matematika yang bersifat
konvensional, dimana guru masih memegang peran dominan (teacher center) di dalam kelas sehingga secara umum siswa
menampilkan sikap kurang bersemangat, bergairah dan tidak siap dalam
pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar siswa kurang aktif berinteraksi
antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa. Mereka cenderung lebih
menunggu apa yang disajikan oleh guru.
Mengingat hal tersebut di
atas, maka pembelajaran matematika harus lebih ditekan pada keterkaitan antara
konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari, untuk selanjutnya
menerapkan konsep matematika tersebut pada kehidupan sehari-hari atau pada
bidang lain yang mudah dipahami anak. Sejalan dengan pandangan ini, Freundenthal (Ariyadi Wijaya, 2011:20) mengatakan bahwa matematika sebagai aktivitas
manusia dan oleh karena itu matematika harus dihubungkan dengan realitas dalam
kehidupan sehari-hari.
Salah satu penerapan pembelajaran matematika
yang menekankan pada proses matematisasi pengalaman sehari-hari dan menerapkan matematika dalam kehidupan
sehari-hari adalah pendekatan matematika realistik. Pendekatan matematika
realistik merupakan suatu pendekatan pembelajaran dalam pendidikan matematika
yang berakar pada masalah pragmatis.
Berdasarkan hasil penelitian baik penilitian
kuantitatif dan kualitatif ditemukan pendekatan matematika realistik,
meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah. Pendekatan matematika
realistik juga dikenal sebagai pembelajaran matematika realistik diketahui
sebagai pendekatan yang telah berhasil di Netherlands. Hal ini di jelaskan oleh
Becker dan Selter (Mawir, 2012:2) bahwa
ada suatu hasil yang pasti dan menjanjikan dari penelitian kuantitatif dan
kualitatif, dimana telah ditunjukkan bahwa siswa dalam pendekatan matematika
realistik mempunyai skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendekatan
konvensional dalam
hal keterampilan berhitung, lebih khusus lagi pada aplikasi.
Salah satu materi matematika yang diajarkan di
SMP Kelas VII adalah aritmetika sosial. Konsep aritmetika sosial secara formal
belum pernah diperoleh siswa sehingga dapat kita katakan konsep ini merupakan
konsep yang sama sekali baru bagi siswa walaupun erat kaitannya dengan bilangan
dan operasinya. Materi ini pula sering muncul dan digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Untuk itu, dengan menerapkan pendekatan matematika realistik dalam
pembelajaran matematika pada konsep aritmetika sosial diharapkan dapat
meningkatkan pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi tersebut. Oleh
karena itu, penulis ingin melakukan suatu penelitian eksperimen dengan judul Keefektifan Pendekatan Pembelajaran Matematika
Realistik pada
Siswa Kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
uraian dari latar belakang maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam
penelitian ini “apakah
pendekatan pembelajaran matematika realistik efektif diterapkan dalam pembelajaran
matematika di kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa?” Ditinjau dari:
1.
Bagaimana
keterlaksanaan pembelajaraan matematika melalui penerapan pendekatan pembelajaran realistik?
2.
Bagaimana
aktivitas siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran realistik?
3.
Bagaimana
respon siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang
diajar dengan penerapan pendekatan pembelajaran
realistik?
4.
Seberapa
besar hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran realistik?
C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun
tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh jawaban atas masalah yang telah
dirumuskan di atas, berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan, maka tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan pendekatan matematika realistik dalam pembelajaran
matematika pada siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa, yang ditinjau dari:
a.
Bagaimana
keterlaksanaan pembelajaraan matematika melalui penerapan pendekatan pembelajaran realistik?
b.
Bagaimana
aktivitas siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran realistik?
c.
Bagaimana
respon siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang
diajar dengan penerapan pendekatan pembelajaran
realistik?
d.
Seberapa
besar hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran realistik.
D.
MANFAAT
PENELITIAN
Adapun
manfaat yang diharapkan setelah penelitian ini dilaksanakan adalah :
1.
Bagi guru
Penelitian ini akan
memberikan pengalaman yang bermanfaat dalam merancang pembelajaran realistik
dan memfasilitasi pembelajaran. Dari pengalaman tersebut diharapkan guru dapat
mengembangkan pembelajaran, LKS dan sumber belajar sejenis pada pokok bahasan
yang lain dan dapat mengimplementasikannya dalam kelas.
2. Bagi siswa
Penelitian ini akan sangat
bermanfaat karena secara tidak langsung mereka terbantu dalam diajar
konsep-konsep matematika yang sangat memberi peluang bagi siswa untuk
meningkatkan hasil belajar mereka secara
optimal. Hal ini disebabkan karena pembelajaran realistik memberikan kesempatan
yang luas untuk berinteraksi dengan teman-temanya dan materi yang dipelajari
dirancang terkait atau berhubungan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa
menjadi termotivasi serta lebih tertarik
belajar matematika.
3.
Untuk Perkembangan Ilmu
Pengetahuan
Penelitian ini sangat
bermanfaat bagi pengembangan strategi pembelajaran yang mengaitkan materi ajar
dengan kehidupan sehari-hari (real). Hasil penelitian ini akan memberikan
informasi yang rinci tentang keunggulan dan
kelemahan pendekatan pembelajaran realistik yang teruji secara eksperimen.
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
A. KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN
Keefektifan secara harfiah berarti keberhasilan tentang
usaha atau tindakan (Tim PKP3B, 1990:219). Istilah efektivitas yang lazim
digunakan dalam manajemen pendidikan misalnya efektivitas program, efektivitas
pembelajaran dan efektivitas pengelola. Kata efektif sendiri berarti berhasil
guna (Tim PKP3B, 1990:219). Slamet (2001:32) mendefinisikan efektivitas sebagai
ukuran yang menyatakan sejauh mana tujuan (kualitas, kuantitas, dan waktu)
telah dicapai. Sedangkan Mawir dalam Nugraha (2006:6) mengemukakan bahwa
efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang telah
direncanakan dapat tercapai, semakin banyak rencana yang dapat dicapai, berarti
semakin efektif pula kegiatan tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa
efektivitas adalah hal, ukuran atau keadaan yang berkaitan dengan sejauh mana
keberhasilan dari suatu usaha atau tindakan.
Dalam
penelitian ini, kriteria keefektifan pembelajaran matematika melalui penerapan
pendekatan pembelajaran realistik ditinjau dari 4 aspek yaitu :
1. Keterlaksanaan pembelajaran
Guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil
pelaksanaan dari pembelajaran yang telah diterapkan, sebab guru adalah pengajar
di kelas. Keterlaksanaan pembelajaran
adalah kemampuan guru dalam melaksanakan setiap tahap-tahap pembelajaran selama
proses belajar mengajar berlangsung. Untuk mengetahui sejauh mana keterlaksanaan pembelajaran di kelas maka digunakan lembar
pengamatan keterlaksanaan pembelajaran
2.
Aktivitas siswa
Aktivitas siswa adalah proses komunikasi
antara siswa dan guru atau siswa dengan siswa sehingga menghasilkan perubahan
akademik, sikap dalam bertanya atau menjawab.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran bisa
positif maupun negatif. Aktivitas siswa yang positif misalnya; mengajukan
pendapat atau gagasan, mengerjakan tugas atau soal, komunikasi dengan guru
secara aktif dalam pembelajaran dan komunikasi dengan sesama siswa sehingga
dapat memecahkan suatu permasalahan yang sedang dihadapi, sedangkan aktivitas
siswa yang negatif misalnya mengganggu sesama siswa pada saat proses belajar
mengajar di kelas, melakukan kegiatan yang lain tidak sesuai dengan pelajaran
yang diajarkan oleh guru.
Kriteria keberhasilan aktivitas siswa dalam
penelitian ini ditunjukkan dengan sekurang- kurangnya 80% siswa terlibat aktif
dalam proses pembelajaran baik aktivitas siswa yang bersifat fisik ataupun
mental.
3.
Respon siswa
Angket respon siswa digunakan untuk menjawab
pertanyaan mengenai pembelajaran matematika yang setelah pendekatan realistik diterapkan pada siswa. Pendekatan
pembelajaran yang baik dapat memberi dampak positif bagi siswa setelah
mereka mengikuti kegiatan pembelajaran. Kriteria yang ditetapkan dalam
penelitian ini adalah minimal 80% siswa yang memberi respon positif terhadap
jumlah aspek yang ditanyakan.
4.
Ketuntasan Belajar Siswa
Salah satu tujuan penerapan suatu metode
pembelajaran adalah untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran.
Ketercapaian tujuan pembelajaran dapat dilihat dari keberhasilan siswa dalam belajar
atau dengan kata lain ketuntasan belajar siswa yang diukur dengan tes hasil
belajar. Jadi, dalam penelitian ini seorang siswa
dikatakan tuntas belajar apabila sekurang-kurangnya 80% dari jumlah siswa telah mencapai nilai 70.
Pada
akhirnya kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan pembelajaran dikatakan
efektif adalah minimal 3 dari 4 poin di atas
dipenuhi dengan syarat poin 4 yaitu ketuntasan klasikal harus terpenuhi.
B. HASIL BELAJAR MATEMATIKA
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak
setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses
dari seseorang yang berusaha memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang
bersifat menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang
disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah
ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang
berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional
(Al Ikhwan,
2012:38).
A.J. Romiszowski dalam Al Ikhwan (2012:38) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan
keluaran (outputs) dari suatu sistem
proses masukan (inputs). Masukan dari
sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah
perbuatan atau kinerja (performance).
Menurut Romiszwoski, hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam,
yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari empat macam kategori,
yaitu pengetahuan tentang fakta, pengetahuan tentang prosedur, pengetahuan
tentang konsep dan pengetahuan tentang prinsip. Keterampilan juga terdiri dari
empat kategori, yaitu keterampilan untuk berpikir atau keterampilan kognitif,
keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik, keterampilan bereaksi
atau bersikap, dan keterampilan berinteraksi.
Hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi dan
penguasaan awal anak tentang materi yang akan dipelajari. Ini berarti bahwa
guru perlu menetapkan tujuan belajar sesuai dengan kapasitas intelegensi anak
dan pencapaian tujuan belajar perlu menggunakan bahan apersepsi, yaitu bahan
yang telah dikuasai anak sebagai batu loncatan untuk menguasai bahan pelajaran
baru. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan yang diberikan
kepada anak. Ini berarti bahwa guru perlu menyusun rancangan dan pengelolaan
pembelajaran yang memungkinkan anak bebas untuk melakukan eksplorasi terhadap
lingkungannya (Al Ikhwan, 2012:40).
Hasil belajar matematika yang dimaksudkan dalam penelitian
ini adalah tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai bahan pelajaran setelah
memperoleh pengalaman belajar matematika dalam suatu kurun waktu tertentu. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat
keberhasilan siswa dalam usaha belajarnya tersebut digunakan suatu alat ukur
yang disebut tes hasil belajar.
C. Pendekatan
Matematika Realistik
1.
Pengertian Pendekatan matematika realistik
Pendekatan matematika realistik
awalnya di Negeri Belanda. Pendekatan didasarkan pada konsep Freudental (Ariyadi Wijaya, 2011:20), mengatakan bahwa
matematika merupakan aktivitas manusia (human activities), ide utamanya
adalah siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep
matematika tanpa bimbingan orang dewasa (guru). Upaya ini dilakukan melalui
penjelajahan berbagai situasi persoalan-persoalan “realistik” yakni yang
berkaitan dengan realitas atau situasi yang dapat dibayangkan siswa. Pendekatan
matematika realistik dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu teori
belajar yang sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini, seperti
konstruktivisme dan kontekstual.
Pendekatan matematika realistik
adalah pendekatan pengajaran yang bertitik dari hal-hal yang “real” bagi siswa,
menekankan keterampilan, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan
teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri dan pada akhirnya
menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu
maupun kelompok. Pada pendekatan ini peran guru tak lebih dari seorang fasilitator,
moderator atau evaluator sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan, melatih
nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang lain.
2.
Prinsip Pendekatan Matematika Realistik
Ada tiga prinsip utama
dalam pendekatan matematika realistik
(Sofa; 2) yaitu:
a.
Penemuan kembali secara
terbimbing dan proses matematisasi secara progresif.
Berdasarkan prinsip ini,
para siswa semestinya diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama dengan
proses saat konsep-konsep matematika ditemukan. Selain itu prinsip ini dapat
pula dikembangkan berdasarkan prosedur penyelesaian informal.
b.
Fenomena yang bersifat mendidik
Berdasarkan prinsip ini
penetuan situasi yang mengandung penerapan topik matematika didasarkan pada dua
pertimbangan, yaitu (i) untuk mengungkapkan jenis aplikasi yang harus
diantisipasi dalam pembelajaran, dan (ii) mempertimbangkan pantas tidaknya
konteks itu sebagai hal yang berpengaruh dalam proses matematisasi progresif.
c.
Mengembangkan sendiri
model/langkah
Pada prinsip ini
dinyatakan bahwa model yang dikembangkan sendiri oleh siswa berperan
menjembatani perbedaan antara pengetahuan informal dan matematika formal.
3. Karakteristik Pembelajaran
matematika realistik
Menurut Treffers
(Ariyadi Wijaya, 2012;21) merumuskan lima karateristik pendidikan matematika
realistik, yaitu:
·
Penggunaan
konteks
Konteks atau
permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal pembeljaran matematika.
Konteks tidak harus berupa masalah dunia nyata namun bisa dalam bentuk
permainan, pengguanaan alat peraga, atau situasi lain selama hal tersebut
bermakna dan bisa dibayangkan dalam pikiran siswa.
Melalui pengguanaan
konteks, siswa dilibatkan secara aktif untuk melakukan kegiatan eksplorasi
permasalahan. Hasil eksplorasi siswa tidak hanya bertujuan untuk menemukan
jawaban akhir, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan berbagai srtategi
penyelesaian masalah yang bisa digunakan. Manfaat lain penggunaan konteks
diawal pembelajaran adalah untuk meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa
dalam belajar matematika (De Lange dalam Ariyadi Wijaya, 1997;22). Pembelajaran
yang langsung diawali dengan penggunaan matamatika formal cenderung akan
menimbulkan kecemasan matamatika (mathematics
anxiety)
·
Penggunaan
model untuk matematisasi progresif
Dalam pendidikan
matematika realistik, model digunakan dalam melakukan matematisasi secara
progresif. Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan (bridge) dari pengetahuan dan matematika tingkat kongkrit menuju
pengetahuan matematika tingkat formal.
Hal yang perlu
dipahami dari kata “model” merupakan suatu alat “vertikal” dalam matematika
yang tidak bisa dilepaskan dari proses matematisasi (yaitu matematisasi
horizontal dan matematisasi vertikal) karena model merupakan tahapan proses
transisi level informal menuju level matamatika formal.
·
Pemanfaatan
hasil kontruksi siswa
Mengacu pada
pendapat freudental bahwa matematika tidak diberikan kepada siswa sebagai suatu
produk yang siap dipakai tetapi sebagai suatu konsep yang dibangun oleh siswa
maka dalam Pendidikan Matematika Realistik siswa ditempatkan sebagai subyek
belajar.
Siswa memiliki
kebebasan untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah sehingga diharapkan
akan diperoleh strategi yang bervariasi. Hasil kerja dan konstruksi siswa
selanjutnya digunakan untuk landasan pengembangan konsep matematika.
·
Interaktivitas
Proses belajar
seseorang bukan hanya suatu proses individu melainkan juga secara bersamaan
merupakan suatu proses sosial. Proses balajar siswa akan menjadi lebih sisngkat
dan bermakna ketika siswa saling mengkomunokasikan hasil kerja dan gagasan
mereka.
Pemanfaatan
interaksi dalam pembelajaran matematika bermanfaat dalam mengembangkan
kemampuan kognitif dan afektif siswa secara simultan.
·
Keterkaitan
Konsep-konsep dalam matematika tidak
bersifat parsial, namun banyak konsep matematika yang memiliki keterkaitan.
Oleh karena itu, konsep-konsep matematika tidak dikenalkan secara siswa secara
terpisah atau terisolasi satu sama lain. Pendidikan matematika realistik
menempatkan keterkaitan (intertwinement)
anatar konsep matematika sebagai hal yang harus dipertimbangkan dalam proses
pembelajaran/ melalui keterkaitan ini, satu pembelajaran matematika diharapkan
bisa mengenalkan dan membangun lebih dari satu konsep matematika secara
bersamaan (walau ada konsep yang dominan).
4.
Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Matematika Realistik
Pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika realistik
mempunyai dua kelebihan. Membimbing siswa mencari hal-hal yang nyata atau
konkrit (melalui proses matematisasi horizontal, matematika dalam tingkat ini
adalah matematika informal). Biasanya para siswa dibimbing terhadap
masalah-masalah realistik. Dalam falsafah realistik, dunia nyata digunakan sebagai titik
pangkal pemulaan dalam konsep-konsep dan gagasan matematika. Menurut Treffers
dan Goffree (Tim MKPBM UPI, 2003:125) bahwa masalah realistik dalam kurikulum realistik berguna untuk mengisi sejumlah fungsi:
a.
Pembentukan konsep
Dalam fase pertama pembelajaran, para
siswa diperkenankan untuk masuk ke dalam matematika secara alamiah dan
termotivasi.
b.
Pembentukan model
Masalah-masalah realistik memasuki dasar
siswa belajar operasi, prosedur, notasi, aturan, dan mereka mengerjakan ini
dalam model-model lain yang kegunaannya pendorong dalam berfikir.
c.
Keterterapan
Masalah realistik menggunakan “reality”
sebagai sumber dan domain untuk terapan.
d.
Praktek dan latihan dari
kemampuan spesifik dalam situasi terapan.
Pendekatan matematika realistik
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan
mengkonstruksikan konsep-konsep matematika berdasarkan pada masalah realitas
yang diberikan oleh guru. Pendekatan matematika
realistik pada dasarnya dalam menyelesaikan masalah menggunakan
cara-cara informal. Cara-cara informal siswa yang memegang peranan penting
dalam penemuan kembali dan mengkonstruksikan konsep.. Oleh karena itu,
pendekatan matematika realistik memiliki kelebihan dan kelemahan dapat dilihat pada
Tabel 2.1 berikut.
Tabel
2.1. Kelebihan dan kelemahan pendekatan matematika realistik
|
Kelebihan
|
Kelemahan
|
|
1.
Menumbuhkan rasa ingin tahu
yang tinggi dalam memecahkan masalah;
2.
Menjadikan siswa aktif dan
kreatif;
3.
Menumbuhkan rasa senang;
4.
Memupuk kerjasama dalam
kelompok;
5.
Melatih keberanian siswa
karena harus menjelaskan jawaban sendiri;
6.
Melatih siswa untuk terbiasa
berpikir dan mengemukakan pendapat.
|
1.
Guru kesulitan memberikan
bimbingan atau petunjuk bagi siswa yang kesulitan jika kelas cukup besar;
2.
Membutuhkan waktu yang
banyak.
|
5. Langkah-langkah
Pembelajaran matematika realistik
Menurut Zahra (2010:3), pada pembelajaran
dengan pendekatan matematika realistik ada lima tahap yang perlu dilalui oleh
siswa, antara lain
a.
Memahami masalah realistik
Guru memberikan masalah realistik dalam kehidupan
sehari-hari kepada siswa dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut serta
memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan masalah yang belum di pahami.
b.
Menjelaskan masalah realistik
Jika dalam memahami masalah siswa mengalami
kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara
memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada
bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami.
c.
Menyelesaikan masalah
Siswa mendeskripsikan masalah realistik, melakukan interpretasi aspek matematika yang ada pada masalah yang
dimaksud, dan memikirkan strategi pemecahan masalah. Selanjutnya siswa bekerja
menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang
dimilikinya, sehingga dimungkinkan adanya perbedaan penyelesaian siswa yang
satu dengan yang lainnya. Guru mengamati, memotivasi, dan memberi bimbingan
terbatas, sehingga siswa dapat memperoleh penyelesaian masalah-masalah
tersebut.
d.
Membandingkan jawaban
Guru meminta siswa membentuk kelompok secara berpasangan dengan teman
sebangkunya, bekerja sama mendiskusikan penyelesaian masalah-masalah yang telah
diselesaikan secara individu (negosiasi, membandingkan, dan berdiskusi). Guru
mengamati kegiatan yang dilakukan siswa, dan memberi bantuan jika dibutuhkan.
e.
Menyimpulkan
Dari hasil diskusi kelas, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan
suatu rumusan konsep/prinsip dari topik yang dipelajari.
D. KERANGKA PIKIR
Secara umum hasil belajar matematika
siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep matematika masih berada dalam
tataran rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dan
penguasaan siswa terhadap konsep dasar matematika guru diharapkan mampu
berkreasi dengan menerapkan model ataupun pendekatan dalam pembelajaran
matematika yang cocok. Model atau pendekatan ini haruslah sesuai dengan materi
yang akan diajarkan serta dapat mengoptimalkan suasana belajar.
Salah satu pendekatan yang membawa
alam pikiran siswa ke dalam pembelajaran dan melibatkan siswa secara aktif
adalah pendekatan matematika realistik. Pendekatan pembelajaran matematika realistik
adalah suatu pendekatan yang menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai
titik awal pembelajaran dimana siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi
sendiri pengetahuan matematika formalnya melalui masalah-masalah realitas yang
ada. Dengan pendekatan ini siswa tidak hanya mudah
menguasai konsep dan materi pelajaran namun juga tidak cepat lupa dengan apa
yang telah diperolehnya tersebut. Pendekatan ini pula tepat diterapkan dalam
mengajarkan konsep-konsep dasar dan diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar
siswa. Dengan meningkatnya hasil belajar siswa maka pendekatan ini dapat
dikatakan efektif.
Berdasarkan kaitan antara masalah yang
dirumuskan dengan teori yang dikemukakan maka dapat disusun suatu hipotesis
penelitian bahwa “Pendekatan pembelajaran realistik efektif
diterapkan dalam pembelajaran matematika di kelas VII SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa” dengan kriteria efektivitas sebagai berikut:
1.
Keterlaksanaan pembelajaran, apabila rata-rata kemampuan guru dalam mengelola
pembelajaran matematika melalui pendekatan pembelajaran matematika realistik dari segi aspek
yang dinilai berada pada kategori baik atau baik sekali.
2.
Aktivitas
siswa yang terlibat aktif harus mencapai 80% dari keseluruhan siswa.
3.
Respons
positif siswa terhadap pembelajaran melalui penerapan
pendekatan pembelajaran realistik
minimal 80%
dari keseluruhan responden.
4.
Ketuntasan
hasil belajar minimal 80 % dari keseluruhan siswa yang mencapai nilai KKM.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis
Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian
pra eksperimen, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh
perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali. Dalam
penelitian ini melibatkan kelompok tunggal dan tidak ada perbandingan dengan
kelompok non perlakuan dibuat.
B. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP PGRI Sungguminasa Kab. Gowa tahun ajaran 2013-2014 dan subjek
penelitiannya adalah Siswa kelas VIIA dengan
jumlah siswa 37 orang terdiri dari 17 orang perempuan dan 20 orang laki-laki.
C. Desain Penelitian
Desain penelitian yang
digunakan adalah desain kelompok one
group pretest-postest. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
keefektifan penerapan pembelajaran
matematika melalui pendekatan realistik. Adapun desain penelitiannya disajikan dalam tabel 3.1.
Tabel 3.1 One
Group Pretest-Posttest
|
Pretest
|
Variabel Treatment
|
Posttes
|
|
O1
|
X
|
O2
|
Keterangan:
X : Pengajaran melalui penerapan pendekatan realistik
O1 : Nilai pretest sebelum dilaksanakan
pembelajaran
O2 : Nilai potstest sesudah dilaksanakan
pembelajaran
D.
Definisi Operasional
Variabel
Untuk memperoleh
gambaran yang jelas tentang variabel dalam penelitian ini, maka diberikan batasan operasional variabel sebagai berikut :
a. Keefektifan pembelajaran
Keefektifan secara harfiah berarti
keberhasilan tentang usaha atau tindakan (Tim PKP3B, 1990:219). Sedangkan Mawir
dalam Nugraha (2006:6) mengemukakan bahwa efektivitas adalah suatu keadaan yang
menunjukkan sejauh mana apa yang telah direncanakan dapat tercapai, semakin
banyak rencana yang dapat dicapai, berarti semakin efektif pula kegiatan
tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa efektivitas adalah hal, ukuran
atau keadaan yang berkaitan dengan sejauh mana keberhasilan dari suatu usaha
atau tindakan.
Dalam
penelitian ini, kriteria keefektifan pembelajaran matematika melalui penerapan
pendekatan pembelajaran realistik ditinjau dari 4 aspek yaitu :
1.
Keterlaksanaan
pembelajaran
2.
Aktifitas
siswa
3.
Respon siswa
4.
Ketuntasan
hasil belajar
Pada akhirnya kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan pembelajaran
dikatakan efektif adalah minimal 3
dari 4 poin di atas dipenuhi dengan syarat poin 1 yaitu ketuntasan klasikal
harus terpenuhi.
b. Pendekatan pembelajaran matematika realistik
Pendekatan matematika realistik
adalah pendekatan pengajaran yang bertitik dari hal-hal yang “real” bagi siswa,
menekankan keterampilan, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan
teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri dan pada akhirnya
menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu
maupun kelompok. Pada pendekatan ini peran guru tak lebih dari seorang fasilitator,
moderator atau evaluator sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan, melatih
nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang lain.
c.
Keterlaksanaan
pembelajaran
Keterlaksanaan pembelajaran adalah kemampuan guru dalam
melaksanakan setiap tahap-tahap pembelajaran selama proses belajar mengajar
berlangsung. yang diukur dari hasil observasi oleh observer selama pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan
pembelajaran matematika realistik.
d. Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Tingkat
keterlaksanaan aktivitas siswa adalah rata-rata keterlaksanaan aktivitas atau
perilaku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Aktivitas siswa dalam
kegiatan pembelajaran diukur dari hasil observasi selama pengajaran melalui
pendekatan realistik.
e. Respon siswa terhadap pembelajaran.
Respons
siswa adalah ukuran kesukaan, minat, ketertarikan, atau pendapat siswa tentang
cara mengajar guru, LKS dan suasana kelas. Respon siswa terhadap pembelajaran diukur dengan pemberian angket
untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran.
f. Hasil belajar matematika
Hasil
belajar matematika yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tingkat
keberhasilan siswa dalam menguasai bahan pelajaran setelah memperoleh
pengalaman belajar matematika dalam suatu kurun waktu tertentu..
E. Prosedur Penelitian
Pada penelitian
ini, langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut.
1.
Menyusun
media pembelajaran (RPP, LKS, Silabus, dll) yang nantinya digunakan selama proses belajar mengajar pada kelompok eksperimen.
2.
Menyusun instrumen penelitian.
3.
Mengkonsultasikan
instrumen penelitian dengan guru matematika, dosen matematika, dan dosen
pembimbing.
4.
Mengadakan
validasi instrumen penelitian.
5.
Melaksanakan
penelitian yaitu memberikan perlakuan kepada kelas eksperimen berupa pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran realistik.
6.
Memberikan pretest sebelum diberikan perlakuan dan posttest pada akhir penelitian.
7.
Menganalisis
data hasil penelitian.
F. Instrumen
Penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah :
1. Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran
Lembar observasi keterlaksanaan
pembelajaran digunakan untuk mengetahui kemampuan guru mengelola
pembelajaran dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung. Instrumen ini
dikembangkan sesuai dengan yang tercantum pada RPP.
2.
Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Instrument
ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Komponen-komponen penilaian berkaitan dengan aktivitas siswa, perhatian,
kesungguhan, kedisiplinan, dan keterampilan siswa.
3.
Angket Respon Siswa
Angket
respon siswa dirancang untuk mengetahui respon siswa terhadap pendekatan
pembelajaran yang diterapkan. Aspek respon siswa menyangkut suasana belajar,
minat mengikuti pelajaran berikutnya, dan cara-cara guru mengajar..
4. Tes Hasil Belajar Matematika
Untuk
memperoleh data tentang hasil belajar matematika siswa, digunakan satu
perangkat instrument yaitu tes hasil belajar untuk mengukur tingkat penguasaan
siswa terhadap materi setelah belajar dalam jangka waktu tertentu. Bentuk tes
yang digunakan adalah bentuk uraian.
G.
Teknik Pengumpulan Data
Data hasil
penelitian dari kelompok perlakuan, dikumpulkan dengan menggunakan instrumen
penelitian berupa tes hasil belajar matematika, lembar observasi, dan angket respon.
1.
Data tentang
keterlaksanaan pembelajaran diambil pada saat pembelajaran berlangsung dengan
menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajar yang dinilai oleh observer yaitu guru bidang studi.
2.
Data
tentang aktivitas siswa diambil pada saat dilakukannya tindakan
dengan menggunakan lembar observasi aktifitas siswa.
3.
Data
tentang respon siswa diperoleh dengan cara memberikan angket kepada siswa.
4.
Data
mengenai hasil belajar matematika siswa diperoleh dari pretest
sebelum diberikan perlakuan dan posttest yang dilaksanakan pada akhir
pertemuan penelitian.
H. Teknik
Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis
dengan menggunakan analisis statistika deskriptif untuk mengetahui ketuntasan
belajar siswa, aktivitas siswa, aktivitas guru mengelola pembelajaran, dan
respon siswa.
1.
Keterlaksanaan pembelajaran
Data
tentang keterlaksanaan pembelajaran dianalisis dengan skor rata-rata. Data
tersebut dikategorikan. pengkategorian tidak baik:1
2,
kurang baik: 2
3,
baik: 3
4,
dan baik sekali:
= 4. 


Sebagai kriteria pembelajaran
dikatakan terlaksana atau baik, apabila rata-rata kemampuan guru dalam mengola
pembelajaran matematika melalui pendekatan pembelajaran matematika realistik dari segi aspek yang
dinilai berada pada kategori baik atau baik sekali.
2.
Aktivitas Siswa
Data hasil
pengamatan aktivitas siswa selama pembelajaran dianalisis sebagai berikut:

PTa = Persentase aktivitas siswa untuk
melakukan suatu jenis aktivitas
tertentu
Nilai rata-rata persentase
keterlaksanaan aktivitas siswa dalam mengelola pembelajaran minimal 80%
3.
Respon Siswa
Data
tentang respon siswa diperoleh dari angket respon siswa terhadap
kegiatan pembelajaran. Selanjutnya
dianalisis dengan mencari persentase jawaban siswa untuk tiap-tiap
pertanyaan dalam angket. Respon siswa dianalisis dengan melihat presentase dari
respon siswa.
Presentase ini dapat dihitung
dengan rumus:
P =
× 100%
Keterangan:
P = Presentase repon siswa yang menjawab ya dan
tidak
f = Frekuensi
siswa yang menjawab ya dan tidak
N = Banyaknya siswa yang mengisi
angket
Kriteria yang ditetapkan untuk
mengatakan bahwa para siswa memiliki respon positif terhadap kegiatan
pembelajaran adalah lebih dari 80% dari mereka memberi respon positif. Respon
positif siswa terhadap pembelajaran dikatakan tercapai apabila kriteria respon
positif siswa untuk kegiatan pembelajaran terpenuhi.
4.
Hasil Belajar
Statistik deskriptif digunakan untuk
mendeskriptifkan karakteristik responden. Untuk keperluan tersebut digunakan
rata-rata, skor minimum, skor maksimum dan simpangan baku. Untuk keperluan
analisis deskriptif, pengkategorisasian hasil belajar matematika siswa akan
dikategorikan menurut standar kategorisasi dengan skala lima yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Tabel
3.2 Kategorisasi
Standar yang Ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional
|
No.
|
Skor
|
Kategori
|
|
1.
|
0 ≤ × ≤ 54
|
Sangat Rendah
|
|
2.
|
54 < × ≤ 69
|
Rendah
|
|
3.
|
69 < × ≤ 79
|
Sedang
|
|
4.
|
79 < × ≤ 89
|
Tinggi
|
|
5.
|
89 < × ≤ 100
|
Sangat Tinggi
|
Sumber: Departemen Pendidikan Nasional (Ayudiah:2007)
Tabel 3.3 Kategorisasi Standar Ketuntasan Belajar SMP PGRI Sungguminasa
Kabupaten Gowa
|
Skor
|
Kategori Ketuntasan
|
|
0 –
69
|
Tidak
Tuntas
|
|
70 – 100
|
Tuntas
|
Hasil belajar matematika siswa dapat
dilihat dari hasil belajar yang secara individual, kriteria seorang siswa
dikatakan tuntas ketika memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditentukan
oleh sekolah yakni 70.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar