BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Pendidikan
merupakan media yang sangat berperan untuk menciptakan manusia yang berkualitas
dan berpotensi dalam arti yang seluas-luasnya.Melalui pendidikan akan
terjadi proses pendewasaan diri sehingga di dalamproses pengambilan keputusan terhadap suatu masalah
yang dihadapi selalu disertai dengan rasa tanggung jawab yang besar.Mengingat
peran pendidikan tersebut maka sudah sepantasnya aspek ini menjadi perhatian
pemerintah dalam rangka meningkatkan sumber daya masyarakat Indonesia yang
berkualitas.
Dalam
dunia pendidikan, matematika merupakan salah satu komponen yang sangat penting
dalam peningkatan mutu sumber daya manusia.Matematika diberikan pada setiap
jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar untuk mempersiapkan siswa agar
sanggup menghadapi perubahan dalam kehidupan yang selalu berkembang melalui
latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, cermat, efektif
dan efisien. Selain itu matematika juga dapat memberikan tekanan pada penataan
nalar, pembentukan sikap
dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga memainkan peran penting
di sejumlah bidang ilmiah lain, seperti fisika, teknik dan statistik.
Oleh
karena pentingnya peranan matematika, maka pengajaran matematika di berbagai jenjang pendidikan formal perlu
mendapat perhatian dan penanganan yang serius. Para siswa di berbagai jenjang
pendidikan termasuk di sekolah menengah mutlak dituntut untuk menguasai
pelajaran matematika.Bahkan lebih dari itu, siswa diharapkan memiliki hasil
belajar matematika yang tinggi.
Berdasarkan
hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, pada hari selasa
tanggal 23 Agustus 2011 kepada bapak Muhammad Arif, S.Pd selaku guru matematika
kelas IX IPA2,bahwa aktivitas siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 12
Makassar dalam belajar masih rendah terutama dalam belajar matematika, sehingga
hasil belajarnyapun tergolong kurang. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa
kelas XI IPA2 SMA Negeri 12 Makassar yang berjumlah 42 orang, yang
terdiri dari 15 orang laki-laki dan 27 orang perempuan adalah 58,65 berdasarkan
nilai hasil ulangan harian matematika .Ini tergolong rendah mengingat nilai
standar KKM sekolah tersebut adalah 70. Selain itu, siswa belum mampu
memecahkan suatu permasalahan dengan baik.Secara umum kegiatan pembelajaran
matematika siswa ini masih dipengaruhi oleh metode pembelajaran tradisional
yang diterapakan di kelas.
Hasil belajar siswa ini dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor baik itu faktor dari dalam diri siswa maupun dari luar diri siswa. Salah
satu kendala dalam pembelajaran matematika yang dialami oleh siswa yaitu sikap
negatif terhadap bidang studi matematika yang menganggap bidang studi
matematika adalah pelajaran yang sulit dipahami sehingga mereka tidak
termotivasi untuk mempelajari matematika. Oleh sebab itu perlu penerapan model
pembelajaran matematika yang dapat memotivasi siswa untuk ikut aktif terlibat
dalam pembelajaran sehingga siswa tidak menganggap bahwa matematika adalah
sesuatu yang perlu di takuti karena mata pelajaran matematika sebenamya menarik
dan sangat dekat dengan kehidupan nyata.
Ada beberapa macam model pembelajaran dan setiap
model pembelajaran masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga
pengajar dituntut untuk dapat memilih model yang tepat untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang ditetapkan. Suatu metode mengajar dapat dikatakan efektif
apabila tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan kata lain keefektifan metode
mengajar ditentukan oleh keberhasilan peserta didik dalam menguasai materi yang
diajarkan dengan materi tersebut. Dalam hal ini salah satu model pembelajaran
yang tepat dan efektif dapat diterapkan
adalah model pembelajaran berbasis masalah, karena model ini memberikan
kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk membangun, mengenali dan
memecahkan sendiri masalah nyata yang dihadapinya.
Salah satu model pembelajaran yang
dianggap relevan dengan dunia nyata saat ini adalah pembelajaran berbasis
masalah.Karena dengan model ini, siswa dituntut untuk memahami suatu masalah matematika dan memahami pula cara
pemecahan masalahnya. Dengan demikian, siswa mampu menggunakan masalah dunia
nyata sebagai suatu konteks untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan
keterampilan memecahkan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep
yang esensial dari mata pelajaran.
Berangkat dari latar belakang tersebut, penulis
tertarik untuk meneliti tentang pembelajaran matematika berbasis masalah dengan
judul “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Kelas XI IPA2 SMA Negeri 12 Makassar Melalui Pembelajaran Matematika
Berbasis Masalah“.
B.
MASALAH
PENELITIAN
1.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka masalah ini diidentifikasikan sebagai berikut yaitu
a. Siswa
terkesan pasif selama mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas terkait metode
verbal yang diterapkan.
b. Rendahnya
hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 12 Makassar.
2.
Cara Pemecahan Masalah
Masalah tentang
rendahnya mutu proses dan hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA2
SMA Negeri 12 Makassar dapat dipecahkan dengan menerapkan “Model pembelajaran
berbasis masalah”.
3. Rumusan Masalah
Masalah
dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan model Pembelajaran Berbasis
Masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA2 SMA
Negeri 12 Makassar?”
C.
PENEGASAN ISTILAH
1. Peningkatan
Peningkatanmenurut
kamus besar bahasa Indonesiaadalah proses, cara, perbuatan meningkatkan
usaha, kegiatan, dan sebagainya (Depdiknas, 2008). Peningkatan yang dimaksud disini
adalah meningkatnya hasil belajar siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 12
Makassar.
2.
Hasil
Belajar
Hasil belajar adalah hasil tes
belajar aspek kognitif bidang matematika siswa kelas XI IPA2
semester 1 SMA Negeri 12 Makassar pada tahun pelajaran 2011/2012.
3.
Pembelajaran
Matematika Berbasis Masalah
Pembelajaran matematika berbasis masalah
yaitu pembelajaran matematika yang meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau
masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik,
kerjasama, dan menghasilkan karya atau peragaan(Henik, 2005:7).
D.
TUJUAN
PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan
hasil belajar matematika siswa melalui pembelajaran berbasis masalah pada siswa
XI IPA2 SMA Negeri 12 Makassar. .
E.
MANFAAT
PENELITIAN
1. Bagi Siswa
a. Melalui
model pembelajaran yang diterapkan, siswa diharapkan dapat meningkatkan
kreatifitas siswa dalam merumuskan masalah matematika.
b. Siswa
akan lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran
c. Siswa
dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Bagi Peneliti
a.
Dapat menambah
pengetahuan tentang pembelajaran
berbasis masalahuntuk meningkatkan hasil belajar
matematika siswa.
b.
Dapat dijadikan bekal
kelak jika terjun langsung sebagai pendidik, bagaimana mengoptimalkan
penerapannya dimasa yang akan datang sebagai bahan referensi
c. Dapat
dijadikan sebagai bahan perbandingan baik peneliti maupun bagi yang akan
mengkaji masalah yang relevan dengan penelitian ini.
3.Bagi Guru
Melalui
penelitian ini guru dapat mengembangkan pengetahuan profesionalnya dalam usaha
meningkatkan hasil belajar matematika serta mendapatkan cara yang efektif dalam
menyajikan pelajaran matematika.
4. Bagi Sekolah
Sebagai
masukan dalam upaya perbaikan pembelajaran sehingga dapat menunjang tercapainya
tujuan pembelajaran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DANHIPOTESIS TINDAKAN
A.
TINJAUAN
PUSTAKA
1. Pembelajaran
Matematika
Belajar adalah
proses perubahan tingkah laku individu sebagai hasil dari pengalamannya dalam
berinteraksi dengan lingkungan. Belajar bukan hanya sekedar menghafal,
melainkan suatu proses mental yang terjadi dalam diri seseorang. Belajar
menurut James O. Whittaker ( Aunurrahman, 2010:35) adalah proses dimana tingkah
laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Sedangkan menurut
Gagne (Komalasari, 2010:3) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses
perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia seperti
sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuannya yakni peningkatan kemampuan
untuk melakukan berbagai jenis kinerja.
Ciri-ciri umum
kegiatan belajar adalah sebagai berikut:
b.
Belajar menunjukkan suatu
aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja
c.
Belajar merupakan interaksi individu dengan lingkunganya
d.
Hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku.
Pembelajaran adalah
proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa, bagaimana
belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap (Junaidi,
2010). Pembelajaran
merupakan suatu sistem, yang terdiri atas berbagai komponen yang saling
berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebur meliputi: tujuan, materi,
metode, dan evaluasi.
|
![]() |
Gambar 2.1 Faktor-faktor yang
Berpengaruh terhadap Pembelajaran
Faktor-faktor pendukung proses belajar
dan pembelajaran di atas tidak dapat dipsahkan sehingga akan menghasilkan output yang diinginkan. Jika diuraikan
lebih lanjut unsur environmental input (masukan dari lingkungan) dapat berupa
alam dan sosial budaya, sedangkan instrumental berupa kurikulum,
program, siswa. Unsur fisiologis siswa
berupa kondisi fisiologis secara umum, serta kondisi panca indera.Sedangkan
unsur psokologi berupa minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemapuan
kognitif. Secara skematik uraian diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
|
||||||||
|
||||||||
|
||||||||
![]() |
||||||||
Gambar 2.2
Faktor-faktor Belajar Siswa
Pembelajaran
matematika adalah suatu proses yang diselengarakan oleh guru untuk
membelajarkan siswa guna memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan
matematika Pembelajaran matematika tidak hanya mengandung nilai edukasi yang
bersifat mencerdaskan siswa tetapi juga nilai edukasi yang membentuk pribadi
siswa. Melalui pembelajaran matematika diharapkan dengan sendirinya para siswa
akan cermat dalam melakukan pekerjaan, akan kritis dan konsisten dalam
bersikap, akan jujur dan lain sebagainya.
Tujuan
pembelajaran matematika di sekolah mengacu kepada fungsi matematika serta
kepada tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan dalam GBHN. Dalam
Garis-garis Besar Pembelajaran
Pengajaran (GBPP) matematika disebutkan bahwa tujuan khusus pengajaran matematika di SMA adalah:
1) Siswa
memiliki pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan ke pendidikan
tinggi
2) Siswa
memiliki keterampilan matematika sebagai peningkatan matematika pendidikan
dasar untuk dapat digunakan dalam kehidupan yang lebih luas (di dunia kerja)
maupun dalam kehidupan sehari-hari
3) Siswa
memiliki pandangan yang luas serta memiliki sikap menghargai kegunaan
matematika, sikap kritis, objektip, terbuka, kreatif, serta inovatif
4) Siswa
memil;iki kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan di SMA
2.
Hasil
Belajar
Hasil belajar
adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek
potensi kemanusiaan saja.Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam
memperoleh kemampuan sesuai dengan khusus yang direncanakan.
Menurut Oemar
Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi
perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi
tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti ( Indra, 2009). Sedangkan
menurut Dimyati dan Mudjiono, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang
dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru.Dari sisi siswa, hasil
belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan
pada saat sebelum belajar Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada
jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.Sedangkan dari sisi guru,
hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.
( Indra, 2009).
( Indra, 2009).
Berdasarkan
teori Taksonomi Bloom ( Indra, 2009) hasil belajar dalam rangka studi dicapai
melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor.
Perinciannya adalah sebagai berikut:
1).
Ranah Kognitif
Berkenaan
dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan,
pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
2). Ranah Afektif
2). Ranah Afektif
Berkenaan
dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu
menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan
suatu nilai atau kompleks nilai.
3). Ranah Psikomotor
Meliputi
keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular
(menghubungkan, mengamati).
Tipe hasil
belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih
menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian
dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah. Hasil belajar
digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu
tujuan pendidikan.Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar
dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi.
Hasil belajar
siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan
faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Menurut Carol (Harminingsih,
2008) bahwa hasil belajar siswa
dipengaruhi oleh lima faktor yaitu:
(1)
Bakat belajar,
(2)
Waktu yang tersedia untuk belajar,
(3)
Kemampuan individu,
(4)
Kualitas pengajaran,
(5)
Lingkungan.
Clark
mengungkapkan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh
kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan (Harminingsih,
2008). Perubahan perilaku dalam proses
belajar terjadi akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya
berlangsung secara sengaja.Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila
terjadi perubahan dalam diri individu.Sebaliknya apabila tidak terjadi
perubahan dalam diri individu maka belajar tidak dikatakan berhasil.
3.
Pembelajaran
Berbasis Masalah
Pendidikan pada
abad ke-21 berhubungan dengan permasalahan baru yang ada di dunia
nyata.Pendekatan pembelajaran berbasis masalah berkaitan dengan penggunaan
intelegensi dari dalam diri individu yang berada dalam sebuah kelompok orang
atau lingkungan untuk memecahkan masalah yang bermakna, relevan dan
kontekstual.
Pembelajaran
berbasis masalah dapat diartikan sebagai
rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian
masalah yang dihadapi secara ilmiah (Sanjaya, 2011). Menurut Tan (Rusman, 2010:232)
pembelajaran berbasis masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan
yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata,
kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada.
Sedangkan menurut Boud dan Feletti (Boud,
2010) mengemukakan:
“Problem-based
learning can be described as: a way of constructing and teaching courses using
problems as the stimulus and focus for learner activity. It is not simply the
addition of problem-solving activities to otherwise discipline centered
curricula, but a way of conceiving of the curriculum which is centered around
key problems in professional practice”.
Untuk
mengimplementasikan pemmbelajaran berbasis masalah, guru perlu memilih bahan
pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Permasalahan
tersebut bisa diambil dari buku teks atau dari dari sumber-sumber lain misalnya
dari peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, dari peristiwa dalam
keluarga atau dari peristiwa kemasyarakatan
Dalam
pembelajaran berbasis masalah, perhatian pembelajaran tidak hanya pada
perolehan deklaratif, tetapi juga perolehan pengetahuan prosedural.Oleh karena
itu penilaian tidak cukup hanya tes.Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan
pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh
siswa sebagai hasil penyelidikan mereka.
a. Karakteristik
pembelajaran berbasisi masalah adalah sebagai berikut:
1) Permasalahan
menjadi starting point dalam belajar;
2) Permasalahan
yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata dan tidak
terstruktur;
3) Permasalahan
membutuhkan perspektif ganda ( multi perspective);
4) Permasalahan
menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap dan kompetensi yang
kemudian membutuhkan identifikasi kebututhan belajar dan bidang baru dalam
belajar;
5) Belajar
pengarahan diri menjadi hal yang utama;
6) Pemanfaatan
sumber pengetahuan yang beragam, penggunaanya, dan evaluasi sumber informasi
merupakan proses yang esensial dalam PBM;
7) Belajar
adalah kolaboratif, komunikasi dan kooperatif;
8) Pengembangan
keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan
isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan;
9) Keterbukaan
dalam proses PBM meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar
dan;
10) PBM
melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.
(Rusman, 2010:232)
b. Sintaks
pembelajaran berbasis masalah menurut Ibrahim dan Nur (Rusman, 2010:243)
terdapat lima tahap yang secara rinci disajikan pada tabel 2.1
Tabel 2.1 Sintaks Pembelajaran Berbasis
Masalah
|
Fase
|
Indikator
|
Tingkah
Laku Guru
|
|
1
|
Orientasi
siswa pada masalah
|
Guru
menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, dan
memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah
|
|
2
|
Mengorganisasi
siswa untuk belajar
|
Guru
membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan
dengan masalah tersebut
|
|
3
|
Membimbing
pengalaman individual/kelompok
|
Guru
mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan
eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
|
|
4
|
Mengembangkan
diri menyajikan hasil karya
|
Guru
membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti
laporan, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
|
|
5
|
Menganalisis
dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
|
Guru
membantu siswa untu melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan
mereka dan proses yang mereka gunakan.
|
B.
KERANGKA PIKIR
Pada dasarnya proses belajar itu tidak
hanya menekankan pada aspek pengetahuan dan pemahaman, tetapi aspek aplikasi,
analisis, sintesis, bahkan evaluasi juga harus ditekankan. Hal ini sangat
penting karena siswa akan dapat mengembangkan daya nalarnya dalam memecahkan
permasalahan dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam
kehidupan nyata.
Oleh karena itu diperlukan pembelajaran
yang tidak hanya memberikan ceramah dan latihan mengerjakan soal-soal dengan
cepat tanpa memahami konsep secara mendalam.Salah satu alternatif yang tepat
adalah dengan menerapkan pembelajaran yang mampu mengkondisikan siswa
sedemikian rupa sehingga siswa dapat terlibat aktif dalam pembelajaran, memupuk
kerjasama diantara siswa, serta melatih keterampilan berpikir siswa secara
kritis sehingga mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi yaitu pembelajaran
berbasis masalah.
C. HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan
masalah dan kajian teori yang telah dikemukakan, maka hipotesis penelitian ini
adalah : “Jika menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dalam
pembelajaran, maka hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA2 SMA
Negeri 12 Makassar dapat ditingkatkan?”
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
JENIS
PENELITIAN
Penelitian ini
adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan
tahapan pelaksanaan meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi,
evaluasi dan refleksi yang berulang.
B. LOKASI DAN SUBJEK
PENELITIAN
Penelitian ini
dilaksanakan di SMA Negeri 12 Makassar dengan subjek penelitian siswa kelas X1IPA2 semester I (ganjil) tahun pelajaran 2011/2012 dengan jumlah siswa 42 orang.
C.
FAKTOR-FAKTOR
YANG DISELIDIKI
Faktor yang
ingin diselidiki dalam penelitian ini adalah:
a. Faktor
proses pembelajaran, yaitu melihat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran melalui
model pembelajaran matematika berbasis masalah.
b. Faktor
hasil, yaitu melihat hasil dari pembelajaran matematika setelah diterapkan
model pembelajaran matematika berbasis masalah
D.
PROSEDUR
PENELITIAN
Prosedur
penelitian tindakan kelas ini dirancang atas dua siklus yaitu Siklus I dan
Siklus II. Tiap siklus dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, dimana 3 kali
pertemuan pemberian materi dan 1 kali pertemuan tes akhir siklus.. Tes ini
dilakukan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai untuk mengetahui kemampuan
siswa selama proses belajar mengajar.
a. Siklus
I
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2
siklus, kedua siklus ini saling berkaitan.Siklus I dilaksanakan selama 5 kali
pertemuan dan siklus II dilaksanakan selama 5 kali pertemuan.
1. Perencanaan
1) Menelaah
kurikulum dan mempelajari dengan cermat bahan pelajaran yang diajarkan.
2) Melakukan
konsultasi dengan guru mengenai rencana teknis pembelajaran.
3) Bahan
pelajaran diolah sehingga memunculkan suatu pertanyaan atau permasalahan
sebagai masalah yang perlu dipecahkan.
4) Disiapkan
sarana pendukung yang diperlukan, dan disampaikan kepada siswa untuk menyiapkan
segala kebutuhannya dalam mengikuti pelajaran (misalnya buku paket atau
penunjang, alat tulis menulis).
5) Membuat
lembaran observasi untuk mengamati kondisi di kelas ketika pembelajaran
tindakan sedang berlangsung.
6) Membuat
angket untuk mengetahui tanggapan siswa tentang penerapan model pembelajaran
berbasis masalah.
2. Pelaksanaan
tindakan
1) Pada
awal kegiatan pembelajaran, guru memberikan materi prasyarat yang diperlukan
sehubungan dengan pokok bahasan yang akan dipelajari.
2) Penyajian
materi pelajaran selalu diarahkan pada suatu basis permasalahan yang merupakan
langkah awal dalam model pembelajaran berbasis masalah.
3) Pada
saat guru memberikan penjelasan, siswa tidak diperkenankan melakukan kegiatan
lain seperti menulis materi pelajaran yang sedang dibahas.
4) Siswa
diberi kesempatan bertanya dan diberikan soal latihan sebelum pindah ke konsep
selanjutnya.
5) Mengidentifikasi
dan memantau aktivitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.
3. Observasi
dan Evaluasi
1) Melaksanakan
tes untuk melihat kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep matematika yang
diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
1) Melanjutkan
proses belajar mengajar dengan strategi, dan metode yang menggunakan model
pembelajaran berbeasis masalah, yang telah ditetapkan oleh peneliti.
2) Selama
proses pembelajaran, akan diadakan pengamatan tentang :
a. Sikap
siswa mengikuti pelajaran
b. Banyaknya
siswa yang bertanya hal-hal yang belum dimengerti
c. Kemampuan
siswa menjawab pertanyaan yang diberikan setelah setiap materi selesai dibahas.
3) Untuk
mendapatkan informasi balikan dari siswa tentang kegiatan pembelajaran yang
telah dilakukan maka pada akhir siklus ini akan diedarkan angket (respons)
siswa.
4) Hasil
tindakan akan dievaluasi dengan memberikan tes berupa ulangan harian.
4. Refleksi
1) Refleksi
dari guru, siswa dan peneliti sesuai dengan hasil yang diperoleh selama siklus
pertama baik secarta kuantitatif maupun secara kualitatif.
2) Hasil
observasi dan evaluasi dianalisis untuk dijadkan bahan pemikiran dalam
merefleksi kegiatan selama tindakan dilakukan. Pada tahap ini dilihat sampai
dimana faktor-faktor yang diselidiki telah tercapai. Hal-hal yang masih
dipandang kurang, ditindaki pada siklus kedua dengan suatu model tindakan ke
arah yang lebih memperbaiki dengan tetap mempertahankan apa
yang sudah baik.
b. Siklus
II
Langkah-langkah
yang dilakukan dalam siklus II ini relativ sama dengan perencanaan dan
pelaksanaan dalam siklus I, namun pada beberapa langkah kemungkinan dilakukan
perbaikan dan penyempurnaan atau penambahan tindakan ssesuai dengan kenyataan
yang ditemukan di lapangan. Adapun rincian kegiatannya adalah sebagai berikut :
1) Menginformasikan
hasil yang diperoleh selama siklus pertama
2) Mengulangi
prosedur pada siklus pertama dengan beberapa perbaikan berdasarkan masuikan
dari siswa
3) Pada
akhir siklus II diadakan tes untuk mengukur sejauh mana dampak atau pengaruh
tindakan pada siklus II terhadap hasil belajar matematika siswa yang telah
diajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
E.
INSTRUMEN
PENELITIAN
Instrumen yang digunakan untuk
mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:
1.
Lembar Observasi
Lembar observasi digunakan untuk mengetahui data
tentang kehadiran siswa, dan perhatian siswa dalam mengikuti proses belajar
mengajar.
2.
Tes Hasil Belajar
Tes
hasil belajar digunakan untuk memperoleh informasi tentang penguasaan siswa
terhadap materi yang diajarkan setelah proses pembelajaran matematika melalui
penerapan model pembelajaran berbasis masalah di tiap siklusnya.
3.
Angket respon siswa
Angket
digunakan untuk mengumpulkan data tentang respon atau tanggapan siswa terhadap
kegiatan pembelajaran matematika yang telah diterapkan dengan model
pembelajaran berbasis masalah.
F. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1. Data
mengenai keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar diperoleh melalui
lembar observasi selama proses pembelajaran.
2. Data
mengenai hasil belajar matematika siswa diperoleh dari hasil tes setiap akhir
siklus, selama dua siklus penuh.
3. Data
mengenai tanggapan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran matematika melalui
penerapan model pembelajaran berbasis masalah dikumpulkan dengan menggunakan
angket.
G.
TEKNIK
ANALISIS DATA
Data tentang
hasil pengamatan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif.
1. Lembar
Observasi siswa
Data
tentang observasi dianalisis secara kualitatif setelah dilaksanakankan
observasi aktivitas siswa pada masing-masing siklus, kemudian dihitung besarnya
aktivitas siswa pada masing-masing siklus tersebut dan dibandingkan hasilnya
antara siklus I dan siklus II apakah terjadi peningkatan aktivitas siswa atau
tidak.
2. Tes
hasil belajar
Data tentang hasil belajar
dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif.Analisis
statistik deskriptif, digunakan untuk mendiskripsikan hasil belajar dalam
bentuk nilai rata-rata (mean), nilai tertinggi, nilai terendah, rentang nilai,
standar deviasi.
Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori hasil belajar adalah
berdasarkan teknik kategorisasi yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan
Nasional (Mardia
dalam Gafur 2010:
29)
adalah sebagai berikut
Tabel 3.3. Tingkat penguasaan dan kategori hasil belajar siswa.
|
No
|
Nilai
|
Kategori
|
|
1
|
0 -64
|
Rendah
|
|
2
|
65 -84
|
Sedang
|
|
3
|
85 -95
|
Tinggi
|
|
4
|
96 – 100
|
Sangat tinggi
|
3. Angket
refleksi siswa terhadap pembelajaran
Dari
hasil angket refleksi siswa terhadap pembelajaran untuk masing-masing siklus,
dapat diketahui pendapat siswa mengenai pembelajaran yang sudah dilaksanakan
H.
INDIKATOR
KEBERHASILAN
Indikator
keberhasilan penilitian tindakan kelas ini adalah bila terjadi peningkatan skor
rata-rata keterampilan berpikir kritis hasil belajar matematika siswa yaitu
nilai rata-rata kelas siswa pada siklus II lebih tinggi dibandingkan dengan
nilai rata-rata kelas siswa pada siklus I, dan mencapai ketuntasan klasikal
minimal yaitu 85% dari jumlah siswa memperoleh kriteria ketuntasan minimal
(KKM) untuk mata pelajaran matematika yaitu 70 dan keterampilan berpikir kritis
siswa juga meningkat. Hasil ini dapat memberikan gambaran bahwasanya
pembelajaran matematika melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah
dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dan hasil belajar
matematika siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 12 Makassar.
DAFTAR
PUSTAKA
Alwasilah, Chaedar. 2011. CTL: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar
Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung : Kaifa
Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung:
Alfabeta
Boud, dkk. 2010. Definition. Problem Based Learning.http://www.innovateonline.info. Diakses 30/09/2011
Departemen
Pendidikan Nasional RI .2008. Kamus Besar
Bahasa Indonesia.http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id . Diakses12/09/2011
Gafur,
Abdul. 2010. Penerapan Metode
Pembelajaran Demonstrasi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X.6
Pada Pokok Bahasan Pengendalian Sosial
Di SMA Negeri
1 Pallangga , Kabupaten Gowa.Skripsi.FKIP UniversitasMuhammadiyah Makassar.
Harminingsih, 2008.Faktor-faktor yang mempengaruhi hasi belajar.http://harminingsih.blogspot.com.Diakses13/08/2011
Henik.2005. Meningkatkan
Keterampilan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa SMPN 1 Tambakromo
Kabupaten Pati melalui Pembelajaran Matematika Berbasis Masalah. Skripsi
FMIPA. Universitas Negeri Semarang
Indra. 2009. Hasil
Belajar (Pengertian dan Definisi).
http://indramunawar.blogspot.com.Diakses10/09/2011
Jery, Dkk. 2010.Pengambilan Keputusan dan Pemecahan Masalah. Jakarta: PT Indeks
Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan
Aplikasi. Bandung: PT Refika Aditama
Kusnandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas: sebagai Pembangkan Profesi
Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Normandiri, dkk.2003. Matematika SMU untuk Kelas 2. Jakarta:
Erlangga.
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
Samsul.2010. Meningkatkan
Hasil Belajar Matematika melalui Pembelajaran Berbasis Masalah pada Siswa Kelas
VII SMP Negeri 5 Tande Kabupaten Majene. Skripsi FKIP. Universitas
Muhammadiyah Makassar
Sanjaya,
Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem
Pembelajaran. Bandung: PT Fajar Interpratama.
Sanjaya,
Wina. 2010. Strategi Pembelajaran
Berorentasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: PT Kencana.
Suprijono,
Agus. 2009. Cooperative Learning: Teori
dan Aplikasi PAIKEM. Surabaya: Pustaka Belajar
Wawan.
2010. Pembelajaran Matematika. http://wawan-junaidi.blogspot.com.
Diakses30/09/2011


Tidak ada komentar:
Posting Komentar