BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah.
Salah satu faktor yang mempengaruhi
perkembangan suatu bangsa yaitu sistem dan manajemen pendidikan di negara tersebut. Karena itu dunia pendidikan harus dikelola
dengan seefektif mungkin agar mampu menciptakan sumber daya manusia yang
berkualitas.
Pendidikan
adalah sebuah sistem yang sangat kompleks dengan keanekaragaman subsistemnya.
Subsistem-subsistem tersebut meliputi peserta didik; instrumental input yang terdiri dari kurikulum, sarana, tenaga
pengajar (guru), dan strategi belajar mengajar; proses belajar mengajar (PBM); environmental input (lingkungan); dan output (keluaran). Subsistem-subsistem
tersebut terkait antara satu dengan yang lainnya dan membentuk satu kesatuan serta
masing-masing memiliki peranan yang penting dalam sistem pendidikan.
Berbicara mengenai sistem
pendidikan, khususnya
sistem pendidikan formal, pada hakekatnya tidak terlepas dari pengembangan
subsistem-subsistem yang mendukungnya. Dalam upaya mencari alternatif terbaik
untuk pengembangan pendidikan di masa yang akan datang, kegagalan-kegagalan dan
permasalahan-permasalahan yang dihadapi di masa lalu dan di masa kini, akan
sangat besar peranan dan manfaatnya. Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan
yang timbul dalam dunia pendidikan itu tidak semudah dengan membalikkan telapak
tangan, tetapi perlu adanya kerja keras dari pemerintah maupun tenaga pengajar
serta peserta didik.
Untuk mengatasi
masalah tersebut, pemerintah telah mengeluarkan suatu kebijakan umum tentang
perubahan kurikulum baru yang disebut dengan
kurikulum berbasis kompetensi. Hal ini sesuai dengan pendahuluan dalam
Kurikulum Berbasis Kompetensi (Syaban, 2002: 2) yaitu: agar lulusan pendidikan
nasional memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai standar mutu
nasional dan internasional, kurikulum perlu dikembangkan dengan pendekatan
berbasis kompetensi. Hal ini harus dilakukan agar sistem pendidikan nasional
dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni serta tuntutan desentralisasi.
Kurikulum berbasis
kompetensi (Kurikulum 2004) ini adalah kurikulum yang berorientasi pada
pembentukan kompetensi kemampuan siswa, sehingga dengan kompetensi yang
diperoleh tersebut dapat digunakan baik melanjutkan pendidikannya ke jenjang
yang lebih tinggi maupun dalam hidup di masyarakat. Dengan demikian didalam
pembelajaran matematika, agar pembelajaran itu lebih bermakna dan dapat
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka guru dalam mengajarkan
matematika harus dikaitkan dalam kehidupan nyata sehingga siswa mampu memahami
konsep dan dapat menyelesaikan masalah matematika yang dihadapinya.
Pembelajaran seperti ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pendekatan
itu antara lain Realistic Mathematics
Education (RME), Contecstual Teaching Learning (CTL), Problem Solving dan
Problem Posing yang dapat mengajarkan siswa aktif dalam pembelajaran.
Pemilihan
pendekatan yang dapat digunakan guru haruslah tepat, agar dapat menumbuhkan
kompetensi siswa dalam belajar matematika. Hal ini tidak lepas dari apa yang
dialami oleh siswa SMP Negeri 1 Bulukumpa khususnya kelas I.A dalam proses
pembelajaran matematika di sekolah. SMP Negeri 1 Bulukumpa yang merupakan salah
satu lembaga yang berfungsi sebagai tempat pelaksanaan proses belajar mengajar.
Setelah diadakan observasi di sekolah tersebut khususnya kelas I.A,
ternyata masih mempunyai kendala dalam upaya peningkatan hasil belajar
matematika. Hasil ini ditunjukkan dari hasil ujian matematika pada semester
ganjil tahun 2005/2006, diperoleh data bahwa dari 33 siswa yang ikut ujian
terdapat 12 orang siswa (36,36 %) berada pada kategori sangat rendah, 10 orang
siswa (30,30%) berada pada kategori rendah, 4 orang siswa (12,12 %) berada pada
kategori sedang dan 7 orang siswa (21,21
%) berada pada kategori tinggi sedangkan kategori sangat tinggi tidak ada siswa
yang mendapatkannya.
Dengan
melihat hasil belajar Matematika siswa tersebut, seharusnya seorang guru dalam
proses pembelajaran menggunakan suatu pendekatan yang bisa mengaktifkan siswa dalam
proses pembelajaran, khususnya dalam menyelesaikan masalah yang diberikan oleh
guru. Salah satu pendekatan yang akan memberikan solusi
dalam menyelesaikan masalah yang dialami siswa, dimana siswa kurang mampu dalam
menelaah maksud dari masalah yang diberikan oleh guru adalah
dengan menggunakan pendekatan problem
posing.
Pembelajaran dengan
pendekatan problem posing memberi
kebebasan kepada siswa untuk membuat soal atau pertanyaan sesuai minat mereka,
tetapi tetap berkaitan dengan materi pelajaran. Dengan demikian, sikap kritis,
rasa ingin tahu dan dan kreatifitas siswa akan tereksplorasi. Sikap kritis dan
rasa ingin tahu merupakan sifat alamiah yang dimiliki oleh manusia. Sifat ini
menjadi motivator bagi seseorang untuk terus menambah pengetahuan.
Agar siswa
termotivasi untuk belajar mandiri dan sepanjang hayat, maka rasa ingin tahu
siswa perlu dibangkitkan dan dikembangkan. Pendekatan problem posing dalam pembelajaran ini dapar melatih siswa untuk
mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal yang berkaitan dengan materi
yang dipelajari.
Dengan menggunakan
pendekatan ini diharapkan memberi kesempatan yang luas kepada siswa untuk aktif
belajar dan mengupayakan agar pembelajaran yang terpusat kepada guru (teaching oriented) berubah menjadi
terpusat kepada siswa (student oriented).
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis terdorong
melakukan penelitian yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika
melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing Pada Siswa SMP Negeri I
Bulukumpa” dengan mengambil subyek siswa kelas IA SMP Negeri
I Bulukumpa yang berjumlah 33 orang.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang
masalah yang telah dikemukakan diatas maka dirumuskan masalah yaitu “Apakah
dengan menggunakan pendekatan problem posing
dapat meningkatkan hasil belajar Matematika Siswa SMP Neg. I Bulukumpa?"
C. Cara Pemecahan masalah
Untuk menyelesaikan masalah yang telah dikemukakan
diatas, maka dilakukan tindakan berupa penggunaan pendekatan problem posing dalam pembelajaran
matematika pada siswa kelas IA SMP Negeri I Bulukumpa.
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Matematika siswa SMP
Negeri I Bulukumpa khususnya kelas IA melalui pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan problem posing.
2.
Manfaat Penelitian.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat
sebagai berikut:
a.
Untuk siswa
1)
Melatih siswa agar mampu memahami soal
Matematika yang tersedia, kemudian mengembangkannya menjadi soal-soal lain
sebagai dasar pemahaman konsep yang diberikan.
2)
Melatih siswa untuk berpikir
kritis, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
b.
Untuk Guru
Melalui penelitian ini, guru dapat mengetahui strategi
pembelajaran yang bervariasi, yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem
pembelajaran Matematika di kelas.
c.
Untuk Sekolah
Hasil penelitian ini akan memberikan konstribusi dalam
rangka memperbaiki pembelajaran Matematika dan meningkatkan kualitas sekolah.
BAB II
KERANGKA TEORITIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kerangka Teoritik
1.
Pengertian belajar matematika
Belajar
merupakan suatu proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan
tersebut nyata dalam aspek tingkah laku. Hudojo(1990 :1) mengemukakan bahwa
seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu menjadi
suatu proses kegiatan yang mengakibatkan terjadinya suatu perubahan tingkah
laku.
Namun, setiap perubahan
dalam diri individu belum tentu merupakan perubahan dalam arti belajar.
Belajar pada manusia merupakan suatu proses psikologis yang berlangsung dalam
interaksi aktif subjek dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan perubahan
dalam pengetahuan, keterampilan yang bersifat konstan/menetap.
Perubahan-perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru yang segera nampak dalam
perilaku nyata. W.S Wingkel(Haling, 2004)
Defenisi lain
dikemukakan oleh Slameto(1991 : 2) menegaskan bahwa :
“Belajar adalah proses usaha yang
dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.”
Bruner (Slameto, 1991:
12) mengemukakan bahwa belajar tidak untuk merubah tingkah laku seseorang
tetapi untuk merubah kurikulum sekolah menjadi sedemikian rupa sehingga siswa
dapat belajar lebih banyak dan mudah. Belajar juga bukan hanya merupakan proses
dari yang belum tahu menjadi tahu tetapi belajar yang dimaksud oleh Bruner
yaitu belajar yang dapat memberikan lebih banyak ilmu dan mudah dipelajari oleh
siswa.
Beberapa
ahli lainnya juga berpendapat lain tentang pengertian belajar yaitu:
a.
Skinner (Dimyati, 1999: 9) berpandangan bahwa belajar adalah suatu
perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik, begitupun
sebaliknya.
b.
Pada masalah belajar, Gagne (Slameto, 1991: 15) memberikan dua definisi,
yaitu:
1) Belajar ialah suatu proses untuk
memperoleh motivasi dalam pengetahuan,
keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.
2) Belajar adalah pengetahuan atau
keterampilan yang diperoleh dari instruksi.
Dari berbagai pendapat
tentang pengertian belajar diatas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah
suatu kegiatan yang disengaja dan bertujuan sehingga memunculkan
perubahan-perubahan tingkah laku dan aspek-aspek kepribadian pada orang yang
belajar sebagai akibat interaksi dengan individu dan lingkungannya. Perubahan
tingkah laku dari hasil belajar dapat diharapkan bersikap positif. Jadi, pada
prinsipnya belajar itu menyangkut segala aspek organisasi dan tingkah laku
pribadi seseorang. Dalam proses belajar ini membutuhkan kesiapan mental dan
psikis. Proses ini merupakan suatu alat yang digunakan untuk menguasai
matematika
Suherman, dkk
(2003: 15) mengemukakan bahwa istilah matematika berasal dari perkataan latin mathematica,
yang mulanya diambil dari perkataan Yunani, mathematike, yang berarti “relating
to learning”. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti
pengetahuan atau ilmu (knowledge, science).
Perkataan mathematike berhubungan sangat erat dengan sebuah kata lainnya
yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar (berpikir).
Jadi berdasarkan etimologis, Tinggih (Suherman, dkk, 2003: 16) mengemukakan
bahwa matematika berarti “ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”.
Sedangkan Ruseffendi (Suherman, dkk, 2003: 16) mengemukakan bahwa matematika
terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses
dan penalaran.
Kemudian Kline
(Suherman, dkk, 2003: 17) dalam bukunya mengatakan pula bahwa matematika itu
bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri,
tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan
menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam. Lalu Reys,dkk.(Suherman, dkk,
2003:17) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola
dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa, dan
suatu alat. Jadi matematika adalah suatu pola berpikir, suatu bahasa atau suatu
alat untuk memperoleh pengetahuan dalam memahami permasalahan yang terjadi di
alam. Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakan bahwa belajar matematika pada
hakekatnya adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan dalam memahami arti
dari struktur-struktur, hubungan-hubungan, simbol-simbol yang ada dalam materi
pelajaran matematika sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku pada diri
siswa.
2. Hasil belajar matematika.
Hasil belajar
adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keberhasilan yang
dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha tertentu. Hasil belajar
merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan mengajar. Dalam hal ini hasil belajar yang dicapai siswa dalam bidang studi
tertentu setelah mengikuti proses belajar mengajar.
Hasil belajar matematika yang dimaksudkan dalam tulisan
ini adalah tingkat keberhasilan siswa menguasai bahan pelajaran matematika
setelah memperoleh pengalaman belajar matematika dalam suatu kurun waktu
tertentu.
Salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana tingkat
keberhasilan siswa dalam usaha belajarnya adalah dengan menggunakan alat ukur.
Alat ukur yang biasa digunakan adalah tes. Hasil pengukuran dengan memakai tes merupakan indikator
keberhasilan siswa yang dicapai dalam belajarnya.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama
yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor dari luar diri siswa atau
faktor lingkungan. Faktor
yang datang dari dalam diri siswa terutama terutama kemampuan yang dimilikinya.
Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang
dicapai. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, juga ada faktor lain,
seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar,
ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan lain-lain.
3. Pembelajaran
Matematika
Dalam arti sempit
pembelajaran merupakan pendidikan
dalam lingkup persekolahan, sedangkan arti dari
pembelajaran itu sendiri merupakan
sosialisasi siswa dengan lingkungan sekolah seperti guru, sumber/fasilitas,
dan teman-teman sesama siswa. Berikut ini (Haling, 2004: 9) ada beberapa
pendapat tentang pembelajaran:
a)
Degeng dan Miarso, pembelajaran
adalah suatu yang dilaksanakan secara sistematik dimana setiap komponen
saling berpengaruh.
b)
Gagne, pembelajaran adalah
usaha guru yang bertujuan untuk menolong siswa belajar, dimana pembelajaran
merupakan seperangkat peristiwa yang mempengaruhi terjadinya belajar siswa.
c)
AECT, pembelajaran adalah
suatu dimana lingkungan seseorang secara
sengaja dikelola untuk memungkinkan terjadinya belajar siswa.
d)
JICA, pembelajaran merupakan
upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan
berkembang secara optimal.
Menurut kamus umum bahasa Indonesia, pembelajaran merupakan
jalannya kegiatan belajar siswa dan mengajar guru. Suatu pembelajaran akan
berdaya guna bila guru menggunakan berbagai prinsip termasuk menumbuhkan adanya
saling percaya antara guru dan anak didik, terutama memperhatikan kebutuhan
individu anak didik agar tak mengganggu belajarnya. Pada dasarnya pembelajaran dilangsungkan untuk mencapai
tujuan pendidikan dan hal ini bisa terlaksana dengan baik jika didukung oleh
empat unsur yaitu tujuan, bahan pelajaran, metode, alat (media), dan penilaian.
Dengan demikian pengertian pembelajaran dalam konteks
matematika merupakan berlangsungnya kegiatan belajar dan mengajar matematika
yang saling berpengaruh untuk mencapai tujuan pendidikan.
4.
Pengertian Problem
posing.
Problem posing berasal dari istilah bahasa Inggris yang berarti
pengajuan masalah. Banyak para ahli merumuskan pengertian problem
posing yang berbeda antara satu dengan yang
lainnya. Suryanto (Upu, 2003: 16) mengartikan kata problem sebagai masalah atau soal, sehingga pengajaran masalah
matematika dipandang sebagai suatu tindakan merumuskan masalah atau soal dari
situasi yang diberikan. Silver (Upu, 2003: 16) mengemukakan bahwa problem posing adalah suatu usaha
mengajukan masalah baru dari situasi atau pengalaman yang telah dimiliki oleh
siswa. Lain halnya dengan Nixon(Yuliani, 2005) yang mengemukakan bahwa “Problem
Posing is a tool for developing and strengthening critical thinking skills”. Nixon menyadari bahwa dengan adanya
pendekatan problem posing maka siswa dilatih untuk mengembangkan
pikirannya sehingga setiap masalah matematika yang dihadapi oleh siswa tersebut
dapat diselesaikannya sendiri.
Menurut Silver (Upu,
2003 : 17) bahwa dalam pustaka pendidikan matematika, pengajuan masalah matematika mempunyai 3
pengertian. Pertama, pengajuan masalah matematika sederhana atau perumusan ulang
masalah yang telah diberikan dengan beberapa cara dalam rangka menyelesaikan
masalah yang rumit. Kedua, pengajuan masalah adalah perumusan masalah
matematika yang berkaitan dengan syarat-syarat pada masalah yang telah
dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan masalah yang relevan.
Ketiga, pengajuan masalah adalah merumuskan atau mengajukan masalah dari
situasi yang diberikan, baik diajukan sebelum, pada saat atau sesudah pemecahan
masalah. Pengertian ketiga ini merupakan salah satu landasan yang digunakan
oleh peneliti dalam mengembangkan pendekatan pengajuan masalah dalam
pembelajaran matematika.
Pengajuan masalah matematika menurut
Silver et.al. (Upu, 2003) dalam penelitiannya menemukan bahwa pengajuan masalah matematika merupakan suatu
aktivitas dengan dua pengertian yang
berbeda, yaitu : (1) Proses mengembangkan masalah matematika yang baru
oleh siswa berdasarkan situasi yang ada dan (2) Proses memformulasikan kembali
masalah matematika dengan kata-kata siswa sendiri berdasarkan situasi yang
diberikan. Dengan demikian, masalah matematika yang diajukan siswa mengacu kepada situasi yang telah disiapkan
guru.
Pengajuan masalah matematika menurut
Brown dan Walter (Upu, 2003) terdiri atas
dua aspek penting, yaitu accepting
dan challenging. Accepting berkaitan dengan
kemampuan siswa memahami situasi yang diberikan oleh guru atau situasi yang
telah ditentukan. Sementara challenging berkaitan
dengan sejauhmana siswa tertantang dari situasi yang telah diberikan sehingga
melahirkan kemampuan untuk mengajukan masalah atau soal matematika.
Dari beberapa pengertian diatas, maka
dapat dikatakan bahwa pengajuan masalah matematika merupaka reaksi siswa terhadap
situasi yang telah disediakan oleh guru. Reaksi tersebut berupa respon dalam
bentuk pernyataan, pertanyaan matematika atau non matematika, terlepas dari
apakah pertanyaan tersebut dapat dipecahkan atau tidak. Pertanyaan matematika
tersebut mungkin berkaitan dengan situasi yang diberikan atau merupakan
pengembangan dari situasi lain. Dengan demikian, terdapat 3 unsur penting yang
terkait dengan pembelajaran dengan pendekatan pengajuan masalah, yaitu (1)
situasi masalah, (2) Pengajuan masalah dan (3) Pemecahan masalah (Upu 2003)
5.
Pendekatan Problem posing .
Dalam
proses pembelajaran matematika, problem posing dapat dipandang sebagai
pendekatan atau tujuan (Upu, 2003 : 15). Sebagai suatu pendekatan, problem posing berkaitan dengan
kemampuan guru memotivasi siswa melalui perumusan situasi yang menantang,
sehingga dapat mengajukan pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan dan
berakibat kepada peningkatan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah. Sementara
itu, sebagai suatu tujuan, Problem posing
berhubungan dengan kompleksitas dan
kualitas masalah matematika yang diajukan oleh siswa berdasarkan situasi yang
diberikan oleh guru.
Pendekatan
problem posing merupakan salah satu
pendekatan pembelajaran yang dalam proses kegiatannya membangun struktur
kognitif siswa. Proses ini dilakukan dengan cara mengaitkan skemata yang
dimilikinya. Pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan problem posing merupakan suatu pendekatan yang efektif karena
kegiatan problem posing itu sesuai dengan pola pikir matematis dalam
arti pengembangan matematika sering terjadi dari problem posing. Dalam problem posing, relasi yang dihidupkan
bukanlah monolog, melainkan dialog. Dalam relasi ini, para siswa tidak
diperlakukan sebagai obyek, dan guru tidak diakui sebagai satu-satunya subyek.
Keduanya memiliki posisi yang sejajar. Guru hanya bertindak sebagai
fasilitator.
Pendekatan pembelajaran matematika
adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar bahan
pelajaran yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Ada dua jenis
pendekatan dalam pembelajaran matematika, yaitu pendekatan yang bersifat metodologi
dan pendekatan yang bersifat material. Pendekatan yang bersifat metodologi
berkenaan denngan cara siswa mengadaptasi konsep yang disajikan dalam struktur
kognitifnya, yang sejalan dengan cara guru menyajikan bahan tersebut. Sedangkan
pendekatan bersifat material berupa pendekatan pembelajaran matematika dimana
dalam menyajikan konsep matematika melalui konsep matematika lain yang telah
dimiliki oleh siswa. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengakifkan
siswa dalam proses belajar mengajar adalah dengan menggunakan pendekatan problem posing atau yang dikenal dengan
pendekatan pengajuan masalah.
Pendekatan pengajuan masalah
matematika ini berbeda dengan pendekatan lain. Jika dalam pendekatan lain guru
secara dominan menyajikan masalah, soal atau pertanyaan matematika, maka pada
pendekatan pengajuan masalah siswa hanya disiapkan situasi. selanjutnya, dari
situasi tersebut siswa mengajukan masalah atau soal sesuai dengan tingkat
kemampuan pemahaman mereka. Kemampuan pemahaman dalam hal ini meliputi kemampuan
pemahaman matematika dasar, kemampuan semantik dan kemampuan sintaksis.
6.
Pedoman Pembelajaran dengan pendekatan problem posing.
Seperti halnya pendekatan lain, pendekatan problem posing juga mempunyai pedoman
dalam pelaksanaannya. Pedoman itu berkaitan dengan guru dan siswa seperti yang
dikemukakan oleh Suryanto (Upu, 2003: 25-26) yang dalam hal ini meliputi:
a. Petunjuk Pembelajaran yang
Berkaitan dengan Guru.
1)
Guru hendaknya selalu
memotivasi siswa untuk mengajukan atau memperluas masalah matematika yang ada
pada buku paket matematika.
2)
Guru
hendaknya menyediakan beberapa situasi matematika yang berbeda-beda berupa
informasi tertulis, benda manipulatif, gambar, atau yang lainnya.
3)
Selanjutnya
guru melatih siswa merumuskan dan mengajukan masalah, soal pertanyaan
matematika berdasarkan situasi yang diberikan.
4)
Guru dapat menawarkan masalah,
soal atau pertanyaan matematika yang berbentuk open ended.
5)
Guru memberikan contoh cara
merumuskan dan mengajukan masalah matematika dengan beberapa tingkat kesukaran,
yang berkaitan dengan isi matematika maupun kesulitan bahasanya.
6)
Guru menyelenggarakan reciprocal teaching, yaitu pelajaran
yang berbentuk dialog antara guru dan siswa mengenai materi pelajaran dengan
cara menggilir siswa berperan sebagai guru.
b. Petunjuk Pembelajaran yang
Berkaitan dengan Siswa
1)
Siswa diberi motivasi untuk
merumuskan dan mengajukan sebanyak-banyaknya masalah, soal, atau pertanyaan
matematika berdasarkan situasi yang telah diberikan.
2)
Siswa dibiasakan mengubah dan
memvariasikan situasi yang diberikan menjadi masalah, soal atau pertanyaan
matematika yang baru sebelum mereka menyelesaikannya.
3)
Siswa dibiasakan untuk
merumuskan dan mengajukan masalah, soal atau pertanyaan matematika serupa atau
sejenis, setelah menyelesaikan masalah atau soal tersebut.
4)
Siswa harus diberanikan untuk
menyelesaikan masalah, soal atau pertanyaan yang dirumuskan oleh temannya
sendiri.
5)
Siswa diberi motivasi untuk
menyelesaikan masalah, soal atau pertanyaan non rutin.
Dalam mengajukan
masalah, Silver dan Cai (Upu, 2003: 27) membagi dalam tiga bagian yaitu:
a.
Pertanyaan
matematika adalah pertanyaan yang mengandung masalah matematika dan mempunyai
kaitan dengan informasi yang ada pada situasi tersebut. Pertanyaan matematika terbagi dalam dua bagian yaitu:
1)
Pertanyaan matematika yang dapat
diselesaikan
Suatu pertanyaan matematika dikatakan
dapat diselesaikan jika memuat informasi yang cukup dari situasi yang ada untuk
diselesaikan. Jenis pertanyaan ini dibedakan lagi menjadi dua bagian yaitu
pertanyaan matematika yang memuat informasi baru dan pertanyaan matematika yang
tidak memuat informasi baru.
2)
Pertanyaan matematika yang
tidak dapat diselesaikan
Pertanyaan matematika yang tidak dapat
diselesaikan adalah pertanyaan yang tidak memuat informasi yang cukup dari
situasi yang ada untuk diselesaikan. Pertanyaan matematika yang tidak dapat
diselesaikan dapat juga berarti memiliki tujuan yang tidak sesuai dengan
informasi yang ada.
b.
Pertanyaan non matematika
adalah pertanyaan yang tidak mengandung masalah matematika dan tidak mempunyai
kaitan atau hubungan dengan situasi atau informasi yang diberikan.
c.
Pernyataan adalah jenis respon
dari siswa yang tidak mengandung kalimat pertanyaan yang mengarah kepada
matematika.
Selanjutnya menurut Silver dan Cai (Upu, 2004: 81)
mengemukakan bahwa jenis kesukaran pertanyaan matematika yang diajukan oleh
siswa dikelompokkan dalam dua kategori. Pertama, berkaitan dengan struktur
bahasa atau sintaksis. Jenis kesukaran ini dapat dilihat melalui proposisi yang
terkandung pada masalah atau soal yang diajukan oleh siswa. Proposisi tersebut
dibedakan atas tiga bagian, yaitu penugasan (assignment), hubungan (relation)
dan pengandaian (conditional).
Sedangkan jenis kesukaran yang kedua berkaitan dengan
struktur matematika atau semantik. Kesukaran jenis kedua tersebut dapat
dianalisis dengan cara memperhatikan hubungan struktur semantik yang dapat
dibedakan dalam lima kategori, yaitu mengubah (change), mengelompokkan (group),
membandingkan (compare), menyatakan
kembali (restate), dan menvariasikan
(vary). Melalui struktur dan kategori
semantik tersebut, maka masalah atau soal yang dirumuskan dan diajukan oleh
siswa diklasifikasikan menurut banyaknya hubungan semantik.
B. Hipotesis Tindakan.
Berdasarkan
kerangka teoritik diatas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “bila
dilakukan pembelajaran dengan pendekatan problem
posing dalam pembelajaran Matematika, maka hasil belajar Matematika siswa
SMP Neg. I Bulukumpa kelas IA dapat meningkat.
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
A. Jenis Penelitian.
Penelitian ini merupakan jenis
penelitian tindakan kelas (Classroom
action research) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Tindakan yang
dilaksanakan adalah penerapan pendekatan problem
posing dalam pembelajaran matematika.
B. Tempat dan
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelas
IA SMP Negeri 1 Bulukumpa
pada semester genap dengan subyek siswa sebanyak 33 orang yang terdiri dari
siswa perempuan sebanyak 20 orang dan siswa laki-laki sebanyak 13 orang.
C. Faktor yang
diselidiki.
Untuk menjawab permasalahan di atas,
faktor yang ingin diselidiki adalah:
- Faktor siswa dan prosesnya : Yaitu dengan melihat kesiapan, kesungguhan dan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan problem posing.
- Faktor Output : Yaitu dengan melihat tingkat keberhasilan siswa dengan menggunakan pendekatan problem posing yang diperoleh dari tes setiap akhir siklus.
D. Prosedur Penelitian
Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan selama dua siklus. Tiap
siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Siklus pertama
dilaksanakan selama 7 kali pertemuan dan siklus kedua dilaksanakan 6 kali
petemuan. Selanjutnya diuraikan gambaran kegiatan yang dilakukan masing masing
siklus penelitian.
SIKLUS I
1.
Perencanaan
- Menelaah materi pelajaran Matematika Kelas VII SMP Kurikulum 2004
- Menyusun alokasi waktu penelitian dengan memperhitungkan alokasi waktu yang tersedia dalam GBPP.
- Membuat Rencana Pembelajaran sesuai dengan kurikulum SMP. Dalam pembuatan Rencana pembelajaran ini, akan disusun materi yang akan diajarkan sesuai skenario pembelajaran dengan menerapkan pendekatan problem posing.
- Membuat lembar observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran pada saat pelaksanaan tindakan.
2.
Pelaksanaan tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah guru
menjelaskan sesuai dengan rencana pengajaran, dan mensosialisasikan
pembelajaran matematika dengan pendekatan problem
posing. Pada saat penerapan guru memberikan contoh cara menyusun soal
sesuai dengan situasi yang diberikan. Dalam kegiatan penerapan ini diawali
dengan mengarahkan siswa mengerjakan soal buatan guru. Selanjutnya guru
mengarahkan siswa untuk membuat soal yang mirip (sedikit berbeda) dengan contoh
soal / soal buatan guru, lalu menyelesaikan sendiri soal yang dibuatnya.
3.
Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan proses
observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi
yang telah dibuat serta melaksanakan evaluasi. Selama proses pembelajaran
diadakan pengamatan tentang:
a.
Absensi siswa mengikuti proses
pembelajaran.
b. Kemampuan siswa dalam mengajukan
masalah sendiri.
c. Kemampuan siswa dalam menyelesaikan
masalahnya sendiri maupun siswa yang lain.
d.
Kemampuan siswa dalam
mengajukan masalah dan siswa yang lain menyelesaikannya.
e.
Kemampuan siswa yang aktif
dalam menyelesaikan masalah yang diajukan oleh temannya.
f.
Banyaknya siswa yang aktif
bekerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi.
g.
Kerajinan siswa dalam
mengerjakan seluruh tugas yang telah diberikan oleh guru.
4.
Refleksi
Hasil yang diperoleh dalam tahap observasi selanjutnya
dianalisis sehingga menjadi refleksi atas pelaksanaan tindakan yang telah
dilakukan. Refleksi tersebut selanjutnya didiskusikan dengan dosen pembimbing,
guru pengajar, maupun dengan siswa yang pada akhirnya dibuat rencana kerja
penelitian untuk siklus II. Rencana kerja yang dilaksanakan pada siklus
tersebut merupakan perbaikan pada siklus berikutnya.
SIKLUS II
Secara rinci prosedur penelitian ini dijabarkan sebagai berikut :
1.
Tahap
Perencanaan
Pada tahap ini dirumuskan perencanaan
siklus II sama dengan perencanaan pada siklus I dengan memperhatikan beberapa
kesulitan yang dialami siswa pada siklus I
2.
Tahap
tindakan
Pada siklus II, guru tetap menjelaskan
konsep secara klasikal. Setelah diberikan pertanyaan atau contoh soal, siswa
lalu diarahkan untuk menyusun soal. Pada siklus II ini diadakan perubahan
tindakan yaitu pada cara menjawab pertanyaan. Bila pada siklus I siswa menyusun
dan menjawab sendiri soal yang dibuatnya, maka pada siklus II, siswa menyusun
soal kemudian dijawab oleh teman lainnya.
3.
Tahap
observasi dan Evaluasi
Pada prinsipnya observasi yang
dilakukan hampir sama dengan observasi
yang dilaksanakan sebelumnya, yakni guru memperhatikan dan mencatat temuan
perubahan yang terjadi pada siswa. Serta melaksanakan evaluasi yaitu berupa tes
hasil belajar pada akhir siklus, untuk mengetahui hasil belajar pada siklus II
ini.
4.
Tahap
Refleksi
Refleksi dilakukan pada akhir siklus.
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan lalu dianalisis, demikian
halnya dengan hasil evaluasinya. Dari hasil yang diperoleh penulis dapat
membuat kesimpulan atas penggunaan pendekatan problem posing yang
dilakukan selama dua siklus.
E. Teknik Pengumpulan Data
1.
Sumber data
penelitian ini adalah guru dan siswa.
Data yang diperoleh dari
guru adalah informasi mengenai hasil belajar matematika siswa , pendekatan dan
metode mengajar yang digunakan dalam tiap-tiap pokok bahasan, respon siswa
ketika diberikan soal-soal untuk dikerjakan.
2.
Jenis data:
jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif yang
terdiri dari: tes hasil belajar/tes kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal
yang diberikan, tanggapan siswa, dan lembar observasi.
3.
Cara
pengambilan data:
a.
Data
mengenai hasil belajar siswa diperoleh dari tes hasil belajar Matematika pada
tiap akhir siklus.
b.
Data
tentang situasi belajar mengajar atau proses pembelajaran saat pelaksanaan
tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
c.
Data
mengenai proses pelaksanaan tindakan diperoleh melalui angket yang diberikan
kepada siswa pada akhir siklus II.
F.
Analisis Data Hasil
Penelitian
Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis
secara data kuantitatif dan kualitatif. Untuk analisis data secara kuantitatif
digunakan statistik deskriptif untuk mendeskripsikan hasil belajar matematika responden
penelitian setelah dilakukan pembelajaran melalui latihan dengan menggunakan
pendekatan problem posing. Adapun teknik analisis data kualitatif adalah dengan
menggunakan hasil observasi.
Untuk menentukan
kategori hasil belajar matematika
siswa maka kriteria yang digunakan
adalah pembagian skala lima.
Adapun standar yang digunakan dalam skala lima
menurut ketentuan Departemen pendidikan dan kebudayaan (dalam Yuliani , 2005:
30) yaitu:
1. 0% -
34% dikategorikan sangat rendah
2. 35% -
54% dikategorikan rendah
3. 55% -
64% dikategorikan sedang
4. 65% -
84% dikategorikan tinggi
5. 85% -
100% dikategorikan sangat tinggi.
G. Indikator Keberhasilan
Yang
menjadi indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah bila terjadi
peningkatan skor rata-rata hasil belajar Matematika siswa dari siklus I ke
siklus II secara nyata dan indikator tambahan bila terjadi perubahan sikap
siswa terhadap proses pembelajaran Matematika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar