Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: Meningkatkan Hasil Belajar Matematika melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing Pada Siswa SMP Negeri



BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah.


            Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan suatu bangsa yaitu sistem dan manajemen pendidikan di negara tersebut.  Karena itu dunia pendidikan harus dikelola dengan seefektif mungkin agar mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.
            Pendidikan adalah sebuah sistem yang sangat kompleks dengan keanekaragaman subsistemnya. Subsistem-subsistem tersebut meliputi peserta didik; instrumental input yang terdiri dari kurikulum, sarana, tenaga pengajar (guru), dan strategi belajar mengajar; proses belajar mengajar (PBM); environmental input (lingkungan); dan output (keluaran). Subsistem-subsistem tersebut terkait antara satu dengan yang  lainnya dan membentuk satu kesatuan serta masing-masing memiliki peranan yang penting dalam sistem pendidikan.
            Berbicara mengenai sistem pendidikan, khususnya sistem pendidikan formal, pada hakekatnya tidak terlepas dari pengembangan subsistem-subsistem yang mendukungnya. Dalam upaya mencari alternatif terbaik untuk pengembangan pendidikan di masa yang akan datang, kegagalan-kegagalan dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi di masa lalu dan di masa kini, akan sangat besar peranan dan manfaatnya. Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul dalam dunia pendidikan itu tidak semudah dengan membalikkan telapak tangan, tetapi perlu adanya kerja keras dari pemerintah maupun tenaga pengajar serta peserta didik.
            Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah telah mengeluarkan suatu kebijakan umum tentang perubahan kurikulum baru yang disebut dengan  kurikulum berbasis kompetensi. Hal ini sesuai dengan pendahuluan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (Syaban, 2002: 2) yaitu: agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai standar mutu nasional dan internasional, kurikulum perlu dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi. Hal ini harus dilakukan agar sistem pendidikan nasional dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta tuntutan desentralisasi.
            Kurikulum berbasis kompetensi (Kurikulum 2004) ini adalah kurikulum yang berorientasi pada pembentukan kompetensi kemampuan siswa, sehingga dengan kompetensi yang diperoleh tersebut dapat digunakan baik melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi maupun dalam hidup di masyarakat. Dengan demikian didalam pembelajaran matematika, agar pembelajaran itu lebih bermakna dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka guru dalam mengajarkan matematika harus dikaitkan dalam kehidupan nyata sehingga siswa mampu memahami konsep dan dapat menyelesaikan masalah matematika yang dihadapinya. Pembelajaran seperti ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pendekatan itu antara lain Realistic Mathematics Education (RME), Contecstual Teaching Learning (CTL), Problem Solving dan Problem Posing yang dapat mengajarkan siswa aktif dalam pembelajaran.
            Pemilihan pendekatan yang dapat digunakan guru haruslah tepat, agar dapat menumbuhkan kompetensi siswa dalam belajar matematika. Hal ini tidak lepas dari apa yang dialami oleh siswa SMP Negeri 1 Bulukumpa  khususnya kelas I.A dalam proses pembelajaran matematika di sekolah. SMP Negeri 1 Bulukumpa yang merupakan salah satu lembaga yang berfungsi sebagai tempat pelaksanaan proses belajar mengajar. Setelah diadakan observasi di sekolah tersebut khususnya kelas I.A, ternyata masih mempunyai kendala dalam upaya peningkatan hasil belajar matematika. Hasil ini ditunjukkan dari hasil ujian matematika pada semester ganjil tahun 2005/2006, diperoleh data bahwa dari 33 siswa yang ikut ujian terdapat 12 orang siswa (36,36 %) berada pada kategori sangat rendah, 10 orang siswa (30,30%) berada pada kategori rendah, 4 orang siswa (12,12 %) berada pada kategori sedang dan 7 orang siswa  (21,21 %) berada pada kategori tinggi sedangkan kategori sangat tinggi tidak ada siswa yang mendapatkannya.
            Dengan melihat hasil belajar Matematika siswa tersebut, seharusnya seorang guru dalam proses pembelajaran menggunakan suatu pendekatan yang bisa mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran, khususnya dalam menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru. Salah satu pendekatan yang akan memberikan solusi dalam menyelesaikan masalah yang dialami siswa, dimana siswa kurang mampu dalam menelaah maksud dari masalah yang diberikan oleh guru   adalah dengan menggunakan pendekatan problem posing.
            Pembelajaran dengan pendekatan problem posing memberi kebebasan kepada siswa untuk membuat soal atau pertanyaan sesuai minat mereka, tetapi tetap berkaitan dengan materi pelajaran. Dengan demikian, sikap kritis, rasa ingin tahu dan dan kreatifitas siswa akan tereksplorasi. Sikap kritis dan rasa ingin tahu merupakan sifat alamiah yang dimiliki oleh manusia. Sifat ini menjadi motivator bagi seseorang untuk terus menambah pengetahuan.
            Agar siswa termotivasi untuk belajar mandiri dan sepanjang hayat, maka rasa ingin tahu siswa perlu dibangkitkan dan dikembangkan. Pendekatan problem posing dalam pembelajaran ini dapar melatih siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal yang berkaitan dengan materi yang dipelajari.
Dengan menggunakan pendekatan ini diharapkan memberi kesempatan yang luas kepada siswa untuk aktif belajar dan mengupayakan agar pembelajaran yang terpusat kepada guru (teaching oriented) berubah menjadi terpusat kepada siswa (student oriented).
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis terdorong melakukan penelitian yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing Pada Siswa SMP Negeri I Bulukumpa” dengan mengambil subyek siswa kelas IA SMP Negeri I Bulukumpa yang berjumlah 33 orang.
B.      Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas maka dirumuskan masalah yaitu “Apakah dengan menggunakan pendekatan problem posing dapat meningkatkan hasil belajar Matematika Siswa SMP Neg. I Bulukumpa?"
C.    Cara Pemecahan masalah
Untuk menyelesaikan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka dilakukan tindakan berupa penggunaan pendekatan problem posing dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas IA SMP Negeri I Bulukumpa.
D.  Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.        Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Matematika siswa SMP Negeri I Bulukumpa khususnya kelas IA melalui pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem posing.
2.        Manfaat Penelitian.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
a.       Untuk siswa
1)    Melatih siswa agar mampu memahami soal Matematika yang tersedia, kemudian mengembangkannya menjadi soal-soal lain sebagai dasar pemahaman konsep yang diberikan.
2)     Melatih siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.



b.      Untuk Guru
Melalui penelitian ini, guru dapat mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi, yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran Matematika di kelas.
c.        Untuk Sekolah
Hasil penelitian ini akan memberikan konstribusi dalam rangka memperbaiki pembelajaran Matematika dan meningkatkan kualitas sekolah.
BAB II
KERANGKA TEORITIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kerangka Teoritik
1.      Pengertian belajar matematika
            Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan tersebut nyata dalam aspek tingkah laku. Hudojo(1990 :1) mengemukakan bahwa seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan terjadinya suatu perubahan tingkah laku.
Namun, setiap perubahan dalam diri individu belum tentu   merupakan perubahan dalam arti belajar. Belajar pada manusia merupakan suatu proses psikologis yang berlangsung dalam interaksi aktif subjek dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan perubahan dalam pengetahuan, keterampilan yang bersifat konstan/menetap. Perubahan-perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru yang segera nampak dalam perilaku nyata. W.S Wingkel(Haling, 2004)
Defenisi lain dikemukakan oleh Slameto(1991 : 2) menegaskan bahwa :
“Belajar adalah proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”
Bruner (Slameto, 1991: 12) mengemukakan bahwa belajar tidak untuk merubah tingkah laku seseorang tetapi untuk merubah kurikulum sekolah menjadi sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar lebih banyak dan mudah. Belajar juga bukan hanya merupakan proses dari yang belum tahu menjadi tahu tetapi belajar yang dimaksud oleh Bruner yaitu belajar yang dapat memberikan lebih banyak ilmu dan mudah dipelajari oleh siswa.
            Beberapa ahli lainnya juga berpendapat lain tentang pengertian belajar yaitu:
a.              Skinner (Dimyati, 1999: 9) berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik, begitupun sebaliknya.
b.             Pada masalah belajar, Gagne (Slameto, 1991: 15) memberikan dua definisi, yaitu:
1)       Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam    pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.
2)       Belajar adalah pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.
Dari berbagai pendapat tentang pengertian belajar diatas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang disengaja dan bertujuan sehingga memunculkan perubahan-perubahan tingkah laku dan aspek-aspek kepribadian pada orang yang belajar sebagai akibat interaksi dengan individu dan lingkungannya. Perubahan tingkah laku dari hasil belajar dapat diharapkan bersikap positif. Jadi, pada prinsipnya belajar itu menyangkut segala aspek organisasi dan tingkah laku pribadi seseorang. Dalam proses belajar ini membutuhkan kesiapan mental dan psikis. Proses ini merupakan suatu alat yang digunakan untuk menguasai matematika
Suherman, dkk (2003: 15) mengemukakan bahwa istilah matematika berasal dari perkataan latin mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan Yunani, mathematike, yang berarti “relating to learning”. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge, science). Perkataan mathematike berhubungan sangat erat dengan sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar (berpikir). Jadi berdasarkan etimologis, Tinggih (Suherman, dkk, 2003: 16) mengemukakan bahwa matematika berarti “ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”. Sedangkan Ruseffendi (Suherman, dkk, 2003: 16) mengemukakan bahwa matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran.
Kemudian Kline (Suherman, dkk, 2003: 17) dalam bukunya mengatakan pula bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam. Lalu Reys,dkk.(Suherman, dkk, 2003:17) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat. Jadi matematika adalah suatu pola berpikir, suatu bahasa atau suatu alat untuk memperoleh pengetahuan dalam memahami permasalahan yang terjadi di alam. Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakan bahwa belajar matematika pada hakekatnya adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan dalam memahami arti dari struktur-struktur, hubungan-hubungan, simbol-simbol yang ada dalam materi pelajaran matematika sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku pada diri siswa.
2.    Hasil belajar matematika.
Hasil belajar adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha tertentu. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan mengajar. Dalam hal ini hasil belajar yang dicapai siswa dalam bidang studi tertentu setelah mengikuti proses belajar mengajar.
Hasil belajar matematika yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah tingkat keberhasilan siswa menguasai bahan pelajaran matematika setelah memperoleh pengalaman belajar matematika dalam suatu kurun waktu tertentu.
Salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam usaha belajarnya adalah dengan menggunakan alat ukur. Alat ukur yang biasa digunakan adalah tes. Hasil pengukuran  dengan memakai tes merupakan indikator keberhasilan siswa yang dicapai dalam belajarnya.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari dalam diri siswa terutama terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan lain-lain.
3. Pembelajaran Matematika
Dalam arti sempit  pembelajaran merupakan  pendidikan dalam lingkup persekolahan, sedangkan arti dari  pembelajaran itu sendiri merupakan  sosialisasi siswa dengan lingkungan sekolah seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman-teman sesama siswa. Berikut ini (Haling, 2004: 9) ada beberapa pendapat tentang pembelajaran:
a)      Degeng dan Miarso, pembelajaran adalah suatu  yang dilaksanakan  secara sistematik dimana setiap komponen saling berpengaruh.
b)      Gagne, pembelajaran adalah usaha guru yang bertujuan untuk menolong siswa belajar, dimana pembelajaran merupakan seperangkat peristiwa yang mempengaruhi terjadinya belajar siswa.
c)      AECT, pembelajaran adalah suatu  dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan terjadinya belajar siswa.
d)     JICA, pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.
Menurut kamus umum bahasa Indonesia, pembelajaran merupakan jalannya kegiatan belajar siswa dan mengajar guru. Suatu pembelajaran akan berdaya guna bila guru menggunakan berbagai prinsip termasuk menumbuhkan adanya saling percaya antara guru dan anak didik, terutama memperhatikan kebutuhan individu anak didik agar tak mengganggu belajarnya. Pada dasarnya  pembelajaran dilangsungkan untuk mencapai tujuan pendidikan dan hal ini bisa terlaksana dengan baik jika didukung oleh empat unsur yaitu tujuan, bahan pelajaran, metode, alat (media), dan penilaian.
Dengan demikian pengertian pembelajaran dalam konteks matematika merupakan berlangsungnya kegiatan belajar dan mengajar matematika yang saling berpengaruh untuk mencapai tujuan pendidikan.
4.        Pengertian Problem posing. 
Problem posing berasal dari istilah bahasa Inggris yang berarti pengajuan masalah. Banyak para ahli merumuskan pengertian problem posing yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Suryanto (Upu, 2003: 16) mengartikan kata problem sebagai masalah atau soal, sehingga pengajaran masalah matematika dipandang sebagai suatu tindakan merumuskan masalah atau soal dari situasi yang diberikan. Silver (Upu, 2003: 16) mengemukakan bahwa problem posing adalah suatu usaha mengajukan masalah baru dari situasi atau pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa. Lain halnya dengan Nixon(Yuliani, 2005) yang mengemukakan bahwa “Problem Posing is a tool for developing and strengthening critical thinking skills”. Nixon menyadari bahwa dengan adanya pendekatan problem posing maka siswa dilatih untuk mengembangkan pikirannya sehingga setiap masalah matematika yang dihadapi oleh siswa tersebut dapat diselesaikannya sendiri.
Menurut Silver (Upu, 2003 : 17) bahwa dalam pustaka pendidikan matematika, pengajuan masalah matematika mempunyai 3 pengertian. Pertama, pengajuan masalah matematika sederhana atau perumusan ulang masalah yang telah diberikan dengan beberapa cara dalam rangka menyelesaikan masalah yang rumit. Kedua, pengajuan masalah adalah perumusan masalah matematika yang berkaitan dengan syarat-syarat pada masalah yang telah dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan masalah yang relevan. Ketiga, pengajuan masalah adalah merumuskan atau mengajukan masalah dari situasi yang diberikan, baik diajukan sebelum, pada saat atau sesudah pemecahan masalah. Pengertian ketiga ini merupakan salah satu landasan yang digunakan oleh peneliti dalam mengembangkan pendekatan pengajuan masalah dalam pembelajaran matematika.
Pengajuan masalah matematika menurut Silver et.al. (Upu, 2003) dalam penelitiannya menemukan bahwa  pengajuan masalah matematika merupakan suatu aktivitas dengan dua pengertian yang  berbeda, yaitu : (1) Proses mengembangkan masalah matematika yang baru oleh siswa berdasarkan situasi yang ada dan (2) Proses memformulasikan kembali masalah matematika dengan kata-kata siswa sendiri berdasarkan situasi yang diberikan. Dengan demikian, masalah matematika yang diajukan siswa  mengacu kepada situasi yang telah disiapkan guru.
Pengajuan masalah matematika menurut Brown dan Walter (Upu, 2003) terdiri atas  dua aspek penting, yaitu accepting dan challenging. Accepting  berkaitan dengan kemampuan siswa memahami situasi yang diberikan oleh guru atau situasi yang telah ditentukan. Sementara challenging berkaitan dengan sejauhmana siswa tertantang dari situasi yang telah diberikan sehingga melahirkan kemampuan untuk mengajukan masalah atau soal matematika.
Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat dikatakan bahwa pengajuan masalah matematika merupaka reaksi siswa terhadap situasi yang telah disediakan oleh guru. Reaksi tersebut berupa respon dalam bentuk pernyataan, pertanyaan matematika atau non matematika, terlepas dari apakah pertanyaan tersebut dapat dipecahkan atau tidak. Pertanyaan matematika tersebut mungkin berkaitan dengan situasi yang diberikan atau merupakan pengembangan dari situasi lain. Dengan demikian, terdapat 3 unsur penting yang terkait dengan pembelajaran dengan pendekatan pengajuan masalah, yaitu (1) situasi masalah, (2) Pengajuan masalah dan (3) Pemecahan masalah (Upu 2003)
5.      Pendekatan Problem posing .
Dalam proses pembelajaran matematika, problem posing dapat dipandang sebagai pendekatan atau tujuan (Upu, 2003 : 15). Sebagai suatu pendekatan, problem posing berkaitan dengan kemampuan guru memotivasi siswa melalui perumusan situasi yang menantang, sehingga dapat mengajukan pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan dan berakibat kepada peningkatan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah. Sementara itu, sebagai suatu tujuan, Problem posing  berhubungan dengan kompleksitas dan kualitas masalah matematika yang diajukan oleh siswa berdasarkan situasi yang diberikan oleh guru.
Pendekatan problem posing merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dalam proses kegiatannya membangun struktur kognitif siswa. Proses ini dilakukan dengan cara mengaitkan skemata yang dimilikinya. Pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan problem posing  merupakan suatu pendekatan yang efektif karena kegiatan problem posing  itu sesuai dengan pola pikir matematis dalam arti pengembangan matematika sering terjadi dari problem posing.  Dalam problem posing, relasi yang dihidupkan bukanlah monolog, melainkan dialog. Dalam relasi ini, para siswa tidak diperlakukan sebagai obyek, dan guru tidak diakui sebagai satu-satunya subyek. Keduanya memiliki posisi yang sejajar. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator.
Pendekatan pembelajaran matematika adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar bahan pelajaran yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Ada dua jenis pendekatan dalam pembelajaran matematika, yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan pendekatan yang bersifat material. Pendekatan yang bersifat metodologi berkenaan denngan cara siswa mengadaptasi konsep yang disajikan dalam struktur kognitifnya, yang sejalan dengan cara guru menyajikan bahan tersebut. Sedangkan pendekatan bersifat material berupa pendekatan pembelajaran matematika dimana dalam menyajikan konsep matematika melalui konsep matematika lain yang telah dimiliki oleh siswa. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengakifkan siswa dalam proses belajar mengajar adalah dengan menggunakan pendekatan problem posing atau yang dikenal dengan pendekatan pengajuan masalah.
Pendekatan pengajuan masalah matematika ini berbeda dengan pendekatan lain. Jika dalam pendekatan lain guru secara dominan menyajikan masalah, soal atau pertanyaan matematika, maka pada pendekatan pengajuan masalah siswa hanya disiapkan situasi. selanjutnya, dari situasi tersebut siswa mengajukan masalah atau soal sesuai dengan tingkat kemampuan pemahaman mereka. Kemampuan pemahaman dalam hal ini meliputi kemampuan pemahaman matematika dasar, kemampuan semantik dan kemampuan sintaksis.
6.      Pedoman Pembelajaran dengan pendekatan problem posing.
Seperti halnya pendekatan lain, pendekatan problem posing juga mempunyai pedoman dalam pelaksanaannya. Pedoman itu berkaitan dengan guru dan siswa seperti yang dikemukakan oleh Suryanto (Upu, 2003: 25-26) yang dalam hal ini meliputi:
a.       Petunjuk Pembelajaran yang Berkaitan dengan Guru.
1)           Guru hendaknya selalu memotivasi siswa untuk mengajukan atau memperluas masalah matematika yang ada pada buku paket matematika.
2)           Guru hendaknya menyediakan beberapa situasi matematika yang berbeda-beda berupa informasi tertulis, benda manipulatif, gambar, atau yang lainnya.
3)           Selanjutnya guru melatih siswa merumuskan dan mengajukan masalah, soal pertanyaan matematika berdasarkan situasi yang diberikan.
4)           Guru dapat menawarkan masalah, soal atau pertanyaan matematika yang berbentuk open ended.
5)           Guru memberikan contoh cara merumuskan dan mengajukan masalah matematika dengan beberapa tingkat kesukaran, yang berkaitan dengan isi matematika maupun kesulitan bahasanya.
6)           Guru menyelenggarakan reciprocal teaching, yaitu pelajaran yang berbentuk dialog antara guru dan siswa mengenai materi pelajaran dengan cara menggilir siswa berperan sebagai guru.
b.    Petunjuk Pembelajaran yang Berkaitan dengan Siswa
1)             Siswa diberi motivasi untuk merumuskan dan mengajukan sebanyak-banyaknya masalah, soal, atau pertanyaan matematika berdasarkan situasi yang telah diberikan.
2)             Siswa dibiasakan mengubah dan memvariasikan situasi yang diberikan menjadi masalah, soal atau pertanyaan matematika yang baru sebelum mereka menyelesaikannya.
3)             Siswa dibiasakan untuk merumuskan dan mengajukan masalah, soal atau pertanyaan matematika serupa atau sejenis, setelah menyelesaikan masalah atau soal tersebut.
4)             Siswa harus diberanikan untuk menyelesaikan masalah, soal atau pertanyaan yang dirumuskan oleh temannya sendiri.
5)             Siswa diberi motivasi untuk menyelesaikan masalah, soal atau pertanyaan non rutin.
Dalam mengajukan masalah, Silver dan Cai (Upu, 2003: 27) membagi dalam tiga bagian yaitu:
a.          Pertanyaan matematika adalah pertanyaan yang mengandung masalah matematika dan mempunyai kaitan dengan informasi yang ada pada situasi tersebut. Pertanyaan matematika terbagi dalam dua bagian yaitu:
1)         Pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan
        Suatu pertanyaan matematika dikatakan dapat diselesaikan jika memuat informasi yang cukup dari situasi yang ada untuk diselesaikan. Jenis pertanyaan ini dibedakan lagi menjadi dua bagian yaitu pertanyaan matematika yang memuat informasi baru dan pertanyaan matematika yang tidak memuat informasi baru.
2)       Pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan
Pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan adalah pertanyaan yang tidak memuat informasi yang cukup dari situasi yang ada untuk diselesaikan. Pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan dapat juga berarti memiliki tujuan yang tidak sesuai dengan informasi yang ada.
b.    Pertanyaan non matematika adalah pertanyaan yang tidak mengandung masalah matematika dan tidak mempunyai kaitan atau hubungan dengan situasi atau informasi yang diberikan.
c.    Pernyataan adalah jenis respon dari siswa yang tidak mengandung kalimat pertanyaan yang mengarah kepada matematika.
Selanjutnya menurut Silver dan Cai (Upu, 2004: 81) mengemukakan bahwa jenis kesukaran pertanyaan matematika yang diajukan oleh siswa dikelompokkan dalam dua kategori. Pertama, berkaitan dengan struktur bahasa atau sintaksis. Jenis kesukaran ini dapat dilihat melalui proposisi yang terkandung pada masalah atau soal yang diajukan oleh siswa. Proposisi tersebut dibedakan atas tiga bagian, yaitu penugasan (assignment), hubungan (relation) dan pengandaian (conditional).
Sedangkan jenis kesukaran yang kedua berkaitan dengan struktur matematika atau semantik. Kesukaran jenis kedua tersebut dapat dianalisis dengan cara memperhatikan hubungan struktur semantik yang dapat dibedakan dalam lima kategori, yaitu mengubah (change), mengelompokkan (group), membandingkan (compare), menyatakan kembali (restate), dan menvariasikan (vary). Melalui struktur dan kategori semantik tersebut, maka masalah atau soal yang dirumuskan dan diajukan oleh siswa diklasifikasikan menurut banyaknya hubungan semantik.
B. Hipotesis Tindakan.
Berdasarkan kerangka teoritik diatas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “bila dilakukan pembelajaran dengan pendekatan problem posing dalam pembelajaran Matematika, maka hasil belajar Matematika siswa SMP Neg. I Bulukumpa kelas IA dapat meningkat.
                                                              BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.  Jenis  Penelitian.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (Classroom action research) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Tindakan yang dilaksanakan adalah penerapan pendekatan problem posing dalam pembelajaran matematika.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelas IA SMP  Negeri 1 Bulukumpa pada semester genap dengan subyek siswa sebanyak 33 orang yang terdiri dari siswa perempuan sebanyak 20 orang dan siswa laki-laki sebanyak 13 orang.
C. Faktor yang diselidiki.
Untuk menjawab permasalahan di atas, faktor yang ingin diselidiki adalah:
  1. Faktor siswa dan prosesnya : Yaitu dengan melihat kesiapan, kesungguhan dan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan problem posing.
  2. Faktor Output             : Yaitu dengan melihat tingkat keberhasilan siswa dengan menggunakan pendekatan problem posing yang diperoleh dari tes setiap akhir siklus.

D. Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan selama dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Siklus pertama dilaksanakan selama 7 kali pertemuan dan siklus kedua dilaksanakan 6 kali petemuan. Selanjutnya diuraikan gambaran kegiatan yang dilakukan masing masing siklus penelitian.
SIKLUS I
1.      Perencanaan
  1. Menelaah materi pelajaran Matematika Kelas VII SMP Kurikulum 2004
  2. Menyusun alokasi waktu penelitian dengan memperhitungkan alokasi waktu yang tersedia dalam GBPP.
  3. Membuat Rencana Pembelajaran sesuai dengan kurikulum SMP. Dalam pembuatan Rencana pembelajaran ini, akan disusun materi yang akan diajarkan sesuai skenario pembelajaran dengan menerapkan pendekatan problem posing.
  4. Membuat lembar observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran pada saat pelaksanaan tindakan.
2.      Pelaksanaan tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah guru menjelaskan sesuai dengan rencana pengajaran, dan mensosialisasikan pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing. Pada saat penerapan guru memberikan contoh cara menyusun soal sesuai dengan situasi yang diberikan. Dalam kegiatan penerapan ini diawali dengan mengarahkan siswa mengerjakan soal buatan guru. Selanjutnya guru mengarahkan siswa untuk membuat soal yang mirip (sedikit berbeda) dengan contoh soal / soal buatan guru, lalu menyelesaikan sendiri soal yang dibuatnya.
3.      Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakan evaluasi. Selama proses pembelajaran diadakan pengamatan tentang:
a.      Absensi siswa mengikuti proses pembelajaran.
b.     Kemampuan siswa dalam mengajukan masalah sendiri.
c.      Kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalahnya sendiri maupun siswa yang lain.
d.     Kemampuan siswa dalam mengajukan masalah dan siswa yang lain menyelesaikannya.
e.      Kemampuan siswa yang aktif dalam menyelesaikan masalah yang diajukan oleh temannya.
f.      Banyaknya siswa yang aktif bekerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi.
g.     Kerajinan siswa dalam mengerjakan seluruh tugas yang telah diberikan oleh guru.


4.      Refleksi
Hasil yang diperoleh dalam tahap observasi selanjutnya dianalisis sehingga menjadi refleksi atas pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan. Refleksi tersebut selanjutnya didiskusikan dengan dosen pembimbing, guru pengajar, maupun dengan siswa yang pada akhirnya dibuat rencana kerja penelitian untuk siklus II. Rencana kerja yang dilaksanakan pada siklus tersebut merupakan perbaikan pada siklus berikutnya.
SIKLUS II
Secara rinci prosedur penelitian ini dijabarkan sebagai berikut :
1.         Tahap Perencanaan
Pada tahap ini dirumuskan perencanaan siklus II sama dengan perencanaan pada siklus I dengan memperhatikan beberapa kesulitan yang dialami siswa pada siklus I
2.         Tahap tindakan
Pada siklus II, guru tetap menjelaskan konsep secara klasikal. Setelah diberikan pertanyaan atau contoh soal, siswa lalu diarahkan untuk menyusun soal. Pada siklus II ini diadakan perubahan tindakan yaitu pada cara menjawab pertanyaan. Bila pada siklus I siswa menyusun dan menjawab sendiri soal yang dibuatnya, maka pada siklus II, siswa menyusun soal kemudian dijawab oleh teman lainnya.
3.         Tahap observasi dan Evaluasi
Pada prinsipnya observasi yang dilakukan hampir sama  dengan observasi yang dilaksanakan sebelumnya, yakni guru memperhatikan dan mencatat temuan perubahan yang terjadi pada siswa. Serta melaksanakan evaluasi yaitu berupa tes hasil belajar pada akhir siklus, untuk mengetahui hasil belajar pada siklus II ini.
4.         Tahap Refleksi
Refleksi dilakukan pada akhir siklus. Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan lalu dianalisis, demikian halnya dengan hasil evaluasinya. Dari hasil yang diperoleh penulis dapat membuat kesimpulan atas penggunaan pendekatan problem posing yang  dilakukan selama dua siklus.
E.          Teknik Pengumpulan Data
1.          Sumber data penelitian ini adalah guru dan siswa.
Data yang diperoleh dari guru adalah informasi mengenai hasil belajar matematika siswa , pendekatan dan metode mengajar yang digunakan dalam tiap-tiap pokok bahasan, respon siswa ketika diberikan soal-soal untuk dikerjakan.
2.          Jenis data: jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif yang terdiri dari: tes hasil belajar/tes kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal yang diberikan, tanggapan siswa, dan lembar observasi.
3.          Cara pengambilan data:
a.           Data mengenai hasil belajar siswa diperoleh dari tes hasil belajar Matematika pada tiap akhir siklus.
b.          Data tentang situasi belajar mengajar atau proses pembelajaran saat pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
c.           Data mengenai proses pelaksanaan tindakan diperoleh melalui angket yang diberikan kepada siswa pada akhir siklus II.
F.       Analisis Data Hasil Penelitian
Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara data kuantitatif dan kualitatif. Untuk analisis data secara kuantitatif digunakan statistik deskriptif untuk mendeskripsikan hasil belajar matematika responden penelitian setelah dilakukan pembelajaran melalui latihan dengan menggunakan pendekatan problem posing. Adapun teknik analisis data kualitatif adalah dengan menggunakan hasil observasi.
Untuk menentukan kategori  hasil belajar matematika siswa  maka kriteria yang digunakan adalah pembagian skala lima. Adapun standar yang digunakan dalam skala lima menurut ketentuan Departemen pendidikan dan kebudayaan (dalam Yuliani , 2005: 30) yaitu:
1. 0% - 34% dikategorikan sangat rendah
2. 35% - 54% dikategorikan rendah
3. 55% - 64% dikategorikan sedang
4. 65% - 84% dikategorikan tinggi
5. 85% - 100% dikategorikan sangat tinggi.

G.   Indikator Keberhasilan

            Yang menjadi indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah bila terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar Matematika siswa dari siklus I ke siklus II secara nyata dan indikator tambahan bila terjadi perubahan sikap siswa terhadap proses pembelajaran Matematika.
 














Tidak ada komentar:

Posting Komentar