Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: Komparasi Hasil Belajar Matematika Antara Siswa Yang Diajar Dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray Dan Make A Match Pada Kelas X SMA Negeri 1 Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, pendidikan merupakan sesuatu yang penting karena pendidikan merupakan salah satu penentu sumber daya manusia (SDM) . Dewasa ini, keunggulan suatu bangsa tidak lagi ditandai dengan melimpahnya kekayaan alam, tetapi pada keunggulan sumber daya manusianya. Artinya, mutu sumber daya manusia (SDM) sejalan dengan mutu pendidikan yang eksis ditengah bangsa tersebut. Pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih diarahkan pada kepentingan penyediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga pembangunan dapat dilakukan secara terus-menerus.
Ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut manusia untuk berpikir logis, kritis, dan ilmiah. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berhubungan tidak langsung dengan landasan berpikir matematika yang berfungsi sebagai sarana berpikir ilmiah dan meningkatkan kemampuan berpikir logis dikalangan siswa. Oleh karena itu, matematika ikut berperan penting terhadap proses perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.
1
 
Namun, kecenderungan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi ini menegaskan bahwa ada yang salah dalam pola pembangunan SDM selama ini, yaitu terlalu mengedepankan IQ (Intelligence Quotient) atau kecerdasan intelektual dengan cenderung mengabaikan kecerdasan Emosional atau EQ (Emotional Quotient) dan kecerdasan Spiritual atau SQ (Spiritual Quotient). Pendidikan di Indonesia saat ini masih lebih menghargai kecerdasan intelektual daripada kecerdasan-kecerdasan lainnya. Siswa lebih sering dites IQ, namun tidak pernah diberi tes-tes kecerdasan yang lainnya seperti kecerdasan emosional (EQ) maupun kecerdasan spiritual (SQ). Pendidikan seharusnya diterapkan secara seimbang dengan memperhatikan dan memberi penekanan yang sama kepada IQ, EQ, dan SQ.
Hal ini didasarkan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, tetapi malah lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengendalikan dan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. Sedangkan, kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang berhubungan erat dengan bagaimana menghadapi persoalan makna hidup atau bagaimana hidup menjadi lebih bermakna. Oleh sebab itu, Danah Zohar dan Ian Marshal (Ginanjar, 2007:13) mengatakan bahwa “SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif”.
Kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional sangat berperan penting dalam membantu guru dan siswa untuk mencapai keberhasilan dalam hidupnya di bidang apa pun yang positif.  Sebab, orang tersebut akan berusaha menjalani hidupnya dengan penuh makna, mengefektifkan kerja IQ dengan baik, dan mengelola emosinya dengan baik. Bahkan, manusia akan mampu untuk bereksistensi yang akhirnya manusia mampu berkomunikasi dengan dunia objektif sehingga memiliki kemampuan kritis dalam kehidupannya.
Berdasarkan observasi yang dilakukan penulis pada tanggal 27 september 2011 di SMP Negeri 3 Sungguminasa diperoleh informasi dari guru kelas VIII bahwa pada umumnya remaja memiliki banyak problem dalam hidupnya. Mereka lebih sering bingung dan belum dapat menghadapi masalah-masalah dengan baik. Perasaan-perasaan belum mengerti, kesunyian, menentang orang tua dan mengasingkan diri dari pergaulan. selain itu, siswa merasa diperbudak oleh kegiatan-kegiatannya, merasa gelisah dan tidak siap dalam melakukan kegiatan baik dalam hal belajar maupun yang lainnya. Hal ini berakibat pada keberhasilan siswa dalam proses belajarnya yang hanya mencapai rata-rata 60,9 dengan simpangan baku 13,69 masih sangat jauh dari kriteria ketuntasan yang ditetapkan di sekolah itu yaitu 75 dari skor ideal 100.
Kecerdasan emosional (EQ) akan mampu membuat peserta didik bersemangat tinggi dalam belajar, memiliki motivasi dan kepercayaan diri yang tinggi, serta mampu berkomunikasi dengan baik dengan temannya. Sedangkan kecerdasan spiritual (SQ) memungkinkan siswa menjadi kreatif, memberi rasa moral dalam pergaulan dan sikapnya sehari-hari serta memberikan makna positif terhadap apa yang telah dipelajari atau dilakukan. Dengan demikian, akan muncul semangat untuk meraih hasil belajar yang tinggi.
Berdasarkan uraian di atas penulis ingin menyelidiki “Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SMP Negeri 3 Sungguminasa Kabupaten Gowa”.


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1.    Apakah Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa?
2.    Apakah Kecerdasan Emosional berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa?
3.    Apakah Kecerdasan Spiritual berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa?
C.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.    Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual terhadap hasil belajar matematika siswa.
2.    Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional terhadap hasil belajar matematika siswa.
3.    Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan spiritual terhadap hasil belajar matematika siswa.
D.    Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah
1.    Untuk memberikan informasi tentang pengaruh kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual terhadap hasil belajar matematika siswa.
2.    Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti-peneliti yang relevan dengan penelitian ini serta dapat memberikan informasi yang beragam untuk penelitian selanjutnya.



BAB II
KAJIAN TEORITIK DAN HIPOTESIS
1.    Kajian Teoritik
a.        Pengertian  Kecerdasan
Membahas pengertian kecerdasan dalam berbagai perspektif memang cukup kompleks. Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendeskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual. Dalam mengartikan intelegensi (kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam. Diantaranya, C.P. Chaplin (Syamsu Yusuf, 2006:106) mengartikan “Intelegensi itu sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif”. Sedangkan Woolfolk (Syamsu Yusuf, 2006:106) mengemukakan bahwa “Intelagensi merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan.
Kamus besar bahasa Indonesia (1999), mengartikan kecerdasan sebagai perihal cerdas (sebagai kata benda), atau kesempurnaan perkembangan akal budi (seperti kepandaian dan ketajaman pikiran).
Dengan demikian, dari beberapa pengertian di atas kecerdasan dapat diartikan sebagai kesempurnaan akal budi seseorang yang diwujudkan dalam suatu kemampuan untuk memperoleh pengetahuan dan untuk memecahkan suatu masalah dalam kehidupan nyata secara tepat.


6
 
 
b.        Kecerdasan Emosional
1.        Pengertian kecerdasan emosional
Menurut English and English (Syamsu Yusuf, 2006:114), emosi adalah “A complex feeling state accompained by characteristic motor and glandular activies”. Yakni suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karateristik kegiatan kelenjar dan motoris. Sedangkan Sarlinto Wirawan (Syamsu Yusuf, 2006:115) berpendapat bahwa “Emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam)”.    
Istilah kecerdasan emosional baru dikenal secara luas pada pertengahan tahun 1990 dengan diterbitkannya buku Daniel Goleman. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain (Goleman, 2007).
Menurut Salovey dan Meyer (aenurrahman, 2010:87) mengemukakan bahwa :
“Himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan”.

Dari beberapa pengertian di atas dapat dikatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
Goleman (2007:45) menggambarkan beberapa ciri kecerdasan emosional yang terdapat pada diri seseorang berupa :
a.         Kemampuan memotivasi diri sendiri.
b.        Kemampuan menghadapi frustasi.
c.         Kemampuan mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan.
d.        Kemampuan menjaga suasan hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan berdo’a.
Dalam proses pembelajaran, penerapan kecerdasan emosional dapat dilakukan secara luas dalam berbagai sesi, aktivitas, dan bentuk-bentuk spesifik pembelajaran. Adapun bentuk kongkrit upaya mengembangkan kecerdasan emosional anak :
a.         Mengembangkan empati dan kepedulian.
b.        Mengajarkan kejujuran dan integritas.
c.         Mengajarkan memecahkan masalah.
2.        Komponen Dasar Kecerdasan Emosional
Menurut Goleman (2007:58) kecerdasan emosional mempunyai 5 wilayah utama yaitu:
a.         Mengenali emosi diri
Kesadaran diri mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita yang sesunggunya membuat kita berada dalam kekuasaan perasaan. Orang yang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah pilot yang andal bagi kehidupan mereka, karena mempunyai kepekaan yang lebih tinggi akan persaan mereka yang sesunggunya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi, mulai dari siapa yang akan dinikahi sampai ke pekerjaan apa yang akan diambil.
b.        Mengelola emosi
Menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Meninjau kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan.
c.         Memotivasi diri sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. 
d.        Mengenali emosi orang lain
Empati, kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan “keterampilan bergaul”. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.
e.         Membina hubungan
Seni membina hubungan, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antarpribadi.
c.         Kecerdasan Spiritual
1.        Pengertian kecerdasan spiritual
Danah Zohar dan Ian Marshall (Abd. Wahab, 2010:49) mengemukakan bahwa:  
“Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan prilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain”.

SQ adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya, dan memiliki pola pemikiran tauhidi serta berprinsip hanya karena Allah (Ginanjar, 2007).
Karakter orang yang cerdas secara spiritual adalah orang yang dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan seperti yang diungkapkan Khalil Khavari (Wahab, 2010:204) “Spiritual intelligence is the faculty of your non material dimension the human soul”. Sedangkan Ian Mitroff dan Elizabeth Denton (Ginanjar, 2007:11) mengatakan bahwa “Most of the executives defined Spirituality in much the same way-not as religion, but as “the basic desire to find purpose and meaning in one’s life”.
Dari beberapa pengertian di atas dapat dikatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan manusia dalam memaknai arti kehidupan yang dijalani dan memahami nilai yang terkandung dari setiap perbuatan.
2.        Indikator Kecerdasan Spiritual
Danah Zohar dan Ian Marshall (Abd. Wahab, 2010:223) memberikan indikator-indikator dari spiritual quetient (SQ) yang berkembang pada diri manusia dengan baik sebagai berikut:
a.         Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif).
b.        Tingkat kesadaran diri yang tinggi.
c.         Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
d.        Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit.
e.         Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
f.         Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
g.        Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (holistik).
h.        Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa” atau “bagaimana jika” untuk mencari jawaban-jawaban mendasar.
i.          Mandiri.
3.        Optimalisasi kecerdasan spiritual
Danah Zohar dan Ian Marshall (Abd. Wahab, 2010:72) mengemukakan  7 langkah untuk meningkatkan kecerdasan spiritual :
Langkah 1: Seseorang harus menyadari dimana dirinya sekarang.
Langkah 2 : Merasakan dengan kuat bahwa dia ingin berubah.
Langkah 3 : Merenungkan apakah pusatnya sendiri dan apakah motivasinya yang      paling dalam.
Langkah 4 : Menemukan dan mengatasi rintangan
Langkah 5 : Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju.
Langkah 6 : Menetapkan hati pada sebuah jalan.                          
Langkah 7: Dan akhirnya, sementara melangkah di jalan yang dipilih sendiri, harus tetap sadar masih ada jalan-jalan yang lain.

d.        Pengertian Hasil Belajar
Menurut Gage (Syaiful, 2010:13)  “Belajar adalah sebagai suatu proses dimana suatu organisma berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman”. Sedangkan menurut Sahabuddin (Abdul. Haling, 2007:2) “Belajar adalah suatu proses kegiatan yang menimbulkan kelakuan baru atau merubah kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu memecahkan masalah dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya. Selain itu, Harold Spears (Agus Suprijono, 2009:2) mengemukakan bahwa “Learning is to be observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction”. Yakni belajar adalah mengamati, membaca meniru, mencoba sesuatu, mendengarkan dan mengikuti arah tertentu.
Hasil belajar berupa kecakapan seseorang terhadap bahan yang dipelajarinya sehingga lebih mampu menyesuaikan diri, memecahkan masalah dalam berbagai situasi tes hasil belajar. Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan.
Jadi, hasil belajar adalah tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang setelah memperoleh pengalaman belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor.
e.         Hakikat Belajar Matematika
Istilah mathematics (Inggris), mathematic (Jerman), mathematique (Perancis), matematico (Itali), matematiceski (Rusia), atau mathematick (Belanda) berasal dari perkataan latin mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan Yunani, mathematike, yang berarti “relatin learning”. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan. Perkataan mathematike berhubungan sangat erat dengan sebuah kata lain yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar (berpikir). Jadi, berdasarkan etimologis Elea Tinggih (Suherman, 2001:18) perkataan matematika berarti “Ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”.
Reys (Suherman, 2001:19) mengatakan bahwa “Matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola pikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat”. Sedangkan Kline (Suherman, 2001:19) mengatakan bahwa :
 “Matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.

Belajar matematika pada hakikatnya adalah suatu aktivitas mental untuk memahami arti dari  struktur-struktur, hubungan-hubungan, simbol-simbol, dan manipulasikan konsep-konsep yang dihasilkaan kesituasi yang nyata ,sehingga menyebabkan perubahan. Melalui pembelajaran matematika siswa diharapkan  dapat menata nalarnya, membentuk kepribadiannya serta dapat menerapkan matematika dalam kehidupannya sehari-hari atau dapat digunakan sesuai dengan jenjang pendidikannya masing-masing (Novian, 2011).
f.         Kaitan Antara EQ dan SQ Terhadap Hasil Belajar Matematika
Kecerdasan spiritual merupakan landasan untuk memfungsikan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Seseorang yang mampu menyeimbangkan antara ketiga kecerdasan tersebut akan mampu mencapai hasil yang tinggi.
Dalam hubungannya dengan pencapaian pembelajaran penguasaan matematika dimana indikator kecerdasan emosional yaitu kemampuan memotivasi akan memberikan dorongan untuk senantiasa berprestasi dalam mencapai hasil belajar yang tinggi, memiliki komitmen, inisiatif dan optimis. Keterampilan sosial memberikan siswa kemampuan untuk membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Siswa yang memiliki kemampuan tersebut akan senantiasa menjalin kerja sama dengan rekan-rekannya untuk memecahkan soal-soal matematika yang diberikan dan tidak segan-segan bertanya kepada guru manakala ada persoalan yang tidak dapat dipecahkan sendiri. Dengan demikian, kemampuan memotivasi dan keterampilan sosial akan memberikan pengaruh yang positif terhadap hasil belajar matematika siswa.
Kecerdasan spiritual dalam hubungannya dengan pembelajaran matematika akan memberikan perasaan senang dan bahagia. Hal ini dikarenakan, apabila seorang siswa yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi ketika mempelajari matematika akan mampu menemukan makna positif yang terkandung dalam ilmu matematika yang terkait terhadap pengalaman dalam kehidupan sehari-hari baik yang berhubungan dengan peratuaran alam semesta, kedisiplinan, kejujuran, dan lain-lain. Dengan demikian, akan timbul kepuasan dalam hati dan senantiasa senang dan bahagia untuk mempelajarinya. Selain itu, kecerdasan spiritual akan menuntun siswa untuk senantiasa sabar terhadap kesulitan yang ditemui ketika mempelajari ilmu matematika karena ilmu matematika dipelajari haruslah dengan bertahap.
2.   Kerangka Berpikir
Belajar merupakan hal yang sangat kompleks sifatnya dan merupakan kunci kesuksesan seseorang. Kecerdasan intelektual (IQ) yang dipandang sebagai salah satu faktor yang berperan penting dalam pembelajaran ternyata belum menjamin seseorang untuk meraih kesuksesan. Seringkali dijumpai dalam masyarakat orang-orang yang memiliki IQ yang tinggi gagal tetapi orang yang memiliki IQ rata-rata menjadi amat sukses.
 Hal ini membuktikan disamping kecerdasan intelektual terdapat kecerdasan lain yang turut berperan aktif dalam membawa kesuksesan seseorang yaitu kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan emosional (EQ) akan mempengaruhi perkembangan mental  yang membawa proses tebentuknya karakter dari seorang siswa sehingga akan berpengaruh terhadap hasil belajarnya khususnya dalam mempelajari matematika.
Kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dapat difungsikan secara efektif bila dilandasi dengan kecerdasan spisitual (SQ). Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi manusia. Manusia yang mempunyai dan memfungsikan kecerdasan spiritualnya akan meningkat hasil belajarnya. Dalam hubungannya dalam pembelajaran, penguasaan matematika merupakan salah satu kemampuan khusus menunjang dalam mempelajari bidang-bidang yang lain, sedangkan ESQ sangat mempengaruhi semua kemampuan yang dimiliki seseorang.
3.    Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah dipaparkan, maka hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :
a.    Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara bersama-sama berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 3 Sungguminasa. Untuk keperluan pengujian statistik, hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut:
H0 : β1 = β2 = 0            lawan               H1 : β1 ≠ 0 atau β2 ≠ 0
Keterangan       Parameter kecerdasan emosional
 Parameter kecerdasan spiritual
b.    Kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 3 Sungguminasa dengan menganggap pengaruh kecerdasan spiritual tetap. Untuk keperluan pengujian statistik, hipotesis ini dinyatakan dengan :
 lawan 
           Keterangan  Parameter kecerdasan emosional
c.    Kecerdasan Spiritual berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 3 Sungguminasa dengan menganggap pengaruh kecerdasan emosional tetap. Untuk keperluan pengujian statistik, hipotesis ini dinyatakan dengan :
       lawan 
    Keterangan  Parameter kecerdasan spiritual


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.      Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian ex-post facto yang bersifat korelasional, karena peneliti tidak memberikan perlakuan kepada responden. Peneliti langsung menyelidiki variabel bebas dan efeknya terhadap variabel tak bebas.   
B.       Variabel dan Desain Penelitian
Variabel penelitian ini terdiri atas dua macam yaitu variabel bebas dan variabel tak bebas. Variabel tak bebas yang diselidiki adalah hasil belajar matematika yang diberi simbol Y, sedangkan variabel bebasnya terdiri dari dua variabel yaitu kecerdasan emosional diberi simbol X1 dan kecerdasan spiritual diberi simbol X2.     

 
Dalam penelitian ini akan diselidiki hubungan antara variabel bebas dan variabel tak bebas. Hubungan antara variabel-variabel tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
X1
 
 
Y
 
     


X2
 
 



Keterangan :
17
 
Y : Hasil belajar matematika
X1: Kecerdasan emosional
X2 : Kecerdasan spiritual
C.      Definisi Operasional
Definisi operasional variabel penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Hasil belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah skor rata-rata yang diperoleh oleh siswa dari tes yang diberikan.
2.    Kecerdasan emosional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri dan mengelolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain. Adapun indikator yang digunakan untuk mengukur kecerdasan emosional yaitu mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain,  dan membina hubungan.
3.   Kecerdasan spiritual yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sikap hidup yang menjadi pegangan dan kemampuan untuk memberikan makna yang positif terhadap peristiwa atau kejadian yang menimpa kehidupan ini. Adapun indikator yang digunakan untuk mengukur kecerdasan spiritual yaitu: Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif), Tingkat kesadaran diri yang tinggi Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit, Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (holistik), Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa” atau “bagaimana jika” untuk mencari jawaban-jawaban mendasar, Mandiri.
D.      Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri  3 Sungguminasa Kabupaten Gowa tahun pelajaran 2011-2012. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Random dilakukan dengan pertimbangan bahwa kelas memiliki karakteristik yang sama (homogen).
E.       Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan skor dari masing-masing variabel yang diteliti ada tiga instrumen yaitu:
1.        Tes hasil belajar matematika
Data hasil belajar matematika siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar matematika. Tes berbentuk piihan ganda.  
2.        Tes kecerdasan emosional
Kecerdasan emosional siswa dapat diukur dengan menggunakan tes kecerdasan emosional. Tes berbentuk kuisioner.
3.           Tes kecerdasan spiritual
Kecerdasan spiritual siswa seperti halnya kecerdasan emosional dapat diukur dengan menggunakan tes kecerdasan spiritual. Tes berbentuk kuesioner.



F.       Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan memberikan instrumen (alat pengumpul data) kepada responden. Penelitian secara klasikal yaitu diberikan di dalam kelas.
G.      Teknik Analisis Data
Data dalam penelitian ini dikelola dengan menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Penggunaan tehnik statistik deskriptif dimaksudkan untuk mendiskripsikan karakteristik responden penelitian untuk keperluan tersebut digunakan tabel distributif frekuensi, skor maksimum, rata-rata dan standar deviasi.
            Kemudian teknik statistik inferensial yang digunakan adalah analisis regresi linier multiple ( jika memenuhi ) dengan model:
Keterangan
 Konstanta
 Koefisien variabel X1
 Koefisien variabel X2
  Komponen kesalahan acak
Fungsi taksirannya adalah:
Keterangan
  Skor hasil belajar matematika
:  Skor kecerdasan emosional
:  Skor kecerdasan spiritual
Penggunaan regresi linier multiple dimaksudkan untuk menyelidiki bentuk hubungan  antara satu variabel terikat dengan beberapa variabel bebas dalam hal ini menyelidiki apakah kedua variabel bebas secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat. Hipotesis yang diperhatikan adalah:
kriteria pengujian adalah  kita menolak H0 jika F  hitung lebih besar dari nilai F tabel pada taraf kesignifikan tertentu, misalnya α  = 0,05. Jika nilai F hitung sama atau kurang dari nilai F tabel, kita menerima H0 atau koeisien regresi tersebut tidak signifikan artinya kedua variabel bebas secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel tidak bebas.
            Setelah itu, pengujian dilanjutkan dengan menyelidiki pengaruh tiap-tiap variabel bebas terhadap variabel terikat. Hipotesis yang diperhatikan adalah:  
 lawan 
             lawan 
kriteria pengujian adalah  kita menolak H0 jika t  hitung lebih besar dari nilai t tabel pada taraf  kesignifikan   tertentu, misalnya α  = 0,05. Jika nilai t hitung sama atau kurang dari nilai t tabel, kita menerima H0 atau  koeisien regresi tersebut tidak signifikan artinya variabel bebas  tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel tidak bebas.

DAFTAR PUSTAKA
Aenurrahman. 2010. Belajar dan pembelajaran. Bandung : Alfa Beta.
Dwijayanti,Arie Pangestu. 2009. Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan sosial terhadap pemahaman akuntansi (http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/s1manajemen 09 /205112064/skripsi.pdf)
Emzir. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta : Rajawali Pers.
Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar : Badan Penerbit UNM.
Ginanjar, Agustian Ary. 2007. Emosional Spiritual Quotient. Jakarta : Arga Publishing
Goleman, Daniel. 2007. Emotional Intelligence. Jakarta : PT Gramedia Pustaka.
             
Marlina. 2010. Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X MAS Guppi Kindang Kabupaten Bulukumba. Skripsi S1 Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar.

Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfa Beta.
Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta : Kencana.
Shaleh, Abdul Rahman. 2004. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam. Jakarta : Kencana.

Suherman. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : JICA-Universitas Pendidikan Indonesia.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning. Surabaya : Pustaka Pelajar.

Tiro, Muhammad Arif. 2000. Dasar-dasar Statistika. Makassar : State University of Makassar Press.

Tiro, Muhammad Arif. 2007. Statistika Terapan. Makassar : Andira Publisher. 

Wahab, Abd. 2010. Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.

Widiastuti, Maipa. 2009. Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Prestasi Belajar Matemtika Siswa Kelas Vii Smp Pesantren Putrid Yatama Mandiri Gowa. Skripsi S1 Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar.

Yusuf LN, Syamsu. 2006. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar