PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, pendidikan
merupakan sesuatu yang penting karena pendidikan merupakan salah satu penentu
sumber daya manusia (SDM) . Dewasa ini, keunggulan suatu bangsa tidak lagi
ditandai dengan melimpahnya kekayaan alam, tetapi pada keunggulan sumber daya
manusianya. Artinya, mutu sumber daya manusia (SDM) sejalan dengan mutu
pendidikan yang eksis ditengah bangsa tersebut. Pendidikan di Indonesia sampai
saat ini masih diarahkan pada kepentingan penyediaan sumber daya manusia (SDM)
yang berkualitas dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga
pembangunan dapat dilakukan secara terus-menerus.
Ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut manusia untuk
berpikir logis, kritis, dan ilmiah. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan dan
teknologi berhubungan tidak langsung dengan landasan berpikir matematika yang berfungsi
sebagai sarana berpikir ilmiah dan meningkatkan kemampuan berpikir logis dikalangan
siswa. Oleh karena itu, matematika ikut berperan penting terhadap proses
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.
|
Hal ini didasarkan bahwa kesuksesan seseorang tidak
hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, tetapi malah lebih
banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengendalikan dan mengelola
emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
Sedangkan, kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang berhubungan erat dengan
bagaimana menghadapi persoalan makna hidup atau bagaimana hidup menjadi lebih
bermakna. Oleh sebab itu, Danah Zohar dan Ian Marshal (Ginanjar, 2007:13) mengatakan
bahwa “SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara
efektif”.
Kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional sangat berperan penting dalam membantu
guru dan siswa untuk mencapai keberhasilan dalam hidupnya di bidang apa pun
yang positif. Sebab, orang tersebut akan
berusaha menjalani hidupnya dengan penuh makna, mengefektifkan kerja IQ dengan
baik, dan mengelola emosinya dengan baik. Bahkan, manusia akan mampu untuk
bereksistensi yang akhirnya manusia mampu berkomunikasi dengan dunia objektif
sehingga memiliki kemampuan kritis dalam kehidupannya.
Berdasarkan observasi yang dilakukan penulis pada
tanggal 27 september 2011 di SMP Negeri 3 Sungguminasa diperoleh informasi dari
guru kelas VIII bahwa pada umumnya remaja memiliki banyak problem dalam
hidupnya. Mereka lebih sering bingung dan belum dapat menghadapi masalah-masalah
dengan baik. Perasaan-perasaan belum mengerti, kesunyian, menentang orang tua
dan mengasingkan diri dari pergaulan. selain itu, siswa merasa diperbudak oleh
kegiatan-kegiatannya, merasa gelisah dan tidak siap dalam melakukan kegiatan
baik dalam hal belajar maupun yang lainnya. Hal ini berakibat pada keberhasilan
siswa dalam proses belajarnya yang hanya mencapai rata-rata 60,9 dengan
simpangan baku 13,69 masih sangat jauh dari kriteria ketuntasan yang ditetapkan
di sekolah itu yaitu 75 dari skor ideal 100.
Kecerdasan emosional (EQ) akan mampu membuat peserta
didik bersemangat tinggi dalam belajar, memiliki motivasi dan kepercayaan diri
yang tinggi, serta mampu berkomunikasi dengan baik dengan temannya. Sedangkan kecerdasan
spiritual (SQ) memungkinkan siswa
menjadi kreatif, memberi rasa moral dalam pergaulan dan sikapnya sehari-hari serta
memberikan makna positif terhadap apa yang telah dipelajari atau dilakukan. Dengan
demikian, akan muncul semangat untuk meraih hasil belajar yang tinggi.
Berdasarkan uraian di atas penulis
ingin menyelidiki “Pengaruh Kecerdasan Emosional
dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SMP Negeri 3 Sungguminasa
Kabupaten Gowa”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi rumusan
masalah adalah sebagai berikut:
1.
Apakah Kecerdasan Emosional dan
Kecerdasan Spiritual mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar matematika
siswa?
2.
Apakah Kecerdasan Emosional
berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa?
3.
Apakah Kecerdasan Spiritual
berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.
Untuk mengetahui pengaruh
kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual terhadap hasil belajar matematika
siswa.
2.
Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan
emosional terhadap hasil belajar matematika siswa.
3.
Untuk mengetahui pengaruh
kecerdasan spiritual terhadap hasil belajar matematika siswa.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah
1.
Untuk memberikan informasi tentang
pengaruh kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual terhadap hasil belajar
matematika siswa.
2.
Sebagai bahan perbandingan bagi
peneliti-peneliti yang relevan dengan penelitian ini serta dapat memberikan
informasi yang beragam untuk penelitian selanjutnya.
KAJIAN
TEORITIK DAN HIPOTESIS
1. Kajian Teoritik
a.
Pengertian Kecerdasan
Membahas pengertian kecerdasan dalam berbagai perspektif
memang cukup kompleks. Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan,
melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendeskripsikan perilaku individu yang
berkaitan dengan kemampuan intelektual. Dalam mengartikan intelegensi
(kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam. Diantaranya,
C.P. Chaplin (Syamsu Yusuf, 2006:106) mengartikan “Intelegensi itu sebagai
kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat
dan efektif”. Sedangkan Woolfolk (Syamsu Yusuf, 2006:106) mengemukakan bahwa
“Intelagensi merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk memperoleh dan
menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan beradaptasi dengan
lingkungan.
Kamus besar bahasa Indonesia (1999), mengartikan
kecerdasan sebagai perihal cerdas (sebagai kata benda), atau kesempurnaan
perkembangan akal budi (seperti kepandaian dan ketajaman pikiran).
Dengan demikian, dari beberapa pengertian di atas
kecerdasan dapat diartikan sebagai kesempurnaan akal budi seseorang yang
diwujudkan dalam suatu kemampuan untuk memperoleh pengetahuan dan untuk
memecahkan suatu masalah dalam kehidupan nyata secara tepat.
|
b.
Kecerdasan Emosional
1.
Pengertian kecerdasan emosional
Menurut English and English (Syamsu Yusuf, 2006:114),
emosi adalah “A complex feeling state
accompained by characteristic motor and glandular activies”. Yakni suatu
keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karateristik kegiatan kelenjar dan
motoris. Sedangkan Sarlinto Wirawan (Syamsu Yusuf, 2006:115) berpendapat bahwa
“Emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif
baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam)”.
Istilah kecerdasan emosional baru dikenal secara luas
pada pertengahan tahun 1990 dengan diterbitkannya buku Daniel Goleman. Kecerdasan
emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan kemampuan
mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang
lain (Goleman, 2007).
Menurut Salovey dan Meyer (aenurrahman, 2010:87)
mengemukakan bahwa :
“Himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan
memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain,
memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran
dan tindakan”.
Dari beberapa pengertian di atas dapat dikatakan bahwa
kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengelola emosi dengan baik pada
diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
Goleman (2007:45) menggambarkan beberapa ciri kecerdasan
emosional yang terdapat pada diri seseorang berupa :
a.
Kemampuan memotivasi diri
sendiri.
b.
Kemampuan menghadapi frustasi.
c.
Kemampuan mengendalikan
dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan.
d.
Kemampuan menjaga suasan hati
dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati,
dan berdo’a.
Dalam proses pembelajaran, penerapan kecerdasan emosional
dapat dilakukan secara luas dalam berbagai sesi, aktivitas, dan bentuk-bentuk
spesifik pembelajaran. Adapun bentuk kongkrit upaya mengembangkan kecerdasan
emosional anak :
a.
Mengembangkan empati dan
kepedulian.
b.
Mengajarkan kejujuran dan
integritas.
c.
Mengajarkan memecahkan masalah.
2.
Komponen Dasar Kecerdasan
Emosional
Menurut Goleman (2007:58) kecerdasan emosional mempunyai
5 wilayah utama yaitu:
a.
Mengenali emosi diri
Kesadaran diri mengenali perasaan sewaktu perasaan itu
terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Ketidakmampuan untuk mencermati
perasaan kita yang sesunggunya membuat kita berada dalam kekuasaan perasaan.
Orang yang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah pilot yang
andal bagi kehidupan mereka, karena mempunyai kepekaan yang lebih tinggi akan
persaan mereka yang sesunggunya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah
pribadi, mulai dari siapa yang akan dinikahi sampai ke pekerjaan apa yang akan
diambil.
b.
Mengelola emosi
Menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan
pas adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Meninjau kemampuan
untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau
ketersinggungan.
c.
Memotivasi diri sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah
hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi
diri sendiri dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi.
d.
Mengenali emosi orang lain
Empati, kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran
diri emosional, merupakan “keterampilan bergaul”. Orang yang empatik lebih
mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan
apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.
e.
Membina hubungan
Seni membina hubungan, merupakan keterampilan mengelola
emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan,
dan keberhasilan antarpribadi.
c.
Kecerdasan Spiritual
1.
Pengertian kecerdasan spiritual
Danah Zohar dan Ian Marshall (Abd. Wahab, 2010:49)
mengemukakan bahwa:
“Kecerdasan spiritual
(SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu
kecerdasan untuk menempatkan prilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang
lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup
seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain”.
SQ adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap
setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang
bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya, dan memiliki pola pemikiran
tauhidi serta berprinsip hanya karena Allah (Ginanjar, 2007).
Karakter orang yang cerdas secara spiritual adalah orang
yang dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan seperti yang diungkapkan
Khalil Khavari (Wahab, 2010:204) “Spiritual
intelligence is the faculty of your non material dimension the human soul”.
Sedangkan Ian Mitroff dan Elizabeth Denton (Ginanjar, 2007:11) mengatakan bahwa
“Most of the executives defined
Spirituality in much the same way-not as religion, but as “the basic desire to
find purpose and meaning in one’s life”.
Dari beberapa pengertian di atas dapat dikatakan bahwa
kecerdasan spiritual merupakan kemampuan manusia dalam memaknai arti kehidupan
yang dijalani dan memahami nilai yang terkandung dari setiap perbuatan.
2.
Indikator Kecerdasan Spiritual
Danah
Zohar dan Ian Marshall (Abd. Wahab, 2010:223) memberikan indikator-indikator
dari spiritual quetient (SQ) yang berkembang pada diri manusia dengan baik
sebagai berikut:
a.
Kemampuan bersikap fleksibel
(adaptif secara spontan dan aktif).
b.
Tingkat kesadaran diri yang
tinggi.
c.
Kemampuan untuk menghadapi dan
memanfaatkan penderitaan.
d.
Kemampuan untuk menghadapi dan
melampaui rasa sakit.
e.
Kualitas hidup yang diilhami
oleh visi dan nilai-nilai.
f.
Keengganan untuk menyebabkan
kerugian yang tidak perlu.
g.
Kecenderungan untuk melihat
keterkaitan antara berbagai hal (holistik).
h.
Kecenderungan nyata untuk
bertanya “mengapa” atau “bagaimana jika” untuk mencari jawaban-jawaban mendasar.
i.
Mandiri.
3.
Optimalisasi kecerdasan
spiritual
Danah Zohar dan Ian Marshall (Abd. Wahab, 2010:72)
mengemukakan 7 langkah untuk
meningkatkan kecerdasan spiritual :
Langkah 1: Seseorang harus menyadari dimana dirinya sekarang.
Langkah 2 : Merasakan dengan kuat bahwa dia ingin berubah.
Langkah
3 : Merenungkan apakah pusatnya sendiri dan apakah motivasinya yang paling dalam.
Langkah 4 : Menemukan dan mengatasi rintangan
Langkah 5 : Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju.
Langkah 6 : Menetapkan hati pada sebuah jalan.
Langkah 7:
Dan akhirnya, sementara melangkah di jalan yang dipilih sendiri, harus tetap
sadar masih ada jalan-jalan yang lain.
d.
Pengertian Hasil Belajar
Menurut Gage (Syaiful, 2010:13) “Belajar adalah sebagai suatu proses dimana
suatu organisma berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman”. Sedangkan
menurut Sahabuddin (Abdul. Haling, 2007:2) “Belajar adalah suatu proses
kegiatan yang menimbulkan kelakuan baru atau merubah kelakuan lama sehingga
seseorang lebih mampu memecahkan masalah dan menyesuaikan diri terhadap
situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya. Selain itu, Harold Spears (Agus
Suprijono, 2009:2) mengemukakan bahwa “Learning
is to be observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen,
to follow direction”. Yakni belajar adalah mengamati, membaca meniru,
mencoba sesuatu, mendengarkan dan mengikuti arah tertentu.
Hasil belajar berupa kecakapan seseorang terhadap bahan
yang dipelajarinya sehingga lebih mampu menyesuaikan diri, memecahkan masalah
dalam berbagai situasi tes hasil belajar. Hasil belajar berkaitan dengan
pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang
direncanakan.
Jadi, hasil belajar adalah tingkat keberhasilan yang
dicapai oleh seseorang setelah memperoleh pengalaman belajar mencakup kemampuan
kognitif, afektif dan psikomotor.
e.
Hakikat Belajar Matematika
Istilah mathematics (Inggris), mathematic (Jerman), mathematique (Perancis), matematico (Itali),
matematiceski (Rusia), atau mathematick (Belanda) berasal dari perkataan latin mathematica, yang mulanya diambil dari
perkataan Yunani, mathematike, yang
berarti “relatin learning”. Perkataan
itu mempunyai akar kata mathema yang
berarti pengetahuan. Perkataan mathematike berhubungan sangat erat dengan
sebuah kata lain yang serupa, yaitu mathanein
yang mengandung arti belajar (berpikir). Jadi, berdasarkan etimologis Elea
Tinggih (Suherman, 2001:18) perkataan matematika berarti “Ilmu pengetahuan yang
diperoleh dengan bernalar”.
Reys
(Suherman, 2001:19) mengatakan bahwa “Matematika adalah telaah tentang pola dan
hubungan, suatu jalan atau pola pikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu
alat”. Sedangkan Kline (Suherman, 2001:19) mengatakan bahwa :
“Matematika itu bukanlah
pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi
adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan
menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.
Belajar matematika pada
hakikatnya adalah suatu aktivitas mental untuk memahami arti dari
struktur-struktur, hubungan-hubungan, simbol-simbol, dan manipulasikan
konsep-konsep yang dihasilkaan kesituasi yang nyata ,sehingga menyebabkan perubahan.
Melalui pembelajaran matematika siswa diharapkan dapat menata nalarnya, membentuk kepribadiannya serta dapat menerapkan
matematika dalam kehidupannya sehari-hari atau dapat digunakan sesuai dengan
jenjang pendidikannya masing-masing (Novian, 2011).
f.
Kaitan Antara EQ dan SQ Terhadap Hasil Belajar Matematika
Kecerdasan spiritual merupakan landasan untuk
memfungsikan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Seseorang yang
mampu menyeimbangkan antara ketiga kecerdasan tersebut akan mampu mencapai
hasil yang tinggi.
Dalam hubungannya dengan pencapaian pembelajaran
penguasaan matematika dimana indikator kecerdasan emosional yaitu kemampuan
memotivasi akan memberikan dorongan untuk senantiasa berprestasi dalam mencapai
hasil belajar yang tinggi, memiliki komitmen, inisiatif dan optimis.
Keterampilan sosial memberikan siswa kemampuan untuk membangun komunikasi
dengan berbagai pihak. Siswa yang memiliki kemampuan tersebut akan senantiasa
menjalin kerja sama dengan rekan-rekannya untuk memecahkan soal-soal matematika
yang diberikan dan tidak segan-segan bertanya kepada guru manakala ada
persoalan yang tidak dapat dipecahkan sendiri. Dengan demikian, kemampuan
memotivasi dan keterampilan sosial akan memberikan pengaruh yang positif
terhadap hasil belajar matematika siswa.
Kecerdasan spiritual dalam
hubungannya dengan pembelajaran matematika akan memberikan perasaan senang dan
bahagia. Hal ini dikarenakan, apabila seorang siswa yang memiliki kecerdasan
spiritual yang tinggi ketika mempelajari matematika akan mampu menemukan makna
positif yang terkandung dalam ilmu matematika yang terkait terhadap pengalaman
dalam kehidupan sehari-hari baik yang berhubungan dengan peratuaran alam
semesta, kedisiplinan, kejujuran, dan lain-lain. Dengan demikian, akan timbul
kepuasan dalam hati dan senantiasa senang dan bahagia untuk mempelajarinya. Selain
itu, kecerdasan spiritual akan menuntun siswa untuk senantiasa sabar terhadap
kesulitan yang ditemui ketika mempelajari ilmu matematika karena ilmu
matematika dipelajari haruslah dengan bertahap.
2. Kerangka Berpikir
Belajar merupakan hal yang sangat kompleks sifatnya dan
merupakan kunci kesuksesan seseorang. Kecerdasan intelektual (IQ) yang
dipandang sebagai salah satu faktor yang berperan penting dalam pembelajaran
ternyata belum menjamin seseorang untuk meraih kesuksesan. Seringkali dijumpai
dalam masyarakat orang-orang yang memiliki IQ yang tinggi gagal tetapi orang
yang memiliki IQ rata-rata menjadi amat sukses.
Hal ini
membuktikan disamping kecerdasan intelektual terdapat kecerdasan lain yang
turut berperan aktif dalam membawa kesuksesan seseorang yaitu kecerdasan
emosional dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan emosional (EQ) akan mempengaruhi
perkembangan mental yang membawa proses
tebentuknya karakter dari seorang siswa sehingga akan berpengaruh terhadap
hasil belajarnya khususnya dalam mempelajari matematika.
Kecerdasan intelektual (IQ) dan
kecerdasan emosional (EQ) dapat difungsikan secara efektif bila dilandasi
dengan kecerdasan spisitual (SQ). Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan
tertinggi manusia. Manusia yang mempunyai dan memfungsikan kecerdasan spiritualnya
akan meningkat hasil belajarnya. Dalam hubungannya dalam pembelajaran,
penguasaan matematika merupakan salah satu kemampuan khusus menunjang dalam
mempelajari bidang-bidang yang lain, sedangkan ESQ sangat mempengaruhi semua
kemampuan yang dimiliki seseorang.
3. Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang
telah dipaparkan, maka hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :
a.
Kecerdasan emosional dan
kecerdasan spiritual secara bersama-sama berpengaruh terhadap hasil belajar
matematika siswa SMP Negeri 3 Sungguminasa. Untuk keperluan pengujian
statistik, hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut:
H0
: β1 = β2 = 0 lawan H1 : β1 ≠ 0
atau β2 ≠ 0
Keterangan
Parameter
kecerdasan emosional
b.
Kecerdasan emosional
berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 3
Sungguminasa dengan menganggap pengaruh kecerdasan spiritual tetap. Untuk
keperluan pengujian statistik, hipotesis ini dinyatakan dengan :
Keterangan
Parameter
kecerdasan emosional
c.
Kecerdasan Spiritual
berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 3
Sungguminasa dengan menganggap pengaruh kecerdasan emosional tetap. Untuk
keperluan pengujian statistik, hipotesis ini dinyatakan dengan :
Keterangan
Parameter
kecerdasan spiritual
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian ex-post facto yang
bersifat korelasional, karena peneliti tidak memberikan perlakuan kepada
responden. Peneliti langsung menyelidiki variabel bebas dan efeknya terhadap
variabel tak bebas.
B.
Variabel dan Desain Penelitian
Variabel penelitian ini terdiri atas dua macam yaitu
variabel bebas dan variabel tak bebas. Variabel tak bebas yang diselidiki
adalah hasil belajar matematika yang diberi simbol Y, sedangkan variabel
bebasnya terdiri dari dua variabel yaitu kecerdasan emosional diberi simbol X1 dan kecerdasan spiritual diberi simbol X2.
|
|

|
|
Keterangan :
|
X1: Kecerdasan emosional
X2 : Kecerdasan spiritual
C.
Definisi Operasional
Definisi operasional variabel penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1.
Hasil belajar matematika yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah skor rata-rata yang diperoleh oleh siswa
dari tes yang diberikan.
2.
Kecerdasan emosional yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri
dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri dan mengelolah emosi dengan
baik pada diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain. Adapun indikator yang
digunakan untuk mengukur kecerdasan emosional yaitu mengenali emosi diri,
mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan.
3.
Kecerdasan spiritual yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah sikap hidup yang menjadi pegangan dan
kemampuan untuk memberikan makna yang positif terhadap peristiwa atau kejadian
yang menimpa kehidupan ini. Adapun indikator yang digunakan untuk mengukur
kecerdasan spiritual yaitu: Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara
spontan dan aktif), Tingkat kesadaran diri yang tinggi Kemampuan untuk
menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, Kemampuan untuk menghadapi dan
melampaui rasa sakit, Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, Keengganan
untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, Kecenderungan untuk melihat
keterkaitan antara berbagai hal (holistik), Kecenderungan nyata untuk bertanya
“mengapa” atau “bagaimana jika” untuk mencari jawaban-jawaban mendasar, Mandiri.
D.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 3 Sungguminasa Kabupaten Gowa tahun pelajaran
2011-2012. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random
sampling. Random dilakukan dengan pertimbangan bahwa kelas memiliki
karakteristik yang sama (homogen).
E.
Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat pengumpul data yang digunakan dalam
penelitian ini untuk mendapatkan skor dari masing-masing variabel yang diteliti
ada tiga instrumen yaitu:
1.
Tes hasil belajar matematika
Data hasil belajar matematika siswa dikumpulkan dengan
menggunakan tes hasil belajar matematika. Tes berbentuk piihan ganda.
2.
Tes kecerdasan emosional
Kecerdasan emosional siswa dapat diukur dengan
menggunakan tes kecerdasan emosional. Tes berbentuk kuisioner.
3.
Tes
kecerdasan spiritual
Kecerdasan spiritual siswa seperti halnya kecerdasan
emosional dapat diukur dengan menggunakan tes kecerdasan spiritual. Tes
berbentuk kuesioner.
F.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan
memberikan instrumen (alat pengumpul data) kepada responden. Penelitian secara
klasikal yaitu diberikan di dalam kelas.
G.
Teknik Analisis Data
Data dalam penelitian ini dikelola dengan menggunakan
statistik deskriptif dan inferensial. Penggunaan tehnik statistik deskriptif
dimaksudkan untuk mendiskripsikan
karakteristik responden penelitian untuk keperluan tersebut digunakan tabel
distributif frekuensi, skor maksimum, rata-rata dan
standar deviasi.
Kemudian teknik statistik
inferensial yang digunakan adalah analisis regresi linier multiple ( jika
memenuhi ) dengan model:
Keterangan
Fungsi taksirannya adalah:
Keterangan
Penggunaan regresi linier multiple dimaksudkan untuk
menyelidiki bentuk hubungan antara satu variabel
terikat dengan beberapa variabel bebas dalam hal ini menyelidiki apakah kedua variabel
bebas secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel
terikat. Hipotesis yang diperhatikan adalah:
kriteria pengujian adalah kita
menolak H0 jika F hitung
lebih besar dari nilai F tabel pada taraf kesignifikan tertentu, misalnya α = 0,05. Jika nilai F hitung sama atau kurang
dari nilai F tabel, kita menerima H0 atau koeisien regresi tersebut
tidak signifikan artinya kedua variabel bebas secara bersama-sama tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel tidak bebas.
Setelah itu,
pengujian dilanjutkan dengan menyelidiki pengaruh tiap-tiap variabel bebas
terhadap variabel terikat. Hipotesis yang diperhatikan adalah:
kriteria pengujian adalah
kita menolak H0 jika t
hitung lebih besar dari nilai t tabel pada taraf kesignifikan
tertentu, misalnya α = 0,05. Jika nilai t hitung sama atau kurang
dari nilai t tabel, kita menerima H0 atau koeisien regresi tersebut tidak signifikan
artinya variabel bebas tidak mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap variabel tidak bebas.
DAFTAR PUSTAKA
Dwijayanti,Arie
Pangestu. 2009. Pengaruh Kecerdasan
Emosional, Kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan sosial
terhadap pemahaman akuntansi (http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/s1manajemen
09 /205112064/skripsi.pdf)
Emzir.
2010. Metodologi Penelitian Pendidikan
Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta : Rajawali Pers.
Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar :
Badan Penerbit UNM.
Ginanjar, Agustian
Ary. 2007. Emosional Spiritual Quotient.
Jakarta : Arga Publishing
Goleman, Daniel. 2007. Emotional Intelligence. Jakarta : PT Gramedia Pustaka.
Marlina. 2010. Pengaruh
Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X MAS Guppi
Kindang Kabupaten Bulukumba. Skripsi S1 Pendidikan. Universitas
Muhammadiyah Makassar.
Novian. 2011. Hakikat
Pembelajaran Matematika (http: //
noviansangpendiam. blogspot.com/2011/05/ hakikat-pembelajaran-matematika.html)
Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung
: Alfa Beta.
Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan
dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta : Kencana.
Shaleh, Abdul Rahman. 2004. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam. Jakarta :
Kencana.
Suherman. 2001. Strategi
Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : JICA-Universitas Pendidikan
Indonesia.
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning. Surabaya : Pustaka Pelajar.
Tiro, Muhammad Arif. 2000. Dasar-dasar Statistika. Makassar : State University of Makassar
Press.
Tiro, Muhammad Arif. 2007. Statistika Terapan. Makassar : Andira Publisher.
Widiastuti, Maipa. 2009. Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Prestasi Belajar Matemtika Siswa
Kelas Vii Smp Pesantren Putrid Yatama Mandiri Gowa. Skripsi S1 Pendidikan.
Universitas Muhammadiyah Makassar.
Yusuf LN, Syamsu. 2006. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar