BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Proses pendidikan dapat terjadi dalam
lingkungan sosial yang merupakan ruang lingkup kehidupan manusia. Secara garis
besar proses pendidikan dapat terjadi dalam tiga lingkungan pendidikan yaitu
keluarga, sekolah dan masyarakat. Berdasarkan pada tiga lingkungan diatas maka
dapat dibedakan menjadi pendidikan keluarga (pendidikan informal), pendidikan sekolah
(pendidikan formal) dan pendidikan masyararakat (pendidikan non formal).
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan
formal, secara sistematis telah merencanakan bermacam lingkungan, yaitu
lingkungan pendidikan yang menyediakan kesempatan bagi siswa untuk melakukan
pembelajaran sehingga para siswa memperoleh pengalaman pendidikan yang akan
mendorong pertumbuhan dan perkembangan kearah suatu tujuan yang dicita-citakan.
Lingkungan tersebut disusun dalam bentuk kurikulum dan metode pengajaran.
Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan
umum dari sistem pendidikan nasional. Tujuan ini merupakan tujuan jangka
panjang yang sangat luas dan menjadi pedoman dari semua kegiatan atau usaha
pendidikan dinegara kita. Tujuan ini kemudian dijadikan landasan dalam
menentukan tujuan sekolah dan tujuan kurikulum sekolah, tujuan pendidikan
formal dan non formal. Dengan kata lain tujuan pendidikan nasional menjadi
pedoman dari seluruh kegiatan dan lembaga pendidikan dinegara kita.
Dalam standar isi untuk satuan
pendidikan dasar dan menengah mata pelajaran matematika menurut Permendiknas
No. 23 Tahun 2006 telah disebutkan bahwa mata pelajaran matematika perlu
diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali
peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis,
dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama (Depdiknas, 2006).
Dalam konteks pendidikan, matematika
diajarkan pada dasarnya bertujuan untuk
membantu melatih pola pikir siswa agar dapat memecahkan masalah dengan
kritis, logis, cermat dan tepat. Disamping itu agar siswa terbentuk
kepribadiannya serta terampil menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Matematika juga berkenaan dengan ide atau konsep yang abstrak yang diberi
simbol-simbol tertentu secara hirearki, artinya matematika merupakan
pembelajaran yang selalu berkaitan dan berkesinambungan menurut urutan
tertentu.
Pembelajaran pada dasarnya adalah
interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam situasi
pendidikan. Pembelajaran merupakan suatu proses yang rumit karena bukan sekedar
menyerap informasi dari guru, tetapi juga melibatkan berbagai kegiatan maupun
tindakan yang harus dilaksanakan terutama bila diinginkan hasil belajar yang
lebih baik.
Dalam proses pembelajaran guru
matematika seharusnya mengerti bagaimana memberikan stimulus sehingga siswa
menyukai belajar matematika dan lebih memahami materi yang diberikan oleh guru,
serta mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa
yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi
faktor yang menghambat proses pembelajaran. Salah satu kegiatan pembelajaran
yang menekankan berbagai kegiatan dan tindakan adalah menggunakan pendekatan
tertentu. Pendekatan dalam pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu upaya
dalam mengembalikan dan meningkatkan aktivitas belajar yang dilakukan oleh guru
dan siswa. Pendekatan belajar (Approach to learn) termasuk faktor yang turut
menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Pendekatan dalam pembelajaran
pada dasarnya adalah melakukan proses pembelajaran yang menekankan pentingnya
belajar melalui proses mengajar untuk memperoleh pemahaman.
Hal lain yang berperan dalam proses
pembelajaran, adalah cara guru mengajar atau menyampaikan pelajaran.
Penyampaian guru yang cenderung bersifat monoton, hampir tanpa variasi kreatif,
ternyata sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Hampir sebagian besar
siswa takut dengan pelajaran matematika karena matematika dianggap sebagai
momok, hal inilah yang dialami
oleh siswa kelas VII MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab.
Bantaeng. Seandainya siswa ditanya tentang
matematika ada saja alasan yang mereka kemukakan seperti matematika sulit dan
membosankan. Sehingga siswa kurang suka terhadap pelajaran matematika dan
menyebabkan siswa malas untuk belajar matematika.
Hal ini mengakibatkan rata-rata hasil
belajar siswa masih sangat rendah, selain itu salah satu sebab kurang
memuaskannya penguasaan bahan ajar para siswa terhadap matematika adalah
disebabkan oleh model dan pendekatan yang digunakan kurang tepat dan efektif.
Sehingga nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada pelajaran matematika
disekolah tersebut adalah 60,00. Ini menunjukkan bahwa hasil belajar matematika
disekolah tersebut belum maksimal.
Hasil empiris di atas jelas merupakan suatu
permasalahan yang merupakan faktor penting dalam mewujudkan tujuan pembelajaran
matematika sesuai yang diamanatkan dalam kurikulum pendidikan matematika.
Sehingga Untuk mengatasi permasalahan di atas perlu dicari suatu pendekatan
yang dapat mendukung proses pembelajaran matematika yang menyenangkan dan bukan
menyeramkan sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis sekaligus
mempermudah pemahaman siswa dalam belajar matematika. Salah satu pendekatan
pembelajaran matematika yang saat ini sedang dalam uji coba adalah pendekatan
matematika realistik.
Menurut Suherman (2001:7), pendekatan (approach)
pembelajaran matematika adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan
pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Salah
satu pendekatan yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari dan
menerapkan matematika dalam pengalaman sehari-hari adalah pendekatan matematika
realistik.
Pendekatan Matematika Realistik
sebagai suatu pendekatan baru dalam pembelajaran matematika memang memberikan
banyak harapan kepada dunia pendidikan matematika. Munculnya Pendekatan
Matematika Realistik ini diharapkan akan dapat memberikan
jalan keluar terhadap berbagai permasalahan yang selama ini muncul dalam
praktek pembelajaran matematika disekolah
dan dalam pendidikan matematika pada umumnya.
Upaya untuk meningkatkan hasil belajar
itu tidaklah mudah untuk dicapai secara maksimal karena banyaknya faktor yang
berpengaruh terhadap hasil belajar itu sendiri. Perbaikan dan penyempurnaan ini
meliputi perbaikan pada sistem pendidikan ataupun dalam hal yang langsung
berkaitan dengan praktik pembelajaran, misalnya dalam penggunaan metode
mengajar.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut,
penulis mencoba untuk menerapkan satu pendekatan baru yang lebih mengarahkan
siswa ke dunia nyata yaitu satu pendekatan yang disebut dengan pendekatan matematika
realistik karena pendekatan ini lebih memfokuskan pada kehidupan riil siswa
yang membentuk lingkungan belajar yang kondusif karena siswa adalah salah satu
faktor pendukung berjalannya kegiatan belajar mengajar (KBM) dan penulis
tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Meningkatkan Hasil Belajar
Matematika Melalui Penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik pada
Siswa Kelas VII MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab.
Bantaeng”.
B.
RUMUSAN MASALAH
PENELITIAN
Berdasarkan
latar belakang serta identifikasi masalah diatas maka rumusan masalah dalam
penelitian ini yaitu : apakah hasil
belajar matematika dapat ditingkatkan melalui penerapan pendekatan pembelajaran matematika
realistik pada siswa
kelas VII MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng ?
C.
TUJUAN
PENELITIAN
Adapun tujuan
penelitian ini adalah untuk meningkatan hasil belajar matematika melalui penerapan
pendekatan pembelajaran matematika realistik pada siswa kelas VII MTs. Ma’arif
Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng.
D.
MANFAAT
PENELITIAN
Berdasarkan uraian di
atas, penelitian ini tentunya memiliki manfaat. Adapun manfaat yang akan diperoleh dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Bagi Siswa
Pelaksanaan penelitian ini akan dapat
membuat siswa lebih berperan aktif dan lebih terampil dalam belajar serta dapat
merangsang belajar matematika, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar sesuai
dengan yang diharapkan dalam upaya mengembangkan pengetahuan.
2.
Bagi Guru
Dapat dijadikan sebagai alternatif untuk
memilih/menyiapkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar
siswa sesuai dengan yang diharapkan serta untuk menumbuh kembangkan pola pikir
siswa khususnya mata pelajaran matematika.
3.
Bagi Sekolah
Pelaksanaan penelitian ini akan dapat
memberikan memberikan informasi dalam rangka meningkatkan pembelajaran di dalam
kelas berupa peningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika
maupun mata pelajaran yang lain dan memperbaiki teknik dan metode pembelajaran
yang memiliki banyak bervariasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR
DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. TINJAUAN PUSTAKA
1.
Belajar
Dalam keseluruhan
proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling
pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak
bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak
didik. Sekarang timbul pertanyaan apakah belajar itu sebenarnya? Samakah
belajar dengan latihan, dengan menghafal, dengan pengumpulan fakta dan studi?
Tentu saja terhadap pertanyaan tersebut banyak pendapat yang mungkin satu sama
lain berbeda.
Ada beberapa pandangan
tentang belajar diantaranya menurut Slameto (1995:2) berpendapat bahwa :
“Belajar
ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”
Perubahan yang terjadi
dalam diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah
tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam
arti belajar.
Adapun definisi belajar menurut Sanjaya (2006:110) sebagai berikut :
“Belajar dianggap sebagai proses perubahan prilaku
sebagai akibat dari pengalaman dan latihan.”
Menurut definisi di
atas seseorang mengalami proses belajar kalau ada perubahan dari tidak tahu
menjadi tahu dalam menguasai ilmu pengetahuan. Belajar disini merupakan “suatu
proses” dimana guru melihat apa yang terjadi selama murid menjalani pengalaman
edukatif untuk mencapai suatu tujuan. Yang harus diperhatikan dari siswa adalah
pola perubahan pada pengetahuan selama pengalaman belajar itu berlangsung.
Sedangkan belajar
menurut Mappasoro (2009) adalah
“Belajar
adalah aktivitas mental (psikhis) yang terjadi karena adanya interaksi aktif
antara individu dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan yang
bersifat relatif tetap dalam aspek-aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif.”
Perubahan tersebut
dapat berupa sesuatu yang sama sekali baru atau penyempurnaan/peningkatan dari
hasil belajar yang telah diperoleh sebelumnya.
Selanjutnya arti
belajar menurut Suparno (1997:61) bahwa :
“Belajar merupakan proses aktif, belajar mengkonstruksi
arti entah teks, dialog, pengalaman fisis, dan lain-lain. Belajar juga
merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang
dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga
pengertiannya dikembangkan.”
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses
perubahan tingkah laku yang baru secara kesulurahan, sebagai akibat dari
pengalaman dan latihan, dengan perubahan–perubahan yang dihasilkan bersifat
relatif tetap.
2. Hasil
Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak
setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses
dari seseorang yang berusaha memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang
bersifat menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang
disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah
ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang
berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional
(Abdurrahman, 2003:38).
A.J. Romiszowski dalam Abdurrahman (2003:38)
mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu sistem pemrosesan masukan (inputs). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam
informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja (performance). Menurut Romiszwoski, hasil
belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu pengetahuan dan
keterampilan. Pengetahuan terdiri dari empat macam kategori, yaitu pengetahuan
tentang fakta, pengetahuan tentang prosedur, pengetahuan tentang konsep dan
pengetahuan tentang prinsip. Keterampilan juga terdiri dari empat kategori,
yaitu keterampilan untuk berpikir atau keterampilan kognitif, keterampilan
untuk bertindak atau keterampilan motorik, keterampilan bereaksi atau bersikap,
dan keterampilan berinteraksi.
Hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi dan
penguasaan awal anak tentang materi yang akan dipelajari. Ini berarti bahwa
guru perlu menetapkan tujuan belajar sesuai dengan kapasitas intelegensi anak
dan pencapaian tujuan belajar perlu menggunakan bahan apersepsi, yaitu bahan
yang telah dikuasai anak sebagai batu loncatan untuk menguasai bahan pelajaran
baru. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan yang diberikan
kepada anak. Ini berarti bahwa guru perlu menyusun rancangan dan pengelolaan
pembelajaran yang memungkinkan anak bebas untuk melakukan eksplorasi terhadap
lingkungannya (Abdurrahman, 2003:40).
Secara umum,
maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah suatu proses kegiatan yang
menimbulkan kegiatan kelakuan baik hingga seseorang lebih mampu memecahkan
masalah dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam
hidupnya. Dari beberapa pemikiran di atas maka hasil belajar dapat dinyatakan
sebagai tingkat penguasaan bahan pelajaran setelah mendapatkan atau memperoleh
pengalaman belajar dalam kurung waktu tertentu, yang dapat diukur dengan
menggunakan tes atau penilaian tertentu melalui proses pembelajaran yang
melibatkan siswa dan guru.
3. Pembelajaran
Matematika
Istilah
mathematics (Inggris), mathematic (Jerman), berasal dari perkataan latin mathematica, yang mulanya diambil dari
perkataan Yunani, mathematike, yang
berarti “relatin learning”. Perkataan
itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan. Perkataan
mathematike berhubungan sangat erat dengan sebuah kata lain yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar
(berpikir). Jadi, berdasarkan etimologis Elea Tinggih (Suherman, 2001:18) perkataan matematika
berarti “Ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan nalar”.
Johnson
dan Rising (Suherman, 2001:19) mengatakan bahwa :
“Matematika adalah pola berpikir, pola
mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika adalah bahasa yang
menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat,
representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai
ide daripada mengenai bunyi”.
Sedangkan
Reys (Suherman, 2001:19) mengatakan bahwa :
“Matematika
adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola pikir, suatu
seni, suatu bahasa, dan suatu alat”.
Jadi, belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep
dan struktur matematika sehingga dapat menimbulkan suatu perubahan tingkah laku
dan pola pikir sebagai hasil pengalaman individu mempelajari matematika.
4.
Hasil
Belajar Matematika
Proses belajar yang di
alami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dibidang pemahaman,
pengetahuan, keterampilan , nilai dan sikap. Adanya perubahan itu tampak dalam
prestasi belajar siswa, tes atau tugas yang dibebankan kepada guru. Bercermin
kepada prestasi belajar siswa, guru harus selalu mengadakan perbaikan-perbaikan
mengajarnya baik metode maupun penguasaan materi yang akan diajarkan. Hasil
yang diperoleh dari penilaian hasil belajar siswa baik individual maupun
kelompok di dalam kelasnya, akan menggambarkan kemajuan yang telah dicapainya
selama periode tertentu.
Hasil belajar
matematika merupakan puncak dari proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi
karena evaluasi guru. Cara menilai hasil belajar matematika biasanya
menggunakan tes. Tujuan dari tes tersebut adalah mengukur hasil belajar yang
dicapai siswa dalam mempelajari matematika. Disamping itu tes juga dipergunakan
untuk menentukan seberapa jauh pemahaman materi yang telah dipelajari karena
itu tes dapat digunakan sebagai penilaian diagnostik, formatif, sumatif dan
penentuan tingkat pencapaian.
Keberhasilan seseorang
mempelajari matematika tidak hanya dipengaruhi minat, kesadaran, kemauan,
tetapi juga bergantung pada kemampuannya terhadap matematika serta diperlukan
keterampilan intelektual, misalnya keterampilan berhitung. Hasil yang dimaksud
adalah tingkat penguasaan untuk mengukur hasil belajar sesuai dengan tujuan
pencapaian kognitif disesuaikan dengan taraf kognitif siswa.
Hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.
Hal-hal yang
dipengaruhi hasil belajar adalah:
a.
Intelegensi dan
penguasaan anak tentang materi yang akan dipelajari.
b.
Adanya
kesempatan yang diberikan oleh anak.
c.
Motivasi.
d.
Usaha yang
dilakukan oleh anak.
Jadi,
Hasil belajar matematika yang dimaksud adalah tingkat keberhasilan
siswa menguasai bahan pelajaran matematika
setelah memperoleh pengalaman belajar matematika dalam suatu kurun waktu tertentu.
5.
Pembelajaran
Matematika Melalui Pendekatan Matematika Realistik
a.
Pengertian Pendekatan Matematika
Realistik
Banyak
pendekatan yang telah dikemukakan oleh para ahli dan bisa digunakan oleh para
pendidik atau tenaga kependidikan dalam proses pembelajaran. Setiap pendekatan
mempunyai kelebihan dan kelemahan Dalam hal ini, guru harus pandai dalam
memilih pendekatan yang sesuai dengan bahan ajar yang akan disampaikan sesuai
dengan karaktersitik anak dan cocok pula dengan sarana dan prasarana yang
tersedia.
Salah satu
pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika adalah pendekatan
matematika reaslistik atau lebih dikenal dengan sebutan RME (Realistic of
Mathematic Education).
Pendidikan
matematika realistik (RME) diketahui sebagai pendekatan yang telah berhasil di
Nederlands. Ada suatu hasil yang menjanjikan dari penelitian kuantitatif dan
kualitatif yang telah ditunjukkan bahwa siswa didalam pendekatan RME mempunyai
skor yang lebih tinggi dibanding dengan
siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan tradisional dalam hal
keterampilan berhitung, lebih khusus lagi dalam aplikasi (Suherman, 2001:125).
Realistic mathematics education,
yang diterjemahkan sebagai pendidikan matematika realistik (PMR), adalah sebuah
pendekatan belajar matematika yang dikembangkan sejak tahun 1971 oleh
sekelompok ahli matematika dari Freudenthal Institute, Utrecht University di
Negeri Belanda. Pendekatan ini didasarkan pada anggapan Hans Freudenthal (1905-1990)
bahwa matematika adalah kegiatan manusia. Menurut pendekatan ini, kelas
matematika bukan tempat memindahkan matematika dari guru kepada siswa,
melainkan tempat siswa menemukan kembali ide dan konsep matematika melalui
eksplorasi masalah-masalah nyata. Di sini matematika dilihat sebagai kegiatan
manusia yang bermula dari pemecahan masalah (Dolk, 2006).
Pembelajaran
matematika tidak dapat dipisahkan dari sifat matematika seseorang memecahkan masalah,
mencari masalah, dan mengorganisasi atau matematisasi materi pelajaran
(Gravemeijer dalam Hadi 2003:1). Secara garis besar PMR atau RME adalah suatu
teori pembelajaran yang telah dikembangkan khusus untuk matematika. Konsep
matematika realistik ini sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan
matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan
pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar (Supinah,
2008:15). Dalam pengertian yang lainnya, Pendekatan matematika realistik adalah
pendekatan pembelajaran matematika yang berdasarkan pandangan konstruktivistik,
yaitu proses belajar matematika yang memberi keleluasaan kepada siswa yang
mengkonstruk konsep-konsep matematika melalui konteks (contextual problem).
Konteks yang diterjemahkan siswa ke dalam model-model matematika sebagai
jembatan untuk menghantarkan siswa sampai memahami konsep-konsep formal.
Dalam pandangan
realistik, matematika merupakan proses kegiatan manusia yang aktif (as human
activity) dan bukan merupakan teori pendidikan matematika yang statis dan
selesai. Sumarmo (2001:10) mengemukakan bahwa: “Matematika juga berkaitan
dengan dunia siswa (realita), menekankan siswa menemukan kembali (reinvention)
melalui penyajian situasi masalah dalam konteks”.
Zulkardi (2001:14)
mengatakan “pendekatan matematika realistik adalah pendekatan dalam pendidikan
matematika yang berdasarkan ide bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan
matematika harus dihubungkan secara nyata dalam konteks kehidupan sehari-hari
siswa sebagai sumber pengembangan sekaligus sebagai aplikasi melalui proses
matematisasi baik horizontal maupun vertikal.
Dari beberapa
pendapat diatas dapat dikatakan bahwa RME atau pendekatan Realistik adalah
pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sehari- hari sebagai sumber
inspirasi dalam pembentukan konsep dan mengaplikasikan konsep- konsep tersebut
atau bisa dikatakan suatu pembelajaran matematika yang berdasarkan pada hal-
hal nyata atau real bagi siswa dan mengacu pada konstruktivis sosial.
Matematika
realistik merupakan pendekatan belajar mengajar matematika yang memanfaatkan
pengetahuan siswa sebagai jembatan untuk memahami konsep-konsep matematika.
Siswa tidak belajar konsep matekatika dengan cara langsung dari guru atau orang
lain melalui penjelasan, tetapi siswa membangun sendiri sesuatu yang diketahui
oleh siswa itu sendiri. Matematika itu sendiri member kesempatan kepada siswa
mengkonstruk sendiri konsep-konsep matematika melalui sesuatu yang
diketahuinya. Berdasarkan sesuatu yang diketahui siswa melakukan, berbuat,
mengerjakan, menginterpretasikan, dan semacamnya, yang akhirnya siswa memahami
konsep matematika. Menurut Freudental (Suherman, 2001:128),
matematika sebagai aktivitas manusia atau mathematics as a human activity. Pandangan
ini mengharuskan matematika dipelajari secara aktif. Gagasan dari kunci
matematika realistik adalah memberi kesempatan siswa menemukan kembali
konsep-konsep matematika melalui bimbingan guru (guide reinvention). Melalui
pengetahuan informal siswa, guru membimbing siswa sampai menemukan
konsep-konsep matematika sebagai pengetahuan formal. Melalui memecahkan
contextual problem yang dipahami, siswa menggunakan pengetahuan informal untuk
menemukan konsep matematika. Proses seperti ini mendorong siswa belajar secara
interaktif, karena guru hanya berperan membangun ide dasar siswa. Matematika
Realistik adalah pendekatan pembelajaran yang memiliki ciri-ciri sebagai
berikut (Suryanto dan Sugiman, 2001:6):
1.
Menggunakan masalah kontekstual,
yaitu matematika dipandang sebagai kegiatan sehari-hari manusia, sehingga
memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi atau dialami oleh siswa (masalah
kontekstual yang realistik bagi siswa) merupakan bagian yang sangat penting.
2.
Menggunakan model, yaitu belajar
matematika berarti bekerja dengan matematika (alat matematis hasil matematisasi
horisontal).
3.
Menggunakan hasil dan konstruksi
siswa sendiri, yaitu siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep-konsep
matematis, di bawah bimbingan guru.
4.
Pembelajaran terfokus pada siswa
5.
Terjadi interaksi antara murid dan
guru, yaitu aktivitas belajar meliputi kegiatan memecahkan masalah kontekstual
yang realistik, mengorganisasikan pengalaman matematis, dan mendiskusikan
hasil-hasil pemecahan masalah tersebut.
b.
Prinsip-Prinsip Matematika Realistik
Untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan RME kita harus tahu prinsip-prinsip yang digunakannya.
Ada tiga prinsip kunci RME (Gravemeijer,1994:90), yaitu: “Guided re-invention,
Didactical Phenomenology dan Self-delevoped Model”.
1)
Guided Re-invention atau Menemukan
Kembali Secara Seimbang.
Memberikan
kesempatan bagi siswa untuk melakukan matematisasi dengan masalah kontekstual
yang realistik bagi siswa dengan bantuan dari guru. Siswa didorong atau
ditantang untuk aktif bekerja bahkan diharapkan dapat mengkonstruksi atau
membangun sendiri pengetahuan yang akan diperolehnya.
2)
Didactical Phenomenology atau Fenomena
Didaktik.
Topik-topik
matematika disajikan atas dasar aplikasinya dan kontribusinya bagi perkembangan
matematika. Pembelajaran matematika yang cenderung berorientasi kepada memberi
informasi atau memberitahu siswa dan memakai matematika yang sudah siap pakai
untuk memecahkan masalah, diubah dengan menjadikan masalah sebagai sarana utama
untuk mengawali pembelajaran sehingga memungkinkan siswa dengan caranya sendiri
mencoba memecahkannya. Dengan masalah kontekstual yang diberikan pada awal
pembelajaran seperti tersebut di atas, dimungkinkan banyak/beraneka ragam cara
yang digunakan atau ditemukan siswa dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian, siswa mulai
dibiasakan untuk bebas berpikir dan berani berpendapat, karena cara yang
digunakan siswa satu dengan yang lain berbeda atau bahkan berbeda dengan
pemikiran guru tetapi cara itu benar dan hasilnya juga benar. Ini suatu
fenomena didaktik. Dengan memperhatikan fenomena didaktik yang ada di dalam
kelas, maka akan terbentuk proses pembelajaran matematika yang tidak lagi
berorientasi pada guru, tetapi diubah kepada pembelajaran matematika yang
berorientasi pada siswa atau bahkan berorientasi pada masalah (Marpaung, 2006:4).
3)
Self-delevoped Models atau model
dibangun sendiri oleh siswa.
Pada waktu siswa
mengerjakan masalah kontekstual, siswa mengembangkan suatu model. Model ini
diharapkan dibangun sendiri oleh siswa, baik dalam proses matematisasi
horizontal ataupun vertikal. Kebebasan yang diberikan kepada siswa untuk
memecahkan masalah secara mandiri atau kelompok, dengan sendirinya akan
memungkinkan munculnya berbagai model pemecahan masalah buatan siswa. Dalam
pembelajaran matematika realistik diharapkan terjadi urutan ”situasi nyata” →
”model dari situasi itu” → ”model ke arah formal” → ”pengetahuan formal”.,
inilah yang disebut ”buttom up” dan merupakan prinsip RME yang disebut
”Self-delevoped Models” (Soedjadi, 2004:1).
c.
Karakteristik Pendekatan Matematika
Realistik
Beberapa karakteristik
pendekatan matematika realistik menurut Gravemeijer (1994:94) adalah sebagai
berikut:
1)
Menggunakan masalah kontekstual
Masalah
konsektual berfungsi sebagai aplikasi dan sebagai titik tolak dari mana
matematika yang digunakan dapat muncul. Bagaimana masalah matematika itu muncul
(yang berhubungan dengan kehidupan sehari- hari).
2)
Menggunakan model atau jembatan
Perhatian
diarahkan kepada pengembangan model, skema, dan simbolisasi dari pada hanya
mentrasfer rumus. Dengan menggunakan media pembelajaran siswa akan lebih faham
dan mengerti tentang pembelajaran aritmatika sosial.
3)
Menggunakan kontribusi siswa
Kontribusi
yang besar pada saat proses belajar mengajar diharapkan dari konstruksi murid sendiri
yang mengarahkan mereka dari metode informal ke arah metode yang lebih formal.
Dalam kehidupan sehari- hari diharapkan siswa dapat membedakan pengunaan
aritmatika sosial terutama pada jual beli. Contohnya: harga baju yang didiskon
dengan harga baju yang tidak didiskon.
4)
Interaktivitas
Negosiasi
secara eksplisit, intervensi, dan evaluasi sesama murid dan guru adalah faktor
penting dalam proses belajar secara konstruktif dimana strategi informal siswa
digunakan sebagai jembatan untuk menncapai strategi formal. Secara berkelompok
siswa diminta untuk membuat pertanyaan kemudian diminta mempresentasikan
didepan kelas sedangkan kelompok yang lain menanggapinya. Disini guru bertindak
sebagai fasilitator.
5)
Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya
(bersifat holistik)
Aritmatika
sosial tidak hanya terdapat pada pembelajaran matematika saja, tetapi juga
terdapat pada pembelajaran yang lainnya, misalnya pada akutansi, ekonomi, dan
kehidupan sehari- hari.
Beberapa hal yang perlu dicatat dari karakteristik pendekatan
matematika realistik di atas adalah bahwa pembelajaran matematika realistik
1)
Termasuk “cara belajar siswa aktif” karena
pembelajaran matematika dilakukan melalui ”belajar dengan mengerjakan.
2)
Termasuk pembelajaran yang berpusat pada siswa
karena mereka memecahkan masalah dari dunia mereka sesuai dengan potensi
mereka, sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator.
3)
Termasuk pembelajaran dengan penemuan terbimbing
karena siswa dikondisikan untuk menemukan atau menemukan kembali konsep dan
prinsip matematika.
4)
Termasuk pembelajaran kontekstual karena titik
awal pembelajaran matematika adalah masalah kontekstual, yaitu masalah yang
diambil dari dunia siswa.
5)
Termasuk pembelajaran konstruktivisme karena
siswa diarahkan untuk menemukan sendiri pengetahuan matematika mereka dengan
memecahkan masalah dan diskusi.
Dua catatan terakhir di atas mengisyaratkan bahwa secara prinsip
pendekatan matematika realistik merupakan gabungan pendekatan konstruktivisme
dan kontekstual dalam arti memberi kesempatan kepada siswa untuk membentuk
(mengkonstruksi) sendiri pemahaman mereka tentang ide dan konsep matematika,
melalui penyelesaian masalah dunia nyata (kontekstual).
d.
Langkah-langkah pembelajaran matematika
realistik
Secara umum langkah-langkah pembelajaran matematika realistik
dapat dijelaskan sebagai berikut (Zulkardi, 2001):
1)
Persiapan
Selain menyiapkan masalah kontekstual, guru harus benar-benar
memahami masalah dan memiliki berbagai macam strategi yang mungkin akan
ditempuh siswa dalam menyelesaikannya.
2)
Pembukaan
Pada bagian ini siswa diperkenalkan dengan strategi pembelajaran
yang dipakai dan diperkenalkan kepada masalah dari dunia nyata. Kemudian siswa
diminta untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara mereka sendiri.
3)
Proses pembelajaran
Siswa mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah sesuai
dengan pengalamannya, dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kelompok.
Kemudian setiap siswa atau kelompok mempresentasikan hasil kerjanya di depan
siswa atau kelompok lain dan siswa atau kelompok lain memberi tanggapan
terhadap hasil kerja siswa atau kelompok penyaji. Guru mengamati jalannya
diskusi kelas dan memberi tanggapan sambil mengarahkan siswa untuk mendapatkan
strategi terbaik serta menemukan aturan atau prinsip yang bersifat lebih umum.
4)
Penutup
Setelah mencapai kesepakatan tentang
strategi terbaik melalui diskusi kelas, siswa diajak menarik kesimpulan dari
pelajaran saat itu. Pada akhir pembelajaran siswa harus mengerjakan soal
evaluasi dalam bentuk matematika formal.
B. KERANGKA BERPIKIR
Secara umum hasil belajar matematika siswa masih
berada dalam tataran rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa, guru diharapkan mampu berkreasi
dengan menerapkan model ataupun pendekatan dalam pembelajaran matematika yang
cocok. Model atau pendekatan ini haruslah sesuai dengan materi yang akan
diajarkan serta dapat mengoptimalkan suasana belajar.
Salah satu
pendekatan yang membawa alam pikiran siswa ke dalam pembelajaran dan melibatkan
siswa secara aktif adalah pendekatan matematika realistik. Pendekatan matematika realistik adalah suatu
pendekatan yang menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal
pembelajaran dimana siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi sendiri
pengetahuan matematika formalnya melalui masalah-masalah realitas yang ada.
Dengan pendekatan ini siswa tidak hanya mudah menguasai konsep dan materi
pelajaran namun juga tidak cepat lupa dengan apa yang telah diperolehnya
tersebut. Pendekatan ini pula tepat diterapkan dalam mengajarkan konsep-konsep
dasar dan diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan
meningkatnya hasil belajar siswa maka pendekatan ini dapat dikatakan efektif.
Dengan kata lain proses belajar matematika dengan menggunakan pendekatan matematika realistik lebih efektif dari pada
pembelajaran tanpa menggunakan pendekatan matematika realistik.
Adapun bagan
dari kerangka berpikir diatas adalah sebagai berikut :
C. HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan tinjuan pustaka, maka hipotesis penelitian ini adalah “Jika
siswa diberi pengajaran dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik
maka hasil belajar siswa kelas VII MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec.
Tompobulu Kab. Bantaeng akan meningkat”.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian
Penelitian ini
adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang
meliputi perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection),
yang
selanjutnya keempat komponen tersebut dirangkaikan dalam suatu siklus kegiatan.
B.
Lokasi dan Subyek Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan pada MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab.
Bantaeng dengan subyek penelitian adalah
siswa kelas VII dengan jumlah siswa 24 orang, terdiri dari 11 laki-laki dan 13 perempuan.
C.
Faktor
Yang Diselidiki
a.
Faktor proses, yaitu dengan mengamati
aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Aktivitas yang dimaksud
antara lain:
1)
Siswa yang hadir pada saat proses
belajar berlangsung.
2)
Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada
guru.
3)
Siswa yang menjawab pertanyaan dari
guru.
4)
Siswa yang aktif pada saat diskusi.
5)
Siswa yang mempresentasikan hasil
diskusinya didepan kelas.
b.
Faktor hasil, yaitu melihat hasil
belajar matematika siswa setelah penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik yang
diperoleh dari setiap tes akhir siklus.
D.
Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini,
instrumen yang digunakan adalah:
a.
Lembar Observasi
Lembar Observasi digunkan untuk
mengetahui data tentang kehadiran siswa,
keaktifan, dan perhatian siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
b.
Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar digunakan untuk
memperoleh informasi tentang penguasaan siswa setelah proses pembelajaran.
E.
Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian
tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus, yaitu siklus I diadakan 4 kali pertemuan yang terdiri dari 3 kali proses belajar dan 1 kali tes siklus 1 dan siklus
II diadakan 4 kali pertemuan yang terdiri dari 3 kali proses belajar dan 1 kali
tes siklus II. Sesuai dengan hakikat penelitan tindakan kelas, maka penelitian
pada siklus II merupakan pelaksanaan perbaikan dari kekurangan pada siklus I, dan setiap siklus terdiri dari 4 tahap yakni
perencanaan, tindakan, observasi, evaluasi, dan refleksi.
Ø Gambaran
Siklus
a.
Tahap Perencanaan
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap
perencanaan ini adalah sebagai berikut :
1)
Menelaah
Kurikulum SMP Kelas VII semester I mata pelajaran matematika.
2)
Membuat
rencana pembelajaran yang mencerminkan pendekatan pembelajaran matematika
realistik.
3)
Membuat
tugas dalam bentuk LKS, yang akan dikerjakan oleh siswa secara berkelompok.
4)
Membuat instrumen penelitian berupa tes hasil belajar
sebanyak 5 nomor dalam bentuk soal essay untuk melakukan evaluasi di setiap
akhir siklus.
5)
Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi
atau keadaan siswa di kelas selama proses belajar mengajar berlangsung.
b.
Tahap Tindakan
1)
Guru
menyajikan materi secara klasikal,
pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan jam pelajaran dan memotivasi siswa
untuk belajar.
2)
Siswa
diarahkan untuk membentuk kelompok kecil yang anggotanya heterogen berjumlah
4-6 orang tiap kelompok.
3)
Siswa
mendengarkan tugas-tugas yang dibacakan oleh guru yang harus dikerjakan oleh
kelompok.
4)
Siswa
diberi soal latihan yang sama dan diselesaikan dengan kelompok masing-masing. Setelah
siswa itu diberi soal yang identik untuk diselesaikan secara individual.
5)
Selama proses belajar kelompok
berlangsung, setiap kelompok tetap diawasi, dikontrol dan diarahkan, serta
diberi bimbingan secara langsung pada kelompok yang mengalami kesulitan.
6)
Evaluasi tentang hasil kerja kelompok,
masing-masing kelompok ditunjuk wakilnya untuk mempresentasikan hasil
diskusinya dan kelompok lain memberi tanggapan.
7)
Guru memberi penghargaan atas hasil
kerja siswa baik secara individual maupun kelompok.
c.
Tahap Observasi
Selama proses
pembelajaran akan diadakan pengamatan tentang:
1)
Kemampuan siswa memahami materi yang
telah dipelajari selama siklus I dengan menggunakan pembelajaran matematika
realistik.
2)
Keaktifan siswa dalam kelompok bertanya
kepada temannya maupun kepada guru atau keaktifan siswa menjawab pertanyaan
yang diajukan oleh guru maupun dengan kelompoknya dengan menggunakan
pembelajaran matematika realistik.
3)
Kelompok
dan kerjasama yang diperlihatkan siswa dalam kelompoknya.
4)
Kesulitan-kesulitan
yang dialami siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan.
d.
Tahap Refleksi
Melihat dan mempelajari kembali hasil yang dilakukan
pada tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan evaluasi. Ternyata pada siklus
I belum sesuai dengan indikator kinerja, maka dilanjutkan pada siklus II.
F.
Teknik
Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.
Data
mengenai sikap, minat serta kesungguhan siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika
realistik diambil dengan
teknik observasi, yaitu pengamatan yang dilakukan penulis kepada siswa yang
menjadi subjek penelitian, pengamatan ini dilakukan disaat berlangsungnya proses belajar mengajar.
b.
Data
mengenai peningkatan prestasi belajar matematika siswa diambil dari hasil tes
pada setiap akhir siklus.
G.
Teknik
Analisis Data
Data yang terkumpul
selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif.
Untuk analisis kuantitatif digunakan deskriptif yaitu rata-rata skor dan
persentase. Selain itu akan dibentuk pula standar deviasi, table frekuensi dan
persentase, nilai minimum dan maksimum yang siswa peroleh.
Untuk analisis data
kualitatif, maka teknik kategorisasi standar yang
ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Sanimbar,
2011) adalah
sebagai berikut:
Nilai 90-100% dikategorikan ”sangat tinggi”
Nilai 80-89% dikategorikan ”tinggi”
Nilai 65-79% dikategorikan ”sedang”
Nilai 55-64% dikategorikan ”rendah”
Nilai 0-54% dikategorikan ”sangat rendah”
H.
Indikator
Keberhasilan
Indikator
keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas (classroom action reseach)
ini adalah setelah diterapkan pembelajaran matematika realistik, maka hasil belajar matematika mengalami
peningkatan. Hasil ini
ditandai dengan terjadinya peningkatan keaktifan fisik, keaktifan mental dan
keaktifan sosial siswa. Sedangkan hasil kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika
ditandai dengan meningkatnya skor rata-rata dengan memperhatikan ketuntasan
belajar siswa. Adapun teknik analisis kualitatif akan digunakan kategori
ketuntasan belajar siswa dapat dari
kategori yaitu Seorang siswa
disebut telah tuntas hasil belajarnya bila ia telah mencapai skor 65% atau 6,5
dan ketuntasan klasikal tercapai jika minimal 85 % mencapai nilai 65 dari skor
ideal 100.
Online Casino | Kadangpintar.com
BalasHapusGet started by 온카지노 playing real money online casino 메리트 카지노 고객센터 games with real money welcome bonuses. Sign-up and start winning 샌즈카지노 real money with KADANGPINTAR!