BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan
jalan utama yang strategis dalam upaya membina dan mengembangkan kualitas dan
sumber daya manusia Indonesia. Manusia yang berkualitas merupakan manusia yang
amat dibutuhkan untuk mendukung proses pembangunan nasional Bangsa Indonesia.
Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, bukan hal yang mudah karena
pendidikan merupakan suatu sistem yang sangat kompleks, sehubungan hal di atas
maka untuk mencapai hal tersebut diperlukan ilmu matematika.
Dalam pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, peranan
pendidikan matematika sangat penting karena matematika sebagai salah satu mata
pelajaran yang mengantar manusia berfikir secara logis, analisis dan
sistematis.
Salah satu yang menentukan
berhasilnya pendidikan adalah pelaksana pendidikan yaitu guru. Guru adalah
ujung tombak pendidikan, sebab guru secara langsung mempengaruhi, membina, dan
mengembangkan kemampuan siswa, agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan
bermoral.
Agar
para siswa tidak menganggap pelajaran matematika merupakan pelajaran yang
sangat susah, maka pengajaran matematika haruslah menarik, menyenangkan, dan
tidak membosankan bagi siswa. Hal ini agar siswa lebih mudah memahami fakta,
sifat, aturan, konsep, definisi, prinsip atau teorema dari matematika. Untuk
mencapai hal itu, maka seorang pendidik yaitu guru dituntut untuk profesional
dalam melakukan pembelajaran.
Guru
yang profesional adalah guru yang memiliki kompotensi yang dipersyaratkan untuk
melakukan tugas pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain, dapat
disimpulkan bahwa pengertian guru yang profesional adalah orang yang memiliki
kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga ia mampu
melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal guru yang
profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki
pengalaman yang luas di bidangnya. Sedangkan Oemar Hamalik (dalam buku Rusman
2010: 19) mengemukakan bahwa guru professional merupakan orang yang telah menempuh
program pendidikan guru dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah
Negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas-kelas. Maka dari itu,
diharapkan kepada seorang guru agar pandai-pandai dalam memilih model dan
pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Sejalan dengan hal di atas, salah satu pendekatan yang dikembangkan
dan diterapkan adalah belajar memecahkan masalah (Problem Solving), menurut
Gagne (dalam buku Made Wena 2011: 52) merupakan tipe belajar yang paling kompleks,
karena di dalamnya terkait tipe-tipe belajar yang lain, terutama penggunaan
aturan-aturan yang ada disertai proses analisis dan penyimpulan. Dalam tipe
Pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving) ini diperlukan proses penalaran
yang kadang-kadang memerlukan waktu yang lama, tetapi dengan tipe belajar ini
kemampuan penalaran anak dapat berkembang.
Pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan
kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi
situasi yang baru. Pemecahan masalah tidak sekedar sebagai bentuk kemampuan
menerapkan aturan-aturan yang telah dikuasai melalui kegiatan-kegiatan belajar
terdahulu, melainkan lebih dari itu, merupakan proses untuk mendapatkan
seperangkat aturan pada tingkat yang lebih tinggi. Apabila seseorang telah
mendapatkan suatu kombinasi perangkat aturan yang terbukti dapat dioperasikan
sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi maka ia tidak saja dapat memecahkan
suatu masalah, melainkan juga telah berhasil menemukan sesuatu yang baru.
Sesuatu yang dimaksud adalah perangkat prosedur
atau strategi yang memungkinkan seseorang dapat meningkatkan kemandirian
dalam berpikir.
Idealnya aktivitas pembelajaran tidak hanya difokuskan pada upaya
mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, melainkan juga bagaimana
menggunakan segenap pengetahuan yang didapat untuk menghadapi situasi baru atau
memecahkan masalah-masalah khusus yang ada kaitannya dengan bidang studi yang
dipelajari. Hakikat pemecahan masalah adalah melakukan operasi prosedural urutan
tindakan, tahap demi tahap secara sistematis, sebagai seorang pemula (novice)
memecahkan suatu masalah. Menurut Travers (dalam Made Wena, 2011), kemampuan
yang berstruktur prosedural harus dapat diuji transfer pada situasi
permasalahan baru yang relevan, karena
yang dipelajari adalah prosedur-prosedur pemecahan masalah yang berorientasi
pada proses. Sedangkan Raka Joni (dalam Made Wena 2011: 52) mengatakan bahwa
proses yang dimaksud bukan dilihat sebagai perolehan informasi yang terjadi
secara satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian
makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi
yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya.
Kemampuan pemecahan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan
masa depannya. Para ahli pembelajaran sependapat bahwa kemampuan pemecahan
masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan
disiplin ilmu yang diajarkan (Made Wena 2011: 53). Persoalan tentang bagaimana
mengajarkan pemecahan masalah tidak akan pernah terselesaikan tanpa
memperhatikan jenis masalah yang ingin dipecahkan, saran dan bentuk program
yang disiapkan untuk mengajarkannya.
Berdasarkan hasil observasi peneliti di kelas VIII SMP Negeri 3
Tarowang, dalam proses pembelajaran di kelas siswa kurang terlibat aktif,
karena pembelajaran didominasi oleh guru sehingga perhatian siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran, komunikasi siswa dengan guru, serta motivasi siswa untuk belajar
menjadi berkurang. Selain itu siswa juga tidak mampu untuk memecahkan masalah
yang dihadapi dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan, penguasaan konsep
dan hasil belajar matematika siswa rendah, dan pembelajaran matematika
jadi membosankan.
Berdasarkan
uraian di atas, maka penulis termotivasi melakukan penelitian eksperimen dengan
judul “Keefektifan Pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah Terhadap
Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang Kabupaten Jeneponto”.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dari
latar belakang maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini
adalah :
1.
Berapa besar hasil belajar
siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang yang diajar dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah?
2.
Berapa hasil belajar siswa
kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang yang diajar dengan menggunakan Pembelajaran Konvensional?
3.
Apakah pembelajaran matematika
yang menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah lebih efektif dari
pada pembelajaran matematika yang menggunakan Pembelajaran Konvensional?
C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari
penelitian ini adalah untuk memperoleh jawaban atas masalah yang telah
dirumuskan di atas. Secara rinci tujuan tersebut adalah untuk mengetahui :
1.
Hasil belajar siswa kelas VIII
SMP Negeri 3 Tarowang yang diajar dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah.
2.
Hasil belajar siswa kelas VIII
SMP Negeri 3 Tarowang yang diajar dengan menggunakan Pembelajaran Konvensional.
3.
Hasil pembelajaran yang diajar dengan
pendekatan Pemecahan Masalah lebih
efektif dari pada pembelajaran matematika yang menggunakan Pembelajaran Konvensional.
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang diharapkan setelah
penelitian ini dilaksanakan adalah :
1.
Bagi siswa, dapat mengetahui
hasil belajar siswa dan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa untuk memecahkan
masalah yang dihadapi dalam pembelajaran matematika.
2.
Bagi guru, sebagai masukan
untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa melalui penerapan pembelajaran
dengan Pendekatan Pemecahan Masalah.
3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan akan
memberi wacana perubahan yang lebih baik sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
A. Pengertian Belajar
Dalam kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak
pernah dapat terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melaksanakan
aktivitas sendiri, maupun di dalam suatu kelompok tertentu. Dipahami atau tidak
dipahami, sesungguhnya sebagian besar aktivitas di dalam kehidupan sehari-hari
kita merupakan belajar. Dengan demikian dapat kita katakan, tidak ada ruang dan
waktu dimana manusia dapat melepaskan dirinya dari kegiatan belajar, dan itu
berarti pula bahwa belajar tidak pernah dibatasi usia, tempat maupun waktu,
karena perubahan yang menuntut terjadinya aktivitas belajar itu juga tidak
pernah berhenti.
Belajar merupakan kegiatan penting setiap orang.
Sebuah survey memperlihatkan bahwa 82% waktu mereka berusia 16 tahun.
Konsekuensinya, 4 dari 5 remaja dan orang dewasa memulai pengalaman belajarnya
yang baru dengan perasaan ketidaknyamanan (Nichol, dalam buku Aunurrahman 2009:
33).
Meskipun belajar, mengajar dan pembelajaran
menunjuk kepada aktivitas yang berbeda, namun keduanya bermuara pada tujuan
yang sama. Belajar mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran, namun pengaruh
aktivitas pembelajaran dalam belajar hasilnya lebih sering menguntungkan.
Mengajar diartikan sebagai suatu keadaan atau suatu aktivitas untuk menciptakan
suatu situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar.
Pengertian belajar dapat kita temukan
dalam berbagai sumber atau literatur. Meskipiun kita melihat ada
perbedaan-perbedaan di dalam rumusan pengertian belajar tersebut masing-masing
ahli, namun secara prinsip kita menemukan kesamaan-kesamaannya. Burton (dalam Aunurrahaman
2009: 35) merumuskan pengertian belajar sebagai perubahan tingkah laku pada
diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan
individu dengan lingkungannya sehingga mereka mampu berinteraksi dengan
lingkungannya. H. C. Witherington (dalam buku Aunurrahman 2009: 35)
mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang
menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap,
kebiasaan, kepribadian atau suatu pengertian. Dalam sebuah situs tentang
pengertian belajar, Abdillah (dalam Aunurrahman 2009: 35) mengidentifikasi
sejumlah pengertian belajar yang bersumber dari para ahli
pendidikan/pembelajaran. James O. Whittaker (dalam buku Aunurrahman 2009: 35)
mengemukakan belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah
melalui latihan atau pengalaman. Belajar adalah suatu proses yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Jika kita simpulkan dari sejumlah
pandangan dan defenisi tentang belajar Wragg (dalam buku Aunurrahman 2009: 35),
kita menemukan beberapa ciri umum kegiatan belajar sebagai berikut:
1. Belajar menunjukkan suatu aktivitas pada
diri seseorang yang disadari atau disengaja.
2. Hasil belajar ditandai dengan perubahan
tingkah laku merupakan hasil belajar, akan tetapi aktivitas belajar umumnya
disertai perubahan tingkah laku.
B. Belajar Matematika
Dari karakteristik
matematika yang menyatakan bahwa objek matematika itu adalah abstrak, maka
dibutuhkan suatu penalaran yang cukup untuk belajar matematika. Belajar
matematika tentang fakta, sifat, aturan, konsep, definisi, prinsip, atau
teorema harus dipahami atau dimengerti dengan jelas, setelah dipahami baru
dihapalkan. Jika belajar matematika hanya dihapalkan saja maka tidak mempunyai
arti atau tidak mempunyai landasan yang kuat.
Soedjadi (dalam
Saedi 2009: 16) menyatakan bahwa belajar matematika tidak ada artinya kalau
hanya dihapalkan saja, belajar matematika baru bermakna jika dimengerti. Karena
belajar matematika pada hakikatnya adalah belajar yang berkenan dengan ide-ide,
struktur-struktur yang diatur menurut urutan logis.
Matematika
mempunyai sistem dan struktur, oleh sebab itu belajar matematika haruslah
bertahap dan kontinu. Mempelajari sebuah konsep haruslah dengan mempelajari
prasyarat konsep tersebut terlebih dahulu. Hal itu akan mempermudah untuk
memahami konsep itu lebih lanjut.
Hudoyo (dalam Saedi 2009: 16)
mengatakan bahwa:
Mempelajari konsep
B yang mendasar kepada konsep A, seseorang perlu memahami konsep A lebih dulu.
Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. Ini berarti
mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada
pengalaman belajar yang lalu.
Dengan
belajar matematika secara bertahap, berurutan, satapak demi setapak, kontinu
dan tidak terputus-putus diharapkan dapat terjadi perubahan kognitif siswa.
Karena dengan adanya perubahan kognitif siswa akan membuat siswa mengaplikasikan
materi matematika yang dipelajari secara konseptual maupun secara praktis dalam
kehidupannya sehari-hari. Konseptual artinya siswa mampu mempelajari materi
matematika lanjutan sedangkan praktis artinya siswa mampu menerapkan materi
matematika dalam ilmu lain.
C.
Kemampuan Belajar
Kemampuan adalah bisa mencapai suatu hal dari
sebelumnya tidak bisa dicapai. Misalnya dalam proses pembelajaran dikatakan
mampu jika siswa sudah dapat memecahkan masalah yang sering dihadapi dalam
proses belajarnya. Hal ini disebut kemampuan belajar. Kemampuan yang untuk
belajar menjadi ciri penting yang membedakan jenisnya dari jenis-jenis mahluk
yang lain (Gredler, dalam buku Aunurrahman 2009: 38).
Menurut Cooper (dalam Sanjaya 2009: 7)
mencatat ada empat wilayah kemampuan
secara umum (general areas of teacher
compotence) yang harus dimiliki guru
yakni:
1. Pemahaman tentang teori belajar dan
perilaku siswa. Persoalan pertama ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk
memahami teori dasar yang diambil dari disiplin ilmu psikologis, antropologi,
sosiologi, lingiuistik, cybernetic,
dan berbagai disiplin ilmu yang lainnya. Kemampuan untuk memahami konsep dasar
disiplin ilmu tersebut sangat penting untuk membantu guru dalam pengelolaan
pembelajaran di dalam kelas.
2. Pemahaman tentang berbagai sikap.
3. Pemahaman tentang materi atau bahan ajar
yang harus disampaikan. Kemampuan penguasaan materi pelajaran memiliki arti
penting bagi setiap guru.
4. Kemampuan tentang berbagai keterampilan
mengajar. Guru yang baik bukan saja harus memahami apa yang akan diajarkan,
tetapi juga harus paham bagaimana cara mengajarkannya.
Cooper
(dalam Sanjaya 2009: 10) menjelaskan bahwa sekaitan dengan keputusan tersebut
di atas, maka peran yang harus dilakukan guru sebagai penentu keputusan
(decision maker) digambarkan oleh Cooper sebagai berikut:
|
Implementasi
|
|
Perencanaan
|
|
Evaluasi
|
Perubahan hasil belajar juga dapat ditandai dengan
perubahan kemampuan berpikir. Seorang guru yang mampu mengembangkan model-model
pembelajaran yang terarah pada latihan-latihan berpikir kritis siswa, misalnya
model-model pembelajaran pemecahan masalah (problem
solving) akan sangat mendukung perubahan kemampuan berpikir siswa.
Model-model pembelajaran dimana guru tidak terlalu banyak memberikan petunjuk
atau arahan (nondirective teaching) akan
tetapi lebih banyak menekankan keaktifan berpikir siswa akan mampu mendorong
percepatan perubahan kemampuan berpikir seseorang.
D. Hakikat Hasil Belajar
Hasil belajar adalah
kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu
sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha memperoleh suatu
bentuk perubahan perilaku yang bersifat menetap. Dalam kegiatan belajar yang
terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan
instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak
yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan
pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional (Abdurrahman, 2003:38).
A. J. Romiszowski dalam
Abdurrahman (2003:38) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu sistem pemprosesan
masukan (inputs). Masukan dari sistem
tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan
atau kinerja (performance). Menurut
Romiszwoski, hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu
pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari empat macam kategori,
yaitu pengetahuan tentang fakta, pengetahuan tentang prosedur, pengetahuan
tentang konsep dan pengetahuan tentang prinsip. Keterampilan juga terdiri dari
empat kategori, yaitu keterampilan untuk berpikir atau keterampilan kognitif,
keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik, keterampilan bereaksi
atau bersikap, dan keterampilan berinteraksi.
Hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi dan penguasaan awal
anak tentang materi yang akan dipelajari. Ini berarti bahwa guru perlu
menetapkan tujuan belajar sesuai dengan kapasitas intelegensi anak; dan
pencapaian tujuan belajar perlu menggunakan bahan apersepsi, yaitu bahan yang
telah dikuasai anak sebagai batu loncatan untuk menguasai bahan pelajaran baru.
Hasil belajar juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan yang diberikan kepada anak.
Ini berarti bahwa guru perlu menyusun rancangan dan pengelolaan pembelajaran
yang memungkinkan anak bebas untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya
(Abdurrahman, 2003:40).
E.
Pendekatan Pembelajaran Matematika
Untuk pengelolaan pembelajaran dibutuhkan
pendekatan pembelajaran, dan pendekatan itu harus disesuaikan dangan
pembelajaran yang akan digunakan. Pemilihan pendekatan yang tidak tepat akan
membuat pembelajaran tidak berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang
direncanakan.
Russefendi dalam Saedi (2009: 32)
menyatakan bahwa pendekatan dalam pembelajaran adalah suatu jalan/cara atau
kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran dilihat dari sudut bagaimana proses pembelajaran atau materi
pembelajaran itu, umum atau khusus dikelola.
Dari uraian di atas, pendekatan yang dimaksudkan
dalam penelitian ini adalah suatu pendekatan atau jalan, cara atau
kebijaksanaan yang ditempuh guru dalam proses penyampaian atau penyajian topik
tertentu agar mempermudah siswa memahaminya.
F.
Pendekatan Pemecahan Masalah
Pemecahan Masalah atau Problem Solving juga merupakan salah
satu pendekatan dalam pembelajaran matematika. Tetapi sebelum menjelaskan
pengertian pemecahan masalah, terlebih dahulu dijelaskan pengertian masalah itu
sendiri.
Bell (dalam Upu 2003: 29) mengemukakan bahwa suatu
situasi dikatakan masalah bagi seseorang jika ia menyadari keberadaan situasi
tersebut, mengakui bahwa situasi tersebut memerlukan tindakan dan dengan segera
dapat menemukan pemecahannya. Hayes (dalam Upu 2003: 29) mendukung pendapat
tersebut dengan mengatakan bahwa suatu masalah merupakan kesenjangan antara
keadaan sekarang dengan tujuan yang ingin dicapai, sedangkan kita tidak
mengetahui apa yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Berdasarkan beberapa pengertian tentang masalah
(problem) yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dikatakan bahwa suatu
situasi tertentu, tetapi belum tentu marupakan masalah bagi orang lain. Dengan kata lain, suatu situasi mungkin
merupakan masalah bagi seseorang pada waktu tertentu, akan tetapi belum tentu
merupakan masalah baginya pada saat yang berbeda.
Polya (dalam Upu 2003: 31) mengartikan pemecahan
masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna
mencapai suatu tujuan yang tidak begitu mudah segera dapat dicapai. Pemecahan
masalah dalam hal ini meliputi dua aspek, yaitu masalah untuk menemukan (problem to find) dan masalah membuktikan
(problem to prove). Pemecahan masalah
dapat juga diartikan sebagai penemuan langkah-langkah untuk mengatasi
kesenjangan yang ada. Sedangkan kegiatan pemecahan masalah itu sediri merupakan
kegiatan manusia dalam menerapkan konsep-konsep dan aturan-aturan yang
diperoleh sebelumnya.
Utari (dalam Upu 2003: 29) menegaskan bahwa
pemecahan masalah dapat berupa menciptakan ide baru, menemukan teknik atau
produk baru. Bahkan di dalam pembelajaran matematika, selain pemecahan masalah
mempuanyai arti khusus, istilah tersebut juga mempunyai interpretasi yang
berbeda. Misalnya menyelesaikan soal cerita atau soal yang tidak rutin dan
mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dari sejumlah
pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa pemecahan masalah merupakan usaha
nyata dalam rangka mencapai jalan keluar atau ide yang berkenan dengan tujuan yang
ingin dicapai.
Upu (2003: 34) mengemukakan bahwa
pemecahan masalah matematika memerlukan langkah-langkah dan prosedur yang
benar. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat mengarahkan siswa dalam
melakukan pemecahan masalah matematika.
Polya (dalam Upu 2003: 34) mengajukan sejumlah
langkah berkaitan dengan pemecahan masalah yaitu sebagai berikut:
1. Pemahaman masalah (understanding the problem)
2. Perencanaan penyelesaian (devising a plan)
3. Pelaksanaan (carrying out the plan)
4. Pemeriksaan kembali proses dan hasil (looking
back).
Menurut Burner (dalam Trianto 2007: 67) mengatakan bahwa berusaha sendiri
untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya,
menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Suatu konsekuensi logis,
karena dengan berusaha untuk mencari pemecahan masalah secara mandiri akan
memberikan suatu pengalaman konkret, dengan pengalaman tersebut dapat digunakan
pula memecahkan masalah-masalah serupa, karena pengalaman itu memberikan makna
tersendiri bagi peserta didik.
G.
Penelitian yang Relevan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh:
1.
Syamsul
Tasbih. A (2010) dengan judul penelitian ”Peningkatan Hasil Belajar Metematika
melalui Pendekatan Pemecahan Masalah pada Siswa Kelas XI SMAN 1 Mambi Kabupaten
Mamasa” dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa meningkat
setelah diterapkan strategi Pendekatan Pemecahan Masalah dengan skor rata-rata
pada siklus I 69,9% meningkat menjadi 77,2% pada siklus II.
2.
Besse
Mardiyah Damis (2004) dengan judul penelitian ”Peningkatan Hasil Belajar
Matematika melalui Pembelajaran dengan Metode Pemecahan Masalah Siswa Kelas 17
SMPN 13 Makassar” dapat disimpulkan bahwa dengan metode Pemecahan Masalah pada
siklus I berada pada kategori kurang dengan skor rata-rata 19,31% meningkat
menjadi 33,18% pada siklus II.
H.
Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran Konvensional adalah
pembelajaran yang biasa diterapkan guru di SMP Negeri 3 Tarowang yaitu proses
dimana guru menjelaskan sementara siswa memperhatikan dan mencatat hal-hal yang
dianggap penting, setiap selesai satu unit pelajaran diberi test formatif untuk
mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang baru diberikan secara
keseluruhan kemudian langsung pada materi.
I.
Efektivitas Pembelajaran
Efektivitas atau
keefektifan secara harfiah berarti keberhasilan tentang usaha atau tindakan
(Tim PKP3B, 1990:219). Istilah efektivitas yang lazim digunakan dalam manajemen
pendidikan misalnya efektivitas program, efektivitas pembelajaran dan
efektivitas pengelola. Kata efektif sendiri berarti berhasil guna (Tim PKP3B,
1990:219). Slamet (2001:32) mendefinisikan efektivitas sebagai ukuran yang
menyatakan sejauh mana tujuan (kualitas, kuantitas, dan waktu) telah dicapai.
Sedangkan Ekosusilo dalam Nugraha (2006:6) mengemukakan bahwa efektivitas
adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang telah direncanakan
dapat tercapai, semakin banyak rencana yang dapat dicapai, berarti semakin
efektif pula kegiatan tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa efektivitas
adalah hal, ukuran atau keadaan yang berkaitan dengan sejauh mana keberhasilan
dari suatu usaha atau tindakan.
Pembelajaran, dalam hal
ini proses belajar-mengajar, mengacu pada serangkaian interaksi timbal balik
antara guru dan siswa dalam situasi edukatif. Proses disini dapat diartikan sebagai
interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar-mengajar yang
satu sama lainnya saling berhubungan (interdependent)
dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman, 1995:5). Belajar diartikan sebagai
proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara
individu dan individu dengan lingkungannya. Perubahan ini dapat ditandai dengan
perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun
aspek sikapnya (Usman,1995:5). Dari sini dapat kita lihat bahwa mengajar
merupakan pembimbingan atas suatu kegiatan pembelajaran. Usman (1995:6)
mengemukakan bahwa mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan
belajar-mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu
usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan
pengajaran yang menimbulkan proses belajar. Oleh karena itu dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran atau proses belajar-mengajar adalah suatu proses yang
mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal
balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.
Dengan demikian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa efektivitas
pembelajaran adalah ukuran keberhasilan dari suatu proses interaksi antara guru
dan siswa dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu dalam hal ini
tujuan dari pembelajaran itu sendiri.
J. Kerangka Pikir
Secara umum hasil belajar
matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep matematika masih
berada dalam tataran rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa
dan penguasaan siswa terhadap konsep dasar matematika guru diharapkan mampu
berkreasi dengan menerapkan model ataupun pendekatan dalam pembelajaran
matematika yang cocok. Model atau pendekatan ini haruslah sesuai dengan materi
yang akan diajarkan serta dapat mengoptimalkan suasana belajar.
Salah
satu pendekatan yang membawa alam pikiran siswa ke dalam pembelajaran dan
melibatkan siswa secara aktif adalah Pendekatan
Pemecahan Masalah. Pendekatan Pemecahan Masalah adalah pendekatan yang digunakan dalam
mempelajari ilmu pengetahuan dengan maksud merubah keadaan yang ritual menjadi
suatu keadaan, seperti yang dikehendaki dengan memperhatikan prosedur pemecahan
secara sistematis . Dengan pendekatan ini siswa tidak hanya mudah menguasai
konsep dan materi pelajaran namun juga tidak cepat lupa dengan apa yang telah
diperolehnya tersebut. Pendekatan ini pula tepat diterapkan dalam mengajarkan
konsep-konsep dasar dan diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
Dengan meningkatnya hasil belajar siswa maka pendekatan ini dapat dikatakan
efektif. Dengan kata lain proses belajar matematika dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah lebih efektif dari pada menggunakan Pembelajaran Konvensional.
K. Hipotesis Penelitian
Berangkat dari kajian
teori, penelitian yang relevan dan kerangka berpikir maka hipotesis dari
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai ”pembelajaran matematika dengan
menggunakan Pendekatan Pemasalahan Masalah lebih efektif dari pembelajaran
matematika dengan menggunakan Pembelajaran
Konvensional pada siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang”.
Dalam pengujian statistik, hipotesis tersebut dirumuskan sebagai
berikut :
H0 :
µ1 = µ 2 lawan H1 : µ 1 > µ 2
Keterangan:
: Parameter skor rata-rata hasil belajar
matematika dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah.
: Parameter skor rata-rata hasil belajar
matematika dengan menggunakan Pembelajaran Konvensional.
BAB III
METODE
PENELITIAN
A.
Variabel Penelitian dan
Desain Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis
penelitian eksperimen semu, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk
mencari perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.
Dalam penelitian ini melibatkan 2 kelompok, yaitu satu kelompok eksperimen dan
satu kelompok kontrol (pembanding). Untuk kelompok eksperimen diajar dengan pembelajaran yang menggunakan Pendekatan
Pemecahan Masalah sedangkan pada kelompok kontrol diajar dengan menggunakan Pembelajaran Konvensional.
2.
Variabel
Penelitian
Variabel Penelitian ini adalah
variabel tunggal yaitu hasil belajar matematika siswa dengan Pendekatan
Pemecahan Masalah dan hasil belajar menggunakan Pembelajaran
Konvensional.`
3.
Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan
adalah:
|
|
Grup
|
Pretest
|
Treatment
|
Posttest
|
|
(R)
(R)
|
Eksperimen
Kontrol
|
O1
O1
|
T
T
|
O2
O2
|
|
|
E : Kelas Eksperimen
K : Kelas Kontrol
R : Random
T : Treatment (perlakuan)
O1 : Pretest sebelum
perlakuan
O2 : Postest setelah perlakuan
Adapun desain penelitian yang digunakan dalam peneliatian ini adalah
rancangan dengan jenis Desain Kelompok Kontrol Pretes-Postes (The Pretest-Posttest Control Group Design). Rancangan penelitian ini melibatkan dua
kelompok belajar yang diambil secara acak. Dimana satu kelas dijadikan kelas
eksperimen dan satu dijadikan kelas kontrol, kemudian diberi pretes untuk
mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol.
B.
Definisi Operasional
Variabel dan Perlakuan
Variabel dalam penelitian ini
adalah hasil belajar siwa kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang melalui dua macam pendekatan
pembelajaran yaitu Pendekatan Pemecahan Masalah dan Pembelajaran Konvensional.
1. Pendekatan Pemecahan Masalah
Pendekatan pemecahan masalah adalah pendekatan yang digunakan dalam
mempelajari
suatu ilmu pengetahuan dengan maksud mengubah keadaan ritual menjadi
suatu keadaan, seperti yang dikehendaki dengan memperhatikan prosedur pemecahan
secara sistematis.
2. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang biasa yang diterapkan
guru di SMP Negeri 3 Tarowang yaitu proses dimana guru menjelaskan sementara
siswa memperhatikan dan mencatat hal-hal yang dianggap penting, setiap selesai
satu unit pelajaran diberi tes formatif untuk mengetahui tingkat pemahaman
siswa terhadap materi yang baru diberikan secara keseluruhan kemudian langsung
pada materi.
3. Hasil belajar Matematika
Hasil belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian adalah nilai
akhir yang diperoleh setelah menjawab soal-soal tes hasil belajar yang
diberikan setelah mendapatkan pengajaran materi dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan
Masalah dan Pembelajaran Konvensional dalam jangka waktu tertentu pada siswa
kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang kab. Jeneponto.
4. Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata “efektif”. Menurut kamus Bahasa Indonesia,
efektif berati dapat memberikan hasil; ada pengaruhnya; ada akibatnya; ada
efeknya. Suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang sudah direncanakan
dapat tercapai. Semakin banyak rencana yang dapat dicapai, berarti semakin
efektif pula kegitan tersebut. Sedangkan pembelajaran matematika merupakan
upaya atau cara yang dilakukan dalam membantu siswa dalam mengembangkan konsep-konsep
matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses interaksi antara guru dan
siswa.
Keefektifan
pembelajaran yang dimaksud pada penelitian ini adalah sejauh mana pembelajaran
matematika berhasil menjadikan siswa mencapai tujuan pembelajaran yang dapat
dilihat dari ketuntasan belajar. Dengan demikian
penekanan efektivitas pada penelitian ini adalah sejauh mana keberhasilan pembelajaran
dengan Pendekatan Pemecahan Masalah.
C.
Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas
VIII SMP Negeri 3 Tarowang tahun ajaran
2011/2012 yang terdiri atas dua kelas.
2.
Sampel
Sampel
pada penelitian ini adalah siswa kelas VIII pada tahun ajaran 2011/2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan ”Cluster Random Sampling, sebab
pada sekolah tersebut hanya ada dua kelas VIII yaitu kelas VIII1 dan
VIII2. Sehingga kedua kelas tersebut langsung diambil sebagai sampel
untuk penelitian ini. Langkah-langkah pengambilan
sampelnya adalah sebagai berikut:
a.
Karena pada sekolah tersebut
kelas VIII yang terdiri dari kelas VIII1 dan VIII2, maka
kedua kelas tersebut langsung diambil sebagai sampel. Selain itu, siswa pada
kedua kelas yaitu VIII1 dan VIII2 memiliki kemampuan yang
sama yang dilihat dari rata-rata skor hasil pretest yang diberikan sebelum
perlakuan.
b.
Menentukan
secara random salah satu dari 2 kelas sebagai kelompok eksperimen dan kelas
yang lain sebagai kelompok kontrol. Terpilih kelas VIII1
sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII2 sebagai kelas kontrol.
c.
Siswa yang terlibat dalam kedua
kelas tersebut merupakan sampel yang akan diselidiki dalam penelitian ini.
D.
Pelaksanaan Eksperimen
1.
Langkah-langkah kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah sebagai berikut :
a.
Kegiatan Guru
1. Mengapersepsi (Persiapan Mental siswa) .
2.
Orientasi siswa pada masalah.
a.
Membimbing siswa secara
bertahap untuk melakukan analisis soal.
b.
Membimbing siswa untuk
melakukan trans-formasi soal.
c.
Membimbing siswa melakukan
operasi hitungan.
d.
Membimbing siswa melakukan
pengecekan terhadap hasil penyelesaian soal.
3.
Membimbing penyelidikan
individu maupun kelompok.
4.
Mengembangkan dan menyajikan
hasil karya.
5.
Menganalisis dan mengevaluasi
proses pemecahan masalah
6.
Materi latihan/PR.
b.
Kegiatan Siswa
1.
Mengingat kembali materi yang
telah diajarkan.
2.
Memahami tujuan pembelajaran
3.
Siswa memperhatikan dan
mendengarkan arahan-arahan dari guru tentang proses pembelajaran yang akan
berlangsung.
a.
Membaca seluruh soal yang
diberikan secara saksama, mentransformasi soal kebentuk skema yang
menggambarkan situasi soal, menulis besaran yang ditanyakan, memperkirakan
jawaban.
b.
Mengecek apakah soalnya sudah
berbentuk standar? Jika ya lanjutkan ke fase berikutnya; jika tidak ikuti
langkah selanjutnya.
c.
Mensubtitusikan data yang
diketahui ke dalam bentuk standar yang telah diperoleh, kemudian melakukan
perhitungan, mengecek apakah tanda dan satuan telah sesuai?
d.
Mengecek jawaban dengan cara
membandingkan dengan perkiraan jawaban yang dibuat pada fase pertama, mengecek
apakah jawaban sudah sesuai dengan apa yang ditanyakan?, menelusuri
kesalahan-kesalahan apa yang telah dilakukan.
4.
Mencatat soal-soal yang
diberikan oleh guru sebagai PR.
2.
Langkah-langkah kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran konvensional sebagai berikut :
a.
Kegiatan Guru
1.
Menulis pokok bahasan/sub pokok
bahasan dari materi yang akan dibahas di papan tulis.
2.
Menyampaikan tujuan
pembelajaran.
3.
Menjelaskan tentang materi
pembelajaran yang akan berlangsung.
4.
Memberikan kesempatan kepada
siswa yang ingin bertanya.
5.
Memberikan soal-soal yang ada
pada buku paket untuk dikerjakan di kelas.
6.
Memberikan soal-soal pekerjaan
rumah.
b.
Kegiatan Siswa
1.
Menulis pokok bahasan/sub pokok
bahasan di buku catatan.
2.
Memahami tujuan pembelajaran.
3.
Siswa memperhatikan dan
mendengarkan penjelasan guru.
4.
Menanyakan hal-hal yang kurang
jelas.
5.
Memahami Penjelasan guru.
6.
Mengerjakan soal latihan pada
buku paket.
7.
Mencatat soal-soal yang
diberikan oleh guru sebagai PR.
E.
Instrumen Penelitian
Pengumpulan data untuk penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar matematika, tes ini dimaksud
untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi. Tes hasil belajar
yang digunakan adalah bentuk essay yang dikembangkan oleh penulis sendiri.
Sebelum digunakan untuk pengambilan data penelitian, tes ini terlebih dahulu
divalidasi oleh beberapa validator.
F.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data terlebih dahulu dilakukan
dengan memberi pretest hasil belajar secara langsung pada kedua kelompok sampel
yang dilaksanakan pada tanggal 16 November 2011. Kemudian memberi treatment
(perlakuan) terhadap kedua kelompok sampel yang dilaksanakan pada tanggal 21,
23, 28 dengan proporsi waktu dan pemberian waktu yang sama. Setelah itu, pada
tanggal 30 November 2011 kemudian memberi tes hasil belajar (posttest) kepada
kedua kelompok sampel. Pengawasan dilakukan secara langsung oleh penulis dengan
dibantu oleh guru bidang studi matematika SMP Negeri 3 Tarowang.
Data yang terkumpul merupakan skor
masing-masing siswa. Skor tersebut akan mencerminkan tingkat daya serap atau
hasil belajar siswa yang dicapai selama penelitian berlangsung dan tes yang
diberikan kedua kelompok adalah sama.
G.
Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, data yang diperoleh akan
dianalisis dengan menggunakan 2 analisis statistik, yaitu analisis statistik
deskriptif dan analisis statistik inferensial. Analisis statistik deskriptif
digunakan untuk mendeskripsikan nilai hasil belajar matematika siswa diajar
dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah dan Pembelajaran Konvensional.
Sedangkan analisis statistik inferensial digunakan untuk pengujian hipotesis
penelitian. Dalam analisis ini digunakan statistik uji-t. Namun, sebelum
dilakukan uji-t terlebih dahulu dilakukan
uji prasyarat analisis yakni uji normalitas dan uji homogenitas.
Selanjutnya
kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori kemampuan siswa dalam
memecahkan masalah didasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Departemen
Pendidikan Nasional (Syarifah, 2010) adalah sebagai berikut:
Tabel Teknik Kategorisasi
|
Skor
|
Kategorisasi
|
|
0 – 54
55 – 64
65 – 79
80 – 89
90 – 100
|
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
|
DAFTAR
PUSTAKA
Abdurrahman,
Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar. Cetakan Kedua. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Anonim. 1994. Petunjuk Pelaksanaan PBM. Depdikbud. Jakarta.
Arikunto.
Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Edisi
Revisi VII. Rineka Cipta. Jakarta.
Aunurrahman. 2009. Belajar dan
Pembelajaran. Alfabeta. 2009.
Bandung.
Baharuddin
dan Wahyudin, Esa Nur. 2007. Teori
Belajar dan Pembelajaran. Cetakan V 2010. Penerbit Ar- Ruzz Media.
Jogjakarta.
Besse
Mardiyah Damis. 2004. Peningkatan Hasil
Belajar Matematika melalui Pembelajaran dengan Metode Pemecahan Masalah Siswa
Kelas 17 SMPN 13 Makassar. Skripsi FKIP Unismuh Makassar.
Djarwanto,
PS. 2003. Statistik Non Parametrik.
Edisi 2003/2004. Surakarta BPFE. Yogyakarta.
Emzir.
2008. Metodologi Penelitian pendidikan.
Edisi Revisi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Rosyada,
Dede. 2004. Paradigma Pendidikan
Demokratis. Prenada Media. Jakarta.
Ruseffendi, ET. 1988. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan
Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Tarsito. Bandung.
Rusman.
2010. Model-Model Pembelajaran. PT
Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sagala,
Syaiful. 2011. Konsep dan Makna
Pembelajaran. Alfabeta. Bandung.
Slamet.
2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis
Sekolah. Depdiknas. Jakarta.
Soedjadi, R. 1999. Kiat Pendidikan
Matematika di Indonesia. Depdikbud. Jakarta.
Sugiyono.
2011. Metode Penelitian Pendidikan
Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Cetakan Ke-12. Penerbit
Alfabeta. Bandung.
Suryabrata,
Sumadi. 2003. Metodologi Penelitian.
PT. Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Syafaruddin. 2008. Efektivitas
Kebijakan Pendidikan: Konsep, strategi, dan Aplikasi Kebijakan Menuju
organisasiSekolah Efektif. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Syamsul
Tasbih, A. 2010. Peningkatan Hasil Belajar
Matematika melalui Pendekatan Pemecahan Masalah pada Siswa Kelas XI SMAN 1
Mambi Kabupaten Mamasa. Skripsi FKIP Unismuh Makassar.
Syarifah.
2010. Meningkatkan Kemampuan Memecahkan
Masalah Matematika Melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Open-Ended pada Siswa
SMP Negeri 13 Makassar. Skripsi FKIP Unismuh Makassar.
Upu, Hamzah. 2003. Problem possing dan problem solving dalam pembelajaran matematika.
Bandung: Pustaka Ramadhan.
Wena,
Made. 2011. Strategi Pembelajaran
Inovatif Kontemporer. Bumi Aksara. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar