Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: Keefektifan Pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang Kabupaten Jeneponto



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan jalan utama yang strategis dalam upaya membina dan mengembangkan kualitas dan sumber daya manusia Indonesia. Manusia yang berkualitas merupakan manusia yang amat dibutuhkan untuk mendukung proses pembangunan nasional Bangsa Indonesia. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, bukan hal yang mudah karena pendidikan merupakan suatu sistem yang sangat kompleks, sehubungan hal di atas maka untuk mencapai hal tersebut diperlukan ilmu matematika.
Dalam pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, peranan pendidikan matematika sangat penting karena matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang mengantar manusia berfikir secara logis, analisis dan sistematis.
     Salah satu yang menentukan berhasilnya pendidikan adalah pelaksana pendidikan yaitu guru. Guru adalah ujung tombak pendidikan, sebab guru secara langsung mempengaruhi, membina, dan mengembangkan kemampuan siswa, agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral.
Agar para siswa tidak menganggap pelajaran matematika merupakan pelajaran yang sangat susah, maka pengajaran matematika haruslah menarik, menyenangkan, dan tidak membosankan bagi siswa. Hal ini agar siswa lebih mudah memahami fakta, sifat, aturan, konsep, definisi, prinsip atau teorema dari matematika. Untuk mencapai hal itu, maka seorang pendidik yaitu guru dituntut untuk profesional dalam melakukan pembelajaran.
Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompotensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa pengertian guru yang profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal guru yang profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang luas di bidangnya. Sedangkan Oemar Hamalik (dalam buku Rusman 2010: 19) mengemukakan bahwa guru professional merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan guru dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah Negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas-kelas. Maka dari itu, diharapkan kepada seorang guru agar pandai-pandai dalam memilih model dan pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Sejalan dengan hal di atas, salah satu pendekatan yang dikembangkan dan diterapkan adalah belajar memecahkan masalah (Problem Solving), menurut Gagne (dalam buku Made Wena 2011: 52) merupakan tipe belajar yang paling kompleks, karena di dalamnya terkait tipe-tipe belajar yang lain, terutama penggunaan aturan-aturan yang ada disertai proses analisis dan penyimpulan. Dalam tipe Pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving) ini diperlukan proses penalaran yang kadang-kadang memerlukan waktu yang lama, tetapi dengan tipe belajar ini kemampuan penalaran anak dapat berkembang.
Pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Pemecahan masalah tidak sekedar sebagai bentuk kemampuan menerapkan aturan-aturan yang telah dikuasai melalui kegiatan-kegiatan belajar terdahulu, melainkan lebih dari itu, merupakan proses untuk mendapatkan seperangkat aturan pada tingkat yang lebih tinggi. Apabila seseorang telah mendapatkan suatu kombinasi perangkat aturan yang terbukti dapat dioperasikan sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi maka ia tidak saja dapat memecahkan suatu masalah, melainkan juga telah berhasil menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang dimaksud adalah perangkat prosedur  atau strategi yang memungkinkan seseorang dapat meningkatkan kemandirian dalam berpikir.
Idealnya aktivitas pembelajaran tidak hanya difokuskan pada upaya mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, melainkan juga bagaimana menggunakan segenap pengetahuan yang didapat untuk menghadapi situasi baru atau memecahkan masalah-masalah khusus yang ada kaitannya dengan bidang studi yang dipelajari. Hakikat pemecahan masalah adalah melakukan operasi prosedural urutan tindakan, tahap demi tahap secara sistematis, sebagai seorang pemula (novice) memecahkan suatu masalah. Menurut Travers (dalam Made Wena, 2011), kemampuan yang berstruktur prosedural harus dapat diuji transfer pada situasi permasalahan  baru yang relevan, karena yang dipelajari adalah prosedur-prosedur pemecahan masalah yang berorientasi pada proses. Sedangkan Raka Joni (dalam Made Wena 2011: 52) mengatakan bahwa proses yang dimaksud bukan dilihat sebagai perolehan informasi yang terjadi secara satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya.
Kemampuan pemecahan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan masa depannya. Para ahli pembelajaran sependapat bahwa kemampuan pemecahan masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkan (Made Wena 2011: 53). Persoalan tentang bagaimana mengajarkan pemecahan masalah tidak akan pernah terselesaikan tanpa memperhatikan jenis masalah yang ingin dipecahkan, saran dan bentuk program yang disiapkan untuk mengajarkannya.
Berdasarkan hasil observasi peneliti di kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang, dalam proses pembelajaran di kelas siswa kurang terlibat aktif, karena pembelajaran didominasi oleh guru sehingga perhatian siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, komunikasi siswa dengan guru, serta motivasi siswa untuk belajar menjadi berkurang. Selain itu siswa juga tidak mampu untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan, penguasaan konsep dan hasil belajar matematika siswa  rendah, dan pembelajaran matematika jadi membosankan.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis termotivasi melakukan penelitian eksperimen dengan judul “Keefektifan Pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang Kabupaten Jeneponto”.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dari latar belakang maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah :
1.    Berapa besar hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang yang diajar dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah?
2.    Berapa hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang yang diajar dengan menggunakan Pembelajaran Konvensional?
3.    Apakah pembelajaran matematika yang menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah lebih efektif dari pada pembelajaran matematika yang menggunakan Pembelajaran Konvensional?
C.    TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh jawaban atas masalah yang telah dirumuskan di atas. Secara rinci tujuan tersebut adalah untuk mengetahui :
1.    Hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang yang diajar dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah.
2.    Hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang yang diajar dengan  menggunakan Pembelajaran Konvensional.

3.    Hasil pembelajaran yang diajar dengan pendekatan Pemecahan Masalah lebih efektif dari pada pembelajaran matematika yang menggunakan Pembelajaran Konvensional.
D.    MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang diharapkan setelah penelitian ini dilaksanakan adalah :
1.   Bagi siswa, dapat mengetahui hasil belajar siswa dan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran matematika.
2.   Bagi guru, sebagai masukan untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa melalui penerapan pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah.
3.   Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan akan memberi wacana perubahan yang lebih baik sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.








BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian Belajar
Dalam kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak pernah dapat terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melaksanakan aktivitas sendiri, maupun di dalam suatu kelompok tertentu. Dipahami atau tidak dipahami, sesungguhnya sebagian besar aktivitas di dalam kehidupan sehari-hari kita merupakan belajar. Dengan demikian dapat kita katakan, tidak ada ruang dan waktu dimana manusia dapat melepaskan dirinya dari kegiatan belajar, dan itu berarti pula bahwa belajar tidak pernah dibatasi usia, tempat maupun waktu, karena perubahan yang menuntut terjadinya aktivitas belajar itu juga tidak pernah berhenti.
Belajar merupakan kegiatan penting setiap orang. Sebuah survey memperlihatkan bahwa 82% waktu mereka berusia 16 tahun. Konsekuensinya, 4 dari 5 remaja dan orang dewasa memulai pengalaman belajarnya yang baru dengan perasaan ketidaknyamanan (Nichol, dalam buku Aunurrahman 2009: 33).
Meskipun belajar, mengajar dan pembelajaran menunjuk kepada aktivitas yang berbeda, namun keduanya bermuara pada tujuan yang sama. Belajar mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran, namun pengaruh aktivitas pembelajaran dalam belajar hasilnya lebih sering menguntungkan. Mengajar diartikan sebagai suatu keadaan atau suatu aktivitas untuk menciptakan suatu situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar.
Pengertian belajar dapat kita temukan dalam berbagai sumber atau literatur. Meskipiun kita melihat ada perbedaan-perbedaan di dalam rumusan pengertian belajar tersebut masing-masing ahli, namun secara prinsip kita menemukan kesamaan-kesamaannya. Burton (dalam Aunurrahaman 2009: 35) merumuskan pengertian belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka mampu berinteraksi dengan lingkungannya. H. C. Witherington (dalam buku Aunurrahman 2009: 35) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian atau suatu pengertian. Dalam sebuah situs tentang pengertian belajar, Abdillah (dalam Aunurrahman 2009: 35) mengidentifikasi sejumlah pengertian belajar yang bersumber dari para ahli pendidikan/pembelajaran. James O. Whittaker (dalam buku Aunurrahman 2009: 35) mengemukakan belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya.
Jika kita simpulkan dari sejumlah pandangan dan defenisi tentang belajar Wragg (dalam buku Aunurrahman 2009: 35), kita menemukan beberapa ciri umum kegiatan belajar sebagai berikut:
1.      Belajar menunjukkan suatu aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja.
2.      Hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku merupakan hasil belajar, akan tetapi aktivitas belajar umumnya disertai perubahan tingkah laku.
B.     Belajar Matematika
Dari karakteristik matematika yang menyatakan bahwa objek matematika itu adalah abstrak, maka dibutuhkan suatu penalaran yang cukup untuk belajar matematika. Belajar matematika tentang fakta, sifat, aturan, konsep, definisi, prinsip, atau teorema harus dipahami atau dimengerti dengan jelas, setelah dipahami baru dihapalkan. Jika belajar matematika hanya dihapalkan saja maka tidak mempunyai arti atau tidak mempunyai landasan yang kuat.
Soedjadi (dalam Saedi 2009: 16) menyatakan bahwa belajar matematika tidak ada artinya kalau hanya dihapalkan saja, belajar matematika baru bermakna jika dimengerti. Karena belajar matematika pada hakikatnya adalah belajar yang berkenan dengan ide-ide, struktur-struktur yang diatur menurut urutan logis.
Matematika mempunyai sistem dan struktur, oleh sebab itu belajar matematika haruslah bertahap dan kontinu. Mempelajari sebuah konsep haruslah dengan mempelajari prasyarat konsep tersebut terlebih dahulu. Hal itu akan mempermudah untuk memahami konsep itu lebih lanjut.
Hudoyo (dalam Saedi 2009: 16) mengatakan bahwa:
Mempelajari konsep B yang mendasar kepada konsep A, seseorang perlu memahami konsep A lebih dulu. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. Ini berarti mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada pengalaman belajar yang  lalu.
Dengan belajar matematika secara bertahap, berurutan, satapak demi setapak, kontinu dan tidak terputus-putus diharapkan dapat terjadi perubahan kognitif siswa. Karena dengan adanya perubahan kognitif siswa akan membuat siswa mengaplikasikan materi matematika yang dipelajari secara konseptual maupun secara praktis dalam kehidupannya sehari-hari. Konseptual artinya siswa mampu mempelajari materi matematika lanjutan sedangkan praktis artinya siswa mampu menerapkan materi matematika dalam ilmu lain.
C.    Kemampuan Belajar
Kemampuan adalah bisa mencapai suatu hal dari sebelumnya tidak bisa dicapai. Misalnya dalam proses pembelajaran dikatakan mampu jika siswa sudah dapat memecahkan masalah yang sering dihadapi dalam proses belajarnya. Hal ini disebut kemampuan belajar. Kemampuan yang untuk belajar menjadi ciri penting yang membedakan jenisnya dari jenis-jenis mahluk yang lain (Gredler, dalam buku Aunurrahman 2009: 38).
Menurut Cooper (dalam Sanjaya 2009: 7) mencatat  ada empat wilayah kemampuan secara umum (general areas of teacher compotence)  yang harus dimiliki guru yakni:
1.      Pemahaman tentang teori belajar dan perilaku siswa. Persoalan pertama ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk memahami teori dasar yang diambil dari disiplin ilmu psikologis, antropologi, sosiologi, lingiuistik, cybernetic, dan berbagai disiplin ilmu yang lainnya. Kemampuan untuk memahami konsep dasar disiplin ilmu tersebut sangat penting untuk membantu guru dalam pengelolaan pembelajaran di dalam kelas.
2.      Pemahaman tentang berbagai sikap.
3.      Pemahaman tentang materi atau bahan ajar yang harus disampaikan. Kemampuan penguasaan materi pelajaran memiliki arti penting bagi setiap guru.
4.      Kemampuan tentang berbagai keterampilan mengajar. Guru yang baik bukan saja harus memahami apa yang akan diajarkan, tetapi juga harus paham bagaimana cara mengajarkannya.
Cooper (dalam Sanjaya 2009: 10) menjelaskan bahwa sekaitan dengan keputusan tersebut di atas, maka peran yang harus dilakukan guru sebagai penentu keputusan (decision maker) digambarkan oleh Cooper sebagai berikut:
Implementasi
Perencanaan
Evaluasi
 



Perubahan hasil belajar juga dapat ditandai dengan perubahan kemampuan berpikir. Seorang guru yang mampu mengembangkan model-model pembelajaran yang terarah pada latihan-latihan berpikir kritis siswa, misalnya model-model pembelajaran pemecahan masalah (problem solving) akan sangat mendukung perubahan kemampuan berpikir siswa. Model-model pembelajaran dimana guru tidak terlalu banyak memberikan petunjuk atau arahan (nondirective teaching) akan tetapi lebih banyak menekankan keaktifan berpikir siswa akan mampu mendorong percepatan perubahan kemampuan berpikir seseorang.
D.    Hakikat Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang bersifat menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional (Abdurrahman, 2003:38).
A. J. Romiszowski dalam Abdurrahman (2003:38) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu sistem pemprosesan masukan (inputs). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja (performance). Menurut Romiszwoski, hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari empat macam kategori, yaitu pengetahuan tentang fakta, pengetahuan tentang prosedur, pengetahuan tentang konsep dan pengetahuan tentang prinsip. Keterampilan juga terdiri dari empat kategori, yaitu keterampilan untuk berpikir atau keterampilan kognitif, keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik, keterampilan bereaksi atau bersikap, dan keterampilan berinteraksi.
Hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi dan penguasaan awal anak tentang materi yang akan dipelajari. Ini berarti bahwa guru perlu menetapkan tujuan belajar sesuai dengan kapasitas intelegensi anak; dan pencapaian tujuan belajar perlu menggunakan bahan apersepsi, yaitu bahan yang telah dikuasai anak sebagai batu loncatan untuk menguasai bahan pelajaran baru. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan yang diberikan kepada anak. Ini berarti bahwa guru perlu menyusun rancangan dan pengelolaan pembelajaran yang memungkinkan anak bebas untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya (Abdurrahman, 2003:40).
E.     Pendekatan Pembelajaran Matematika
Untuk pengelolaan pembelajaran dibutuhkan pendekatan pembelajaran, dan pendekatan itu harus disesuaikan dangan pembelajaran yang akan digunakan. Pemilihan pendekatan yang tidak tepat akan membuat pembelajaran tidak berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang direncanakan.
Russefendi dalam Saedi (2009: 32) menyatakan bahwa pendekatan dalam pembelajaran adalah suatu jalan/cara atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran dilihat dari sudut bagaimana proses pembelajaran atau materi pembelajaran itu, umum atau khusus dikelola.
Dari uraian di atas, pendekatan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah suatu pendekatan atau jalan, cara atau kebijaksanaan yang ditempuh guru dalam proses penyampaian atau penyajian topik tertentu agar mempermudah siswa memahaminya.


F.     Pendekatan Pemecahan Masalah
Pemecahan Masalah atau Problem Solving juga merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran matematika. Tetapi sebelum menjelaskan pengertian pemecahan masalah, terlebih dahulu dijelaskan pengertian masalah itu sendiri.
Bell (dalam Upu 2003: 29) mengemukakan bahwa suatu situasi dikatakan masalah bagi seseorang jika ia menyadari keberadaan situasi tersebut, mengakui bahwa situasi tersebut memerlukan tindakan dan dengan segera dapat menemukan pemecahannya. Hayes (dalam Upu 2003: 29) mendukung pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa suatu masalah merupakan kesenjangan antara keadaan sekarang dengan tujuan yang ingin dicapai, sedangkan kita tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Berdasarkan beberapa pengertian tentang masalah (problem) yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dikatakan bahwa suatu situasi tertentu, tetapi belum tentu marupakan masalah bagi orang  lain. Dengan kata lain, suatu situasi mungkin merupakan masalah bagi seseorang pada waktu tertentu, akan tetapi belum tentu merupakan masalah baginya pada saat yang berbeda.
Polya (dalam Upu 2003: 31) mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu mudah segera dapat dicapai. Pemecahan masalah dalam hal ini meliputi dua aspek, yaitu masalah untuk menemukan (problem to find) dan masalah membuktikan (problem to prove). Pemecahan masalah dapat juga diartikan sebagai penemuan langkah-langkah untuk mengatasi kesenjangan yang ada. Sedangkan kegiatan pemecahan masalah itu sediri merupakan kegiatan manusia dalam menerapkan konsep-konsep dan aturan-aturan yang diperoleh sebelumnya.
Utari (dalam Upu 2003: 29) menegaskan bahwa pemecahan masalah dapat berupa menciptakan ide baru, menemukan teknik atau produk baru. Bahkan di dalam pembelajaran matematika, selain pemecahan masalah mempuanyai arti khusus, istilah tersebut juga mempunyai interpretasi yang berbeda. Misalnya menyelesaikan soal cerita atau soal yang tidak rutin dan mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dari sejumlah pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa pemecahan masalah merupakan usaha nyata dalam rangka mencapai jalan keluar atau ide yang berkenan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Upu (2003: 34) mengemukakan bahwa pemecahan masalah matematika memerlukan langkah-langkah dan prosedur yang benar. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat mengarahkan siswa dalam melakukan pemecahan masalah matematika.
Polya (dalam Upu 2003: 34) mengajukan sejumlah langkah berkaitan dengan pemecahan masalah yaitu sebagai berikut:
1.      Pemahaman masalah (understanding the problem)
2.      Perencanaan penyelesaian (devising a plan)
3.      Pelaksanaan (carrying out the plan)
4.      Pemeriksaan kembali proses dan hasil  (looking back).
Menurut Burner (dalam Trianto 2007: 67) mengatakan bahwa berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Suatu konsekuensi logis, karena dengan berusaha untuk mencari pemecahan masalah secara mandiri akan memberikan suatu pengalaman konkret, dengan pengalaman tersebut dapat digunakan pula memecahkan masalah-masalah serupa, karena pengalaman itu memberikan makna tersendiri bagi peserta didik.
G.    Penelitian yang Relevan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh:
1.      Syamsul Tasbih. A (2010) dengan judul penelitian ”Peningkatan Hasil Belajar Metematika melalui Pendekatan Pemecahan Masalah pada Siswa Kelas XI SMAN 1 Mambi Kabupaten Mamasa” dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa meningkat setelah diterapkan strategi Pendekatan Pemecahan Masalah dengan skor rata-rata pada siklus I 69,9% meningkat menjadi 77,2% pada siklus II.
2.      Besse Mardiyah Damis (2004) dengan judul penelitian ”Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pembelajaran dengan Metode Pemecahan Masalah Siswa Kelas 17 SMPN 13 Makassar” dapat disimpulkan bahwa dengan metode Pemecahan Masalah pada siklus I berada pada kategori kurang dengan skor rata-rata 19,31% meningkat menjadi 33,18% pada siklus II.

H.    Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran Konvensional adalah pembelajaran yang biasa diterapkan guru di SMP Negeri 3 Tarowang yaitu proses dimana guru menjelaskan sementara siswa memperhatikan dan mencatat hal-hal yang dianggap penting, setiap selesai satu unit pelajaran diberi test formatif untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang baru diberikan secara keseluruhan kemudian langsung pada materi.
I.       Efektivitas Pembelajaran
Efektivitas atau keefektifan secara harfiah berarti keberhasilan tentang usaha atau tindakan (Tim PKP3B, 1990:219). Istilah efektivitas yang lazim digunakan dalam manajemen pendidikan misalnya efektivitas program, efektivitas pembelajaran dan efektivitas pengelola. Kata efektif sendiri berarti berhasil guna (Tim PKP3B, 1990:219). Slamet (2001:32) mendefinisikan efektivitas sebagai ukuran yang menyatakan sejauh mana tujuan (kualitas, kuantitas, dan waktu) telah dicapai. Sedangkan Ekosusilo dalam Nugraha (2006:6) mengemukakan bahwa efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang telah direncanakan dapat tercapai, semakin banyak rencana yang dapat dicapai, berarti semakin efektif pula kegiatan tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa efektivitas adalah hal, ukuran atau keadaan yang berkaitan dengan sejauh mana keberhasilan dari suatu usaha atau tindakan.
Pembelajaran, dalam hal ini proses belajar-mengajar, mengacu pada serangkaian interaksi timbal balik antara guru dan siswa dalam situasi edukatif. Proses disini dapat diartikan sebagai interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar-mengajar yang satu sama lainnya saling berhubungan (interdependent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman, 1995:5). Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya. Perubahan ini dapat ditandai dengan perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya (Usman,1995:5). Dari sini dapat kita lihat bahwa mengajar merupakan pembimbingan atas suatu kegiatan pembelajaran. Usman (1995:6) mengemukakan bahwa mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan belajar-mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pembelajaran atau proses belajar-mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa efektivitas pembelajaran adalah ukuran keberhasilan dari suatu proses interaksi antara guru dan siswa dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu dalam hal ini tujuan dari pembelajaran itu sendiri.



J.      Kerangka  Pikir
Secara umum hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep matematika masih berada dalam tataran rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep dasar matematika guru diharapkan mampu berkreasi dengan menerapkan model ataupun pendekatan dalam pembelajaran matematika yang cocok. Model atau pendekatan ini haruslah sesuai dengan materi yang akan diajarkan serta dapat mengoptimalkan suasana belajar.
Salah satu pendekatan yang membawa alam pikiran siswa ke dalam pembelajaran dan melibatkan siswa secara aktif adalah Pendekatan Pemecahan Masalah. Pendekatan Pemecahan Masalah adalah pendekatan yang digunakan dalam mempelajari ilmu pengetahuan dengan maksud merubah keadaan yang ritual menjadi suatu keadaan, seperti yang dikehendaki dengan memperhatikan prosedur pemecahan secara sistematis . Dengan pendekatan ini siswa tidak hanya mudah menguasai konsep dan materi pelajaran namun juga tidak cepat lupa dengan apa yang telah diperolehnya tersebut. Pendekatan ini pula tepat diterapkan dalam mengajarkan konsep-konsep dasar dan diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan meningkatnya hasil belajar siswa maka pendekatan ini dapat dikatakan efektif. Dengan kata lain proses belajar matematika dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah lebih efektif dari pada menggunakan Pembelajaran Konvensional.

K.    Hipotesis Penelitian
Berangkat dari kajian teori, penelitian yang relevan dan kerangka berpikir maka hipotesis dari penelitian ini dapat dirumuskan sebagai ”pembelajaran matematika dengan menggunakan Pendekatan Pemasalahan Masalah lebih efektif dari pembelajaran matematika dengan menggunakan Pembelajaran Konvensional pada  siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang”.
Dalam pengujian statistik, hipotesis tersebut dirumuskan sebagai berikut :
H0 : µ1 = µ 2 lawan H1 : µ 1 > µ 2
Keterangan:
 : Parameter skor rata-rata hasil belajar matematika dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah.
 : Parameter skor rata-rata hasil belajar matematika dengan menggunakan Pembelajaran Konvensional.

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Variabel Penelitian dan Desain Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mencari perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Dalam penelitian ini melibatkan 2 kelompok, yaitu satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol (pembanding). Untuk kelompok eksperimen diajar dengan pembelajaran yang menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah sedangkan pada kelompok kontrol diajar dengan menggunakan  Pembelajaran Konvensional.
2.      Variabel Penelitian
Variabel Penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu hasil belajar matematika siswa dengan Pendekatan Pemecahan Masalah dan hasil belajar menggunakan Pembelajaran Konvensional.` 
3.      Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah:

Grup
Pretest
Treatment
Posttest
(R)

(R)
Eksperimen

Kontrol
O1

O1
T

T
O2

O2


Keterangan:
E  : Kelas Eksperimen
K  : Kelas Kontrol
R  : Random
T  : Treatment (perlakuan)
O1   : Pretest sebelum perlakuan
O2   : Postest setelah perlakuan

Adapun desain penelitian yang digunakan dalam peneliatian ini adalah rancangan dengan jenis Desain Kelompok Kontrol Pretes-Postes (The Pretest-Posttest Control Group Design). Rancangan penelitian ini melibatkan dua kelompok belajar yang diambil secara acak. Dimana satu kelas dijadikan kelas eksperimen dan satu dijadikan kelas kontrol, kemudian diberi pretes untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
B.     Definisi Operasional Variabel dan Perlakuan
Variabel dalam penelitian ini adalah hasil belajar siwa kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang melalui dua macam pendekatan pembelajaran yaitu Pendekatan Pemecahan Masalah dan Pembelajaran Konvensional.
1.      Pendekatan Pemecahan Masalah
Pendekatan pemecahan masalah adalah pendekatan yang digunakan dalam mempelajari
suatu ilmu pengetahuan dengan maksud mengubah keadaan ritual menjadi suatu keadaan, seperti yang dikehendaki dengan memperhatikan prosedur pemecahan secara sistematis.
2.      Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang biasa yang diterapkan guru di SMP Negeri 3 Tarowang yaitu proses dimana guru menjelaskan sementara siswa memperhatikan dan mencatat hal-hal yang dianggap penting, setiap selesai satu unit pelajaran diberi tes formatif untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang baru diberikan secara keseluruhan kemudian langsung pada materi.
3.      Hasil belajar Matematika
Hasil belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian adalah nilai akhir yang diperoleh setelah menjawab soal-soal tes hasil belajar yang diberikan setelah mendapatkan pengajaran materi dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah dan Pembelajaran Konvensional dalam jangka waktu tertentu pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang kab. Jeneponto.
4.      Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata “efektif”. Menurut kamus Bahasa Indonesia, efektif berati dapat memberikan hasil; ada pengaruhnya; ada akibatnya; ada efeknya. Suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang sudah direncanakan dapat tercapai. Semakin banyak rencana yang dapat dicapai, berarti semakin efektif pula kegitan tersebut. Sedangkan pembelajaran matematika merupakan upaya atau cara yang dilakukan dalam membantu siswa dalam mengembangkan konsep-konsep matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses interaksi antara guru dan siswa.
Keefektifan pembelajaran yang dimaksud pada penelitian ini adalah sejauh mana pembelajaran matematika berhasil menjadikan siswa mencapai tujuan pembelajaran yang dapat dilihat dari ketuntasan belajar. Dengan demikian penekanan efektivitas pada penelitian ini adalah sejauh mana keberhasilan pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah.
C.    Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Tarowang  tahun ajaran 2011/2012 yang terdiri atas dua kelas.
2.      Sampel
  Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas VIII pada tahun ajaran 2011/2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan ”Cluster Random Sampling, sebab pada sekolah tersebut hanya ada dua kelas VIII yaitu kelas VIII1 dan VIII2. Sehingga kedua kelas tersebut langsung diambil sebagai sampel untuk penelitian ini. Langkah-langkah pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut:
a.       Karena pada sekolah tersebut kelas VIII yang terdiri dari kelas VIII1 dan VIII2, maka kedua kelas tersebut langsung diambil sebagai sampel. Selain itu, siswa pada kedua kelas yaitu VIII1 dan VIII2 memiliki kemampuan yang sama yang dilihat dari rata-rata skor hasil pretest yang diberikan sebelum perlakuan.
b.      Menentukan secara random salah satu dari 2 kelas sebagai kelompok eksperimen dan kelas yang lain sebagai kelompok kontrol. Terpilih kelas VIII1 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII2 sebagai kelas kontrol.
c.       Siswa yang terlibat dalam kedua kelas tersebut merupakan sampel yang akan diselidiki dalam penelitian ini.
D.    Pelaksanaan Eksperimen
1.      Langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah sebagai berikut :
a.       Kegiatan Guru
1.   Mengapersepsi (Persiapan Mental siswa) .
2.      Orientasi siswa pada masalah.
a.       Membimbing siswa secara bertahap untuk melakukan analisis soal.
b.      Membimbing siswa untuk melakukan trans-formasi soal.
c.       Membimbing siswa melakukan operasi hitungan.
d.      Membimbing siswa melakukan pengecekan terhadap hasil penyelesaian soal.
3.      Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok.
4.      Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
5.      Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
6.      Materi latihan/PR.


b.      Kegiatan Siswa
1.      Mengingat kembali materi yang telah diajarkan.
2.      Memahami tujuan pembelajaran
3.      Siswa memperhatikan dan mendengarkan arahan-arahan dari guru tentang proses pembelajaran yang akan berlangsung.
a.    Membaca seluruh soal yang diberikan secara saksama, mentransformasi soal kebentuk skema yang menggambarkan situasi soal, menulis besaran yang ditanyakan, memperkirakan jawaban.
b.   Mengecek apakah soalnya sudah berbentuk standar? Jika ya lanjutkan ke fase berikutnya; jika tidak ikuti langkah selanjutnya.
c.    Mensubtitusikan data yang diketahui ke dalam bentuk standar yang telah diperoleh, kemudian melakukan perhitungan, mengecek apakah tanda dan satuan telah sesuai?
d.   Mengecek jawaban dengan cara membandingkan dengan perkiraan jawaban yang dibuat pada fase pertama, mengecek apakah jawaban sudah sesuai dengan apa yang ditanyakan?, menelusuri kesalahan-kesalahan apa yang telah dilakukan.
4.      Mencatat soal-soal yang diberikan oleh guru sebagai PR.
2.      Langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran konvensional sebagai berikut :
a.       Kegiatan Guru
1.      Menulis pokok bahasan/sub pokok bahasan dari materi yang akan dibahas di papan tulis.
2.      Menyampaikan tujuan pembelajaran.
3.      Menjelaskan tentang materi pembelajaran yang akan berlangsung.
4.      Memberikan kesempatan kepada siswa yang ingin bertanya.
5.      Memberikan soal-soal yang ada pada buku paket untuk dikerjakan di kelas.
6.      Memberikan soal-soal pekerjaan rumah.
b.      Kegiatan Siswa
1.      Menulis pokok bahasan/sub pokok bahasan di buku catatan.
2.      Memahami tujuan pembelajaran.
3.      Siswa memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru.
4.      Menanyakan hal-hal yang kurang jelas.
5.      Memahami Penjelasan guru.
6.      Mengerjakan soal latihan pada buku paket.
7.      Mencatat soal-soal yang diberikan oleh guru sebagai PR.
E.     Instrumen Penelitian
Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar matematika, tes ini dimaksud untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi. Tes hasil belajar yang digunakan adalah bentuk essay yang dikembangkan oleh penulis sendiri. Sebelum digunakan untuk pengambilan data penelitian, tes ini terlebih dahulu divalidasi oleh beberapa validator.


F.     Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data terlebih dahulu dilakukan dengan memberi pretest hasil belajar secara langsung pada kedua kelompok sampel yang dilaksanakan pada tanggal 16 November 2011. Kemudian memberi treatment (perlakuan) terhadap kedua kelompok sampel yang dilaksanakan pada tanggal 21, 23, 28 dengan proporsi waktu dan pemberian waktu yang sama. Setelah itu, pada tanggal 30 November 2011 kemudian memberi tes hasil belajar (posttest) kepada kedua kelompok sampel. Pengawasan dilakukan secara langsung oleh penulis dengan dibantu oleh guru bidang studi matematika SMP Negeri 3 Tarowang.
Data yang terkumpul merupakan skor masing-masing siswa. Skor tersebut akan mencerminkan tingkat daya serap atau hasil belajar siswa yang dicapai selama penelitian berlangsung dan tes yang diberikan kedua kelompok adalah sama.
G.    Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan 2 analisis statistik, yaitu analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan nilai hasil belajar matematika siswa diajar dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah dan Pembelajaran Konvensional. Sedangkan analisis statistik inferensial digunakan untuk pengujian hipotesis penelitian. Dalam analisis ini digunakan statistik uji-t. Namun, sebelum dilakukan  uji-t terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis yakni uji normalitas dan uji homogenitas.
Selanjutnya kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori kemampuan siswa dalam memecahkan masalah didasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Syarifah, 2010) adalah sebagai berikut:
Tabel Teknik Kategorisasi
Skor
Kategorisasi
0 – 54
55 – 64
65 – 79
80 – 89
90 – 100
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi





DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Cetakan Kedua. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Anonim. 1994. Petunjuk Pelaksanaan PBM. Depdikbud. Jakarta.
Arikunto. Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Edisi Revisi VII. Rineka Cipta. Jakarta.
Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran.  Alfabeta. 2009. Bandung.
Baharuddin dan Wahyudin, Esa Nur. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Cetakan V 2010. Penerbit Ar- Ruzz Media. Jogjakarta.
Besse Mardiyah Damis. 2004. Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pembelajaran dengan Metode Pemecahan Masalah Siswa Kelas 17 SMPN 13 Makassar. Skripsi FKIP Unismuh Makassar.
Djarwanto, PS. 2003. Statistik Non Parametrik. Edisi 2003/2004. Surakarta BPFE. Yogyakarta.
Emzir. 2008. Metodologi Penelitian pendidikan. Edisi Revisi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Rosyada, Dede. 2004. Paradigma Pendidikan Demokratis. Prenada Media. Jakarta.
Ruseffendi, ET. 1988. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Tarsito. Bandung.
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sagala, Syaiful. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta. Bandung.
Slamet. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Depdiknas. Jakarta.
Soedjadi, R. 1999. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Depdikbud. Jakarta.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Cetakan Ke-12. Penerbit Alfabeta. Bandung.
Suryabrata, Sumadi. 2003. Metodologi Penelitian. PT. Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Syafaruddin. 2008. Efektivitas Kebijakan Pendidikan: Konsep, strategi, dan Aplikasi Kebijakan Menuju organisasiSekolah Efektif. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Syamsul Tasbih, A. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pendekatan Pemecahan Masalah pada Siswa Kelas XI SMAN 1 Mambi Kabupaten Mamasa. Skripsi FKIP Unismuh Makassar.
Syarifah. 2010. Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah Matematika Melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Open-Ended pada Siswa SMP Negeri 13 Makassar. Skripsi FKIP Unismuh Makassar.
 Upu, Hamzah. 2003. Problem possing dan problem solving dalam pembelajaran matematika. Bandung: Pustaka Ramadhan.
Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Bumi Aksara. Jakarta.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar