|
|
|
|
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kondisi yang
mewarnai pembelajaran matematika saat ini adalah seputar rendahnya kualitas
pendidikan matematika. Oleh karena itu perbaikan kegiatan belajar mengajar matematika
harus di upayakan secara optimal
agar mutu pendidikan dapat meningkat. Hal ini mutlak dilakukan seiring
dengan kemajuan zaman dan gerak pembangunan nasional. Pendidikan pada
hakekatnya adalah usaha membudayakan manusia atau memanusiakan manusia. Manusia
adalah pribadi yang utuh dan kompleks
sehingga sulit dipelajari secara tuntas. Karena hakekatnya manusia itu sendiri
selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupan. Perkembangan IPTEK memaksa dunia pendidikan menyesuaikan diri
pada perubahan yang serba kompleks pada kehidupan manusia.
|
1
|
Matematika
sebagai salah satu disiplin ilmu yang berperan penting dalam upaya penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini
disebabkan karena matematika sebagai sarana berfikir logis, analitis, kreatif
dan sistematis. Oleh karena itu matematika perlu dibekalkan kepada setiap
peserta didik.
Ada banyak
faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pendidikan matematika yaitu
faktor siswa itu sendiri, guru, orang tua, sarana dan prasarana. Namun masih
terdapat siswa yang beranggapan negatif terhadap matematika. Adanya persepsi
siswa bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran sulit, kurang menyenangkan,
membosankan dan menakutkan sehingga hanya sebagian siswa tertentu yang bisa
menguasai matematika. Efek negatif dari pandangan tersebut adalah banyak siswa
yang merasa anti dengan matematika sebelum mereka betul-betul mempelajari
matematika.
Persepsi
tersebut menjadi salah satu faktor penyebab kurang berhasilnya pendidikan di
bidang matematika, berakibat rendahnya minat dan hasil belajar matematika. Hal
tersebut sampai sekarang ini masih menghantui para peserta didik. Oleh
karena itu, diperlukan suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika agar siswa
senang belajar matematika. Adams & Hamms,2010
dalam (Ariyadi wijaya,2011:5) mengatakan bahwa cara dan pendekatan dalam
pembelajaran matematika sangat dipengaruhi oleh pandangan guru terhadap siswa
dalam pembelajaran. Adams dan Hamms menyebutkan empat macam
pandangan tentang posisi dan peran matematika, yaitu:
1. Matematika
sebagai suatu cara untuk berpikir
2.
Matematika sebagai
suatu pemahaman tentang pola dan
hubungan (pattern and relationship)
3. Matematika
sebagai suatu alat (mathematics as a tool)
4. Matematika
sebagai bahasa atau alat untuk berkomunikasi
Oleh karena itu diperlukan metode yang sesuai
dengan keadaan kelas atau siswa sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti
pelajaran yang diajarkan.
Berdasarkan hasil
wawancara peneliti dengan salah seorang guru di MTs Muhammadiyah Tongko
Kabupaten Enrekang, pada kenyataannya minat
dan hasil belajar matematika siswa masih
sangat minim. Hal tersebut merupakan permasalahan dalam
pembelajaran di sekolah tersebut. Oleh
karena itu diperlukan cara untuk mencapai atau menumbuhkan minat agar hasil
belajar siswa tercapai dengan memotivasi siswa melalui:
a. Pernyataan
penghargaan seperti: “bagus sekali, hebat, menajubkan, luarbiasa dll”.
b. Memperlihatkan
hasil belajar sebagai motivasi untuk mempertahankan hasil belajar yang baik,
maupun untuk memperbaiki hasil belajar yang kurang memuaskan
c. Memberikan
hadiah bagi siswa pada tahap pertama
d. Mengurangi
akibat yang tidak menyenangkan seperti menghukum siswa
e. Berusaha
belajar dengan menyenangkan
Tidak
tercapainya minat disebabkan metode
atau pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang efektif
dalam proses pembelajaran. Metode atau pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh guru masih berpusat
kepada siswa, dimana siswa secara pasif
menerima konsep, rumus, kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, serta
menghapal) tanpa memberikan konstribusi ide-ide dalam proses pembelajaran.
Penyajian matematika yang kurang merangsang siswa untuk termotivasi, dan kurang
merangsang rasa ingin tahu siswa serta suasana kelas yang kurang menyenangkan
yang menyebabkan siswa tidak senang dan bosan dalam
menerima pelajaran.
Karena
banyak permasalahan yang mengakibatkan gagalnya pembelajaran matematika, maka
diperlukan usaha- usaha terobosan untuk
meningkatkan hasil belajar matematika. Salah satu dengan menggunakan
metode dan melakukan inovasi sistem
pembelajaran. Oleh karena itu salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi
kelemahan pembelajaran matematika adalah pemilihan metode atau pendekatan pengajaran yang tepat, sehingga mampu
melibatkan siswa secara aktif baik fisik, emosi, maupun sosial. Salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang sesuai
dengan kondisi tersebut adalah pendekatan pembelajaran
matematika realistik.
Pendekatan
pembelajaran ini pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada
tahun
1970 oleh Institut Freudenthal. Menurut Gravemijer,1994:82 dalam (Andi Rusdi: 2009) yang
menyatakan bahwa pendidikan matematika harus dikaitkan dengan realita dan
kegiatan manusia. Pendekatan ini di kenal dengan nama RME (Ralistic Mathematic Education). Yang kemudian di Indonesia dikenal
dengan Pendekatan Matematika Realistik (PMR). Pembelajaran matematika realistik mmungkinkan siswa aktif
secara optimal dalam proses pembelajaran di kelas. Guru berfungsi sebagai
pembimbing dalam menyeleksi kontribusi-kontribusi yang diberikan siswa melalui
pemecahan masalah kontekstual pada awal pembelajaran. Siswa di biasakan untuk
memecahkan masalah menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut
dengan ide-ide. Dalam pembelajaran matematika Realistik siswa merupakan pelaku
utama dalam pembelajaran siswa diharapkan mampu mengkontruksi sendiri
pengetahuan melalui manipulasi benda-benda yang nyata yang ada pada
lingkungannya atau yang dapat dibayangkan.
Penerapan pendekatan pembelajaran
matematika realistik dalam pembelajaran matematika di sekolah diharapkan dapat
meningkatkan pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi, karena
pembelajaran dengan pendekatan realistik dirancang berawal dari pemecahan
masalah yang berada di sekitar siswa dan berbasis pengetahuan yang telah
dimiliki siswa. Untuk melaksanakan implementasi
pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik,
diperlukan pendekatan yang sesuai dengan masalah tersebut. Oleh karena itu, penulis termotivasi untuk
mengadakan penelitian dengan judul “Implementasi Pembelajaran Matematika Realistik Pada Siswa Kelas IX
MTs.Muhammadiyah Tongko Kabupaten Enrekang”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah
di atas, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana keterlaksanaan
pembelajaran
matematika melalui pendekatan matematika realistik pada siswa kelas IX
MTs.Muhammadiyah Tongko Kabupaten Enrekang?
2.
Bagaimana aktivitas
siswa pada saat proses pembelajaran
matematika?
3.
Bagaimana respons siswa terhadap pembelajaran matematika realisti pada siswa
kelas IX MTs Muhammadiyah Tongko Kabupaten Enrekang?
4.
Bagaimana hasil belajar
siswa dalam mengaplikasikan konsep matematika melalui pembelajaran matematika realistik?
C.
Tujuan
Penelitian
Pada
dasarnya tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab masalah- masalah yang
telah dirumuskan dalam rumusan masalah, yakni
sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui keterlaksanaan
pembelajaran matematika melalui pembelajaran
pendekatan matematika realistik.
2.
Untuk mengetahui
aktivitas siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung
3.
Untuk mengetahui respon
siswa dalam menyelesaikan masalah dan tugas yang diberikan
4.
Untuk mengetahui hasil
belajar siswa dalam mengaplikasikan konsep matematika melalui pembelajaran matematika reali
D.
Manfaat
Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1.
Bagi siswa, diharapkan
dapat membangkitkan semangat belajar, percaya diri dengan kemampuan yang
dimiliki, banggga dengan nilai yang diperoleh dan dapat mengaplikasikan dalam
kehidupan sehari-harinya.
2.
Bagi Guru, sebagai
masukan bahwa metode pembelajaran matematika realistik dapat membangkitkan
semangat atau motivasi siswa dalam
belajar.
3.
Bagi Sekolah, sebagai masukan
dalam usaha memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan khususnya mutu
pendidikan matematika.
4.
Bagi peneliti, memberikan informasi bagi peneliti
yang berminat untuk melaksanakan penelitian lanjutan khususnya mahasiswa
Jurusan Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas
Muhammadiyah Makassar.
|
|
|
|
KAJIAN
TEORI DAN KERANGKA PIKIR
A.
KAJIAN
TEORI
1.
Pengertian
Belajar
Belajar pada hakikatnya adalah suatu
proses yang di tandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan
sebagai hasil dari proses belajar dapat diindikasikan dalam berbagai bentuk
seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, kecakapan,
keterampilan, dan kemampuan, serta aspek –aspek yang lain pada individu yang
belajar. Menurut para ahli diantaranya: George
J.Mouly dalam (Trianto, 2009: 9) bahwa belajar pada dasarnya adalah perubahan
tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman. Pendapat yang senada juga di
sampaikan oleh Kimble dan Garmezi dalam
( Trianto,2009:9) yang menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku
yang yang relative permanen terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan Garry dan Kingsley dalam (Trianto,
2009:9 ) menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang
orisinal melalui pengalaman dan latihan. Pengertian belajar menurut Slameto,
(2010 : 2) adalah
“belajar
ialah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya’’.
|
8
|
Dalam Islam, orang yang belajar dengan
sungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan balasan
dari Allah SWT. Hal ini telah tegaskan dalam firman-Nya Q.S. Al-Mujadalah / 58
: 11 yang berbunyi:
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) @Ï% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿt ª!$# öNä3s9 ( #sÎ)ur @Ï% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×Î7yz ÇÊÊÈ
Berdasarkan uraian di atas, maka belajar
dapat diartikan sebagai Adanya perubahan yang berupa pengetahuan, keterampilan, perilaku,
kebiasaan, sikap, pemahaman yang relatif
tetap sebagai hasil dari pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya.
2.
Prinsip-
Prinsip Belajar
Belajar tidak lepas dari prinsip-prinsip
belajar ,prinsip-prinsip belajar menurut Slameto (2010: 27 ) diantaranya:
1. Berdasarkan
prasyarat yang diperlukan untuk belajar
a. Dalam
belajar setiap siswa harus di usahakan partisipasinya aktif, meningkatkan minat
dan membimbing untuk mencapai tujuan intruksional;
b. Belajar
harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk
mencapai tujuan intruksional;
c. Belajar
perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuanya
bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
d. Belajar
perlu ada interaksi siwa dengan lingkunganya.
2. Syarat keberhasilan belajar
a. Belajar
memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
b. Repetisi,
dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar
pengertian/keterampilan/sikap itu mendalam pada siswa.
3.
Hasil
Belajar
Hasil belajar matematika mempunyai empat aspek yaitu: fakta, konsep,
prinsip, skill. Dari empat aspek tersebut menurut suyitno, dkk dalam (Hand out 2004 : 15 - 18) sebagai berikut:
1. adalah keterampilan
mental menjalankan prosedur guna Fakta adalah sesuatu yang sesuai dengan
keadaan sebenarnya
2.
Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan
klasifikasi atau penggolongan.
3.
Prinsip adalah pola hubungan fungsional antara konsep-
konsep.
4.
Skill menyelesaikan suatu masalah.
4.
Pengertian
Pembelajaran
Pembelajaran pada hakikatnya adalah
usaha sadar dari seseorang guru untuk membelajarakan siswanya (mengarahkan
interaksi siswa dengan sumber lainya) dalam rangka mencapai tujuan yang di
harapkan (Triyanto,2009:17).
Sedangkan menurut Winaputra (2001) dalam
Abdul Haling ( 2007:14 ) mengatakan bahwa pembelajaran adalah prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu. Denga demikian pembelajaran adalah interaksi dua arah siswa dan guru yang
intens dan terarah untuk mencapai tujuan. Adapun sistem pembelajaran dalam
pandangan konstrutivis menurut Hudojo (1998) dalam Triyanto (2009:19) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. siswa
terlibat aktif dalam belajarnya, Siwa belajar materi (pengetahuan) secara
bermakna dengan bekerja dan berfikir.
b. Informasi
baru harus di kaitkan dengan impormasi sebelumnya sehingga menyatu dengan
skemata yang di miliki siswa.
Implikasi dari
pandangan tersebut adalah penyedian lingkungan belajar yang konstruktif. Lingkungan belajar yang
konstruktif menurut Hudojo (1998) adalah:
1. Menyediakan
pengalaman belajar yang mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang
telah dimiliki siswa sehingga belajar merupakan proses pembentukan pengeahuan.
2. Menyediakan
berbagai alternative pengalaman belajar
3. Mengintegrasikan
pembelajaran dengan situasi realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman
kongkret
4. Mengintegrasikan
pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran yang lebih
menarik
5. Memanfatkan
berbagai media agar pembelajaran lebih menarik
6. Melibatkan
siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika lebih menarik dan siswa
mau belajar (Triyanto, 2009:19).
B.
Hakikat
Belajar Matematika
Matematika merupakan
suatu bentuk aktivitas manusia yang megkotruksi konsep-konsep. Menurut Brunner dalam ( Hujodo, 2003:56 ) belajar matematika adalah belajar tentang konsep- konsep dan struktur-struktur matematika yang
terdapat dalam materi- materi yang dipelajari serta menjalankan tentang
hubungan antar konsep- konsep dan struktur itu. Dalam lampiran Peraturan Mentri Pendidikan Nasional ( Pemerdiknas )
Nomor 20 Tahun 2006 tentang Standar Isi dalam Ariyadi Wijaya ( 2012 : 16 ) disebutkan
bahwa pembelajaran matematika bertujuan supaya siswa memiliki kemampuan sebagai
berikut:
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan
keterkaitan antara konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara
luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat,
melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisai, menysun bukti atau
menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan
memahami masalah merancang model matematika, menyelesaikan model dan
menafsirkan solusi yang di peroleh.
Matematika menumbuh kembangkan kemampuan bernalar,
yaitu berfikir sistematis, logis, dan kritis, dalam mengkomunikasikan gagasan
atau dalam pemecahan masalah. Pembelajaran matematika diharapkan siswa memiliki
pemahaman tidak sekedar memenuhi tuntutan tujuan pembelajaran matematika
semata, namun diharapkan mampu berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif
dalam mencari solusi pemecahan sebuah masalah. Dengan demikian diperlukan suatu
strategi belajar mengajar matematika agar proses pembelajaran dapat berjalan
dengan lancar.
C.
Pendekatan
Pembelajaran Matematika Realistik
Pembelajaran
matematika realistik atau Realistic
Mathematic Education (RME) merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran
matematika dimana siswa menyelesaikan suatu masalah dengan menghubungkan
benda-benda nyata yang ada disekitarnya. Pendekatan matematika realistik pertama
kali diperkenalkan oleh ahli matematika Belanda bernama Freudental. Matematika
realistik banyak ditentukan oleh pandangan Freudenthal tentang matematika.
Pandangan ini mengacu pada pendapat Freudental (dalam Ariyadi Wijaya, 2012: 20) yang menyatakan bahwa matematika sebagai
aktivitas atau proses manusia dalam mengkontruksi konsep matematika oleh karena
itu matematika harus dihubungkan dengan realitas dalam kehidupan sehari-hari. Frudenthal
mengenal istilah “guided reinvention’’
sebagai prosses yang dilakukan siswa secara aktif untuk menemukan kembali suatu
konsep matematika dengan bimbingan guru.
Realistic Mathematics Education
(RME) atau yang lebih dikenal dengan Pendekatan Matematika Realistik (PMR) adalah
pendekatan pengajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang ‘real‘
bagi siswa, menekankan keterampilan ‘proses of doing mathematics’,
berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga
mereka dapat menemukan sendiri (‘student inventing‘ sebagai kebalikan
dari ‘teacher telling’) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu
untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok. Pada
pendekatan ini peran guru tak lebih dari seorang fasilitator, moderator atau
evaluator sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan, melatih nuansa demokrasi
dengan menghargai pendapat orang lain. Menurut Soedjadi
(2001a:2-3) dalam (Andi Rusdi,2009)
“mengemukakan
bahwa PMR pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang telah
dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, dengan
harapan agar tujuan pembelajaran matematika dapat dicapai lebih baik dari pada
masa yang lalu”.
Yang dimaksud
realita adalah hal-hal nyata atau konkret, yang dapat diamati atau
dipahami siswa melalui membayangkan. Sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan
adalah lingkungan tempat siswa berada, baik lingkungan sekolah, keluarga maupun
masyarakat yang dapat dipahami siswa. Dengan kata lain yang dimaksud dengan
lingkungan adalah kehidupan sehari-hari yang dialami atau dapat dipahami siswa.
Pembelajaran matematika
realistik memberikan kemudahan bagi guru dalam pengembangan konsep-konsep dan
gagasan matematika yang bersumber dari dunia nyata. Dunia nyata tidak berarti
konkret secara fisik dan kasat mata namun hal-hal yang dapat dibanyangkan oleh
pikiran siswa. Hal ini dikemukan pula oleh (Ariyadi Wijaya,2012: 21) bahwa
semua masalah realistik tidak harus selalu berupa masalah yang ada di dunia
nyata (real Word Problem)dan bisa
ditemukan dalam kehidupan sehari-hari siswa.tetapi suatau masalah juga disebut realistik jika
masalah tersebut dapat dibayangkan (imaginable)
atau nyata (real) dalam pikiran siswa.
Adapun karateristik pendekatan matematika realistik (PMR) menurut
(Pakde Sopa,2008) adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan masalah kontekstual
Pembelajaran matematika diawali dengan masalah kontekstual, sehingga
memungkinkan siswa menggunakan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya secara langsung. Masalah kontekstual berfungsi sebagai sumber untuk
mengaplikasikan kembali matematika. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai
topik awal pembelajaran, hendaknya masalah sederhana yang dikenali oleh siswa.
Masalah kontekstual dalam PMR memiliki empat fungsi, yaitu: (1) untuk membantu
siswa menggunakan konsep matematika, (2) untuk membentuk model dasar matematika
dalam mendukung pola pikir siswa bermatematika, (3) untuk memanfaatkan realitas
sebagai sumber aplikasi matematika dan (4) untuk melatih kemampuan siswa,
khususnya dalam menerapkan matematika pada situasi nyata (realitas).
2. Penggunaan
model untuk matematisasi progresif.
Istilah model
berkaitan dengan model matematika yang dibangun sendiei oleh siswa dalam
mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika. Penggunaan
model berfunggsi sebagai jembatan (bridge) dari pengetahuan dan matematika
tingkat kongkrit menuju pengetahuan matematika tingkat formal. Dalam kata lain
membuat sendiri model dari situasi nyata ke abstrak
3. Pemanfaatan
hasil kontruksi siswa
Siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan berbagai
strategi informal yang dapat mengarahkan pada pengkonstruksian berbagai
prosedur untuk memecahkan masalah. Dengan kata lain, kontribusi yang besar
dalam proses pembelajaran diharapkan datang dari siswa, bukan dari guru.
Artinya semua pikiran atau pendapat siswa sangat diperhatikan dan dihargai.
4. Interaktivitas
Interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, serta siswa
dengan perangkat pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam PMR.
Bentuk-bentuk interaksi seperti: negosiasi, penjelasan, pembenaran,
persetujuan, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk
pengetahuan matematika formal dari bentuk-bentuk pengetahuan matematika
informal yang ditemukan sendiri oleh siswa.
5. Keterkaitan
Konsep-konsep dalam
matematika tidak bersifat parsial, namun banyak konsep dalam matematika yang
memiliki keterkaitan dan keterintegrasian dalam memecahkan sustu masalah. Oleh
karena itu konsep dalam matematika tidak dikenalkan kepada siswa secara
terpisah atau terisolasi satu sama lain.
Selain itu terdapat juga prinsip-prinsip
pembelajaran matematika realistik dalam kurikulum matematika realistik dalam(
Abied, 2010) yaitu:
1. Didominasi
oleh masalah-masalah dalam kontsks, melayani dua hal yaitu sebagai sumber dan
sebagai terapan konsep.
2. Perhatian
diberikan kepada pengembangan model-model, situasi, skema, dan simbol-simbol.
3. Sumbangan
dari para siswa, sehingga siswa dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif
dan produktif, siswa memproduksi sendiri dan mengkonstruksi sendiri sehingga
dapat membimbing para siswa dari level matematika informal menuju matematika
formal.
4. Interaktif
sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika
5. Interwinning
(membuat jalinan) antar topik atau antar pokok bahasan.
Menurut Alimuddin, 2004 dalam (Abied,2010) bahwa masalah kontekstual
dalam kurikulum realistik, berguna untuk mengisi sejumlah fungsi:
1.
Pembentukan konsep: Dalam fase
pertama pembelajaran, para siswa diperkenankan untuk masuk ke dalam matematika
secara ilmiah dan termotivasi.
2.
Pembentukan model:
Masalah-masalah konstekstual memasuki fondasi siswa untuk belajar operasi,
prosedur, notasi, aturan, dan mereka mengerjakan ini dalam kaitannya dengan
model-model lain yang kegunaannya sebagai pendorong penting dalam berpikir.
3.
Peerapan : masalah konstektual
menggunakan reality sebagai sumber dan domain untuk terapan.
4.
Praktek dan latihan dari
kemampuan spesipik dalam situasi terapan
Menurut (Upu, 2004) dalam (Sri Dewi,2006) bahwa realistik
dimaksudkan sebagai ide untuk mengembangkan matematika sebagai aktivitas
manusia, meliputi: mencari masalah, mengorganisasikan materi yang telah relevan
dengan masalah dan pemecahannya, membuat model matematika terhadap masalah yang
dapat diselesaikan, penyelesaian masalah, mengorganisasikan ide-ide baru dan
pemahaman baru yang sesuai dengan konteks. Pengorganisasian aktivitas tersebut
disebut matematisasi (mathematizing).
Matematisasi dalam pembelajaran realistik merupakan proses yang
sangat penting. De Lange dalam (Ariyadi Wijaya,2012: 42) membagi matematisasi
menjadi dua bagian yaitu matematika horizontal dan matematisasi vertikal. Yang dimaksud dengan matematika horizontal
dalam pembelajaran matematika realistik adalah kegiatan mengubah masalah
konstektual ke dalam masalah matematika, sedangkan matematika vertikal adalah
kegiatan menformulasikan masalah ke dalam beragam penyelesaian masalah
matematika dengan menggunakan sejumlah aturan-aturan matematika yang sesuai.
D.
Prinsip
Pembelajaran Matematika Realistik
Secara umum PMR mengkaji tentang materi apa yang akan diajarkan
pada siswa beserta rasionalnya, bagaimana siswa belajar matematika, bagaimana
seharusnya topik matematika diajarkan, dan bagaimana menilai kemajuan belajar
siswa. Mengacu pada bidang kajian
ini, Gravemeijer (Fauzan,2001:5) mengemukakan tiga prinsip dari PMR, yaitu:
1.
Guided
Reinvention (menemukan kembali) atau Progressive
Mathematizing (matematisasi progresif), siswa harus diberi kesempatan untuk
mengalami proses yang sama dengan proses yang dilalui oleh para pakar matematika
ketika menemukan konsep-konsep matematika.
2.
Didactical
Phenomology (fenomena pembelajaran), topik-topik
matematika yang diajarkan berasal dari
fenomena sehari-hari. Topik-topik ini disajikan atas dua pertimbangan, yaitu:
melihat kemungkinan aplikasinya dan kontribusinya untuk perkembangan matematika lanjut.
3.
Self-developed
Models (pengembangan model sendiri): model dibuat oleh siswa sendiri
sewaktu memecahkan soal-soal kontekstual. Pada awalnya siswa akan menggunakan
model pemecahan yang informal atau model dari situasi yang dikenal oleh siswa.
Dengan suatu proses generalisasi dan formalisasi, model tersebut akhirnya
menjadi model yang formal.
Adapun langkah-langkah Pembelajaran Matematika
Realistik dalam kegiatan belajar mengajar di kelas adalah sebagai berikut:
Ramlah (2004:12) dalam Rosmiati (2008) menjelaskan langkah-langkah tahap
pembelajaran matematika realistik sebagai berikut:
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi
kepada siswa.
b. Memberikan
masalah dalam kehidupan sehari-hari.
c. Mendorong
siswa menyelesaikan masalah tersebut, baik individu maupun kelompok.
d. Memberikan
masalah yang lain kepada siswa, tetapi dalam konteks yang sama setelah
diperoleh beberapa langkah dalam menyelesaikan masalah tersebut.
e. Mempertimbangkan
cara dan langkah yang ditentukan dengan memeriksa dan meneliti, kemudian guru
membimbing siswa untuk melangkah ke masalah dunia nyata
f. Menugaskan
siswa baik individu maupun kelompok untuk menyelesaikan permasalahan lain baik
terapan maupun bukan terapan. Namun untuk soal terapan dipilih soal cerita yang
konteksnya dekat dengan keseharian siswa, kemudian guru memantau dan membimbing
siswa.
g. Dari
hasil diskusi kelas, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan suatu
rumusan konsep/prinsip dari topikyang dipelajari.
Beberapa
kelibihan dan kelemahan penerapan pembelajaran dengan realistik matematick education (RME) atau dengan kata lain
Pendekatan matematika realistik (PMR) dalam (Pakde Sofa,2008) adalah sebagai
berikut:
Ø Kelebihan
Pendekatan Matematika Realistik (PMR)
1. PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional
kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari‑hari
(kehidupan dunia nyata) dan kegunaan matematika pada umumnya bagi manusia.
2. PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional
kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan
dikembangkan sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar
dalam bidang tersebut.
3. PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional
kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus
tunggal dan tidak harus sama antara orang yang satu dengan yang lain.
4. PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional
kepada siswa bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan
sesuatu yang utama dan untuk mempelajari matematika orang harus menjalani proses
itu dan berusaha untuk menemukan sendiri konsep‑konsep matematika, dengan
bantuan pihak lain yang sudah lebih tahu (misalnya guru).
Ø Kelemahan
PMR
1. Upaya mengimplementasikan PMR membutuhkan perubahan
pandangan yang sangat mendasar mengenai berbagai hal yang tidak mudah untuk
dipraktekkan, misalnya mengenai siswa, guru dan peranan soal kontekstual. Di
dalam PMR siswa tidak lagi dipandang sebagai pihak yang mempelajari segala
sesuatu yang sudah “jadi”, tetapi sebagai pihak yang aktif mengkonstruksi konsep‑konsep
matematika. Guru dipandang lebih sebagai pendamping bagi siswa.
2. Pencarian soal‑soal kontekstual yang memenuhi syarat‑syarat
yang dituntut PMR tidak selalu mudah untuk setiap topik matematika yang perlu
dipelajari siswa, terlebih lagi karena soal‑soal tersebut harus bisa
diselesaikan dengan bermacam‑macam cara.
3. Upaya mendorong siswa agar bisa menemukan berbagai
cara untuk menyelesaikan soal, juga bukanlah hal yang mudah bagi seorang guru.
4. Proses pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui
soal‑soal kontekstual, proses pematematikaan horisontal dan proses
pematematikaan vertikal juga bukan merupakan sesuatu yang sederhana, karena
proses dan mekanisme, berpikir siswa harus diikuti dengan cermat, agar guru
bisa membantu siswa dalam melakukan penemuan kembali terhadap konsep‑konsep
matematika tertentu.
A.
KERANGKA
PIKIR
Dalam mempelajari suatu konsep matematika, siswa
terlalu mengandalkan informasi yang diberikan oleh guru tanpa ada upaya
menggali sendiri makna yang terkandung didalamnya. Sehingga pemahaman terhadap
konsep tersebut tidak mendalam dan tidak tersimpan di dalam memori. Proses pembelajaran masih berpusat
pada guru, sehingga di sini siswa
hanya berfungsi sebagai objek atau penerima perlakuan saja. Oleh karena itu,
perlu digunakan sebuah pendekatan yang
dapat menempatkan siswa sebagai subjek (pelaku) pembelajaran dan
guru tidak menjadi pemegang kekuasaan penuh atas kelas.
Belajar dengan pendekatan pembelajaran matematika
realistik dapat meningkatkan keaktifan, pemahaman dan daya ingat siswa dalam
belajar serta penanaman konsep yang melekat dari hasil penyimpulan. Siswa lebih
cepat memahami pembelajaran setelah setelah dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan
yang real.
BAGAN KERANGKA PIKIR PENELITIAN
|
Pembelajaran dengan pendekatan
realistik
|
|
Proses belajar mengajar
|
|
Pemberian
tes
|
|
Kesimpulan
|
|
Hasil belajar
|
|
Analisis
data
|
|
|
|
|
METODE PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Penelitian ini
bersifat eksperimen semu ( quasi
experimental) yang bertujuan untuk mengetahui hasil dari pengimplementasian pembelajaran matematika realistik pada siswa kelas IXa MTs Muhammadiyah Kabupaten
Enrekang, berupa keterlaksanaan pembelajaran oleh guru, aktifitas siswa selama
proses belajar mengajar dengan implementasi pembelajaran matematika realistik, respon
siswa terhadap pembelajaran matematika realistik, dan data tentang hasil
belajar siswa setelah diterapkan
pembelajaran matematika realistik. Atau sesuai yang tercantum pada rumusan
masalah.
B.
Lokasi
dan subjek penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di MTs
Muhammadiyah Kabupaten Enrekang dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas IXa
C.
Faktor
yang Diselidiki
Faktor yang akan
diselidiki dalam pelaksanaan penelitian ini adalah:
1)
Faktor proses, yaitu dengan
mengamati semua aktivitas selama proses belajar mengajar. Aktivitas yang
dimaksud adalah:
a.
Keterlaksanaan
pembelajaran oleh guru
b.
Aktifitas siswa pada
saat diterapkan pembelajaran matematika realistik
c.
|
42
|
2)
Faktor hasil, yaitu
dengan melihat hasil belajar siswa setelah diberikan tindakan yakni pengajaran dan
pembelajaran dengan pendekatan
realistik.
D. PROSEDUR PELAKSANAAN
PENELITIAN
1.
Tahap Awal (I) Observasi Awal
a. Meninjau
keadaan lokasi penelitian secara keseluruhan sebelum penelitian dilakukan.
b. Konsultasi
dengan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan penelitian di sekolah.
c. Menentukan
kelas yang menjadi subyek peneliti.
d. Menelaah kurikulum matematika MTs kelas IXa semester
ganjil berdasarkan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
e. Menyusun
perangkat pembelajaran yang akan di gunakan dalam proses penbelajaran. Perangkat
pembelajaran yang di maksud meliputi RencanaPelaksanaan Pemblajaran (RPP), Lembar
Kerja Siswa(LKS), Tes Hasil Belajar (THB). Serta mempersiapkan lembar observasi
aktivitas siswa,keterlaksanaan pembelajaran dan angket respon siswa.
f. Instumen
penelitian yang sudah disusun kemudian divalidasi.
2.
Tahap Dua (II) pelaksanaan Pembelajaran
a. Menyiapkan
peserta didik untuk memulai pembelajaran
b. Memberikan
gambaran kepada siswa tentang konsep atau materi pembelajaran yang akan dibahas
dengan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
c. Memberikan
motivasi kepada siswa agar siswa tidak jenuh, tidak bosan, mengantuk, dalam
menerima pembelajaran yang disajikan.serta memberikan contoh-contoh soal yang
menarik dan terkait dengan kehidupan sehari –hari siswa.
d. Membagi
siswa kedalam kelompok-kelompok kecil yang teridiri dari 5 kelompok yang
anggota kelompoknya 5 atau 4 siswa.
e. Memberikan
LKS kelompok kepada setiap kelompok yang sudah disusun oleh peneliti yang
terkait dengan materi bangun ruang sisi lengkung.
f. Menyuruh
siswa untuk mendiskusikan LKS yang telah diberikan kepada setiap kelompok
g. Membimbing
dan mengarahkan siswa dalam mencari penyelesaian masalah yang telah diberikan
h. Menunjuk
salah satu kelompok untuk mendemonstrasikan hasil dari masalah yang telah
diberikan.
i.
Membimbing siswa untuk
menyimpulkan materi pembelajaran
j.
Memberikan penghargaan
kepada siswa
k. Mengingatkan
akan materi selanjutnya serta memberikan PR sebagai bentuk latihan.
3.
Tahap
tiga (III) Pengamatan
Lembar observasi yang
sudah divalidasi diberikan kepada guru untuk mengamati jalannya pembelajaran
mulai dari awal pelaksanaan sampai pada akhir pelaksanaan. Pada saat
pembelajaran pengamat mengamati guru yang mengajar dan menilai seberapa besar
keterlaksanaan guru dalam mengelola pembelajaran dengan memperhatikan
aspek-aspek yang dinilai.
4.
Tahap
empat (IV) Pemberian Tes Hasil Belajar
Pada tahap ini siswa
diberikan tes untuk mengetahui seberapa besar penguasaan/kemampuasn siswa
terhadap materi Bangun Ruang Sisi Lengkung setelah diterapkannya metode/ pendekatan
pembelajaran matematika realistik.
5.
Tahap
akhir Analisis Data
Pada tahap ini data
yang sudah terkumpul seperti data keterlaksanaan pembelajaran, aktifitas siswa,
respon dan data hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan statistik
deskriptif untuk mengetahui besar persentase dari tiap kategori.
A.
Instrumen Penelitian
Dalam
penelitian eksperiment semu
instrument yang digunakan adalah:
1.
Lembar
Observasi keterlaksanaan pembelajaran oleh guru.
Lembar observasi digunakan untuk
melihat gambaran implementasi
pembelajaran matematika
realistik dikelas.
Lembar observasi ini digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai proses
pelaksanaan dan kualitas pembelajaran baik sebelum pembelajaran dimulai sampai
kepada kegiatan menutup.
2. Lembar observasi aktifitas siswa
Lembar observasi siswa digunakan
untuk melihat keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dengan pendekatan
pembelajaran realistik. Adapun
aspek yang dinilai yaitu siswa yang memperhatikan ,mencatat seperlunya materi
yang disampaikan oleh guru, mengajukan pertanyaan kepada guru tentang materi
yang belum sepenuhnya dipahami, siswa yang menjawab atau menanggapi pertanyaan
guru, siswa yang aktif berdiskusi , siswa yang tampil mempersentasekan hasil
dari diskusi kelompoknya, siswa yang mengajukan pertanyaan kepada kelompok yang
tampil, siswa yang melakukan kegiatan yang diluar pembelajaran. Hal ini dapat
pula dilihat pada lembar aktivitas siswa. Lampiran B
3.
Tes hasil belajar
Tes
hasil belajar digunakan untuk mengetahui gambaran sejauh mana kemampuan siswa
dalam menyelesaikan tes yang diberikan. Tes yang diberikan berupa beberapa
pertanyaan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, kemampuan, dan
pengetahuan yang dimiliki oleh siswa tersebut.
4.
Angket
Angket
adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi
dari responden dalam arti laporan tentang hal-hal pribadinya atau hal-hal yang
siswa ketahui.
B.
Tekhnik
Pengumpulan Dan Analisis Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa
dan guru. Jenis data yang akan diperoleh adalah data kualitatif dan data
kuantitatif yang diambil dari :
1.
Keterlaksanaan
Pembelajaran oleh guru
2.
Lembar
Observasi Aktivitas siswa
3.
Respon
Siswa
4.
Tes
Hasil Belajar
Cara pengambilan data dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Data hasil belajar akan diambil dengan memberikan tes
kepada siswa diakhir pertemuan.
2.
Data
tentang keterlaksanaan pembelajaran oleh guru diambil dari pengamatan terhadap
pengelolaan pembelajaran melalui lembar observasi
3.
Data
tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran diambil dari mengamati
tingkah laku siswa pada saat pembelajaran berlangsung.
4.
Data
tentang tanggapan siswa akan diperoleh dengan memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menuliskan tanggapan pada akhir pertemuan dengan menggunakan angket
respon siswa.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini selanjutnya dianalisis dengan
presentase dan statistik deskriptif, yaitu statistik yang berfungsi untuk
mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diperhatikan yang
meliputi frekuensi, skor maksimum, minimum, rata-rata, dan standar deviasi. Beriku adalah kriteria penentua kategori dari
beberapa instrumen yaitu:
1. Keterlaksanaan Pembelajaran Oleh Guru
Untuk data
mengenai keterlaksanaa pembelajaran dianalisis secara deskriptif
kualitatif. Untuk menilai keterlaksanaan
pembelajaran oleh guru digunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran
oleh guru. Adapun kriteria yang
digunakan untuk data mengenai keterlaksanaan
pembelajaran adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Kriteria
Kualifikasi Keterlaksanaan Pembelajaran
|
Persentase
|
Kategori |
|
86% - 100%
|
Sangat baik
|
|
71% - 85%
|
Baik
|
|
60% - 70%
|
Cukup Baik
|
|
21% - 59%
|
Kurang baik
|
|
0% - 20%
|
Sangat Kurang Baik
|
Adapun untuk
menghitung kategori besar persentase untuk tiap kategori yaitu menggunakan
persamaan berikut:
=
x 100 %
2.
Aktivitas
Siswa
Data mengenai aktivitas
siswa diperoleh dari lembar observasi/pengamatan siswa dengan menerapkan metode
/pendekatan pembelajaran matematika
realistik, yang kemudian dianalis dengan memperhatikan waktu ideal yang
ditentukan. Kriteria aktifitas siswa dikatakan efektif jika presentase seluruh aktivitas yang diamati
memenuhi batas kriteria waktu ideal (PWI) yang ditetapkan dengan toleransi
sebesar 5%. Adapun cara untuk mendapatkan waktu ideal adalah
Tabel 3.2
Kriteria Kualifikasi Pengamatan
Aktifitas Siswa
|
No
|
Aktivitas
siswa
|
Alokasi
waktu (menit)
|
Waktu
ideal (%)
|
Interval
toleransi PWI (5%)
|
|
1
|
Memperhatikan
mencatat seperlunya materi yang disampaikan oleh guru
|
12
|
20
|
15%
- 25%
|
|
2
|
Mengajukan
pertanyaan kepada guru tentang materi yang belum dipahami
|
5
|
9,17
|
4,175%-
14,17%
|
|
3
|
Menjawab
menanggapi pertanyaan guru
|
5
|
9,17
|
4,17-
14,17
|
|
4
|
Aktif
berdiiskusi dengan teman kelompok mengenai tugas kelompok yang diberikan
|
23
|
38,33
|
33,33%-
43,33%
|
|
5
|
Mempersentasikan
/memperhatikan kelompok yang tampil
|
10
|
18,33
|
13.33%-
23,33%
|
|
6
|
Mengajukan
pertanyaan kepada kelompok yang tampil
|
5
|
9,17
|
4,17%-
14,17%
|
|
7
|
Kegiatan
diluar tugas seperti ngantuk, melamun, tidur, minta izin, atau yang tidak
tercantum dalam KMB
|
0
|
0
|
0%-5%
|
Catatan
Ø
Ø PWI adalah presentase
waktu ideal dengan batas toleransi yang digunakan adalah 5%
3.
Respon
Siswa
Data tentang respon
siswa diperoleh dari lembar pengamatan siswa terhadap proses belajar mengajar
dengan menggunakan metode atau pendekatan pembelajaran matematika realistik
(PMR). Adapun cara yang digunakan untuk mengetahui hasil analisis respon siswa
, yaitu dengan menentukan banyaknya siswa yang memberi respon positif atau
respon negatif untuk setiap kategori
yang ditanyakan dalam angket. Untuk mengetahui tentang respon positif dan
respon negatif adalah sebagai berikut:
a. Respon
positif
Dalam hal ini dapat
diketahui jika banyaknya siswa merespon tiap kategori dengan senang,
berminat,termotivasi,tertarik mengikuti pembelajaran matematika dengan
menggunakan metode pembelajaran matematika realistik sekitar
dari kriteria yang ditentukan.
b. Respon
negatif
Sebaliknya respon negatif jika siswa
hanya merespon pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan matematika
realistik (PMR) hanya sekitar
% dari kriteria yang ditentukan.
4.
Hasil
Belajar
Untuk
menentukan data mengenai hasil belajar matematika
siswa dapat dikategorikan menurut standar kategorisasi dari Kementrian
Pendidikan Nasional (Sri Widiyahstuti:2011) yang dinyatakan dalam tabel
Tabel 3.3
Kategorisasi Standar yang Ditetapkan Departemen
Pendidikan Nasional
|
NO
|
Nilai
|
Keterangan
|
|
1
|
0 ≤
× ≤ 54
|
Sangat rendah
|
|
2
|
54
< × ≤ 64
|
Rendah
|
|
3
|
64
< × ≤ 79
|
Sedang
|
|
4
|
79
< × ≤ 89
|
Tinggi
|
|
5
|
89
< × ≤ 100
|
Sangat tinggi
|
Sumber: Kementrian Pendidikan Nasional (Sri widiyastuti:2011)
Selanjutnya
tabel mengenai KKM (Kriteria Ketuntasan Maksimal) yang ditetapkan di
MTs.Muhammadiyah Tongko adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4
Kategorisasi Standar Ketuntasan Hasil Belajar
MTs.muhammadiyah Tongko Kabupaten enrekang
|
Tingkat
Penguasan
|
Kategorisasi
Ketuntasan Belajar
|
|
0- 64
|
Tidak
Tuntas
|
|
65 –
100
|
Tuntas
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar