Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK PADA SISWA KELAS IX MTs. MUHAMMADIYAH TONGKO KABUPATEN ENREKANG




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kondisi yang mewarnai pembelajaran matematika saat ini adalah seputar rendahnya kualitas pendidikan matematika. Oleh karena itu perbaikan kegiatan belajar mengajar  matematika  harus di upayakan secara optimal  agar mutu pendidikan dapat meningkat. Hal ini mutlak dilakukan seiring dengan kemajuan zaman dan gerak pembangunan nasional. Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha membudayakan manusia atau memanusiakan manusia. Manusia adalah pribadi yang  utuh dan kompleks sehingga sulit dipelajari secara tuntas. Karena hakekatnya manusia itu sendiri selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupan. Perkembangan IPTEK  memaksa dunia pendidikan menyesuaikan diri pada perubahan yang serba kompleks pada kehidupan manusia.
1
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin pesat telah membawa implikasi perubahan dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan sangat terkait dengan siswa sebagai peserta didik yang merupakan subjek utama dalam pendidikan. Peserta didik harus dibekali dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memungkinkannya untuk mandiri, sehingga dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa dan negara. Segala perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat membuat dunia pendidikan terus menyesuaikan diri dan mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman.
Matematika sebagai salah satu disiplin ilmu yang berperan penting dalam upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini disebabkan karena matematika sebagai sarana berfikir logis, analitis, kreatif dan sistematis. Oleh karena itu matematika perlu dibekalkan kepada setiap peserta didik.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pendidikan matematika yaitu faktor siswa itu sendiri, guru, orang tua, sarana dan prasarana. Namun masih terdapat siswa yang beranggapan negatif terhadap matematika. Adanya persepsi siswa bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran sulit, kurang menyenangkan, membosankan dan menakutkan  sehingga  hanya sebagian siswa tertentu yang bisa menguasai matematika. Efek negatif dari pandangan tersebut adalah banyak siswa yang merasa anti dengan matematika sebelum mereka betul-betul mempelajari matematika.
Persepsi tersebut menjadi salah satu faktor penyebab kurang berhasilnya pendidikan di bidang matematika, berakibat rendahnya minat dan hasil belajar matematika. Hal tersebut sampai sekarang ini masih menghantui para peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika agar siswa senang belajar matematika. Adams & Hamms,2010 dalam (Ariyadi wijaya,2011:5) mengatakan bahwa cara dan pendekatan dalam pembelajaran matematika sangat dipengaruhi oleh pandangan guru terhadap siswa dalam pembelajaran. Adams dan Hamms menyebutkan empat macam pandangan tentang posisi dan peran matematika, yaitu:
1.      Matematika sebagai suatu cara untuk berpikir
2.      Matematika sebagai suatu pemahaman  tentang pola dan hubungan (pattern and relationship)
3.      Matematika sebagai suatu alat (mathematics as a tool)
4.      Matematika sebagai bahasa atau alat untuk berkomunikasi
 Oleh karena itu diperlukan metode yang sesuai dengan keadaan kelas atau siswa sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pelajaran yang diajarkan.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan salah seorang guru di MTs Muhammadiyah Tongko Kabupaten Enrekang, pada kenyataannya minat dan hasil belajar matematika siswa masih sangat minim. Hal tersebut merupakan permasalahan dalam pembelajaran di sekolah tersebut. Oleh karena itu diperlukan cara untuk mencapai atau menumbuhkan minat agar hasil belajar siswa tercapai dengan memotivasi siswa melalui:
a.       Pernyataan penghargaan seperti: “bagus sekali, hebat, menajubkan, luarbiasa dll”.
b.      Memperlihatkan hasil belajar sebagai motivasi untuk mempertahankan hasil belajar yang baik, maupun untuk memperbaiki hasil belajar yang kurang memuaskan
c.       Memberikan hadiah bagi siswa pada tahap pertama
d.      Mengurangi akibat yang tidak menyenangkan seperti menghukum siswa
e.       Berusaha belajar dengan menyenangkan
Tidak tercapainya minat disebabkan metode atau  pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang efektif dalam proses pembelajaran. Metode atau pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh guru masih berpusat kepada siswa, dimana siswa secara pasif menerima konsep, rumus, kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, serta menghapal) tanpa memberikan konstribusi ide-ide dalam proses pembelajaran. Penyajian matematika yang kurang merangsang siswa untuk termotivasi, dan kurang merangsang rasa ingin tahu siswa serta suasana kelas yang kurang menyenangkan yang menyebabkan siswa tidak senang dan bosan dalam menerima pelajaran.
Karena banyak permasalahan yang mengakibatkan gagalnya pembelajaran matematika, maka diperlukan  usaha- usaha terobosan untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Salah satu dengan menggunakan metode dan melakukan inovasi sistem pembelajaran. Oleh karena itu salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan pembelajaran matematika adalah pemilihan metode atau pendekatan pengajaran yang tepat, sehingga mampu melibatkan siswa secara aktif baik fisik, emosi, maupun sosial. Salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang sesuai dengan kondisi tersebut adalah pendekatan pembelajaran matematika realistik.
Pendekatan pembelajaran ini pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Menurut  Gravemijer,1994:82 dalam (Andi Rusdi: 2009) yang menyatakan bahwa pendidikan matematika harus dikaitkan dengan realita dan kegiatan manusia. Pendekatan ini di kenal dengan nama RME (Ralistic Mathematic Education). Yang kemudian di Indonesia dikenal dengan Pendekatan Matematika Realistik (PMR). Pembelajaran matematika realistik mmungkinkan siswa aktif secara optimal dalam proses pembelajaran di kelas. Guru berfungsi sebagai pembimbing dalam menyeleksi kontribusi-kontribusi yang diberikan siswa melalui pemecahan masalah kontekstual pada awal pembelajaran. Siswa di biasakan untuk memecahkan masalah menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Dalam pembelajaran matematika Realistik siswa merupakan pelaku utama dalam pembelajaran siswa diharapkan mampu mengkontruksi sendiri pengetahuan melalui manipulasi benda-benda yang nyata yang ada pada lingkungannya atau yang dapat dibayangkan.
Penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik dalam pembelajaran matematika di sekolah diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi, karena pembelajaran dengan pendekatan realistik dirancang berawal dari pemecahan masalah yang berada di sekitar siswa dan berbasis pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Untuk melaksanakan implementasi pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik, diperlukan pendekatan yang sesuai dengan masalah tersebut. Oleh karena itu, penulis termotivasi untuk mengadakan penelitian dengan judul Implementasi Pembelajaran Matematika Realistik Pada Siswa Kelas IX MTs.Muhammadiyah Tongko Kabupaten Enrekang”.






B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.            Bagaimana keterlaksanaan  pembelajaran matematika melalui pendekatan matematika realistik pada siswa kelas IX MTs.Muhammadiyah Tongko Kabupaten Enrekang?
2.            Bagaimana aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran matematika?
3.            Bagaimana respons siswa terhadap pembelajaran matematika realisti pada siswa kelas IX MTs Muhammadiyah Tongko Kabupaten Enrekang?
4.            Bagaimana hasil belajar siswa dalam mengaplikasikan konsep matematika melalui pembelajaran matematika realistik?

C.    Tujuan Penelitian
Pada dasarnya tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab masalah- masalah yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah, yakni sebagai berikut:
1.        Untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran matematika melalui pembelajaran pendekatan matematika realistik.
2.        Untuk mengetahui aktivitas siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung
3.        Untuk mengetahui respon siswa dalam menyelesaikan masalah dan tugas yang diberikan
4.        Untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam mengaplikasikan konsep matematika melalui pembelajaran matematika reali
D.    Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.         Bagi siswa, diharapkan dapat membangkitkan semangat belajar, percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki, banggga dengan nilai yang diperoleh dan dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya.
2.         Bagi Guru, sebagai masukan bahwa metode pembelajaran matematika realistik dapat membangkitkan semangat atau motivasi  siswa dalam belajar.
3.         Bagi Sekolah, sebagai masukan dalam usaha memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan khususnya mutu pendidikan matematika.
4.          Bagi peneliti, memberikan informasi bagi peneliti yang berminat untuk melaksanakan penelitian lanjutan khususnya mahasiswa Jurusan Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Makassar.












BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

A.    KAJIAN TEORI
1.      Pengertian Belajar 
Belajar pada hakikatnya adalah suatu proses yang di tandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat diindikasikan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, kecakapan, keterampilan, dan kemampuan, serta aspek –aspek yang lain pada individu yang belajar. Menurut para ahli diantaranya: George J.Mouly dalam (Trianto, 2009: 9)  bahwa belajar pada dasarnya adalah perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman. Pendapat yang senada juga di sampaikan oleh Kimble dan Garmezi dalam ( Trianto,2009:9) yang menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang yang relative permanen terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan Garry dan Kingsley dalam (Trianto, 2009:9 ) menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang orisinal melalui pengalaman dan latihan. Pengertian belajar menurut Slameto, (2010 : 2) adalah
“belajar ialah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya’’.

8
Sedangkan Muhibbin Syah (Rosdiana, 2008: 12) mengemukakan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai tahapan perubahan tingkah laku individu yang relatife menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Pencapaian tujuan pendidikaan banyak tergantung pada proses belajar yang dialami siswa sebagai anak didik.
Dalam Islam, orang yang belajar dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Hal ini telah tegaskan dalam firman-Nya Q.S. Al-Mujadalah / 58 : 11 yang berbunyi:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ
Berdasarkan uraian di atas, maka belajar dapat diartikan sebagai Adanya perubahan yang  berupa pengetahuan, keterampilan, perilaku, kebiasaan, sikap, pemahaman  yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya.

2.      Prinsip- Prinsip Belajar
Belajar tidak lepas dari prinsip-prinsip belajar ,prinsip-prinsip belajar menurut Slameto (2010: 27 ) diantaranya:
1.      Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar
a.       Dalam belajar setiap siswa harus di usahakan partisipasinya aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan intruksional;
b.      Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan intruksional;
c.       Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuanya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
d.      Belajar perlu ada interaksi siwa dengan lingkunganya.
2.    Syarat keberhasilan belajar
a.       Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
b.      Repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian/keterampilan/sikap itu mendalam pada siswa.
3.      Hasil Belajar
Hasil belajar matematika mempunyai empat aspek yaitu: fakta, konsep, prinsip, skill. Dari empat aspek tersebut menurut suyitno, dkk dalam (Hand out 2004 : 15 - 18) sebagai berikut:
1.      adalah keterampilan mental menjalankan prosedur guna Fakta adalah sesuatu yang sesuai dengan keadaan sebenarnya
2.      Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan.
3.      Prinsip adalah pola hubungan fungsional antara konsep- konsep.
4.      Skill menyelesaikan suatu masalah.
4.      Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran pada hakikatnya adalah usaha sadar dari seseorang guru untuk membelajarakan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber lainya) dalam rangka mencapai tujuan yang di harapkan (Triyanto,2009:17).
Sedangkan menurut Winaputra (2001) dalam Abdul Haling ( 2007:14 ) mengatakan bahwa pembelajaran adalah prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Denga demikian pembelajaran  adalah interaksi dua arah siswa dan guru yang intens dan terarah untuk mencapai tujuan. Adapun sistem pembelajaran dalam pandangan konstrutivis menurut Hudojo (1998) dalam Triyanto (2009:19)  mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.       siswa terlibat aktif dalam belajarnya, Siwa belajar materi (pengetahuan) secara bermakna dengan bekerja dan berfikir.
b.      Informasi baru harus di kaitkan dengan impormasi sebelumnya sehingga menyatu dengan skemata yang di miliki siswa.
Implikasi dari pandangan tersebut adalah penyedian lingkungan belajar yang  konstruktif. Lingkungan belajar yang konstruktif menurut Hudojo (1998) adalah:
1.    Menyediakan pengalaman belajar yang mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sehingga belajar merupakan proses pembentukan pengeahuan.
2.    Menyediakan berbagai alternative pengalaman belajar
3.    Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman kongkret
4.    Mengintegrasikan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran yang lebih menarik
5.    Memanfatkan berbagai media agar pembelajaran lebih menarik
6.    Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika lebih menarik dan siswa mau belajar (Triyanto, 2009:19).

B.     Hakikat Belajar Matematika
Matematika merupakan suatu bentuk aktivitas manusia yang megkotruksi konsep-konsep. Menurut Brunner dalam ( Hujodo, 2003:56 ) belajar matematika adalah belajar tentang konsep- konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat dalam materi- materi yang dipelajari serta menjalankan tentang hubungan antar konsep- konsep dan struktur itu. Dalam lampiran Peraturan Mentri Pendidikan Nasional ( Pemerdiknas ) Nomor 20 Tahun 2006 tentang Standar Isi dalam Ariyadi Wijaya ( 2012 : 16 ) disebutkan bahwa pembelajaran matematika bertujuan supaya siswa memiliki kemampuan sebagai berikut:
1.      Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
2.      Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisai, menysun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3.      Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang di peroleh.
Matematika menumbuh kembangkan kemampuan bernalar, yaitu berfikir sistematis, logis, dan kritis, dalam mengkomunikasikan gagasan atau dalam pemecahan masalah. Pembelajaran matematika diharapkan siswa memiliki pemahaman tidak sekedar memenuhi tuntutan tujuan pembelajaran matematika semata, namun diharapkan mampu berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan sebuah masalah. Dengan demikian diperlukan suatu strategi belajar mengajar matematika agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.
C.    Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik
Pembelajaran matematika realistik atau Realistic Mathematic Education (RME) merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika dimana siswa menyelesaikan suatu masalah dengan menghubungkan benda-benda nyata yang ada disekitarnya. Pendekatan matematika realistik pertama kali diperkenalkan oleh ahli matematika Belanda bernama Freudental. Matematika realistik banyak ditentukan oleh pandangan Freudenthal tentang matematika. Pandangan ini mengacu pada pendapat Freudental  (dalam Ariyadi Wijaya, 2012: 20)  yang menyatakan bahwa matematika sebagai aktivitas atau proses manusia dalam mengkontruksi konsep matematika oleh karena itu matematika harus dihubungkan dengan realitas dalam kehidupan sehari-hari. Frudenthal mengenal istilah “guided reinvention’’ sebagai prosses yang dilakukan siswa secara aktif untuk menemukan kembali suatu konsep matematika dengan bimbingan guru.
Realistic Mathematics Education (RME) atau yang lebih dikenal dengan Pendekatan Matematika Realistik (PMR) adalah pendekatan pengajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang ‘real‘ bagi siswa, menekankan keterampilan ‘proses of doing mathematics’, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri (‘student inventing‘ sebagai kebalikan dari ‘teacher telling’) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok. Pada pendekatan ini peran guru tak lebih dari seorang fasilitator, moderator atau evaluator sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan, melatih nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang lain. Menurut Soedjadi (2001a:2-3) dalam (Andi Rusdi,2009) 
“mengemukakan bahwa PMR pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang telah dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, dengan harapan agar tujuan pembelajaran matematika dapat dicapai lebih baik dari pada masa yang lalu”.
Yang dimaksud realita  adalah hal-hal nyata atau konkret, yang dapat diamati atau dipahami siswa melalui membayangkan. Sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat siswa berada, baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami siswa. Dengan kata lain yang dimaksud dengan lingkungan adalah kehidupan sehari-hari yang dialami atau dapat dipahami siswa.
 Pembelajaran matematika realistik memberikan kemudahan bagi guru dalam pengembangan konsep-konsep dan gagasan matematika yang bersumber dari dunia nyata. Dunia nyata tidak berarti konkret secara fisik dan kasat mata namun hal-hal yang dapat dibanyangkan oleh pikiran siswa. Hal ini dikemukan pula oleh (Ariyadi Wijaya,2012: 21) bahwa semua masalah realistik tidak harus selalu berupa masalah yang ada di dunia nyata (real Word Problem)dan bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari siswa.tetapi  suatau masalah juga disebut realistik jika masalah tersebut dapat dibayangkan (imaginable) atau nyata (real) dalam pikiran siswa.
Adapun karateristik pendekatan matematika realistik (PMR) menurut (Pakde Sopa,2008) adalah sebagai berikut:
1.      Penggunaan  masalah kontekstual
Pembelajaran matematika diawali dengan masalah kontekstual, sehingga memungkinkan siswa menggunakan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya secara langsung. Masalah kontekstual berfungsi sebagai sumber untuk mengaplikasikan kembali matematika. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai topik awal pembelajaran, hendaknya masalah sederhana yang dikenali oleh siswa. Masalah kontekstual dalam PMR memiliki empat fungsi, yaitu: (1) untuk membantu siswa menggunakan konsep matematika, (2) untuk membentuk model dasar matematika dalam mendukung pola pikir siswa bermatematika, (3) untuk memanfaatkan realitas sebagai sumber aplikasi matematika dan (4) untuk melatih kemampuan siswa, khususnya dalam menerapkan matematika pada situasi nyata (realitas).
2.      Penggunaan model untuk matematisasi progresif.
Istilah model berkaitan dengan model matematika yang dibangun sendiei oleh siswa dalam mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika. Penggunaan model berfunggsi sebagai jembatan (bridge) dari pengetahuan dan matematika tingkat kongkrit menuju pengetahuan matematika tingkat formal. Dalam kata lain membuat sendiri model dari situasi nyata ke abstrak
3.      Pemanfaatan hasil kontruksi siswa
Siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan berbagai strategi informal yang dapat mengarahkan pada pengkonstruksian berbagai prosedur untuk memecahkan masalah. Dengan kata lain, kontribusi yang besar dalam proses pembelajaran diharapkan datang dari siswa, bukan dari guru. Artinya semua pikiran atau pendapat siswa sangat diperhatikan dan dihargai.
4.      Interaktivitas
Interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, serta siswa dengan perangkat pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam PMR. Bentuk-bentuk interaksi seperti: negosiasi, penjelasan, pembenaran, persetujuan, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk pengetahuan matematika formal dari bentuk-bentuk pengetahuan matematika informal yang ditemukan sendiri oleh siswa.
5.      Keterkaitan
Konsep-konsep dalam matematika tidak bersifat parsial, namun banyak konsep dalam matematika yang memiliki keterkaitan dan keterintegrasian dalam memecahkan sustu masalah. Oleh karena itu konsep dalam matematika tidak dikenalkan kepada siswa secara terpisah atau terisolasi satu sama lain.
Selain itu terdapat juga prinsip-prinsip pembelajaran matematika realistik dalam kurikulum matematika realistik dalam( Abied, 2010) yaitu:
1.      Didominasi oleh masalah-masalah dalam kontsks, melayani dua hal yaitu sebagai sumber dan sebagai terapan konsep.
2.      Perhatian diberikan kepada pengembangan model-model, situasi, skema, dan simbol-simbol.
3.      Sumbangan dari para siswa, sehingga siswa dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif, siswa memproduksi sendiri dan mengkonstruksi sendiri sehingga dapat membimbing para siswa dari level matematika informal menuju matematika formal.
4.      Interaktif sebagai  karakteristik dari proses pembelajaran matematika
5.      Interwinning (membuat jalinan) antar topik atau antar pokok bahasan.
Menurut Alimuddin, 2004 dalam (Abied,2010) bahwa masalah kontekstual dalam kurikulum realistik, berguna untuk mengisi sejumlah fungsi:
1.      Pembentukan konsep: Dalam fase pertama pembelajaran, para siswa diperkenankan untuk masuk ke dalam matematika secara ilmiah dan termotivasi.
2.      Pembentukan model: Masalah-masalah konstekstual memasuki fondasi siswa untuk belajar operasi, prosedur, notasi, aturan, dan mereka mengerjakan ini dalam kaitannya dengan model-model lain yang kegunaannya sebagai pendorong penting dalam berpikir.
3.      Peerapan : masalah konstektual menggunakan reality sebagai sumber dan domain untuk terapan.
4.      Praktek dan latihan dari kemampuan spesipik dalam situasi terapan
Menurut (Upu, 2004) dalam (Sri Dewi,2006) bahwa realistik dimaksudkan sebagai ide untuk mengembangkan matematika sebagai aktivitas manusia, meliputi: mencari masalah, mengorganisasikan materi yang telah relevan dengan masalah dan pemecahannya, membuat model matematika terhadap masalah yang dapat diselesaikan, penyelesaian masalah, mengorganisasikan ide-ide baru dan pemahaman baru yang sesuai dengan konteks. Pengorganisasian aktivitas tersebut disebut matematisasi (mathematizing).
Matematisasi dalam pembelajaran realistik merupakan proses yang sangat penting. De Lange dalam (Ariyadi Wijaya,2012: 42) membagi matematisasi menjadi dua bagian yaitu matematika horizontal dan matematisasi  vertikal. Yang dimaksud dengan matematika horizontal dalam pembelajaran matematika realistik adalah kegiatan mengubah masalah konstektual ke dalam masalah matematika, sedangkan matematika vertikal adalah kegiatan menformulasikan masalah ke dalam beragam penyelesaian masalah matematika dengan menggunakan sejumlah aturan-aturan matematika yang sesuai.
D.    Prinsip Pembelajaran Matematika Realistik
Secara umum PMR mengkaji tentang materi apa yang akan diajarkan pada siswa beserta rasionalnya, bagaimana siswa belajar matematika, bagaimana seharusnya topik matematika diajarkan, dan bagaimana menilai kemajuan belajar siswa. Mengacu pada bidang kajian ini, Gravemeijer (Fauzan,2001:5) mengemukakan tiga prinsip dari PMR, yaitu:
1.        Guided Reinvention (menemukan kembali) atau Progressive Mathematizing (matematisasi progresif), siswa harus diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama dengan proses yang dilalui oleh para pakar matematika ketika menemukan konsep-konsep matematika.
2.        Didactical Phenomology  (fenomena pembelajaran), topik-topik matematika yang diajarkan  berasal dari fenomena sehari-hari. Topik-topik ini disajikan atas dua pertimbangan, yaitu: melihat kemungkinan aplikasinya dan kontribusinya untuk perkembangan matematika lanjut.
3.        Self-developed Models (pengembangan model sendiri): model dibuat oleh siswa sendiri sewaktu memecahkan soal-soal kontekstual. Pada awalnya siswa akan menggunakan model pemecahan yang informal atau model dari situasi yang dikenal oleh siswa. Dengan suatu proses generalisasi dan formalisasi, model tersebut akhirnya menjadi model yang formal.
Adapun langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik dalam kegiatan belajar mengajar di kelas adalah sebagai berikut:
Ramlah (2004:12) dalam Rosmiati (2008) menjelaskan langkah-langkah tahap pembelajaran matematika realistik sebagai berikut:
a.       Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi kepada siswa.
b.      Memberikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Mendorong siswa menyelesaikan masalah tersebut, baik individu maupun kelompok.
d.      Memberikan masalah yang lain kepada siswa, tetapi dalam konteks yang sama setelah diperoleh beberapa langkah dalam menyelesaikan masalah tersebut.
e.       Mempertimbangkan cara dan langkah yang ditentukan dengan memeriksa dan meneliti, kemudian guru membimbing siswa untuk melangkah ke masalah dunia nyata
f.       Menugaskan siswa baik individu maupun kelompok untuk menyelesaikan permasalahan lain baik terapan maupun bukan terapan. Namun untuk soal terapan dipilih soal cerita yang konteksnya dekat dengan keseharian siswa, kemudian guru memantau dan membimbing siswa.
g.      Dari hasil diskusi kelas, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan suatu rumusan konsep/prinsip dari topikyang dipelajari.
Beberapa kelibihan dan kelemahan penerapan pembelajaran dengan realistik matematick education (RME) atau dengan kata lain Pendekatan matematika realistik (PMR) dalam (Pakde Sofa,2008) adalah sebagai berikut:
Ø  Kelebihan Pendekatan Matematika Realistik (PMR)
1.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari‑hari (kehidupan dunia nyata) dan kegunaan matematika pada umumnya bagi manusia.
2.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan dikembangkan sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut.
3.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama antara orang yang satu dengan yang lain.
4.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan sesuatu yang utama dan untuk mempelajari matematika orang harus menjalani proses itu dan berusaha untuk menemukan sendiri konsep‑konsep matematika, dengan bantuan pihak lain yang sudah lebih tahu (misalnya guru).


Ø  Kelemahan PMR
1.      Upaya mengimplementasikan PMR membutuhkan perubahan pandangan yang sangat mendasar mengenai berbagai hal yang tidak mudah untuk dipraktekkan, misalnya mengenai siswa, guru dan peranan soal kontekstual. Di dalam PMR siswa tidak lagi dipandang sebagai pihak yang mempelajari segala sesuatu yang sudah “jadi”, tetapi sebagai pihak yang aktif mengkonstruksi konsep‑konsep matematika. Guru dipandang lebih sebagai pendamping bagi siswa.
2.      Pencarian soal‑soal kontekstual yang memenuhi syarat‑syarat yang dituntut PMR tidak selalu mudah untuk setiap topik matematika yang perlu dipelajari siswa, terlebih lagi karena soal‑soal tersebut harus bisa diselesaikan dengan bermacam‑macam cara.
3.      Upaya mendorong siswa agar bisa menemukan berbagai cara untuk menyelesaikan soal, juga bukanlah hal yang mudah bagi seorang guru.
4.      Proses pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui soal‑soal kontekstual, proses pematematikaan horisontal dan proses pematematikaan vertikal juga bukan merupakan sesuatu yang sederhana, karena proses dan mekanisme, berpikir siswa harus diikuti dengan cermat, agar guru bisa membantu siswa dalam melakukan penemuan kembali terhadap konsep‑konsep matematika tertentu.

A.    KERANGKA PIKIR
Dalam mempelajari suatu konsep matematika, siswa terlalu mengandalkan informasi yang diberikan oleh guru tanpa ada upaya menggali sendiri makna yang terkandung didalamnya. Sehingga pemahaman terhadap konsep tersebut tidak mendalam dan tidak tersimpan di dalam memori. Proses  pembelajaran masih  berpusat  pada  guru, sehingga di sini siswa hanya berfungsi sebagai objek atau penerima perlakuan saja. Oleh karena itu, perlu digunakan sebuah pendekatan  yang dapat menempatkan siswa sebagai subjek (pelaku) pembelajaran  dan  guru tidak menjadi pemegang kekuasaan penuh atas kelas.
Belajar dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik dapat meningkatkan keaktifan, pemahaman dan daya ingat siswa dalam belajar serta penanaman konsep yang melekat dari hasil penyimpulan. Siswa lebih cepat memahami pembelajaran setelah setelah dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan yang real.
 BAGAN KERANGKA PIKIR PENELITIAN
Pembelajaran dengan pendekatan realistik
Proses belajar mengajar
Pemberian tes
Kesimpulan
Hasil belajar
Analisis data
 






 



BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat eksperimen semu ( quasi experimental) yang bertujuan untuk mengetahui hasil dari pengimplementasian pembelajaran matematika realistik pada siswa kelas IXa MTs Muhammadiyah Kabupaten Enrekang, berupa keterlaksanaan pembelajaran oleh guru, aktifitas siswa selama proses belajar mengajar dengan implementasi pembelajaran matematika realistik, respon siswa terhadap pembelajaran matematika realistik, dan data tentang hasil belajar siswa  setelah diterapkan pembelajaran matematika realistik. Atau sesuai yang tercantum pada rumusan masalah.
B.     Lokasi dan subjek penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Muhammadiyah Kabupaten Enrekang dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas IXa
C.  Faktor yang Diselidiki
Faktor yang akan diselidiki dalam pelaksanaan penelitian ini adalah:
1)   Faktor proses, yaitu dengan mengamati semua aktivitas selama proses belajar mengajar. Aktivitas yang dimaksud adalah:
a.       Keterlaksanaan pembelajaran oleh guru
b.      Aktifitas siswa pada saat diterapkan pembelajaran matematika realistik
c.      
42
Respon siswa terhadap implementasi pembelajaran matematika realistik
2)      Faktor hasil, yaitu dengan melihat hasil belajar siswa setelah diberikan tindakan yakni pengajaran dan pembelajaran dengan pendekatan realistik.
D.    PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN
1.      Tahap  Awal (I) Observasi Awal
a.       Meninjau keadaan lokasi penelitian secara keseluruhan sebelum penelitian dilakukan.
b.      Konsultasi dengan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan penelitian di sekolah.
c.       Menentukan kelas yang menjadi subyek peneliti.
d.      Menelaah kurikulum matematika MTs kelas IXa semester ganjil berdasarkan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
e.       Menyusun perangkat pembelajaran yang akan di gunakan dalam proses penbelajaran. Perangkat pembelajaran yang di maksud meliputi RencanaPelaksanaan Pemblajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa(LKS), Tes Hasil Belajar (THB). Serta mempersiapkan lembar observasi aktivitas siswa,keterlaksanaan pembelajaran dan angket respon siswa.
f.       Instumen penelitian yang sudah disusun kemudian divalidasi.
2.      Tahap  Dua (II) pelaksanaan Pembelajaran
a.       Menyiapkan peserta didik untuk memulai pembelajaran
b.      Memberikan gambaran kepada siswa tentang konsep atau materi pembelajaran yang akan dibahas dengan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
c.       Memberikan motivasi kepada siswa agar siswa tidak jenuh, tidak bosan, mengantuk, dalam menerima pembelajaran yang disajikan.serta memberikan contoh-contoh soal yang menarik dan terkait dengan kehidupan sehari –hari siswa.
d.      Membagi siswa kedalam kelompok-kelompok kecil yang teridiri dari 5 kelompok yang anggota kelompoknya 5 atau 4 siswa.
e.       Memberikan LKS kelompok kepada setiap kelompok yang sudah disusun oleh peneliti yang terkait dengan materi bangun ruang sisi lengkung.
f.       Menyuruh siswa untuk mendiskusikan LKS yang telah diberikan kepada setiap kelompok
g.      Membimbing dan mengarahkan siswa dalam mencari penyelesaian masalah yang telah diberikan
h.      Menunjuk salah satu kelompok untuk mendemonstrasikan hasil dari masalah yang telah diberikan.
i.        Membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran
j.        Memberikan penghargaan kepada siswa
k.      Mengingatkan akan materi selanjutnya serta memberikan PR sebagai bentuk latihan.
3.      Tahap tiga (III) Pengamatan
Lembar observasi yang sudah divalidasi diberikan kepada guru untuk mengamati jalannya pembelajaran mulai dari awal pelaksanaan sampai pada akhir pelaksanaan. Pada saat pembelajaran pengamat mengamati guru yang mengajar dan menilai seberapa besar keterlaksanaan guru dalam mengelola pembelajaran dengan memperhatikan aspek-aspek yang dinilai.
4.      Tahap empat (IV) Pemberian Tes Hasil Belajar
Pada tahap ini siswa diberikan tes untuk mengetahui seberapa besar penguasaan/kemampuasn siswa terhadap materi Bangun Ruang Sisi Lengkung setelah diterapkannya metode/ pendekatan pembelajaran matematika realistik.
5.      Tahap akhir Analisis Data
Pada tahap ini data yang sudah terkumpul seperti data keterlaksanaan pembelajaran, aktifitas siswa, respon dan data hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui besar persentase dari tiap kategori.

A.    Instrumen Penelitian
Dalam  penelitian  eksperiment semu instrument yang digunakan adalah:
1.      Lembar Observasi keterlaksanaan pembelajaran oleh guru.
Lembar observasi digunakan untuk melihat gambaran implementasi pembelajaran matematika realistik dikelas. Lembar observasi ini digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai proses pelaksanaan dan kualitas pembelajaran baik sebelum pembelajaran dimulai sampai kepada kegiatan menutup.

2.      Lembar observasi  aktifitas siswa
Lembar observasi siswa digunakan untuk melihat keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dengan pendekatan pembelajaran realistik. Adapun aspek yang dinilai yaitu siswa yang memperhatikan ,mencatat seperlunya materi yang disampaikan oleh guru, mengajukan pertanyaan kepada guru tentang materi yang belum sepenuhnya dipahami, siswa yang menjawab atau menanggapi pertanyaan guru, siswa yang aktif berdiskusi , siswa yang tampil mempersentasekan hasil dari diskusi kelompoknya, siswa yang mengajukan pertanyaan kepada kelompok yang tampil, siswa yang melakukan kegiatan yang diluar pembelajaran. Hal ini dapat pula dilihat pada lembar aktivitas siswa. Lampiran B
3.    Tes hasil belajar
Tes hasil belajar digunakan untuk mengetahui gambaran sejauh mana kemampuan siswa dalam menyelesaikan tes yang diberikan. Tes yang diberikan berupa beberapa pertanyaan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, kemampuan, dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa tersebut.
4.    Angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang hal-hal pribadinya atau hal-hal yang siswa ketahui.

B.     Tekhnik Pengumpulan Dan Analisis Data
               Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa dan guru. Jenis data yang akan diperoleh adalah data kualitatif dan data kuantitatif yang diambil dari :
1.      Keterlaksanaan Pembelajaran oleh guru
2.      Lembar Observasi Aktivitas siswa
3.      Respon Siswa
4.      Tes Hasil Belajar
Cara pengambilan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Data hasil belajar akan diambil dengan memberikan tes kepada siswa diakhir pertemuan.
2.      Data tentang keterlaksanaan pembelajaran oleh guru diambil dari pengamatan terhadap pengelolaan pembelajaran melalui lembar observasi
3.      Data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran diambil dari mengamati tingkah laku siswa pada saat pembelajaran berlangsung.
4.      Data tentang tanggapan siswa akan diperoleh dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuliskan tanggapan pada akhir pertemuan dengan menggunakan angket respon siswa.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini selanjutnya dianalisis dengan presentase dan statistik deskriptif, yaitu statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diperhatikan yang meliputi frekuensi, skor maksimum, minimum, rata-rata, dan standar deviasi.  Beriku adalah kriteria penentua kategori dari beberapa instrumen yaitu:
1.      Keterlaksanaan Pembelajaran Oleh Guru
Untuk data mengenai keterlaksanaa pembelajaran dianalisis secara deskriptif kualitatif. Untuk menilai keterlaksanaan pembelajaran oleh guru digunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran oleh guru. Adapun kriteria yang digunakan untuk data mengenai keterlaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Kriteria Kualifikasi Keterlaksanaan Pembelajaran
Persentase

Kategori

86% - 100%
Sangat baik
71% - 85%
Baik
60% - 70%
Cukup Baik
21% - 59%
Kurang baik
0% - 20%
Sangat Kurang Baik
Adapun untuk menghitung kategori besar persentase untuk tiap kategori yaitu menggunakan persamaan berikut:
=  x 100 %
2.      Aktivitas Siswa
Data mengenai aktivitas siswa diperoleh dari lembar observasi/pengamatan siswa dengan menerapkan metode /pendekatan  pembelajaran matematika realistik, yang kemudian dianalis dengan memperhatikan waktu ideal yang ditentukan. Kriteria aktifitas siswa dikatakan efektif  jika presentase seluruh aktivitas yang diamati memenuhi batas kriteria waktu ideal (PWI) yang ditetapkan dengan toleransi sebesar 5%. Adapun cara untuk mendapatkan waktu ideal adalah
Tabel 3.2
Kriteria Kualifikasi Pengamatan Aktifitas Siswa
No
Aktivitas siswa
Alokasi waktu (menit)
Waktu ideal (%)
Interval toleransi PWI (5%)
1
Memperhatikan mencatat seperlunya materi yang disampaikan oleh guru
12
20
15% - 25%
2
Mengajukan pertanyaan kepada guru tentang materi yang belum dipahami
5
9,17
4,175%- 14,17%
3
Menjawab menanggapi pertanyaan guru
5
9,17
4,17- 14,17
4
Aktif berdiiskusi dengan teman kelompok mengenai tugas kelompok yang diberikan
23
38,33
33,33%- 43,33%
5
Mempersentasikan /memperhatikan kelompok yang tampil
10
18,33
13.33%- 23,33%
6
Mengajukan pertanyaan kepada kelompok yang tampil
5
9,17
4,17%- 14,17%
7
Kegiatan diluar tugas seperti ngantuk, melamun, tidur, minta izin, atau yang tidak tercantum dalam KMB
0
0
0%-5%
Catatan
Ø 
Ø  PWI adalah presentase waktu ideal dengan batas toleransi yang digunakan adalah 5%
3.      Respon Siswa
Data tentang respon siswa diperoleh dari lembar pengamatan siswa terhadap proses belajar mengajar dengan menggunakan metode atau pendekatan pembelajaran matematika realistik (PMR). Adapun cara yang digunakan untuk mengetahui hasil analisis respon siswa , yaitu dengan menentukan banyaknya siswa yang memberi respon positif atau respon negatif  untuk setiap kategori yang ditanyakan dalam angket. Untuk mengetahui tentang respon positif dan respon negatif adalah sebagai berikut:
a.       Respon positif
Dalam hal ini dapat diketahui jika banyaknya siswa merespon tiap kategori dengan senang, berminat,termotivasi,tertarik mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan metode pembelajaran matematika realistik sekitar  dari kriteria yang ditentukan.
b.      Respon negatif
Sebaliknya respon negatif jika siswa hanya merespon pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan matematika realistik (PMR) hanya sekitar % dari kriteria yang ditentukan.
4.      Hasil Belajar
Untuk menentukan data mengenai hasil belajar matematika siswa dapat dikategorikan menurut standar kategorisasi dari Kementrian Pendidikan Nasional (Sri Widiyahstuti:2011) yang dinyatakan dalam tabel









Tabel 3.3
Kategorisasi Standar yang Ditetapkan Departemen
Pendidikan Nasional
NO
Nilai
Keterangan
1
0 ≤ × ≤ 54
Sangat rendah
2
54 < × ≤ 64
Rendah
3
64 < × ≤ 79
Sedang
4
79 < × ≤ 89
Tinggi
5
89 < × ≤ 100
Sangat tinggi

Sumber: Kementrian Pendidikan Nasional (Sri widiyastuti:2011)
Selanjutnya tabel mengenai KKM (Kriteria Ketuntasan Maksimal) yang ditetapkan di MTs.Muhammadiyah Tongko adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4
Kategorisasi  Standar Ketuntasan Hasil Belajar MTs.muhammadiyah Tongko Kabupaten enrekang
Tingkat Penguasan
Kategorisasi Ketuntasan Belajar
0- 64
Tidak Tuntas
65 – 100
Tuntas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar