Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS VIIIB SMP PGRI SUNGGUMINASA KABUPATEN GOWA



BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan masyarakat yang mengalami percepatan diberbagai aspek kehidupan manusia, telah pula menentukan penggunaan matematika yang semakin meluas dan canggih. Dengan perkembangan tersebut menuntut bangsa ini agar mempersiapkan generasi baru yang mampu dan sanggup menghadapi tantangan baru yang tentunya hanya dicapai dengan jalur pendidikan. Dengan demikian siswa perlu memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengolah informasi untuk bisa bertahan pada keadaan yang selalu mengalami perubahan, kemampuan ini membutuhkan pemikiran yang analitis, kritis, sistematis dan mampu bekerjasama secara efektif.
1
Matematika memegang peranan penting dalam pendidikan, hampir setiap hari kehidupan kita melibatkan kegiatan yang bersifat matematis, misalnya menghitung dan mengukur. Untuk itu diperlukan kecerdasan berpikir dan bersikap dalam memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi. Mengingat pentingnya matematika tersebut, maka pengajaran matematika diberbagai jenjang pendidikan formal perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena disamping sebagai mata pelajaran dasar juga untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis matematika. Dengan demikian, guru yang profesional dalam mengadakan tugas belajarnya harus mampu menerapkan cara mengajar yang efektif dan efisien agar tujuan pembelajaran dapat dilakukan secara optimal.
Masalah yang umumnya timbul pada siswa saat ini adalah masalah kurangnya motivasi belajar matematika siswa.Umumnya banyak siswa yang beranggapan bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan, masalah tersebut berimplikasi pada tidak maksimalnya hasil pembelajaran matematika. Hal ini tidak lepas dari apa yang dialami oleh siswa SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa khususnya kelas VIIIB dalam proses pembelajaran matematika siswa di sekolah. Rendahnya motivasi belajar matematika mesti dilihat secara bijak, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal tersebut diantaranya ada faktor siswa, guru dan faktor bagaimana matematika itu diajarkan.
Terkait motivasi belajar yang berimplikasi pada rendahnya hasil belajar siswa pada SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa yang tergolong rendah. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan guru mata pelajaran matematika kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa, diperoleh data nilai rata-rata matematika pada ujian akhir semester pada kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa tahun ajaran 2010/2011 hanya mencapai nilai rata-rata 55,73 dari 31 siswa, dimana dari nilai rata-rata siswa tersebut belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yaitu 60,00. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya guru yang kurang mampu mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata karena metode yang diterapkan oleh guru masih bersifat konvensional, sehingga siswa kurang termotivasi dalam mempelajari materi yang diberikan oleh guru. Untuk itu diperlukan solusi agar seluruh siswa merasa menjadi bagian dalam proses belajar mengajar. Mengingat pentingnya matematika untuk pendidikan, maka perlu dicari jalan penyelesaian yaitu suatu cara mengolah proses belajar mengajar matematika sehingga matematika dapat dicerna dengan baik oleh siswa yang cenderung kesulitan dalam memahami pelajaran matematika.
Pendekatan contextual teaching and learning (CTL) dianggap penting karena merupakan konsep belajar yang mengarahkan guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Hal ini diharapkan mampu membangkitkan motivasi belajar siswa untuk lebih memahami dan mendalami pelajaran matematika sehingga siswa akan belajar lebih menyenangkan.Dalam pendekatan belajar contextual teaching and learning (CTL), tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya dalam mengelola kelas sebagai tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa .
Hal tersebut yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada Siswa Kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa”.




B.       Permasalahan
1.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dihadapi oleh siswa SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa adalah rendahnya motivasi belajar matematika siswa kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa.
2.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL) motivasi belajar matematika pada siswa kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa dapat mengalami peningkatan?”
3.    Pemecahan Masalah
Masalah tentang rendahnya motivasi belajar matematika siswa kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowaakan diselesaikan melalui penerapan pendekatan contextual teaching and learning (CTL).

C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar matematika pada siswa kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL).


D.      Manfaat Penelitian
1.      Bagi siswa
Melihat siswa agar mampu memahami konsep dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, melatih siswa untuk tanggap dan kritis, meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam belajar matematika.
2.      Bagi guru
Manfaat bagi guru yaitu dapat meningkatkan kreatifitas guru untuk mengelola proses belajar matematika.
3.      Bagi sekolah
Dapat memperkaya inovasi pembelajaran di sekolah tempat penelitian oleh guru,baik yang berkaitan dengan pelajaran lain pada umumnya atau terkhusus untuk pelajaran matematika.
4.      Bagi Peneliti
Sebagai latihan untuk menyusun buah pikiran secara tertulis dan sistematik dalam bentuk karya ilmiah dan sebagai bahan pembanding bagi peneliti lain yang ingin meneliti masalah yang relevan.



BAB II

KERANGKA TEORITIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.      Kerangka Teoritik
1.      Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu kegiatan yang menghasilkan perubahan dalam memberikan gambaran tehadap situasi dan perubahan yang tidak boleh hanya ditandai dengan pertumbuhan atau keadaan yang bersifat sesaat. Meskipun belajar selalu menghasilkan perubahan namun tidak semua perubahan yang terjadi pada manusia merupakan hasil dari suatu proses belajar. Pengertian belajar telah banyak dikemukakan oleh para ahli psikologi pendidikan, mereka mengemukakan pengertian belajar dari sudut pandang yang berbeda.
Gagne (Komalasari, 2010: 2) mendefenisikan bahwa :
“belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia seperti sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuannya yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja)”.

Sunaryo (Komalasari, 2010: 2) mengemukakan bahwa :
“belajar merupakan suatu kegiatan dimana seseorang membuat atau menghasilkan suatu perubahan tingkah laku yang ada pada dirinya dalam pengetahuan, sikap dan keterampilan”.

6
Sudah barang tentu tingkah laku tersebut adalah tingkah laku yang positif, artinya untuk  mencari kesempurnaan hidup.Jika dikaitkan dengan pendapat di atas, maka perubahan yang terjadi melalui belajar tidak hanya mencakup pengetahuan, tetapi juga keterampilan untuk hidup (life skills) bermasyarakat meliputi keterampilan berpikir (memecahkan masalah) dan keterampilan sosial, juga yang tidak kalah pentingnya adalah nilai dan sikap. Jadi jika disimpulkan, belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama dan dengan syarat bahwa perubahan yang terjadi tidak disebabkan oleh adanya kematangan ataupun perubahan sementara karena suatu hal.

2.      Motivasi Belajar
a.         Defenisi Motivasi Belajar
Kata motif sering diartikan sebagai daya dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif adalah sebab yang menjadi dorongan tindakan seseorang. Motif diartikan sebagai daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dimyati dan Mujiono (Haling, 2007: 98) mengemukakan bahwa :
“Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar.Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, tujuan, sasaran dan insentif.Keadaan inilah yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar.

Komponen utama motivasi, yaitu: 1) kebutuhan, 2) perilaku/dorongan dan 3) tujuan. Berdasarkan dengan hal tersebut, maka motivasi belajar merupakan perilaku belajar yang dilakukan oleh si pelajar. Pada diri si pelajar terdapat kekuatan mental penggerak belajar. Kekuatan mental yang berupa keinginan, perhatian, kemauan atau cita-cita itu disebut motivasi belajar.

b.         Jenis dan Sifat Motivasi
1.    Motivasi Berdasarkan Jenisnya
Sebagai kekuatan mental, motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu motivasi primer dan motivasi sekunder. Motivasi primer adalah motivasi didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut pada umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani seseorang. Jenis motivasi ini termasuk memelihara kesehatan; makan, minum, istirahat, mempertahankan diri, keamanan dan membangun. Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Jenis motivasi ini berupa: kebutuhan organisme seperti ingin tahu, memperoleh kecakapan, berprestasi dan motif-motif sosial seperti kasih sayang, kekuasaan dan kebebasan.
2.    Motivasi Berdasarkan Sifatnya
Motivasi dilihat dari sifatnya dibedakan menjadi dua, yaitu : motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang. Motivasi ini terjadi pada saat pelajar menyadari pentingnya belajar dan ia belajar sungguh-sungguh tanpa disuruh orang lain, atau dengan kata lain motivasi ini berkenaan dengan kebutuhan belajar pelajar itu sendiri. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang bersumber dari luar diri seseorang. Motivasi ini adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya. Orang berbuat sesuatu karena dorongan dari luar, misalnya guru memberikan hadiah, pujian, hukuman, memberikan angka tinggi terhadap prestasi yang dicapainya.

c.         Ciri-ciri Seseorang yang Memiliki Motivasi
Menurut Sardiman (2011: 83) motivasi yang ada pada diri seseorang itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.    Tekun menghadapi tugas. Dalam mengerjakan tugas, tidak berhenti sebelum tugas yang diberikan selesai.
2.    Ulet menghadapi kesulitan. Jika menemukan soal yang sulit tidak cepat berputus asa.
3.    Tidak suka terhadap tugas-tugas yang kurang meningkatkan kreativitas.
4.    Senang mencari dan memecahkan masalah.
Apabila seseorang memiliki ciri-ciri diatas berarti orang itu memiliki motivasi yang cukup kuat.

d.        Prinsip-prinsip Motivasi
Motivasi memiliki beberapa prinsip dasar dalam kegiatan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut yaitu:
1.    Pujian lebih efektif dari pada hukuman.
2.    Pemahaman yang jelas terhadap tujuan akan merangsang motivasi.
3.    Semua pelajar mempunyai kebutuhan psikologis tertentu yang harus mendapat kepuasan.
4.    Motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif dari pada motivasi yang dipaksakan dari luar.
5.    Motivasi yang besar erat hubungannya dengan kreativitas pelajar.

e.         Fungsi Motivasi
Dalam proses belajar mengajar motivasi belajar berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan sekaligus sebagai penggerak di dalam diri siswa untuk melakukan aktivitas belajar. Sardiman (Haling, 2007: 100) mengemukakan bahwa fungsi motivasi :
1.    Mendorong manusia untuk berbuat.
2.    Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai.
3.    Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan.

f.          Bentuk dan Cara Menumbuhkan Motivasi dalam Kegiatan Belajar di Sekolah
Menurut Sardiman (2011: 92), ada beberapa bentuk dan cara untuk  menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajardi sekolah yaitu: memberi angka, hadiah, saingan/kompetisi, memberi ulangan, mengetahui hasil, pujian, hukuman, hasrat untuk belajar, minat dan tujuan.


1.    Memberi angka
Memberi angka dalam pembelajaran mempunyai arti penting bagi pelajar.Angka dalam hal ini sebagai sebagai simbol dari nilai kegiatan belajar si pelajar.
2.    Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut.
3.    Saingan/kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat dijadikan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa.Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
4.    Memberi ulangan
Para siswa akan lebih giat belajar jika mengetahui aka nada ulangan. Oleh karena itu, member ulangan ini juga merupakan sarana motivasi.
5.    Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi jika terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
6.    Pujian
Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian.Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif sekaligus merupakan motivasi yang baik.
7.    Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negative tetapi jika diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.
8.    Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan segala kegiatan yang tanpa maksud.
9.    Minat
Motivasi sangat erat hubungannya dengan minat.Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok.
10.     Tujuan
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.

3.      Hakekat Matematika
Istilah mathematics (Inggris), mathematic (Jerman), mathematique (Prancis), matematico (Itali), matematiceski (Rusia), atau mathematick/wiskunde (Belanda) berasal dari perkataan mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan Yunani, mathematike, yang berarti “relatin learning”. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu, sedangkan mathanein yang mengandung arti belajar (berfikir).
Jadi berdasarkan etismologi (Tinggih dalam Suherman. 2001: 18), perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”. Hal ini dimaksudkan bukan berarti ilmu yang diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi dalam matematika lebih menekankan aktivitas dalm dunia rasio (penalaran), sedangkan dalam ilmu lain lebih menekankan hasil observasi atau eksperimen disamping penalaran.
Sementara Johnson dan Rising  (Suherman, 2001: 18) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan symbol dan padat, lebih berupa bahasaa symbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.
Reys, dkk dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola dan hubunngan suatu jalan atau pola berkipir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat. Kemudian Kline dalam bukunya mengatakan pula, bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan social, ekonomi, dan alam (Suherman. 2001: 19).
Matematika adalah disiplin ilmu yang tentang tata cara berpikir dan mengola logika, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Pada matematika diletakkan dasar bagaima mengembangkan cara berpikir dan bertindak melalui aturan yang disebut dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Selanjutnya dasar tersebut dianut dan digunakan oleh bidang studi atau ilmu lain (Suherman. 2001: 253).

4.      Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka waktu yang pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang.
Menurut Nurhadi dalam (Rusman, 2010: 189) mengemukakan bahwa:
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning)merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Selanjutnya Elanie B. Johnson dalam (Rusman, 2010: 189) mengemukakan bahwa: CTL memungkinkan siswa menghubungkan isi mata pelajaran akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna. CTL memperluas konteks pribadi siswa lebih lanjut melalui pemberian pengalaman segar yang akan merangsang otak guna menjalin hubungan baru untuk menemukan makna yang baru.
Pendekatan ini mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna konteks sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang dan itu dapat terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan bermanfaat. Pemanduan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa di dalam pembelajaran kontekstual akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam dimana siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara untuk menyelesaikannya. Siswa mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru dan belum pernah dihadapi, serta memiliki tanggung jawab yang lebih terhadap belajarnya seiring dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuan mereka.
Pemanfaatan pembelajaran kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang di dalamnya siswa akan menjadi peserta aktif bukan hanya pengamat yang pasif dan bertanggung jawab terhadap belajarnya. Penerapan pembelajaran kontekstual akan sangat membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan warga negara.

a.         Karakteristik Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Menurut Sanjaya (2010: 256) menyatakan bahwa terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL, diantaranya:
1.    Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2.    Pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru. Pengetahuan yang baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian memerhatikan detailnya.
3.    Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4.    Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut, artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5.    Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.


b.         Komponen Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Ditjen Dikdasmen (Komalasari, 2010: 11) menetapkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yaitu:
1.    Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa dapat mengonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman.
2.    Menemukan
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri melalui siklus: a) observasi, b) bertanya, c) mengajukan dugaan, d) pengumpulan data, dan e) penyimpulan.
3.    Bertanya
Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang bermula dari bertanya.Bagi guru, bertanya dipandang sebagai kegiatan untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, bertanya merupakan bagian penting dalam melakukan inquiry yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.


4.    Masyarakat belajar
Hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Guru disarankan melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar yang anggotanya heterogen.
5.    Pemodelan
Dalam pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Guru dapat menjadi model, misalnya member contoh cara mengerjakan sesuatu. Tetapi, guru bukanlah satu-satunya model, artinya model dapat dirancang dengan melibatkan siswa, misalnya siswa ditunjuk untuk memberi contoh pada temannya.
6.    Refleksi
Cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang telah dilakukan dalam hal belajar di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima.
7.    Penilaian yang sebenarnya
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Pembelajaran yang benar seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.
Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan semata hasil dan dengan berbagai cara.Tes hanya salah satunya, itulah hakikat penilaian yang sebenarnya. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain.

c.         Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Suatu kelas dikatakan menggunakan pendekatan contextual teaching and learning (CTL), jika menerapkan komponen utama pembelajaran efektif ini dalam pembelajarannya. Untuk melaksanakan hal itu dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.  Penerapan pendekatan contextual teaching and learning (CTL) secara garis besar langkah-langkahnya adalah: 1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya, 2) laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua pokok bahasan, 3) mengembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya, 4) menciptakan masyarakat belajar, 5) menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, 6) melakukan refleksi di akhir pertemuan, dan 7) melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.


B.       Kerangka Pikir
Secara hirarki mempelajari matematika berarti mempelajari ide-ide/konsep-konsep yang abstrak tersusun memerlukan penelaahan struktur-struktur yang merupakan ciri dari matematika.
Keberhasilan siswa belajar matematika sangat dipengaruhi oleh motivasi belajar matematika. Agar dapat menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna sehingga dapat membekali peserta didik dalam menghadapi permasalahan hidup yang dihadapi sekarang maupun yang akan datang maka diperlukan suatu pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang cocok untuk hal diatas adalah pendekatan contextual teaching and learning (CTL), dimana pendekatan CTL  adalah penyajian materi atau masalah yang berkaitan dalam keadaan nyata atau dianggap nyata oleh siswa, bukan masalah abstrak dan keadaan nyata itu haruslah nyata bagi siswa atau keadaan yang ada disekitar siswa. Sehingga siswa dapat dengan mudah menyelesaikan suatu masalah yang diberikan.
Dipilihnya pendekatan contextual teaching and learning (CTL) sebagai pembelajaran yang dianggap mampu menciptakan siswa yang produktif dan inovatif karena sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai seperangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar yang lebih memberdayakan peserta didik. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.
Pendekatan contextual teaching and learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru menghubungkan antara materi pelajaran yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

C.      Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teoritis diatas, maka hipotesis tindakan penilitian ini adalah: “Jika pendekatan contextual teaching and learning (CTL) diterapkan dalam pembelajaran matematika maka motivasi belajar siswa kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa dapat meningkat”.



BAB III

METODE PENELITIAN

A.      Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan beberapa tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

B.       Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian ini berlokasi pada SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa. Sedangkan yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIIB. Pada semester ganjil tahun ajaran 2011/ 2012 dengan jumlah siswa 40 orang, terdiri dari 23 orang laki-laki dan 17 orang perempuan.

C.      Faktor Yang Diselidiki
Untuk memperoleh data pada penelitian ini maka faktor yang akan diselidiki adalah:
1.      Faktor proses yaitu melihat keaktifan dan partisipasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL).
2.      Faktor hasil yaitu peningkatan motivasi belajar matematika.


22
 
D.      Instrumen Penelitian
1.      Lembar observasi, digunakan untuk mengetahui data tentang kehadiran siswa, keaktifan dan perhatian siswa dalam proses belajar mengajar selama tindakan diberikan.
2.      Angket, digunakan untuk mengukur motivasi belajar matematika siswa.
3.      Tes hasil belajar, sebagai data tambahan untuk mengetahui hasil belajar siswa.

E.       Prosedur Penelitian
Prosedur kerja dari penelitan tindakan kelas ini dirancang atas dua siklus.Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Setiap siklus berlangsung selama 4 kali pertemuan, yang terdiri dari 3 kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan (proses belajar mengajar) dan 1 kali pertemuan untuk pemberian tes hasil belajar matematika untuk mengetahui kemampuan siswa (tes siklus).

1.    Kegiatan Siklus I
Dalam siklus I, hal-hal yang dilakukan adalah:
a.    Tahap Perencanaan
Pada tahap ini langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1)      Menelaah kurikulum materi pelajaran matematika SMP kelas VIIIB
2)      Menyusun rencana pembelajaran berbasis kontekstual.
3)      Membuat skenario pembelajaran untuk setiap kali pertemuan.
4)      Membuat pedoman observasi untuk mengamati proses pembelajaran dikelas.
5)      Membuat alat evaluasi.
6)      Membuat kunci jawaban dan kriteria penilaiannya.
7)      Menyusun instrumen angket untuk mendapatkan data mengenai motivasi belajar siswa.

b. Tahap Tindakan
Tindakan yang dilaksanakan secara operasional dijabarkan sebagai berikut:
1)      Mengidentifikasi keadaan siswa sebelum penelitian.
2)      Menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa.
3)      Membahas materi pelajaran dengan menerapkan pendekatan contextual teaching and learning (CTL).
4)      Membagi siswa dalam kelompok belajar.
5)      Memberikan soal yang akan diselesaikan pada proses pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan.
6)      Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok diman diharapkan siswa dapat bekerjasama berdasarkan kelompok masing-masing untuk mengisi format dalam LKS tersebut.
7)      Tiap pertemuan, guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting, baik mengenai kegiatan siswa dalam mengikuti pelajaran, maupun pada saat siswa mengerjakan soal yang diberikan serta tanggapan siswa pada lembar observasi.
8)      Guru meminta setiap untuk mempresentasekan jawaban yang diperolehnya kemudian ditanggapi oleh kelompok lain.
9)      Mengadakan evaluasi.

c.  Tahap Observasi
Tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Data hasil observasi dicatat dalam lembar observasi meliputi kehadiran siswa, keaktifan siswa baik dalam hal bertanya, mengerjakan tugas dan memberikan tanggapan, selanjutnya melaksanakan evaluasi pada akhir siklus I dengan menggunakan tes tertulis serta membagikan angket yang telah disusun untuk mengukur motivasi belajar siswa.

d.   Refleksi
Hasil atau data yang diperoleh dari hasil observasi, angket motivasi belajar siswa dan hasil evaluasi dikumpulkan dan dianalisis. Berdasarkan hasil tersebut dilakukan refleksi yang dimaksudkan untuk melakukan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan tindakan yang dilakukan termasuk kendala-kendala yang dihadapi. Hasil pengkajian dijadikan acuan untuk melaksanakan siklus berikutnya yang merupakan kelanjutan dan penyempurnaan tindakan pada siklus I.
2.      Kegiatan Siklus II
Kegiatan yang dilakukan pada siklus II ini, relatifsama dengan perencanaan dan pelaksanaan dalam siklus II dengan mengadakan perbaikan atau penambahan sesuai dengan kenyataan yang ditemukan di lapangan.
Secara rinci, hal-hal yang perlu dilaksanakan dalam siklus II ini adalah sebagai berikut:

a.   Tahap Perencanaan
1)      Menentukan materi pelajaran dan mengalokasikan waktu.
2)      Membuat rencana pembelajaran berbasis kontekstual.
3)      Menganalisis hasil observasi dan hasil evaluasi siklus I untuk menentukan pelaksanaan tindakan pada siklus II yang lebih efektif.
4)      Membuat pedoman observasi untuk mengamati proses pembelajara siklus II.
5)      Membuat alat evaluasi akhir siklus II.
6)      Membuat kunci jawaban dan kriteria penilaian.

b. Tahap Tindakan
1)      Menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa
2)      Menyajikan materi pelajaran sesuai rencana pembelajaran berbasis kontekstual.
3)      Memberikan soal yang akan diselesaikan pada proses pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan.
4)      Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok diman diharapkan siswa dapat bekerjasama berdasarkan kelompok masing-masing untuk mengisi format dalam LKS tersebut.
5)      Tiap pertemuan, guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting, baik mengenai kegiatan siswa dalam mengikuti pelajaran, maupun pada saat siswa mengerjakan soal yang diberikan serta tanggapan siswa pada lembar observasi.
6)      Guru meminta setiap untuk mempresentasekan jawaban yang diperolehnya kemudian ditanggapi oleh kelompok lain.
7)      Mengadakan evaluasi.

c.  Tahap Observasi
Secara umum tahap observasi ini sama dengan kegiatan observasi pada siklus I.

d. Refleksi
Data yang diperoleh pada tahap observasi selanjutnya dianalisis baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis tersebut, selanjutnya dilakukan refleksi terhadap kegiatan atas tindakan yang telah dilakukan maupun terhadap hasil yang telah dicapai termasuk hambatan dan kendala yang dihadapi.
F.       Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Observasi digunakan untuk melihat sejauh mana keaktifan dan perhatian siswa selama proses belajar mengajar saat pelaksanaan tindakan.
2.    Data mengenai motivasi belajar siswa terhadap pendekatan contextual teaching and learning (CTL) diperoleh dengan angket motivasi belajar. Bentuk alat ukur motivasi belajar ini menggunakan empat kriteria jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu (R), Tidak setuju (TS).
3.    Tes tertulis digunakan sebagai data tambahan hasil belajar matematika siswa.

G.      Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini digunakan dua macam analisis data yaitu analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data hasil observasi di kelas yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif, sedangkan angket yang telah diberikan untuk mengukur motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa dianalisis secara deskriptif kuantitatif.
Nana Sudjana dalam Wahyuni (2008: 33) menyatakan cara pembobotan yang dilakukan berdasarkan arah pernyataan sikap yang ditentukan sebagaimana pada tabel 3. 1.





             Tabel. 3.1 : Pembobotan Skala Likert
Pernyataan Sikap
Sangat setuju
Setuju
Ragu
Tidak Setuju

Positif

Negatif

4

1

3

2

2

3
1

4

Pedoman pengkategorian motivasi belajar yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pengkategorian menurut Wayan Nur Kencana dan Sunarta dalam Wahyuni (2008: 33), yang dinyatakan sebagaimana dalam tabel 3.2.
Tabel. 3.2  Kategori Penilaian Motivasi Belajar
NO
Rentang Skor (%)
Kategori
1
2
3
4
5
0 – 54
55 – 64
65 – 79
80 – 89
 90 – 100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi
Adapun kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori hasil belajar adalah berdasarkan teknik kategorisasi yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Mardia dalam Gafur 2010: 29) adalah sebagai berikut:
                 Tabel 3.3 Tingkat penguasaan dan kategori hasil belajar siswa

NO
Rentang Skor (%)
Kategori
1
2
3
4
5
0 – 54
55 – 64
65 – 79
80 – 89
 90 – 100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi



H.      Indikator Keberhasilan
Indikator yang menunjukkan keberhasilan pelaksanaan penelitian yang dilakukan adalah apabila skor motivasi belajar yang diperoleh siswa setelah dilaksanakan proses belajar mengajar melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL) sudah menunjukkan adanya peningkatan dan dapat dilihat dari hasil observasi siswa selama proses pembelajaran meliputi meningkatnya kehadiran siswa, meningkatnya siswa yang mengajukan pertanyaan dan siswa yang memberikan tanggapan, siswa yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh teman/guru serta siswa yang mengerjakan atau menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar