BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi
dan kebudayaan masyarakat yang mengalami percepatan diberbagai aspek kehidupan
manusia, telah pula menentukan penggunaan matematika yang semakin meluas dan canggih.
Dengan perkembangan tersebut menuntut bangsa ini agar mempersiapkan generasi
baru yang mampu dan sanggup menghadapi tantangan baru yang tentunya hanya
dicapai dengan jalur pendidikan. Dengan demikian siswa perlu memiliki kemampuan
memperoleh, memilih dan mengolah informasi untuk bisa bertahan pada keadaan yang selalu
mengalami perubahan, kemampuan ini membutuhkan pemikiran yang analitis, kritis, sistematis dan mampu bekerjasama secara efektif.
|
1
|
Masalah
yang umumnya timbul pada siswa saat ini adalah masalah kurangnya motivasi belajar
matematika siswa.Umumnya banyak siswa yang beranggapan bahwa pelajaran
matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan, masalah tersebut
berimplikasi pada tidak maksimalnya hasil pembelajaran matematika. Hal ini
tidak lepas dari apa yang dialami oleh siswa SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten
Gowa khususnya kelas VIIIB dalam proses pembelajaran matematika
siswa di sekolah. Rendahnya motivasi belajar matematika mesti dilihat secara
bijak, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal tersebut diantaranya ada
faktor siswa, guru dan faktor bagaimana matematika itu diajarkan.
Terkait
motivasi belajar yang berimplikasi pada rendahnya hasil belajar siswa pada SMP
PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa yang tergolong rendah. Berdasarkan hasil
wawancara penulis dengan guru mata pelajaran matematika kelas VIIIB SMP
PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa, diperoleh data nilai rata-rata matematika
pada ujian akhir semester pada kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa
Kabupaten Gowa tahun ajaran 2010/2011 hanya mencapai nilai rata-rata 55,73 dari
31 siswa, dimana dari nilai rata-rata siswa tersebut belum mencapai kriteria
ketuntasan minimal yaitu 60,00. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya
guru yang kurang mampu mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi dunia
nyata karena metode yang diterapkan oleh guru masih bersifat konvensional,
sehingga siswa kurang termotivasi dalam mempelajari materi yang diberikan oleh
guru. Untuk itu diperlukan solusi agar seluruh siswa merasa menjadi bagian
dalam proses belajar mengajar. Mengingat pentingnya matematika untuk
pendidikan, maka perlu dicari jalan penyelesaian yaitu suatu cara mengolah
proses belajar mengajar matematika sehingga matematika dapat dicerna dengan
baik oleh siswa yang cenderung kesulitan dalam memahami pelajaran matematika.
Pendekatan
contextual teaching and learning
(CTL) dianggap penting karena merupakan konsep belajar yang mengarahkan guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan
memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Hal
ini diharapkan mampu membangkitkan motivasi belajar siswa untuk lebih memahami
dan mendalami pelajaran matematika sehingga siswa akan belajar lebih
menyenangkan.Dalam pendekatan belajar contextual
teaching and learning (CTL), tugas guru adalah membantu siswa mencapai
tujuannya dalam mengelola kelas sebagai tim yang bekerja sama untuk menemukan
sesuatu yang baru bagi siswa .
Hal
tersebut yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian dengan judul
“Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada
Siswa Kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa”.
B.
Permasalahan
1. Identifikasi
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka masalah yang dihadapi oleh siswa SMP PGRI
Sungguminasa Kabupaten Gowa adalah rendahnya motivasi belajar matematika siswa kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten
Gowa.
2. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang dan
identifikasi masalah yang telah dikemukakan maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah melalui
pendekatan contextual teaching and
learning (CTL) motivasi belajar
matematika pada siswa kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa
dapat mengalami peningkatan?”
3. Pemecahan
Masalah
Masalah tentang rendahnya motivasi
belajar matematika siswa kelas VIIIB SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowaakan
diselesaikan melalui penerapan pendekatan contextual
teaching and learning (CTL).
C.
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka penelitian ini bertujuan
untuk meningkatkan motivasi belajar matematika pada siswa kelas VIIIB
SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL).
D.
Manfaat
Penelitian
1. Bagi
siswa
Melihat
siswa agar mampu memahami konsep dan mengaitkannya dengan kehidupan
sehari-hari, melatih siswa untuk tanggap dan kritis, meningkatkan motivasi dan
hasil belajar siswa dalam belajar matematika.
2. Bagi
guru
Manfaat
bagi guru yaitu dapat meningkatkan kreatifitas guru untuk mengelola proses
belajar matematika.
3. Bagi
sekolah
Dapat
memperkaya inovasi pembelajaran di sekolah tempat penelitian oleh guru,baik
yang berkaitan dengan pelajaran lain pada umumnya atau terkhusus untuk
pelajaran matematika.
4.
Bagi Peneliti
Sebagai latihan untuk menyusun buah pikiran secara tertulis dan sistematik dalam bentuk
karya ilmiah dan sebagai bahan pembanding bagi peneliti lain yang ingin meneliti
masalah yang relevan.
BAB II
KERANGKA TEORITIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A.
Kerangka
Teoritik
1.
Pengertian
Belajar
Belajar merupakan suatu kegiatan yang menghasilkan
perubahan dalam memberikan gambaran tehadap situasi dan perubahan yang tidak
boleh hanya ditandai dengan pertumbuhan atau keadaan yang bersifat sesaat.
Meskipun belajar selalu menghasilkan perubahan namun tidak semua perubahan yang
terjadi pada manusia merupakan hasil dari suatu proses belajar. Pengertian belajar telah banyak dikemukakan oleh para
ahli psikologi pendidikan, mereka mengemukakan pengertian belajar dari sudut
pandang yang berbeda.
Gagne
(Komalasari, 2010: 2) mendefenisikan bahwa :
“belajar sebagai suatu proses perubahan
tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia seperti sikap,
minat, atau nilai dan perubahan kemampuannya yakni peningkatan kemampuan untuk
melakukan berbagai jenis performance (kinerja)”.
Sunaryo
(Komalasari, 2010: 2) mengemukakan bahwa :
“belajar merupakan suatu kegiatan dimana
seseorang membuat atau menghasilkan suatu perubahan tingkah laku yang ada pada
dirinya dalam pengetahuan, sikap dan keterampilan”.
|
6
|
2.
Motivasi
Belajar
a.
Defenisi Motivasi
Belajar
Kata
motif sering diartikan sebagai daya dalam diri seseorang untuk melakukan
sesuatu. Motif adalah sebab yang menjadi dorongan tindakan seseorang. Motif
diartikan sebagai daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dimyati
dan Mujiono (Haling, 2007: 98) mengemukakan bahwa :
“Motivasi dipandang sebagai dorongan
mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku
belajar.Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, tujuan, sasaran
dan insentif.Keadaan inilah yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan
mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar.
Komponen
utama motivasi, yaitu: 1) kebutuhan, 2) perilaku/dorongan dan 3) tujuan.
Berdasarkan dengan hal tersebut, maka motivasi belajar merupakan perilaku
belajar yang dilakukan oleh si pelajar. Pada diri si pelajar terdapat kekuatan
mental penggerak belajar. Kekuatan mental yang berupa keinginan, perhatian,
kemauan atau cita-cita itu disebut motivasi belajar.
b.
Jenis dan Sifat
Motivasi
1. Motivasi
Berdasarkan Jenisnya
Sebagai kekuatan
mental, motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu motivasi primer dan
motivasi sekunder. Motivasi primer
adalah motivasi didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut
pada umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani seseorang. Jenis motivasi
ini termasuk memelihara kesehatan; makan, minum, istirahat, mempertahankan
diri, keamanan dan membangun. Motivasi sekunder
adalah motivasi yang dipelajari. Jenis motivasi ini berupa: kebutuhan organisme
seperti ingin tahu, memperoleh kecakapan, berprestasi dan motif-motif sosial
seperti kasih sayang, kekuasaan dan kebebasan.
2. Motivasi
Berdasarkan Sifatnya
Motivasi dilihat dari
sifatnya dibedakan menjadi dua, yaitu : motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang
bersumber dari dalam diri seseorang. Motivasi ini terjadi pada saat pelajar
menyadari pentingnya belajar dan ia belajar sungguh-sungguh tanpa disuruh orang
lain, atau dengan kata lain motivasi ini berkenaan dengan kebutuhan belajar
pelajar itu sendiri. Motivasi ekstrinsik adalah
motivasi yang bersumber dari luar diri seseorang. Motivasi ini adalah dorongan
terhadap perilaku seseorang yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya. Orang
berbuat sesuatu karena dorongan dari luar, misalnya guru memberikan hadiah,
pujian, hukuman, memberikan angka tinggi terhadap prestasi yang dicapainya.
c.
Ciri-ciri Seseorang
yang Memiliki Motivasi
Menurut Sardiman (2011: 83)
motivasi yang ada pada diri seseorang itu memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
1.
Tekun menghadapi
tugas. Dalam mengerjakan tugas, tidak berhenti sebelum tugas yang diberikan
selesai.
2.
Ulet menghadapi
kesulitan. Jika menemukan soal yang sulit tidak cepat berputus asa.
3.
Tidak suka terhadap tugas-tugas yang
kurang meningkatkan kreativitas.
4.
Senang mencari dan memecahkan masalah.
Apabila seseorang
memiliki ciri-ciri diatas berarti orang itu memiliki motivasi yang cukup kuat.
d.
Prinsip-prinsip
Motivasi
Motivasi
memiliki beberapa prinsip dasar dalam kegiatan pembelajaran. Prinsip-prinsip
tersebut yaitu:
1. Pujian
lebih efektif dari pada hukuman.
2. Pemahaman
yang jelas terhadap tujuan akan merangsang motivasi.
3. Semua
pelajar mempunyai kebutuhan psikologis tertentu yang harus mendapat kepuasan.
4. Motivasi
yang berasal dari dalam individu lebih efektif dari pada motivasi yang
dipaksakan dari luar.
5. Motivasi
yang besar erat hubungannya dengan kreativitas pelajar.
e.
Fungsi Motivasi
Dalam proses
belajar mengajar motivasi belajar berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan
sekaligus sebagai penggerak di dalam diri siswa untuk melakukan aktivitas
belajar. Sardiman (Haling, 2007: 100)
mengemukakan bahwa fungsi motivasi :
1. Mendorong
manusia untuk berbuat.
2. Menentukan
arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai.
3. Menyeleksi
perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang
serasi guna mencapai tujuan.
f.
Bentuk dan Cara
Menumbuhkan Motivasi dalam Kegiatan Belajar di Sekolah
Menurut
Sardiman (2011: 92), ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajardi
sekolah yaitu: memberi angka, hadiah, saingan/kompetisi, memberi ulangan,
mengetahui hasil, pujian, hukuman, hasrat untuk belajar, minat dan tujuan.
1. Memberi
angka
Memberi angka dalam
pembelajaran mempunyai arti penting bagi pelajar.Angka dalam hal ini sebagai
sebagai simbol dari nilai kegiatan belajar si pelajar.
2. Hadiah
Hadiah dapat juga
dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian. Karena hadiah untuk
suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang
dan tidak berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut.
3. Saingan/kompetisi
Saingan atau kompetisi
dapat dijadikan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa.Persaingan,
baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa.
4. Memberi
ulangan
Para siswa akan lebih
giat belajar jika mengetahui aka nada ulangan. Oleh karena itu, member ulangan
ini juga merupakan sarana motivasi.
5. Mengetahui
hasil
Dengan mengetahui hasil
pekerjaan, apalagi jika terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat
belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi
pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus
meningkat.
6. Pujian
Apabila ada siswa yang
sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan
pujian.Pujian ini adalah bentuk reinforcement
yang positif sekaligus merupakan motivasi yang baik.
7. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negative tetapi jika
diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.
8. Hasrat
untuk belajar
Hasrat untuk belajar,
berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih
baik bila dibandingkan segala kegiatan yang tanpa maksud.
9. Minat
Motivasi sangat erat
hubungannya dengan minat.Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga
minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok.
10. Tujuan
Rumusan tujuan yang
diakui dan diterima baik oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat
penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna
dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.
3.
Hakekat
Matematika
Istilah
mathematics (Inggris), mathematic (Jerman), mathematique (Prancis), matematico
(Itali), matematiceski (Rusia), atau mathematick/wiskunde (Belanda) berasal
dari perkataan mathematica, yang
mulanya diambil dari perkataan Yunani, mathematike,
yang berarti “relatin learning”.
Perkataan itu mempunyai akar kata mathema
yang berarti pengetahuan atau ilmu, sedangkan mathanein yang mengandung arti belajar (berfikir).
Jadi
berdasarkan etismologi (Tinggih dalam Suherman. 2001: 18), perkataan matematika
berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”. Hal ini dimaksudkan
bukan berarti ilmu yang diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi dalam
matematika lebih menekankan aktivitas dalm dunia rasio (penalaran), sedangkan
dalam ilmu lain lebih menekankan hasil observasi atau eksperimen disamping
penalaran.
Sementara
Johnson dan Rising (Suherman, 2001: 18)
dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola
mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan
istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya
dengan symbol dan padat, lebih berupa bahasaa symbol mengenai ide daripada
mengenai bunyi.
Reys,
dkk dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola dan
hubunngan suatu jalan atau pola berkipir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu
alat. Kemudian Kline dalam bukunya mengatakan pula, bahwa matematika itu
bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri,
tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan
menguasai permasalahan social, ekonomi, dan alam (Suherman. 2001: 19).
Matematika
adalah disiplin ilmu yang tentang tata cara berpikir dan mengola logika, baik
secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Pada matematika diletakkan dasar
bagaima mengembangkan cara berpikir dan bertindak melalui aturan yang disebut
dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Selanjutnya dasar
tersebut dianut dan digunakan oleh bidang studi atau ilmu lain (Suherman. 2001:
253).
4.
Pendekatan
Contextual Teaching and Learning
(CTL)
Belajar
akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan
mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti
berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka waktu yang pendek, tetapi gagal
dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang.
Menurut
Nurhadi dalam (Rusman, 2010: 189) mengemukakan bahwa:
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning)merupakan
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya
dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat.
Selanjutnya
Elanie B. Johnson dalam (Rusman, 2010: 189) mengemukakan bahwa: CTL
memungkinkan siswa menghubungkan isi mata pelajaran akademik dengan konteks
kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna. CTL memperluas konteks pribadi
siswa lebih lanjut melalui pemberian pengalaman segar yang akan merangsang otak
guna menjalin hubungan baru untuk menemukan makna yang baru.
Pendekatan
ini mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna konteks sesuai
dengan situasi nyata lingkungan seseorang dan itu dapat terjadi melalui
pencarian hubungan yang masuk akal dan bermanfaat. Pemanduan materi pelajaran
dengan konteks keseharian siswa di dalam pembelajaran kontekstual akan
menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam dimana siswa kaya akan
pemahaman masalah dan cara untuk menyelesaikannya. Siswa mampu menggunakan
pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru dan belum pernah
dihadapi, serta memiliki tanggung jawab yang lebih terhadap belajarnya seiring
dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuan mereka.
Pemanfaatan
pembelajaran kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang di dalamnya siswa
akan menjadi peserta aktif bukan hanya pengamat yang pasif dan bertanggung
jawab terhadap belajarnya. Penerapan pembelajaran kontekstual akan sangat
membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata
dan memotivasi siswa untuk membentuk hubungan antara pengetahuan dan
aplikasinya dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan warga negara.
a.
Karakteristik
Pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL)
Menurut
Sanjaya (2010: 256) menyatakan bahwa terdapat lima karakteristik penting dalam
proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL, diantaranya:
1. Dalam
CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada,
artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah
dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah
pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran
yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah
pengetahuan baru. Pengetahuan yang baru itu diperoleh dengan cara deduktif,
artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian
memerhatikan detailnya.
3. Pemahaman
pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi
untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang
lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut
baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikkan
pengetahuan dan pengalaman tersebut, artinya pengetahuan dan pengalaman yang
diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak
perubahan perilaku siswa.
5. Melakukan
refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai
umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
b.
Komponen Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Ditjen
Dikdasmen (Komalasari, 2010: 11) menetapkan tujuh komponen utama pembelajaran
kontekstual, yaitu:
1. Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah
proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa
berdasarkan pengalaman. Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar
siswa dapat mengonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman.
2. Menemukan
Pengetahuan dan
keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil
mengingat seperangkat fakta-fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri
melalui siklus: a) observasi, b) bertanya, c) mengajukan dugaan, d) pengumpulan
data, dan e) penyimpulan.
3. Bertanya
Pengetahuan yang
dimiliki oleh seseorang bermula dari bertanya.Bagi guru, bertanya dipandang
sebagai kegiatan untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir
siswa. Bagi siswa, bertanya merupakan bagian penting dalam melakukan inquiry
yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui dan
mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
4. Masyarakat
belajar
Hasil pembelajaran
diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Guru disarankan melaksanakan
pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar yang anggotanya heterogen.
5. Pemodelan
Dalam pembelajaran
keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Guru dapat
menjadi model, misalnya member contoh cara mengerjakan sesuatu. Tetapi, guru
bukanlah satu-satunya model, artinya model dapat dirancang dengan melibatkan
siswa, misalnya siswa ditunjuk untuk memberi contoh pada temannya.
6. Refleksi
Cara berpikir tentang
apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang telah
dilakukan dalam hal belajar di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru
dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan
atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap
kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima.
7. Penilaian
yang sebenarnya
Assessment adalah
proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan
belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru
agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Pembelajaran
yang benar seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu
mempelajari, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di
akhir periode pembelajaran.
Kemajuan belajar
dinilai dari proses, bukan semata hasil dan dengan berbagai cara.Tes hanya
salah satunya, itulah hakikat penilaian yang sebenarnya. Penilai tidak hanya
guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain.
c.
Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Suatu
kelas dikatakan menggunakan pendekatan contextual
teaching and learning (CTL), jika menerapkan komponen utama pembelajaran
efektif ini dalam pembelajarannya. Untuk melaksanakan hal itu dapat diterapkan
dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja dan kelas yang bagaimanapun
keadaannya. Penerapan pendekatan contextual teaching and learning (CTL)
secara garis besar langkah-langkahnya adalah: 1) Kembangkan pemikiran bahwa
anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri
dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya, 2) laksanakan
sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua pokok bahasan, 3) mengembangkan
sikap ingin tahu siswa dengan bertanya, 4) menciptakan masyarakat belajar, 5)
menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, 6) melakukan refleksi di akhir
pertemuan,
dan 7) melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
B.
Kerangka
Pikir
Secara hirarki mempelajari matematika berarti mempelajari ide-ide/konsep-konsep
yang abstrak tersusun memerlukan penelaahan struktur-struktur yang merupakan ciri dari matematika.
Keberhasilan siswa belajar
matematika sangat dipengaruhi oleh motivasi
belajar matematika. Agar dapat
menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna sehingga dapat membekali peserta
didik dalam menghadapi permasalahan hidup yang dihadapi sekarang maupun yang
akan datang maka diperlukan suatu pendekatan pembelajaran. Pendekatan
pembelajaran yang cocok untuk hal diatas adalah pendekatan contextual teaching and learning (CTL), dimana pendekatan CTL adalah penyajian
materi atau masalah yang berkaitan dalam keadaan nyata atau dianggap nyata oleh
siswa, bukan masalah abstrak dan keadaan nyata itu haruslah nyata bagi siswa
atau keadaan yang ada disekitar siswa. Sehingga siswa dapat dengan mudah menyelesaikan
suatu masalah yang diberikan.
Dipilihnya
pendekatan contextual teaching and learning
(CTL) sebagai pembelajaran yang dianggap mampu menciptakan siswa yang
produktif dan inovatif karena sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh
pandangan bahwa pengetahuan sebagai seperangkat fakta-fakta yang harus dihafal.
Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian
ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah
strategi belajar yang lebih memberdayakan peserta didik. Sebuah strategi
belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah
strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka
sendiri.
Pendekatan contextual teaching and learning (CTL) adalah konsep belajar yang
membantu guru menghubungkan antara materi pelajaran yang diajarkannya dengan situasi
dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri sebagai bekal
untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sebagai anggota keluarga dan
masyarakat.
C.
Hipotesis
Tindakan
Berdasarkan kajian teoritis diatas, maka hipotesis
tindakan penilitian ini adalah: “Jika pendekatan contextual teaching and learning (CTL) diterapkan dalam pembelajaran matematika maka motivasi belajar siswa kelas VIIIB
SMP PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa dapat
meningkat”.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Penelitian
ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom
Action Research) dengan beberapa tahap yaitu perencanaan, tindakan,
observasi dan refleksi.
B.
Lokasi
dan Subjek Penelitian
Penelitian
ini berlokasi pada SMP PGRI Sungguminasa
Kabupaten Gowa. Sedangkan yang
menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas
VIIIB.
Pada semester ganjil tahun ajaran 2011/ 2012
dengan jumlah siswa 40 orang, terdiri dari 23 orang laki-laki dan 17 orang perempuan.
C.
Faktor
Yang Diselidiki
Untuk
memperoleh data pada penelitian ini maka faktor yang akan diselidiki adalah:
1.
Faktor proses yaitu
melihat keaktifan dan partisipasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran
melalui pendekatan contextual teaching
and learning (CTL).
2. Faktor
hasil yaitu peningkatan motivasi belajar matematika.
|
22
|
D.
Instrumen
Penelitian
1. Lembar
observasi, digunakan untuk mengetahui data tentang kehadiran siswa, keaktifan
dan perhatian siswa dalam proses belajar mengajar selama tindakan diberikan.
2. Angket,
digunakan untuk mengukur motivasi belajar matematika siswa.
3. Tes hasil belajar, sebagai data tambahan untuk mengetahui
hasil
belajar siswa.
E.
Prosedur
Penelitian
Prosedur kerja dari
penelitan tindakan kelas ini dirancang atas dua siklus.Tiap siklus dilaksanakan
sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Setiap siklus berlangsung selama 4
kali pertemuan, yang terdiri dari 3 kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan
(proses belajar mengajar) dan 1 kali pertemuan untuk pemberian tes hasil
belajar matematika untuk mengetahui kemampuan siswa (tes siklus).
1.
Kegiatan Siklus I
Dalam siklus I,
hal-hal yang dilakukan adalah:
a.
Tahap Perencanaan
Pada tahap ini
langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1)
Menelaah kurikulum materi
pelajaran matematika SMP kelas VIIIB
2)
Menyusun rencana pembelajaran berbasis
kontekstual.
3)
Membuat skenario pembelajaran
untuk setiap kali pertemuan.
4)
Membuat pedoman observasi untuk
mengamati proses pembelajaran dikelas.
5)
Membuat alat evaluasi.
6)
Membuat kunci jawaban dan
kriteria penilaiannya.
7)
Menyusun instrumen angket untuk
mendapatkan data mengenai motivasi belajar siswa.
b. Tahap Tindakan
Tindakan yang dilaksanakan secara
operasional dijabarkan sebagai berikut:
1)
Mengidentifikasi keadaan siswa
sebelum penelitian.
2)
Menyampaikan tujuan pembelajaran
kepada siswa.
3)
Membahas materi pelajaran dengan
menerapkan pendekatan contextual teaching
and learning (CTL).
4)
Membagi siswa dalam kelompok
belajar.
5)
Memberikan soal yang akan
diselesaikan pada proses pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan.
6)
Guru membagikan LKS kepada setiap
kelompok diman diharapkan siswa dapat bekerjasama berdasarkan kelompok
masing-masing untuk mengisi format dalam LKS tersebut.
7)
Tiap pertemuan, guru mencatat
semua kejadian yang dianggap penting, baik mengenai kegiatan siswa dalam
mengikuti pelajaran, maupun pada saat siswa mengerjakan soal yang diberikan
serta tanggapan siswa pada lembar observasi.
8)
Guru meminta setiap untuk mempresentasekan
jawaban yang diperolehnya kemudian ditanggapi oleh kelompok lain.
9)
Mengadakan evaluasi.
c. Tahap Observasi
Tahap
ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan pada saat kegiatan
pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Data hasil
observasi dicatat dalam lembar observasi meliputi kehadiran siswa, keaktifan siswa baik dalam hal bertanya, mengerjakan tugas dan memberikan
tanggapan, selanjutnya melaksanakan evaluasi pada akhir siklus I dengan menggunakan tes tertulis serta
membagikan angket yang telah disusun untuk mengukur motivasi belajar siswa.
d.
Refleksi
Hasil atau data
yang diperoleh dari hasil observasi, angket motivasi belajar siswa dan hasil
evaluasi dikumpulkan dan dianalisis. Berdasarkan hasil tersebut dilakukan
refleksi yang dimaksudkan untuk melakukan pengkajian terhadap keberhasilan atau
kegagalan tindakan yang dilakukan termasuk kendala-kendala yang dihadapi. Hasil
pengkajian dijadikan acuan untuk melaksanakan siklus berikutnya yang merupakan
kelanjutan dan penyempurnaan tindakan pada siklus I.
2.
Kegiatan Siklus II
Kegiatan yang
dilakukan pada siklus II ini, relatifsama dengan perencanaan dan pelaksanaan
dalam siklus II dengan mengadakan perbaikan atau penambahan sesuai dengan
kenyataan yang ditemukan di lapangan.
Secara rinci,
hal-hal yang perlu dilaksanakan dalam siklus II ini adalah sebagai berikut:
a. Tahap Perencanaan
1)
Menentukan materi pelajaran dan
mengalokasikan waktu.
2)
Membuat rencana pembelajaran
berbasis kontekstual.
3)
Menganalisis hasil observasi dan
hasil evaluasi siklus I untuk menentukan pelaksanaan tindakan pada siklus II
yang lebih efektif.
4)
Membuat pedoman observasi untuk
mengamati proses pembelajara siklus II.
5)
Membuat alat evaluasi akhir
siklus II.
6)
Membuat kunci jawaban dan kriteria
penilaian.
b. Tahap Tindakan
1)
Menyampaikan tujuan pembelajaran
kepada siswa
2)
Menyajikan materi pelajaran
sesuai rencana pembelajaran berbasis kontekstual.
3)
Memberikan soal yang akan
diselesaikan pada proses pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan.
4)
Guru membagikan LKS kepada setiap
kelompok diman diharapkan siswa dapat bekerjasama berdasarkan kelompok
masing-masing untuk mengisi format dalam LKS tersebut.
5)
Tiap pertemuan, guru mencatat
semua kejadian yang dianggap penting, baik mengenai kegiatan siswa dalam
mengikuti pelajaran, maupun pada saat siswa mengerjakan soal yang diberikan
serta tanggapan siswa pada lembar observasi.
6)
Guru meminta setiap untuk
mempresentasekan jawaban yang diperolehnya kemudian ditanggapi oleh kelompok
lain.
7)
Mengadakan evaluasi.
c. Tahap Observasi
Secara umum tahap
observasi ini sama dengan kegiatan observasi pada siklus I.
d. Refleksi
Data yang diperoleh pada tahap
observasi selanjutnya dianalisis baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, selanjutnya dilakukan refleksi terhadap
kegiatan atas tindakan yang telah dilakukan maupun terhadap hasil yang telah
dicapai termasuk hambatan dan kendala yang dihadapi.
F.
Teknik
Pengumpulan Data
Adapun
teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
digunakan untuk melihat sejauh mana keaktifan dan perhatian siswa selama proses
belajar mengajar saat pelaksanaan tindakan.
2.
Data mengenai
motivasi belajar siswa terhadap pendekatan contextual teaching and learning (CTL) diperoleh dengan angket motivasi belajar.
Bentuk alat ukur motivasi belajar ini menggunakan
empat kriteria jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S),
Ragu (R), Tidak setuju (TS).
3. Tes
tertulis digunakan sebagai data tambahan hasil belajar matematika siswa.
G.
Teknik
Analisis Data
Pada penelitian ini digunakan dua
macam analisis data yaitu analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data
hasil observasi di kelas yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif,
sedangkan angket yang telah diberikan untuk mengukur motivasi
belajar siswa dan hasil belajar siswa dianalisis
secara deskriptif kuantitatif.
Nana Sudjana
dalam Wahyuni (2008: 33) menyatakan cara
pembobotan yang dilakukan berdasarkan arah pernyataan sikap yang ditentukan
sebagaimana pada tabel 3. 1.
Tabel. 3.1 :
Pembobotan Skala Likert
|
Pernyataan Sikap
|
Sangat setuju
|
Setuju
|
Ragu
|
Tidak Setuju
|
|
Positif
Negatif
|
4
1
|
3
2
|
2
3
|
1
4
|
Pedoman
pengkategorian motivasi belajar yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
pengkategorian menurut Wayan Nur Kencana dan Sunarta dalam Wahyuni (2008: 33), yang dinyatakan sebagaimana dalam tabel 3.2.
Tabel. 3.2
Kategori Penilaian Motivasi Belajar
|
NO
|
Rentang Skor (%)
|
Kategori
|
|
1
2
3
4
5
|
0 – 54
55 – 64
65 – 79
80 – 89
90 – 100
|
Sangat
rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat
tinggi
|
Adapun kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori hasil
belajar adalah berdasarkan teknik kategorisasi yang ditetapkan oleh Departemen
Pendidikan Nasional (Mardia
dalam Gafur 2010:
29)
adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3
Tingkat penguasaan dan kategori hasil belajar siswa
|
NO
|
Rentang Skor (%)
|
Kategori
|
|
1
2
3
4
5
|
0 – 54
55 – 64
65 – 79
80 – 89
90 – 100
|
Sangat
rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat
tinggi
|
H.
Indikator
Keberhasilan
Indikator yang menunjukkan keberhasilan pelaksanaan
penelitian yang dilakukan adalah apabila skor motivasi belajar yang diperoleh siswa setelah
dilaksanakan proses belajar mengajar melalui pendekatan
contextual teaching and learning (CTL)
sudah menunjukkan adanya peningkatan dan dapat dilihat dari hasil observasi
siswa selama proses pembelajaran meliputi meningkatnya kehadiran siswa,
meningkatnya siswa yang mengajukan pertanyaan dan siswa yang memberikan
tanggapan, siswa yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh teman/guru serta
siswa yang mengerjakan atau menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar