Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik untuk Siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Peningkatan sumber daya manusia berkaitan erat dengan pendidikan formal. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan seperti perubahan kurikulum, pemantapan proses belajar mengajar, penyempurnaan sistem penilaian, penataran guru-guru, serta usaha-usaha lain yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan. Namun yang terjadi di lapangan adalah pendidikan tidak memberikan hasil sesuai dengan harapan. Sektor pendidikan mengalami keterpurukan yang ditandai oleh adanya kenyataan bahwa pada umumnya mutu pendidikan di negara kita sangat rendah. Rendahnya mutu sekolah tampak dari rendahnya mutu lulusan di hampir semua jenjang pendidikan formal.
Dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak yang berkompeten dalam bidang pendidikan. Upaya-upaya tersebut hampir disemua komponen pendidikan seperti penyempurnaan kurikulum pendidikan, peningkatan kemampuan guru, pengadaan media belajar mengajar, penataan organisasi, dan manajemen pendidikan serta usaha-usaha lain yang berkenaan dengan peningkatan mutu dan kualitas pendidikan.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam meningkatkan kemampuan intelektual siswa. Dengan belajar matematika, maka siswa dapat berpikir kritis, terampil berhitung, memiliki kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep dasar matematika pada pelajaran lain maupun pada matematika itu sendiri dan dalam kehidupannya sehari-hari.
Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Meskipun demikian, matematika dapat disajikan dengan memperhatikan kondisi lingkungan belajar siswa dan sesuai lingkungan sosial dan budaya di mana siswa tumbuh dan berkembang. Dalam pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat mengaplikasikan konsep. Akibatnya, siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep matematika, dan siswa mengalami kesulitan  untuk mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari adalah pembelajaran matematika realistik.
Pembelajaran matematika realistik merupakan salah satu cara menunjukkan kepada siswa bagaimana hubungan antara matematika dengan kehidupan nyata yang dipelajari siswa, karena pembelajaran matematika realistik dirancang berawal dari pemecahan masalah yang berada di sekitar siswa. Dengan demikian, diharapkan pembelajaran matematika realistik dalam pembelajaran siswa akan lebih tertarik dan termotivasi dalam kegiatan proses pembelajaran karena materi yang dipelajari tidak abstrak bagi mereka. Jadi mereka mengetahui kegunaan mempelajari materi tersebut.
Beberapa penelitian pendahuluan di beberapa negara menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran matematika  realistik, sekurang-kurangnya dapat membuat:
*      Matematika lebih menarik, relevan, dan bermakna, tidak terlalu formal dan tidak terlalu abstrak
*      Mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa
*      Menekankan belajar matematika pada “learning by doing
*      Memfasilitasi penyelesaian masalah matematika dengan tanpa menggunakan penyelesaian (algoritma) yang baku
*      Menggunakan konteks sebagai titik awal pembelajaran matematika (Suherman, 2003:143)
Becker dan Selter (Suherman, 2003:143) menjelaskan bahwa ada suatu hasil yang menjanjikan dari penelitian kuantitatif dan kualitatif yang telah ditunjukkan bahwa siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pembelajaran matematika  realistik mempunyai skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan tradisional dalam hal keterampilan berhitung, lebih khusus lagi dalam aplikasi.
Salah satu materi yang diajarkan di SMP Kelas VII adalah materi “Bilangan Pecahan”. Materi ini sering muncul dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, dengan menerapkan pembelajaran matematika realistik dalam pembelajaran matematika di sekolah diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi tersebut. Untuk melaksanakan pembelajaran matematika realistik, diperlukan perangkat yang sesuai  dengan pembelajaran tersebut. Pembelajaran matematika realistik masih relatif baru di Indonesia sehingga perangkat pembelajaran yang mendukung pelaksanaannya di kelas masih sangat terbatas.
Atas uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian Pengembangan dengan judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik untuk Siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar”.


B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan dan hasil pengembangan perangkat pembelajaran matematika realistik untuk siswa kelas VII SMP, yang Valid, Praktis dan Efektif?
C.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan perangkat pembelajaran matematika realistik, untuk siswa kelas VII SMP yang Valid, Praktis dan Efektif.  Perangkat pembelajaran tersebut adalah:
    1. Buku Siswa (BS)
    2. Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
    3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
4.      Tes Hasil Belajar (THB)
D.      Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagi Siswa, diharapkan dapat meningkatkan semangat dan motivasi dalam belajar matematika sehingga dapat mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari melalui perangkat pembelajaran matematika realistik yang dikembangkan ini
2.      Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan yang bermaksud melakukan inovasi pembelajaran matematika di kelas untuk mengembangkan kemampuan keprofesionalannya dalam mengajar, khususnya dalam mengajarkan matematika dengan model pembelajaran matematika realistik
3.      Bagi sekolah, sebagai bahan masukan bagi sekolah dalam usaha memperbaiki sistem pembelajaran yang ada di sekolah khususnya di sekolah tempat penelitian berlangsung.
4.      Perangkat pembelajaran berupa Buku Siswa (BS), Lembar Kerja Siswa (LKS) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Tes hasil belajar (THB) yang telah diperoleh dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai suatu contoh bagi guru dalam mengembangkan Buku Siswa (BS), Lembar Kerja Siswa (LKS), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Tes hasil belajar (THB),  pada materi atau pokok bahasan yang lain.



BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Pengertian Belajar
Belajar pada hakikatnya adalah suatu aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku (behavioral change) pada diri orang yang belajar. Seseorang dikatakan sudah belajar apabila pada dirinya telah terjadi perubahan tertentu, misalnya dari tidak dapat mengoperasikan komputer menjadi dapat mengoperasikan komputer. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa tidak setiap perubahan disebut hasil belajar. Jika seorang bayi dapat duduk padahal sebelumnya tidak dapat, lalu bayi bisa merangkak dan berdiri, maka perubahan yang terakhir ini bukan karena belajar tetapi adanya kematangan (naturation).
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.
Menurut Sahabuddin (dalam Haling, 2007:2) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman.
Menurut Morgan (dalam Sagala, 2008:13) menyatakan bahwa belajar adalah  setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Menurut pandangan B. F. Skinner (dalam Sagala 2008:14) belajar adalah sutu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Menurut Pandangan Robert M. Gagne (dalam Sagala 2008:17) belajar adalah kegiatan yang kompleks, dan hasil belajar berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebabkan: (1) stimulus yang berasal dari lingkungan; dan (2) proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar. Menurut Gagne (dalam Sagala 2008:17) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar secara terus-menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja.
Menurut Gredler (dalam Haling, 2007:2), belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap.
Menurut Hamalik (dalam Haling, 2007:2), belajar adalah suatu perkembangan dari seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Belajar itu merupakan perubahan-perubahan bersifat psikis.
Selanjutnya pengertian belajar dikemukakan oleh Slameto (dalam Haling 2007:2) menyatakan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Selanjutnya Fontana (dalam Suherman, 2003:8) belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dari berbagai pandangan ahli yang mencoba memberikan definisi belajar dapat diambil kesimpulan bahwa belajar selalu melibatkan tiga hal pokok yaitu: adanya perubahan tingkah laku, sifat perubahannya relatif permanen serta perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan ataupun perubahan-perubahan kondisi fisik yang sifatnya sementara.
B.    Matematika Sekolah
Pembelajaran matematika tidak hanya bertumpu pada pencapaian tujuan kognitif, tetapi juga meningkatkan pencapaian tujuan afektif dan psikomotor. Menurut Suherman (2003:55) bahwa matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di pendidikan dasar serta di pendidikan menengah atau matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah. Matematika sebagai ilmu dengan matematika sekolah mempunyai perbedaan dalam hal penyajian, pola pikir, keterbatasan semesta dan tingkat keabstrakan yang menitikberatkan pada penyesuaian dengan tingkat perkembangan intelektual siswa.
Fungsi mata pelajaran matematika yang dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah adalah sebagai alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan  (Suherman, 2003:55):
a.       Matematika sebagai Alat
Matematika sebagai alat berfungsi untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari dan dalam dunia kerja. Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi.
b.      Matematika sebagai Pola Pikir
Matematika berfungsi sebagai pola pikir yaitu pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran hubungan di antara pengertian-pengertian itu. Melalui pengamatan terhadap contoh, diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep, kemudian dilatih untuk membuat perkiraan, terkaan atau kecenderungan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang dikembangkan melalui contoh-contoh khusus (generalisasi).
c.       Matematika sebagai Ilmu atau Pengetahuan
Matematika sebagai ilmu atau pengetahuan, dalam hal ini, seorang guru harus mampu menunjukkan bahwa matematika selalu mencari kebenaran dan bersedia memperbaiki kebenaran yang sementara diterima, bila ditemukan kesempatan untuk mencoba mengembangkan penemuan-penemuan sebelumnya selama mengikuti pola pikir yang sah.
Berdasarkan ketiga fungsi matematika sekolah yang telah dijelaskan di atas, seorang guru berfungsi dan berperan sebagai motivator dan pembimbing siswa dalam pembelajaran di sekolah. Tujuan umum diberikannya matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang dikemukakan dalam Garis-Garis Besar. Program Pengajaran (GBPP) matematika (Suherman, 2003:58), meliputi dua hal yaitu:
a.      Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien.
b.     Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan
C.    Pembelajaran Matematika Realistik
Pembelajaran matematika realistik atau Realistic Mathematics Education (RME) merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika dan diketahui sebagai pendekatan  yang  telah berhasil di Nedherlands.
Pada awalnya istilah realistik oleh Freudenthal (Suharta, 2001:2) dimaksudkan sebagai ide untuk mengembangkan matematika sebagai aktivitas manusia. Dalam hal ini yang dimaksud dengan aktivitas manusia meliputi mencari masalah, mengorganisasikan materi yang relevan dengan masalah dan pemecahannya, membuat model matematika terhadap masalah yang dapat diselesaikan, penyelesaian masalah, mengorganisasikan ide-ide baru dan pemahaman baru yang sesuai dengan konteks.
Menurut Gravemeijer (1994:91), ada tiga prinsip dalam mendesain pembelajaran matematika realistik, yaitu:
1.      Guided Reinvention  and Progressive Mathematizing
Berdasarkan prinsip reinvention, para siswa semestinya diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama dengan proses pada saat konsep-konsep matematika ditemukan. Sejarah matematika dapat dijadikan sumber inspirasi dalam merancang materi pelajaran. Selain itu, prinsip reinvention dapat pula dikembangkan berdasarkan prosedur penyelesaian informal. Dalam hal ini, strategi informal dapat dipahami untuk mengantisipasi prosedur penyelesaian formal. Untuk keperluan tersebut, maka perlu dirumuskan masalah kontekstual yang dapat mengundang beragam prosedur penyelesaian yang mengindikasikan rute belajar melalui proses matematisasi progresif.
2.      Didactical Phenomenology
      Prinsip kedua ini menekankan pada pentingnya masalah kontekstual yang diambil dari fenomena dunia nyata untuk memperkenalkan konsep-konsep matematika kepada siswa. Masalah-masalah ini dipilih dengan mempertimbangkan dua aspek yaitu kecocokan aplikasi  masalah kontekstual dengan materi dalam pembelajaran dan kecocokan dampak dalam proses penemuan kembali bentuk dan model matematika dari masalah kontekstual tersebut.
3.      Self-Developed Models
Pada prinsip ini, model yang dikembangkan sendiri oleh siswa berperan menjembatani perbedaan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Pada mulanya, model ini merupakan model yang sudah dikenal siswa. Melalui proses generalisasi dan formalisasi, model itu menjadi sesuatu yang berdiri sendiri dan tidak tergantung pada situasi asalnya. Hal ini, sangat mungkin digunakan sebagai model untuk penalaran matematika. Siswa belajar dari tahap situasi nyata, tahap pemodelan (referensi), generalisasi dan tahap formal matematika. Menurut Soedjadi (2001:4), bahwa dalam pembelajaran matematika realistik, diharapkan terjadi urutan pembelajaran yaitu situasi nyata ® model dari situasi nyata itu ® model ke arah formal ® pengetahuan formal.     
Berdasarkan implementasi ketiga prinsip tersebut melahirkan lima karakteristik dasar pembelajaran matematika realistik menurut de Lange (Asmin, 2001), yaitu: (1) the use of context , (2) the use of models, bridging by vertical instrument, (3) student contribution, (4) interactivity and (5) intertwining. Penjelasan dari kelima karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:
a.      Penggunaan Konteks (the use of context)
Pembelajaran diawali dengan menggunakan masalah kontekstual. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai awal pembelajaran harus masalah yang dikenali oleh siswa.


b.      Penggunaan Model (the use of models, bridging by vertical instrument)
Dalam mengerjakan masalah kontekstual, siswa menggunakan model-model yang mereka kembangkan sendiri sebagai jembatan antara level pemahaman yang satu ke level pemahaman yang lain.
c.      Penggunaan Kontribusi Siswa (student contributions)
Kontribusi yang besar dalam proses pembelajaran diharapkan datang dari konstruksi dan produksi siswa sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal ke arah yang lebih formal.
d.     Interaktivitas (interactivity)
Terdapat interaksi antara siswa yang satu dengan siswa yang lain dan juga terdapat interaksi antara siswa dengan guru. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkomunikasikan ide-ide yang berupa proses dan hasil konstruksi mereka sendiri melalui pembelajaran yang interaktif baik dalam diskusi kelompok maupun dalam diskusi kelas.
e.      Terdapat Keterkaitan (intertwining)
Matematika merupakan ilmu yang terstruktur. Oleh karena itu, keterkaitan dan keterintegrasian antartopik (unit pelajaran) harus dieksplorasi untuk mendukung terjadinya proses belajar mengajar yang lebih bermakna.
Berdasarkan prinsip dan karakteristik realistik serta dengan memperhatikan pendapat yang telah dikemukakan diatas, maka dapatlah disusun suatu langkah-langkah pembelajaran matematika realistik yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:


Langkah 1 : Memahami masalah kontekstual
Siswa diberi masalah/soal kontekstual, guru meminta siswa memahami masalah tersebut secara individual. Guru memberi kesempatan kepada siswa menanyakan masalah/soal yang belum dipahami, dan guru hanya memberikan petunjuk seperlunya terhadap bagian-bagian situasi dan kondisi masalah/soal yang belum dipahami siswa.
Langkah 2 : Menyelesaikan masalah
Siswa mendeskripsikan masalah kontekstual, melakukan interpretasi aspek matematika yang ada pada masalah yang dimaksud, dan memikirkan strategi pemecahan masalah. Selanjutnya siswa bekerja menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya, sehingga dimungkinkan adanya perbedaan penyelesaian siswa yang satu dengan yang lainnya. Guru mengamati, memotivasi, dan memberi bimbingan terbatas, sehingga siswa dapat memperoleh penyelesaian masalah-masalah tersebut.
Langkah 3 : Membandingkan jawaban
Guru meminta siswa membentuk kelompok secara berpasangan dengan teman sebangkunya, bekerja sama mendiskusikan penyelesaian masalah-masalah yang telah diselesaikan secara individu (negosiasi, membandingkan, dan berdiskusi). Guru mengamati kegiatan yang dilakukan siswa, dan memberi bantuan jika dibutuhkan.
Langkah 4 : Menyimpulkan Dari hasil diskusi kelas
guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan suatu rumusan konsep/prinsip dari topik yang dipelajari.
Pengimplementasian pembelajaran matematika realistik di kelas harus didukung oleh sebuah perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kontribusi kondisi bangsa Indonesia. Menurut Suharta (Asmin, 2001), bahwa implementasi pembelajaran matematika realistik di kelas meliputi tiga fase yaitu:
1)      Fase Pengenalan
Guru memperkenalkan masalah realistik dalam matematika kepada seluruh siswa serta membantu untuk memberi pemahaman (setting) masalah.
2)      Fase Eksplorasi
Siswa dianjurkan bekerja secara individual, berpasangan atau dalam kelompok kecil. Pada saat siswa sedang bekerja, mereka mencoba membuat model situasi masalah, berbagi pengalaman atau ide, mendiskusikan pola yang dibentuk saat itu.  Pada fase ini, peranan guru adalah memberikan bantuan seperlunya kepada siswa yang memerlukan bantuan. 
3)      Fase Meringkas
Guru dapat mengawali pekerjaan lanjutan setelah siswa menunjukkan kemajuan dalam pemecahan masalah. Peranan siswa dalam fase ini sangat penting seperti: mengajukan pertanyaan kepada siswa yang lain, bernegosiasi, memberikan alasan, memperbaiki strategi dan membuat keterkaitan.  Hasil dari diskusi, siswa diharapkan menemukan konsep-konsep utama atau pengetahuan matematika formal sesuai dengan tujuan materi.  Dalam fase ini, guru juga dapat membuat keputusan pengajaran yang memungkinkan semua siswa dapat mengaplikasikan konsep atau pengetahuan matematika formal.
Pendekatan matematika realistik memiliki kelebihan dan kelemahan dapat dilihat sebagai berikut.
Kelebihan  Pembelajaran Matematika Realistik
1.        Menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi dalam memecahkan masalah
2.        Menjadikan siswa aktif dan kreatif
3.        Menumbuhkan rasa senang
4.        Memupuk  kerjasama dalam kelompok
5.        Melatih siswa untuk terbiasa berpikir dan mengemukakan pendapat
6.        Pembelajaran Matematika Realistik memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa
Kelemahan Pembelajaran Matematika Realistik
1.        guru kesulitan memberikan bimbingan atau petunjuk bagi siswa yang kesulitan jika kelas cukup besar
2.        membutuhkan waktu yang banyak
3.        Upaya mengimplementasikan membutuhkan perubahan pandangan yang sangat mendasar mengenai berbagai hal yang tidak mudah untuk dipraktekkan, misalnya mengenai siswa, guru dan peranan soal kontekstual.
4.        Pencarian soal‑soal kontekstual yang memenuhi syarat‑syarat yang dituntut pembelajaran matematika realistik tidak selalu mudah untuk setiap topik matematika yang perlu dipelajari siswa, terlebih lagi karena soal‑soal tersebut harus bisa diselesaikan dengan bermacam‑macam cara.
D.    Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran, karena tanpa tersedianya perangkat pembelajaran maka proses pembelajaran yang dilakukan tidak dapat berjalan dengan baik. Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan sumber belajar yang memungkinkan siswa dan guru melakukan kegiatan pembelajaran. Perangkat pembelajaran mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu, perangkat pembelajaran mutlak diperlukan oleh seorang guru dalam mengelola pembelajaran (Usman, 2001:24).
Dalam implementasinya, perangkat pembelajaran terdiri dari berbagai komponen tergantung kepada kebutuhan masing-masing orang (guru). Suatu perangkat pembelajaran minimal memiliki tiga komponen pokok sebagai berikut (Anonim, 2005:5):
1)    Buku Siswa (BS)
Buku Siswa merupakan buku pegangan siswa yang memuat masalah-masalah kontekstual yang dipelajari dalam pembelajaran dan dilengkapi dengan soal-soal latihan. Buku siswa disusun dengan mengacu pada kurikulum matematika yang berlaku sesuai dengan jenjang pendidikan. Materi dari buku siswa dapat diadaptasi dari beberapa buku acuan. Pengembangan buku siswa mempertimbangkan model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian. Materi pada buku siswa dirumuskan dalam bentuk permasalahan yang nantinya dipecahkan oleh siswa melalui bimbingan guru. Buku siswa ini diupayakan dapat memberi kemudahan pada guru untuk menerapkan pembelajaran PMR, dan juga memberi kemudahan bagi siswa dalam menemukan konsep-konsep dan gagasan-gagasan matematika.
2)    Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Lembar Kegiatan Siswa merupakan lembaran kerja bagi siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang diberikan guru pada setiap pertemuan. LKS hanya memuat masalah-masalah kontekstual dan tempat untuk menyelesaikan setiap masalah, tidak memuat soal-soal latihan. Keberadaan LKS ini dimaksudkan untuk memudahkan guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan yang ada di buku siswa. LKS tersebut, dirancang untuk memberikan kemudahan pada guru dalam mengakomodir tingkat kemampuan siswa dan diharapkan dapat mengembangkan serta memperkuat konsep-konsep yang disajikan. LKS juga memberi kemudahan bagi guru untuk mengelola pembelajaran matematika realistik.
3)    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan rancangan skenario pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa di dalam kelas. Dengan demikian, penyusunan RPP dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan kepada guru tentang bagaimana siswa diajar dan bagaimana siswa belajar dengan menggunakan pendekatan PMR. Dalam RPP ini, disajikan informasi‑informasi penting lain ya­ng terkait dengan pembelajaran tersebut, yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir, serta sumber pembelajaran dan penilaian hasil belajar.
4)    Tes Hasil Belajar
Perangkat pembelajaran juga dilengkapi dengan alat evaluasi berupa tes hasil belajar yang dapat digunakan untuk  mengukur ketuntasan belajar siswa  pada materi pelajaran.
E.    Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Penelitian pengembangan atau yang lebih dikenal dengan nama Research and Development merupakan salah satu paradigma penelitian yang tergolong baru di Indonesia. Menurut Subaer (2004:1), Research and Development adalah kerja kreatif yang dilakukan secara sistematis untuk menambah khasanah pengetahuan dan memanfaatkannya untuk merancang berbagai aplikasi yang meliputi tiga kegiatan utama yaitu: penelitian dasar, penelitian terapan, dan eksperimen pengembangan.
Borg dkk. (Upu, 2004:1) mengajukan 10 langkah dalam pelaksanaan Research and Development yaitu: (1) meneliti dan mengumpulkan masalah,                (2) merencanakan jenis keterampilan yang dibutuhkan, menentukan tujuan penelitian, menetapkan langkah-langkah dan mengujikannya dalam skala kecil, (3) mengembangkan produk atau model awal dengan membuat persiapan bahan pelatihan, bahan panduan dan alat evaluasi, (4) melakukan pengujian lapangan awal dengan subjek yang lebih banyak daripada sebelumnya, kemudian dianalisis, (5) melakukan revisi produk atau model utama sesuai saran dari hasil atau temuan lapangan dan saran dari pakar, (6) melakukan pengujian lapangan secara kuantitatif dan mengevaluasi hasil sesuai dengan tujuan, (7) merevisi produk atau model operasional sesuai saran dan hasil pengujian serta saran pengembangan model dari pakar, (8) melakukan pengujian lapangan operasional dengan subjek yang lebih banyak lagi kemudian dianalisis, (9) merevisi produk akhir berdasarkan temuan yang ada serta saran dari pakar, dan (10) mendiseminasikan atau mendistribusikan laporan produk pada pertemuan-pertemuan atau dalam jurnal-jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional.
Menurut Wijayanti (Sriwahyuni, 2005:15) bahwa model-model pengembangan perangkat pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai acuan antara lain:


1.      Model dari Degeng
Model pengembangan pembelajaran ini meliputi tiga tahap, yaitu:
a.      Tahap I: Analisis kondisi pembelajaran, mencakup:
1)      Analisis tujuan dan analisis bidang studi.
2)      Analisis sumber belajar.
3)      Analisis karakter siswa.
4)      Menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran.
b.     Tahap II: Pengembangan, mencakup:
1)      Menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran.
2)      Menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran.
3)      Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran.
c.      Tahap III: Pengukuran hasil pembelajaran
2.      Model Thiagarajan (Model 4-D)
Model pengembangan ini meliputi empat tahap yang dikembangkan oleh Thiagarajan, dkk (1974) yaitu:
a.    Tahap I : Pendefinisian (Define)
Tujuan tahap ini adalah untuk menetapkan dan menentukan syarat-syarat pembelajaran yang meliputi tujuan pembelajaran dan pembatasan materi pembelajaran. Tahap ini mencakup lima langkah yaitu analisis awal–akhir (font-end analysis), analisis siswa (learner analysis), analisis konsep (concept analysis), analisis tugas (task analysis) dan spesifikasi tujuan pembelajaran (the specifying of instructional objectives).


b.    Tahap II : Perancangan (Design)
Tujuan tahap ini adalah untuk menghasilkan prototipe pembelajaran yang meliputi soal tes dan pengembangan materi pembelajaran. Tahap ini mencakup empat langkah yaitu penyusunan tes, pemilihan media, pemilihan format, dan perancangan awal perangkat pembelajaran yang meliputi Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Tes Hasil Belajar.
c.    Tahap III : Pengembangan (Develop)
Tujuan tahap ini adalah untuk menghasilkan bentuk akhir perangkat pembelajaran yang dikembangkan pada tahap perencanaan dan mendapatkan umpan balik melalui evaluasi formatif berdasarkan ujicoba terbatas yang dilakukan. Tahap ini mencakup dua langkah yaitu penilaian para ahli dan ujicoba.
d.   Tahap IV : Penyebaran (Disseminate)
Tujuan tahap ini adalah untuk melakukan tes validitas dan pemilihan secara kooperatif terhadap perangkat pembelajaran yang telah diujicobakan dan direvisi, kemudian disebarkan ke lapangan. Langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah penyebaran perangkat pembelajaran untuk digunakan di sekolah-sekolah.
Berdasarkan uraian kedua model di atas, penulis memilih untuk mengembangkan perangkat pembelajaran dengan model Thiagarajan, karena lebih sistematis dan terperinci. Pengembangan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini hanya sampai pada tahap pengembangan (develop). Penelitian pengembangan perangkat pembelajaran seharusnya dilakukan ujicoba dan validasi para ahli berulang-ulang untuk mendapatkan perangkat pembelajaran akhir yang lebih baik. Namun, pada penelitian ini hanya dua kali validasi dan satu kali ujicoba terbatas.





BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (R&D) yang mengembangkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
B.     Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 21 Makassar tahun pelajaran 2011/2012, dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas VIIG yang berjumlah 40 orang, terdiri dari 23 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan.
C.    Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2011/2012, dengan tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap analisis data.  
1.      Tahap Persiapan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah :
4  Menelaah kurikulum SMP kelas VII semester ganjil untuk pelajaran matematika.
4  Mengembangkan perangkat pembelajaran yaitu buku siswa, lembar kegiatan siswa, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan tes hasil belajar siswa
4  Membuat lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa, aktivitas guru, dan pengelolaan pembelajaran di kelas.
4  Membuat angket untuk mengetahui respon siswa tentang perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan pendekatan matematika realistik.


2.      Tahap Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:
a.        Membagi kelompok berdasarkan nilai mata pelajaran matematika pada semester sebelumnya
b.       Melaksanakan pembelajaran matematika realistik
c.        Selama proses pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan aktivitas siswa, dan kemampuan guru mengelola pembelajaran yang dilakukan oleh satu orang pengamat.
3.      Tahap Analisis Data
Kegiatan pada tahap ini adalah menganalisis data yang diperoleh dari tahap pelaksanaan. Data-data yang akan dianalisis adalah data hasil belajar siswa, data hasil pengamatan aktivitas siswa dan aktivitas guru, dan data hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran.
D.    Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika
Pengembangan perangkat pembelajaran matematika yang digunakan mengacu pada model 4 – D Thiagarajan. Model ini terdiri dari 4 tahap, yaitu pembatasan, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Berikut adalah uraian secara rinci tahap–tahap pengembangan model 4 – D yang dilakukan dalam penelitian ini.
1.      Tahap Pendefinisian
Tujuannya adalah menetapkan dan menentukan syarat–syarat pembelajaran yang meliputi tujuan pembelajaran, dan pembatasan materi pembelajaran. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :


a.       Analisis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Kurikulum ini memuat seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan di suatu SMP dan dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
Pada tingkat Sekolah Menengah Pertama, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang disusun merupakan pengetahuan, keterampilan, pengenalan, dan pemahaman berfikir deduktif yang dapat mengarahkan kepada kecermatan serta sistematika berfikir dan bertindak. Pembelajaran pada tingkat Sekolah Menengah Pertama ditekankan pada pengenalan fakta, penanaman konsep, dan penemuan prinsip.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan menuntut kreativitas guru untuk menyusun sendiri model pendidikan yang sesuai dengan kondisi lokal sekolah yang bersangkutan yang didasarkan pada standar isi dan standar kompetensi yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
b.      Analisis Siswa
Analisis siswa merupakan telaah tentang karakteristik siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar. Tujuan dari analisis ini adalah untuk menelaah karakteristik siswa yang meliputi latar belakang pengetahuan siswa, bahasa yang digunakan dan perkembangan kognitif siswa. Hasil telaah tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran matematika realistik pada materi pecahan.
c.       Analisis Konsep
Analisis konsep bertujuan untuk mengidentifikasi, merinci, dan menyusun secara sistematis konsep-konsep utama yang akan dipelajari siswa. Konsep-konsep itu disusun secara hirarkis dan memilah-milah konsep itu berdasarkan peranannya dalam materi yang harus diajarkan.
d.      Analisis Tugas
Analisis tugas dilakukan dengan mengidentifikasi keterampilan-keterampilan utama yang diperlukan untuk merancang tugas-tugas yang harus dimiliki siswa setelah mengikuti pembelajaran berdasarkan analisis konsep pokok bahasan pecahan untuk SMP kelas VIIG. Analisis tugas ini sebenarnya merupakan proses yang digunakan untuk mengidentifikasikan hal-hal seperti, tugas pokok yang harus dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan setelah menyelesaikan salah satu tema dan konsep pembelajarannya, setiap subtugas yang membantu siswa dalam menyelesaikan tugas pokok, unsur-unsur tugas yang merupakan bagian dari subtugas. Analisis ini mencakup pemahaman terhadap materi dan tujuan pembelajaran serta dasar untuk merumuskan tujuan pembelajaran dan keterampilan yang akan dikembangkan dalam perangkat pembelajaran.


e.       Spesifikasi Tujuan Pembelajaran
Dari analisis konsep dan analisis tugas yang telah dilakukan, diharapkan dapat dihasilkan tujuan pembelajaran khusus yang merupakan dasar untuk menyusun tes dan merancang perangkat pembelajaran.
2.      Tahap Perancangan
Pada tahap ini, akan dihasilkan rancangan perangkat pembelajaran dan tes hasil belajar siswa . Langkah – langkah dalam tahap ini adalah :
a.       Penyusunan Tes
Setelah analisis konsep dan analisis tugas dilakukan, disusunlah tes untuk mengetahui sejauh mana tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan.
b.      Pemilihan Media
Pemilihan media pada tahap ini, disesuaikan dengan hasil dari analisis konsep dan tugas yang telah dilakukan. Selain itu, media yang dipilih harus disesuaikan dengan karakteristik siswa dan fasilitas yang ada di sekolah.
c.       Pemilihan Format
Pemilihan format perangkat pembelajaran dimaksudkan untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran, pemilihan strategi, pendekatan, metode pembelajaran dan sumber belajar yang akan dikembangkan.
d.      Rancangan Awal
Yang dimaksud rancangan awal adalah rancangan yang dilakukan sebelum ujicoba. Rancangan itu meliputi :
-          Buku Siswa (BS)
-          Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
-          Rencana PelakasanaanPembelajaran (RPP)
Semua perangkat yang dihasilkan pada tahap ini disebut perangkat draft 1.
3.      Tahap Pengembangan
Pada tahap ini dihasilkan bentuk akhir perangkat pembelajaran. Setelah melalui revisi berdasakan masukan dari para ahli dan data hasil ujicoba. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a.       Penafsiran ahli
Pada tahap ini dilakukan validasi isi. Para ahli diminta untuk memvalidasi semua perangkat pembelajaran yang dihasilkan pada draft 1. Segala perbaikan atau saran dari para ahli dijadikan pertimbangan untuk melakukan revisi perangkat pembelajaran draft 1. Perangkat yang dihasilkan pada revisi ini selanjutnya di sebut perangkat pembelajaran draft 2.
b.      Ujicoba
Perangkat pembelajaran yang telah direvisi tersebut untuk selanjutnya diujicobakan di SMP Negeri 21 Makassar, Ujicoba hanya dilakukan pada satu kelas saja. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan masukan dari siswa dan guru di lapangan terhadap perangkat pembelajaran yang telah digunakan. Ujicoba di lapangan dilakukan oleh penulis sendiri. Pelaksanaan ujicoba meliputi pelaksanaan proses pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik dan  tes hasil belajar. Tes yang digunakan di sini berbentuk uraian. Setelah ujicoba dilaksanakan, data yang dihasilkan digunakan untuk melakukan revisi terhadap perangkat pembelajaran draft 2. Perangkat pembelajaran draft 2 yang dihasilkan pada revisi ini selanjutnya di sebut perangkat pembelajaran draft 3.
Perangkat pembelajaran yang telah diujicobakan kemudian divalidasi kembali untuk mendapatkan draft akhir.
4.      Tahap Penyebaran
Tahap ini belum bisa dilaksanakan, karena pada penelitian ini hanya ujicoba terbatas saja.
E.     Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh informasi tentang aktivitas siswa, aktivitas guru, dan pengelolaan pembelajaran matematika realistik, dan tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan, dikembangkan instrumen-instrumen sebagai berikut:
1.      Tes Penguasaan Siswa Terhadap Materi Pelajaran
Untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan, guru perlu menyusun suatu tes yang berbentuk uraian yang berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tes itu kemudian diberikan ke siswa. Penskoran hasil tes siswa menggunakan skala bebas yang tergantung dari bobot butir soal itu.
Kemampuan siswa dapat dikelompokkan dalam skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (khuldi, 2011:28), yaitu :
a.      Tingkat penguasaan 00% - 54% atau skor 0 – 54 dikategorikan sangat rendah.
b.      Tingkat penguasaan 55% -  64% atau skor 55 – 64 dikategorikan rendah.
c.      Tingkat penguasaan 65 - 79% atau skor 65 – 79 dikategorikan sedang.
d.     Tingkat penguasaan 80% - 89% atau skor 80 – 89 dikategorikan tinggi.
e.      Tingkat penguasaan 90%-100% atau skor 90 – 100 dikategorikan sangat tinggi.
2.      Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa Dan Aktivitas Guru Selama Pembelajaran
Untuk mengetahui aktivitas siswa dan guru selama pembelajaran berlangsung,  digunakan lembar observasi. Lembar observasi ini dibuat untuk  mengetahui bagaimana kegiatan siswa dan guru di kelas dengan menerapkan Pembelajaran Matematika Realistik dan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah disusun. Lembar observasi ini diisi oleh pengamat yang khusus memperhatikan keadaan kelas. Adapun aktivitas guru yang perlu diamati yaitu dalam hal menyampaikan pendahuluan, memberi informasi/menjelaskan materi, mengamati kegiatan siswa, memberi petunjuk/ bimbingan, memotivasi, memberi pertanyaan, dan lain-lain. Sedangkan kegiatan siswa yang perlu diamati dan biasanya terjadi dalam kelas yaitu mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru dan siswa lain, diskusi dengan teman, membaca (Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa, Kerja Soal Latihan), diskusi dengan guru, perilaku lain yang tidak relevan seperti tidur, mengantuk, melamun, dan lain sebagainya.
3.      Respon Siswa Terhadap Kegiatan Pembelajaran
Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran diketahui melalui angket. Angket dibagikan kepada siswa dan diisi setelah pembelajaran dilakukan. Hasil dari angket ini adalah pertimbangan untuk memperbaiki perangkat. Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran dapat berupa pendapat atau komentar mereka terhadap materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, dan perangkat yang digunakan.
4.      Lembar Pengamatan Pengelolaan
Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran digunakan untuk mengetahui kemampuan guru dalam mengelola kelas. Untuk itu, harus ada pengamat yang mengisi lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran matematika realistik. Melalui pengamatan, dapat diketahui kegiatan guru dalam menerapkan pembelajaran matematika realistik sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah dibuat. Selain itu, juga dapat menjadi masukan untuk memperbaiki rencana pelaksanaan  pembelajaran. Aspek-aspek yang diamati yaitu mempersiapkan dan memotivasi siswa, menyajikan informasi dan melibatkan siswa memahami masalah kontekstual, mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar dan memberikan tugas kelompok, membimbing kelompok, evaluasi, memberikan penghargaan, dan suasana kelas (siswa antusias, guru antusias, kegiatan sesuai RPP)
5.      Lembar Validasi Perangkat Pembelajaran
Lembar validasi perangkat pembelajaran digunakan untuk memperoleh informasi tentang kualitas perangkat pembelajaran berdasarkan penilaian para ahli. Informasi yang diperoleh melalui instrumen ini digunakan sebagai masukan dalam merevisi semua perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan. Pada lembar validasi perangkat pembelajaran, validator menuliskan penilaian terhadap masing-masing perangkat yang terdiri dari: Buku Siswa (BS), Lembar Kegiatan Siswa (LKS), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Tes Hasil Belajar (THB). Penilaian terdiri dari 5 kategori, yaitu tidak valid (nilai 1), kurang valid (nilai 2), cukup valid (nilai 3), valid (nilai 4) dan sangat valid (nilai 5).
F.     Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan dengan menggunakan instrumen-instrumen seperti yang telah disebutkan pada bagian E, selanjutnya dianalisis secara kuantitatif dan diarahkan untuk menjelaskan kevalidan, keefektifan dan kepraktisan perangkat pembelajaran dengan pendekatan realistik yang tengah dikembangkan. Data yang diperoleh dari hasil validasi oleh para ahli dianalisis untuk menjelaskan kevalidan dan kelayakan penggunaan perangkat pembelajaran matematika realistik di kelas. Adapun data hasil ujicoba di kelas digunakan untuk menjelaskan keefektifan dan kepraktisan perangkat pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik.
Berikut ini dikemukakan tentang analisis data kevalidan, kepraktisan dan keefektifan.
1.      Analisis Data Kevalidan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik
Berdasarkan data hasil penilaian kevalidan perangkat pembelajaran matematika realistik oleh dua validator/ahli, yaitu orang yang dipandang ahli dalam bidang pendidikan matematika, dihitung nilai rata-rata V dari V1 dan V2 dengan V1 = nilai rata-rata yang diperoleh dari validator pertama dan V2 = nilai rata-rata yang diperoleh dari validator kedua. Nilai V ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan interval penentuan kategori validitas perangkat pembelajaran matematika realistik, yaitu:
Ket:
Ÿ  SV (Sangat Valid)              =
Ÿ    V (Valid)                =
Ÿ    CV (Cukup Valid) =
Ÿ    KV (Kurang Valid)  =
Ÿ    TV (Tidak Valid) =
Keterangan: V adalah validitas perangkat pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik.
Kriteria yang digunakan untuk memutuskan bahwa perangkat pembelajaran matematika realistik yang terdiri dari buku siswa, LKS dan RPP memiliki derajat validitas yang memadai adalah (i) nilai V untuk keseluruhan aspek pada buku siswa, LKS dan RPP minimal berada dalam kategori “cukup valid”, dan (ii) nilai V untuk setiap aspek minimal berada dalam kategori “valid”. Apabila tidak demikian, maka perlu dilakukan revisi berdasarkan saran para validator atau dengan melihat kembali aspek-aspek yang nilainya kurang. Selanjutnya dilakukan validasi ulang lalu dianalisis kembali. Demikian seterusnya sampai memenuhi nilai V minimal berada di dalam kategori valid, (Darwis, 2007:112).
2.      Analisis Data Keefektifan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik
Analisis terhadap keefektifan perangkat pembelajaran matematika realistik didukung oleh hasil analisis data dari 5 komponen keefektifan, yaitu (1) hasil belajar siswa atau ketuntasan klasikal, (2) aktivitas siswa, (3) respon siswa, (4) aktivitas guru, dan (5) pengelolaan pembelajaran matematika realistik oleh guru. Oleh karena itu, kegiatan analisis data terhadap kelima komponen itu adalah sebagai berikut:
a.      Analisis Data Hasil Belajar Siswa
Analisis dilakukan terhadap skor-skor yang diperoleh siswa dari Tes Hasil Belajar yang diberikan setelah semua materi tuntas dibahas. Kriteria yang digunakan untuk menentukan skor adalah skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Khuldi, 2011:28) yaitu:
a.       Tingkat penguasaan 00% - 54% atau skor 0 – 54 dikategorikan sangat rendah.
b.      Tingkat penguasaan 55% -  64% atau skor 55 – 64 dikategorikan rendah.
c.       Tingkat penguasaan 65 - 79% atau skor 65 – 79 dikategorikan sedang.
d.      Tingkat penguasaan 80% - 89% atau skor 80 – 89 dikategorikan tinggi.
e.       Tingkat penguasaan 90% - 100% atau skor 90 – 100 dikategorikan sangat tinggi.
Standar umum di atas kemudian dimodifikasi kembali agar skor kemampuan menyelesaikan masalah atau soal-soal matematika pada siswa dapat tergambarkan secara jelas, sebagai berikut :
a.       Tingkat penguasaan  0  54 dikategorikan sangat rendah
b.      Tingkat penguasaan  55 < 64 dikategorikan rendah
c.       Tingkat penguasaan  65 < 79 dikategorikan sedang
d.      Tingkat penguasaan  80 < 89 dikategorikan tinggi
e.       Tingkat penguasaan  90 < 100 dikategorikan sangat tinggi.
Pada materi Bilangan Pecahan Standar Kriteria Ketuntasan Minimal (SKKM) yang harus dipenuhi oleh seorang siswa adalah 65 Jika seorang siswa memperoleh  maka siswa yang bersangkutan mencapai ketuntasan individu. Jika minimal 75% siswa mencapai skor minimal 65, maka ketuntasan klasikal telah tercapai (SKKM ditentukan oleh pihak sekolah bersangkutan).
b.      Analisis Data Aktivitas Siswa
Data hasil observasi aktivitas siswa selama kerjasama dalam kelompok dilaksanakan dianalisis dan dideskripsikan. Untuk mencari rata-rata frekuensi dan rata-rata persentase waktu yang digunakan siswa melakukan aktivitas selama kerjasama dalam kelompok ditentukan melalui langkah-langkah berikut:
1)      Hasil pengamatan aktivitas siswa untuk setiap indikator dalam satu kali pertemuan ditentukan frekuensinya dan dicari rata-rata frekuensinya. Selanjutnya, ditentukan frekuensi rata-rata dari rata-rata frekuensi untuk beberapa kali pertemuan.
2)      Mencari persentase frekuensi setiap indikator dengan cara membagi besarnya frekuensi dengan jumlah frekuensi untuk semua indikator. Kemudian hasil pembagian dikali 100%. Selanjutnya dicari rata-rata persentase waktu untuk beberapa kali pertemuan dan dimasukkan dalam tabel rata-rata persentase.
Selanjutnya persentase waktu untuk setiap indikator dirujuk terhadap kriteria pencapaian waktu ideal aktivitas siswa yang tersaji pada Tabel 3.1 berikut ini:
Tabel 3.1 Kriteria Pencapaian Waktu Ideal Aktivitas Siswa
No.
Kategori Aktivitas Siswa
Waktu Ideal
Interval Toleransi PWI (%)
Kriteria
1.
Memperhatikan informasi dan mencatat seperlunya
15% dari WT
10-20
Lima dari 9 kategori dipenuhi dan (3), (4), (7), (8) harus dipenuhi
2.
Membaca LKS, materi pembelajaran atau buku siswa
12,5% dari WT
7-17
3.
Aktif terlibat dalam tugas
22,5 % dari WT
17-27
4.
Aktif berdiskusi dengan teman
15% dari WT
10-20
5.
Mencatat apa yang disampaikan teman
12,5% dari WT
7-19
6.
Mengajukan pertanyaan kepada teman/guru
7,5% dari WT
2-12
7.
Menjawab/menanggapi pertanyaan teman/guru
7,5 % dari WT
2-12
8.
Memberi bantuan penjelasan kepada teman yang membutuhkan
7,5 % dari WT
2-12
9.
Kegiatan di luar tugas
0 % dari WT
0 – 5
Keterangan:      PWI adalah persentase waktu indikator
                         WT adalah waktu tersedia pada setiap pertemuan


c.       Analisis Respon Siswa
Kegiatan yang dilakukan untuk menganalisis data respon siswa terhadap perangkat pembelajaran matematika  realistik adalah sebagai berikut:
1)      Menghitung banyak siswa yang memberi respons positif sesuai dengan aspek yang ditanyakan
2)      Menghitung persentase dari (1)
3)      Menentukan kategori untuk respons positif siswa dengan mencocokkan hasil persentase dengan kriteria yang ditetapkan
4)      Jika hasil analisis menunjukkan bahwa respons siswa belum positif, maka dilakukan revisi terhadap perangkat yang tengah dikembangkan.
Kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan bahwa para siswa memiliki respon positif terhadap perangkat pembelajaran matematika realistik adalah 50% dari mereka memberi respon positif terhadap minimal 70% jumlah aspek yang ditanyakan.
d.      Analisis Data Aktivitas Guru
Data hasil observasi aktivitas guru selama kerjasama dalam kelompok dilaksanakan dianalisis dan dideskripsikan. Untuk mencari rata-rata frekuensi dan rata-rata persentase waktu yang digunakan guru selama aktivitas siswa bekerjasama dalam kelompok ditentukan melalui langkah-langkah berikut:
1)      Mencari persentase frekuensi setiap indikator pada tiap pertemuan dengan cara membagi besarnya frekuensi dengan jumlah frekuensi untuk semua indikator. Kemudian hasil pembagian dikali 100%.
2)      Selanjutnya dicari rata-rata persentase waktu untuk beberapa kali pertemuan dan dimasukkan dalam tabel rata-rata persentase.
Selanjutnya persentase waktu untuk setiap indikator dirujuk terhadap kriteria pencapaian waktu ideal aktivitas guru yang tersaji pada Tabel 3.2 berikut ini:
Tabel 3.2  Kriteria Pencapaian Waktu Ideal Aktivitas Guru
No.
Kategori Aktivitas Guru
Waktu Ideal
Interval Toleransi PWI (%)
Kriteria
1.
Menginformasikan masalah yang harus dikerjakan bersama
10% dari WT
5 – 15
Kategori (2), (4), (5), (6) dan (7) harus dipenuhi
2.
Meminta siswa mengerjakan tugas LKS kelompok dengan kerjasama dalam kelompok
10% dari WT
5 - 15
3.
Memberi arahan agar siswa selalu berada dalam tugas kelompok
20 % dari WT
15 - 25
4.
Mengontrol/berkeliling memperhatikan kerja kelompok
20% dari WT
15 - 25
5.
Membimbing/memberi bantuan kepada siswa dalam aktivitas kelompok
20% dari WT
15-25
6.
Mengajukan pertanyaan yang merangsang berfikir siswa (pertanyaan yang membuka wawasan)
10% dari WT
5– 15
7.
Memberi umpan balik
10% dari WT
5 15
8.
Kegiatan di luar tugas, misalnya duduk diam di kursi, membaca koran, keluar kelas, merokok dan sebagainya
0% dari WT
0 – 5
Keterangan:      PWI adalah persentase waktu indikator
                         WT adalah waktu tersedia pada setiap pertemuan
e.       Analisis Pengelolaan Pembelajaran Matematika Realistik
Analisis dilakukan terhadap hasil penilaian dari satu observer yang mengamati kemampuan guru mengelola pembelajaran matematika realistik di kelas. Pengamatan dilakukan terhadap kemampuan guru melaksanakan tiap-tiap aspek dari sintaks pembelajaran matematika realistik. Dari hasil observer selama empat kali pertemuan, ditentukan nilai rata-rata KG dari pertemuan pertama sampai pertemuan keempat. Nilai KG ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan interval penentuan kategori kemampuan guru mengelola pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik, yaitu:
Keterangan:
  • SV (Sangat Valid) =
  • V (Valid) =
·         CV (Cukup Valid) =
  • KV (Kurang Valid) =
  • TV (Tidak Valid) =
Kriteria yang digunakan untuk memutuskan bahwa kemampuan guru mengelola pembelajaran matematika realistik memadai adalah nilai KG minimal berada dalam kategori “tinggi”, berarti penampilan guru dapat dipertahankan. Apabila KG berada di dalam kategori lainnya, maka guru harus meningkatkan kemampuannya dengan melihat kembali aspek-aspek yang nilainya kurang. Selanjutnya dilakukan kembali pengamatan terhadap kemampuan guru mengelola pembelajaran matematika realistik, lalu dianalisis kembali. Demikian seterusnya sampai memenuhi nilai KG minimal berada di dalam kategori cukup/sedang, (Darwis, 2007:121).
Pada akhirnya kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan perangkat pembelajaran matematika realistik bersifat efektif adalah minimal 3 dari 5 poin di atas dipenuhi dengan syarat poin (1) yaitu ketuntasan klasikal harus terpenuhi.


3.      Analisis Data Kepraktisan Perangkat Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Realistik

Data kepraktisan perangkat pembelajaran matematika realistik terdiri dari dua bagian, yaitu: (1) data hasil penilaian kelayakan penggunaan perangkat pembelajaran matematika realistik dari praktisi (guru matematika) dan (2) keterlaksanaan pembelajaran matematika realistik secara umum dari satu observer.
Dengan demikian untuk menganalisis data kepraktisan, dipertimbangkan kedua bagian tersebut sebagai berikut:
a.      Analisis Data Hasil Penilaian Kelayakan Penggunaan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik
Data yang diperoleh dari hasil validasi oleh para ahli yang telah dijabarkan pada point 1 di atas dapat dijadikan sebagai hasil penilaian kelayakan penggunaan perangkat pembelajaran matematika  realistik.
Kriteria yang digunakan untuk memutuskan bahwa perangkat pembelajaran matematika realistik memiliki derajat kelayakan yang memadai adalah nilai V untuk keseluruhan perangkat pembelajaran matematika realistik yang tengah dikembangkan minimal berada dalam kategori “cukup valid”, berarti perangkat tidak direvisi. Apabila nilai V berada di dalam kategori lainnya, maka perlu dilakukan revisi berdasarkan saran para validator atau dengan melihat kembali aspek-aspek yang nilainya kurang. Selanjutnya dilakukan validasi ulang lalu dianalisis kembali. Demikian seterusnya sampai memenuhi nilai V minimal berada di dalam kategori valid.
b.      Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran Matematika Realistik
Analisis data keterlaksanaan pembelajaran yang dimaksud disini adalah kemampuan guru mengelola pembelajaran matematika realistik.
G.    Desain Pengembangan Perangkat Pembelajaran dengan Ujicoba Terbatas
Perumusan Tujuan Pembelajaran
Pemilihan Media
Analisis Kurikulum
Analisis Siswa
Analisis Konsep
Analisis Tugas
Tahap Pembatasan
Penyusunan Tes
Pemilihan Format
Desain Awal Perangkat pembelajaran (Draft 1)
Tahap Rancangan
Validasi perangkat
Revisi (Draft 2)
1.      Ujicoba
2.      Pelaksanaan PBM
3.      Observasi
Data Hasil Ujicoba
Analisis dan Revisi
Draft 3
Validasi dan Revisi
Tahap Pengembangan
Draft Akhir
Desain pengembangan perangkat pembelajaran dengan ujicoba terbatas digambarkan dengan diagram alur sebagai berikut:









                                                                                                       



                                                                                                      






          Diagram 3.1    Desain pengembangan perangkat pembelajaran dengan                                     ujicoba terbatas


Tidak ada komentar:

Posting Komentar