BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Peningkatan sumber daya manusia
berkaitan erat dengan pendidikan formal. Berbagai upaya telah dilakukan
pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan seperti perubahan kurikulum,
pemantapan proses belajar mengajar, penyempurnaan sistem penilaian, penataran
guru-guru, serta usaha-usaha lain yang berkaitan dengan peningkatan mutu
pendidikan. Namun yang terjadi di lapangan adalah pendidikan tidak memberikan
hasil sesuai dengan harapan. Sektor pendidikan mengalami keterpurukan yang
ditandai oleh adanya kenyataan bahwa pada umumnya mutu pendidikan di negara
kita sangat rendah. Rendahnya mutu sekolah tampak dari rendahnya mutu lulusan
di hampir semua jenjang pendidikan formal.
Dalam usaha meningkatkan mutu
pendidikan di sekolah, berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak yang
berkompeten dalam bidang pendidikan. Upaya-upaya tersebut hampir disemua
komponen pendidikan seperti penyempurnaan kurikulum pendidikan, peningkatan
kemampuan guru, pengadaan media belajar mengajar, penataan organisasi, dan
manajemen pendidikan serta usaha-usaha lain yang berkenaan dengan peningkatan
mutu dan kualitas pendidikan.
Matematika merupakan salah satu mata
pelajaran yang penting dalam meningkatkan kemampuan intelektual siswa. Dengan
belajar matematika, maka siswa dapat berpikir kritis, terampil berhitung,
memiliki kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep dasar matematika pada
pelajaran lain maupun pada matematika itu sendiri dan dalam kehidupannya sehari-hari.
Salah satu karakteristik matematika
adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan
banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Meskipun demikian,
matematika dapat disajikan dengan memperhatikan kondisi lingkungan belajar
siswa dan sesuai lingkungan sosial dan budaya di mana siswa tumbuh dan
berkembang. Dalam pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya
dijadikan tempat mengaplikasikan konsep. Akibatnya, siswa kurang menghayati
atau memahami konsep-konsep matematika, dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan matematika dalam
kehidupan sehari-hari. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi
pada matematisasi pengalaman sehari-hari adalah pembelajaran matematika
realistik.
Pembelajaran matematika realistik
merupakan salah satu cara menunjukkan kepada siswa bagaimana hubungan antara
matematika dengan kehidupan nyata yang dipelajari siswa, karena pembelajaran
matematika realistik dirancang berawal dari pemecahan masalah yang berada di sekitar
siswa. Dengan demikian, diharapkan pembelajaran matematika realistik dalam
pembelajaran siswa akan lebih tertarik dan termotivasi dalam kegiatan proses
pembelajaran karena materi yang dipelajari tidak abstrak bagi mereka. Jadi
mereka mengetahui kegunaan mempelajari materi tersebut.
Beberapa penelitian pendahuluan di
beberapa negara menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan
pembelajaran matematika realistik,
sekurang-kurangnya dapat membuat:
Becker dan Selter (Suherman, 2003:143)
menjelaskan bahwa ada suatu hasil yang menjanjikan dari penelitian kuantitatif
dan kualitatif yang telah ditunjukkan bahwa siswa yang memperoleh pembelajaran
dengan pembelajaran matematika realistik
mempunyai skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang memperoleh
pembelajaran dengan pendekatan tradisional dalam hal keterampilan berhitung,
lebih khusus lagi dalam aplikasi.
Salah satu materi yang diajarkan di
SMP Kelas VII adalah materi “Bilangan Pecahan”. Materi ini sering muncul dan
digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, dengan menerapkan
pembelajaran matematika realistik dalam pembelajaran matematika di sekolah
diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi
tersebut. Untuk
melaksanakan pembelajaran matematika realistik, diperlukan perangkat yang
sesuai dengan pembelajaran tersebut.
Pembelajaran matematika realistik masih relatif baru di Indonesia sehingga
perangkat pembelajaran yang mendukung pelaksanaannya di kelas masih sangat
terbatas.
Atas uraian di atas, maka penulis tertarik untuk
mengadakan suatu penelitian Pengembangan dengan judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika
Realistik untuk Siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian
latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
bagaimana mengembangkan dan hasil pengembangan perangkat pembelajaran
matematika realistik untuk siswa kelas VII SMP, yang Valid, Praktis dan
Efektif?
C.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan
penelitian ini adalah untuk mengembangkan perangkat pembelajaran matematika
realistik, untuk siswa kelas VII SMP yang Valid, Praktis dan Efektif. Perangkat pembelajaran tersebut adalah:
- Buku Siswa (BS)
- Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
- Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
4. Tes Hasil Belajar (THB)
D.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi
Siswa, diharapkan dapat meningkatkan semangat dan motivasi
dalam belajar matematika sehingga dapat mengaplikasikan matematika dalam
kehidupan sehari-hari melalui perangkat pembelajaran matematika realistik yang
dikembangkan ini
2. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan yang bermaksud melakukan inovasi pembelajaran matematika di
kelas untuk mengembangkan kemampuan keprofesionalannya dalam mengajar,
khususnya dalam mengajarkan matematika dengan model pembelajaran matematika
realistik
3. Bagi sekolah, sebagai bahan masukan bagi sekolah dalam
usaha memperbaiki sistem pembelajaran yang ada di sekolah khususnya di sekolah
tempat penelitian berlangsung.
4. Perangkat pembelajaran berupa Buku Siswa (BS), Lembar
Kerja Siswa (LKS) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Tes hasil belajar
(THB) yang telah diperoleh dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai suatu
contoh bagi guru dalam mengembangkan Buku Siswa (BS), Lembar Kerja Siswa (LKS),
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Tes hasil belajar (THB), pada materi atau pokok bahasan yang lain.
BAB II
KAJIAN
TEORI
A.
Pengertian
Belajar
Belajar pada hakikatnya adalah suatu aktivitas yang
mengharapkan perubahan tingkah laku (behavioral change) pada diri orang
yang belajar. Seseorang dikatakan sudah belajar apabila pada dirinya telah
terjadi perubahan tertentu, misalnya dari tidak dapat mengoperasikan komputer
menjadi dapat mengoperasikan komputer. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa tidak
setiap perubahan disebut hasil belajar. Jika seorang bayi dapat duduk padahal
sebelumnya tidak dapat, lalu bayi bisa merangkak dan berdiri, maka perubahan
yang terakhir ini bukan karena belajar tetapi adanya kematangan (naturation).
Menurut pengertian secara psikologis,
belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai
hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata
dalam seluruh aspek tingkah laku.
Menurut Sahabuddin (dalam Haling, 2007:2) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan
perilaku sebagai hasil dari pengalaman.
Menurut Morgan (dalam Sagala, 2008:13)
menyatakan bahwa belajar adalah setiap
perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu
hasil dari latihan atau pengalaman. Menurut pandangan B. F. Skinner (dalam
Sagala 2008:14) belajar adalah sutu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah
laku yang berlangsung secara progresif. Menurut Pandangan Robert M. Gagne
(dalam Sagala 2008:17) belajar adalah kegiatan yang kompleks, dan hasil belajar
berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebabkan: (1) stimulus yang berasal
dari lingkungan; dan (2) proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar. Menurut
Gagne (dalam Sagala 2008:17) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang
terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar secara terus-menerus,
bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja.
Menurut Gredler (dalam Haling, 2007:2), belajar adalah
proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap.
Menurut Hamalik (dalam Haling, 2007:2), belajar adalah
suatu perkembangan dari seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku
yang baru berkat pengalaman dan latihan. Belajar itu merupakan
perubahan-perubahan bersifat psikis.
Selanjutnya pengertian belajar dikemukakan oleh Slameto
(dalam Haling 2007:2) menyatakan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.
Selanjutnya Fontana (dalam Suherman, 2003:8)
belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap
sebagai hasil dari pengalaman sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan
lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang
secara optimal.
Dari berbagai pandangan ahli yang
mencoba memberikan definisi belajar dapat diambil kesimpulan bahwa belajar
selalu melibatkan tiga hal pokok yaitu: adanya perubahan tingkah laku, sifat
perubahannya relatif permanen serta perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi
dengan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan ataupun perubahan-perubahan
kondisi fisik yang sifatnya sementara.
B.
Matematika Sekolah
Pembelajaran matematika tidak hanya
bertumpu pada pencapaian tujuan kognitif, tetapi juga meningkatkan pencapaian
tujuan afektif dan psikomotor. Menurut Suherman (2003:55) bahwa matematika
sekolah adalah matematika yang diajarkan di pendidikan dasar serta di
pendidikan menengah atau matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di
sekolah. Matematika sebagai ilmu dengan matematika sekolah mempunyai perbedaan
dalam hal penyajian, pola pikir, keterbatasan semesta dan tingkat keabstrakan
yang menitikberatkan pada penyesuaian dengan tingkat perkembangan intelektual
siswa.
Fungsi mata pelajaran matematika yang
dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah adalah sebagai alat, pola
pikir, dan ilmu atau pengetahuan
(Suherman, 2003:55):
a.
Matematika sebagai
Alat
Matematika sebagai alat berfungsi untuk memecahkan
masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari dan dalam dunia kerja. Siswa
diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau
menyampaikan suatu informasi.
b.
Matematika sebagai
Pola Pikir
Matematika berfungsi sebagai pola pikir yaitu pembentukan
pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran hubungan di
antara pengertian-pengertian itu. Melalui pengamatan terhadap contoh,
diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep, kemudian dilatih
untuk membuat perkiraan, terkaan atau kecenderungan berdasarkan pengalaman atau
pengetahuan yang dikembangkan melalui contoh-contoh khusus (generalisasi).
c.
Matematika sebagai
Ilmu atau Pengetahuan
Matematika sebagai ilmu atau pengetahuan, dalam hal ini,
seorang guru harus mampu menunjukkan bahwa matematika selalu mencari kebenaran
dan bersedia memperbaiki kebenaran yang sementara diterima, bila ditemukan
kesempatan untuk mencoba mengembangkan penemuan-penemuan sebelumnya selama
mengikuti pola pikir yang sah.
Berdasarkan ketiga fungsi matematika
sekolah yang telah dijelaskan di atas, seorang guru berfungsi dan berperan
sebagai motivator dan pembimbing siswa dalam pembelajaran di sekolah. Tujuan
umum diberikannya matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang
dikemukakan dalam Garis-Garis Besar. Program Pengajaran (GBPP) matematika
(Suherman, 2003:58), meliputi dua hal yaitu:
a. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi
perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang
melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis,
cermat, jujur, efektif dan efisien.
b. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan
matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam
mempelajari berbagai ilmu pengetahuan
C.
Pembelajaran Matematika Realistik
Pembelajaran matematika realistik atau
Realistic Mathematics Education (RME) merupakan suatu pendekatan dalam
pembelajaran matematika dan diketahui sebagai pendekatan yang
telah berhasil di Nedherlands.
Pada awalnya istilah realistik oleh
Freudenthal (Suharta, 2001:2) dimaksudkan sebagai ide untuk mengembangkan
matematika sebagai aktivitas manusia. Dalam hal ini yang dimaksud dengan
aktivitas manusia meliputi mencari masalah, mengorganisasikan materi yang
relevan dengan masalah dan pemecahannya, membuat model matematika terhadap
masalah yang dapat diselesaikan, penyelesaian masalah, mengorganisasikan
ide-ide baru dan pemahaman baru yang sesuai dengan konteks.
Menurut Gravemeijer (1994:91), ada tiga prinsip dalam mendesain
pembelajaran matematika realistik, yaitu:
1.
Guided
Reinvention and Progressive
Mathematizing
Berdasarkan prinsip reinvention, para siswa semestinya diberi
kesempatan untuk mengalami proses yang sama dengan proses pada saat
konsep-konsep matematika ditemukan. Sejarah matematika dapat dijadikan sumber
inspirasi dalam merancang materi pelajaran. Selain itu, prinsip reinvention
dapat pula dikembangkan berdasarkan prosedur penyelesaian informal. Dalam hal
ini, strategi informal dapat dipahami untuk mengantisipasi prosedur
penyelesaian formal. Untuk keperluan tersebut, maka perlu dirumuskan masalah
kontekstual yang dapat mengundang beragam prosedur penyelesaian yang
mengindikasikan rute belajar melalui proses matematisasi progresif.
2. Didactical Phenomenology
Prinsip kedua ini menekankan pada pentingnya masalah
kontekstual yang diambil dari fenomena dunia nyata untuk memperkenalkan
konsep-konsep matematika kepada siswa. Masalah-masalah ini dipilih dengan
mempertimbangkan dua aspek yaitu kecocokan aplikasi masalah kontekstual dengan materi dalam
pembelajaran dan kecocokan dampak dalam proses penemuan kembali bentuk dan
model matematika dari masalah kontekstual tersebut.
3.
Self-Developed
Models
Pada prinsip ini,
model yang dikembangkan sendiri oleh siswa berperan menjembatani perbedaan
antara pengetahuan informal dan matematika formal. Pada mulanya, model ini
merupakan model yang sudah dikenal siswa. Melalui proses generalisasi dan
formalisasi, model itu menjadi sesuatu yang berdiri sendiri dan tidak
tergantung pada situasi asalnya. Hal ini, sangat mungkin digunakan sebagai
model untuk penalaran matematika. Siswa belajar dari tahap situasi nyata, tahap
pemodelan (referensi), generalisasi
dan tahap formal matematika. Menurut Soedjadi (2001:4), bahwa dalam
pembelajaran matematika realistik, diharapkan terjadi urutan pembelajaran yaitu
situasi nyata ® model dari situasi
nyata itu ® model ke arah
formal ® pengetahuan
formal.
Berdasarkan implementasi ketiga prinsip tersebut melahirkan lima
karakteristik dasar pembelajaran matematika realistik menurut de Lange (Asmin,
2001), yaitu: (1) the use of context
, (2) the use of models, bridging by vertical instrument,
(3) student contribution,
(4) interactivity and (5) intertwining. Penjelasan dari kelima
karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:
a. Penggunaan Konteks (the use of
context)
Pembelajaran diawali dengan menggunakan masalah
kontekstual. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai awal pembelajaran harus
masalah yang dikenali oleh siswa.
b. Penggunaan Model (the use of models, bridging by
vertical instrument)
Dalam mengerjakan masalah kontekstual, siswa menggunakan
model-model yang mereka kembangkan sendiri sebagai jembatan antara level
pemahaman yang satu ke level pemahaman yang lain.
c. Penggunaan Kontribusi Siswa (student contributions)
Kontribusi yang besar dalam proses pembelajaran
diharapkan datang dari konstruksi dan produksi siswa sendiri yang mengarahkan
mereka dari metode informal ke arah yang lebih formal.
d. Interaktivitas (interactivity)
Terdapat interaksi antara
siswa yang satu dengan siswa yang lain dan juga terdapat interaksi antara siswa
dengan guru. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengkomunikasikan ide-ide yang berupa proses dan hasil konstruksi mereka
sendiri melalui pembelajaran yang interaktif baik dalam diskusi kelompok maupun
dalam diskusi kelas.
e. Terdapat
Keterkaitan (intertwining)
Matematika merupakan ilmu yang terstruktur. Oleh karena itu, keterkaitan
dan keterintegrasian antartopik (unit pelajaran) harus dieksplorasi untuk mendukung
terjadinya proses belajar mengajar yang lebih bermakna.
Berdasarkan prinsip dan karakteristik realistik serta dengan
memperhatikan pendapat yang telah dikemukakan diatas, maka dapatlah disusun suatu
langkah-langkah pembelajaran matematika realistik yang digunakan dalam penelitian
ini, yaitu sebagai berikut:
Langkah 1 : Memahami masalah kontekstual
Siswa
diberi masalah/soal kontekstual, guru meminta siswa memahami masalah tersebut
secara individual. Guru memberi kesempatan kepada siswa menanyakan masalah/soal
yang belum dipahami, dan guru hanya memberikan petunjuk seperlunya terhadap
bagian-bagian situasi dan kondisi masalah/soal yang belum dipahami siswa.
Langkah 2 : Menyelesaikan masalah
Siswa
mendeskripsikan masalah kontekstual, melakukan interpretasi aspek matematika
yang ada pada masalah yang dimaksud, dan memikirkan strategi pemecahan masalah.
Selanjutnya siswa bekerja menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri
berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya, sehingga dimungkinkan adanya
perbedaan penyelesaian siswa yang satu dengan yang lainnya. Guru mengamati,
memotivasi, dan memberi bimbingan terbatas, sehingga siswa dapat memperoleh
penyelesaian masalah-masalah tersebut.
Langkah 3 :
Membandingkan jawaban
Guru
meminta siswa membentuk kelompok secara berpasangan dengan teman sebangkunya,
bekerja sama mendiskusikan penyelesaian masalah-masalah yang telah diselesaikan
secara individu (negosiasi, membandingkan, dan berdiskusi). Guru mengamati
kegiatan yang dilakukan siswa, dan memberi bantuan jika dibutuhkan.
Langkah 4 : Menyimpulkan Dari hasil diskusi
kelas
guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan suatu rumusan
konsep/prinsip dari topik yang dipelajari.
Pengimplementasian
pembelajaran matematika realistik di kelas harus didukung oleh sebuah perangkat
pembelajaran yang sesuai dengan kontribusi kondisi bangsa Indonesia. Menurut Suharta
(Asmin, 2001), bahwa implementasi pembelajaran matematika realistik di kelas
meliputi tiga fase yaitu:
1) Fase
Pengenalan
Guru memperkenalkan masalah
realistik dalam matematika kepada seluruh siswa serta membantu untuk memberi
pemahaman (setting) masalah.
2) Fase
Eksplorasi
Siswa dianjurkan bekerja secara
individual, berpasangan atau dalam kelompok kecil. Pada saat siswa sedang bekerja, mereka mencoba
membuat model situasi masalah, berbagi pengalaman atau ide, mendiskusikan pola
yang dibentuk saat itu. Pada fase ini, peranan guru adalah memberikan
bantuan seperlunya kepada siswa yang memerlukan bantuan.
3) Fase
Meringkas
Guru dapat mengawali pekerjaan
lanjutan setelah siswa menunjukkan kemajuan dalam pemecahan masalah. Peranan siswa dalam fase ini sangat penting seperti:
mengajukan pertanyaan kepada siswa yang lain, bernegosiasi, memberikan alasan,
memperbaiki strategi dan membuat keterkaitan. Hasil dari diskusi, siswa
diharapkan menemukan konsep-konsep utama atau pengetahuan matematika formal
sesuai dengan tujuan materi. Dalam fase ini, guru juga dapat membuat
keputusan pengajaran yang memungkinkan semua siswa dapat mengaplikasikan konsep
atau pengetahuan matematika formal.
Pendekatan matematika realistik memiliki kelebihan dan kelemahan dapat
dilihat sebagai berikut.
Kelebihan
Pembelajaran Matematika Realistik
1.
Menumbuhkan rasa ingin
tahu yang tinggi dalam memecahkan masalah
2.
Menjadikan siswa aktif
dan kreatif
3.
Menumbuhkan rasa senang
4.
Memupuk kerjasama dalam kelompok
5.
Melatih siswa untuk
terbiasa berpikir dan mengemukakan pendapat
6.
Pembelajaran
Matematika Realistik memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada
siswa
Kelemahan Pembelajaran Matematika Realistik
1.
guru kesulitan
memberikan bimbingan atau petunjuk bagi siswa yang kesulitan jika kelas cukup
besar
2.
membutuhkan waktu yang
banyak
3.
Upaya
mengimplementasikan membutuhkan perubahan pandangan yang sangat mendasar
mengenai berbagai hal yang tidak mudah untuk dipraktekkan, misalnya mengenai
siswa, guru dan peranan soal kontekstual.
4.
Pencarian soal‑soal
kontekstual yang memenuhi syarat‑syarat yang dituntut pembelajaran matematika
realistik tidak selalu mudah untuk setiap topik matematika yang perlu
dipelajari siswa, terlebih lagi karena soal‑soal tersebut harus bisa
diselesaikan dengan bermacam‑macam cara.
D.
Perangkat Pembelajaran
Perangkat
pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempunyai peranan penting dalam
proses pembelajaran, karena tanpa tersedianya perangkat pembelajaran maka
proses pembelajaran yang dilakukan tidak dapat berjalan dengan baik. Perangkat
pembelajaran adalah sekumpulan sumber belajar yang memungkinkan siswa dan guru
melakukan kegiatan pembelajaran. Perangkat pembelajaran mempengaruhi
keberhasilan proses pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu, perangkat
pembelajaran mutlak diperlukan oleh seorang guru dalam mengelola pembelajaran
(Usman, 2001:24).
Dalam
implementasinya, perangkat pembelajaran terdiri dari berbagai komponen
tergantung kepada kebutuhan masing-masing orang (guru). Suatu perangkat
pembelajaran minimal memiliki tiga komponen pokok sebagai berikut (Anonim, 2005:5):
1) Buku Siswa (BS)
Buku Siswa merupakan buku pegangan siswa yang
memuat masalah-masalah kontekstual yang dipelajari dalam pembelajaran dan
dilengkapi dengan soal-soal latihan. Buku siswa disusun dengan mengacu pada
kurikulum matematika yang berlaku sesuai dengan jenjang pendidikan. Materi dari
buku siswa dapat diadaptasi dari beberapa buku acuan. Pengembangan buku siswa
mempertimbangkan model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian. Materi
pada buku siswa dirumuskan dalam bentuk permasalahan yang nantinya dipecahkan
oleh siswa melalui bimbingan guru. Buku siswa ini diupayakan dapat memberi
kemudahan pada guru untuk menerapkan pembelajaran PMR, dan juga memberi
kemudahan bagi siswa dalam menemukan konsep-konsep dan gagasan-gagasan
matematika.
2) Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Lembar Kegiatan Siswa merupakan lembaran kerja
bagi siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang diberikan guru pada setiap
pertemuan. LKS hanya memuat masalah-masalah kontekstual dan tempat untuk
menyelesaikan setiap masalah, tidak memuat soal-soal latihan. Keberadaan LKS
ini dimaksudkan untuk memudahkan guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan
yang ada di buku siswa. LKS tersebut, dirancang untuk memberikan kemudahan pada
guru dalam mengakomodir tingkat kemampuan siswa dan diharapkan dapat
mengembangkan serta memperkuat konsep-konsep yang disajikan. LKS juga memberi
kemudahan bagi guru untuk mengelola pembelajaran matematika realistik.
3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
merupakan rancangan skenario pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa di
dalam kelas. Dengan demikian, penyusunan RPP dalam penelitian ini dimaksudkan
untuk memberikan kemudahan kepada guru tentang bagaimana siswa diajar dan
bagaimana siswa belajar dengan menggunakan pendekatan PMR. Dalam RPP ini,
disajikan informasi‑informasi penting lain yang terkait dengan pembelajaran
tersebut, yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian
hasil belajar, tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan
awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir, serta sumber pembelajaran dan
penilaian hasil belajar.
4) Tes Hasil Belajar
Perangkat
pembelajaran juga dilengkapi dengan alat evaluasi berupa tes hasil belajar yang
dapat digunakan untuk mengukur
ketuntasan belajar siswa pada materi
pelajaran.
E.
Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Penelitian pengembangan atau yang
lebih dikenal dengan nama Research and
Development merupakan salah satu paradigma penelitian yang tergolong baru
di Indonesia. Menurut Subaer (2004:1), Research
and Development adalah kerja kreatif yang dilakukan secara sistematis untuk
menambah khasanah pengetahuan dan memanfaatkannya untuk merancang berbagai
aplikasi yang meliputi tiga kegiatan utama yaitu: penelitian dasar, penelitian
terapan, dan eksperimen pengembangan.
Borg dkk. (Upu, 2004:1) mengajukan 10
langkah dalam pelaksanaan Research and Development
yaitu: (1) meneliti dan mengumpulkan masalah, (2) merencanakan jenis
keterampilan yang dibutuhkan, menentukan tujuan penelitian, menetapkan
langkah-langkah dan mengujikannya dalam skala kecil, (3) mengembangkan produk
atau model awal dengan membuat persiapan bahan pelatihan, bahan panduan dan
alat evaluasi, (4) melakukan pengujian lapangan awal dengan subjek yang lebih
banyak daripada sebelumnya, kemudian dianalisis, (5) melakukan revisi produk
atau model utama sesuai saran dari hasil atau temuan lapangan dan saran dari
pakar, (6) melakukan pengujian lapangan secara kuantitatif dan mengevaluasi
hasil sesuai dengan tujuan, (7) merevisi produk atau model operasional sesuai
saran dan hasil pengujian serta saran pengembangan model dari pakar, (8)
melakukan pengujian lapangan operasional dengan subjek yang lebih banyak lagi
kemudian dianalisis, (9) merevisi produk akhir berdasarkan temuan yang ada
serta saran dari pakar, dan (10) mendiseminasikan atau mendistribusikan laporan
produk pada pertemuan-pertemuan atau dalam jurnal-jurnal ilmiah, baik nasional
maupun internasional.
Menurut Wijayanti (Sriwahyuni, 2005:15) bahwa model-model pengembangan
perangkat pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai acuan antara lain:
1.
Model dari Degeng
Model pengembangan pembelajaran ini
meliputi tiga tahap, yaitu:
a. Tahap I: Analisis kondisi pembelajaran, mencakup:
1) Analisis tujuan dan analisis bidang studi.
2) Analisis sumber belajar.
3) Analisis karakter siswa.
4) Menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran.
b. Tahap II: Pengembangan, mencakup:
1) Menetapkan strategi pengorganisasian isi
pembelajaran.
2) Menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran.
3) Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran.
c. Tahap III: Pengukuran hasil pembelajaran
2.
Model Thiagarajan (Model 4-D)
Model pengembangan ini meliputi empat
tahap yang dikembangkan oleh Thiagarajan, dkk (1974) yaitu:
a. Tahap I :
Pendefinisian (Define)
Tujuan tahap ini adalah untuk
menetapkan dan menentukan syarat-syarat pembelajaran yang meliputi tujuan
pembelajaran dan pembatasan materi pembelajaran. Tahap ini mencakup lima
langkah yaitu analisis awal–akhir (font-end
analysis), analisis siswa (learner analysis),
analisis konsep (concept analysis), analisis tugas (task
analysis) dan spesifikasi tujuan
pembelajaran (the
specifying of instructional objectives).
b. Tahap II : Perancangan (Design)
Tujuan tahap ini adalah untuk
menghasilkan prototipe pembelajaran yang meliputi soal tes dan pengembangan
materi pembelajaran. Tahap ini mencakup empat langkah yaitu penyusunan tes,
pemilihan media, pemilihan format, dan perancangan awal perangkat pembelajaran
yang meliputi Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), dan Tes Hasil Belajar.
c. Tahap III : Pengembangan (Develop)
Tujuan tahap ini adalah untuk
menghasilkan bentuk akhir perangkat pembelajaran yang dikembangkan pada tahap
perencanaan dan mendapatkan umpan balik melalui evaluasi formatif berdasarkan
ujicoba terbatas yang dilakukan. Tahap ini mencakup dua langkah yaitu penilaian
para ahli dan ujicoba.
d. Tahap IV : Penyebaran (Disseminate)
Tujuan tahap ini adalah untuk
melakukan tes validitas dan pemilihan secara kooperatif terhadap perangkat
pembelajaran yang telah diujicobakan dan direvisi, kemudian disebarkan ke
lapangan. Langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah penyebaran perangkat
pembelajaran untuk digunakan di sekolah-sekolah.
Berdasarkan uraian kedua model di atas,
penulis memilih untuk mengembangkan perangkat pembelajaran dengan model
Thiagarajan, karena lebih sistematis dan terperinci. Pengembangan perangkat
pembelajaran dalam penelitian ini hanya sampai pada tahap pengembangan (develop). Penelitian pengembangan
perangkat pembelajaran seharusnya dilakukan ujicoba dan validasi para ahli
berulang-ulang untuk mendapatkan perangkat pembelajaran akhir yang lebih baik.
Namun, pada penelitian ini hanya dua kali validasi dan satu kali ujicoba
terbatas.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian
pengembangan (R&D) yang mengembangkan perangkat pembelajaran yang terdiri
dari Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
B. Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di SMP Negeri 21 Makassar tahun pelajaran 2011/2012, dan subjek
penelitiannya adalah siswa kelas VIIG yang berjumlah 40 orang,
terdiri dari 23 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan.
C. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada
semester ganjil tahun ajaran 2011/2012, dengan tiga tahap yaitu tahap
persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap analisis data.
1.
Tahap
Persiapan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini
adalah :
4 Menelaah kurikulum SMP kelas VII semester ganjil
untuk pelajaran matematika.
4 Mengembangkan perangkat pembelajaran yaitu buku
siswa, lembar kegiatan siswa, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan tes hasil
belajar siswa
4 Membuat lembar observasi untuk mengamati aktivitas
siswa, aktivitas guru, dan pengelolaan pembelajaran di kelas.
4 Membuat angket untuk mengetahui respon siswa
tentang perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan pendekatan matematika
realistik.
2. Tahap Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini
adalah:
a.
Membagi
kelompok berdasarkan nilai mata pelajaran matematika pada semester sebelumnya
b. Melaksanakan pembelajaran matematika realistik
c.
Selama proses
pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan aktivitas siswa, dan kemampuan
guru mengelola pembelajaran yang dilakukan oleh satu orang pengamat.
3.
Tahap
Analisis Data
Kegiatan pada tahap ini adalah
menganalisis data yang diperoleh dari tahap pelaksanaan. Data-data yang akan
dianalisis adalah data hasil belajar siswa, data hasil pengamatan aktivitas
siswa dan aktivitas guru, dan data hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran.
D. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika
Pengembangan
perangkat pembelajaran matematika yang digunakan mengacu pada model 4 – D
Thiagarajan. Model ini terdiri dari 4 tahap, yaitu pembatasan, perancangan,
pengembangan, dan penyebaran. Berikut adalah uraian secara rinci tahap–tahap
pengembangan model 4 – D yang dilakukan dalam penelitian ini.
1. Tahap Pendefinisian
Tujuannya adalah
menetapkan dan menentukan syarat–syarat pembelajaran yang meliputi tujuan
pembelajaran, dan pembatasan materi pembelajaran. Adapun langkah-langkahnya
sebagai berikut :
a. Analisis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Kurikulum ini memuat
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan di suatu SMP dan dikembangkan berdasarkan prinsip
bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara
yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan
tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi,
perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan
lingkungan.
Pada tingkat
Sekolah Menengah Pertama, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang disusun
merupakan pengetahuan, keterampilan, pengenalan, dan pemahaman berfikir
deduktif yang dapat mengarahkan kepada kecermatan serta sistematika berfikir
dan bertindak. Pembelajaran pada tingkat Sekolah Menengah Pertama ditekankan
pada pengenalan fakta, penanaman konsep, dan penemuan prinsip.
Kurikulum tingkat
satuan pendidikan menuntut kreativitas guru untuk menyusun sendiri model
pendidikan yang sesuai dengan kondisi lokal sekolah yang bersangkutan yang
didasarkan pada standar isi dan standar kompetensi yang ditetapkan oleh
Departemen Pendidikan Nasional.
b. Analisis Siswa
Analisis siswa
merupakan telaah tentang karakteristik siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar.
Tujuan dari analisis ini adalah untuk menelaah karakteristik siswa yang
meliputi latar belakang pengetahuan siswa, bahasa yang digunakan dan
perkembangan kognitif siswa. Hasil telaah tersebut digunakan sebagai bahan
pertimbangan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran matematika realistik
pada materi pecahan.
c. Analisis Konsep
Analisis konsep bertujuan untuk
mengidentifikasi, merinci, dan menyusun secara sistematis konsep-konsep utama
yang akan dipelajari siswa. Konsep-konsep itu disusun secara hirarkis dan
memilah-milah konsep itu berdasarkan peranannya dalam materi yang harus
diajarkan.
d. Analisis Tugas
Analisis tugas dilakukan dengan
mengidentifikasi keterampilan-keterampilan utama yang diperlukan untuk
merancang tugas-tugas yang harus dimiliki siswa setelah mengikuti pembelajaran
berdasarkan analisis konsep pokok bahasan pecahan untuk SMP kelas VIIG. Analisis tugas
ini sebenarnya merupakan proses yang digunakan untuk mengidentifikasikan
hal-hal seperti, tugas pokok yang harus dilakukan oleh siswa dalam mencapai
tujuan setelah menyelesaikan salah satu tema dan konsep pembelajarannya, setiap
subtugas yang membantu siswa dalam menyelesaikan tugas pokok, unsur-unsur tugas
yang merupakan bagian dari subtugas. Analisis ini mencakup pemahaman terhadap
materi dan tujuan pembelajaran serta dasar untuk merumuskan tujuan pembelajaran
dan keterampilan yang akan dikembangkan dalam perangkat pembelajaran.
e. Spesifikasi Tujuan Pembelajaran
Dari analisis konsep dan analisis
tugas yang telah dilakukan, diharapkan dapat dihasilkan tujuan pembelajaran
khusus yang merupakan dasar untuk menyusun tes dan merancang perangkat
pembelajaran.
2. Tahap Perancangan
Pada tahap ini,
akan dihasilkan rancangan perangkat pembelajaran dan tes hasil belajar siswa .
Langkah – langkah dalam tahap ini adalah :
a. Penyusunan Tes
Setelah analisis konsep dan analisis
tugas dilakukan, disusunlah tes untuk mengetahui sejauh mana tingkat penguasaan
siswa terhadap materi yang telah diajarkan.
b. Pemilihan Media
Pemilihan media pada tahap ini,
disesuaikan dengan hasil dari analisis konsep dan tugas yang telah dilakukan.
Selain itu, media yang dipilih harus disesuaikan dengan karakteristik siswa dan
fasilitas yang ada di sekolah.
c. Pemilihan Format
Pemilihan format perangkat
pembelajaran dimaksudkan untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran,
pemilihan strategi, pendekatan, metode pembelajaran dan sumber belajar yang
akan dikembangkan.
d. Rancangan Awal
Yang dimaksud rancangan awal adalah
rancangan yang dilakukan sebelum ujicoba. Rancangan itu meliputi :
-
Buku Siswa
(BS)
-
Lembar
Kegiatan Siswa (LKS)
-
Rencana PelakasanaanPembelajaran
(RPP)
Semua perangkat yang dihasilkan pada
tahap ini disebut perangkat draft 1.
3. Tahap Pengembangan
Pada tahap ini
dihasilkan bentuk akhir perangkat pembelajaran. Setelah melalui revisi
berdasakan masukan dari para ahli dan data hasil ujicoba. Langkah-langkah yang
dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a. Penafsiran ahli
Pada tahap ini dilakukan validasi isi.
Para ahli diminta untuk memvalidasi semua perangkat pembelajaran yang
dihasilkan pada draft 1. Segala perbaikan atau saran dari para ahli dijadikan
pertimbangan untuk melakukan revisi perangkat pembelajaran draft 1. Perangkat
yang dihasilkan pada revisi ini selanjutnya di sebut perangkat pembelajaran
draft 2.
b. Ujicoba
Perangkat pembelajaran yang telah
direvisi tersebut untuk selanjutnya diujicobakan di SMP Negeri 21 Makassar, Ujicoba
hanya dilakukan pada satu kelas saja. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan
masukan dari siswa dan guru di lapangan terhadap perangkat pembelajaran yang
telah digunakan. Ujicoba di lapangan dilakukan oleh penulis sendiri.
Pelaksanaan ujicoba meliputi pelaksanaan proses pembelajaran dengan pendekatan
matematika realistik dan tes hasil
belajar. Tes yang digunakan di sini berbentuk uraian. Setelah ujicoba
dilaksanakan, data yang dihasilkan digunakan untuk melakukan revisi terhadap
perangkat pembelajaran draft 2. Perangkat pembelajaran draft 2 yang dihasilkan
pada revisi ini selanjutnya di sebut perangkat pembelajaran draft 3.
Perangkat
pembelajaran yang telah diujicobakan kemudian divalidasi kembali untuk
mendapatkan draft akhir.
4. Tahap Penyebaran
Tahap ini belum
bisa dilaksanakan, karena pada penelitian ini hanya ujicoba terbatas saja.
E. Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh informasi tentang
aktivitas siswa, aktivitas guru, dan pengelolaan pembelajaran matematika
realistik, dan tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan,
dikembangkan instrumen-instrumen sebagai berikut:
1.
Tes
Penguasaan Siswa Terhadap Materi Pelajaran
Untuk mengetahui
tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan, guru perlu
menyusun suatu tes yang berbentuk uraian yang berdasarkan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai. Tes itu kemudian diberikan ke siswa. Penskoran hasil tes
siswa menggunakan skala bebas yang tergantung dari bobot butir soal itu.
Kemampuan siswa
dapat dikelompokkan dalam skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar
yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (khuldi, 2011:28),
yaitu :
a. Tingkat penguasaan 00% - 54% atau skor 0 – 54
dikategorikan sangat rendah.
b. Tingkat penguasaan 55% - 64% atau skor 55 – 64 dikategorikan rendah.
c. Tingkat penguasaan 65 - 79% atau skor 65 – 79
dikategorikan sedang.
d. Tingkat penguasaan 80% - 89% atau skor 80 – 89
dikategorikan tinggi.
e. Tingkat penguasaan 90%-100% atau skor 90 – 100 dikategorikan
sangat tinggi.
2.
Lembar
Pengamatan Aktivitas Siswa Dan Aktivitas Guru Selama Pembelajaran
Untuk mengetahui
aktivitas siswa dan guru selama pembelajaran berlangsung, digunakan lembar observasi. Lembar observasi
ini dibuat untuk mengetahui bagaimana
kegiatan siswa dan guru di kelas dengan menerapkan Pembelajaran Matematika
Realistik dan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah disusun. Lembar
observasi ini diisi oleh pengamat yang khusus memperhatikan keadaan kelas.
Adapun aktivitas guru yang perlu diamati yaitu dalam hal menyampaikan
pendahuluan, memberi informasi/menjelaskan materi, mengamati kegiatan siswa,
memberi petunjuk/ bimbingan, memotivasi, memberi pertanyaan, dan lain-lain.
Sedangkan kegiatan siswa yang perlu diamati dan biasanya terjadi dalam kelas
yaitu mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru dan siswa lain, diskusi
dengan teman, membaca (Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa, Kerja Soal Latihan),
diskusi dengan guru, perilaku lain yang tidak relevan seperti tidur, mengantuk,
melamun, dan lain sebagainya.
3.
Respon Siswa
Terhadap Kegiatan Pembelajaran
Respon siswa
terhadap kegiatan pembelajaran diketahui melalui angket. Angket dibagikan
kepada siswa dan diisi setelah pembelajaran dilakukan. Hasil dari angket ini
adalah pertimbangan untuk memperbaiki perangkat. Respon siswa terhadap kegiatan
pembelajaran dapat berupa pendapat atau komentar mereka terhadap materi
pelajaran, kegiatan pembelajaran, dan perangkat yang digunakan.
4.
Lembar
Pengamatan Pengelolaan
Lembar pengamatan
pengelolaan pembelajaran digunakan untuk mengetahui kemampuan guru dalam
mengelola kelas. Untuk itu, harus ada pengamat yang mengisi lembar pengamatan
pengelolaan pembelajaran matematika realistik. Melalui pengamatan, dapat
diketahui kegiatan guru dalam menerapkan pembelajaran matematika realistik
sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah dibuat. Selain
itu, juga dapat menjadi masukan untuk memperbaiki rencana pelaksanaan pembelajaran. Aspek-aspek yang diamati yaitu
mempersiapkan dan memotivasi siswa, menyajikan informasi dan melibatkan siswa
memahami masalah kontekstual, mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar
dan memberikan tugas kelompok, membimbing kelompok, evaluasi, memberikan
penghargaan, dan suasana kelas (siswa antusias, guru antusias, kegiatan sesuai
RPP)
5.
Lembar Validasi Perangkat Pembelajaran
Lembar validasi perangkat pembelajaran digunakan untuk memperoleh informasi
tentang kualitas perangkat pembelajaran berdasarkan penilaian para ahli.
Informasi yang diperoleh melalui instrumen ini digunakan sebagai masukan dalam
merevisi semua perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan. Pada lembar
validasi perangkat pembelajaran, validator menuliskan penilaian terhadap
masing-masing perangkat yang terdiri dari: Buku Siswa (BS), Lembar Kegiatan
Siswa (LKS), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Tes Hasil Belajar (THB).
Penilaian terdiri dari 5 kategori, yaitu tidak valid (nilai 1), kurang valid
(nilai 2), cukup valid (nilai 3), valid (nilai 4) dan sangat valid (nilai 5).
F. Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan dengan
menggunakan instrumen-instrumen seperti yang telah disebutkan pada bagian E,
selanjutnya dianalisis secara kuantitatif dan diarahkan untuk menjelaskan
kevalidan, keefektifan dan kepraktisan perangkat pembelajaran dengan
pendekatan realistik yang tengah dikembangkan. Data yang diperoleh dari hasil
validasi oleh para ahli dianalisis untuk menjelaskan kevalidan dan kelayakan
penggunaan perangkat pembelajaran matematika realistik di kelas. Adapun data
hasil ujicoba di kelas digunakan untuk menjelaskan keefektifan dan kepraktisan
perangkat pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik.
Berikut ini dikemukakan tentang analisis
data kevalidan, kepraktisan dan keefektifan.
1. Analisis Data Kevalidan Perangkat Pembelajaran
Matematika Realistik
Berdasarkan data hasil
penilaian kevalidan perangkat pembelajaran matematika realistik oleh dua
validator/ahli, yaitu orang yang dipandang ahli dalam bidang pendidikan
matematika, dihitung nilai rata-rata V dari V1 dan V2
dengan V1 = nilai rata-rata yang diperoleh dari validator pertama
dan V2 = nilai rata-rata yang diperoleh dari validator kedua. Nilai
V ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan interval penentuan kategori validitas
perangkat pembelajaran matematika realistik, yaitu:
Ket:
SV (Sangat
Valid) =
V (Valid)
=
CV (Cukup
Valid) =
KV (Kurang
Valid) =
TV (Tidak
Valid) =
Keterangan: V adalah validitas perangkat
pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik.
Kriteria yang digunakan untuk
memutuskan bahwa perangkat pembelajaran matematika realistik yang terdiri dari
buku siswa, LKS dan RPP memiliki derajat validitas yang memadai adalah (i)
nilai V untuk keseluruhan aspek pada buku siswa, LKS dan RPP minimal berada
dalam kategori “cukup valid”, dan (ii) nilai V untuk setiap aspek
minimal berada dalam kategori “valid”. Apabila tidak demikian, maka
perlu dilakukan revisi berdasarkan saran para validator atau dengan melihat
kembali aspek-aspek yang nilainya kurang. Selanjutnya dilakukan validasi ulang
lalu dianalisis kembali. Demikian seterusnya sampai memenuhi nilai V minimal
berada di dalam kategori valid, (Darwis, 2007:112).
2. Analisis Data Keefektifan Perangkat Pembelajaran
Matematika Realistik
Analisis terhadap
keefektifan perangkat pembelajaran matematika realistik didukung oleh hasil
analisis data dari 5 komponen keefektifan, yaitu (1) hasil belajar siswa atau
ketuntasan klasikal, (2) aktivitas siswa, (3) respon siswa, (4) aktivitas guru,
dan (5) pengelolaan pembelajaran matematika realistik oleh guru. Oleh karena
itu, kegiatan analisis data terhadap kelima komponen itu adalah sebagai
berikut:
a. Analisis Data Hasil Belajar Siswa
Analisis dilakukan terhadap skor-skor
yang diperoleh siswa dari Tes Hasil Belajar yang diberikan setelah semua materi
tuntas dibahas. Kriteria yang digunakan untuk menentukan skor adalah skala lima
berdasarkan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan (Khuldi, 2011:28) yaitu:
a. Tingkat penguasaan 00% - 54% atau skor 0 – 54
dikategorikan sangat rendah.
b. Tingkat penguasaan 55% - 64% atau skor 55 – 64 dikategorikan rendah.
c. Tingkat penguasaan 65 - 79% atau skor 65 – 79
dikategorikan sedang.
d. Tingkat penguasaan 80% - 89% atau skor 80 – 89
dikategorikan tinggi.
e. Tingkat penguasaan 90% - 100% atau skor 90 – 100
dikategorikan sangat tinggi.
Standar umum di atas kemudian
dimodifikasi kembali agar skor kemampuan menyelesaikan masalah atau soal-soal
matematika pada siswa dapat tergambarkan secara jelas, sebagai berikut :
a. Tingkat penguasaan
0
54
dikategorikan sangat rendah
b. Tingkat penguasaan
55
< 64 dikategorikan rendah
c. Tingkat penguasaan
65
< 79 dikategorikan sedang
d. Tingkat penguasaan
80
< 89 dikategorikan tinggi
e. Tingkat penguasaan
90
< 100 dikategorikan sangat tinggi.
Pada materi Bilangan Pecahan Standar
Kriteria Ketuntasan Minimal (SKKM) yang harus dipenuhi oleh seorang siswa
adalah 65 Jika seorang siswa memperoleh
maka siswa yang
bersangkutan mencapai ketuntasan individu. Jika minimal 75% siswa mencapai skor
minimal 65, maka ketuntasan klasikal telah tercapai (SKKM ditentukan oleh pihak
sekolah bersangkutan).
b. Analisis Data Aktivitas Siswa
Data hasil observasi aktivitas siswa
selama kerjasama dalam kelompok dilaksanakan dianalisis dan dideskripsikan.
Untuk mencari rata-rata frekuensi dan rata-rata persentase waktu yang digunakan
siswa melakukan aktivitas selama kerjasama dalam kelompok ditentukan melalui
langkah-langkah berikut:
1) Hasil pengamatan aktivitas siswa untuk setiap
indikator dalam satu kali pertemuan ditentukan frekuensinya dan dicari
rata-rata frekuensinya. Selanjutnya, ditentukan frekuensi rata-rata dari
rata-rata frekuensi untuk beberapa kali pertemuan.
2) Mencari persentase frekuensi setiap indikator
dengan cara membagi besarnya frekuensi dengan jumlah frekuensi untuk semua
indikator. Kemudian hasil pembagian dikali 100%. Selanjutnya dicari rata-rata
persentase waktu untuk beberapa kali pertemuan dan dimasukkan dalam tabel
rata-rata persentase.
Selanjutnya persentase waktu untuk
setiap indikator dirujuk terhadap kriteria pencapaian waktu ideal aktivitas
siswa yang tersaji pada Tabel 3.1 berikut ini:
Tabel 3.1 Kriteria Pencapaian Waktu Ideal
Aktivitas Siswa
|
No.
|
Kategori Aktivitas Siswa
|
Waktu Ideal
|
Interval Toleransi PWI (%)
|
Kriteria
|
|
1.
|
Memperhatikan
informasi dan mencatat seperlunya
|
15% dari WT
|
10-20
|
Lima dari 9 kategori
dipenuhi dan (3), (4), (7), (8) harus dipenuhi
|
|
2.
|
Membaca LKS, materi pembelajaran atau buku siswa
|
12,5% dari WT
|
7-17
|
|
|
3.
|
Aktif terlibat dalam tugas
|
22,5
% dari WT
|
17-27
|
|
|
4.
|
Aktif berdiskusi dengan teman
|
15% dari WT
|
10-20
|
|
|
5.
|
Mencatat apa yang disampaikan teman
|
12,5% dari WT
|
7-19
|
|
|
6.
|
Mengajukan pertanyaan kepada teman/guru
|
7,5% dari WT
|
2-12
|
|
|
7.
|
Menjawab/menanggapi pertanyaan teman/guru
|
7,5 % dari WT
|
2-12
|
|
|
8.
|
Memberi bantuan penjelasan kepada teman yang
membutuhkan
|
7,5 % dari WT
|
2-12
|
|
|
9.
|
Kegiatan di luar tugas
|
0 % dari WT
|
0 – 5
|
Keterangan: PWI adalah persentase waktu indikator
WT
adalah waktu tersedia pada setiap pertemuan
c. Analisis Respon Siswa
Kegiatan yang dilakukan untuk
menganalisis data respon siswa terhadap perangkat pembelajaran matematika realistik adalah sebagai berikut:
1) Menghitung banyak siswa yang memberi respons positif
sesuai dengan aspek yang ditanyakan
2) Menghitung persentase dari (1)
3) Menentukan kategori untuk respons positif siswa
dengan mencocokkan hasil persentase dengan kriteria yang ditetapkan
4) Jika hasil analisis menunjukkan bahwa respons
siswa belum positif, maka dilakukan revisi terhadap perangkat yang tengah
dikembangkan.
Kriteria yang ditetapkan untuk
menyatakan bahwa para siswa memiliki respon positif terhadap perangkat pembelajaran
matematika realistik adalah 50% dari mereka memberi respon positif terhadap
minimal 70% jumlah aspek yang ditanyakan.
d. Analisis Data Aktivitas Guru
Data hasil observasi aktivitas guru
selama kerjasama dalam kelompok dilaksanakan dianalisis dan dideskripsikan. Untuk
mencari rata-rata frekuensi dan rata-rata persentase waktu yang digunakan guru
selama aktivitas siswa bekerjasama dalam kelompok ditentukan melalui
langkah-langkah berikut:
1) Mencari persentase frekuensi setiap indikator pada
tiap pertemuan dengan cara membagi besarnya frekuensi dengan jumlah frekuensi
untuk semua indikator. Kemudian hasil pembagian dikali 100%.
2) Selanjutnya dicari rata-rata persentase waktu
untuk beberapa kali pertemuan dan dimasukkan dalam tabel rata-rata persentase.
Selanjutnya persentase waktu untuk
setiap indikator dirujuk terhadap kriteria pencapaian waktu ideal aktivitas
guru yang tersaji pada Tabel 3.2 berikut ini:
Tabel 3.2 Kriteria
Pencapaian Waktu Ideal Aktivitas Guru
|
No.
|
Kategori Aktivitas Guru
|
Waktu Ideal
|
Interval Toleransi PWI (%)
|
Kriteria
|
|
1.
|
Menginformasikan
masalah yang harus dikerjakan bersama
|
10% dari WT
|
5 – 15
|
Kategori (2), (4), (5),
(6) dan (7) harus dipenuhi
|
|
2.
|
Meminta siswa
mengerjakan tugas LKS kelompok dengan kerjasama dalam kelompok
|
10% dari WT
|
5 - 15
|
|
|
3.
|
Memberi arahan
agar siswa selalu berada dalam tugas kelompok
|
20
% dari WT
|
15
- 25
|
|
|
4.
|
Mengontrol/berkeliling
memperhatikan kerja kelompok
|
20% dari WT
|
15
- 25
|
|
|
5.
|
Membimbing/memberi
bantuan kepada siswa dalam aktivitas kelompok
|
20% dari WT
|
15-25
|
|
|
6.
|
Mengajukan pertanyaan
yang merangsang berfikir siswa (pertanyaan yang membuka wawasan)
|
10% dari WT
|
5– 15
|
|
|
7.
|
Memberi umpan
balik
|
10%
dari WT
|
5 – 15
|
|
|
8.
|
Kegiatan di luar tugas,
misalnya duduk diam di kursi, membaca koran, keluar kelas, merokok dan sebagainya
|
0% dari WT
|
0 –
5
|
Keterangan: PWI adalah persentase waktu indikator
WT
adalah waktu tersedia pada setiap pertemuan
e. Analisis Pengelolaan Pembelajaran Matematika
Realistik
Analisis dilakukan terhadap hasil
penilaian dari satu observer yang mengamati kemampuan guru mengelola pembelajaran
matematika realistik di kelas. Pengamatan dilakukan terhadap kemampuan guru
melaksanakan tiap-tiap aspek dari sintaks pembelajaran matematika realistik.
Dari hasil observer selama empat kali pertemuan, ditentukan nilai rata-rata KG dari
pertemuan pertama sampai pertemuan keempat. Nilai KG ini selanjutnya
dikonfirmasikan dengan interval penentuan kategori kemampuan guru mengelola
pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik, yaitu:
Keterangan:
- SV (Sangat Valid) =
- V (Valid) =
·
CV (Cukup
Valid) =
- KV (Kurang Valid) =
- TV (Tidak Valid) =
Kriteria yang digunakan
untuk memutuskan bahwa kemampuan guru mengelola pembelajaran matematika realistik
memadai adalah nilai KG minimal berada dalam kategori “tinggi”, berarti
penampilan guru dapat dipertahankan. Apabila KG berada di dalam kategori
lainnya, maka guru harus meningkatkan kemampuannya dengan melihat kembali
aspek-aspek yang nilainya kurang. Selanjutnya dilakukan kembali pengamatan
terhadap kemampuan guru mengelola pembelajaran matematika realistik, lalu
dianalisis kembali. Demikian seterusnya sampai memenuhi nilai KG minimal berada
di dalam kategori cukup/sedang, (Darwis, 2007:121).
Pada akhirnya kriteria yang ditetapkan
untuk menyatakan perangkat pembelajaran matematika realistik bersifat efektif
adalah minimal 3 dari 5 poin di atas dipenuhi dengan syarat poin (1) yaitu
ketuntasan klasikal harus terpenuhi.
3. Analisis Data Kepraktisan Perangkat Pembelajaran
Matematika dengan Pendekatan Realistik
Data kepraktisan perangkat pembelajaran
matematika realistik terdiri dari dua bagian, yaitu: (1) data hasil penilaian
kelayakan penggunaan perangkat pembelajaran matematika realistik dari praktisi
(guru matematika) dan (2) keterlaksanaan pembelajaran matematika realistik
secara umum dari satu observer.
Dengan demikian untuk menganalisis
data kepraktisan, dipertimbangkan kedua bagian tersebut sebagai berikut:
a. Analisis Data Hasil Penilaian Kelayakan Penggunaan
Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik
Data yang diperoleh dari
hasil validasi oleh para ahli yang telah dijabarkan pada point 1 di atas dapat
dijadikan sebagai hasil penilaian kelayakan penggunaan perangkat pembelajaran
matematika realistik.
Kriteria yang digunakan untuk
memutuskan bahwa perangkat pembelajaran matematika realistik memiliki derajat
kelayakan yang memadai adalah nilai V untuk keseluruhan perangkat pembelajaran
matematika realistik yang tengah dikembangkan minimal berada dalam kategori
“cukup valid”, berarti perangkat tidak direvisi. Apabila nilai V berada di
dalam kategori lainnya, maka perlu dilakukan revisi berdasarkan saran para
validator atau dengan melihat kembali aspek-aspek yang nilainya kurang.
Selanjutnya dilakukan validasi ulang lalu dianalisis kembali. Demikian
seterusnya sampai memenuhi nilai V minimal berada di dalam kategori valid.
b. Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran
Matematika Realistik
Analisis data keterlaksanaan
pembelajaran yang dimaksud disini adalah kemampuan guru mengelola pembelajaran
matematika realistik.
G.
Desain
Pengembangan Perangkat Pembelajaran dengan Ujicoba Terbatas
|
Perumusan Tujuan Pembelajaran
|
|
Pemilihan Media
|
|
Analisis Kurikulum
|
|
Analisis Siswa
|
|
Analisis Konsep
|
|
Analisis Tugas
|
|
Tahap Pembatasan
|
|
Penyusunan Tes
|
|
Pemilihan Format
|
|
Desain Awal Perangkat pembelajaran (Draft
1)
|
|
Tahap Rancangan
|
|
Validasi perangkat
|
|
Revisi (Draft 2)
|
|
1. Ujicoba
2. Pelaksanaan PBM
3. Observasi
|
|
Data Hasil Ujicoba
|
|
Analisis dan Revisi
|
|
Draft 3
|
|
Validasi dan Revisi
|
|
Tahap
Pengembangan
|
|
Draft Akhir
|
Diagram 3.1 Desain
pengembangan perangkat pembelajaran dengan
ujicoba
terbatas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar