Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: KOMPARASI HASIL BELAJAR PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL MELALUI PENDEKATAN PROBLEM SOLVING DAN PROBLEM POSING PADA SISWA KELAS VII SMPN SATU ATAP TERASA KEC. SINJAI BARAT KAB. SINJAI



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada dasarnya merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Perkembangan di bidang pendidikan merupakan sarana dan wadah dalam pembinaan Sumber Daya Manusia. Oleh karena itu pendidikan perlu mendapatkan perhatian dalam penanganan baik dari pemerintah, masyarakat, dan keluarga. Lembaga pendidikan senantiasa mengadakan peningkatan dan penyempurnaan mutu pendidikan. Salah satunya adalah penggunaan model pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran. Strategi pembelajaran juga mempunyai peranan yang penting, karena strategi pembelajaran merupakan salah satu penunjang utama berhasil atau tidaknya seorang guru dalam mengajar.
Untuk menghasilkan manusia Indonesia berkualitas dan mampu menjawab tantangan zaman yang semakin membutuhkan kemampuan kompetitif, maka jalur pendidikan merupakan salah satu jalan keluar. Melalui pendidikan dapat tercipta sumber daya manusia yang handal seperti yang diharapkan bersama.
Pemerintah dengan segala upayanya mendukung tujuan tersebut dengan berbagai macam langkah, misalnya dengan membangun dan melengkapi sarana dan prasarana pendidikan, meningkatkan kemampuan profesional tenaga pendidik, mengembangkan kurikulum dan lain sebagainya.

Matematika merupakan disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas kalau dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain. Sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam mata pelajaran matematika. Rendahnya daya serap siswa dapat dengan mudah dilihat bila siswa sedang belajar di dalam kelas. Banyak siswa yang tidak hanya kurang mampu memahami konsep matematika yang diajarkan, tetapi juga berusaha menghindari dari mata pelajaran matematika ataukah pura-pura senang dengan mata pelajaran matematika.
Oleh karena itu, kegiatan belajar mengajar matematika seyogyanya tidak disamakan begitu saja dengan ilmu lain, karena peserta didik yang belajar matematika itupun berbeda-beda pula kemampuannya, maka kegiatan belajar mengajar haruslah diatur sekaligus memperhatikan kemampuan yang belajar dan hakekat matematika itu serta diperlukan adanya pendekatan yang dipandang sejalan dengan kondisi siswa.
 Pendekatan yang dianggap sangat relevan adalah problem solving dan problem posing. Problem solving sangat penting dalam pelajaran matematika, mengingat masih banyak siswa yang merasa kesulitan dalam mengkonstruksikan dan mengaplikasikan ide-ide oleh karena itu siswa perlu memecahkan banyak masalah agar merasa senang terhadap prosesnya. Sedangkan problem posing adalah salah satu cara pendekatan yang menghadapkan peserta didik pada suatu masalah dan menelaah masalah dari bermacam-macam segi, serta merumuskan masalah kemudian mencari pemecahan masalah dengan berbagai macam jalan yang coba diterapkan.

English dalam Siswono ( Hanifah,  2002) berpendapat bahwa pendekatan
problem posing dapat membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan
kesukaan anak terhadap matematika, sebab ide-ide matematika siswa dicobakan untuk memahami masalah yang sedang dikerjakan dan dapat meningkatkan performanya dalam pemecahan masalah. Siswono ( Hanifah, 2002 ) berpendapat bahwa dalam pembelajaran matematika, sebenarnya problem posing (pengajuan soal) merupakan suatu wadah pembelajaran yang efektif, karena kegiatan dalam problem posing tersebut sesuai dengan pola pikir matematis.
Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh penulis dari guru matematika SMPN Satu Atap Terasa Kec.Sinjai Barat Kab.Sinjai, bahwa persoalan yang perlu segera mendapat perhatian sehubungan dengan rendahnya hasil belajar  matematika siswa kelas VII dimana rata-rata hasil belajarnya adalah 60,00 sementara standar ketuntasan minimalnya adalah 65,00.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Komparasi Hasil Belajar Persamaan Linear Satu Variabel Melalui Pendekatan Problem Solving dan Problem Posing  pada Siswa Kelas VII SMPN Satu Atap Terasa Kec.Sinjai Barat Kab.Sinjai.






B.  Rumusan  Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah-masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1        Seberapa besar hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN Satu Atap Terasa Kec.Sinjai Barat Kab.Sinjai yang diajar dengan menggunakan pendekatan problem solving?
2        Seberapa besar hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN Satu Atap Terasa Kec.Sinjai Barat Kab.Sinjai yang diajar dengan menggunakan pendekatan problem posing ?
3  Adakah perbedaan hasil belajar matematika yang menggunakan pendekatan problem solving dengan pendekatan problem posing pada siswa kelas kelas VII SMPN Satu Atap Terasa Kec.Sinjai Barat Kab.Sinjai ?

C.  Tujuan Penelitian
            Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN Satu Atap Terasa Kec.Sinjai Barat Kab.Sinjai yang diajar dengan menggunakan pendekatan problem solving.
2.      Untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas kelas VII SMPN Satu Atap Terasa Kec.Sinjai Barat Kab.Sinjai yang diajar dengan menggunakan pendekatan problem posing.
3.      Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar matematika melalui pendekatan problem posing dengan pendekatan problem posing siswa kelas kelas VII SMPN Satu Atap Terasa Kec.Sinjai Barat Kab.Sinjai ?

D.  Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.      Bagi siswa, dengan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2.      Bagi guru, meningkatkan profesionalime seorang guru dan memberikan informasi tentang kemajuan yang diperoleh siswa.
3.      Bagi sekolah, Sebagai informasi yang dapat dijadikan bahan pertimbangan atau masukan untuk mendapatkan pola pembelajaran yang efektif dalam setiap proses pembelajaran.
4.    Bagi peneliti, Diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pendekatan problem solving dan problem posing,
  sekaligus memberi motivasi bagi peneliti lain untuk melakukan  penelitian  sejenis.






BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, HIPOTESIS PENELITIAN
A.    Kajian Pustaka         
1.      Pengertian Hasil Belajar
Istilah  hasil  belajar   tersusun atas  dua  kata  yaitu hasil  dan  belajar. Di dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia dikemukakan hasil berarti “sesuatu yang didapat dari jerih payah, sedangkan belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku pada siswa akibat adanya interaksi antara individu dan lingkungannya melalui proses pengalaman dan latihan
Abdussakir ( Hendra, 2009 ) Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya seperti pengalaman dan pelatihan. Belajar juga merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tanpa mengenal batas usia dan berlangsung seumur hidup. Dengan demikian, hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan prilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Dimana perubahan tersebut diharapkan ke arah yang positif.
Suryanto ( Hendra, 2010 )Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakuakan dalam belajar untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara kesaluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
As’ari ( Hendra, 2010) Belajar matematika adalah suatu aktivitas mental untuk memahami arti dari hubungan-hubungan dan simbol-simbol nyata. Maka pengertian belajar dalam konteks matematika merupakan suatu proses aktif yang sengaja dilakukan untuk memperoleh pengetahuan baru dengan memanipulasi simbol-simbol dalam struktur matematika sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku pada diri pebelajar.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang berlangsung untuk mencapai perubahan tingkah laku. Perubahan ini merupakan hasil dari pengalaman yang disengaja bukan karena faktor kebetulan atau tiba-tiba terjadi pada individu.
Utari ( Hardianti, 2005 ) Hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan  informasi) pengelolaan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
          Utari ( Hardianti, 2005 )Hasil belajar tidak pernah dihasilkan selama seseorang  tidak melakukan kegiatan belajar. Kenyataan menunjukkan bahwa untuk mendapatkan hasil belajar yang baik tidak semudah yang dibayangkan, akan tetapi perlu perjuangan dan penuh tantangan yang  harus dihadapi untuk dapat  mencapainya.
Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar. Masalah yang dihadapi adalah sampai ditingkat mana prestasi(hasil) belajar yang telah dicapai. Sehubungan dengan hal inilah keberhasilan proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf.
Menurut Abdussakir ( Hendra, 2009 ) Adapun tingkat-tingkat hasil belajar sebagai berikut:
1.         Istimewa/maksimal: apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
2.         Baik sekali/optimal: apabila sebagian (75% - 99%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
3.         Baik/minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya (60% - 74%) saja dikuasai oleh siswa.
4.         Kurang: apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dikuasai oleh siswa. Berdasarkan rangking hasil belajar di atas, yang terdiri dari istimewa yang menempati peringkat tertinggi, baik sekali dengan tingkatan optimal, baik dengan tingkatan minimal dan kurang apabila bahan pelajaran kurang dari 60% merupakan tingkatan-tingkatan hasil belajar yang biasa diperoleh para siswa.
Dengan menelaah uraian tersebut maka dapat dipahami makna kata “hasil“ dan “belajar”. Hasil belajar pada dasarnya adalah hasil dari proses yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dalam diri individu.dan selain itu juga dapat dinyatakan bahwa hasil belajar merupakan suatu ukuran yang menyatakan sejauh mana tujuan pengajaran yang telah diberikan atau ditetapkan oleh sekolah.




2.      Hasil Belajar Matematika
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Latiep, 2006), hasil diartikan sebagai sesuatu yang telah dicapai dari apa yang telah dilakukan atau dikerjakan sebelumnya. Jadi, hasil dapat diartikan sebagai sesuatu yang diperoleh dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individual maupun kelompok. Hasil tersebut tidak akan pernah diperoleh jika seseorang tidak melakukan suatu kegiatan.
Hasil belajar merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha tertentu.
Hasil belajar matematika yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai bahan pelajaran setelah memperoleh pengalaman belajar matematika dalam suatu kurun waktu tertentu. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam usaha belajarnya tersebut digunakan suatu alat ukur yang disebut tes hasil belajar.

3.        Pendekatan Pembelajaran Matematika
Pendekatan (approach) pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu. Pendekatan pembelajaran merupakan aktivitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran, apakah guru akan menjelaskan suatu pengajaran dengan materi bidang studi yang sudah tersusun dalam urutan tertentu ataukah dengan menggunakan materi yang terkait satu dengan lainnya dalam tingkat kedalaman yang berbeda, atau bahkan merupakan materi yang terintegrasi dalam suatu kesatuan multi disiplin ilmu. Pendekatan pembelajaran ini sebagai penjelas untuk mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru, dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan (Sagala, 2006).
Pendekatan pembelajaran matematika adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran matematika agar konsep yang disajikan dapat diadaptasikan oleh siswa. Ada dua jenis pendekatan dalam pembelajaran matematika, yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan pendekatan yang bersifat materi. Pendekatan metodologi berkenaan dengan cara siswa mengadaptasi konsep yang disajikan ke dalam struktur kognitifnya, yang sejalan dengan cara guru menyajikan bahan tersebut. Sedangkan pendekatan material yaitu pendekatan pembelajaran matematika di mana dalam menyajikan konsep matematika melalui konsep matematika lain yang telah dimiliki siswa (Suherman, 2003:6).
Oleh karena itu pendekatan pembelajaran matematika yang dimaksud adalah suatu cara dalam penyampaian bahan pelajaran matematika untuk mencapai tujuan pembelajaran.




4.        Pendekatan Problem Solving
Memecahkan suatu masalah merupakan suatu aktivitas dasar bagi manusia. Oleh karena itu, kita perlu mencari penyelesaiannya. Dalam memecahkan suatu masalah, kita dapat menggunakan beberapa cara penyelesaian. Bila kita gagal dengan suatu cara untuk menyelesaikan suatu masalah, kita harus menggunakan cara yang lain.
Suatu masalah biasanya memuat suatu situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya. Jika suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut langsung mengetahui cara menyelesaikannya dengan benar, maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai suatu masalah.
Dalam suatu proses belajar mengajar matematika, pertanyaan yang dihadapkan kepada siswa biasanya disebut soal. Dengan demikian soal-soal matematika dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:
a.    Soal berupa latihan, yang diberikan pada waktu belajar matematika adalah bersifat berlatih agar terampil atau sebagai aplikasi dari pengertian yang baru saja diajarkan.
b.    Soal berupa masalah, menghendaki siswa untuk menggunakan sintesa atau analisa. Untuk menyelesaikan soal berupa masalah ini, siswa tersebut harus menguasai hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya yaitu mengenai pengetahuan, keterampilan dan pemahaman, tetapi dalam hal ini ia menggunakannya dalam hal suatu situasi yang baru.

Menurut Polya (Latiep, 2006) terdapat dua macam masalah:
a.    Masalah untuk menemukan, dapat berupa teoritis atau praktis, abstrak atau konkrit, termasuk teka-teki. Kita harus mencari semua variabel masalah tersebut, kita mencoba mendapatkan, menghasilkan, atau mengkonstruksi semua jenis objek yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah itu. Bagian utama dari masalah itu adalah:
-          Apakah yang dicari?
-          Bagaimana data yang diketahui?
-          Bagaimana syaratnya?
Ketiga bagian utama tersebut sebagai landasan untuk dapat menyelesaikan masalah jenis ini.
b.    Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu pernyataan itu benar atau salah atau tidak kedua-duanya. Kita harus menjawab pertanyaan “Apakah pernyataan itu benar atau salah?” bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesa dan konklusi dari suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. Kedua bagian utama tersebut sebagai landasan untuk dapat menyelesaikan masalah jenis ini.
Dalam proses belajar mengajar matematika, pemecahan masalah adalah upaya yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari solusi terhadap suatu masalah faktual yang dihadapi sehari-hari. Solusi ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi siswa dalam menghadapi masalah tersebut.
Teknik pemecahan masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan penyelesaiannya dan apabila siswa dapat menemukan sendiri ada kesenangan atau kepuasan tertentu, sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk mempelajari prinsip-prinsip atau konsep yang diberikan.
Oleh karena itu pemecahan masalah mempunyai fungsi penting didalam kegiatan belajar mengajar. Guru menyajikan masalah-masalah sebab melalui penyelesaian masalah, siswa dapat berlatih dan mengintegrasikan konsep-konsep, teorema-teorema dan keterampilan yang telah dipelajarinya. Hal ini penting bagi siswa untuk berlatih memproses data atau keterangan.
Mengajar dengan menggunakan pendekatan problem solving adalah cara mengajar dengan membimbing siswa untuk menyelesaikan soal yang diberikan tanpa didahului dengan adanya contoh yang memberikan langkah-langkah yang jelas untuk mendapatkan hasilnya. Dalam arti bahwa mengajar dengan menggunakan metode pemecahan masalah, materi-materi yang diajarkan masih merupakan masalah dan diserahkan kepada siswa untuk menyelesaikannya.
Utari ( Hardianti. 2005 : 14 ) Problem Solving merupakan usaha nyata dalam rangka mencari jalan keluar atau ide yang berkenang dengan tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan pendekatan Problem Solving merupakan pendekatan yang mengharuskan siswa untuk menemukan jawaban dari masalah yang dihadapi. Newel dan Salman ( Darmiati, 2006 : 8 ) menyatakan bahwa “ what series of action  he can enform to et it “ dengan defenisi ini dapat dinyatakan bahwa suatu masalah merupakan suatu situasi di mata seseorang membutuhkan sesuatu, tetapai ia tidak mengetahui dengan cara atau langkah – langkah apakah yang dapat untuk memenuhinya.
Menurut Gyorgy polya ( Hardianti. 2005 ) penerapan tehnik heuristics ini dalam pemecahan masalah matematika mengikuti langkah – langkah yaitu: understanding the problem (memahami masalah), devise a plan (merencanakan pemecahannya), carryng out the plan (menyelesaikan masalah sesuai rencana), looking  back ( memeriksa kembali prosedur  dan hasil penyelesaian).
1.      Understanding the problem (memahami masalah),
      Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah:
      Apa ( data )  yang diketahui, apa yang diketahui ( ditanyakan ), apa informasi cukup, kondisi (syarat) apa yang harus dipenuhi, menyatakan kembali masalah – masalah asli dalam bentuk  yang lebih operasional (dapat dipecahkan).
2.      Devise a plan (merencanakan pemecahannya)
Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah:
Mencoba mencari atau mengingat masalah yang pernah diselesaikan yang memiliki kemiripan dengan masalah yang dipecahkan, mencari pola atau aturan, atau menyusun prosedur penelitian.
3.      Carryng out the plan (menyelesaikan masalah sesuai rencana )
      Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah:
Menjalankan prosedur yang telah dibuat pada langkah sebelumya untuk   mendapat penyelasaian.
4.      Looking  back (memeriksa kembali prosedur  dan hasil penyelesaian)
      Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah:
      Menganalisis dan mengevaluasi apakah prosedur yang diterapkan dan hasil yang diperoleh benar, apakah ada prosedur lain yang lebih efektif, apakah prosedur yang dibuat dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sejenis, atau apakah prosedur dapat dibuat generalisasinya.
Kelebihan dari pendekatan ini adalah:
a.    Belajar pendekatan pemecahan masalah adalah belajar penuh makna.
b.    Dapat menimbulkan motivasi.
c.    Siswa belajar transfer konsep dan prinsip matematika ke situasi baru.
d.   Siswa lebih aktif berpartisipasi didalam proses belajar mengajar.
Kekurangan dari pendekatan ini adalah:
a.       Memerlukan waktu yang cukup lama.
b.      Kurang cocok bagi siswa yang berkemampuan rendah.
c.       Dibutuhkan guru yang mempunyai kesabaran dalam mengajarkan materi pelajaran dengan menggunakan pendekatan ini.

5.        Pendekatan Problem Posing
Problem posing berasal dari istilah bahasa Inggris yang berarti pengajuan masalah. Banyak para ahli merumuskan problem possing yang berbeda antara satu dengan lainnya. Suryanto (Hendra, 201) dan As’ari ( Hendra, 2010) memadankan istilah problem posing dengan pembentukan soal. Lain halnya dengan Nixon (Hendra, 2010) mengemukakan bahwa “problem posing is tool foor developing and strengthening critiacal thinking skills”. Nixon menyadari dengan adanya pendekatan problem posing maka siswa dilatih untuk mengembangkan pikirannya sehinnga setiap masalah matematika yang di hadapi oleh siswa tersebut dapat diselesaikannya sendiri.
Menurut Abdussakir ( Hendra, 2009 ) Problem posing memiliki beberapa pengertian. Pertama, problem posing ialah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit. Kedua, problem posing ialah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah diselesaikan dalam rangka mencari alternatif pemecahan lain. Ketiga, problem posing ialah perumusan soal dari informasi atau situasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, atau setelah penyelesaian suatu soal.
Adapun langkah-langkah problem posing terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
a.         Tahap Pendahuluan.
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan guru adalah memotivasi siswa, menjelaskan tujuan pembelajaran dan mengaitkan kembali materi-materi yang relevan, selain itu juga dapat mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan sebelumnya.
b.        Tahap Pengembangan
Tahap ini merupakan tahap inti kegiatan pembelajaran, guru menyajikan konsep dan prinsip serta contoh-contoh kepada siswa
c.         Tahap Penerapan
Tahap ini siswa diminta untuk menerapkan materi yang telah dipelajari pada materi yang lebih luas bentuk kegiatannya seperti mengerjakan soal-soal latihan untuk membuat tugas tertentu.
d.        Penutup
Guru bersama siswa membuat rangkuman pembelajaran. Rangkuman di susun berdasarkan aspek-aspek penting dari materi yang telah di   pelajari.


Kelebihan problem posing menurut Syaiful Fahmi dalam Budi Hartati        ( Hamdana, 2006 : 14 ), sebagai berikut:
a.         Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencapai pemahaman yang lebih luas dan menganalisis secara lebih mendalam tentang suatu topik.
b.        Memotivasi siswa untuk belajar lebih lanjut.
c.         Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan sikap kreatif, bertanggung jawab, berdiri sendiri.
d.        Pengetahuan akan lebih lama diingat siswa karena diperoleh dari hasil belajar atau hasil eksperimen yang berhubungan dengan minat mereka dan lebih terasa berguna untuk kehidupan mereka.
Sedangkan kelemahan-kelemahan problem posing sebagai berikut:
a.         Membutuhkan lebih banyak waktu bagi siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
b.        Menyita lebih banyak waktu bagi pengajar, khususnya untuk mengoreksi tugas.
c.         Siswa berkemampuan rendah tidak dapat menyelesaikan semua soal yang dibuatnya atau soal-soal yang dibuat oleh temannya yang memiliki kemampuan problem posing yang lebih tinggi.
Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengajuan masalah matematika merupakan reaksi siswa terhadap situasi yang telah disediakan oleh guru. Reaksi tersebut berupa respon dalam bentuk pertanyaan matematika, terlepas dari apakah pertanyaan tersebut dapat di pecahkan atau tidak.

6.      Materi Ajar
A.   Kalimat Terbuka
 1.    Pernyataan
            Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai berbagai macam kalimat berikut:
  a.    Jakarta adalah ibu kota Indonesia.
  b.    Gunung Merapi terletak di Jawa Tengah.
  c.      8 > –5.
Ketiga kalimat di atas merupakan kalimat yang bernilai benar, karena setiap orang mengakui kebenaran kalimat tersebut.
Selanjutnya perhatikan kalimat-kalimat berikut.
 a.    Tugu Monas terletak di Jogjakarta.
 b.    2 + 5 < –2
 c.    Matahari terbenam di arah timur.
Ketiga kalimat tersebut merupakan kalimat yang bernilai salah, karena setiap orang tidak sependapat dengan kalimat tersebut.
Dari urain di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.         pernyataan  adalah Kalimat yang dapat ditentukan nilai kebenarannya (bernilai benar atau salah).
2.         Kalimat yang benar adalah kalimat yang dapat mengandung informasii besar.
3.         Kalimat yang salah adalah kalimat yang mengandung informasi salah.
Dapatkah kalimat menjawab pertanyaan “Indonesia terletak di Benua x”. Jika x diganti Asia maka kalimat tersebut bernilai benar. Adapun jika x diganti Eropa maka kalimat tersebut bernilai salah. Kalimat seperti “Indonesia terletak di Benua x” disebut kalimat terbuka.
Contoh:
a.     3 – x = 6, x anggota himpunan bilangan bulat.
b.     12 – y = 7, y anggota himpunan bilangan cacah.
c.     z x 5 = 15, z anggota himpunan bilangan asli.
Kalimat 3 – x = 6, x anggota bilangan bulat akan bernilai benar jika x diganti dengan –3 dan akan bernilai salah jika x diganti bilangan selain –3. Selanjutnya, x disebut variabel, sedangkan 3 dan 6 disebut konstanta.
Kalimat terbuka adalah kalimat yang memuat variabel dan belum diketahui nilai kebenarannya. Variabel adalah lambang (simbol) pada kalimat terbuka yang dapat diganti oleh sebarang anggota himpunan yang telah ditentukan. Konstanta adalah nilai tetap (tertentu) yang terdapat pada kalimat terbuka. Himpunan penyelesaian dari kalimat terbuka adalah himpunan semua pengganti dari variabel-variabel pada kalimat terbuka sehingga kalimat tersebut bernilai benar.

B.    Persamaan Linear Satu Variabel
1.     Pengertian Persamaan Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel
Persamaan dengan satu variabel berpangkat satu atau berderajat satu disebut persamaan linear satu variabel.
Contoh:
2x – 3 = 5
Penyelesaian:
2x – 3 = 5
Variabel pada 2x – 3 = 5 adalah x dan berpangkat 1, sehingga persamaan 2x – 3 = 5 merupakan persamaan linear satu variabel.
2.     Himpunan Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel dengan
        Substitusi
Penyelesaian persamaan linear satu variabel dapat diperoleh dengan cara substitusi, yaitu mengganti variabel dengan bilangan yang sesuai sehinggan persamaan tersebut menjadi kalimat yang bernilai benar.
Contoh:
Tentukan himpunan penyelesaian dari persamaan x + 4 = 7, jika x variabel pada himpunan bilangan cacah.?
Penyelesaian:
Jika x diganti bilangan cacah, diperoleh
substitusi x = 0, maka 0 + 4 = 7 (kalimat salah)
substitusi x = 1, maka 1 + 4 = 7 (kalimat salah)
substitusi x = 2, maka 2 + 4 = 7 (kalimat salah)
substitusi x = 3, maka 3 + 4 = 7 (kalimat benar)
substitusi x = 4, maka 4 + 4 = 8 (kalimat salah)
Ternyata untuk x = 3, persamaan x + 4 = 7 menjadi kalimat yang benar.
Jadi, himpunan penyelesaian persamaan x + 4 = 7 adalah {3}.

3.        Persamaan-Persamaan yang Ekuivalen
Dua persamaan atau lebih dikatakan ekuivalen jika mempunyai himpunan penyelesaian yang sama dan dinotasikan dengan tanda “
Contoh:
a.  x – 3 = 5
Jika x diganti bilangan 8 maka 8 – 3 = 5 (benar).
Jadi, penyelesaian persamaan x – 3 = 5 adalah x = 8.
b.  2x – 6 = 10 ... (kedua ruas pada persamaan a dikalikan 2)
Jika x diganti bilangan 8 maka 2(8) – 6 = 10
                                                    16 – 6 = 10 (benar).
     Jadi, penyelesaian persamaan 2x – 6 = 10 adalah x = 8.
c.  x + 4 = 12 ... (kedua ruas pada persamaan a ditambah 7)
Jika x diganti bilangan 8 maka 8 + 4 = 12 (benar).
Jadi, penyelesaian persamaan x + 4 = 12 adalah x = 8.
Suatu persamaan dapat dinyatakan ke dalam persamaan yang ekuivalen dengan cara
a. menambah atau mengurangi kedua ruas dengan bilangan
yang sama;
b. mengalikan atau membagi kedua ruas dengan bilangan yang
sama.
4.    Grafik Himpunan Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel
Grafik himpunan penyelesaian persamaan linear satu variable ditunjukkan pada suatu garis bilangan, yaitu berupa noktah (titik/garis tebal).
Contoh:
Tentukan himpunan penyelesaian dari persamaan 4(2x + 3) = 10x + 8, jika x variabel pada himpunan bilangan bulat. Kemudian, gambarlah pada garis bilangan.
Penyelesaian:
            4(2x + 3) = 10x + 8
         8x + 12 = 10x + 8
 8x + 12 – 12 = 10x + 8 – 12 (kedua ruas dikurangi 12)
                 8x = 10x – 4
        8x – 10x = 10x – 4 – 10x (kedua ruas dikurangi 10x)
                –2x = –4
       –2x : (–2) = –4 : (–2) (kedua ruas dibagi –2)
                     x = 2
Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah {2}.
Grafik himpunan penyelesaiannya sebagai berikut:
–5 –4 –3 –2 –1   0   1   2   3   4   5   6   7



B.     Kerangka Pikir
Secara umum hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep matematika masih berada pada tataran yang rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika dan penguasaan siswa terhadap konsep dasar matematika, guru diharapkan mampu berkreasi dengan menetapkan model ataupun pendekatan pembelajaran matematika yang cocok. Pendekatan ini haruslah sesuai dengan materi yang akan diajarkan serta dapat mengoptimalkan suasana belajar.
Pendekatan problem solving memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan penyelesaiannya dan apabila siswa dapat menemukan sendiri ada kesenangan atau kepuasan tertentu, sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk mempelajari prinsip-prinsip atau konsep yang diberikan. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya mudah menguasai konsep dan materi pelajaran, namun juga tidak cepat lupa dengan apa yang telah diperolehnya tersebut. Dengan pendekatan ini pula, diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan meningkatnya hasil belajar siswa maka pendekatan ini dapat dikatakan efektif. Sedangkan problem posing dapat membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan anak terhadap matematika, sebab ide-ide matematika siswa dicobakan untuk memahami masalah yang sedang dikerjakan dan dapat meningkatkan performanya dalam problem solving. Problem posing (pengajuan soal) merupakan suatu wadah pembelajaran yang efektif, karena kegiatan dalam problem posing tersebut sesuai dengan pola pikir matematis.
Atau dengan kata lain proses belajar matematika dengan pendekatan problem solving lebih efektif baik daripada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem posing.

C.    Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori dan kerangka teoritik di atas, maka hipotesis  yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
“Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem solving  lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa jika dibandingkan dengan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem possing
Untuk keperluan pengujian statistik, hipotesis tersebut dirumuskan:
            H0 : μ1  μ2       Lawan          H1 : μ1  μ2
dengan:
μ1 = parameter yang menjelaskan hasil belajar siswa yang diajar dengan  menggunakan     pendekatan problem solving.
μ2 = parameter yang menjelaskan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan problem possing.


BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dengan melibatkan dua kelompok siswa dengan perlakuan yang berbeda dalam pembelajaran yaitu  kelompok eksperimen 1 dan  kelompok eksperimen 2. Untuk kelompok eksperimen 1 diajar dengan menggunakan pembelajaran matematika dengan  pendekatan problem solving sedangkan pada kelas eksperimen 2 diajar dengan menggunakan pendekatan problem posing.
B.       Variabel dan Desain Penelitian
1.   Variabel Penelitian
Variabel yang akan diselidiki dalam pada penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu variabel terikat dan variabel bebas. Hasil belajar matematika siswa sebagai variabel terikat dan pendekatan pembelajaran sebagai variabel bebas. Pendekatan pembelajaran yang akan diterapkan terdiri dari dua pendekatan, yaitu pendekatan problem solving (diberikan pada kelompok eksperimen 1) dan pendekatan problem posing (diberikan pada kelompok eksperimen 2).






2.   Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut:

Grup
Pretest
Variabel Terikat
Posttest
(R)
(R)
Eksperimen 1
Eksperimen 2
Y1
Y1
T1
T2
Y2
Y2

Keterangan:
E    : Kelas Eksperimen
K   : Kelas Kontrol
R   : Random
T    : Treatment (perlakuan)
Y1  : Pretest sebelum perlakuan
Y2  : Postes setelah perlakuan
Adapun desain penelitian yang digunakan dalam peneliatian ini adalah rancangan dengan jenis Desain Kelompok Kontrol Prates-Postes (The Pretest-Posttest Control Group Design). Rancangan penelitian ini melibatkan dua kelompok belajar yang diambil secara acak. Dimana satu kelas dijadikan kelas eksperimen 1 dan satu kelas eksperimen 2, kemudian diberi pretes untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2. Hasil pretes yang baik jika eksperimen 1 tidak berbeda secara signifikan. Kelas eksperimen 2  tidak diberikan perlakuan.


C.      Definisi Operasional Variabel
Pendekatan  mengajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah cara yang digunakan guru untuk mengajarkan bidang studi matematika. Pendekatan mengajar yang akan diterapkan dalam penelitian ini terdiri atas dua pendekatan yaitu, problem solving dan problem posing.
Hasil belajar matematika yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah nilai yang diperoleh siswa setelah perlakuan dilaksanakan.
D.      Populasi dan Sampel
a.       Populasi Penelitian
Adapun populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas   SMPN Satu  pada tahun ajaran 2011/ 2012 yang terdiri dari tiga kelas.
b.   Sampel Penelitian
Sampel  dari  penelitian  Atap Terasa Kec. Barat Kab. Sinjai ini  terdiri  dari  dua  kelas  yang  berjumlah  50 orang. Jenis pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling. Melalui teknik ini diperoleh kelas sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas  sebagai kelas eksperimen 2. Masing-masing kelas terdiri dari 25 orang siswa.
E.     Pelaksanaan Eksperimen
   Setelah menetapkan subjek penelitian, maka pelaksanaan penelitian dilaksanakan sebagai berikut:
a)            Menetapkan masing-masing siswa yang dijadikan subjek penelitian ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
b)            Memberikan tes awal kepada kedua kelompok, dengan soal yang sama.
c)            Melakukan kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sesuai perlakuan dengan frekuensi pertemuan yang sama (4 kali pertemuan).
d)           Setelah pembelajaran pada kedua kelompok, setiap responden diberikan tes hasil belajar dengan soal yang sama untuk kedua kelompok tersebut.
e)            Melakukan analisis pada data pretest dan posttest yang telah dikumpulkan.

F.     Instrumen Penelitian
        Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar matematika. Tes ini digunakan sebagai alat pengumpul data variable hasil belajar matematika setelah mengikuti proses belajar mengajar.
         Penyusunan tes hasil belajar matematika yang didasarkan pada kisi-kisi tes yang meliputi materi semester ganjil. Item-item tes dibuat pada materi yang diberikan selama penelitian yang terdapat pada semester ganjil kelas VII sesuai Garis-Garis Besar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

G. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data untuk hasil belajar siswa dilakukan dengan pemberian tes hasil belajar pada akhir perlakuan secara serentak kepada masing-masing responden pada kedua kelompok, yatu kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2. Data yang diperoleh merupakan data empirik yang kemudian akan dianalisis.
Metode observasi menggunakan lembar pengamatan keterampilan proses peserta didik untuk mengamati kegiatan peserta didik dan lembar pengamatan untuk  mengamati kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang diharapkan muncul dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan problem solving dan problem posing
Teknik yang digunakan untuk memperoleh data respon siswa adalah dengan membagikan angket kepada siswa setelah berakhirnya pertemuan terakhir untuk diisi sesuai dengan petunjuk yang diberikan.

H.      Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh adalah dengan menggunakan analisis statistika deskriptif dan analisis statistika inferensial.
1.      Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya, tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi, dalam Sugiyono (2010: 147). Dalam penelitian ini, analisis statistik dekriptif digunakan untuk mendeskripsikan  hasil belajar matematika siswa pada setiap kelompok yang telah dipilih.
Termasuk dalam statistik deskriptif antara lain penyajian data melalui tabel, grafik, diagram lingkaran, pictogram, perhitungan modus,  median, mean, perhitungan desil, persentil, standar deviasi, perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi,  perhitungan persentase, dalam Sugiyono (2010: 148).
Jenis data berupa hasil belajar selanjutnya dikategorikan secara kualitatif berdasarkan teknik standar pengkategorian dengan skala lima yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dalam Sanimbar (2011).
           Tabel 3.2 Teknik Kategori Standar Berdasarkan Ketetapan Depdiknas
Skor
Kategori
00 – 54
Sangat rendah
55 – 64
Rendah
65 – 79
Sedang
80 – 89
Tinggi
90 – 100
Sangat tinggi
                                                                                       
Disamping itu hasil belajar siswa juga diarahkan pada pencapaian hasil belajar secara individual. Kriteria seorang siswa dikatakan tuntas belajar apabila memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang ditentukan oleh sekolah yakni 60.
2.      Analisis Statistik Inferensial
Statistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan  untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Teknik statistik ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian. Sebelum menguji hipotesis penelitian, dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas.
a.       Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan langkah awal dalam menganalisis data secara spesifik. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak. Pada penelitian ini digunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan taraf signifikansi 5% atau 0,05, dengan syarat:
Jika Pvalue 0,05 maka distribusinya adalah normal
 Jika Pvalue < 0,05 maka distribusinya adalah tidak normal
b.      Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk menyelidiki variansi kedua sampel sama atau tidak. Uji yang digunakan adalah uji Levene’s Test. Uji ini dilakukan sebagai prasyarat dalam analisis t-Test. Jika sampel tersebut memiliki variansi yang sama, maka keduanya dikatakan homogen. Pada uji Levene’s Test digunakan taraf signifikansi 5% atau 0,05. Kriteria pengujian hipotesis adalah jika signifikansi lebih besar dari taraf signifikansi α = 0,05, maka secara statistik kedua varian sama atau data homogeny. Furqan (2008)
Adapun langkah-langkah dalam uji homogenitas adalah sebagai berikut:
1)      Menentukan apakah kedua varian (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol) adalah homogen atau tidak.
2)      Kriteria pengujian (berdasarkan probabilitas/ signifikansi)
         Jika Pvalue ≥ 0,05 maka kedua varian sama.
         Jika Pvalue < 0,05 maka kedua varian berbeda.
3)      Membandingkan probabilitas
         Nilai Pvalue ≥ 0,05 maka kedua varian adalah sama
4)      Menarik kesimpulan.
Untuk menguji hipotesis nol, bahwa rata-rata dua kelompok tidak berbeda maka digunakan t-Test. Namun pada dasarnya keduanya akan menghasilkan kesimpulan yang sama, yaitu menerima atau menolak hipotesis nol.  Pada penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H0:       Hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pendekatan problem solving sama dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pendekatan problem posing.
H1:       Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan problem solving lebih efektif dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pendekatan problem posing.
         Atau:
                      H0 : µ1  =  µ2      Lawan    H1 : µ1       µ2
         Dengan:
µ1=   Parameter hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan problem solving.
   µ2=   Parameter hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan      menggunakan pendekatan problem posing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar