BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu
pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan khususnya pendidikan dasar
dan menengah. Untuk itu peningkatan mutu pendidikan nasional merupakan
kebutuhan yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam program pembangunan
bangsa.
Fenomena rendahnya mutu pendidikan secara sistematis dapat ditelaah dari
aspek input, proses, dan output. Perbaikan, pengembangan, dan inovasi
pendidikan ketiga aspek tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang
berkualitas.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor yang dapat mempercepat
terjadinya proses perubahan dalam masyarakat dan mempengaruhi kehidupan manusia
baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam usaha pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi tersebut, matematika yang merupakan salah satu bidang
ilmu memegang peranan penting serta mempunyai andil yang sangat besar terhadap
perkembangan ilmu-ilmu yang lain.
|
Salah satu variasi metode pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan
hasil belajar siswa adalah model pembelajaran yang bersifat konstruktivistik,
dimana siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar. Salah satu model
pembelajaran dengan pendekatan konstruvistik adalah model pembelajaran
kooperatif dengan beberapa model pendekatan seperti JIGSAW, STAD dan lain-lain.
Model pembelajaran kooperatif yang cukup menarik untuk diteliti salah satunya
adalah model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan JIGSAW. Pembelajaran
kooperatif ini merupakan strategi belajar dimana siswa atau peserta didik,
belajar dalam kelompok kecil yang mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda.
Model pembelajaran ini menciptakan situasi yang mana keberhasilan individu
masing - masing siswa dipacu oleh kelompok, kerjasama dan saling ketergantungan
dalam struktur tugas, tujuan, dan penghargaan (hadiah) merupakan tuntutan dalam
model pembelajaran ini.
Mencermati proses belajar mengajar dengan pendekatan ini memberikan
peluang besar kepada setiap peserta didik untuk lebih aktif sehingga motivasi
untuk belajar akan lebih meningkat, hal ini dapat berimplikasi pada hasil belajar
akan diperolehnya setelah mengikuti proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi awal dengan mencermati
proses belajar mengajar di SMP Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) I UMI
Makassar, yang mana dari hasil wawancara dari guru bidang studi matematika
diperoleh informasi rendahnya hasil belajar matematika di sekolah tersebut
khususnya kelas VII. Pernyataan ini diperkuat dengan rata-rata nilai matematika
siswa kelas VII SMP LPP 1 UMI tahun ajaran 2004/2005. Semester I 6,12, semester
II 6,31 dan tahun ajaran 2005/2006 semester I 6,22 Berdasarkan hal tersebut
maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul
“Peningkatan
Hasil Belajar Matematika Siswa SMP LPP 1
UMI Makassar melalui Pembelajaran Kooperatif dengan Tipe JIGSAW.“
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP LPP I UMI Makassar masih rendah
salah satu penyebabnya adalah metode pembelajaran yang kurang bervariasi yang mengakibatkan
siswa kurang berperan aktif dalam proses belajar mengajar.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka
rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.
Bagaimana meningkatkan hasil belajar matematika siswa
kelas VII SMP LPP I UMI Makassar dengan penyerapan pembelajaran tipe JIGSAW?
b.
Bagaimana meningkatkan peran aktif siswa dalam proses
belajar mengajar dan rasa sosial dalam membantu teman kelompoknya?
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian adalah kelas
VII SMP LPP 1 UMI Makassar dalam belajar matematika (Materi Himpunan). Model
pembelajaran yang akan diterapkan adalah pembelajaran kooperatif dengan tipe
JIGSAW dalam bentuk penelitian kelas.
E. Cara Memecahkan Masalah
Sebagai langkah untuk memberikan solusi dari
permasalahan di atas, penerapan metode pengajaran adalah salah satu upaya untuk
meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP LPP I UMI Makassar.
Hal ini dapat dilakukan melalui model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan
JIGSAW.
F. Tujuan Penelitian
Berdasarkan atas permasalahan di atas maka tujuan penelitian tindakan
kelas ini adalah:
a.
Meningkatkan hasil belajar matematika melalui penerapan
pembelajaran kooperatif dengan pendekatan JIGSAW.
b.
Meningkatkan peran aktif siswa dalam proses belajar
mengajar dan rasa sosial dalam membantu teman kelompoknya.
G. Hasil yang Diharapkan
Adapun hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
a. Bagi siswa:
Agar siswa dapat lebih mudah dalam pemahaman materi
dengan adanya variasi metode pembelajaran dan dapat berperan aktif dalam proses
belajar mengajar. Melatih siswa untuk bertanggung jawab, mandiri, peduli sesama
teman, serta sikap positif terhadap pelajaran matematika.
b. Bagi penulis
Sebagai bahan masukan bahwa melalui model pembelajaran
kooperatif dengan pendekatan JIGSAW dapat meningkatkan hasil belajar siswa
disamping sebagai media menuangkan ide-ide dan penuturan dalam bentuk karya
ilmiah dan lebih besar lagi manfaatnya bagi penulis jika ide-ide dan penuturan
dalam tulisan menjadi bahan acuan bagi peneliti selanjutnya.
c. Bagi guru
Guru akan mendapatkan gambaran tentang hasil belajar
matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan
JIGSAW dan menjadi suatu alternatif menarik dalam upaya meningkatkan hasil belajar
siswa.
d. Bagi sekolah
Memberi sumbangan yang sangat berharga dalam rangka
perbaikan pengajaran di tingkat SMP.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
A. Uraian Substansi Mata Pelajaran
1. Matematika Sekolah
a. Pengertian Matematika Sekolah.
Informasi yang dapat kita ungkapkan pada bagian penjelasan tentang
pengertian matematika sekolah ini, pertama merupakan alasan perlunya matematika
diajarkan di sekolah. Dalam hal ini tujuannya adalah bahwa setiap upaya
penyusunan kembali atau penyempurnaan kurikulum matematika di sekolah perlu
selalu mempertimbangkan kedudukan matematika sebagai salah satu ilmu dasar.
Matematika sebagai ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang dengan amat pesat,
baik materi maupun kegunaannya, sehingga dalam perkembangannya atau
pembelajarannya di sekolah kita harus memperhatikan
perkembangan-perkembangannya, baik di masa lalu, masa sekarang maupun
kemungkinan-kemungkinannya untuk masa depan.
|
Informasi-informasi tersebut di atas sangat berguna bagi kita sebagai
guru/calon guru atau pengelola/calon pengelola pendidikan untuk meningkatkan
perhatian dan usaha dalam pembelajaran matematika di sekolah, sehingga pembelajarannya
dapat dipahami oleh para siswa yang tetap mengacu kepada perkembangan pribadi
para siswa degan tidak mengorbankan karakteristik matematika sebagai ilmu
deduktif, abstrak, dan konsisten.
b. Fungsi Matematika Sekolah
Fungsi mata pelajaran matematika sebagai: alat, pola pikir, dan ilmu atau
pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut hendaknya dijadikan acuan dalam
pembelajaran matematika sekolah.
Dengan mengetahui fungsi-fungsi matematika tersebut diharapkan kita
sebagai guru atau pengelola pendidikan matematika dapat memahami adanya
hubungan antara matematika dengan berbagai ilmu lain atau kehidupan. Sebagai
tindak lanjut sangat di harapkan agar para siswa diberikan penjelasan untuk
melihat berbagai contoh penggunaan matematika sebagai alat untuk memecahkan
masalah dalam mata pelajaran lain, dalam dunia kerja atau dalam kehidupan
sehari-hari. Namun tentunya harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan
siswa, sehingga diharapkan dapat membantu peoses pembelajaran matematika di
sekolah.
Siswa diberi pengalaman mengunakan matematika sebagai alat untuk memahami
atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau
tabel-tabel dalam model-model matematika yang, merupakan penyederhanaan dari
soal-soal cerita atau soal-soal uraian matematika lainnya. Bila seorang siswa dapat
melakukan perhitungan, tetapi tidak tahu alasannya, maka tentu ada yang salah
dalam pembelajarannya atau ada sesuatu yang belum dipahaminya.
Belajar matematika bagi para siswa, juga merupakan pembentukan pola pikir
dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran suatu hubungan di
antara pengertian-pengertian itu.
Dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh
pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki
dari sekumpulan objek (abstraksi). Dengan pengamatan terhadap contoh-contoh dan
bukan contoh diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep.
Selanjutnya dengan abstraksi ini, siswa dilatih untuk membuat perkiraan,
terkaan, atau kecendrungan berdasarkan kepada pengalaman atau pengetahuan yang
dikembangkan melalui contoh-contoh khusus (generalisasi). Di dalam proses
penalarannya dikembangkan pola pikir induktif maupun deduktif. Namun tentu
kesemuannya itu harus disesuaikan dengan perkembangan kemampuan siswa, sehingga
pada akhirnya akan sangat membantu kelancaran proses pembelajaran matematika di
sekolah.
Fungsi matematika yang ketiga adalah sebagai ilmu atau pengetahuan, dan
tentunya pengajaran matematika di sekolah harus diwarnai oleh fungsi yang
ketiga ini. Kita sebagai guru harus mampu menunjukkan betapa matematika selalu mencari kebenaran,
dan bersedia meralat kebenaran yang sementara diterima, bila ditemukan
kesempatan untuk mencoba mengembangkan penemuan-penemuan sepanjang mengikuti pola
pikir yang sah.
Sebagai manusia, guru tidak luput dari kekurangan,
kekhilafan, bahkan kesalahan. Kita harus bersedia menerima dengan rasa tawakal
dan penuh pengertian dari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam proses
pembelajaran seandainya kesalahan tersebut ditunjukkan kebenarannya oleh siswa
kita. Kita harus dengan hati terbuka dan lapang dada, bahkan merasa bangga
untuk menerima cara-cara pengerjaan soal matematika yang dikembangkan oleh
siswa yang berbeda dengan cara-cara yang kita berikan kepada siswa tersebut.
Itulah salah satu fungsi matematika sebagai ilmu.
2. Pembelajaran Matematika di SMP
Dalam Kurikulum Matematika 2004, Depdiknas (2003), dikemukakan bahwa
tujuan pendidikan matematika adalah: (1) melatih cara berpikir dan bernalar
dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi,
eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi; (2)
mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan
pertemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinal, rasa ingin tahu,
membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba; (3) mengembangkan kemampuan
memecahkan masalah; dan (4) mengembangkan kemampuan menyampaikan
informasi/mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan,
catatan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan. Selanjutnya,
dikemukakan bahwa kemampuan pemecahan masalah, penalaran, dan berkomunikasi
merupakan komeptensi dasar yang diharapkan tercapai melalui belajar matematika.
Untuk mencapai kompetensi tersebut guru harus menjabarkan kegiatan belajar
mengajarnya dalam bentuk silabus dan disesuaikan dengan kekhasan bahan ajar
dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan berpikir siswa.
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut di atas, guru seharusnya menyediakan
banyak kesempatan bagi siswa untuk bekerjasama dalam situasi pemecahan masalah
secara kooperatif. Sebagaimana yang diusulkan NCTM 1989 menurut Foster, (1993)
dalam Hadirah, dkk (2006:6) bahwa metode mengajar tradisional dalam pengajaran
matematika sekolah sedapat mungkin diganti dengan pembelajaran kooperatif dalam
aktivitas kelas sehai-hari. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa
pembelajaran kooperatif dapat diterapkan untuk mencapai tujuan-tujuan
pembelajaran matematika tertentu (sesuai dengan kekhasan materi) yang
ditetapkan dalam kurikulum matematika SMP di Indonesia.
Proses pembelajaran yang berlangsung di SMP sampai sekarang ini, pada
umumnya didominasi guru, siswa dijadikan objek pembelajaran. Guru berusaha
memberikan informasi sebanyak-banyaknya, sehingga siswa tidak mempunyai
kesempatan yang cukup untuk merenungkan apa yang diberikan oleh guru, dan yang
terpenting bagi mereka adalah dapat menyelesaikan soal-soal berdasarkan
contoh-contoh yang telah diberikan. Menurut Suradi (2005) dalam Hadirah, dkk
(2006:6) pembelajaran matematika di SMP pada umumnya masih menggunakan
paradigma mengajar, sehingga pembelajaran berlangsung secara mekanistik tanpa
makna. Guru menuntut perhatian yang berlebihan, keseriusan yang kaku, dan
hukuman enjadi bagian dari pembelajaran.
Menurut Marpaung (2003) dalam Hadirah, dkk (2006:7) paradigma mengajar
mempunyai ciri-ciri antara lain: (1) guru aktif, siswa pasif; (2) pembelajaran
berpusat kepada guru; (3) guru mentransfer pengetahuan kepada siswa; (4)
pemahaman siswa cenderung bersifat instrumental; (5) pembelajaran bersifat
mekanistik; dan (6) siswa diam (secara fisik) dan penuh konsentrasi (mental)
memperhatikan apa yang diajarkan guru. Lebih lanjut, dikemukakan bahwa hasil
pembelajaran yang berdasarkan paradigma mengajar, antara lain (1) siswa tidak
senang pada matematika; (2) pemahaman siswa terhadap matematika rendah; (3)
kemampuan menyelesaikan masalah (problem
solving), bernalar (reasoning), berkomunikasi secara
matematis (communication), dan
melihat keterkaitan antara konsep-konsep dan aturan-aturan (connection) rendah. Dengan demikian, dapat
dikemukakan bahwa untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran matematika
dan meningkatkan kualitasnya, maka paradigma mengajar perlu diperbaiki.
Perbaikan pertama yang perlu dilakukan dalam pembelajaran matematika
adalah menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan. Menurut hasil penelitian
Meier (1999) suasana yang menyenangkan dapat meningkatkan hasil belajar secara
signifikan menurut Marpaung, (2003) dalam Hadirah, dkk (2006:7). Hal ini
sejalan dengan teori belajar yang meyatakan bahwa belajar adalah proses
merekonstruksi pengetahuan, dan teori belajar yang dilandasi filsafat
konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer dari yang
mengetahui (guru) kepada si pembelajar (siswa). Pengetahuan yang dimiliki
seseorang adalah konstruksi atau bentukan dari orang itu sendiri menurut Suparno,
(1997) dalam Hadirah, dkk (2006:6), dan dalam mengkonstruksi pengetahuan itu si
pembelajar harus aktif baik secara fisik maupun mental menurut Marpaung, (2003)
dalam Hadirah, dkk (2006:6). Gambaran pembelajaran seperti ini, disebut sebagai
paradigma belajar.
Berkaitan dengan uraian di atas, maka dalam penelitian ini akan dicobakan
model pembelajaran kooperatif di SMP dalam bentuk tindakan kelas, untuk
mengetahui apakah dengan pembelajaran kooperatif tersebut dapat meningkatkan
aktivitas dan prestasi belajar siswa. Selian itu, juga dengan pembelajaran
kooperatif diharapkan dapat mengubah paradigma. Pembelajaran di SMP, dari
paradigma mengajar menjadi paradigma belajar. Dengan demikian, kajian utama
difokuskan pada aktivitas siswa di dalam kelompok kooperatif. Seperti kemampuan
siswa bekerjasama dengan siswa lainnya, dan keterampilan kooperatif isiswa
dalam kelompoknya. Sedangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan
penalaran akan dijadikan kajian pendukung, sebagai akibat dari aktivitas siswa
dalam kelompok kooperatif. Kemampuan pemecahan masalah dan penalaran yang
dimaksudkan dalam hal ini, hanya dibatasi pada prestasi belajar siswa pada
materi matematika untuk pokok bahasan himpunan.
3. Hasil Belajar Matematika
Sasaran dari kegiatan belajar adalah hasil. Apabila proses belajar
mengajar berjalan dengan baik maka hasil belajar juga baik. Artinya bahwa hasil
belajar harus bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pengajar dalam
menyelesaikan suatu masalah dan sebagai pertimbangan dalam langkah selanjutnya.
Adapun pengertian belajar menurut Abdurrahman (1991:38) adalah kemampuan yang
diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Sedangkan menurut Kesler dalam
Abdurrahman: (1991:39) disebutkan bahwa hasil belajar adalah prestasi aktual
yang ditampilkan oleh anak, sedangkan pengertian tentang hasil belajar yang
dikemukakan oleh Sudjana (1989:34) bahwa hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.
Hal-hal yang mempengaruhi hasil belajar adalah:
a.
Intelegensi dan penguasaan anak tentang materi yang
akan dipelajari.
b.
Adanya kesempatan yang diberikan oleh anak.
c.
Motivasi.
d.
Usaha yang dilakukan oleh anak.
Hasil belajar siswa dapat di ukur dengan menggunakan alat evaluasi yang
biasanya disebut tes hasil belajar sedangkan hasil belajar matematika yang
dikemukakan oleh Hudoyo (1990:139) adalah gambaran tingkat penguasaan siswa dalam
belajar matematika yang terlihat pada nilai yang diperoleh dari tes hasil
belajar matematika oleh karena itu, hasil belajar dapat dicapai melalui proses
belajar mengajar yang melibatkan siswa dan guru.
4. Pembelajaran Kooperatif sebagai Implementasi Prinsip Konstruktivitik
a.
Pengertian dan Bentuk Pembelajaran
Kooperatif
Pendekatan konstruktivis dalam pengajaran antara lain menerapkan
pembelajaran kooperatif secara luas. Hal ini didasari oleh teori bahwa siswa
lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling
mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Pembelajaran kooperatif mengacu
pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil yang
saling membantu dalam belajar.
Penerapan pembelajaran kooperatif dalam pengajaran dilakukan dengan
tujuan mengarahkan siswa untuk membangun sendiri konsep yang diinginkan dan
sekaligus melakukan perubahan konseptual mereka kearah konsep yang benar
(ilmiah). Loning dalam Rahmah yang dikutip Nurdin, 2002, mengemukakan model
pembelajaran kooperatif untuk membangkitkan perubahan konseptual berdasarkan
pada konstruvisme. Strategi ini menawarkan suatu bentuk pengajaran yang
memberikan kesempatan kepada siswa berdiskusi dengan teman sebayanya dan
gurunya. Siswa mengemukakan ide mereka secara eksplisit kepada teman sebayanya
dan gurunya, kemudian membandingkan ide mereka dengan ide temannya untuk
memperoleh perspektif yang berbeda, sehingga akhirnya dapat mengevaluasi
kembali konsepsi mereka.
Pembelajaran kooperatif di arahkan untuk menciptakan empat kondisi yang
harus dipenuhi untuk membangkitkan perubahan konseptual berdasarkan pada
konstruktivisme. Keempat langkah yang dimaksud adalah:
1)
Orientasi (orientation), yaitu pengenalan topic yang
akan dipelajari.
2)
Pemunculan gagasan (elicitation of ideas), yaitu siswa
diberi kesempatan untuk menyatakan secara eksplisit gagasan mereka kepada teman
sebaya dengan gurunya.
3)
Penyusunan ulang, perubahan dan perluasan gagasan
(restructuring, modification, and extension), meliputi aktifitas yang memberi
kesempatan kepada siswa untuk saling bertukar pikiran dengan teman sebaya dan
membentuk serta menilai ide baru.
4)
Aplikasi (application), memberi kesempatan kepada siswa
untuk menerapkan konsep baru yang telah dibentuk kedalam konteks yang baru
(lain).
Slavin dalam Muhammad Nur (2000:6), mengemukakan beberapa bentuk
pembelajaran kooperatif, antara lain:
1)
“Student Teams-achievement Divisions (STAD)” atau Tim
Siswa kelompok Prestasi”. Dalam STAD ini siswa ditempatkan dalam tim
beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi,
jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, kemudian siswa bekerja di
dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai
pelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis mengenai materi itu,
dan mereka bekerja secara individual.
2)
“Team-Assisted individualization (TAI) atau pengajaran
individual dibantu-Tim” yaitu bentuk pembelajaran kooperatif yang digabung
dengan pembelajaran individual. TAI dan STAD sama-sama menggunakan tim belajar
dengan empat orang anggota dengan kemampuan bervariasi. Perbedaanya adalah STAD
hanya menggunakan pembelajaran kooperatif dan di dalam kelas, sedangkan TAI
menggabungkan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual.
3)
Pembelajaran kooperatif metode JIGSAW, siswa
dikelompokkan ke dalam tim beranggotakan enam orang yang mempelajari materi
akademik yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub-bab yang ditugaskan,
kemudian anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari sub-bab yang sama
bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikan sub-bab mereka.
Selanjutnya para siswa itu kembali ke tim asal mereka dan bergantian mengajar
teman satu tim mereka tentang sub-bab mereka.
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dimana siswa belajar
dalam kelompok kecil yang mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam
menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerjasama dan membantu
memahami suatu bahan pelajaran, artinya belajar belum selesai jika salah satu
teman dalam kelompoknya belum menguasai bahan pembelajaran, Lundgren
(Budiastuti, 2001:1).
Pembelajaran yang memiliki model kooperatif kebanyakan memiliki
cirri-ciri sebagai berikut:
1)
Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk
menuntaskan materi belajarnya.
2)
Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan
tinggi, sedang dan rendah.
3)
Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras,
suku, jenis kelamin yang berbeda.
4)
Penghargaan lebih diutamakan berorientasi kelompok dari
pada individu.
Kooperatif atau kerjasama belajar lawan dari persaingan dalam kehidupan
sehari-hari kerjasama dan persaingan sering terjadi dalam kelas. Jean D Gamrnms
(Rohani, 1991: 240) menjelaskan bahwa dalam pengajaran disekolah yang
demokratis, baik kerjasama maupun persaingan sama pentingnya. Persaingan yang
dimaksud bukan bertujuan untuk memperoleh hadiah atau kenaikan tingkat, tetapi
untuk mencapai hasil yang baik tinggi atau pemecahan masalah yang dihadapi
kelompok.
Kelompok semacam ini semata-mata bertujuan untuk membentuk individu atau
peserta didik menjadi manusia yang demokratis, sedangkan para guru harus
menekankan pelaksanaan perinsip kerjasama dengan kelompok yang lainnya.
Berkaitan dengan ini Bioton (Rohani, 1991:20) sangat memperhatikan apa yang
dinamakan “Group Process” atau proses kelompok, yaitu cara individu mengadakan
relasi dan kerjasama dengan individu lain untuk mencapai tujuan bersama.
Tujuan dari model pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi
dimana keberhasilan individu dipacu oleh kelompoknya, Lundgren dalam Budiastuti,
(2001). Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai
setidak-tidaknya tiga tugas pembelajaran, Ibrahim (2000:7), yaitu :
1)
Kemampuan Akademik
2)
Penerimaan perbedaan sosial
3)
Pengembangan keterampilan
Berdasarkan hasil penelitian Thomson Lundgren dalam Ibrahim, (2000:18)
model pembelajaran kooperatif mempunyai manfaat sebagai berikut: Meningkatkan
pencurahan waktu dan tugas, meningkatkan rasa harga diri, memperbaiki sikap
terhadap materi, guru dan sekolah, memperbaiki kehadiran, saling memahami
adanya perbedaan individu, mengurangi konflik antar individu, mengurangi sifat
apatis, memperdalam pemahaman, meningkatkan motivasi, meningkatkan hasil
belajar, memperbesar retensi.
b.
Langkah-langkah Model Pembelajaran
Kooperatif
Pada model pembelajaran kooperatif ada 6 fase (langkah) utama yaitu:
Tabel 2.1 Fase (langkah) dalam Model Pembelajaran
Kooperatif
FASE
|
TINGKAH LAKU GURU
|
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa
Fase-2
Menyajikan informasi
Fase-3
Mengorganisasikan siswa dalam
kelompok belajar
Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan
belajar
Fase-5
Evaluasi
Fase-6
Memberi penghargaan
|
Guru menyampaikan semua tujuan
pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
Guru menyajikan informasi
kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan
Guru menjelaskan kepada siswa
bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok
agar melakukan transisi secara efisien
Guru membimbing
kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah dipelajari oleh masing-masing kelompok dan mempresentasikan
hasil kerjanya
Guru mencari cara untuk
menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
|
c.
Hal-Hal yang Harus Dipersiapkan dalam Model
Pembelajaran Kooperatif
1)
Memilih Pendekatan
Dalam hal ini peneliti mengambil pendekatan JIGSAW.
Pada penerapannya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dengan 4 (empat) atau
6 (enam) anggota kelompok belajar yang heterogen. Materi pembelajaran diberikan
dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian
tertentu bahan pelajaran yang diberikan.
Pada pendekatan JIGSAW terdiri dari dua tahap
pengelompokan yaitu:
a)
Kelompok asal
b)
Kelompok ahli
2)
Pemilihan Materi yang sesuai
Dalam pemilihan materi ini guru yang harus mengetahui
dari pengalamannya, topik mana yang cocok untuk pembelajaran kooperatif,
khususnya pada pendekatan JIGSAW, materi yang diajarkan secara alami dapat
dibagi menjadi beberapa subtopik.
3)
Pembentukan Kelompok Siswa
Tugas perencanaan yang penting lainnya dalam
pembelajaran kooperatif adalah
pembentukan kelompok siswa. Setiap kelompok siswa dibentuk dari siswa-siswa
yang mempunyai tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
4)
Pengembangan materi dan tujuan
Dalam model pembelajaran kooperatif, informasi umumnya
disampaikan dalam bentuk teks, lembar kegiatan dan panduan belajar.
d.
Pemberian Nilai dan Evaluasi untuk Model
Pembelajaran Kooperatif
Pada model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan JIGSAW, guru meminta
siswa menjawab kuis tentang bahan pelajaran. Skor ini diberikan untuk kelompok
dan individu. Kuis ini diberikan setiap minggu atau dua minggu. Caranya dengan
menghitung skor dasar (berdasarkan kuis yang lalu), menghitung skor kuis
terkini dan menghitung skor perkembangan.
Tabel 2.2 Prosedur Penyekoran untuk Pendekatan JIGSAW
Langkah 1
Menetapkan skor dasar
Langkah 2
Menghitung skor kuis terkini
Langkah 3
Menghitung skor perkembangan
|
Setiap siswa diberikan skor
berdasarkan skor-skor yang lalu
Siswa memperoleh poin untuk
kuis yang berkaitan dengan pelajaran terkini
Siswa mendapatkan poin
perkembangan yang besarnya ditentukan apakah skor kuis terkini mereka
menyamai atau melampaui skor dasar mereka, dengan menggunakan skala yang
diberikan dibawah ini
|
Lebih dari 10
poin dibawah skor dasar…………………………
0 poin
1-10 poin
dibawah skor dasar…………………………………...
10 poin
10 poin di
atas skor dasar……………………………………… 20 poin
Lebih dari 10
poin di atas skor dasar.………………………….
30 poin
Pekerjaan
sempurna (tampa
memperhatikan skor dasar)…..…. 30 po
|
|
Untuk perhitungan skor kelompok
dilakukan dengan cara menjumlahkan masing-masing skor individu anggota kelompok
tersebut. Sehingga di dapat skor rata-rata kelompok. adapun penghargaan yang
diberikan menurut Slarin (Muslimin Ibrahim, 1997:62) adalah:
Tim
Baik : 15 poin Tim
Super : 25 poin
Tim Hebat : 20 poin
e.
Tahap Model Pembelajaran Kooperatif dengan
Tipe JIGSAW
Pada pendekatan JIGSAW ini mempunyai dua kelompok siswa yaitu: kelompok
asal dan kelompok ahli. Materi di bagi kepada kelompok asal dan anggota pada
kelompok asal yang mempunyai topik yang sama akan berkumpul untuk diskus dalam
kelompok ahli. Setelah berdikusi pada kelompok ahli, siswa kembali ke kelompok
asal untuk menjelaskan tentang apa yang telah dipelajari pada kelompok ahli.
Agar kegiatan pembelajaran kooperatif berjalan dengan baik, maka siswa
harus dibekali dengan keterampilan-keterampilan kooperatif. Lundgren dalam Budiastuti,
(2001) mengemukakan bahwa keterampilan kooperatif berfungsi untuk melancarkan
hubungan kerja dan tugas dalam kelompok. Keterampilan kooperatif memiliki tiga
tingkatan, yaitu: tingkat awal, tingkat menengah, dan tingkat mahir.
Keterampilan-keterampilan kooperatif yang tergolong dalam masing-masing
tingkatan tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1.
Keterampilan
Kooperatif Tingkat Awal: menggunakan kesepakatan, menghargai kontribusi,
menggunakan suara pelan, mengambil giliran dan berbagi tugas, berada dalam
tugas, berada dalam kelompok, mendorong berpartisipasi, mengundang orang lain
berbicara, menyelesaikan tugas tepat pada waktunya, menyebutkan nama, dan
memandang pembicara, mengatasi gangguan, menolong tanpa memberikan jawaban,
menghormati perbedaan individu.
2.
Keterampilan
Kooperatif Tingkat Menengah: menunjukkan penghargaan dan simpati,
menggunakan pesan “saya”, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat
diterima, mendengarkan dengan aktif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan,
mengatur dan mengorganisir, memeriksa ketepatan, menerima tanggung jawab,
menggunakan kesabaran, tetap tenang.
3.
Keterampilan
Kooperatif Tingkat Mahir: mengelaborasi, memeriksa secara cermat,
menanyakan kebenaran, menganjurkan suatu posisi, menetapkan tujuan, berkompromi,
menghadapi masalah-masalah khusus.
B. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan
pada kerangka teoritis di atas, maka rumusan hipotesis tindakannya adalah:
“Melalui penerapan model pembelajaran
kooperatif dengan tipe JIGSAW, maka hasil belajar matematika siswa SMP LPP 1
UMI Makassar kelas VII dapat ditingkatkan”.
BAB
III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Class Action Research) yang melibatkan
refleksi berulang dan terdiri dari empat tahapan yaitu Perencanaan, Tindakan, Pengamatan/Observasi,
dan Refleksi.
B. Subjek Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di SMP LPPM 1 UMI Makassar tahun ajaran 2005-2006 dengan
jumlah siswa 43 orang terdiri dari 20 orang perempuan dan 23 orang laki-laki.
C. Faktor-faktor yang Diselidiki
Untuk mampu menjawab permasalahan di atas, ada beberapa faktor yang ingin
diselidiki, yaitu:
a.
|
b.
Faktor proses: yaitu melihat bagaimana keaktifan siswa
interaksi siswa dengan guru dan antar siswa dengan siswa lainnya dalam proses
belajar mengajar.
c.
Faktor hasil: melihat hasil kemampuan matematika siswa
setelah tes akhir yang diberikan setiap siklus.
D. Rencana Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan pada
semester II tahun ajaran 2005/2006 yang tebagi dalam dua siklus, dengan
perincian sebagai berikut :
a.
Siklus I dilaksanakan selama 2 pekan atau 4 kali pertemuan.
b.
Siklus II dilaksanakan selama 2 pekan atau 4 kali
pertemuan
Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai,
seperti yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki.
Untuk dapat mengetahui hasil belajar matematika siswa
SMP LPP I UMI Makassar kelas VII dilakukan proses pembelajaran kooperatif
dengan tipe JIGSAW, guna meningkatkan hasil belajar matematika.
Dengan berdasarkan rencana pembelajaran di atas, maka
penelitian tindakan kelas ini melliputi 4 tahap yaitu: tahap perencanaan, tahap
pelaksanaan, tahap observasi dan evaluasi dan tahap refleksi.
Adapun rincian kegiatan yang akan dilakukan pada
setiap siklus adalah sebagi berikut :
Siklus I
a. Perencanaan Tindakan
1.
Menelaah kurikulum dengan membuat rencana pembelajaran
dengan pokok bahasan himpunan.
2.
Membuat soal-soal yang akan diberikan sebagai tes awal
dan tes akhir.
3.
Membuat LKS sebagai perangkat dalam model pembelajaran
kooperatif dengan pendekatan JIGSAW.
4.
Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam
rangka optimalisasi pembelajaran dengan pendekatan JIGSAW.
5.
Menyusun kelompok belajar siswa yang heterogen, artinya
yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang, rendah yang terdiri dari 4 atau 5
siswa tiap kelompok asal dan kelompok ahli.
6.
Merencanakan pengaturan tempat duduk untuk tiap
kelompok asal dan kelompok ahli.
7.
Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana
kondisi siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung yang meliputi
motivasi, keaktifan, kerjasama, dan kerajinan.
8.
Membuat jurnal guru untuk melihat perubahan-perubahan
yang terjadi di kelas dan melihat data refleksi diri.
b. Pelaksanaan Tindakan
Silkus I dilaksanakan selama 2 pekan (4 kali pertemuan). Model ini
mempunyai 2 kelompok siswa yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Materi
(tugas) dibagi pada kelompok asal dan anggota dari kelompok asal yang mempunyai
tugas yang sama akan berkumpul untuk diskusi (kelompok ahli). Setelah itu
mereka (kelompok ahli) kembali ke kelompok asal untuk menjelaskan apa yang
mereka diskusikan sebelumnya.
Rincian tindakan
sebagai berikut :
1.
Penyajian materi
Pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran, dan
motivasi siswa untuk belajar sekaligus menyajikan informasi (materi) melalui
demonstrasi. Pada saat ini siswa berada pada kelompok asal yang beranggotakan 4
orang siswa yang heterogen, kemudian guru memberi tugas kepada tiap siswa dalam
tiap-tiap kelompok asal.
2.
Diskusi kelompok
Pada saat ini anggota kelompok asal dengan tugas yang sama berdiskusi
saling memberi pertanyaan dan jawaban untuk tugas tersebut. Guru pada saat ini
harus benar-benar memantau untuk melihat hasil kerja kelompok.
3.
Laporan kelompok asal
Siswa kembali dari diskusi kelompok ahli
dan mempersiapkan untuk menyampaikan hasil tugasnya kepada anggota kelompoknya.
Guru harus menekankan bahwa siswa harus bertanggung jawab kepada rekan
sekelompoknya. Secara bergiliran
siswa menyampaikan apa yang telah diperoleh dalam diskusi kelompok ahli. Guru
memantau untuk melihat hasil diskusi kelompok asal.
4.
Evaluasi tentang hasil kerja kelompok
Masing-masing kelompok ditunjuk wakilnya untuk mempresentasikan hasil
diskusi dan kelompok lain memberikan tanggapan.
5.
Tes/kuis
Seluruh siswa melakukan tes/kuis, jika nilai kuis didapat maka
diperhitungkan dalam skor perkembangan.
6.
Penghargaan tim
Sebagai penutup guru memberikan penghargaan atas hasil kerja siswa baik
secara individu maupun kelompok.
c. Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan
dengan menggunakan lembar observasi.
1. Selama proses pembelajaran, akan diadakan
pengamatan tentang :
a. Persentase
kehadiran siswa,
b. Siswa yang yang
bertanya materi pelajaran yang belum dimengerti,
c. Siswa yang
mampu menjawab pertanyaan lisan guru
d. Siswa yang
menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumah
e. Siswa yang
meminta bantuan saat kerja kelompok
2. Untuk
mendapatkan informasi dari siswa tentang kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan maka pada akhir siklus ini siswa akan diminta tanggapannya.
3. Hasil dari
pelaksanaan tindakan akan dievaluasi dengan memberikan tes diakhir siklus.
d. Refleksi
Hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dikumpulkan kemudian
dianalisis, begitu pula untuk hasil evaluasi. Dari hasil yang didapatkan guru
akan dapat merefleksikan diri dengan melihat data observasi apakah kegiatan
yang telah dilakukan telah dapat meningkatkan hasil belajar matematika dengan
menggunakan pembelajar kooperatif dengan tipe JIGSAW.
Selain data hasil observasi, dipergunakan pula jurnal yang dibuat oleh
guru pada saat guru selesai melaksanakan kegiatan pembelajaran. Data dari
jurnal juga sebagai acuan bagi guru untuk dapat mengevaluasi dirinya sendiri.
Pada tahap ini akan dilihat sampai dimana faktor-faktor yang diselidiki telah
tercapai. Hal-hal yang dipandang masih kurang akan ditindaklanjuti pada siklus
kedua dengan suatu model tindakan kearah yang lebih memperbaiki dengan tetap
mempertahankan apa yang sudah baik.
Siklus II
Pada siklus II ini
direncanakan selama 2 pekan (4 kali pertemuan) dengan pokok bahasan himpunan.
Pada dasarnya langkah-langkah yang dilakukan dalam
siklus II ini setelah memperoleh refleksi, selanjutnya dikembangkan dan
dimodifikasi tahapan-tahapan yang ada pada siklus I dengan beberapa perbaikan
dan penambahan sesuai dengan kenyataan yang ditemukan.
E. Data dan Analisis Data
2.
Sumber data : data penelitian ini adalah personil
penelitian yang terdiri dari siswa dan guru.
3.
Jenis data : jenis data yang didapatkan adalah data
kuantitatif dan data kualitatif yang terdiri dari:
a.
Lembar hasil observasi tentang keadaan siswa selama
proses belajar mengajar berlangsung
b.
Hasil tanya jawab siswa yang memberi gambaran tentang
tanggapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran
c.
Catatan harian guru yang berupa data tentang refleksi
diri dan perubahan yang terjadi di dalam kelas selama berlangsungnya
pembelajaran
d.
Tes (evaluasi) dilakukan untuk mendapatkan hasil
belajar.
4.
Cara pengambilan data
a.
Pada hasil belajar diambil dengan memberikan tes kepada
siswa
b.
Data tentang situasi belajar mengajar pada saat
dilaksanakannya tindakan diambil dengan menggunakan lembar observasi
c.
Data tentang reflaksi diri serta perubahan-perubahan
yang terjadi di kelas, diambil dari jurnal yang dibuat guru
d.
Data tentang tanggapan siswa terhadap model
pembelajaran yang digunakan diambil dari lembar tanya jawab.
5.
Analisis data
Data yang terkumpul akan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif
yaitu:
a.
Data hasil observasi dan jurnal guru dianalisis secara
kualitatif
b.
Data hasil tes siklus dianalisis secara kuantitatif.
c. Data
hasil kuis digunakan dalam perhitungan skor perkembangan.
F. Teknik Analisis Data
Pengelolaan data pada penelitian
ini dilakukan setelah terkumpulkannya data. Selanjutnya dianalisis secara
kuantitatif dan kualitatif.
Untuk analisis secara
kuantitatif digunakan analisis deskriptif yaitu skor rata-rata dan persentase.
Selain itu akan ditentukan pula standara deviasi, tabel frekuensi, nilai
minimum dan maksimum yang siswa peroleh pada setiap pokok bahasan. Kemudian
nilai tersebut dikategorisasikan dengan menggunakan kategorisasi skala lima berdasarkan teknik
kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kartini,
dalam Handayani .L ( 2003:26) yang dinyatakan sebagai berikut:
Tabel
3.1 Kategorisasi Skala Lima
No
|
Nilai
|
Kategori
|
1
|
0 -
34
|
Sangat rendah
|
2
|
35 – 54
|
Rendah
|
3
|
55 – 64
|
Sedang
|
4
|
65 – 84
|
Tinggi
|
5
|
85 – 100
|
Sangat Tinggi
|
Sedangkan analisis kualitatif dilaksanakan
sesuai dengan kecenderungan yang terjadi pada setiap siklus dengan melakukan
penilaian secara verbal (aktifitas yang teramati).
G. Indikator Kinerja
Sedangkan yang menjadi indikator kinerja dalam penelitian ini adalah
digunakan skor ketercapaian dari nilai rata-rata kelas dengan syarat ketuntasan
belajar secara individu adalah 65% dan ketuntasan belajar adalah 85%, maka
penelitian ini dikatakan berhasil meningkatkan hasil belajar matematika.
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Tidak ada komentar:
Posting Komentar