Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI KELAS I SMP



BAB I
PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang Masalah
Bidang studi matematika merupakan bidang studi yang salah satu cirinya bersifat hirarkis, dalam artian setiap konsep harus menurut persyaratan pemahaman atas konsep sebelumnya. Oleh karena itu apabila pada salah satu pokok bahasan terjadi kesulitan maka akan terbawa pada pokok bahasan berikutnya, sehingga pada akhirnya guru kemungkinan besar akan menjumpai kegagalan dalam mengajarkan atau menjelaskan suatu konsep, dan siswa akan mengalami kesulitan dalam belajar. Untuk itu guru selalu dituntut dalam pengajaran matematika agar selalu melakukan usaha-usaha perbaikan proses pengajaran, baik dalam hal materi maupun pengajaran.
Selama ini proses pembelajaran matematika yang ditemui metodenya konvensional seperti metode ekspositori, demonstrasi, driil, maupun ceramah. Proses ini hanya cenderung mengejar target kurikulum yang dibebankan. Akibatnya patokan yang digunakan bukan penguasaan murid atas suatu materi tetapi berpatokan pada selesai atau tidaknya suatu materi diajarkan. Dipihak lain murid yang terbebani menggunakan cara pintas untuk mendapatkan nilai bagus. Salah satunya mencari soal-soal yang pernah dikeluarkan oleh guru pada tahun sebelumnya dan menghafalkan jawabannya atau meminta les pada guru yang bersangkutan dengan harapan mendapat latihan seperti soal yang akan di ujikan. Kondisi seperti ini tidak dapat menumbuh kembangkan aspek kemampuan belajar dan aktivitas siswa untuk meningkatkan hasil belajar matematika, karena siswa tidak aktif dalam belajar, sehingga dalam hal ini siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika.
Untuk meningkatkan hasil belajar matematika maka pemilihan pengajaran yang tepat dapat membantu pengajaran dalam kelas, salah satunya dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division). Pembelajaran kooperatif ini mencakupi suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Pembelajaran ini menekankan pada aspek sosial antar siswa dalam kelompok yang heterogen. Pembelajaran kooperatif ini memanfaatkan kecenderungan siswa untuk lebih berinteraksi dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan hasil belajar dapat ditingkatkan.
Untuk mengimplementasikan pembelajaran kooperatif di kelas, diperlukan perangkat pembelajaran yang sesuai. Perangkat pembelajaran tersebut, harus disusun mengacu pada pembelajaran kooperatif. Berdasarkan uraian tersebut penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di Kelas I SMP”

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan perangkat pembelajaran pada pokok bahasan Himpunan berdasarkan pembelajaran kooperatif. Perangkat pembelajaran yang dimaksud adalah Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), dan Rencana Pembelajaran (RP).
C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, tujuan penelitian ini adalah mengembangkan perangkat pembelajaran pada pokok bahasan Himpunan berdasarkan pembelajaran kooperatif
D.    Manfaat Hasil Penelitian
Dengan melalui pengembangan ini, peneliti mengharapkan dapat membawa manfaat bagi siswa, guru atau pendidik maupun pengambil kebijakan bidang pendidikan. Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
a.       Bagi peneliti: dapat memberikan gambaran kepada peneliti sebagai calon guru mengenai sistem pembelajaran yang baik disekolah, sehingga dapat dijadikan acuan untuk pengembangan ide-ide dalam perbaikan pembelajaran kelak, bila menjadi seorang guru.
b.      Bagi guru: hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan masukan khususnya bagi guru – guru, sebagai alternatif dalam pembelajaran agar dapat meningkatkan hasil belajar matematika, sehingga berguna untuk perbaikan dan peningkatan mutu pengajaran.
c.       Bagi siswa: hasil penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan ide-ide positif terhadap matematika, agar dapat menarik siswa untuk menyenangi matematika.
d.      Bagi sekolah: memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam rangka perbaikan pengajaran di tingkat SMP

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Belajar Mengajar Matematika
Mengajar pada dasarnya merupakan usaha untuk menciptakan situasi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh hudoyo (dalam nurhasanah 2003:8) sebagai berikut :
“Mengajar adalah suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki peserta didik. Tujuan pengajaran adalah agar pengetahuan yang disampaikan itu dapat difahami peserta didik karena mengajar yang baik hanya jika hasil peserta didik baik”
            Dengan demikian, rumusan mengajar diatas disamping berpusat pada siswa yang belajar juga melihat hakikat mengajar sebagai proses, yaitu proses yang dilaksanakan oleh guru dalam menumbuhkan kegiatan belajar siswa.
Salah satu prinsip paling penting dari psikologi pendidikan adalah guru tidak hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide, dan dengan mengajak siswa agar menyadari atau secara sadar mengunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.
Pada petunjuk pelaksanaan proses belajar mengajar disebutkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku setelah terjadinya interaksi dengan sumber belajar, sumber belajar ini dapat berupa buku, lingkungan, guru atau sesama teman.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.
Pendapat lain dikemukakan oleh Sudjana (Urpiah, 2004) yang mengatakan bahwa: belajar bukan menghafal dan bukan juga mengingat. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Skinner (Suherman, 2001) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Sejalan dengan itu, menurut Hilgard (Slameto, 1987) bahwa belajar adalah suatu proses perubahan kegiatan dan reaksi terhadap lingkungan, perubahan kegiatan yang dimaksud mencakup pengetahuan kecakapan tingkah laku.
Berdasarkan beberapa pengertian belajar yang dikemukakan di atas maka dapat dinyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh perubahan-perubahan dalam hidupnya melalui latihan, pengalaman dan interaksi dengan sumber belajar. Jadi, proses belajar tidak hanya terjadi di kelas tetapi dapat terjadi dimana saja secara kontinu yang dilandasi adanya perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik.
Agar proses belajar dapat berlangsung dengan optimal maka tujuan pengajaran, cara, dan sasaran yang digunakan dalam kegiatan pengajaran perlu direncanakan sehingga tingkatan keberhasilan proses belajar mengajar dapat diketahui baik yang berupa hasil belajar siswa maupun proses kegiatan guru. Dengan demikian mengajar adalah kegiatan terorganisir dan bertujuan membantu menggairahkan siswa belajar dalam proses belajar mengajar.
Ditinjau dari ranah kognitif, sebenarnya tujuan pertama pengajaran matematika itu ialah pencapaian transfer belajar. Segala usaha dikerahkan agar murid berhasil menguasai pengetahuan dan keterampilan  matematika untuk dapat memecahkan masalah-masalah baik di matematika sendiri maupun di ilmu yang lain. Bila usaha itu berhasil, dikatakan transfer belajar itu berhasil. Tujuan pengajaran pada dasarnya merupakan harapan, yakni apa yang diharapkan dari murid yang belajar. Lebih tegas lagi, Robert F Meager (dalam Mohamad ali, 1987:32) mengemukakan bahwa tujuan pengajaran yaitu maksud yang dikomunikasikan melalui pernyataan yang menggambarkan tentang perubahan yang diharapkan dari muridnya.
Pada dasarnya belajar mengajar bertujuan mengembangkan potensi siswa secara optimal yang memungkinkan siswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan dan dapat bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, banyak faktor yang harus dipenuhi serta diperhatikan oleh guru, baik secara langsung ataupun tidak langsung yang dapat mempengaruhi proses belajar siswa.
Diantara faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam proses belajar mengajar adalah faktor kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, sebab dalam proses belajar mengajar terdapat bermacam-macam perbedaan. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain disebabkan oleh kemampuan guru dalam mengajar, pengetahuan yang dimilikinya, dan latar belakang pendidikannya.
B.     Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif atau cooperatif learning mengacu pada suatu metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil, saling membantu dalam belajar. Pembelajaran kooperatif lebih luas dalam pengajaran merupakan penerapan pendekatan kontruktivis yang lahir dari gagasan Piaget dan Pygotsky, bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep – konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya.
Pembelajaran kooperatif melibatkan siswa-siswa dalam kelompok yang terdiri dari empat sampai lima siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda, dan siswa diterjemahkan pada kelompok-kelompok untuk beberapa minggu atau bulan. Pembelajaran kooperatif menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antara sesamanya sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan dan membahas suatu masalah atau tugas untuk mencapai tujuan bersama. Dalam penerapannya setiap siswa dalam kelompok tersebut saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama.
Herman Hudoyo (1990) Pembelajaran kooperatif dapat dibedakan atas dua kategori, yaitu: kategori pertama disebut metode belajar kelompok  atau Grup Study Method, dan kategori kedua disebut pembelajaran berbasis proyek atau Project based learning, atau biasa disebut juga pembelajaran aktif.
Dalam metode belajar kelompok, siswa bekerja sama saling membantu mempelajari informasi atau masalah-masalah yang tersusun dengan baik. Sedangkan metode pembelajaran berbasis proyek memusatkan pada masalah-masalah yang belum tersusun dengan baik, hasil yang diharapkan atau tujuan pembelajarannya kurang terumuskan dengan jelas.
Ciri-ciri pembelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1.      Siswa bekerja sama dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2.      Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
3.      Bilamana mungkin anggota kelompok terdiri dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.
4.      Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Student Teams Achievement Division (STAD) atau tim siswa kelompok prestasi merupakan pendekatan kooperatif yang paling sederhana diantra pendekatan kooperatif lain seperti pendekatan jigsaw, Investigasi Kelompok (IK) dan pendekatan Struktural.
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin. Dalam STAD siswa ditempatkan dalm tim belajar yang beranggotakan 4-5 orang  yang harus heterogen terdiri dari laki-laki dan perempuan berasal dari berbagai suku, memiliki kamampuan tinggi,  sedang dan rendah. Guru yang menggunakan STAD mengacu pada belajar kelompok. Anggota Tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk mentuntaskan pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain dan atau melakukan diskusi.
STAD terdiri dari suatu siklus pengajaran biasa, belajar kooperatif dalam tim, kemampuan campur, kuis, dan penghargaan atau ganjaran lain diberikan pada tin yang anggotanya paling tinggi melampaui rekornya sendiri yang terdahulu.
            STAD terdiri  dari siklus kegiatan pengajaran biasa seperti berikut ini :
a.       Mengajar: menyajikan pelajaran
b.      Belajar dalam Tim: siswa belajar dam tim mereka dengan dipandu oleh lembar kegiatan siswa untuk menuntaskan materi pelajaran.
c.       Tes: siswa mengerjakan kuis atau tugas secara individu (misalnya tes essai atau kinerja).
d.      Penghargaan Tim: Skor tim dihitung berdasarkan skor peningkatan anggota tim, dan sertifikat, laporan berkala kelas, atau papan pengumuman digunakan untuk memberikan penghargaan kepada tim yang berhasil mencetak skor tinggi.
Perhitungan skor harus dilakukan segera setelah pemberian kuis dan apabila memungkinkan pengumuman hasil kuis dilakukan pada pertemuan pertama setelah kuis tersebut. Perhitungan skor tim adalah dengan menjumlahkan poin yang diperoleh tiap anggota tim dan mambagi jumlah itu dengan banyaknya anggota tim kelompoknya yang mengerjakan kuis.

C.    Model pengembangan perangkat pembelajaran
Menurut Subaer (2004:1), Research and Development adalah kerja kreatif yang dilakukan secara sistematis untuk menambah khasanah pengetahuan dan memanfaatkannya untuk merancang berbagai aplikasi. Sedang Briggs (Wijayanti, 1999), model adalah seperangkat prosedur  yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian suatu kebutuhan, pemilihan media, dan evaluasi. Sesuai dengan pengertian tersebut, maka model pengembangan pembelajaran adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk melaksanakan pengembangan pembelajaran.
Selanjutnya menurut Slamet Kislan (Wijayanti, 1999) bahwa pengembangan instruksional adalah cara yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Hasil akhir dari pengembangan instruksional adalah suatu sistem instruksional yang berupa seperangkat materi dan strategi belajar mengajar yang secara empiris dan konsisten dapat mencapai tujuan instruksional tertentu.
Model-model pengembangan pembelajaran antara lain sebagai berikut:
1. Model dari Degeng (Wijayanti, 1999)
            Model pengembangan perangkat pembelajaran ini meliputi tiga tahap, yaitu:
  1. Tahap I: Analisis kondisi pembelajaran, mencakup:
1). Analisis tujuan dan analisis bidang studi
2). Analisis sumber belajar
3). Analisis karakter siswa
4). Menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran
  1. Tahap II: Pengembangan, mencakup:
1). Menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran
2). Menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran
3). Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran.
  1. Tahap III: Pengukuran hasil pembelajaran
Pada tahap ini adalah pengembangan prosedur pengukur hasil pembelajaran.
Model Degeng mengabaikan salah satu langkah oleh perancang pembelajaran yaitu penerapan strategi pengorganisasian isi pembelajaran. Langkah ini perancang diberi kebebasan untuk mengorganisasikan isi pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan kondisi siswa.
2. Model 4-D (Model Thiagarajan)
            Model ini meliputi empat tahap, yaitu:
  1. Tahap I: Define (Pembatasan)
Tujuan tahap ini untuk menetapkan dan menentukan syarat-syarat pembelajaran yang meliputi tujuan pembelajaran dan pembatasan materi pembelajaran. Tahap ini mencakup lima langkah, yaitu analisis awal-akhir, analisis siswa, analisis konsep, analisis tugas dan spesifikasi tujuan pembelajaran.
  1. Tahap II: Design (Rancangan)
Tujuan tahap ini adalah untuk menghasilkan prototype pembelajaran yang meliputi soal tes dan pengembangan materi pembelajaran. Tahap ini mencakup empat langkah, yaitu penyusunan tes, pemilihan media, pemilihan format, dan perencanaan awal.
  1. Tahap III: Develope (Pengembangan)
Tujuan tahap ini adalah untuk menghasilkan bentuk akhir perangkat pembelajaran yang dikembangkan pada tahap perencanaan dan untuk mendapatkan umpan balik melalui evaluasi formatif. Tahap ini mencakup dua langkah, yaitu penilaian ahli dan uji coba.
  1. Tahap IV: Disseminate (Penyebaran)
Tujuan tahap ini adalah untuk melakukan tes validitas dan pemilihan secara kooperatif terhadap perangkat pembelajaran yang telah diujicobakan dan direvisi, kemudian disebarkan ke lapangan. Langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah penyebaran perangkat pembelajaran untuk digunakan di sekolah-sekolah.
Model 4-D ini lebih terperinci langkah-langkahnya dan lebih luas pengembangannya yaitu sampai pada penyebaran di lapangan. Namun pada tahap pengembangan dan penyebaran membutuhkan banyak biaya dan waktu yang harus disediakan.
            Berdasarkan uraian kedua  model di atas, terdapat tiga tahap yang sama yaitu pendefenisian, pengembangan, dan penilaian. Dengan melihat kelebihan kedua model tersebut penulis menggunakan model 4-D Thiagarajan. Hal ini karena dalam menyusun perangkat pembelajaran terlebih dahulu yang harus dilakukan adalah analisis kurikulum yang berada pada langkah awal dari model ini. Model 4-D ini juga lebih terperinci dan dapat memudahkan perancang untuk menentukan langkah selanjutnya. Dan terakhir pada model ini perancang dapat dengan leluasa melakukan uji coba dan revisi berkali-kali sampai dipandang diperoleh perangkat dengan kualitas maksimal.
D.    Materi Pembelajaran
Materi pembalajaran pada penelitian pengembangan ini adalah pokok bahasan Himpunan. Berikut ini adalah sub pokok bahasannya :
1.      Pengertian himpunan dan anggota himpunan.
2.      Menyatakan himpunan.
3.      Kardinalitas himpunan.
4.      Himpunan semesta, Diagram Venn, Himpunan bagian, dan
Himpunan kosong.
5.      Irisan.
6.      Gabungan.
7.      Sifat-sifat operasi (pengayaan)

BAB III
METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan meliputi pengembangan perangkat pembelajaran, yang terdiri dari (1) Buku Siswa, (2) Lembar Kerja Siswa, dan (3) Rencana Pembelajaran.
B.      Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan Pada Siswa Kelas I SMP Ma’arif Makassar. Dan subjek penelitiannya adalah Siswa kelas I, dengan  jumlah siswanya 33 orang, yang terdiri dari  13 orang siswa pria dan 20 orang siswa wanita.
C.    Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika
Pengembangan perangkat pembelajaran matematika yang digunakan mengacu pada model 4–D Thiagarajan. Model ini merupakan sistem pendekatan pengembangan pembelajaran yang dilakukan meliputi 4 tahap, yaitu pembatasan, rancangan, pengembangan dan penyebaran. Pada tahap penyebaran belum dapat dilakukan dalam penelitian ini. Berikut adalah uraian secara rinci tahap-tahap pengembangan model 4-D yang digunakan dalam penelitian ini.
1.      Tahap Pembatasan
Tujuannya adalah menetapkan dan menentukan syarat-syarat pembelajaran yang meliputi tujuan pembelajaran, dan pembatasan materi pembelajaran. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut.

a.      Analisis kurikulum 2004 Matematika SMP.
Berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) untuk SMP yang merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Prinsip umum dalam KBK ini adalah  pembelajaran berpusat pada siswa, pemberdayaan siswa, dan keterlibatan siswa secara penuh dan berkesinambungan. Sehingga sebaiknya menggunakan strategi pembelajaran yang berkaitan dengan pembelajaran kooperatif. Sedangkan ruang lingkup materi atau bahan kajian matematika di SMP mencakup penekanan pada terampil berhitung sehingga materi yang paling banyak diberikan di SMP adalah unit aritmetika.
b.      Analisis siswa
Analisis siswa merupakan telaah tentang karakteristik siswa yang sesuai dengan desain pengembangan perangkat pembelajaran. Karakteristik itu meliputi latar belakang kemampuan akademik (pengetahuan) dan perkembangan kognitif.
c.       Analisis konsep
Analisis konsep digunakan untuk mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan diajarkan kemudian disusun secara sistematis konsep-konsep yang relevan.
d.      Analisis tugas
Analisis tugas ini meliputi analisis terhadap tugas-tugas yang dilakukan oleh siswa selama pembelajaran berlangsung berdasarkan kurikulum SMP. Tujuannya adalah untuk memudahkan guru merumuskan tujuan pembelajaran khusus (indikator pencapaian hasil belajar) yang ingin dicapai.
e.       Spesifikasi tujuan pembelajaran
Tujuannya adalah untuk mengkonversi tujuan analisis konsep dan tugas menjadi tujuan-tujuan pembelajaran khusus, yang dinyatakan dengan tingkah laku. Selanjutnya tujuan pembelajaran khusus tersebut dijadikan dasar untuk menyusun tes dan merancang perangkat pembelajaran.
2.      Tahap Rancangan
Tujuannya adalah untuk menghasilkan prototipe bahan pembelajaran yang dikembangkan, mencakup penyusunan tes dan pengembangan bahan pembelajaran. Langkah-langkahnya adalah sebagi berikut:
a.      Penyusunan tes
Berdasarkan analisis konsep dan analisis tugas, maka dapat disusun suatu tes yang akan menjadi instrumen pengumpul data tentang tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang akan diajarkan.
b.      Pemilihan media
Pemilihan media dalam penelitian ini disesuaikan dengan hasil analisis tugas, analisis konsep, karakteristik siswa, dan fasilitas yang ada di sekolah.
c.       Pemilihan format
Pemilihan format dalam pengembangan perangkat pembelajaran ini meliputi pemilihan format untuk merancang isi materi, pemilihan strategi pembelajaran, dan sumber belajar.
d.      Rancangan awal
Rancangan awal yang dimaksud adalah rancangan seluruh kegiatan yang harus dikerjakan sebelum ujicoba dilaksanakan. Adapun rancangan awal perangkat pembelajaran tersebut antara lain :
1)      Buku siswa
2)      Lembar Kegiatan. Siswa (LKS), penguatan, pembelajaran ulang dan pengayaan.
3)      Rencana Pembelajaran (RP).
Semua perangkat pembelajaran yang dihasilkan pada tahap ini disebut dengan perangkat pembelajaran draft 1.
3.      Tahap Pengembangan
Tujuan tahap pengembangan ini adalah untuk menghasilkan bentuk akhir perangkat pembelajaran setelah melalui revisi berdasarkan masukan para pakar ahli dan data hasil ujicoba. Langkah yang harus dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a.      Penafsiran ahli
Langkah penafsiran ahli antara lain adalah validitas isi. Hal ini berarti validator menelaah semua perangkat pembelajaran yang telah dihasilkan (draft 1). Selanjutnya saran-saran dari para validator digunakan sebagai bahan pertimbangan dan landasan untuk melakukan revisi. Setelah perangkat draft 1 dilakukan perbaikan (revisi 1) maka diperoleh perangkat pembelajaran draft 2.

b.      Uji coba
Sebelum dilakukan ujicoba terbatas dilapangan, perangkat pembelajaran draft 2 disimulasikan terlebih dahulu oleh penulis. Sebagai contoh diambil salah satu RP untuk disimulasikan. Selanjutnya saran dan kritik dari penelaah, guru mitra (guru mata pelajaran), pengamat sebagai bahan pertimbangan dan dasar untuk melakukan perbaikan (revisi 2) terhadap perangkat pembelajaran draft 2. Hasil perbaikan ini adalah perangkat pembelajaran draft 3 yang siap digunakan untuk uji coba selanjutnya.
Selanjutnya ujicoba dilakukan hanya terbatas pada satu kelas. Tujuan ujicoba adalah untuk mendapatkan masukan dari siswa dan guru dilapangan dalam rangka untuk merevisi perangkat draft 3. Kegiatan pembelajaran pada langkah ujicoba ini dilakukan oleh penulis sendiri sebagai gurunya. Rangkaian kegiatan ujicoba ada 3 tahap, yaitu tes awal, pelaksanaan proses pembelajaran, dan tes akhir. Setelah ujicoba selesai, maka selanjutnya memperbaiki (revisi 3) perangkat pembelajaran draft 3 berdasarkan data hasil ujicoba. Akhirnya hasil akhir langkah ini adalah diperoleh perangkat pembelajaran draft 4.
4.      Tahap Penyebaran
Pada penelitian ini tahap penyebaran tidak dilaksanakan, hal ini karena pelaksanaannya hanya ujicoba terbatas saja.
D. Pengembangan Instrumen
            Untuk memperoleh informasi tentang aktivitas siswa dan guru selama kegiatan pembelajaran matematika, keterampilan siswa, respon siswa terhadap pembelajaran matematika dan pengelolaan guru dalam kegiatan belajar mengajar, maka perlu mengembangkan instrumen. Instrumen-instrumen itu adalah sebagai berikut.
1.      Tes Penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran diperoleh dengan melalui tes yang disusun dan dikembangkan sendiri oleh penulis berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.  Tes ini termasuk tes mengukur aspek kognitif siswa berupa bentuk uraian. Selanjutnya setelah perangkat tes diujicobakan kepada sejumlah siswa, maka secara tidak langsung data hasil ujicoba juga digunakan sebagai pertimbangan untuk meperbaiki buku siswa dan LKS.
Pemberian skor pada hasil tes ini menggunakan skala bebas tergantung dari bobot butir soal tersebut. Jadi dalam pemberian skor total setiap butir tergantung dari banyaknya langkah-langkah penyelesaian dari soal tersebut. Kriteria yang digunakan untuk menentukan skor adalah skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Urfiah, 2004) yaitu:
  • Kemampuan 85 % - 100% atau skor 85 – 100 dikategorikan sangat tinggi
  • Kemampuan 65% - 84% atau skor 65 – 84 dikategorikan tinggi
  • Kemampuan 55% - 64% atau skor 55 – 64 dikategorikan sedang
  • Kemampuan 35% - 54% atau skor 35 – 54 dikategorikan rendah
  • Kemampuan 0 % - 34% atau skor 0 – 34 dikategorikan sangat rendah
Langkah selanjutnya setelah perangkat tes disusun adalah melakukan analisis butir soal baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Analisis butir soal secara kualitatif bertujuan untuk melihat butir soal dari segi materi, konstruksi, dan bahasa. Analisis ini sebelum perangkat tes diujicobakan. Sedangkan analisis butir soal dilakukan setelah perangkat tes diujicobakan kepada siswa. 
2.      Lembar pengamatan aktivitas siswa dan guru selama pembelajaran.
Data aktivitas siswa dan guru selama kegiatan pembelajaran diperoleh dengan melalui observasi di kelas. Alat yang digunakan adalah lembar pengamatan aktivitas siswa dan guru selama kegiatan pembelajaran. Aktivitas guru meliputi menyampaikan pendahuluan, memberikan informasi/menjelaskan tentang materi, mengamati kegiatan siswa, memberikan petunjuk/membimbing kegiatan, memotivasi siswa, mengajukan pertanyaan. Aktivitas siswa meliputi mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru atau siswa, membaca (buku siswa dan LKS), mengerjakan soal latihan, diskusi dengan teman dan guru, diskusi dengan teman, dan perilaku yang tidak relevan.
3.      Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran
Data respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran matematika diperoleh melalui angket. Angket tersebut disi oleh siswa setelah mengikuti pembelajaran, dan selanjutnya data ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki perangkat yang dikembangkan.
Respon siswa yang ditanyakan meliputi pendapat maupun komentar siswa terhadap materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, dan perangkat pembelajaran.

4.      Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran matematika
Data pengelolaan pembelajaran matematika ini meliputi data kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Data ini diperoleh melalui pengamatan dengan mengisi lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran matematika. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengamati keterampilan guru dalam menerapkan skenario pembelajaran matematika yang dijabarkan dalam RP dan juga sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki RP. Indikator pengelolaan pembelajaran matematika ini meliputi persiapan, pelaksanaan (pendahuluan, kegiatan inti, penutup), pengelolaan waktu, teknik bertanya guru, dan suasana kelas (berpusat pada siswa, siswa antusias, guru antusias).
5.      Pedoman pengkategorian lembar pengamatan aktivitas siswa dan guru
SB
 
KB
 
SK
 
3,5
 
2,5
 
1,5
 
0,5
 
0
 
1
 
2
 
4
 
3
 
B
 
CB
 
Untuk mengkategorikan lembar pengamatan aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran matematika, digunakan skala Likert. Hal tersebut dapat di ilustrasikan sebagai berikut:
 


(Interval Pengkategorian)
Berdasarkan uraian di atas, diperoleh kategorisasi sebagai kriteria untuk pengamatan aktivitas siswa dan guru sebagai berikut :
0        0,5   = Sangat Kurang
0,5    1,5   = Kurang Baik
1,5     2,5   = Cukup Baik
2,5      3,5   = Baik
3,5    4      = Sangat Baik

 




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar