BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bidang studi matematika merupakan bidang studi yang salah satu cirinya
bersifat hirarkis, dalam artian setiap konsep harus menurut persyaratan pemahaman
atas konsep sebelumnya. Oleh karena itu apabila pada salah satu pokok bahasan
terjadi kesulitan maka akan terbawa pada pokok bahasan berikutnya, sehingga
pada akhirnya guru kemungkinan besar akan menjumpai kegagalan dalam mengajarkan
atau menjelaskan suatu konsep, dan siswa akan mengalami kesulitan dalam belajar.
Untuk itu guru selalu dituntut dalam pengajaran matematika agar selalu
melakukan usaha-usaha perbaikan proses pengajaran, baik dalam hal materi maupun
pengajaran.
Selama ini proses pembelajaran matematika yang ditemui metodenya
konvensional seperti metode ekspositori, demonstrasi, driil, maupun ceramah.
Proses ini hanya cenderung mengejar target kurikulum yang dibebankan. Akibatnya
patokan yang digunakan bukan penguasaan murid atas suatu materi tetapi
berpatokan pada selesai atau tidaknya suatu materi diajarkan. Dipihak lain
murid yang terbebani menggunakan cara pintas untuk mendapatkan nilai bagus. Salah
satunya mencari soal-soal yang pernah dikeluarkan oleh guru pada tahun
sebelumnya dan menghafalkan jawabannya atau meminta les pada guru yang
bersangkutan dengan harapan mendapat latihan seperti soal yang akan di ujikan. Kondisi
seperti ini tidak dapat menumbuh kembangkan aspek kemampuan belajar dan aktivitas
siswa untuk meningkatkan hasil belajar matematika, karena siswa tidak aktif
dalam belajar, sehingga dalam hal ini siswa mengalami kesulitan dalam belajar
matematika.
Untuk meningkatkan hasil belajar matematika maka pemilihan pengajaran yang
tepat dapat membantu pengajaran dalam kelas, salah satunya dengan menggunakan
pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division).
Pembelajaran kooperatif ini mencakupi suatu kelompok kecil siswa yang bekerja
sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas
atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Pembelajaran
ini menekankan pada aspek sosial antar siswa dalam kelompok yang heterogen.
Pembelajaran kooperatif ini memanfaatkan kecenderungan siswa untuk lebih
berinteraksi dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan
hasil belajar dapat ditingkatkan.
Untuk mengimplementasikan pembelajaran kooperatif di kelas, diperlukan perangkat
pembelajaran yang sesuai. Perangkat pembelajaran tersebut, harus disusun
mengacu pada pembelajaran kooperatif. Berdasarkan uraian tersebut penulis
merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika dalam Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD di Kelas I SMP”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini
adalah bagaimana mengembangkan perangkat pembelajaran pada pokok bahasan
Himpunan berdasarkan pembelajaran kooperatif. Perangkat pembelajaran yang dimaksud adalah Buku Siswa,
Lembar Kegiatan Siswa (LKS), dan Rencana Pembelajaran (RP).
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, tujuan penelitian ini adalah mengembangkan perangkat pembelajaran
pada pokok bahasan Himpunan berdasarkan pembelajaran kooperatif
D. Manfaat Hasil Penelitian
Dengan melalui pengembangan ini, peneliti mengharapkan dapat membawa
manfaat bagi siswa, guru atau pendidik maupun pengambil kebijakan bidang
pendidikan. Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
a. Bagi peneliti: dapat memberikan gambaran kepada
peneliti sebagai calon guru mengenai sistem pembelajaran yang baik disekolah,
sehingga dapat dijadikan acuan untuk pengembangan ide-ide dalam perbaikan
pembelajaran kelak, bila menjadi seorang guru.
b. Bagi guru: hasil penelitian ini diharapkan dapat
dimanfaatkan sebagai bahan masukan khususnya bagi guru – guru, sebagai
alternatif dalam pembelajaran agar dapat meningkatkan hasil belajar matematika,
sehingga berguna untuk perbaikan dan peningkatan mutu pengajaran.
c. Bagi siswa: hasil penelitian ini diharapkan dapat
menumbuhkan ide-ide positif terhadap matematika, agar dapat menarik siswa untuk
menyenangi matematika.
d. Bagi sekolah: memberikan sumbangan yang sangat
berharga dalam rangka perbaikan pengajaran di tingkat SMP
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Belajar Mengajar Matematika
Mengajar pada dasarnya merupakan usaha untuk menciptakan situasi yang
memungkinkan berlangsungnya proses belajar. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan
oleh hudoyo (dalam nurhasanah 2003:8) sebagai berikut :
“Mengajar adalah suatu kegiatan dimana pengajar
menyampaikan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki peserta didik. Tujuan
pengajaran adalah agar pengetahuan yang disampaikan itu dapat difahami peserta
didik karena mengajar yang baik hanya jika hasil peserta didik baik”
Dengan
demikian, rumusan mengajar diatas disamping berpusat pada siswa yang belajar
juga melihat hakikat mengajar sebagai proses, yaitu proses yang dilaksanakan
oleh guru dalam menumbuhkan kegiatan belajar siswa.
Salah satu prinsip paling
penting dari psikologi pendidikan adalah guru tidak hanya semata-mata
memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan di dalam
benaknya sendiri. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan
atau menerapkan sendiri ide-ide, dan dengan mengajak siswa agar menyadari atau
secara sadar mengunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.
Pada petunjuk pelaksanaan
proses belajar mengajar disebutkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan
sikap dan tingkah laku setelah terjadinya interaksi dengan sumber belajar,
sumber belajar ini dapat berupa buku, lingkungan, guru atau sesama teman.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses
perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut
akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.
Pendapat lain dikemukakan oleh Sudjana (Urpiah, 2004) yang mengatakan
bahwa: belajar bukan menghafal dan bukan juga mengingat. Belajar adalah suatu
proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, perubahan
sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Skinner (Suherman, 2001) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perilaku
pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia
tidak belajar maka responnya menurun. Sejalan dengan itu, menurut Hilgard
(Slameto, 1987) bahwa belajar adalah suatu proses perubahan kegiatan dan reaksi
terhadap lingkungan, perubahan kegiatan yang dimaksud mencakup pengetahuan
kecakapan tingkah laku.
Berdasarkan beberapa pengertian belajar yang dikemukakan di atas maka dapat
dinyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh
seseorang untuk memperoleh perubahan-perubahan dalam hidupnya melalui latihan,
pengalaman dan interaksi dengan sumber belajar. Jadi, proses belajar tidak
hanya terjadi di kelas tetapi dapat terjadi dimana saja secara kontinu yang
dilandasi adanya perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik.
Agar proses belajar dapat berlangsung dengan optimal maka tujuan
pengajaran, cara, dan sasaran yang digunakan dalam kegiatan pengajaran perlu
direncanakan sehingga tingkatan keberhasilan proses belajar mengajar dapat
diketahui baik yang berupa hasil belajar siswa maupun proses kegiatan guru.
Dengan demikian mengajar adalah kegiatan terorganisir dan bertujuan membantu
menggairahkan siswa belajar dalam proses belajar mengajar.
Ditinjau dari ranah kognitif, sebenarnya tujuan pertama pengajaran
matematika itu ialah pencapaian transfer belajar. Segala usaha dikerahkan agar
murid berhasil menguasai pengetahuan dan keterampilan matematika untuk dapat memecahkan
masalah-masalah baik di matematika sendiri maupun di ilmu yang lain. Bila usaha
itu berhasil, dikatakan transfer belajar itu berhasil. Tujuan pengajaran pada
dasarnya merupakan harapan, yakni apa yang diharapkan dari murid yang belajar.
Lebih tegas lagi, Robert F Meager (dalam Mohamad ali, 1987:32) mengemukakan
bahwa tujuan pengajaran yaitu maksud yang dikomunikasikan melalui pernyataan
yang menggambarkan tentang perubahan yang diharapkan dari muridnya.
Pada dasarnya belajar mengajar bertujuan mengembangkan potensi siswa secara
optimal yang memungkinkan siswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan dan dapat
bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Dalam upaya mencapai tujuan
tersebut, banyak faktor yang harus dipenuhi serta diperhatikan oleh guru, baik
secara langsung ataupun tidak langsung yang dapat mempengaruhi proses belajar
siswa.
Diantara faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam proses belajar
mengajar adalah faktor kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar
mengajar, sebab dalam proses belajar mengajar terdapat bermacam-macam
perbedaan. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain disebabkan oleh kemampuan
guru dalam mengajar, pengetahuan yang dimilikinya, dan latar belakang
pendidikannya.
B.
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif atau cooperatif learning mengacu pada suatu metode
pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil, saling membantu
dalam belajar. Pembelajaran kooperatif lebih luas dalam pengajaran merupakan
penerapan pendekatan kontruktivis yang lahir dari gagasan Piaget dan Pygotsky, bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami
konsep – konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut
dengan temannya.
Pembelajaran kooperatif melibatkan siswa-siswa dalam kelompok yang terdiri
dari empat sampai lima siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda, dan siswa
diterjemahkan pada kelompok-kelompok untuk beberapa minggu atau bulan.
Pembelajaran kooperatif menekankan pada kehadiran teman sebaya yang
berinteraksi antara sesamanya sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan dan
membahas suatu masalah atau tugas untuk mencapai tujuan bersama. Dalam
penerapannya setiap siswa dalam kelompok tersebut saling tergantung satu sama
lain untuk mencapai satu penghargaan bersama.
Herman Hudoyo (1990) Pembelajaran kooperatif dapat dibedakan atas dua
kategori, yaitu: kategori pertama disebut metode belajar kelompok atau Grup Study Method, dan kategori kedua
disebut pembelajaran berbasis proyek atau Project based learning, atau
biasa disebut juga pembelajaran aktif.
Dalam metode belajar kelompok, siswa bekerja sama saling membantu
mempelajari informasi atau masalah-masalah yang tersusun dengan baik. Sedangkan
metode pembelajaran berbasis proyek memusatkan pada masalah-masalah yang belum
tersusun dengan baik, hasil yang diharapkan atau tujuan pembelajarannya kurang
terumuskan dengan jelas.
Ciri-ciri pembelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif sebagai
berikut:
1. Siswa bekerja sama dalam kelompok secara
kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki
kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
3. Bilamana mungkin anggota kelompok terdiri dari
ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.
4. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang
individu.
Student Teams Achievement Division (STAD) atau tim siswa kelompok prestasi
merupakan pendekatan kooperatif yang paling sederhana diantra pendekatan
kooperatif lain seperti pendekatan jigsaw, Investigasi Kelompok (IK) dan
pendekatan Struktural.
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John
Hopkin. Dalam STAD siswa ditempatkan dalm tim belajar yang beranggotakan 4-5
orang yang harus heterogen terdiri dari
laki-laki dan perempuan berasal dari berbagai suku, memiliki kamampuan
tinggi, sedang dan rendah. Guru yang
menggunakan STAD mengacu pada belajar kelompok. Anggota Tim menggunakan lembar
kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk mentuntaskan pelajarannya
dan kemudian saling membantu satu sama lain dan atau melakukan diskusi.
STAD terdiri dari suatu siklus pengajaran biasa, belajar kooperatif dalam
tim, kemampuan campur, kuis, dan penghargaan atau ganjaran lain diberikan pada
tin yang anggotanya paling tinggi melampaui rekornya sendiri yang terdahulu.
STAD
terdiri dari siklus kegiatan pengajaran
biasa seperti berikut ini :
a. Mengajar: menyajikan pelajaran
b. Belajar dalam Tim: siswa belajar dam tim mereka
dengan dipandu oleh lembar kegiatan siswa untuk menuntaskan materi pelajaran.
c. Tes: siswa mengerjakan kuis atau tugas secara
individu (misalnya tes essai atau kinerja).
d. Penghargaan Tim: Skor tim dihitung berdasarkan
skor peningkatan anggota tim, dan sertifikat, laporan berkala kelas, atau papan
pengumuman digunakan untuk memberikan penghargaan kepada tim yang berhasil
mencetak skor tinggi.
Perhitungan skor harus dilakukan
segera setelah pemberian kuis dan apabila memungkinkan pengumuman hasil kuis
dilakukan pada pertemuan pertama setelah kuis tersebut. Perhitungan skor tim
adalah dengan menjumlahkan poin yang diperoleh tiap anggota tim dan mambagi
jumlah itu dengan banyaknya anggota tim kelompoknya yang mengerjakan kuis.
C.
Model pengembangan
perangkat pembelajaran
Menurut Subaer (2004:1), Research and
Development adalah kerja kreatif yang dilakukan secara sistematis untuk
menambah khasanah pengetahuan dan memanfaatkannya untuk merancang berbagai
aplikasi. Sedang Briggs (Wijayanti, 1999), model adalah seperangkat
prosedur yang berurutan untuk mewujudkan
suatu proses, seperti penilaian suatu kebutuhan, pemilihan media, dan evaluasi.
Sesuai dengan pengertian tersebut, maka model pengembangan pembelajaran adalah
seperangkat prosedur yang berurutan untuk melaksanakan pengembangan pembelajaran.
Selanjutnya menurut Slamet Kislan (Wijayanti, 1999) bahwa pengembangan
instruksional adalah cara yang sistematis dalam mengidentifikasi,
mengembangkan, dan mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang diarahkan
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Hasil akhir dari pengembangan
instruksional adalah suatu sistem instruksional yang berupa seperangkat materi
dan strategi belajar mengajar yang secara empiris dan konsisten dapat mencapai
tujuan instruksional tertentu.
Model-model pengembangan pembelajaran antara lain sebagai berikut:
1. Model
dari Degeng (Wijayanti, 1999)
Model
pengembangan perangkat pembelajaran ini meliputi tiga tahap, yaitu:
- Tahap I: Analisis kondisi pembelajaran, mencakup:
1). Analisis tujuan dan analisis
bidang studi
2). Analisis sumber belajar
3). Analisis karakter siswa
4). Menetapkan tujuan belajar dan isi
pembelajaran
- Tahap II: Pengembangan, mencakup:
1). Menetapkan strategi
pengorganisasian isi pembelajaran
2). Menetapkan strategi penyampaian
isi pembelajaran
3). Menetapkan strategi pengelolaan
pembelajaran.
- Tahap III: Pengukuran hasil pembelajaran
Pada tahap ini adalah pengembangan
prosedur pengukur hasil pembelajaran.
Model Degeng mengabaikan salah satu langkah oleh
perancang pembelajaran yaitu penerapan strategi pengorganisasian isi
pembelajaran. Langkah ini perancang diberi kebebasan untuk mengorganisasikan
isi pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan kondisi siswa.
2. Model 4-D (Model Thiagarajan)
Model ini meliputi empat tahap, yaitu:
- Tahap I: Define (Pembatasan)
Tujuan tahap ini
untuk menetapkan dan menentukan syarat-syarat pembelajaran yang meliputi tujuan
pembelajaran dan pembatasan materi pembelajaran. Tahap ini mencakup lima
langkah, yaitu analisis awal-akhir, analisis siswa, analisis konsep, analisis
tugas dan spesifikasi tujuan pembelajaran.
- Tahap II: Design (Rancangan)
Tujuan tahap ini
adalah untuk menghasilkan prototype pembelajaran yang meliputi soal tes dan
pengembangan materi pembelajaran. Tahap ini mencakup empat langkah, yaitu
penyusunan tes, pemilihan media, pemilihan format, dan perencanaan awal.
- Tahap III: Develope (Pengembangan)
Tujuan tahap ini
adalah untuk menghasilkan bentuk akhir perangkat pembelajaran yang dikembangkan
pada tahap perencanaan dan untuk mendapatkan umpan balik melalui evaluasi
formatif. Tahap ini mencakup dua langkah, yaitu penilaian ahli dan uji coba.
- Tahap IV: Disseminate (Penyebaran)
Tujuan tahap ini
adalah untuk melakukan tes validitas dan pemilihan secara kooperatif terhadap
perangkat pembelajaran yang telah diujicobakan dan direvisi, kemudian
disebarkan ke lapangan. Langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah penyebaran
perangkat pembelajaran untuk digunakan di sekolah-sekolah.
Model 4-D ini lebih terperinci langkah-langkahnya dan
lebih luas pengembangannya yaitu sampai pada penyebaran di lapangan. Namun pada
tahap pengembangan dan penyebaran membutuhkan banyak biaya dan waktu yang harus
disediakan.
Berdasarkan uraian kedua
model di atas, terdapat tiga tahap yang sama yaitu pendefenisian,
pengembangan, dan penilaian. Dengan melihat kelebihan kedua model tersebut
penulis menggunakan model 4-D Thiagarajan.
Hal ini karena dalam menyusun perangkat pembelajaran terlebih dahulu yang harus
dilakukan adalah analisis kurikulum yang berada pada langkah awal dari model
ini. Model 4-D ini juga lebih terperinci dan dapat memudahkan perancang untuk
menentukan langkah selanjutnya. Dan terakhir pada model ini perancang dapat
dengan leluasa melakukan uji coba dan revisi berkali-kali sampai dipandang
diperoleh perangkat dengan kualitas maksimal.
D.
Materi Pembelajaran
Materi pembalajaran pada penelitian pengembangan ini
adalah pokok bahasan Himpunan. Berikut ini adalah sub pokok bahasannya :
1. Pengertian himpunan dan
anggota himpunan.
2. Menyatakan himpunan.
3. Kardinalitas himpunan.
4. Himpunan semesta, Diagram
Venn, Himpunan bagian, dan
Himpunan kosong.
5. Irisan.
6. Gabungan.
7. Sifat-sifat operasi
(pengayaan)
BAB III
METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
A.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan
meliputi pengembangan perangkat pembelajaran, yang terdiri dari (1) Buku Siswa,
(2) Lembar Kerja Siswa, dan (3) Rencana Pembelajaran.
B.
Lokasi dan
Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan Pada
Siswa Kelas I SMP Ma’arif Makassar. Dan subjek penelitiannya adalah Siswa kelas
I, dengan jumlah siswanya 33 orang, yang
terdiri dari 13 orang siswa pria dan 20 orang
siswa wanita.
C.
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika
Pengembangan perangkat pembelajaran matematika yang digunakan mengacu pada
model 4–D Thiagarajan. Model ini
merupakan sistem pendekatan pengembangan pembelajaran yang dilakukan meliputi 4
tahap, yaitu pembatasan, rancangan, pengembangan
dan penyebaran. Pada tahap penyebaran belum dapat dilakukan dalam penelitian
ini. Berikut adalah uraian secara rinci tahap-tahap pengembangan model 4-D yang
digunakan dalam penelitian ini.
1.
Tahap Pembatasan
Tujuannya adalah menetapkan
dan menentukan syarat-syarat pembelajaran yang meliputi tujuan pembelajaran, dan pembatasan materi
pembelajaran. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut.
a.
Analisis kurikulum 2004 Matematika SMP.
Berdasarkan kurikulum berbasis
kompetensi (KBK) untuk SMP yang merupakan pengetahuan, keterampilan, dan
nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Prinsip umum dalam KBK ini adalah
pembelajaran berpusat pada siswa, pemberdayaan siswa, dan keterlibatan siswa
secara penuh dan berkesinambungan. Sehingga sebaiknya menggunakan strategi
pembelajaran yang berkaitan dengan pembelajaran kooperatif. Sedangkan ruang
lingkup materi atau bahan kajian matematika di SMP mencakup penekanan pada
terampil berhitung sehingga materi yang paling banyak diberikan di SMP adalah
unit aritmetika.
b.
Analisis siswa
Analisis siswa merupakan telaah tentang karakteristik
siswa yang sesuai dengan desain pengembangan perangkat pembelajaran.
Karakteristik itu meliputi latar belakang kemampuan akademik (pengetahuan) dan
perkembangan kognitif.
c.
Analisis konsep
Analisis konsep digunakan untuk mengidentifikasi
konsep-konsep utama yang akan diajarkan kemudian disusun secara sistematis
konsep-konsep yang relevan.
d.
Analisis tugas
Analisis tugas ini meliputi analisis terhadap tugas-tugas
yang dilakukan oleh siswa selama pembelajaran berlangsung berdasarkan kurikulum
SMP. Tujuannya adalah untuk memudahkan guru merumuskan tujuan pembelajaran
khusus (indikator pencapaian hasil belajar) yang ingin dicapai.
e.
Spesifikasi tujuan pembelajaran
Tujuannya adalah untuk mengkonversi tujuan analisis
konsep dan tugas menjadi tujuan-tujuan pembelajaran khusus, yang dinyatakan
dengan tingkah laku. Selanjutnya tujuan pembelajaran khusus tersebut dijadikan
dasar untuk menyusun tes dan merancang perangkat pembelajaran.
2.
Tahap Rancangan
Tujuannya adalah untuk menghasilkan prototipe bahan
pembelajaran yang dikembangkan, mencakup penyusunan tes dan pengembangan bahan
pembelajaran. Langkah-langkahnya adalah sebagi berikut:
a.
Penyusunan tes
Berdasarkan analisis konsep dan analisis tugas, maka
dapat disusun suatu tes yang akan menjadi instrumen pengumpul data tentang
tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang akan diajarkan.
b.
Pemilihan media
Pemilihan media dalam penelitian ini disesuaikan dengan
hasil analisis tugas, analisis konsep, karakteristik siswa, dan fasilitas yang
ada di sekolah.
c.
Pemilihan format
Pemilihan format dalam pengembangan perangkat
pembelajaran ini meliputi pemilihan format untuk merancang isi materi,
pemilihan strategi pembelajaran, dan sumber belajar.
d.
Rancangan awal
Rancangan awal yang dimaksud adalah rancangan seluruh
kegiatan yang harus dikerjakan sebelum ujicoba dilaksanakan. Adapun rancangan
awal perangkat pembelajaran tersebut antara lain :
1) Buku siswa
2) Lembar Kegiatan. Siswa (LKS), penguatan,
pembelajaran ulang dan pengayaan.
3) Rencana Pembelajaran (RP).
Semua perangkat pembelajaran yang dihasilkan pada tahap
ini disebut dengan perangkat pembelajaran draft 1.
3.
Tahap Pengembangan
Tujuan tahap pengembangan ini adalah untuk menghasilkan
bentuk akhir perangkat pembelajaran setelah melalui revisi berdasarkan masukan
para pakar ahli dan data hasil ujicoba. Langkah yang harus dilakukan pada tahap
ini adalah sebagai berikut:
a.
Penafsiran ahli
Langkah penafsiran
ahli antara lain adalah validitas isi. Hal ini berarti validator menelaah semua
perangkat pembelajaran yang telah dihasilkan (draft 1). Selanjutnya saran-saran
dari para validator digunakan sebagai bahan pertimbangan dan landasan untuk
melakukan revisi. Setelah perangkat draft 1 dilakukan perbaikan (revisi 1) maka
diperoleh perangkat pembelajaran draft 2.
b.
Uji coba
Sebelum dilakukan
ujicoba terbatas dilapangan, perangkat pembelajaran draft 2 disimulasikan
terlebih dahulu oleh penulis. Sebagai contoh diambil salah satu RP untuk
disimulasikan. Selanjutnya saran dan kritik dari penelaah, guru mitra (guru
mata pelajaran), pengamat sebagai bahan pertimbangan dan dasar untuk melakukan
perbaikan (revisi 2) terhadap perangkat pembelajaran draft 2. Hasil perbaikan
ini adalah perangkat pembelajaran draft 3 yang siap digunakan untuk uji coba
selanjutnya.
Selanjutnya ujicoba
dilakukan hanya terbatas pada satu kelas. Tujuan ujicoba adalah untuk
mendapatkan masukan dari siswa dan guru dilapangan dalam rangka untuk merevisi
perangkat draft 3. Kegiatan pembelajaran pada langkah ujicoba ini dilakukan
oleh penulis sendiri sebagai gurunya. Rangkaian kegiatan ujicoba ada 3 tahap,
yaitu tes awal, pelaksanaan proses pembelajaran, dan tes akhir. Setelah ujicoba
selesai, maka selanjutnya memperbaiki (revisi 3) perangkat pembelajaran draft 3
berdasarkan data hasil ujicoba. Akhirnya hasil akhir langkah ini adalah
diperoleh perangkat pembelajaran draft 4.
4.
Tahap Penyebaran
Pada penelitian ini tahap penyebaran
tidak dilaksanakan, hal ini karena pelaksanaannya hanya ujicoba terbatas saja.
D.
Pengembangan Instrumen
Untuk
memperoleh informasi tentang aktivitas siswa dan guru selama kegiatan
pembelajaran matematika, keterampilan siswa, respon siswa terhadap pembelajaran
matematika dan pengelolaan guru dalam kegiatan belajar mengajar, maka perlu
mengembangkan instrumen. Instrumen-instrumen itu adalah sebagai berikut.
1. Tes
Penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Tingkat penguasaan
siswa terhadap materi pelajaran diperoleh dengan melalui tes yang disusun dan
dikembangkan sendiri oleh penulis berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan. Tes ini termasuk tes
mengukur aspek kognitif siswa berupa bentuk uraian. Selanjutnya setelah
perangkat tes diujicobakan kepada sejumlah siswa, maka secara tidak langsung
data hasil ujicoba juga digunakan sebagai pertimbangan untuk meperbaiki buku
siswa dan LKS.
Pemberian skor pada
hasil tes ini menggunakan skala bebas tergantung dari bobot butir soal
tersebut. Jadi dalam pemberian skor total setiap butir tergantung dari
banyaknya langkah-langkah penyelesaian dari soal tersebut. Kriteria yang
digunakan untuk menentukan skor adalah skala lima berdasarkan teknik
kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
(Urfiah, 2004) yaitu:
- Kemampuan 85 % - 100% atau skor 85 – 100 dikategorikan sangat tinggi
- Kemampuan 65% - 84% atau skor 65 – 84 dikategorikan tinggi
- Kemampuan 55% - 64% atau skor 55 – 64 dikategorikan sedang
- Kemampuan 35% - 54% atau skor 35 – 54 dikategorikan rendah
- Kemampuan 0 % - 34% atau skor 0 – 34 dikategorikan sangat rendah
Langkah selanjutnya
setelah perangkat tes disusun adalah melakukan analisis butir soal baik secara
kualitatif maupun kuantitatif. Analisis butir soal secara kualitatif bertujuan
untuk melihat butir soal dari segi materi, konstruksi, dan bahasa. Analisis ini
sebelum perangkat tes diujicobakan. Sedangkan analisis butir soal dilakukan
setelah perangkat tes diujicobakan kepada siswa.
2. Lembar
pengamatan aktivitas siswa dan guru selama pembelajaran.
Data aktivitas
siswa dan guru selama kegiatan pembelajaran diperoleh dengan melalui observasi
di kelas. Alat yang digunakan adalah lembar pengamatan aktivitas siswa dan guru
selama kegiatan pembelajaran. Aktivitas guru meliputi menyampaikan pendahuluan,
memberikan informasi/menjelaskan tentang materi, mengamati kegiatan siswa,
memberikan petunjuk/membimbing kegiatan, memotivasi siswa, mengajukan
pertanyaan. Aktivitas siswa meliputi mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru
atau siswa, membaca (buku siswa dan LKS), mengerjakan soal latihan, diskusi dengan
teman dan guru, diskusi dengan teman, dan perilaku yang tidak relevan.
3.
Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran
Data respon siswa
terhadap kegiatan pembelajaran matematika diperoleh melalui angket. Angket
tersebut disi oleh siswa setelah mengikuti pembelajaran, dan selanjutnya data
ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki perangkat yang
dikembangkan.
Respon siswa yang
ditanyakan meliputi pendapat maupun komentar siswa terhadap materi pelajaran,
kegiatan pembelajaran, dan perangkat pembelajaran.
4. Lembar
pengamatan pengelolaan pembelajaran matematika
Data pengelolaan
pembelajaran matematika ini meliputi data kemampuan guru dalam mengelola
pembelajaran. Data ini diperoleh melalui pengamatan dengan mengisi lembar
pengamatan pengelolaan pembelajaran matematika. Tujuan dari pengamatan ini
adalah untuk mengamati keterampilan guru dalam menerapkan skenario pembelajaran
matematika yang dijabarkan dalam RP dan juga sebagai bahan pertimbangan untuk
memperbaiki RP. Indikator pengelolaan pembelajaran matematika ini meliputi
persiapan, pelaksanaan (pendahuluan, kegiatan inti, penutup), pengelolaan
waktu, teknik bertanya guru, dan suasana kelas (berpusat pada siswa, siswa
antusias, guru antusias).
5. Pedoman
pengkategorian lembar pengamatan aktivitas siswa dan guru
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(Interval Pengkategorian)
Berdasarkan uraian
di atas, diperoleh kategorisasi sebagai kriteria untuk pengamatan aktivitas
siswa dan guru sebagai berikut :
0 – 0,5 = Sangat Kurang
0,5 – 1,5 = Kurang Baik
1,5 – 2,5 = Cukup Baik
2,5 – 3,5 = Baik
3,5 – 4 = Sangat Baik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar