BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini sains dan teknologi berkembang sangat pesat. Perkembangan
tersebut menuntut hadirnya individu-individu yang kreatif, beretos kerja
tinggi, profesional, dan memiliki kepedulian atau kepekaan terhadap masalah-masalah
yang timbul dalam masyarakat serta memiliki kemampuan mengatasi masalah
tersebut. Soedjadi (dalam Maesuri, 2002) mengemukakan bahwa salah satu ilmu
dasar yang mempunyai peranan penting dalam penguasaan sains dan teknologi
adalah matematika, baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya. Hal ini
berarti bahwa sampai batas tertentu matematika perlu dikuasai oleh segenap
warga negara Indonesia.
Mengingat pentingnya peranan matematika, maka pengajaran matematika harus
ditangani secara serius dan terus menerus. Perbaikan-perbaikan dapat dilakukan
guru dan sekolah baik pada aspek proses pembelajaran, maupun pada aspek
evaluasi yang diterapkannya. Hal ini dimaksudkan agar siswa memiliki penguasaan
matematika yang lebih bermakna dan nalar siswa berkembang lebih baik.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan perubahan pola pikir yang
digunakan sebagai landasan pelaksanaan kurikulum. Ada beberapa model
pembelajaran yang dapat digunakan, salah satunya adalah model pembelajaran
langsung yang dirancang untuk membelajarkan siswa.
Kata belajar dapat diartikan sebagai perubahan dalam kemampuan, sikap,
atau perilaku siswa yang relatif permanen sebagai akibat dari pengalaman atau
pelatihan. Perubahan kemampuan yang hanya berlangsung sekejap dan kemudian
kembali ke prilaku semula menunjukkan belum terjadinya peristiwa pembelajaran,
walaupun mungkin terjadi pengajaran. Tugas seorang guru adalah membuat agar
proses pembelajaran pada siswa berlangsung secara efektif.
Selain fokus pada siswa pola fikir pembelajaran perlu diubah dari sekedar
memahami konsep dan prinsip keilmuan menjadi memiliki kemampuan untuk berbuat
sesuatu dengan menggunakan konsep dan prinsip keilmuan yang dikuasai. Seperti
yang dinyatakan dalam pilar-pilar pembelajaran
dari UNESCO, selain terjadi ‘(learning
to know)’ (belajar untuk tahu), juga harus terjadi ‘learning to do’ (belajar untuk berbuat), dan bahkan dituntut
sampai pada ‘learning to be’ (belajar
untuk membangun jati diri yang kokoh), dan ‘learning
to live together’ (belajar untuk hidup bersama secara harmonis).
Oleh karena itu, Departemen Pendidikan Nasional melakukan
terobosan-terobosan baru di bidang pendidikan guna mengadakan peningkatan mutu
pendidikan. Salah satu kinerja dari Departemen Pendidikan Nasional yaitu dengan
senantiasa mengubah kurikulum yang dianggap sebagai salah satu faktor
penghambat perkembangan pendidikan di Indonesia pada setiap periode.
Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diterbitkan oleh
Departemen Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa tujuan umum pendidikan
matematika adalah agar siswa memiliki:
1.
kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang
dapat digunakan dalam memecahkan masalah matematika, pelajaran lain, ataupun
masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata,
2.
kemampuan menggunakan matematika sebagai alat
komunikasi, dan
3.
kemampuan menggunakan matematika sebagai cara
bernalar yang dapat dialihgunakan pada setiap keadaan, seperti berfikir kritis,
berfikir logis, berfikir sistematis, bersifat objektif, bersifat jujur,
bersifat disiplin dalam memandang dan menyelesaikan masalah matematika.
Tujuan umum pendidikan matematika di atas dapat dipandang sebagai tujuan
matematika. Tujuan ini diharapkan dapat dicapai melalui pencapaian tujuan isi
matematika. Sejalan dengan itu, Soedjadi (2000) menjelaskan bahwa tujuan
pendidikan matematika untuk masa depan haruslah memperhatikan:
1.
tujuan yang bersifat formal yaitu penataan nalar
serta pembentukan pribadi anak didik, dan
2.
tujuan yang bersifat material, yaitu penerapan
matematika serta keterampilan matematika.
Untuk mencapai tujuan pendidikan matematika di atas, maka sudah saatnya
seorang guru bekerja dengan menyadari bahwa mengajar matematika tidak sekedar
mengarahkan siswa berfikir tentang apa yang dipelajarinya dan menerapkan metode
mengajar yang dipilih, tetapi harus melihat dan mengamati apa yang dipikirkan
oleh siswa. Di samping itu, juga mengamati yang berkembang dalam suatu diskusi tentang
materi matematika yang dipelajari siswa. Guru harus mencari cara agar siswa
aktif mengkomunikasikan pengetahuan matematika yang dipilih. Oleh sebab itu,
guru harus menggunakan alat untuk mengumpulkan informasi tentang kinerja siswa
serta mengadakan penilaian secara rutin terhadap kemajuan yang diperoleh siswa.
Untuk tujuan tersebut salah satu alat yang baik digunakan adalah portofolio
matematika.
Dalam penggunaan portofolio, semua pihak baik sekolah, guru, orang tua
maupun masyarakat menaruh harapan besar pada hasil pembelajaran matematika
dalam mendidik siswa memiliki kompetensi dengan keterampilan dan daya nalar
yang akan mereka butuhkan dalam hidup sukses dan produktif di masa depan.
Penggunaan assesmen portofolio memacu kreatifitas guru untuk mengembangkan
kemajuan-kemajuan untuk pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa dari waktu ke
waktu.
Berdasarkan observasi awal, guru bidang studi matematika pada kelas IX
SMP Negeri I Ajangale sudah memberlakukan kurikulum 2004, walaupun diakui belum
terlalu sistematis, dalam artian kualitas pembelajaran matematika pada siswa
SMP Negeri I Ajangale kurang tercapai. Hal ini terlihat pada kemampuan
matematika kelas IX-A SMP Negeri I Ajangale yang hanya mencapai rata-rata nilai
5,0 pada semester ganjil 2005/2006. Salah satu alternatif untuk meningkatkan
hasil pembelajaran matematika siswa dengan menerapkan assesmen portofolio dapat
meningkatkan hasil belajar kelas IX siswa SMP Negeri I Ajangale.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian dengan
judul: “Implementasi Assesmen Portofolio dalam Pembelajaran Langsung untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Kelas IX-A Siswa SMP 1 Ajangale Kabupaten Bone”
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, dapat di
rumuskan masalah sebagai berikut
“Apakah penerapan assesmen portofolio dalam
pembelajaran langsung dapat meningkatkan
hasil belajar matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale Kab.
Bone?”
C. Cara Pemecahan Masalah
Agar sasaran penelitian dapat dicapai maka dalam mengatasi masalah yang
dikemukakan sebelumnya dilakukan tindakan berupa penerapan assesmen portofolio sebagai
upaya peningkatan hasil pembelajaran matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1
Ajangale Kab. Bone. Penerapan assesmen portofolio meliputi tes perhitungan, tes
pemecahan masalah, tes komunikasi matematika, tes penggunaan teknologi,
pekerjaan rumah, partisipasi, rangkuman materi, dan komentar guru dan orang
tua.
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan hasil
belajar matematika siswa kelas IX-A SMP 1 Ajangale Kab. Bone melalui penerapan
assesmen portofolio dalam pembelajaran langsung.
E. Manfaat Penelitian
Hasil dari
pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat
berarti bagi:
1.
Siswa
Memberi masukan bagi siswa
tentang bagaimana merefleksikan dan menilai diri sendiri tentang kualitas dan
kuantitas pekerjaan dan kemajuannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2.
Guru
Memberikan masukan bagi guru agar dalam melaksanakan proses penilaian
hasil pembelajaran tidak sekedar mengacu pada hasil pemberian tes, tetapi juga
berdasarkan pengamatan kinerja siswa selama dalam proses belajar dan penilaian
yang terus-menerus tentang kemajuan belajar siswa.
3.
Sekolah
Hasil-hasil penelitian ini dapat mendasari pihak sekolah dalam menetapkan
penggunaan model penilaian yang berbasis kelas khususnya dalam penggunaan
kurikulum berbasis kompetensi (KBK) secara nasional.
4.
Orang tua siswa
Pada penelitian ini dikembangkan proses penilaian yang melibatkan orang
tua siswa dalam menggambarkan kepandaian atau prestasi siswa. Oleh karena itu
hasil-hasil penelitian ini dapat menjadi informasi bagi orang tua siswa akan
perlunya keterlibatan aktif mereka dalam mengkomunikasikan penilaian dan harapan-harapannya
tentang proses pembelajaran siswa.
BAB II
KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kerangka Teoretik
1. Belajar Matematika
Matematika adalah suatu
pelajaran yang tersusun secara beraturan, logis, berjenjang dari yang lebih
mudah hingga yang lebih kompleks. Belajar matematika memang memerlukan
aktivitas mental yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan belajar mata
pelajaran lainnya, sehingga banyak siswa yang menganggapnya sulit bahkan
menakutkan. Tapi bukan mustahil bila guru memberikan suasana mengajar yang
kondusif akan mengakibatkan siswa terfokus pada pembelajaran matematika.
Belajar
matematika adalah aktivitas yang berlangsung selama proses belajar dan sangat
menentukan hasil belajar yang dicapai siswa. Belajar matematika membutuhkan
aktivitas mental dan kognitif karena pada dasarnya matematika itu berkenaan
dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dengan
penalaran deduktif. Perlakuan-perlakuan selama proses belajar yang dibentuk dan
dibina oleh guru akan membantu siswa memahami ide atau konsep dan penalaran di dalam
matematika. Belajar matematika berarti belajar ilmu pasti. Belajar ilmu pasti
berarti bernalar. Jadi belajar matematika berarti berhubungan dengan penalaran.
Djaali (1991)
mengemukakan bahwa “pada hakikatnya belajar matematika adalah suatu aktivitas
mental untuk memahami arti dari hubungan-hubungan dan simbol-simbol, kemudian
merupakan konsep yang dihasilkan ke situasi nyata. Sedangkan Jerome Bruner (dalam
Suherman, dkk., 2003) memberikan batasan bahwa belajar matematika adalah
belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat
dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep
dan struktur matematika itu. Pendapat ini jelas menggambarkan bahwa tingginya
aktivitas mental dalam belajar matematika sangat membutuhkan strategi
pengajaran yang tepat untuk diterapkan oleh guru agar siswa mencapai hasil
belajar matematika yang berkualitas. Hasil belajar tersebut ditunjukkan dengan
pencapaian kompetensi berfikir dan bekerja dengan penalaran matematika.
Dalam jurnal NCTM (dalam Asdar, 2005) dikemukakan tujuan
pendidikan matematika yang mencakup: (1) valuing
mathematics, (2) developing mathematical confidence, (3) becoming problem
solver, (4) communicating mathematically, dan (5) reasoning mathematically. Jelas
tergambar bahwa pencapaian tujuan matematika ini banyak berorientasi pada
proses berlangsungnya pembelajaran, tidak sekedar diukur dari pemberian tes
tradisional. Untuk mencapai tujuan ini proses pembelajaran matematika harus
dikelola dengan memperhatikan kemajuan-kemajuan yang dicapai siswa selama
proses belajar berlangsung termasuk di dalamnya penggunaan assesmen yang cocok
untuk menilai hasil belajar siswa.
2. Pembelajaran Langsung
Model pengajaran langsung adalah suatu pendekatan mengajar yang dapat
membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang
dapat diajarkan selangkah demi selangkah.
Model pengajaran langsung
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Adanya
tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian
hasil belajar.
2.
Terdapat
pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran.
3.
Memiliki
sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang diperlukan agar kegiatan
pembelajaran dapat berlangsung dengan berhasil.
Model pengajaran langsung
dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural
dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari
selangkah demi selangkah. Para guru selalu menghendaki agar siswa memperoleh kedua macam pengetahuan tersebut,
supaya mereka dapat melakukan suatu kegiatan dengan berhasil.
Pada model pengajaran langsung
terdapat lima fase yang sangat penting, yaitu:
1.
Menyampaikan
tujuan dan mempersiapkan siswa.
Terlepas dari model pengajaran yang
digunakan, guru yang baik selalu mengawali pelajarannya dengan menjelaskan
tujuan pembelajaran serta menyiapkan siswa untuk mengikuti pelajaran. Tujuan
langkah awal ini ialah untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa, serta
memotivasi mereka untuk berperan serta
dalam pelajaran itu.
2.
Mendemonstrasikan
pengetahuan atau keterampilan.
Fase kedua pengajaran langsung
ialah melakukan presentasi atau demonstrasi materi pembelajaran. Kunci untuk
berhasil ialah mempresentasikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti
langkah-langkah demonstrasi yang efektif, yaitu:
a.
Kejelasan
tujuan dan poin-poin utama.
b.
Presentasi
selangkah demi selangkah.
c.
Prosedur
spesifik dan konkrit.
d.
Pengecekan
untuk pemahaman siswa
3.
Membimbing
pelatihan.
Fase ketiga yaitu menyediakan
latihan terbimbing. Adapun prinsip-prinsip dalam menerapkan dan melakukan
pelatihan adalah
a.
Tugasi
siswa melakukan latihan singkat dan bermakna.
b.
Berikan
pelatihan sampai benar-banar menguasai konsep/ keterampilan yang dipelajari.
c.
Berhati-hati
terhadap kelebihan dan kelemahan latihan berkelanjutan.
4.
Mengecek
pemahaman dan memberikan umpan balik.
Fase kelima adalah mengecek
pemahaman dan memberikan umpan balik. Adapun pedoman dalam memberikan umpan
balik yang efektif adalah
a.
Memberikan
umpan balik sesegera mungkin setelah latihan.
b.
Umpan
balik harus jelas dan spesifik.
c.
Memberikan
umpan balik disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa
d.
Memberikan
pujian dan umpan balik pada kinerja yang benar.
e.
Apabila
memberikan umpan balik negatif, tunjukkan bagaimana melakukannya dengan benar.
f.
Membantu
siswa memusatkan pada ”proses” dan bukan pada ”hasil”.
g.
Mengajari
siswa cara memberi umpan balik kepada dirinya sendiri, bagaimana menilai
keberhasilan kinerjanya sendiri.
5.
Memberikan
kesempatan latihan mandiri.
Memberikan kesempatan kepada
siswa untuk latihan mandiri. Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa.
Sistem
pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya
keterlibatan siswa, terutama melalui memperhatikan, mendengarkan dan tanya
jawab yang terencana. Ini berarti bahwa lingkungan berorentasi pada tugas dan
memberikan harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.
3.
Hasil
Belajar Matematika
Hasil belajar adalah prestasi yang dicapai oleh siswa
setelah mengikuti proses belajar mengajar yang berkenaan dengan materi suatu
mata pelajaran. Hasil belajar ini
dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Sedangkan menurut Winkel (dalam
Bani, 2004), prestasi sebagai bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapai.
Belajar merupakan suatu proses yang diarahkan kepada pencapaian suatu tujuan.
Tujuan yang dimaksud adalah hasil belajar. Sehingga kualitas hasil belajar
matematika adalah mutu atau tingkat prestasi yang dicapai siswa setelah
mengikuti proses belajar mengajar matematika.
Menurut
Soedjadi (dalam Bani, 2004), tujuan pembelajaran matematika di sekolah ada dua,
yaitu: (1) tujuan yang bersifat formal dan, (2) tujuan yang bersifat material. Tujuan
yang bersifat formal lebih menekankan kepada penataan nalar dan membentuk
kepribadian siswa. Sedangkan tujuan yang bersifat material lebih menekankan
kepada kemampuan menerapkan metematika dan keterampilan matematika. Sehingga
untuk mendapatkan hasil belajar yang tinggi, maka semua yang menjadi tujuan
pembelajaran di atas harus tercapai. Karena siswa yang mempunyai kemampuan
matematika dan keterampilan matematika yang tinggi, serta penataan nalar dan
sikap yang baik maka akan memperoleh kualitas hasil belajar yang tinggi pula.
4.
Definisi Assesmen Portofolio
Menurut Johnson (dalam Maesuri, 2003), penilaian atau assessmen diartikan
sebagai the collecting of information
about the quality or quantity of a change in a student, group, teacher, or
administrator. Dalam artian penilaian adalah pengumpulan informasi tentang
kualitas dan kuantitas dari suatu perubahan pada seseorang, kelompok, guru,
atau administrator. Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia, Assesment
diartikan sebagai penilaian. Penggunaannya dalam proses belajar mengajar,
penilaian berarti alat ukur untuk mengevaluasi hasil yang telah dicapai dari
proses tersebut.. Berikut ini penilaian menurut beberapa ahli:
1)
menurut Blaustein (dalam Abdurrahim, 2005), penilaian adalah pengumpulan informasi dan membuat keputusan
berdasarkan informasi itu.
2)
menurut Zainal dan Nasoetion (dalam Abdurrahim,
2005), penilaian adalah suatu
pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh
melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun
non tes.
3)
menurut Linn & Gronlund (dalam Abdurrahim,
2005), penilaian kelas sebagai suatu istilah umum meliputi prosedur-prosedur
yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang pembelajaran siswa
(pengamatan, tingkat performans, tes tertulis) dan terjadi pertimbangan
pemberian nilai dengan memperhatikan kemajuan pembelajaran.
Dalam konteks pembelajaran matematika, Bush (dalam
Asdar, 2005) menjelaskan bahwa assesmen dalam matematika adalah proses
penentuan apakah siswa tahu. Proses tersebut merupakan suatu bagian dari
aktivitas pengajaran matematika, yaitu pengecekan apakah siswa memahami,
mendapatkan umpan balik dari siswa, kemudian menggunakan informasi ini untuk
membimbing pengembangan pengalaman belajarnya. Dalam Assesment Standars for School Mathematics (dalam Asdar 2005) dinyatakan
bahwa penilaian sebagai suatu proses memperoleh bukti atau fakta mengenai
pengetahuan, kemampuan, dan sikap matematis. Kemudian berdasarkan fakta-fakta
tersebut membuat kesimpulan yang menekankan kepada proses yang menggambarkan
matematika apa yang diketahui dan dapat dilakukan siswa. Dalam memberikan
assesmen pengetahuan matematika siswa, mestinya diperoleh data kemampuan siswa
dalam matematika; harus memasukkan tentang pengetahuan siswa pada konsep
matematika, prosedur matematika, kemampuan problem solving, reasoning dan
komunikasi.
Portofolio adalah koleksi terseleksi pekerjaan siswa yang diorganisasikan
untuk tujuan khusus. Jonshon & Jonshon (2002) mendefinisikan “a portofolio is an organized collection of
evidence accumulated over time an a student’s or group’s academic progress,
achievements, skill, and attitudes”(hal.
103). Dalam artian bahwa
portofolio adalah koleksi dari bukti-bukti kemajuan siswa atau kelompok siswa
tentang prestasinya, keterampilan dan sikapnya.
Menurut Budimansyah (2002) portofolio
merupakan suatu kumpulan pekerjaan peserta didik dengan maksud tertentu dan
terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan. Panduan-panduan
ini beragam tergantung pada mata pelajaran dan tujuan portofolio itu sendiri.
Portofolio biasanya merupakan karya terpilih dari seorang siswa, tetapi dapat
juga merupakan karya terpilih dari satu kelas secara keseluruhan yang bekerja
secara kooperatif membuat kebijakan untuk memecahkan masalah.
Dalam penggunaannya pada pembelajaran matematika, portofolio
merupakan koleksi pekerjaan matematika
siswa seperti pekerjaan rumah, penilaian diri siswa, hasil belajar siswa, dan
lain-lain yang menampilkan pekerjaan siswa yang terbaik sebagai hasil kegiatan
belajar matematika. Dalam portofolio ini dapat menampilkan pekerjaan lama dan
pekerjaan terbaru dari siswa sehingga terlihat kemampuan belajar matematika
siswa.
Pada dasarnya portofolio akan
mendokumentasikan pekerjaan siswa, evaluasi diri siswa, dan catatan
perkembangan siswa. Tentang koleksi atau dokumen pekerjaan siswa, dalam Handbook
of Assessment (dalam Asdar, 2005) dikemukakan tujuan penggunaan portofolio
adalah:
1).
Memberikan
bukti tentang penggunaan konsep dan pemecahan masalah dam berbagai situasi.
2).
Menunjukkan
perkembangan matematika siswa dalam suatu periode
3).
Melibatkan
siswa mengerjakan pekerjaan matematika dan memodelkan bagaimana pekerjaan
matematika sering dikerjakan diluar sekolah.
4).
Memberikan
kesempatan bagi siswa dalam menyajikan usaha mereka.
5).
Memberika
tanggung jawab kepada siswa untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri.
6).
Menyediakan
gambaran kepandaian/ prestasi bagi para pendidik, orang tua siswa dan siswa itu
sendiri.
Sedangkan informasi yang terdokumentasi dalam
portofolio, Maesuri (2002) mengemukakan bahwa: (1) portofolio dapat
digunakan untuk menentukan tingkat prestasi keterampilan-keterampilan dan
kompetensi-kompetensi siswa; (2) portofolio dapat digunakan untuk menentukan
perkembangan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran; dan (3) portofolio dapat
digunakan untuk memahami bagaimana siswa berfikir, beralasan, mengorganisasi,
menyelidiki dan berkomunikasi.
Penggunaannya dalam pembelajaran matematika, Johnson & Johnson (dalam Maesuri, 2002) mengemukakan bahwa isi
portofolio matematika dapat berorientasi pada aspek: (1) perhitungan dengan
mengetahui perhitungan dasar, (2) pemecahan
masalah dengan mengembangkan dengan menerapakan strategi-strategi, (3) komunikasi
matematika dengan membaca dan menulis matematika, (4) teknologi dengan
menggunakan komputer atau kalkulator, dan (5) hubungan dengan menerapkan
matematika pada pelajaran atau bidang lain.
Isi portofolio yang digunakan untuk
menilai proses dan hasil belajar matematika akan ditentukan oleh:
1)
Siswa dengan memutuskan apa yang akan dimasukkan dalam portofolio mereka.
2)
Kelompok
siswa dengan merekomendasikan tentang apa yang akan dimasukkan dalam
portofolio.
3)
Guru
dan sekolah dengan tujuan tertentu sebagai dasar penilaian kemampuan dasar
matematika siswa.
Sistematika isi portofolio sebagaimana disarankan oleh Johnson &
Johnson (2002) bahwa portofolio seharusnya memuat hal berikut:
1). Halaman judul yang menggambarkan sifat dari kerja siswa atau
kelompok siswa.
2).
Daftar isi yang memuat judul
setiap pekerjaan siswa dan nomor halamannya.
3). Rasional yang menjelaskan tentang contoh-contoh pekerjaan
apa yang dimuat, alasan penyajian, dan lain-lain.
4). Contoh-contoh pekerjaan siswa.
5). Penilaian diri yang ditulis oleh siswa.
6). Tujuan mendatang berdasarkan prestasi,
minat, dan kemajuan siswa atau kelompok siswa saat ini.
7). Komentar lain dan
penilaian dari guru, dan
kelompok orang yang tertarik/orang tua.
Menurut Maesuri (dalam Asdar, 2005), kelebihan menggunakan portofolio
dalam pembelajaran antara lain:
1)
Siswa
dapat menggambarkan pembelajaran mereka sendiri dan menggunakan cara-cara untuk
memperbaikinya.
2)
Siswa
dapat terlibat bekerja pada tingkat kompleksitas yang berbeda atau mendukung
bekerja komplit di dalam atau di luar kelas.
3)
Memberi
lebih banyak informasi tentang apa dan bagaimana siswa belajar dibandingkan
siswa lainya.
4)
Menjadi
media bagi guru, orang tua dan penilai eksternal untuk mengkomunikasikan
harapan-harapan tentang pembelajaran siswa.
5)
Memberikan
gambaran yang akurat dalam membuat keputusan yang kritis tentang efektivitas
dari program matematika yang diikuti siswa.
6)
Dapat
digunakan untuk mendokumentasikan prestasi siswa.
7)
Mendemonstrasikan kemampuan siswa.
8)
Dapat
meningkatkan kemampuan mengevaluasi diri siswa.
9)
Berguna
bagi guru untuk mengidentifikasi letak kelemahan atau kelebihan siswa.
10)
Umpan
balik yang diberikan siswa akan membangun pemahaman siswa.
11)
Guru
dapat mendeteksi variabel efektif siswa antara lain kejujuran, ketekunan, sikap
positif terhadap matematika dan lain-lain.
Sedangkan kekurangan penilaian
portofolio yaitu:
1)
Kebijaksanaan
pihak sekolah yang telah menetapkan model assesmen lain dalam evaluasi pemebelajaran yang akan menghambat
penggunaan portofolio dalam area yang luas.
2)
Membutuhkan
waktu relatif lebih lama, sedangkan guru telah disibukkan dengan banyaknya
tanggung jawab yang harus diselesaikan setiap hari.
3)
Banyaknya
siswa dalam satu kelas yang relatif besar.
4)
Respon
siswa yang sulit dinilai, khususnya jika respon setiap siswa berbeda.
Penilaian portofolio dapat
terfokus pada proses belajar-mengajar serta dapat memberikan informasi tentang
kelebihan dan kekurangan siswa. Portofolio dapat digambarkan sebagai
perkembangan berkelanjutan siswa untuk menunjukkan perubahan diri siswa sejak
awal sampai akhir dalam satu periode tertentu. Portofolio dapat memberikan
kesempatan bagi siswa dan guru untuk menelaah kesesuaian pekerjaan dengan
tujuan pembelajaran. Portofolio mampu merefleksikan perubahan penting dalam
proses kemampuan intelektual siswa dari waktu ke waktu.
Perbedaan portofolio sebagai
alat penilaian dengan pembelajaran berbasis portofolio. Portofolio sebagai alat
penilaian adalah guru membuat soal kemudian dibahas oleh siswa sedangkan
pembelajaran berbasis portofolio adalah siswa sendiri yang membuat soal,
kemudian mencari soal yang terbaik, lalu dibahas bersama-sama.
B.Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoretik di atas, maka hipotesis tindakan adalah “Jika
pada siswa kelas IX SMP 1 ajangale Kab. Bone diterapkan assesmen portofolio
maka hasil pembelajaran matematika dapat ditingkatkan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tahapan
pelaksanaan yang meliputi: perencanaan,
tindakan, observasi dan refleksi.
B. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP 1 Ajangale Kab.
Bone sebanyak 30 orang. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun
pelajaran 2005/2006.
C. Faktor yang Diselidiki
Untuk memperoleh data yang
diperlukan dalam penelitian ini, maka faktor yang diselidiki adalah:
- Faktor input: keaktifan, kehadiran dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran serta bahan pelajaran.
- Faktor proses: dengan melihat apakah pembelajaran dengan penilaian portofolio yang dilaksanakan dalam kelas sesuai dengan karakteristik/ kondisi siswa.
- Faktor output: hasil belajar matematika dan kemajuan portofolio siswa.
D. Prosedur Penelitian
Prosedur kerja penelitian tindakan kelas ini dirancang atas dua siklus
yaitu siklus pertama dan siklus kedua. Sesuai dengan hakikat penilitian
tindakan kelas, maka pada penilitian ini siklus kedua merupakan pelaksanaan
perbaikan dari siklus pertama. Selanjutnya prosedur penelitian tindakan kelas
ini dijabarkan sebagai berikut:
Siklus I
Siklus
I penelitian ini berlangsung 5 kali pertemuan, 4 kali pertemuan digunakan
sebagai proses pembelajaran dan 1 kali pertemuan sebagai tes siklus I.
a. Tahap
Perencanaan
Kegiatan–kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah
sebagai berikut:
1).
Menelaah
kurikulum SMP/MTs Kelas IX mata pelajaran matematika.
2).
Membuat
paket pedoman pembelajaran yang meliputi skenario pembelajaran, dan kisi-kisi instrumen.
3). Membuat lembar kegiatan siswa
sebagai isi dari tugas-tugas belajar dalam portofolio.
4). Membuat rubrik penilaian portofolio
untuk mengukur peningkatan hasil belajar matematika.
5). Menyusun rencana tindakan
pembelajaran yang berorientasi pada rencana pengajaran yang disusun berdasarkan
format yang diberlakukan di sekolah.
6). Membuat lembar partisipasi untuk
pengamatan/pencatatan data mengenai aktivitas siswa serta kondisi pembelajaran
pada saat pelaksanaan tindakan.
7). Merumuskan indikator deskriptif keberhasilan
tindakan tentang kemampuan yang telah dicapai siswa berdasarkan isi dari
portofolio.
Merujuk isi portofolio yang disarankan oleh Jonhson dalam Jonhson (2002),
maka peneliti mengembangkan isi portofolio yang memuat hal beikut:
1)
Halaman judul yang
menggambarkan sifat dari kerja siswa atau kelompok siswa.
2)
Daftar isi yang memuat judul
setiap pekerjaan siswa.
3)
Contoh-contoh pekerjaan siswa yang sudah
diberi nilai, komentar dan perbaikan jawaban.
4)
Penilaian diri atau
evaluasi diri siswa.
5)
Lembar partisipasi siswa terhadap aktivitas yang
telah dilakukan pada setiap proses belajar mengajar.
6)
Refleksi terhadap materi yang telah dipelajari.
7)
Komentar guru mata pelajaran, siswa, dan orang
tua siswa terhadap penilaian portofolio.
Tugas individu bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman
dan kemampuan siswa untuk tiap unit pelajaran yang telah diajarkan. Pekerjaan
rumah bertujuan untuk melatih siswa belajar di rumah. Sedangkan refleksi dan
penilaian diri bertujuan untuk mengetahui tingkat kesulitan dan kelemahan siswa
terhadap.
b.
Tahap Tindakan
Tujuan utama pemberian tindakan dalam penelitian ini adalah
terjadinya perubahan yang mendukung tercapainya perbaikan hasil belajar matematika melalui penerapan assesmen portofolio.
Bentuk-bentuk tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
c.
Tahap Observasi
Selama pembelajaran berlangsung
akan dilakukan pengamatan menyangkut sikap siswa dalam mengikuti pelajaran,
interaksi siswa dengan guru, interaksi siswa dengan siswa itu sendiri,
keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru maupun oleh
temannya sendiri, dan keaktifan siswa bertanya mengenai materi pelajaran.
d.
Tahap Refleksi
Pada tahap ini, setiap tindakan yang telah dilakukan dalam pembelajaran
direfleksi. Hasil refleksi dijadikan
sebagai bahan pertimbangan dalam mengadakan tindakan lanjutan.
Siklus II
Siklus kedua
pelaksanaan tindakan pada penelitian ini berlangsung selama 3 kali pertemuan,
dimana 2 kali pertemuan digunakan sebagai proses belajar mengajar dan 1 kali
pertemuan sebagai tes siklus II. Aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan pada
siklus kedua ini pada umumnya merupakan hasil refleksi pada siklus pertama.
Alternatif-alternatif tindakan yang dilakukan berikut ini.
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan pada
siklus kedua, dikembangkan aktivitas:
1)
Melanjutkan
aktivitas perancangan (1) sampai (6) pada siklus pertama
2)
Mengatur
kembali rumusan indikator deskriptif keberhasilan tindakan tentang kemampuan
yang telah dicapai siswa berdasarkan isi dari portofolio siswa.
3)
Merancang
format pemberian nilai akhir matematika yang mempertimbangkan hasil penilaian
portofolio, tes hasil belajar siswa.
b. Tahap Tindakan
Tindakan yang
dilaksanakan pada siklus II hampir sama dengan tindakan pada siklus I. Namun
yang utama dilakukan pada tindakan II
ini adalah mengulang dan meningkatkan intensitas pemberian tindakan, yang
meliputi:
1)
Mengembangkan
aktivitas-aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.
2)
Memberikan
tugas-tugas belajar kepada siswa
3)
Memberikan
pekerjaan rumah kepada siswa.
4)
Mendokumentasikan
tugas-tugas dan tes belajar siswa dalam portofolio siswa.
5)
Evaluasi diri siswa.
6)
Tiap
pertemuan, guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting, baik mengenai
kegiatan siswa dalam mengikuti pelajaran maupun pada saat siswa mengerjakan
soal yang diberikan serta tanggapan yang diberikan siswa.
7)
Melaksanakan
tes kemampuan matematika pada akhir siklus.
8)
Memberikan
nilai sebagai akhir dari proses
portofolio yang diorganisasi untuk mempresentasikan kualitas pekerjaan siswa.
c. Tahap Observasi
Aktivitas observasi
pada siklus II mengikuti teknik observasi pada siklus I.
d. Tahap Refleksi
Data yang diperoleh
dari hasil observasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil tersebut peneliti
merefleksi diri dengan melihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Dari hasil
analisis tersebut, peneliti dapat membuat
evaluasi akhir terhadap seluruh hasil pembelajaran matematika setelah
diterapkan assesmen portofolio.
E.
Teknik Pengumpulan Data
1. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian
ini adalah siswa kelas IX SMP 1 Ajangale Kab. Bone.
2. Jenis Data
Jenis data yang diperoleh dari sumber data yaitu:
1) Hasil Belajar pada Setiap Akhir
Siklus.
2) Hasil Portofolio.
3)
Hasil Partisipasi.
3. Cara Pengambilan Data
1) Data
tentang hasil belajar siswa diambil dengan menggunakan nilai hasil portofolio
siswa dan tes hasil belajar pada setiap akhir siklus.
2) Data
tentang partisipasi dan perubahan hasil yang terjadi dalam pembelajaran.
F.
Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan akan
dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Untuk teknik analisis data
kuantitatif digunakan statistika deskriptif yaitu mendeskripsikan data
kuantitatif pada tiap-tiap hasil pembelajaran matematika.
Adapun untuk keperluan analisis kualitatif akan digunakan teknik
kategorisasi dengan skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar tangkat
penguasaan yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dalam
Bani, 2005), yaitu:
Nilai 0 – 3,4 dikategorikan “sangat rendah”
Nilai 3,5 – 5,4 dikategorikan
“rendah”
Nilai 5,5 – 6,4 dikategorikan
“sedang”
Nilai 6,5 – 8,4 dikategorikan
“tinggi”
Nilai 8,5 – 10 dikategorikan
“sangat tinggi”
G. Indikator
Keberhasilan:
Indikator
keberhasilan dalam penelitian ini adalah:
1.
Apabila
hasil pembelajaran matematika mengalami
peningkatan dari siklus I ke siklus II dengan melihat tingkat kehadiran siswa,
siswa yang memperhatikan penjelasan guru, siswa yang mengajukan pertanyaan,
siswa yang menjawab pertanyaan, siswa yang memiliki alat pembelajaran setiap
pertemuan.
2.
Apabila
hasil pembelajaran matematikanya mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus
II dengan melihat kenaikan nilai rata-rata hasil belajar yang signifikan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas hasil-hasil
penelitian yang memperlihatkan pencapaian kualitas dan kuantitas proses
pembelajaran matematika melalui assesmen portofolio. Adapun pencapaian kualitas
adalah analisis hasil tes siklus I dan siklus II yang terangkum didalamnya tes
hasil belajar dan hasil portofolio siswa (tugas, pekerjaan rumah, dan
rangkuman). Sedangkan pencapaian kuantitas yaitu analisis perubahan sikap
siswa.
A. Analisis Kualitatif
1. Tes Hasil Belajar
a.
Analisis Skor Tes Hasil Belajar Siklus I
Skor
rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale setelah diadakan tindakan pada siklus I
adalah 87,5 dengan skor yang dicapai responden tersebar dari skor tertinggi
96,0 sampai skor terendah 70,0 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan
skor terendah yang mungkin dicapai 0. Secara lengkap analisis tes hasil belajar
siklus I disajikan dalam bentuk Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Statistik Skor Hasil Belajar
Siswa pada Siklus
Statistik
|
Nilai Statistik
|
|
Subjek
|
30
|
|
Skor Ideal
|
100
|
|
Skor Rata-rata
|
87,5
|
|
Skor Tertinggi
|
96,0
|
|
Skor Terendah
|
70,0
|
|
Rentang Skor
|
26,0
|
|
Median
|
88,0
|
|
Mode
|
96,0
|
|
Standar Deviasi
|
6,4
|
|
41,3
|
Jika skor
rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale
dikonversi ke dalam skala lima, maka diperoleh distribusi frekuensi dan
persentase nilai hasil belajar pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.2 Distribusi dan Persentase Skor Hasil
Belajar Siklus I
No
|
Interval nilai
|
Interval Persen (%)
|
Kategori
|
Frekuensi
|
Persen Frekuensi
(%)
|
1
2
3
4
5
|
0–3.4
3.5–5.4
5.5–6.4
6.5 – 8.4
8.5–10.0
|
0 – 34
35 – 54
55 – 64
65 – 84
85 – 100
|
Sangat rendah
Rendah
Sedang
tinggi
Sangat tinggi
|
0
0
0
21
9
|
0
0
0
70,0
30,0
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|||
Dari Tabel 4.2 menunjukkan bahwa tidak terdapat siswa yang berada pada
kategori sangat rendah, rendah, dan sedang. Terdapat 70,0% siswa berada dalam kategori tinggi dan
30% siswa berada pada kategori sangat tinggi. Di samping itu, sesuai skor
rata-rata dari hasil tes belajar pada siklus I yaitu sebesar 87,5 jika
dikonversi ke dalam skala lima berada dalam kategori sangat tinggi. Hal ini
berarti skor rata-rata prestasi hasil belajar siswa kelas IX SMP Negeri 1
Ajangale setelah diterapkan pembelajaran dengan assesmen portofolio berada
dalam kategori sangat tinggi.
b.
Analisis skor tes hasil belajar siklus II
Skor rata-rata hasil belajar
matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale setelah diadakan tindakan pada siklus II
adalah 89,3 dengan skor yang dicapai responden tersebar dari skor tertinggi
100,0 sampai skor terendah 63,0 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100
dan skor terendah yang mungkin dicapai 0. Secara lengkap analisis tes hasil
belajar siklus II disajikan dalam bentuk tabel berikut.
Tabel 4.3
Statistik Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus II
Statistik
|
Nilai Statistik
|
|
Subjek
|
30,0
|
|
Skor Ideal
|
100,0
|
|
Skor Rata-rata
|
89,3
|
|
Skor Tertinggi
|
100,0
|
|
Skor Terendah
|
63,0
|
|
Rentang Skor
|
37,0
|
|
Median
|
90,0
|
|
Mode
|
100,0
|
|
Standar Deviasi
|
10,0
|
|
101,0
|
Jika skor
rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale
dikonversi ke dalam skala lima, maka diperoleh distribusi frekuensi dan
persentase nilai hasil belajar pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.4
Distribusi dan Persentase Skor Hasil Belajar
Siklus II
No
|
Interval nilai
|
Interval Persen (%)
|
Kategori
|
Frekuensi
|
Persen Frekuensi
(%)
|
1
2
3
4
5
|
0–3.4
3.5–5.4
5.5–6.4
6.5 – 8.4
8.5–10.0
|
0 – 34
35 – 54
55 – 64
65 – 84
85 – 100
|
Sangat rendah
Rendah
Sedang
tinggi
Sangat tinggi
|
0
0
1
7
22
|
0
0
3,33
23,33
73,33
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|||
Dari Tabel 4.4 menunjukkan bahwa tidak terdapat siswa yang berada pada
kategori sangat rendah, dan rendah, terdapat
3,33% siswa berada dalam kategori sedang, 23,33 % siswa berada dalam kategori
tinggi, dan 73,33% siswa berada pada kategori sangat tinggi. Disamping itu,
sesuai skor rata-rata dari hasil tes belajar pada siklus II yaitu sebesar 89,3
jika dikonversi ke dalam skala lima berada dalam kategori sangat tinggi. Hal
ini berarti skor rata-rata prestasi hasil belajar siswa kelas IX SMP Negeri 1
Ajangale setelah diterapkan pembelajaran dengan assesmen portofolio mengalami
peningkatan.
2. Hasil
Portofolio Siswa
a.
Analisis Skor Hasil Portofolio Siklus I
Skor rata-rata hasil portofolio
matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale setelah diadakan tindakan pada siklus I
adalah 82,7 dengan skor yang dicapai responden tersebar dari skor tertinggi 94,0
sampai skor terendah 34,0 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor
terendah yang mungkin dicapai 0. Secara lengkap analisis tes hasil portofolio
siklus I disajikan dalam bentuk tabel berikut.
Tabel 4.5 Statistik Skor Portofolio Siswa
pada Siklus I
Statistik
|
Nilai Statistik
|
|
Subjek
|
30,00
|
|
Skor Ideal
|
100,00
|
|
Skor Rata-rata
|
82,73
|
|
Skor Tertinggi
|
94,00
|
|
Skor Terendah
|
34,00
|
|
Rentang Skor
|
60,00
|
|
Median
|
86,00
|
|
Mode
|
88,00
|
|
Standar Deviasi
|
12,56
|
|
157,92
|
Jika skor
rata-rata hasil portofolio matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale
dikonversi ke dalam skala lima, maka diperoleh distribusi frekuensi dan
persentase nilai hasil belajar pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.6 Distribusi dan
Persentase Skor Portofolio Siswa Siklus
I
No
|
Interval nilai
|
Interval Persen (%)
|
Kategori
|
Frekuensi
|
Persen Frekuensi
(%)
|
1
2
3
4
5
|
0–3.4
3.5–5.4
5.5–6.4
6.5 – 8.4
8.5–10.0
|
0 – 34
35 – 54
55 – 64
65 – 84
85 – 100
|
Sangat rendah
Rendah
Sedang
tinggi
Sangat tinggi
|
1
0
2
10
17
|
3,33
0
6,67
33,33
56,67
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|||
Berdasarkan Tabel 4.6 di atas
dapat dikemukakan bahwa dari 30 siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale terdapat
sekitar 3,33% siswa yang nilai portofolionya berada pada kategori sangat
rendah, tidak terdapat siswa berada pada
kategori rendah, 6,67% siswa yang nilai
portofolionya berada pada kategori sedang, 33,33% siswa yang nilai
portofolionya berada pada kategori tinggi, dan 56,67 % siswa yang nilai
portofolionya berada pada kategori sangat tinggi. Disamping itu, sesuai
skor rata-rata dari hasil portofolio siswa pada siklus I yaitu sebesar 82,73
jika dikonversi ke dalam skala lima berada dalam kategori tinggi.
b.
Analisis Skor Hasil Portofolio Siklus II
Skor rata-rata hasil portofolio
matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale setelah diadakan tindakan pada siklus II
adalah 73,3 dengan skor yang dicapai responden tersebar dari skor tertinggi
100,0 sampai skor terendah 40,0 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100
dan skor terendah yang mungkin dicapai 0. Secara lengkap analisis tes hasil
belajar siklus I disajikan dalam bentuk tabel berikut.
Tabel 4.7 Statistik Skor Portofolio Siswa
pada Siklus II
Statistik
|
Nilai Statistik
|
|
Subjek
|
30 ,00
|
|
Skor Ideal
|
100,00
|
|
Skor Rata-rata
|
86,5
|
|
Skor Tertinggi
|
100,00
|
|
Skor Terendah
|
54,00
|
|
Rentang Skor
|
46,00
|
|
Median
|
86,00
|
|
Mode
|
84,00
|
|
Standar Deviasi
|
10,72
|
|
114,94
|
Jika skor
rata-rata hasil portofolio matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale
dikonversi ke dalam skala lima, maka diperoleh distribusi frekuensi dan
persentase nilai hasil belajar pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.8 Distribusi dan Persentase Skor
Portofolio Siswa Siklus II
No
|
Interval nilai
|
Interval Persen (%)
|
Kategori
|
Frekuensi
|
Persen Frekuensi
(%)
|
1
2
3
4
5
|
0–3.4
3.5–5.4
5.5–6.4
6.5 – 8.4
8.5–10.0
|
0 – 34
35 – 54
55 – 64
65 – 84
85 – 100
|
Sangat rendah
Rendah
Sedang
tinggi
Sangat tinggi
|
0
1
0
12
17
|
0
3,33
0
40
56,67
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|||
Berdasarkan Tabel 4.8 di atas
dapat dikemukakan bahwa dari 30 siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale tidak terdapat
sekitar siswa yang nilai portofolionya berada pada kategori sangat rendah, 3,33% siswa yang nilai portofolionya berada
pada kategori rendah, tidak terdapat
siswa yang nilai portofolionya berada pada kategori sedang, 40% siswa yang
nilai portofolionya berada pada kategori tinggi, dan 56,67 % siswa yang nilai
portofolionya berada pada kategori sangat tinggi. Disamping
itu, sesuai skor rata-rata dari hasil tes belajar pada siklus II yaitu sebesar
86,5 jika dikonversi ke dalam skala lima berada dalam kategori sangat tinggi.
Hal ini berarti skor rata-rata prestasi portofolio siswa kelas IX SMP Negeri 1
Ajangale setelah diterapkan pembelajaran dengan assesmen portofolio mengalami
peningkatan.
Tabel 4.9 Perbandingan Skor Rata-Rata
Hasil Belajar Siswa Kelas IX-A SMPN 1 Ajangale
Hasil Belajar
|
Siklus
|
|
I
|
II
|
|
1. Tes Hasil
Belajar
|
87,5
|
89,3
|
2. Hasil Portofolio
|
82,7
|
86,5
|
B. Analisis Kualitatif
1. Hasil Partisipasi untuk Melihat Perubahan
Sikap Siswa dalam Proses Belajar Mengajar Siklus I
Untuk mengetahui keaktifan dan tanggapan siswa dalam proses belajar
mengajar dapat kita lihat pada hasil partisipasi yang dilakukan pada setiap
pertemuan. Pada setiap pertemuan segala aktifitas siswa dicatat oleh pemantau
selama proses belajar mengajar berlangsung. Hasil pengamatan tersebut disajikan
dalam Tabel 4.10 berikut.
Tabel
4.10 Hasil Partisipasi Aktivitas Belajar Siklus I
NO
|
INDIKATOR YANG DIAMATI
|
SIKLUS I
|
||||
PERTEMUAN KE
|
||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||
1
|
Siswa yang hadir pada saat pembelajaran
|
27
|
30
|
30
|
29
|
Tes S i k l u
s I
|
2
|
Siswa yang memperhatikan penjelasan
|
27
|
29
|
30
|
29
|
|
Guru
|
||||||
3
|
Siswa yang mengajukan pertanyaan
|
1
|
1
|
2
|
3
|
|
4
|
Siswa yang menawarkan ide/menjawab
|
3
|
4
|
6
|
7
|
|
pertanyaan
temannya atau guru
|
||||||
5
|
Siswa yang memiliki alat pembelajaran
|
27
|
29
|
30
|
29
|
|
berupa buku paket
|
||||||
6
|
Siswa yang mengumpul PR
|
26
|
29
|
27
|
28
|
|
Dari Tabel 4.10 diatas dapat dilihat hasil partisipasi pada setiap
pertemuan yaitu siswa yang hadir pada saat pembelajaran bervariasi, berkisar
antara 29 – 30 siswa. Begitu pula siswa yang memperhatikan penjelasan guru
berkisar antara 27 – 30 siswa, siswa
yang mengajukan pertanyaan pada pertemuan pertama sebanyak 1 siswa sampai 3
siswa pada pertemuan keempat, siswa yang menawarkan ide/menjawab pertanyaan
temannya atau guru pada pertemuan pertama 3 siswa sampai 7 siswa pada pertemuan
keempat, siswa yang memiliki alat pembelajaran berupa buku paket pada pertemuan
pertama sebanyak 27 siswa sampai 29 pada pertemuan keempat dari 30 siswa, dan
siswa yang mengumpulkan PR bervariasi, berkisar antara 26 – 29 siswa.
2. Hasil Partisipasi untuk Melihat Perubahan
Sikap Siswa dalam Proses Belajar Mengajar Siklus II
Tabel 4.11
Hasil Partisipasi Aktivitas Belajar Siklus II
NO
|
INDIKATOR YANG
DIAMATI
|
SIKLUS I
|
||
PERTEMUAN KE
|
||||
1
|
2
|
3
|
||
1
|
Siswa yang hadir pada saat pembelajaran
|
30
|
30
|
Tes S i k l u
s II
|
2
|
Siswa yang memperhatikan penjelasan
|
30
|
30
|
|
guru
|
||||
3
|
Siswa yang mengajukan pertanyaan
|
6
|
10
|
|
4
|
Siswa yang menawarkan ide/menjawab
|
9
|
13
|
|
pertanyaan
temannya atau guru
|
||||
5
|
Siswa yang memiliki alat pembelajaran
|
30
|
30
|
|
berupa buku paket
|
||||
6
|
Siswa yang mengumpul PR
|
30
|
30
|
|
Dari Tabel 4.11 dapat dilihat hasil partisipasi pada setiap pertemuan
yaitu semua siswa hadir pada saat pembelajaran baik pada pertemuan pertama
sampai pertemuan kedua. Begitu pula, semua siswa memperhatikan penjelasan guru,
siswa yang mengajukan pertanyaan pada pertemuan pertama sebanyak 6 siswa sampai
10 siswa pada pertemuan kedua siklus II dari 30 siswa, siswa yang menawarkan
ide/menjawab pertanyaan temannya atau guru bervariasi pada pertemuan pertama 9
siswa dan pertemuan kedua 13 siswa, dan semua siswa memiliki alat pembelajaran berupa
buku paket, serta semua siswa yang
mengumpulkan PR baik pada pertemuan pertama maupun pada pertemuan kedua.
C. Pembahasan Analisis Tes Hasil Belajar dan Hasil Portofolio
1.
Pembahasan Analisis Tes Hasil Belajar
Setelah memperhatikan analisis tes hasil belajar matematika
siswa, terjadi peningkatan pada diri siswa dari siklus I ke siklus II dimana
hasil tes siswa pada siklus I adalah dari 30 subjek yang diteliti terdapat 21
siswa (70,0%) yang hasil tesnya tinggi, dan 9 siswa (30,0%) yang hasil tesnya
sangat tinggi. Sehingga skor rata-rata hasil tes siswa siklus I yaitu
sebesar 87,53 setelah dikategorikan diketahui bahwa hasil tes siswa pada siklus
I berada pada kategori sangat tinggi.
Sedangkan hasil tes siswa pada
siklus II adalah dari 30 subjek yang diteliti hanya 1 siswa (3,33%)yang hasil
tesnya sedang, 7 siswa (23,33%) yang hasil tesnya tinggi, dan 22 siswa (73,33%)
yang hasil tesnya sangat tinggi. Sehingga skor rata-rata hasil tes siswa siklus
II yaitu sebesar 89,27 setelah dikategorikan diketahui bahwa hasil tes siswa
pada siklus I berada pada kategori sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa
sebagian besar siswa sudah memahami materi pelajaran dengan baik.
2.
Pembahasan Analisis Hasil Portofolio
Setelah memperhatikan analisis hasil portofolio matematika
siswa dapat dilihat terjadinya perubahan perilaku belajar yang sangat besar
dari diri siswa. Dimana tugas-tugas belajar yang diberikan pada awal pertemuan
pembelajaran pada umumnya masih sulit mereka kerjakan. Dengan melihat hasil
portofolio pada siklus I dimana dari 30 subjek yang diteliti terdapat 1 siswa (3,33%)
yang hasil portofolionya sangat rendah, tidak terdapat siswa yang hasil
portofolionya rendah, 2 siswa (6,67%) yang hasil portofolionya sedang, 10 siswa
(33,33%) yang hasil portofolionya tinggi, dan 17 siswa (56,67%) terdapat siswa
yang hasil portofolionya sangat tinggi. Sehingga skor rata-rata hasil
portofolio siswa siklus I yaitu sebesar 82, 73 setelah dikategorikan diketahui
bahwa hasil tes siswa pada siklus I berada pada kategori tinggi.
Sedangkan hasil portofolio pada siklus II dimana dari 30 subjek yang
diteliti tidak terdapat siswa yang hasil portofolionya sangat rendah, 1 siswa
(3,33%) yang hasil portofolionya rendah, tidak terdapat siswa yang hasil
portofolionya sedang, 12 siswa (40,0%) yang hasil portofolionya tinggi, dan 17
siswa (56,67%) yang hasil portofolionya tinggi. Sehingga skor rata-rata hasil
portofolio siswa siklus II yaitu sebesar 86,00 setelah dikategorikan diketahui
bahwa hasil tes siswa pada siklus II berada pada kategori sangat tinggi
Kondisi-kondisi inilah yang menyebabkan kualitas proses pembelajaran
matematika melalui penerapan assesmen portofolio meningkat, hal ini ditandai
pula dengan peningkatan hasil belajar, hasil tugas portofolio, dan partisipasi
siswa dalam proses pembelajaran.
D. Refleksi terhadap Pelaksanaan Tindakan
dalam Pembelajaran
1. Siklus I
Pada pertemuan pertama siklus I peneliti menyampaikan bahwa pada
pembelajaran kali ini akan diterapkan assesmen portofolio. Istilah assesmen
portofolio merupakan istilah terbaru bagi mereka. Oleh karena itu peneliti
menjelaskan kepada siswa tentang assesmen portofolio. Peneliti menginformasikan
bahwa dalam pembelajaran ini, siswa mampu menyelesaikan tugas-tugas portofolio
yang sebelumnya sudah diformat oleh guru. Dan guru juga menjelaskan bahwa yang
dinilai itu bukan saja tugas-tugasnya tetapi juga sikap dan antusias siswa
dalam pembelajaran. Pada pertemuan pertama peneliti mengawali pembelajaran
dengan memotivasi kepada siswa untuk terus belajar dan memperhatikan pelajaran
yang diberikan. Peneliti menjelaskan materi dengan memberikan beberapa contoh,
kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan yang
berhubungan dengan materi yang telah diberikan dan memberikan soal kepada siswa
untuk dikerjakan di papan tulis. Selanjutnya, responden diarahkan untuk
mengerjakan tugas portofolio. Pada saat peneliti memantau siswa ternyata masih
banyak siswa yang belum memahami konsep persamaan kuadrat khususnya mengubah
persamaan menjadi persamaan kuadrat. Akhirnya peneliti membimbing siswa untuk
menyelesaikan tugas portofolio yang diberikan. Dalam menyelesaikan portofolio
pada umumnya siswa merasa kesulitan di dalam menyelesaikan tugasnya, karena
dasar pemahaman matematika siswa masih kurang. Pada pertemuan pertama ini tidak
seluruhnya siswa yang hadir dalam proses belajar mengajar. Hal ini terlihat
dari absensi siswa ada 3 orang yang tidak hadir diantaranya 1 orang sakit dan 2
orang tanpa keterangan. Di akhir pertemuan pertama siswa diberi pekerjaan
dirumah sebagai bahan latihan di rumah.
Pada pertemuan kedua, guru
mengembalikan tugas yang diberikan pada pertemuan pertama yang didalam lembar
jawaban sudah ada catatan guru tentang jawaban mengenai kekurangan dan
kelebihan siswa. Siswa kemudian membundelkan tugas tersebut kedalam portofolio
mereka masing-masing kemudian guru membahas hal-hal yang menjadi kesulitan
siswa pada tugas yang diberikan. Setelah itu, guru memberikan dorongan atau
motivasi kepada siswa kemudian melanjutkan pelajaran. Dalam proses pembelajaran
semangat siswa sudah mulai berubah. Hal ini terlihat dari kehadiran siswa,
siswa memperhatikan penjelasan guru, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan
teman maupun guru sudah meningkat. Selanjutnya, siswa diberikan tugas untuk mengetahui
sampai mana kepahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan. Diakhir
pertemuan seperti pada pertemuan pertama siswa diberikan pekerjaan rumah
sebagai bahan latihan.
Pada pertemuan ketiga, guru mengembalikan tugas dan pekerjaan rumah yang
diberikan pada pertemuan kemarin. Seperti pertemuan sebelumnya guru membahas
hal-hal yang menjadi kesulitan siswa pada tugas dan PR yang diberikan kemudian
melanjutkan pembelajaran. Pada pertemuan ini keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran semakin meningkat. Hal ini terlihat dari kehadiran siswa, siswa
memperhatikan penjelasan guru, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan teman
maupun guru terus meningkat.
Pada pertemuan keempat, keaktifan siswa dalam proses pembelajaran terus
meningkat. Pada umumnya siswa merasa senang karena banyaknya soal-soal yang
diberikan sehingga siswa lebih rajin dan mengerti terhadap pelajaran yang
diberikan. Dan di akhir pertemuan siswa diberikan pekerjaan rumah sebagai bahan
latihan di rumah.
Pada pertemuan terakhir Siklus I, siswa diberikan tes
hasil belajar dalam bentuk uraian. Setelah itu, guru melakukan refleksi
terhadap tindakan yang telah dilakukan selama siklus I.
2. Siklus II
Pada siklus II ini pada dasarnya sama dengan Siklus
I. Hanya saja pada siklus II ini perhatian dan motivasi siswa semakin
meningkat. Hal ini ditandai dengan semakin bertambahnya jumlah siswa yang aktif
dalam mengajukan pertanyaan dan semakin bertambahnya jumlah siswa yang menjawab
pertanyaan atau menawarkan ide terhadap pertanyaan yang diberikan.
Pada pertemuan pertama siklus II, kemampuan siswa
dalam menangkap dan memahami materi yang diberikan juga sudah lebih baik.
Tetapi pada pertemuan kedua siklus II, kemampuan responden dalam menangkap dan
mamahami materi yang diberikan masih mengalami kesulitan karena materi pada
pertemuan kedua ini adalah menyelesaikan soal cerita. Kendala yang dihadapi
siswa pada materi ini adalah siswa tidak bisa menyelesaikan soal cerita ini
kedalam bentuk matematika. Jadi guru menjelaskan kembali kepada siswa materi
tentang menyelesaikan soal cerita sampai siswa mengerti. Hal ini dapat dilihat
dari kemampuan siswa menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik.
Pada pertemuan terakhir Siklus II, siswa diberikan tes
hasil belajar dalam bentuk uraian. Setelah itu, guru melakukan refleksi
terhadap tindakan yang telah dilakukan selama siklus II.
E. Tanggapan terhadap Assesmen Portofolio
dalam Pembelajaran Matematika
1. Guru Mata Pelajaran
Guru dalam hal ini peneliti mengangap bahwa dengan adanya penerapan
asesmen portofolio dalam proses pembelajaran matematika dapat menimbulkan
minat, motivasi terhadap matematika serta menjadikan siswa dapat berpartisipasi
aktif dalam setiap proses pembelajaran. Banyaknya tugas yang diberikan guru
mengakibatkan siswa semakin sering berlatih mengerjakan soal sehingga
penguasaan siswa terhadap materi pelajaran semakin meningkat. Selain itu siswa
dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan mereka terhadap suatu materi karena
setiap tugas yang diberikan diberi catatan sebagai bahan refleksi.
Dengan semakin seringnya siswa mengerjakan latihan membuat mereka
memiliki rasa tertarik terhadap pelajaran matematika dan memiliki motivasi
untuk terus belajar.
Dengan penerapan asesmen portofolio, orang tua juga dapat mengetahui
perkembangan belajar anaknya sehingga mereka mengetahui kelebihan dan
kekurangan yang dimiliki oleh anaknya. Disamping itu juga menunjukkan adanya
komunikasi secara tidak langsung antara orangtua siswa dengan guru.
2. Siswa
Pada umumnya siswa senang dengan penerapan assesmen portofolio pada
pembelajaran matematika karena dengan semakin banyaknya tugas yang diberikan
membuat siswa semakin rajin dan termotivasi dalam belajar dan mengerjakan
tugas. Yang mana dengan semakin banyaknya tugas yang diberikan, siswa lebih
mengerti terhadap pelajaran yang diberikan. Selain itu siswa juga dapat
mengetahui kelemahannya sehingga ia dapat memperbaiki dan mengetahui
kelebihannya sehingga ia dapat mempertahankan dan meningkatkannya. Dengan
banyaknya tugas yang diberikan oleh guru dapat membuat siswa lebih termotivasi
lagi untuk terus belajar.
3. Orang Tua Siswa
Secara umum orang tua siswa pun sangat setuju dengan penilaian
portofolio, umumnya pada pelajaran matematika. Karena dengan penilaian
portofolio dapat memotivasi siswa untuk lebih giat atau berlatih di rumah dalam
mengerjakan soal-soal, sehingga pada ulangan/ ujian siswa dapat mengerjakan
lebih baik karena sudah terbiasa mengerjakan soal-soal latihan. Selain itu,
juga dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa khususnya pelajaran
matematika. Seperti halnya banyaknya tugas yang diberikan oleh guru, dapat
membuat anak rajin belajar dan tidak bermalas-malasan lagi. Dengan cara ini
pula siswa dapat lebih berkosentrasi dalam memperhatikan guru menjelaskan dan
aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas karena dapat memudahkan
dirinya dalam mengerjakan tugas, jika materinya sudah dipahami dengan jelas.
BAB V
PENUTUP
A.Kesimpulan
Berdasarkan
data-data hasil penelitian, baik data kualitatif maupun data kuantitatif
disimpulkan bahwa:
1.
Peningkatan
hasil belajar matematika dengan penerapan assesmen portofolio pada Kelas
IX-A SMP Negeri 1 Ajangale Kab. Bone untuk siklus I skor rata-rata tes hasil belajar sebesar 87,5
dengan kategori sangat tinggi. Sedangkan pada siklus II skor rata-rata tes
hasil belajar sebesar 89,3 dengan kategori sangat tinggi.
2.
Peningkatan
hasil belajar matematika dengan penerapan assesmen portofolio pada Kelas
IX-A SMP Negeri 1 Ajangale Kab. Bone untuk siklus I skor rata-rata portofolio sebesar 82,7 dengan
kategori tinggi. Sedangkan pada siklus II skor rata-rata hasil belajar sebesar
86,5 dengan kategori sangat tinggi.
3.
Keaktifan siswa Kelas IX-A SMP Negeri
1 Ajangale dalam pembelajaran mengalami peningkatan dalam hal:
- Kehadiran siswa.
- Perhatian siswa pada proses belajar mengajar.
- Keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan.
- Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan guru atau temannya.
- Kesungguhan siswa dalam mengerjakan tugas Pekerjaan Rumah (PR).
B.Saran
Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang
diperoleh dari penelitian ini, maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai
berikut:
1.
Untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, diharapkan guru matematika
menerapkan asesmen portofolio dalam pembelajaran matematika.
2.
Diharapkan
kepada guru wali agar memperhatikan peningkatan hasil belajar siswa minimal
tiap kompetensi dasar.
3.
Kepada
pihak Sekolah agar memaksimalkan sarana dan prasarana di Sekolah, misalnya
peningkatan kualitas dan kuantitas buku-buku perpustakaan sehingga cukup
literatur bagi siswa untuk di baca dan dipelajari.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahim. 2005. Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran
Melalui Penerapan Assesmen Portofolio Pada Siswa Kelas I4 Madrasah
Tsanawiyah Negeri Model Makassar. Skripsi. Tidak diterbitkan. Makassar:
Jurusan Matematika FMIPA UNM.
Asdar. 2005. Portofolio:
Alternatif Assesmen Berkelanjutan dalam Pembelajaran Matematika. Eksponen.
Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika. Edisi khusus, Januari 2005 halaman
94 – 104
Bani. 2005. Implementasi
Assesmen Portofolio Untuk Menigkatkan Kualitas Hasil Belajar Matematika Siswa
Kelas I Tekstil SMK Negeri 2 Somba Opu Sungguminasa. Skripsi.
Budimansyah. 2002. Model
Pembelajaran dan Penilaian portofolio. : PT Ganesindo. Bandung.
Djaali.
1991. Konsep dan Strategi Pengajaran Matematika di SD dalam Rangka Peningkatan
Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia.
Ujung Pandang:
IKA IKIP (jurnal alumni vol. 1 No. 1 tahun 1991).
Haling. 2004,. Belajar dan
Pembelajaran (Suatu Ringkasan). Makassar:FIK UNM.
Hudoyo, H,. 1990. Strategi
Belajar Mengajar Matematika. Malang. IKIP Malang.
Johnson, David W. & Johnson, Roger T., 2002,. Meaningfull Assesment USA.: Allyn and Bacon.
Kardi, Soeparman, Nur,. 2000. Pengajaran
Langsung. UNESA UNIVERSITY PRESS. Surabaya.
Maesuri, 2001. Portofolio
Matematika dalam Pembelajaran Matematika. Pusat pengkajian pendidikan Sains
dan Matematika Pasca Sarjana Universitas Negeri Surabaya. Surabaya.
Maesuri,. 2003. Sistem Penilaian (Assesment) dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pusat
pengkajian pendidikan Sains dan Matematika Pasca Sarjana Universitas Negeri
Surabaya. Surabaya.
Maesuri. 2002. Penilaian
Performens dalam Pembelajaran Matematika dan Contoh Penerapannya. Pusat
pengkajian pendidikan Sains dan Matematika Pasca Sarjana Universitas Negeri
Surabaya. Surabaya.
Nurhadi. 2004. Kurikulum
2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Penerbit PT Grasindo Midiasarana Indonesia.
Jakarta.
Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan
Pengembangan depertemen Pendidikan Nasional, 2002. Penilaian Portofolio. Program pascasarjana magister tegno;ogi
pendidikan FKIP Universitas Lampung.
Soedjadi. R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia (Konstatasi Keadaan Masa Kini
Menuju Harapan Masa Depan). Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depertemen
Pendidikan Nasional.
Suherman, dkk., 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan
Pendidikan Matematika FPMIPA UPI.
Surapranata. 2004. Penilaian Portofolio Implementasi Kurikulum 2004. Penerbit PT
Remaja Rosdakarya Bandung. Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar