Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: Implementasi SKRIPSI: Assesmen Portofolio dalam Pembelajaran Langsung untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kelas IX-A



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Dewasa ini sains dan teknologi berkembang sangat pesat. Perkembangan tersebut menuntut hadirnya individu-individu yang kreatif, beretos kerja tinggi, profesional, dan memiliki kepedulian atau kepekaan terhadap masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat serta memiliki kemampuan mengatasi masalah tersebut. Soedjadi (dalam Maesuri, 2002) mengemukakan bahwa salah satu ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam penguasaan sains dan teknologi adalah matematika, baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya. Hal ini berarti bahwa sampai batas tertentu matematika perlu dikuasai oleh segenap warga negara Indonesia.
Mengingat pentingnya peranan matematika, maka pengajaran matematika harus ditangani secara serius dan terus menerus. Perbaikan-perbaikan dapat dilakukan guru dan sekolah baik pada aspek proses pembelajaran, maupun pada aspek evaluasi yang diterapkannya. Hal ini dimaksudkan agar siswa memiliki penguasaan matematika yang lebih bermakna dan nalar siswa berkembang lebih baik.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan perubahan pola pikir yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan kurikulum. Ada beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan, salah satunya adalah model pembelajaran langsung yang dirancang untuk membelajarkan siswa.
Kata belajar dapat diartikan sebagai perubahan dalam kemampuan, sikap, atau perilaku siswa yang relatif permanen sebagai akibat dari pengalaman atau pelatihan. Perubahan kemampuan yang hanya berlangsung sekejap dan kemudian kembali ke prilaku semula menunjukkan belum terjadinya peristiwa pembelajaran, walaupun mungkin terjadi pengajaran. Tugas seorang guru adalah membuat agar proses pembelajaran pada siswa berlangsung secara efektif.
Selain fokus pada siswa pola fikir pembelajaran perlu diubah dari sekedar memahami konsep dan prinsip keilmuan menjadi memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu dengan menggunakan konsep dan prinsip keilmuan yang dikuasai. Seperti yang dinyatakan dalam pilar-pilar pembelajaran  dari UNESCO, selain terjadi ‘(learning to know)’ (belajar untuk tahu), juga harus terjadi ‘learning to do’ (belajar untuk berbuat), dan bahkan dituntut sampai pada ‘learning to be’ (belajar untuk membangun jati diri yang kokoh), dan ‘learning to live together’ (belajar untuk hidup bersama secara harmonis).
Oleh karena itu, Departemen Pendidikan Nasional melakukan terobosan-terobosan baru di bidang pendidikan guna mengadakan peningkatan mutu pendidikan. Salah satu kinerja dari Departemen Pendidikan Nasional yaitu dengan senantiasa mengubah kurikulum yang dianggap sebagai salah satu faktor penghambat perkembangan pendidikan di Indonesia pada setiap periode.
Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa tujuan umum pendidikan matematika adalah agar siswa memiliki:
1.   kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah matematika, pelajaran lain, ataupun masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata,
2.   kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi, dan
3.   kemampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang dapat dialihgunakan pada setiap keadaan, seperti berfikir kritis, berfikir logis, berfikir sistematis, bersifat objektif, bersifat jujur, bersifat disiplin dalam memandang dan menyelesaikan masalah matematika.
Tujuan umum pendidikan matematika di atas dapat dipandang sebagai tujuan matematika. Tujuan ini diharapkan dapat dicapai melalui pencapaian tujuan isi matematika. Sejalan dengan itu, Soedjadi (2000) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan matematika untuk masa depan haruslah memperhatikan:
1.   tujuan yang bersifat formal yaitu penataan nalar serta pembentukan pribadi anak didik, dan
2.   tujuan yang bersifat material, yaitu penerapan matematika serta keterampilan matematika.
Untuk mencapai tujuan pendidikan matematika di atas, maka sudah saatnya seorang guru bekerja dengan menyadari bahwa mengajar matematika tidak sekedar mengarahkan siswa berfikir tentang apa yang dipelajarinya dan menerapkan metode mengajar yang dipilih, tetapi harus melihat dan mengamati apa yang dipikirkan oleh siswa. Di samping itu, juga mengamati yang berkembang dalam suatu diskusi tentang materi matematika yang dipelajari siswa. Guru harus mencari cara agar siswa aktif mengkomunikasikan pengetahuan matematika yang dipilih. Oleh sebab itu, guru harus menggunakan alat untuk mengumpulkan informasi tentang kinerja siswa serta mengadakan penilaian secara rutin terhadap kemajuan yang diperoleh siswa. Untuk tujuan tersebut salah satu alat yang baik digunakan adalah portofolio matematika.
Dalam penggunaan portofolio, semua pihak baik sekolah, guru, orang tua maupun masyarakat menaruh harapan besar pada hasil pembelajaran matematika dalam mendidik siswa memiliki kompetensi dengan keterampilan dan daya nalar yang akan mereka butuhkan dalam hidup sukses dan produktif di masa depan. Penggunaan assesmen portofolio memacu kreatifitas guru untuk mengembangkan kemajuan-kemajuan untuk pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa dari waktu ke waktu.
Berdasarkan observasi awal, guru bidang studi matematika pada kelas IX SMP Negeri I Ajangale sudah memberlakukan kurikulum 2004, walaupun diakui belum terlalu sistematis, dalam artian kualitas pembelajaran matematika pada siswa SMP Negeri I Ajangale kurang tercapai. Hal ini terlihat pada kemampuan matematika kelas IX-A SMP Negeri I Ajangale yang hanya mencapai rata-rata nilai 5,0 pada semester ganjil 2005/2006. Salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil pembelajaran matematika siswa dengan menerapkan assesmen portofolio dapat meningkatkan hasil belajar kelas IX siswa SMP Negeri I Ajangale.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian dengan judul: “Implementasi Assesmen Portofolio dalam Pembelajaran Langsung untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kelas IX-A Siswa SMP 1 Ajangale Kabupaten Bone”
B.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, dapat di rumuskan  masalah sebagai berikut “Apakah  penerapan assesmen portofolio dalam pembelajaran langsung dapat meningkatkan  hasil belajar matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale Kab. Bone?”
C.  Cara Pemecahan Masalah
Agar sasaran penelitian dapat dicapai maka dalam mengatasi masalah yang dikemukakan sebelumnya dilakukan tindakan berupa penerapan assesmen portofolio sebagai upaya peningkatan hasil pembelajaran matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale Kab. Bone. Penerapan assesmen portofolio meliputi tes perhitungan, tes pemecahan masalah, tes komunikasi matematika, tes penggunaan teknologi, pekerjaan rumah, partisipasi, rangkuman materi, dan komentar guru dan orang tua.
D.  Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa  kelas IX-A  SMP 1 Ajangale Kab. Bone melalui penerapan assesmen portofolio dalam pembelajaran langsung.
E.   Manfaat Penelitian
Hasil dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat berarti bagi:



1.   Siswa
Memberi masukan bagi siswa tentang bagaimana merefleksikan dan menilai diri sendiri tentang kualitas dan kuantitas pekerjaan dan kemajuannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2.   Guru
Memberikan masukan bagi guru agar dalam melaksanakan proses penilaian hasil pembelajaran tidak sekedar mengacu pada hasil pemberian tes, tetapi juga berdasarkan pengamatan kinerja siswa selama dalam proses belajar dan penilaian yang terus-menerus tentang kemajuan belajar siswa.
3.   Sekolah
Hasil-hasil penelitian ini dapat mendasari pihak sekolah dalam menetapkan penggunaan model penilaian yang berbasis kelas khususnya dalam penggunaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) secara nasional.
4.   Orang tua siswa
Pada penelitian ini dikembangkan proses penilaian yang melibatkan orang tua siswa dalam menggambarkan kepandaian atau prestasi siswa. Oleh karena itu hasil-hasil penelitian ini dapat menjadi informasi bagi orang tua siswa akan perlunya keterlibatan aktif mereka dalam mengkomunikasikan penilaian dan harapan-harapannya tentang proses pembelajaran siswa.


BAB II

KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kerangka Teoretik

1. Belajar Matematika

Matematika adalah suatu pelajaran yang tersusun secara beraturan, logis, berjenjang dari yang lebih mudah hingga yang lebih kompleks. Belajar matematika memang memerlukan aktivitas mental yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan belajar mata pelajaran lainnya, sehingga banyak siswa yang menganggapnya sulit bahkan menakutkan. Tapi bukan mustahil bila guru memberikan suasana mengajar yang kondusif akan mengakibatkan siswa terfokus pada pembelajaran matematika.
Belajar matematika adalah aktivitas yang berlangsung selama proses belajar dan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai siswa. Belajar matematika membutuhkan aktivitas mental dan kognitif karena pada dasarnya matematika itu berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dengan penalaran deduktif. Perlakuan-perlakuan selama proses belajar yang dibentuk dan dibina oleh guru akan membantu siswa memahami ide atau konsep dan penalaran di dalam matematika. Belajar matematika berarti belajar ilmu pasti. Belajar ilmu pasti berarti bernalar. Jadi belajar matematika berarti berhubungan dengan penalaran.
Djaali (1991) mengemukakan bahwa “pada hakikatnya belajar matematika adalah suatu aktivitas mental untuk memahami arti dari hubungan-hubungan dan simbol-simbol, kemudian merupakan konsep yang dihasilkan ke situasi nyata. Sedangkan Jerome Bruner (dalam Suherman, dkk., 2003) memberikan batasan bahwa belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur matematika itu. Pendapat ini jelas menggambarkan bahwa tingginya aktivitas mental dalam belajar matematika sangat membutuhkan strategi pengajaran yang tepat untuk diterapkan oleh guru agar siswa mencapai hasil belajar matematika yang berkualitas. Hasil belajar tersebut ditunjukkan dengan pencapaian kompetensi berfikir dan bekerja dengan penalaran matematika.
Dalam jurnal NCTM (dalam Asdar, 2005) dikemukakan tujuan pendidikan matematika yang mencakup: (1) valuing mathematics, (2) developing mathematical confidence, (3) becoming problem solver, (4) communicating mathematically, dan (5) reasoning mathematically. Jelas tergambar bahwa pencapaian tujuan matematika ini banyak berorientasi pada proses berlangsungnya pembelajaran, tidak sekedar diukur dari pemberian tes tradisional. Untuk mencapai tujuan ini proses pembelajaran matematika harus dikelola dengan memperhatikan kemajuan-kemajuan yang dicapai siswa selama proses belajar berlangsung termasuk di dalamnya penggunaan assesmen yang cocok untuk menilai hasil belajar siswa.

2. Pembelajaran Langsung

Model pengajaran langsung adalah suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah.
Model pengajaran langsung memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.   Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian hasil belajar.
2.   Terdapat pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran.
3.   Memiliki sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan berhasil.
Model pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Para guru selalu menghendaki  agar siswa memperoleh kedua macam pengetahuan tersebut, supaya mereka dapat melakukan suatu kegiatan dengan berhasil.
Pada model pengajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting, yaitu:
1.   Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.
    Terlepas dari model pengajaran yang digunakan, guru yang baik selalu mengawali pelajarannya dengan menjelaskan tujuan pembelajaran serta menyiapkan siswa untuk mengikuti pelajaran. Tujuan langkah awal ini ialah untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa, serta memotivasi mereka untuk berperan serta  dalam pelajaran itu.
2.   Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan.
Fase kedua pengajaran langsung ialah melakukan presentasi atau demonstrasi materi pembelajaran. Kunci untuk berhasil ialah mempresentasikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti langkah-langkah demonstrasi yang efektif, yaitu:
a.   Kejelasan tujuan dan poin-poin utama.
b.   Presentasi selangkah demi selangkah.
c.   Prosedur spesifik dan konkrit.
d.   Pengecekan untuk pemahaman siswa
3.   Membimbing pelatihan.
Fase ketiga yaitu menyediakan latihan terbimbing. Adapun prinsip-prinsip dalam menerapkan dan melakukan pelatihan adalah
a.   Tugasi siswa melakukan latihan singkat dan bermakna.
b.   Berikan pelatihan sampai benar-banar menguasai konsep/ keterampilan yang dipelajari.
c.   Berhati-hati terhadap kelebihan dan kelemahan latihan berkelanjutan.
4.   Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.
Fase kelima adalah mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik. Adapun pedoman dalam memberikan umpan balik yang efektif adalah
a.   Memberikan umpan balik sesegera mungkin setelah latihan.
b.   Umpan balik harus jelas dan spesifik.
c.   Memberikan umpan balik disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa
d.   Memberikan pujian dan umpan balik pada kinerja yang benar.
e.   Apabila memberikan umpan balik negatif, tunjukkan bagaimana melakukannya dengan benar.
f.    Membantu siswa memusatkan pada ”proses” dan bukan pada ”hasil”.
g.   Mengajari siswa cara memberi umpan balik kepada dirinya sendiri, bagaimana menilai keberhasilan kinerjanya sendiri.
5.   Memberikan kesempatan latihan mandiri.
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk latihan mandiri. Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa.
        Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa, terutama melalui memperhatikan, mendengarkan dan tanya jawab yang terencana. Ini berarti bahwa lingkungan berorentasi pada tugas dan memberikan harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.
3.   Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar adalah prestasi yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang berkenaan dengan materi suatu mata pelajaran. Hasil belajar ini dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Sedangkan menurut Winkel (dalam Bani, 2004), prestasi sebagai bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapai. Belajar merupakan suatu proses yang diarahkan kepada pencapaian suatu tujuan. Tujuan yang dimaksud adalah hasil belajar. Sehingga kualitas hasil belajar matematika adalah mutu atau tingkat prestasi yang dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar matematika.
Menurut Soedjadi (dalam Bani, 2004), tujuan pembelajaran matematika di sekolah ada dua, yaitu: (1) tujuan yang bersifat formal dan, (2) tujuan yang bersifat material. Tujuan yang bersifat formal lebih menekankan kepada penataan nalar dan membentuk kepribadian siswa. Sedangkan tujuan yang bersifat material lebih menekankan kepada kemampuan menerapkan metematika dan keterampilan matematika. Sehingga untuk mendapatkan hasil belajar yang tinggi, maka semua yang menjadi tujuan pembelajaran di atas harus tercapai. Karena siswa yang mempunyai kemampuan matematika dan keterampilan matematika yang tinggi, serta penataan nalar dan sikap yang baik maka akan memperoleh kualitas hasil belajar yang tinggi pula.
4.   Definisi Assesmen Portofolio
Menurut Johnson (dalam Maesuri, 2003), penilaian atau assessmen diartikan sebagai the collecting of information about the quality or quantity of a change in a student, group, teacher, or administrator. Dalam artian penilaian adalah pengumpulan informasi tentang kualitas dan kuantitas dari suatu perubahan pada seseorang, kelompok, guru, atau administrator. Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia, Assesment diartikan sebagai penilaian. Penggunaannya dalam proses belajar mengajar, penilaian berarti alat ukur untuk mengevaluasi hasil yang telah dicapai dari proses tersebut.. Berikut ini penilaian menurut beberapa ahli:
1)   menurut Blaustein (dalam Abdurrahim, 2005),  penilaian adalah  pengumpulan informasi dan membuat keputusan berdasarkan informasi itu.
2)   menurut Zainal dan Nasoetion (dalam Abdurrahim, 2005), penilaian adalah suatu  pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes.
3)   menurut Linn & Gronlund (dalam Abdurrahim, 2005), penilaian kelas sebagai suatu istilah umum meliputi prosedur-prosedur yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang pembelajaran siswa (pengamatan, tingkat performans, tes tertulis) dan terjadi pertimbangan pemberian nilai dengan memperhatikan kemajuan pembelajaran.
Dalam konteks pembelajaran matematika, Bush (dalam Asdar, 2005) menjelaskan bahwa assesmen dalam matematika adalah proses penentuan apakah siswa tahu. Proses tersebut merupakan suatu bagian dari aktivitas pengajaran matematika, yaitu pengecekan apakah siswa memahami, mendapatkan umpan balik dari siswa, kemudian menggunakan informasi ini untuk membimbing pengembangan pengalaman belajarnya. Dalam Assesment Standars for School Mathematics (dalam Asdar 2005) dinyatakan bahwa penilaian sebagai suatu proses memperoleh bukti atau fakta mengenai pengetahuan, kemampuan, dan sikap matematis. Kemudian berdasarkan fakta-fakta tersebut membuat kesimpulan yang menekankan kepada proses yang menggambarkan matematika apa yang diketahui dan dapat dilakukan siswa. Dalam memberikan assesmen pengetahuan matematika siswa, mestinya diperoleh data kemampuan siswa dalam matematika; harus memasukkan tentang pengetahuan siswa pada konsep matematika, prosedur matematika, kemampuan problem solving, reasoning dan komunikasi.
Portofolio adalah koleksi terseleksi pekerjaan siswa yang diorganisasikan untuk tujuan khusus. Jonshon & Jonshon (2002) mendefinisikan  a portofolio is an organized collection of evidence accumulated over time an a student’s or group’s academic progress, achievements, skill, and attitudes”(hal. 103).  Dalam artian bahwa portofolio adalah koleksi dari bukti-bukti kemajuan siswa atau kelompok siswa tentang prestasinya, keterampilan dan sikapnya.  
        Menurut Budimansyah (2002) portofolio merupakan suatu kumpulan pekerjaan peserta didik dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan. Panduan-panduan ini beragam tergantung pada mata pelajaran dan tujuan portofolio itu sendiri. Portofolio biasanya merupakan karya terpilih dari seorang siswa, tetapi dapat juga merupakan karya terpilih dari satu kelas secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif membuat kebijakan untuk memecahkan masalah.
Dalam penggunaannya pada pembelajaran matematika, portofolio merupakan  koleksi pekerjaan matematika siswa seperti pekerjaan rumah, penilaian diri siswa, hasil belajar siswa, dan lain-lain yang menampilkan pekerjaan siswa yang terbaik sebagai hasil kegiatan belajar matematika. Dalam portofolio ini dapat menampilkan pekerjaan lama dan pekerjaan terbaru dari siswa sehingga terlihat kemampuan belajar matematika siswa.
Pada dasarnya portofolio akan mendokumentasikan pekerjaan siswa, evaluasi diri siswa, dan catatan perkembangan siswa. Tentang koleksi atau dokumen pekerjaan siswa, dalam Handbook of Assessment (dalam Asdar, 2005) dikemukakan tujuan penggunaan portofolio adalah:
1). Memberikan bukti tentang penggunaan konsep dan pemecahan masalah dam berbagai situasi.
2). Menunjukkan perkembangan matematika siswa dalam suatu periode
3). Melibatkan siswa mengerjakan pekerjaan matematika dan memodelkan bagaimana pekerjaan matematika sering dikerjakan diluar sekolah.
4). Memberikan kesempatan bagi siswa dalam menyajikan usaha mereka.
5). Memberika tanggung jawab kepada siswa untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri.
6). Menyediakan gambaran kepandaian/ prestasi bagi para pendidik, orang tua siswa dan siswa itu sendiri. 
Sedangkan informasi yang terdokumentasi dalam portofolio, Maesuri  (2002) mengemukakan bahwa: (1) portofolio dapat digunakan untuk menentukan tingkat prestasi keterampilan-keterampilan dan kompetensi-kompetensi siswa; (2) portofolio dapat digunakan untuk menentukan perkembangan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran; dan (3) portofolio dapat digunakan untuk memahami bagaimana siswa berfikir, beralasan, mengorganisasi, menyelidiki dan berkomunikasi.
Penggunaannya dalam pembelajaran matematika, Johnson & Johnson  (dalam Maesuri, 2002) mengemukakan bahwa isi portofolio matematika dapat berorientasi pada aspek: (1) perhitungan dengan mengetahui  perhitungan dasar, (2) pemecahan masalah dengan mengembangkan dengan menerapakan strategi-strategi, (3) komunikasi matematika dengan membaca dan menulis matematika, (4) teknologi dengan menggunakan komputer atau kalkulator, dan (5) hubungan dengan menerapkan matematika pada pelajaran atau bidang lain.
        Isi portofolio yang digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar matematika akan ditentukan oleh:
1)   Siswa dengan memutuskan apa yang akan dimasukkan dalam portofolio mereka.
2)   Kelompok siswa dengan merekomendasikan tentang apa yang akan dimasukkan dalam portofolio.
3)   Guru dan sekolah dengan tujuan tertentu sebagai dasar penilaian kemampuan dasar matematika siswa.
Sistematika isi portofolio sebagaimana disarankan oleh Johnson & Johnson (2002) bahwa portofolio seharusnya memuat hal berikut:
1). Halaman judul yang menggambarkan sifat dari kerja siswa atau kelompok siswa.
2). Daftar isi yang memuat judul setiap pekerjaan siswa dan nomor halamannya.
3). Rasional yang menjelaskan tentang contoh-contoh pekerjaan apa yang dimuat, alasan penyajian, dan lain-lain.
4). Contoh-contoh pekerjaan siswa.
5). Penilaian diri yang ditulis oleh siswa.
6). Tujuan mendatang berdasarkan prestasi, minat, dan kemajuan siswa atau kelompok siswa saat ini.
7). Komentar lain dan penilaian dari guru, dan kelompok orang yang tertarik/orang tua.
Menurut Maesuri (dalam Asdar, 2005), kelebihan menggunakan portofolio dalam pembelajaran antara lain:
1)        Siswa dapat menggambarkan pembelajaran mereka sendiri dan menggunakan cara-cara untuk memperbaikinya.
2)       Siswa dapat terlibat bekerja pada tingkat kompleksitas yang berbeda atau mendukung bekerja komplit di dalam atau di luar kelas.
3)       Memberi lebih banyak informasi tentang apa dan bagaimana siswa belajar dibandingkan siswa lainya.
4)       Menjadi media bagi guru, orang tua dan penilai eksternal untuk mengkomunikasikan harapan-harapan tentang pembelajaran siswa.
5)       Memberikan gambaran yang akurat dalam membuat keputusan yang kritis tentang efektivitas dari program matematika yang diikuti siswa.
6)       Dapat digunakan untuk mendokumentasikan prestasi siswa.
7)       Mendemonstrasikan kemampuan siswa.
8)       Dapat meningkatkan kemampuan mengevaluasi diri siswa.
9)       Berguna bagi guru untuk mengidentifikasi letak kelemahan atau kelebihan siswa.
10)   Umpan balik yang diberikan siswa akan membangun pemahaman siswa.
11)   Guru dapat mendeteksi variabel efektif siswa antara lain kejujuran, ketekunan, sikap positif terhadap matematika dan lain-lain.
Sedangkan kekurangan penilaian portofolio yaitu:
1)   Kebijaksanaan pihak sekolah yang telah menetapkan model assesmen lain dalam  evaluasi pemebelajaran yang akan menghambat penggunaan portofolio dalam area yang luas.
2)   Membutuhkan waktu relatif lebih lama, sedangkan guru telah disibukkan dengan banyaknya tanggung jawab yang harus diselesaikan setiap hari.
3)   Banyaknya siswa dalam satu kelas yang relatif besar.
4)   Respon siswa yang sulit dinilai, khususnya jika respon setiap siswa berbeda.
Penilaian portofolio dapat terfokus pada proses belajar-mengajar serta dapat memberikan informasi tentang kelebihan dan kekurangan siswa. Portofolio dapat digambarkan sebagai perkembangan berkelanjutan siswa untuk menunjukkan perubahan diri siswa sejak awal sampai akhir dalam satu periode tertentu. Portofolio dapat memberikan kesempatan bagi siswa dan guru untuk menelaah kesesuaian pekerjaan dengan tujuan pembelajaran. Portofolio mampu merefleksikan perubahan penting dalam proses kemampuan intelektual siswa dari waktu ke waktu.
Perbedaan portofolio sebagai alat penilaian dengan pembelajaran berbasis portofolio. Portofolio sebagai alat penilaian adalah guru membuat soal kemudian dibahas oleh siswa sedangkan pembelajaran berbasis portofolio adalah siswa sendiri yang membuat soal, kemudian mencari soal yang terbaik, lalu dibahas bersama-sama.

B.Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka teoretik di atas, maka hipotesis tindakan adalah “Jika pada siswa kelas IX SMP 1 ajangale Kab. Bone diterapkan assesmen portofolio maka hasil pembelajaran matematika dapat ditingkatkan.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tahapan pelaksanaan yang meliputi:  perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
B.  Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP 1 Ajangale Kab. Bone sebanyak 30 orang. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2005/2006.
C.  Faktor yang Diselidiki
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka faktor yang diselidiki adalah:
  1. Faktor input: keaktifan, kehadiran dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran serta bahan pelajaran.
  2. Faktor proses: dengan melihat apakah pembelajaran dengan penilaian portofolio yang dilaksanakan dalam kelas sesuai dengan karakteristik/ kondisi siswa.
  3. Faktor output: hasil belajar matematika dan kemajuan portofolio siswa.
D.  Prosedur Penelitian
Prosedur kerja penelitian tindakan kelas ini dirancang atas dua siklus yaitu siklus pertama dan siklus kedua. Sesuai dengan hakikat penilitian tindakan kelas, maka pada penilitian ini siklus kedua merupakan pelaksanaan perbaikan dari siklus pertama. Selanjutnya prosedur penelitian tindakan kelas ini dijabarkan sebagai berikut:
Siklus I
Siklus I penelitian ini berlangsung 5 kali pertemuan, 4 kali pertemuan digunakan sebagai proses pembelajaran dan 1 kali pertemuan sebagai tes siklus I.
a.   Tahap Perencanaan
Kegiatan–kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:
1). Menelaah kurikulum SMP/MTs Kelas IX mata pelajaran matematika.
2). Membuat paket pedoman pembelajaran yang meliputi skenario pembelajaran,  dan kisi-kisi instrumen.
3). Membuat lembar kegiatan siswa sebagai isi dari tugas-tugas belajar dalam portofolio.
4). Membuat rubrik penilaian portofolio untuk mengukur peningkatan hasil belajar matematika.
5). Menyusun rencana tindakan pembelajaran yang berorientasi pada rencana pengajaran yang disusun berdasarkan format yang diberlakukan di sekolah.
6). Membuat lembar partisipasi untuk pengamatan/pencatatan data mengenai aktivitas siswa serta kondisi pembelajaran pada saat pelaksanaan tindakan.
7). Merumuskan indikator deskriptif keberhasilan tindakan tentang kemampuan yang telah dicapai siswa berdasarkan isi dari portofolio.
Merujuk isi portofolio yang disarankan oleh Jonhson dalam Jonhson (2002), maka peneliti mengembangkan isi portofolio yang memuat hal beikut:
1)   Halaman judul yang menggambarkan sifat dari kerja siswa atau kelompok siswa.
2)   Daftar isi yang memuat judul setiap pekerjaan siswa.
3)   Contoh-contoh pekerjaan siswa yang sudah diberi nilai, komentar dan perbaikan jawaban.
4)   Penilaian diri atau evaluasi diri siswa.
5)   Lembar partisipasi siswa terhadap aktivitas yang telah dilakukan pada setiap proses belajar mengajar.
6)   Refleksi terhadap materi yang telah dipelajari.
7)   Komentar guru mata pelajaran, siswa, dan orang tua siswa terhadap penilaian portofolio.
Tugas individu bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kemampuan siswa untuk tiap unit pelajaran yang telah diajarkan. Pekerjaan rumah bertujuan untuk melatih siswa belajar di rumah. Sedangkan refleksi dan penilaian diri bertujuan untuk mengetahui tingkat kesulitan dan kelemahan siswa terhadap.
b.   Tahap Tindakan
Tujuan utama pemberian tindakan dalam penelitian ini adalah terjadinya perubahan yang mendukung tercapainya perbaikan hasil belajar matematika  melalui penerapan assesmen portofolio.
Bentuk-bentuk tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
*   Pra tindakan yang meliputi aktivitas:
*   Memotivasi dan menumbuhkan rasa tanggung jawab atas portofolio yang dimiliki masing-masing siswa.
*   Menetapkan sampel dan kategori pekerjaan siswa yang akan dikumpulkan dalam portofolio.
*   Menetapkan kriteria untuk mengevaluasi sampel kerja dalam portofolio.
*   Memotivasi siswa dalam melakukan evaluasi dirinya dalam portofolio.
*   Tindakan utama yang meliputi aktivitas:
*   Pengajaran matematika.
*   Pengembangan aktivitas-aktivitas siswa dalam belajar.
*   Setiap satu sub pokok bahasan siswa diberi tugas.
*   Setiap akhir pertemuan siswa diberi pekerjaan rumah.
*   Diakhir siklus siswa membuat reflekasi terhadap materi yang telah dipelajari secara jelas dan singkat.
*   Pendokumentasian tugas-tugas dan tes belajar siswa dalam portofolio siswa.
*   Tiap pertemuan, guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting, baik mengenai kegiatan siswa dalam mengikuti pelajaran maupun pada saat siswa mengerjakan soal yang diberikan serta tanggapan yang diberikan siswa.
*   Melaksanakan tes kemampuan matematika pada akhir siklus.
c.   Tahap Observasi
Selama  pembelajaran berlangsung akan dilakukan pengamatan menyangkut sikap siswa dalam mengikuti pelajaran, interaksi siswa dengan guru, interaksi siswa dengan siswa itu sendiri, keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru maupun oleh temannya sendiri, dan keaktifan siswa bertanya mengenai materi pelajaran.
d.   Tahap Refleksi
Pada tahap ini, setiap tindakan yang telah dilakukan dalam pembelajaran direfleksi. Hasil refleksi dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengadakan tindakan lanjutan.
Siklus II
Siklus kedua pelaksanaan tindakan pada penelitian ini berlangsung selama 3 kali pertemuan, dimana 2 kali pertemuan digunakan sebagai proses belajar mengajar dan 1 kali pertemuan sebagai tes siklus II. Aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan pada siklus kedua ini pada umumnya merupakan hasil refleksi pada siklus pertama. Alternatif-alternatif tindakan yang dilakukan berikut ini.
a.   Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan pada siklus kedua, dikembangkan aktivitas:
1)   Melanjutkan aktivitas perancangan (1) sampai (6) pada siklus pertama
2)   Mengatur kembali rumusan indikator deskriptif keberhasilan tindakan tentang kemampuan yang telah dicapai siswa berdasarkan isi dari portofolio siswa.
3)   Merancang format pemberian nilai akhir matematika yang mempertimbangkan hasil penilaian portofolio, tes hasil belajar siswa.
b.   Tahap Tindakan
Tindakan yang dilaksanakan pada siklus II hampir sama dengan tindakan pada siklus I. Namun yang  utama dilakukan pada tindakan II ini adalah mengulang dan meningkatkan intensitas pemberian tindakan, yang meliputi:
1)   Mengembangkan aktivitas-aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.
2)   Memberikan tugas-tugas belajar kepada siswa
3)   Memberikan pekerjaan rumah kepada siswa.
4)   Mendokumentasikan tugas-tugas dan tes belajar siswa dalam portofolio siswa.
5)   Evaluasi diri siswa.
6)   Tiap pertemuan, guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting, baik mengenai kegiatan siswa dalam mengikuti pelajaran maupun pada saat siswa mengerjakan soal yang diberikan serta tanggapan yang diberikan siswa.
7)   Melaksanakan tes kemampuan matematika pada akhir siklus.
8)   Memberikan nilai sebagai  akhir dari proses portofolio yang diorganisasi untuk mempresentasikan kualitas pekerjaan siswa.
c.   Tahap Observasi
Aktivitas observasi pada siklus II mengikuti teknik observasi pada siklus I.
d.   Tahap Refleksi
Data yang diperoleh dari hasil observasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil tersebut peneliti merefleksi diri dengan melihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Dari hasil analisis tersebut, peneliti dapat membuat  evaluasi akhir terhadap seluruh hasil pembelajaran matematika setelah diterapkan assesmen portofolio.
E.   Teknik Pengumpulan Data
1.   Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP 1 Ajangale Kab. Bone.
2.   Jenis Data
Jenis data yang diperoleh dari sumber data yaitu:
1)  Hasil Belajar pada Setiap Akhir Siklus.
2)  Hasil Portofolio.
3)   Hasil Partisipasi.
3.   Cara Pengambilan Data
1)  Data tentang hasil belajar siswa diambil dengan menggunakan nilai hasil portofolio siswa dan tes hasil belajar pada setiap akhir siklus.
2)  Data tentang partisipasi dan perubahan hasil yang terjadi dalam  pembelajaran.
F.   Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan akan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Untuk teknik analisis data kuantitatif digunakan statistika deskriptif yaitu mendeskripsikan data kuantitatif pada tiap-tiap hasil pembelajaran matematika.
Adapun untuk keperluan analisis kualitatif akan digunakan teknik kategorisasi dengan skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar tangkat penguasaan yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dalam Bani, 2005), yaitu:
Nilai  0 – 3,4               dikategorikan “sangat rendah”
Nilai 3,5 – 5,4             dikategorikan “rendah”
Nilai 5,5 – 6,4             dikategorikan “sedang”
Nilai 6,5 – 8,4             dikategorikan “tinggi”
Nilai 8,5 – 10              dikategorikan “sangat tinggi”
G.  Indikator Keberhasilan:
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah:
1.   Apabila hasil  pembelajaran matematika mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dengan melihat tingkat kehadiran siswa, siswa yang memperhatikan penjelasan guru, siswa yang mengajukan pertanyaan, siswa yang menjawab pertanyaan, siswa yang memiliki alat pembelajaran setiap pertemuan.
2.   Apabila hasil pembelajaran matematikanya mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dengan melihat kenaikan nilai rata-rata hasil belajar yang signifikan.

BAB IV 
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
          Pada bab ini akan dibahas hasil-hasil penelitian yang memperlihatkan pencapaian kualitas dan kuantitas proses pembelajaran matematika melalui assesmen portofolio. Adapun pencapaian kualitas adalah analisis hasil tes siklus I dan siklus II yang terangkum didalamnya tes hasil belajar dan hasil portofolio siswa (tugas, pekerjaan rumah, dan rangkuman). Sedangkan pencapaian kuantitas yaitu analisis perubahan sikap siswa.
A.  Analisis Kualitatif
1.   Tes Hasil Belajar
a.   Analisis Skor Tes Hasil Belajar Siklus I
          Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale  setelah diadakan tindakan pada siklus I adalah 87,5 dengan skor yang dicapai responden tersebar dari skor tertinggi 96,0 sampai skor terendah 70,0 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0. Secara lengkap analisis tes hasil belajar siklus I disajikan dalam bentuk Tabel 4.1.

     Tabel 4.1 Statistik Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus
Statistik
Nilai Statistik


Subjek
30

Skor Ideal
100

Skor Rata-rata
87,5

Skor Tertinggi
96,0

Skor Terendah
70,0

Rentang Skor
26,0

Median
88,0

Mode
96,0

Standar Deviasi
6,4

Variansi
41,3


Jika skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale dikonversi ke dalam skala lima, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase nilai hasil belajar pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.2 Distribusi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siklus I
No
Interval nilai
Interval Persen (%)
Kategori
Frekuensi
Persen Frekuensi (%)
1
2
3
4
5
0–3.4
3.5–5.4
5.5–6.4
6.5 – 8.4
8.5–10.0
0 – 34
35 – 54
55 – 64
65 – 84
85 – 100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
tinggi
Sangat tinggi
0
0
0
21
9
0
0
0
70,0
30,0
Jumlah

30
100
       
Dari Tabel 4.2 menunjukkan bahwa tidak terdapat siswa yang berada pada kategori sangat rendah, rendah, dan sedang. Terdapat  70,0% siswa berada dalam kategori tinggi dan 30% siswa berada pada kategori sangat tinggi. Di samping itu, sesuai skor rata-rata dari hasil tes belajar pada siklus I yaitu sebesar 87,5 jika dikonversi ke dalam skala lima berada dalam kategori sangat tinggi. Hal ini berarti skor rata-rata prestasi hasil belajar siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale setelah diterapkan pembelajaran dengan assesmen portofolio berada dalam kategori sangat tinggi.
b.   Analisis skor tes hasil belajar siklus II
           Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale  setelah diadakan tindakan pada siklus II adalah 89,3 dengan skor yang dicapai responden tersebar dari skor tertinggi 100,0 sampai skor terendah 63,0 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0. Secara lengkap analisis tes hasil belajar siklus II disajikan dalam bentuk tabel berikut.
    Tabel 4.3  Statistik Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus II
Statistik
Nilai Statistik


Subjek
30,0

Skor Ideal
100,0

Skor Rata-rata
89,3

Skor Tertinggi
100,0

Skor Terendah
63,0

Rentang Skor
37,0

Median
90,0

Mode
100,0

Standar Deviasi
10,0

Variansi
101,0


Jika skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale dikonversi ke dalam skala lima, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase nilai hasil belajar pada tabel di bawah ini.

  Tabel 4.4 Distribusi dan Persentase Skor Hasil Belajar  Siklus II
No
Interval nilai
Interval Persen (%)
Kategori
Frekuensi
Persen Frekuensi (%)
1
2
3
4
5
0–3.4
3.5–5.4
5.5–6.4
6.5 – 8.4
8.5–10.0
0 – 34
35 – 54
55 – 64
65 – 84
85 – 100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
tinggi
Sangat tinggi
0
0
1
7
22
0
0
3,33
23,33
73,33
Jumlah

30
100

Dari Tabel 4.4 menunjukkan bahwa tidak terdapat siswa yang berada pada kategori sangat rendah, dan  rendah, terdapat 3,33% siswa berada dalam kategori sedang, 23,33 % siswa berada dalam kategori tinggi, dan 73,33% siswa berada pada kategori sangat tinggi. Disamping itu, sesuai skor rata-rata dari hasil tes belajar pada siklus II yaitu sebesar 89,3 jika dikonversi ke dalam skala lima berada dalam kategori sangat tinggi. Hal ini berarti skor rata-rata prestasi hasil belajar siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale setelah diterapkan pembelajaran dengan assesmen portofolio mengalami peningkatan.
2.  Hasil Portofolio Siswa
a.   Analisis Skor Hasil Portofolio Siklus I
        Skor rata-rata hasil portofolio matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale  setelah diadakan tindakan pada siklus I adalah 82,7 dengan skor yang dicapai responden tersebar dari skor tertinggi 94,0 sampai skor terendah 34,0 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0. Secara lengkap analisis tes hasil portofolio siklus I disajikan dalam bentuk tabel berikut.

    Tabel 4.5 Statistik Skor Portofolio Siswa pada Siklus I
Statistik
Nilai Statistik


Subjek
30,00

Skor Ideal
100,00

Skor Rata-rata
82,73

Skor Tertinggi
94,00

Skor Terendah
34,00

Rentang Skor
60,00

Median
86,00

Mode
88,00

Standar Deviasi
12,56

Variansi
157,92


Jika skor rata-rata hasil portofolio matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale dikonversi ke dalam skala lima, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase nilai hasil belajar pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.6 Distribusi dan Persentase Skor Portofolio Siswa  Siklus I
No
Interval nilai
Interval Persen (%)
Kategori
Frekuensi
Persen Frekuensi (%)
1
2
3
4
5
0–3.4
3.5–5.4
5.5–6.4
6.5 – 8.4
8.5–10.0
0 – 34
35 – 54
55 – 64
65 – 84
85 – 100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
tinggi
Sangat tinggi
1
0
2
10
17
3,33
0
6,67
33,33
56,67
Jumlah

30
100
       
Berdasarkan Tabel 4.6 di atas dapat dikemukakan bahwa dari 30 siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale terdapat sekitar 3,33% siswa yang nilai portofolionya berada pada kategori sangat rendah,  tidak terdapat siswa berada pada  kategori rendah, 6,67% siswa yang nilai portofolionya berada pada kategori sedang, 33,33% siswa yang nilai portofolionya berada pada kategori tinggi, dan 56,67 % siswa yang nilai portofolionya berada pada kategori sangat tinggi. Disamping itu, sesuai skor rata-rata dari hasil portofolio siswa pada siklus I yaitu sebesar 82,73 jika dikonversi ke dalam skala lima berada dalam kategori tinggi.
b.   Analisis Skor Hasil Portofolio Siklus II
        Skor rata-rata hasil portofolio matematika siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale  setelah diadakan tindakan pada siklus II adalah 73,3 dengan skor yang dicapai responden tersebar dari skor tertinggi 100,0 sampai skor terendah 40,0 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0. Secara lengkap analisis tes hasil belajar siklus I disajikan dalam bentuk tabel berikut.
    Tabel 4.7 Statistik Skor Portofolio Siswa pada Siklus II
Statistik
Nilai Statistik


Subjek
30 ,00

Skor Ideal
100,00

Skor Rata-rata
86,5

Skor Tertinggi
100,00

Skor Terendah
54,00

Rentang Skor
46,00

Median
86,00

Mode
84,00

Standar Deviasi
10,72

Variansi
114,94


Jika skor rata-rata hasil portofolio matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale dikonversi ke dalam skala lima, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase nilai hasil belajar pada tabel di bawah ini.

   Tabel 4.8 Distribusi dan Persentase Skor Portofolio Siswa  Siklus II
No
Interval nilai
Interval Persen (%)
Kategori
Frekuensi
Persen Frekuensi (%)
1
2
3
4
5
0–3.4
3.5–5.4
5.5–6.4
6.5 – 8.4
8.5–10.0
0 – 34
35 – 54
55 – 64
65 – 84
85 – 100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
tinggi
Sangat tinggi
0
1
0
12
17
0
3,33
0
40
56,67
Jumlah

30
100
       
Berdasarkan Tabel 4.8 di atas dapat dikemukakan bahwa dari 30 siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale tidak terdapat sekitar siswa yang nilai portofolionya berada pada kategori sangat rendah,  3,33% siswa yang nilai portofolionya berada pada  kategori rendah, tidak terdapat siswa yang nilai portofolionya berada pada kategori sedang, 40% siswa yang nilai portofolionya berada pada kategori tinggi, dan 56,67 % siswa yang nilai portofolionya berada pada kategori sangat tinggi. Disamping itu, sesuai skor rata-rata dari hasil tes belajar pada siklus II yaitu sebesar 86,5 jika dikonversi ke dalam skala lima berada dalam kategori sangat tinggi. Hal ini berarti skor rata-rata prestasi portofolio siswa kelas IX SMP Negeri 1 Ajangale setelah diterapkan pembelajaran dengan assesmen portofolio mengalami peningkatan.

Tabel 4.9 Perbandingan Skor Rata-Rata Hasil Belajar Siswa Kelas IX-A SMPN 1 Ajangale
Hasil Belajar
Siklus
I
II
1. Tes Hasil Belajar
87,5
89,3
2. Hasil Portofolio
82,7
86,5

B.  Analisis Kualitatif
1.  Hasil Partisipasi untuk Melihat Perubahan Sikap Siswa dalam Proses Belajar Mengajar Siklus  I
Untuk mengetahui keaktifan dan tanggapan siswa dalam proses belajar mengajar dapat kita lihat pada hasil partisipasi yang dilakukan pada setiap pertemuan. Pada setiap pertemuan segala aktifitas siswa dicatat oleh pemantau selama proses belajar mengajar berlangsung. Hasil pengamatan tersebut disajikan dalam Tabel 4.10 berikut.
Tabel 4.10 Hasil Partisipasi Aktivitas Belajar Siklus I
NO
INDIKATOR YANG DIAMATI
SIKLUS I
PERTEMUAN KE
1
2
3
4
5
1
Siswa yang hadir pada saat pembelajaran
 27
30 
30 
29 
Tes S i k l u s  I
2
Siswa yang memperhatikan penjelasan
 27
29 
30 
29 
Guru
3
Siswa yang mengajukan pertanyaan
 1
1
4
Siswa yang menawarkan ide/menjawab
3
 4
6
 7
pertanyaan  temannya atau guru
5
Siswa yang memiliki alat pembelajaran
 27
29 
 30
 29
berupa buku paket
6
Siswa yang mengumpul PR
26 
29 
 27
 28
         
Dari Tabel 4.10 diatas dapat dilihat hasil partisipasi pada setiap pertemuan yaitu siswa yang hadir pada saat pembelajaran bervariasi, berkisar antara 29 – 30 siswa. Begitu pula siswa yang memperhatikan penjelasan guru berkisar antara    27 – 30 siswa, siswa yang mengajukan pertanyaan pada pertemuan pertama sebanyak 1 siswa sampai 3 siswa pada pertemuan keempat, siswa yang menawarkan ide/menjawab pertanyaan temannya atau guru pada pertemuan pertama 3 siswa sampai 7 siswa pada pertemuan keempat, siswa yang memiliki alat pembelajaran berupa buku paket pada pertemuan pertama sebanyak 27 siswa sampai 29 pada pertemuan keempat dari 30 siswa, dan siswa yang mengumpulkan PR bervariasi, berkisar antara 26 – 29 siswa.
2.  Hasil Partisipasi untuk Melihat Perubahan Sikap Siswa dalam Proses Belajar Mengajar Siklus  II
        Tabel 4.11 Hasil Partisipasi Aktivitas Belajar Siklus II
NO
INDIKATOR YANG DIAMATI
SIKLUS I
PERTEMUAN KE
1
2
3
1
Siswa yang hadir pada saat pembelajaran
30
 30
Tes S i k l u s  II
2
Siswa yang memperhatikan penjelasan
30 
30 
guru
3
Siswa yang mengajukan pertanyaan
6
10 
4
Siswa yang menawarkan ide/menjawab
 
 13
pertanyaan  temannya atau guru
5
Siswa yang memiliki alat pembelajaran
 30
30 
berupa buku paket
6
Siswa yang mengumpul PR
 30
30

Dari Tabel 4.11 dapat dilihat hasil partisipasi pada setiap pertemuan yaitu semua siswa hadir pada saat pembelajaran baik pada pertemuan pertama sampai pertemuan kedua. Begitu pula, semua siswa memperhatikan penjelasan guru, siswa yang mengajukan pertanyaan pada pertemuan pertama sebanyak 6 siswa sampai 10 siswa pada pertemuan kedua siklus II dari 30 siswa, siswa yang menawarkan ide/menjawab pertanyaan temannya atau guru bervariasi pada pertemuan pertama 9 siswa dan pertemuan kedua 13 siswa, dan semua siswa memiliki alat pembelajaran berupa buku paket, serta  semua siswa yang mengumpulkan PR baik pada pertemuan pertama maupun pada pertemuan kedua.

C.  Pembahasan Analisis Tes Hasil Belajar dan Hasil Portofolio

1.   Pembahasan Analisis Tes Hasil Belajar
Setelah memperhatikan analisis tes hasil belajar matematika siswa, terjadi peningkatan pada diri siswa dari siklus I ke siklus II dimana hasil tes siswa pada siklus I adalah dari 30 subjek yang diteliti terdapat 21 siswa (70,0%) yang hasil tesnya tinggi, dan 9 siswa (30,0%) yang hasil tesnya sangat tinggi. Sehingga skor rata-rata hasil tes siswa siklus I yaitu sebesar 87,53 setelah dikategorikan diketahui bahwa hasil tes siswa pada siklus I berada pada kategori sangat tinggi.
Sedangkan hasil tes siswa pada siklus II adalah dari 30 subjek yang diteliti hanya 1 siswa (3,33%)yang hasil tesnya sedang, 7 siswa (23,33%) yang hasil tesnya tinggi, dan 22 siswa (73,33%) yang hasil tesnya sangat tinggi. Sehingga skor rata-rata hasil tes siswa siklus II yaitu sebesar 89,27 setelah dikategorikan diketahui bahwa hasil tes siswa pada siklus I berada pada kategori sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sudah memahami materi pelajaran dengan baik.
2.   Pembahasan Analisis Hasil Portofolio
Setelah memperhatikan analisis hasil portofolio matematika siswa dapat dilihat terjadinya perubahan perilaku belajar yang sangat besar dari diri siswa. Dimana tugas-tugas belajar yang diberikan pada awal pertemuan pembelajaran pada umumnya masih sulit mereka kerjakan. Dengan melihat hasil portofolio pada siklus I dimana dari 30 subjek yang diteliti terdapat 1 siswa (3,33%) yang hasil portofolionya sangat rendah, tidak terdapat siswa yang hasil portofolionya rendah, 2 siswa (6,67%) yang hasil portofolionya sedang, 10 siswa (33,33%) yang hasil portofolionya tinggi, dan 17 siswa (56,67%) terdapat siswa yang hasil portofolionya sangat tinggi. Sehingga skor rata-rata hasil portofolio siswa siklus I yaitu sebesar 82, 73 setelah dikategorikan diketahui bahwa hasil tes siswa pada siklus I berada pada kategori tinggi.
Sedangkan hasil portofolio pada siklus II dimana dari 30 subjek yang diteliti tidak terdapat siswa yang hasil portofolionya sangat rendah, 1 siswa (3,33%) yang hasil portofolionya rendah, tidak terdapat siswa yang hasil portofolionya sedang, 12 siswa (40,0%) yang hasil portofolionya tinggi, dan 17 siswa (56,67%) yang hasil portofolionya tinggi. Sehingga skor rata-rata hasil portofolio siswa siklus II yaitu sebesar 86,00 setelah dikategorikan diketahui bahwa hasil tes siswa pada siklus II berada pada kategori sangat tinggi
Kondisi-kondisi inilah yang menyebabkan kualitas proses pembelajaran matematika melalui penerapan assesmen portofolio meningkat, hal ini ditandai pula dengan peningkatan hasil belajar, hasil tugas portofolio, dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran.
D.  Refleksi terhadap Pelaksanaan Tindakan dalam Pembelajaran
1.   Siklus I
Pada pertemuan pertama siklus I peneliti menyampaikan bahwa pada pembelajaran kali ini akan diterapkan assesmen portofolio. Istilah assesmen portofolio merupakan istilah terbaru bagi mereka. Oleh karena itu peneliti menjelaskan kepada siswa tentang assesmen portofolio. Peneliti menginformasikan bahwa dalam pembelajaran ini, siswa mampu menyelesaikan tugas-tugas portofolio yang sebelumnya sudah diformat oleh guru. Dan guru juga menjelaskan bahwa yang dinilai itu bukan saja tugas-tugasnya tetapi juga sikap dan antusias siswa dalam pembelajaran. Pada pertemuan pertama peneliti mengawali pembelajaran dengan memotivasi kepada siswa untuk terus belajar dan memperhatikan pelajaran yang diberikan. Peneliti menjelaskan materi dengan memberikan beberapa contoh, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang telah diberikan dan memberikan soal kepada siswa untuk dikerjakan di papan tulis. Selanjutnya, responden diarahkan untuk mengerjakan tugas portofolio. Pada saat peneliti memantau siswa ternyata masih banyak siswa yang belum memahami konsep persamaan kuadrat khususnya mengubah persamaan menjadi persamaan kuadrat. Akhirnya peneliti membimbing siswa untuk menyelesaikan tugas portofolio yang diberikan. Dalam menyelesaikan portofolio pada umumnya siswa merasa kesulitan di dalam menyelesaikan tugasnya, karena dasar pemahaman matematika siswa masih kurang. Pada pertemuan pertama ini tidak seluruhnya siswa yang hadir dalam proses belajar mengajar. Hal ini terlihat dari absensi siswa ada 3 orang yang tidak hadir diantaranya 1 orang sakit dan 2 orang tanpa keterangan. Di akhir pertemuan pertama siswa diberi pekerjaan dirumah sebagai bahan latihan di rumah.
Pada pertemuan kedua,  guru mengembalikan tugas yang diberikan pada pertemuan pertama yang didalam lembar jawaban sudah ada catatan guru tentang jawaban mengenai kekurangan dan kelebihan siswa. Siswa kemudian membundelkan tugas tersebut kedalam portofolio mereka masing-masing kemudian guru membahas hal-hal yang menjadi kesulitan siswa pada tugas yang diberikan. Setelah itu, guru memberikan dorongan atau motivasi kepada siswa kemudian melanjutkan pelajaran. Dalam proses pembelajaran semangat siswa sudah mulai berubah. Hal ini terlihat dari kehadiran siswa, siswa memperhatikan penjelasan guru, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan teman maupun guru sudah meningkat. Selanjutnya, siswa diberikan tugas untuk mengetahui sampai mana kepahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan. Diakhir pertemuan seperti pada pertemuan pertama siswa diberikan pekerjaan rumah sebagai bahan latihan.
Pada pertemuan ketiga, guru mengembalikan tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan pada pertemuan kemarin. Seperti pertemuan sebelumnya guru membahas hal-hal yang menjadi kesulitan siswa pada tugas dan PR yang diberikan kemudian melanjutkan pembelajaran. Pada pertemuan ini keaktifan siswa dalam proses pembelajaran semakin meningkat. Hal ini terlihat dari kehadiran siswa, siswa memperhatikan penjelasan guru, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan teman maupun guru terus meningkat.
Pada pertemuan keempat, keaktifan siswa dalam proses pembelajaran terus meningkat. Pada umumnya siswa merasa senang karena banyaknya soal-soal yang diberikan sehingga siswa lebih rajin dan mengerti terhadap pelajaran yang diberikan. Dan di akhir pertemuan siswa diberikan pekerjaan rumah sebagai bahan latihan di rumah.
Pada pertemuan terakhir Siklus I, siswa diberikan tes hasil belajar dalam bentuk uraian. Setelah itu, guru melakukan refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan selama siklus I.
2.   Siklus II
Pada siklus II ini pada dasarnya sama dengan Siklus I. Hanya saja pada siklus II ini perhatian dan motivasi siswa semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan semakin bertambahnya jumlah siswa yang aktif dalam mengajukan pertanyaan dan semakin bertambahnya jumlah siswa yang menjawab pertanyaan atau menawarkan ide terhadap pertanyaan yang diberikan.
Pada pertemuan pertama siklus II, kemampuan siswa dalam menangkap dan memahami materi yang diberikan juga sudah lebih baik. Tetapi pada pertemuan kedua siklus II, kemampuan responden dalam menangkap dan mamahami materi yang diberikan masih mengalami kesulitan karena materi pada pertemuan kedua ini adalah menyelesaikan soal cerita. Kendala yang dihadapi siswa pada materi ini adalah siswa tidak bisa menyelesaikan soal cerita ini kedalam bentuk matematika. Jadi guru menjelaskan kembali kepada siswa materi tentang menyelesaikan soal cerita sampai siswa mengerti. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan siswa menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik.  
Pada pertemuan terakhir Siklus II, siswa diberikan tes hasil belajar dalam bentuk uraian. Setelah itu, guru melakukan refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan selama siklus II.
E.   Tanggapan terhadap Assesmen Portofolio dalam Pembelajaran Matematika
1.   Guru Mata Pelajaran
Guru dalam hal ini peneliti mengangap bahwa dengan adanya penerapan asesmen portofolio dalam proses pembelajaran matematika dapat menimbulkan minat, motivasi terhadap matematika serta menjadikan siswa dapat berpartisipasi aktif dalam setiap proses pembelajaran. Banyaknya tugas yang diberikan guru mengakibatkan siswa semakin sering berlatih mengerjakan soal sehingga penguasaan siswa terhadap materi pelajaran semakin meningkat. Selain itu siswa dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan mereka terhadap suatu materi karena setiap tugas yang diberikan diberi catatan sebagai bahan refleksi.
Dengan semakin seringnya siswa mengerjakan latihan membuat mereka memiliki rasa tertarik terhadap pelajaran matematika dan memiliki motivasi untuk terus belajar.
Dengan penerapan asesmen portofolio, orang tua juga dapat mengetahui perkembangan belajar anaknya sehingga mereka mengetahui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh anaknya. Disamping itu juga menunjukkan adanya komunikasi secara tidak langsung antara orangtua siswa dengan guru.
2.   Siswa
Pada umumnya siswa senang dengan penerapan assesmen portofolio pada pembelajaran matematika karena dengan semakin banyaknya tugas yang diberikan membuat siswa semakin rajin dan termotivasi dalam belajar dan mengerjakan tugas. Yang mana dengan semakin banyaknya tugas yang diberikan, siswa lebih mengerti terhadap pelajaran yang diberikan. Selain itu siswa juga dapat mengetahui kelemahannya sehingga ia dapat memperbaiki dan mengetahui kelebihannya sehingga ia dapat mempertahankan dan meningkatkannya. Dengan banyaknya tugas yang diberikan oleh guru dapat membuat siswa lebih termotivasi lagi untuk terus belajar.
3.   Orang Tua Siswa
Secara umum orang tua siswa pun sangat setuju dengan penilaian portofolio, umumnya pada pelajaran matematika. Karena dengan penilaian portofolio dapat memotivasi siswa untuk lebih giat atau berlatih di rumah dalam mengerjakan soal-soal, sehingga pada ulangan/ ujian siswa dapat mengerjakan lebih baik karena sudah terbiasa mengerjakan soal-soal latihan. Selain itu, juga dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa khususnya pelajaran matematika. Seperti halnya banyaknya tugas yang diberikan oleh guru, dapat membuat anak rajin belajar dan tidak bermalas-malasan lagi. Dengan cara ini pula siswa dapat lebih berkosentrasi dalam memperhatikan guru menjelaskan dan aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas karena dapat memudahkan dirinya dalam mengerjakan tugas, jika materinya sudah dipahami dengan jelas.

BAB V
PENUTUP

A.Kesimpulan

Berdasarkan data-data hasil penelitian, baik data kualitatif maupun data kuantitatif disimpulkan bahwa:
1.   Peningkatan hasil belajar matematika dengan penerapan assesmen portofolio pada Kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale Kab. Bone untuk siklus I skor rata-rata tes hasil belajar sebesar 87,5 dengan kategori sangat tinggi. Sedangkan pada siklus II skor rata-rata tes hasil belajar sebesar 89,3 dengan kategori sangat tinggi.
2.   Peningkatan hasil belajar matematika dengan penerapan assesmen portofolio pada Kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale Kab. Bone untuk siklus I skor rata-rata portofolio sebesar 82,7 dengan kategori tinggi. Sedangkan pada siklus II skor rata-rata hasil belajar sebesar 86,5 dengan kategori sangat tinggi.
3.   Keaktifan siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Ajangale dalam pembelajaran mengalami peningkatan dalam hal:
  1. Kehadiran siswa.
  2. Perhatian siswa pada proses belajar mengajar.
  3. Keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan.
  4. Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan guru atau temannya.
  5. Kesungguhan siswa dalam mengerjakan tugas Pekerjaan Rumah (PR).

B.Saran

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini, maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut:
1.       Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, diharapkan guru matematika menerapkan asesmen portofolio dalam pembelajaran matematika.
2.       Diharapkan kepada guru wali agar memperhatikan peningkatan hasil belajar siswa minimal tiap kompetensi dasar.
3.       Kepada pihak Sekolah agar memaksimalkan sarana dan prasarana di Sekolah, misalnya peningkatan kualitas dan kuantitas buku-buku perpustakaan sehingga cukup literatur bagi siswa untuk di baca dan dipelajari.


DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahim. 2005. Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran Melalui Penerapan Assesmen Portofolio Pada Siswa Kelas I4 Madrasah Tsanawiyah Negeri Model Makassar. Skripsi. Tidak diterbitkan. Makassar: Jurusan Matematika FMIPA UNM.

Asdar. 2005. Portofolio: Alternatif Assesmen Berkelanjutan dalam Pembelajaran Matematika. Eksponen. Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika. Edisi khusus, Januari 2005 halaman 94 – 104

Bani. 2005. Implementasi Assesmen Portofolio Untuk Menigkatkan Kualitas Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas I Tekstil SMK Negeri 2 Somba Opu Sungguminasa. Skripsi.

Budimansyah. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian portofolio. : PT Ganesindo. Bandung.

Djaali. 1991. Konsep dan Strategi Pengajaran Matematika di SD dalam Rangka Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia. Ujung Pandang: IKA IKIP (jurnal alumni vol. 1 No. 1 tahun 1991).

Haling. 2004,. Belajar dan Pembelajaran (Suatu Ringkasan). Makassar:FIK UNM.

Hudoyo, H,. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang. IKIP Malang.
Johnson, David W. & Johnson, Roger T., 2002,. Meaningfull Assesment USA.: Allyn and Bacon.

Kardi, Soeparman, Nur,. 2000. Pengajaran Langsung. UNESA UNIVERSITY PRESS. Surabaya.

Maesuri, 2001. Portofolio Matematika dalam Pembelajaran Matematika. Pusat pengkajian pendidikan Sains dan Matematika Pasca Sarjana Universitas Negeri Surabaya. Surabaya.
Maesuri,. 2003. Sistem Penilaian (Assesment) dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pusat pengkajian pendidikan Sains dan Matematika Pasca Sarjana Universitas Negeri Surabaya. Surabaya.

L A M P I R A NMaesuri. 2002. Penilaian Performens dalam Pembelajaran Matematika dan Contoh Penerapannya. Pusat pengkajian pendidikan Sains dan Matematika Pasca Sarjana Universitas Negeri Surabaya. Surabaya.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Penerbit PT Grasindo Midiasarana Indonesia. Jakarta.

Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan depertemen Pendidikan Nasional, 2002. Penilaian Portofolio. Program pascasarjana magister tegno;ogi pendidikan FKIP Universitas Lampung.

Soedjadi. R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia (Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan). Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depertemen Pendidikan Nasional.

Suherman, dkk., 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI.

Surapranata. 2004. Penilaian Portofolio Implementasi Kurikulum 2004. Penerbit PT Remaja Rosdakarya Bandung. Bandung.













 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar