BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam
mengantisipasi masa depan, karena pendidikan selalu diorientasikan pada
penyiapan peserta didik untuk berperan di masa yang akan datang. Pendidikan
merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan dalam
kehidupan dan berlangsung seumur hidup.
Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha
membudayakan dan memanusiakan manusia. Manusia itu sendiri adalah pribadi yang
utuh dan pribadi yang kompleks sehingga sulit dipelajari dengan tuntas. Oleh
karena itu masalah pendidikan tidak akan pernah selesai, sebab hakekat manusia
itu sendiri selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupannya. Pendidikan
berkenaan dengan upaya pembinaan manusia maka keberhasilan pendidikan
tergantung kepada unsur manusianya. Unsur manusia yang paling menentukan
keberhasilan pendidikan adalah pelaksana pendidikan yaitu Guru. Guru dituntut
memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik dan pengajar.
Mengingat
begitu pentingnya peranan matematika dan merupakan ilmu yang diterapkan di
setiap jenjang pendidikan, maka perlu adanya suatu upaya dalam meningkatkan
hasil belajar siswa. Beragam pandangan yang muncul terhadap matematika, ada
yang menganggap matematika adalah pelajaran yang sangat sulit sehingga harus dijauhi
dan di hindari serta penuh teori yang membosankan.
Berdasarkan
informasi yang diperoleh dari guru matematika kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng
Utara Kabupaten Takalar. Bahwa sangat sedikit siswa
yang mampu mengerjakan soal-soal matematika dengan benar, ini tampak dari hasil
belajar yang masih kurang memuaskan. Dimana KKM (Kriteria ketuntasan Minimal)
yang ditetapkan oleh pihak sekolah adalah 65, selebihnya yang mendapat nilai
kurang dari KKM yang ditetapkan (tidak tuntas). Keadaan seperti ini disebabkan
belum diorganisasikannya dengan baik proses yang memungkinkan siswa belajar
lebih aktif dan lebih banyak berpartisipasi dalam proses belajar mengajar.
Salah
satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan model pembelajaran kooperatif
tipe Numbered Heads Together (NHT).
Proses belajar mengajar ini terjadi apabila ada interaksi antara guru dengan
siswa dan antara siswa dengan siswa. Interaksi siswa dengan siswa ini terbentuk
melalui pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran
kooperatif dalam matematika akan dapat membantu para siswa meningkatkan sikap
positif untuk membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya dalam \menyelesaikan
masalah matematika sehingga dapat mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas
terhadap matematika yang banyak dialami para siswa. Pembelajaran kooperatif
juga telah terbukti sangat bermanfaat bagi para siswa yang heterogen. Dengan
menonjolkan interaksi dalam kelompok model belajar ini dapat membuat siswa
menerima pendapat siswa lain yang berkemampuan dan berlatar belakang berbeda.
Pembelajaran
dengan metode numbered heads together diawali dengan numbering, guru membagi
kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok sebaiknya
mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari, jika jumlah peserta didik dalam
satu kelas terdiri dari 40 orang dan terbagi menjadi 8 kelompok berdasarkan
jumlah konsep yang dipelajari maka tiap kelompok terdiri 5 orang, tiap-tiap
orang dalam kelompok diberi nomor 1-5.
Setelah
kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh
tiap-tiap kelompok, mereka diberi kesempatan memberi jawaban atas pertanyaan
yang telah diterimanya dari guru. Hal itu dilakukan terus sehingga semua
peserta didik dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapat
giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru. Berdasarkan jawaban-jawaban
itu guru dapat mengembangkan diskusi lebih mendalam, serta peserta didik dapat
menemukan jawaban itu sebagai pengetahuan yang utuh.
Berdasarkan
kondisi di atas, maka penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika
Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Pada Siswa
Kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar”
B.
Masalah
Penelitian
1.
Identfikasi
Masalah
Berdasarkan
uraian dalam latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat
diidentifikasikan permasalahan dalam penelitian ini disebabkan oleh:
1.
Siswa menganggap
pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit.
2.
Kurang motivasi siswa
dalam proses belajar mengajar.
3.
Rendahnya hasil belajar
matematika siswa kelas VIIIb SMP
Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah
yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah
melalui pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar
matematika siswa kelas VIIIb SMP
Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar”?
3. Cara Pemecahan Masalah
Masalah
tentang rendahnya hasil belajar matematika pada siswa kelas VIIIb
SMP Negeri 1 Polongbangkeng
Utara Kabupaten Takalar akan dipecahkan dengan
menerapkl pembelajaran model Kooperatif Tipe NHT yang dilaksanakan sesuai
dengan prosedur dalam penelitian tindakan kelas.
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di
atas, maka tujuan penelitian ini adalah “Untuk meningkatkan hasil belajar
matematika pada siswa kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng
Utara Kabupaten
Takalar melalui pembelajaran Kooperatif Tipe NHT”.
D.
Manfaat
Penelitian
1.
Bagi
Siswa: Dapat Mengurangi rasa cemas terhadap
matematika dan dapat membuat siswa menerima siswa lain yang berkemampuan dan
latar belakang berbeda. Dan memungkinkan siswa lebih bersemangat belajar matematika
sehingga diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat.
2.
Bagi
Guru: Sebagai pertimbangan untuk dapat
menerapkan model kooperatif Tipe Numbered Heads Together dalam
memecahkan beberapa masalah yang dihadapi dalam upaya meningkatkan hasil
belajar siswa.
3.
Bagi
Sekolah: akan memberikan bahan informasi untuk
dapat membenahi dan meningkatkan proses belajar matematika khususnya SMP Negeri 1 Polongbangkeng
Utara Kabupaten
Takalar.
BAB II
KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
TINDAKAN
A.
KAJIAN
PUSTAKA
1. Hakikat
Belajar Matematika
Belajar merupakan istilah kunci
yang paling penting dalam pendidikan. Dapat dikatakan bahwa tanpa balajar,
sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Karena demikian pentingnya belajar maka
tidak heran bila masalah-masalah belajar terus menjadi kajian menarik bagi
banyak ahli pendidikan.
Menurut Anthony Robbins (Trianto: 2010) bahwa
belajar adalah suatu proses aktif di mana siswa membangun (mengkonstruk) pengetahuan berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan
yang sudah dimilikinya. Proses aktif yang dimaksud adalah berupa pengalaman siswa
yang telah ada yang akan dikembangkan lebih baik lagi.
Menurut Gagne (Agus: 2010)
mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang
dicapai seseorang melalui aktivitas, perubahan disposisi tersebut bukan
diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara ilmiah.
Dari berbagai pendapat ahli
yang mencoba memberikan defenisi belajar, maka dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan proses aktif dimana siswa membangun
pengetahuan berdasakan pada pengalaman, dan kemampuan untuk mencapai sebuah
perubahan yang lebih baik.
Pembelajaran
matematika adalah kegiatan pendidikan yang psikologi seperti abstraksi,
klasifikasi, dan generalisasi. Mengabstraksi
faktor guru, faktor siswa juga sangat penting dalam proses pembelajaran.
Dengan kata lain, agar proses belajar matematika berjalan sebagaimana mestinya,
maka siswa harus memiliki kemampuan dan pengetahuan dasar sebagai materi
prasyarat. Sedangkan guru harus memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang
keadaan siswa, pengelolaan kelas, penggunaan model pembelajaran yang tepat, dan
keterampilan mengadakan variasi, serta teknik penilaian, baik penilaian proses
maupun penilaian hasil belajar. Karena salah satu hakikat pembelajaran adalah
terjadinya perubahan tingkah laku seseorang dengan adanya pengalaman.
2.
Hasil
Belajar Matematika
Hasil
belajar merupakan hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses
kegiatan belajar mengajar. Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang dapat
menjadi indokator tentang batas kemauan, kesanggupan, penguasaan seseorang
tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai yang dimiliki seseorang
itu dalam suatu pelajaran. Dalam kaitannya dengan usaha belajar, hasil belajar
ditunjukkan oleh tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa terhadap materi
yang diajarkan setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung dalam suatu kurun
waktu tertentu.
Hasil
belajar mempunyai peranan penting dalam pendidikan. Seorang siswa yang cerdas
dapat menciptakan usaha yang lebih baik untuk mendorong perkembangan
intelektual bagi dirinya dalam bermacam-macam kegiatan agar ada peningkatan
terhadap hasil belajar.
Baik
itu perubahan tingkah laku atau pemahaman yang diperoleh melalui hasil belajar,
itulah yang disebut hasil belajar atau dengan kata lain hasil belajar adalah
kemampuan menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang telah
dipelajari. Sedangkan hasil belajar matematika yang dimaksudkan adalah
kemampuan atau penguasaan materi yang telah dikuasai siswa setelah kegiatan
belajar mengajar matematika.
Menurut
Gagne (Agus: 2010) hasil belajar berupa :
a) informasi
verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik
lisan maupun turtulis.
b) keterampilan
intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.
c) strategi
kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya
sendiri.
d) keterampilan
motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan
koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
e) sikap
adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap
objek tersebut.
Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa hasil
belajar adalah ukuran keberhasilan siswa setelah menempuh proses belajar.
Hasil belajar yang dicapai seseorang dapat menjadi indikator tentang batas
kemampuan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan, keterampilan
dan sikap yang dimiliki oleh orang itu dalam suatu pekerjaan.
3. Pembelajaran
Kooperatif (Cooperative Learning)
Salah
satu model pembelajaran yang dapat dikembangkan di sekolah-sekolah adalah
pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Cooperative learning dalam matematika akan dapat membantu
para siswa meningkatkan sikap positif siswa dalam matematika. Para siswa secara
individu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya.
Menurut
Ibrahim, dkk (Trianto : 2010), bahwa belajar kooperatif dapat mengembangkan
tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar siswa, dan dapat
mengembangkan kemampuan akademis siswa
Siswa
yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif di dorong dan atau
dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus
mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan
pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama
lain untuk mencapai suatu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan
tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.
Menurut
Muhammad Faiq Dzaki pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
1. Siswa
bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2. Kelompok
dibentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3. Bilamana
mungkin. anggota kelompok berasal dan ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda
4. Penghargaan
lebih berorientasi kelompok ketimbang individu
Jika para siswa yang mempunyai
kemampuan berbeda dimasukkan dalam satu kelompok yang sama, maka akan dapat
memberikan keuntungan bagi para siswa yang berkemampuan rendah dan sedang. Sebaliknya
siswa yang berkemampuan tinggi, kemampuan komunikasi verbal dalam matematika
bagi siswa tersebut akan semakin meningkat. Untuk memberikan penjelasan tentang
suatu materi matematika seorang siswa harus memahami materi itu lebih dalam
daripada sekedar kemampuan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah jawaban
pada lembar kerja.
4. Pembelajaran
Kooperatif Tipe Numbered Heads Together
(NHT)
Sebagai seorang profesional, guru harus
mempunyai pengetahuan dan persediaan strategi pembelajaran. Tidak semua strategi
yang diketahui harus dan bisa diterapkan dalam kenyataan sehari-hari di ruang
kelas. Guru yang ingin maju dan berkembang perlu mempunyai persediaan strategi
dan teknik-teknik pembelajaran yang pasti akan selalu bermanfaat dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Salah satu teknik mengajar
gotong royong adalah tipe Numbered Heads Together (NHT).
Metode
ini dikembangkan oleh Spenser Kagan (Trianto: 2010) untuk melibatkan lebih
banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan
mengecek atau memeriksa pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Adapun
langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together yaitu:
1. Siswa
dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Guru
memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3. Kelompok
memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota
kelompok mengetahui jawaban ini.
4. Guru
memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil
kerja sama mereka.
Adapun
sintaks model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together
(NHT). Menurut Salvin (Muh. Kahar Ahmad 2008) sebagai berikut:
Tabel 2.2 Sintaks Model
Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)
|
Fase
|
Tingkah
Laku
|
|
Fase-1
Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa
Fase-2
Menyajikan
informasi
Fase-3
Mrngorganisasikan
siswa kedalam kelompok-kelompok belajar
Fase-4
Membimbing
kelompok bekerja dan belajar
Fase-5
Evaluasi
Fase-6
Memberikan
penghargaan
|
Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran (indicator hasil belajar). Guru memotivasi
siswa. Guru mengaitkan pelajaran sekarang dengan yang terdahulu.
Guru
menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan
bacaan
Guru
mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar dan menjelaskan
bagaimana caranya seperti:
a. Setiap
kelompok beranggotakan 3-5 orang heterogen dan setiap anggots kelompok diberi
nomor 1 sampai 5 (penomoran)
b. Guru
mengajukan pertanyaan
c. Guru
meminta siswa mendiskusikan pertanyaan secara kelompok (berpikir bersama)
Guru
membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
Guru
mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta
siswa menjawab pertanyaan dengan memanggil satu nomor.
Guru
memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya
maupun hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok
|
B. Kerangka
Pikir
Secara umum hasil belajar
matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep matematika masih
berada dalam tataran rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa
dan penguasaan siswa terhadap konsep matematika guru diharapkan mampu berkreasi
dengan menerapkan model dalam
pembelajaran matematika yang
cocok.
Sebagai seorang
profesional, guru harus mempunyai pengetahuan dan persediaan strategi
pembelajaran. Tidak semua strategi yang diketahui harus dan bisa diterapkan
dalam kenyataan sehari-hari di ruang kelas. Guru yang ingin maju dan berkembang
perlu mempunyai persediaan strategi dan teknik-teknik pembelajaran yang pasti
akan selalu bermanfaat dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar
sehari-hari. Salah satu teknik mengajar gotong royong adalah tipe Numbered
Heads Together (NHT).
Metode ini dikembangkan oleh Spenser Kagan
(Trianto: 2010) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang
tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka
terhadap isi pelajaran tersebut.
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan
kerangka pikir di atas, maka hipotesis penelitian adalah Jika diterapkan
pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) maka dapat
meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng
Utara Kabupaten Takalar.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) pelaksanaannya meliputi empat
tahap, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan/observasi
(observing), tahap evaluasi, dan refleksi (reflection).
B.
Subjek
penelitian
Subjek
Penelitian ini adalah siswa kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng
Utara Kabupaten Takalar semester I tahun ajaran 2011/2012. Subjek
penelitian sebanyak 32 orang, siswa perempuan sebanyak 15 orang dan siswa
laki-laki sebanyak 17
C.
Faktor yang Diselidiki
Faktor-faktor yang diselidiki adalah sebagai
berikut:
1. Faktor
input, yaitu menyelidiki hasil belajar siswa sebelum pelaksanaan tindakan dengan
melihat minat siswa melalui observasi aktivitas siswa selama pembelajaran
berlangsung.
2. Faktor
proses, yaitu dengan memperhatikan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran
serta perubahan sikap siswa dalam belajar matematika.
3. Faktor
output, menyelidiki hasil belajar matematika setelah pelaksanaan tindakan serta
tanggapan siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads together.
D.
Prosedur
Penelitian
Alur penelitian menurut Suharsimi arikunto (2007:
16)
|
|
|
|
![]() |
||||||||||||||
|
||||||||||||||
|
||||||||||||||
![]() |
|
|
||||||||||||
|
||||||||||||||
Dalam
penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam dua siklus sesuai dengan
perubahan yang ingin dicapai, setiap akhir siklus diberikan tes hasil belajar
sebagai tes untuk mengetahui kemampuan siswa.
Adapun prosedur pelaksanaan
tindakan ini sebagai berikut:
Gambaran umum siklus 1
1. Tahap
Perencanaan.
Sebelum diadakan
penelitian terlebih dahulu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Mengidentifikasikan
siswa sebelum mengadakan tindakan siklus I. Hal-hal yang dilakukan yaitu
menanyakan mata pelajaran yang mereka senang, kebiasaan belajar matematika,
cara guna menyajikan pelajaran matematika.
b.
Menganalisis kurikulum
kelas VIIIb
c.
Membuat skenario
pembelajaran untuk pelaksanaan tindakan dengan merujuk kepada tipe Numbered Heads Together.
d.
Membuat lembar
observasi untuk melihat bagaimana kondisi atau keadaan siswa di kelas saat
proses belajar mengajar berlangsung selama diadakannya model pembelajaran
kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT).
e.
Membuat tes hasil
belajar.
f.
Membuat angket respon
siswa.
2.
Tahap Tindakan
Adapun
langkah-langkah yang dilakukan tahap ini sebagai berikut:
a. Siswa
dibagi dalam kelompok, Setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor.
b. Guru
memberikan kesempatan semua kelompok untuk mengerjakan soalnya masing-masing
dalam jangka waktu tertentu.
c. Kelompok
memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota
kelompok mengetahui jawaban ini.
d. Guru
memanggil salah satu nomor, Siswa dengan nomor yang dipanggil secara bergantian
melaporkan hasil kerja sama mereka dan anggota kelompok lain berhak menanggapi
jawaban dari kelompok tersebut.
e. Guru
membe rikan skor terhadap hasil
laporan setiap anggota kelompok.
3. Tahap
Observasi
a. Observasi
Observasi dilakukan
pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data observasi yang diambil
adalah tentang kehadiran, keaktifan mereka di kelas dalam memberikan jawaban,
bertanya dan menuliskan jawaban di papan tulis. Pada akhir siklus diberikan tes
hasil belajar.
4. Tahap
Refleksi
Hasil
yang telah diperoleh dari pengamatan terhadap tiap-tiap kelompok dikumpulkan
serta dianalisis. Baik berupa hasil evaluasi maupun data hasil observasi yang
diperoleh pada saat melaksanakan kegiatan pengajaran, sebagai acuan bagi guru
untuk melaksanakan siklus berikutnya.
Gambaran umum siklus II
Kegiatan
yang dilakukan pada siklus II pada dasarnya adalah mengulang tahapan-tahapan
pada siklus I, akan tetapi dilakukan pola sejumlah rencana baru untuk
memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat pada siklus sebelumnya.
E.
Instrumen.
1. Data
tentang hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan diambil dengan teknik
dokumentasi.
2. Data
tentang keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar diambil dengan lembar
observasi.
3. Data
tentang tanggapan siswa diambil dengan angket respon Siswa.
4. Data
tentang hasil belajar diambil dengan tes hasil belajar
F. Teknik
Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
1. Data
tentang hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan diambil dari guru.
2. Data
mengenai keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar yang diambil melalui
observasi selama pembelajaran.
3. Data tentang tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang
diterapkan diambil melalui angket respon siswa.
4. Data
mengenai hasil belajar diambil dari tes setiap akhir siklus.
G.
Teknik
Analisis Data
Data
yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan teknik statistik
deskriptif, data hasil belajar yang diperoleh dikategorikan berdasarkan teknik
kategoriasi standar yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
|
SKOR
|
KATEGORI
|
|
0 – 54
55 -64
65 -79
80 -89
90-100
|
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat
tinggi
|
H. Indikator Keberhasilan
Menurut kriteria
ketuntasan minimal (KKM) di SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten
Takalar, adanya peningkatan skor rata-rata hasil belajar matematika siswa
disetiap siklus setelah penerapan pembelajaran Kooperatife Tipe Numbered Heads
Together dan siswa dikatakan tuntas belajar apabila memperoleh skor minimal 65
dari skor ideal dan tuntas secara klasikal apabila memperoleh skor minimal 85%
dari jumlah siswa tuntas belajar individu.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Pada bab ini membahas tentang hasil-hasil penelitian
yang menunjukkan peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIB
SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar
Setelah diterapkan pembelajaran kooperatif, tipe NHT. Adapun yang
dianalisis adalah skor hasil belajar siswa yang diberikan setiap akhir siklus
secara deskriptif, data mengenai perubahan sikap siswa yang diambil dari
rekaman pengamatan dan tanggapan serta
refleksi yang diberikan oleh siswa baik
yang tertulis maupun komentar secara lisan.
A.
Hasil
Penelitian
1. Siklus
I
a. Hasil
Analisis Kuantitatif
Hasil analisis statistic deskriptif
tes hasil belajar matematika siswa kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar
setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered
Heads Together (NHT) dapat dilihat pada Tabel 4.1
Tabel
4.1 Statistik Skor Hasil Belajar Siswa
Kelas VIIIb SMP Negeri 1
Polongbangkeng Utara Kab. Takalar Pada Akhir Siklus I
|
Statistik
|
Nilai
statistik
|
|
Jumlah
siswa
Skor
ideal
Nilai
maksimum
Nilai
minimum
Rentang
skor
Skor
rata-rata
Median
Modus
Standar
deviasi
|
32
100
85
35
50
61,09
60
70
15,80
|
Tabel 4.1 menunjukkan hasil belajar
matematika siswa kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara
setelah dilakukan tindakan pada siklus 1 memiliki skor rata-rata 61,09 dari
skor ideal yang mungkin dicapai yaitu 100 sedangkan skor terendah yang mungkin
dicapai yaitu 0. Perolehan skor untuk siklus 1 ialah 85 untuk skor tertinggi
dan 35 untuk skor terendah dengan standar deviasi sebesar 15,80 artinya
kecenderungan variasi peyimpangan skor siswa sebesar 15,80 dari skor rata-rata.
Median berpusat pada skor 60 artinya 50% skor siswa berada dibawah atau sama
dengan 60 dan 50% skor siswa berada diatas atau sama dengan 60. Modus berpusat
pada skor 70 yang artinya frekuensi terbesar perolehan skor siswa adalah 70.
Hal ini disebabkan karena masih
kurangnya perhatian siswa dengan melakukan kegiatan lain selama proses
pembelajaran berlangsung. Apabila skor hasil belajar siswa dikelompokkan
kedalam 5 kategori maka diperoleh distribusi
frekuensi nilai seperti yang disajikan pada tabel 4.2
Tabel
4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase
Skor Hail Belajar Matematika Siswa Kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab.
Takalar Pada Akhir Siklus I
|
No
|
Skor
|
Kategori
|
Frekuensi
|
Persentase
(%)
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
0 –
54
55
– 64
65
– 79
80
– 89
90
– 100
|
Sangat
rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat
tinggi
|
11
6
8
7
0
|
34,38
18,75
25
21,87
0
|
|
Jumlah
|
32
|
100
|
||
Berdasarkan Tabel 4.2 persentase
skor hasil belajar siswa pada tes Siklus 1,
terdapat 11 siswa (34,38) berada pada kategori sangat rendah, 6 siswa
(18,75) berada pada kategori rendah, 8 siswa (25) berada pada kategori sedang,
7 siswa (21,87) berada pada kategori tinggi dan tidak terdapat siswa yang
berada pada kategori sangat tinggi. Sedangkan frekuensi terbesar perolehan
hasil belajar siswa berada pada kategori
sangat rendah.
Persentase ketuntasan belajar siswa
pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.3
Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I
|
Skor
|
Kategori
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
0-
64
65
- 100
|
Tidak
tuntas
Tuntas
|
17
15
|
53,12
46,88
|
|
Jumlah
|
32
|
100,0
|
|
Berdasarkan
hasil analisis data Tabel 4.1 diperoleh skor rata-rata hasil belajar matematika
siswa pada tes Siklus I sebesar 61,09 Jika skor rata-rata tersebut dimasukkan
pada Tabel 4.2 maka skor rata-rata berada pada kategori rendah. Hal ini berarti
bahwa rata-rata tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan berada
pada kategori rendah.
b. Hasil
Analisis Kualitatif
Selama berlangsungnya penelitian
pada siklus I tercatat sikap yang te1rjadi pada setiap siswa terhadap pelajaran
matematika. Sikap siswa tersebut diperoleh dari lembar observasi pada setiap
pertemuan yang dicatat pada setiap siklus. Lembar observasi tersebut
digunakan untuk mengetahui perubahan
sikap siswa selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas.
Adapun sikap siswa dari siklus
I adalah sebagai berikut:
1. Masih
banyak siswa yang tidak hadir mengikuti pelajaran baik itu tidak hadir tanpa
keterangan maupun yang izin.
2. Perhatian
siswa pada siklus I ini masih berjalan seperti kurang antusiasnya siswa dalam
menyelesaikan LKS secara berkelompok dan masih kurangnya kerjasama siswa dalam
membantu temannya menyelesaikan LKS secara berkelompok.
3. Keaktifan
siswa dalam proses belajar mengajar semakin meningkat dalam menjawab pertanyaan
maupun bertanya tentang materi yang telah dibahas. Mereka saling bersaing ingin
kelompoknya yang unggul.
4. Keaktifan
siswa dalam proses belajar mengajar sudah baik tapi dalam hal ini siswa
mengajukan diri baik mengerjakan soal yang masih didominasi oleh siswa yang
pintar dan itu pun masih ditunjuk.
5. Pada
saat siswa melakukan diskusi dengan teman sekelompoknya masih banyak siswa yang kurang memperhatikan dan
sekitar 5,47% siswa yang keluar masuk ruangan.
6. Pada
siklus I siswa dalam mempresentasikan hasil diskusinya kurang berani, bahkan
ada kelompok yang belum siap untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
7. Pada
siklus I masih terdapat sekitar 39,58%
siswa yang tidak kumpul pekerjaan rumah.
c. Hasil Analisis Refleksi
Pada siklus I, semangat minat dan
keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dalam menjawab pertanyaan lisan
guru, bertanya tentang materi yang
dibahas serta mengerjakan soal-soal di
papan tulis dapat dikatakan kurang sekali,
hal tersebut hanya dilakukan oleh siswa yang tergolong pintar. Tampak sekali tiap siswa yang hanya
pasif dan hanya mendengarkan serta mencatat
saja tiap materi yang diajarkan.
Pada pertemuan kedua dan berakhirnya
siklus pertama, semangat siswa untuk menyelesaikan soal secara kelompok sudah
tampak. Walaupun masih ada siswa yang
masih pasif. Hal ini terlihat dari kurang kompaknya setiap kelompok dan kurang komunikasinya antara
anggota kelompok serta masih banyak siswa yang meminta bimbingan kepada guru sebelum melakukan
diskusi dengan teman sekelompoknya bahkan ada kelompok yang anggotanya tidak
mau naik menuliskan jawabannya di papan
tulis.
Dari hasil pengamatan diketahui
bahwa diantara mereka ada yang tidak menerima dikelompokkan dengan teman
sekelompoknya, karena mereka ingin memilih anggota kelompoknya sendiri.
Setiap selesai proses pembelajaran,
guru selalu memberikan pekerjaan rumah dengan tujuan agar siswa mau belajar dan
melatih diri dalam menyelesaikan soal-soal yang ada dan dikumpul pada pertemuan berikutnya.
Pembelajaran tipe Numbered Heads Together (NHT) pada fase
terakhir adalah pemberian penghargaan baik secara individu maupun kelompok.
2. Siklus
II
a. Hasil
Analisis Kuantitatif
Seperti halnya siklus I, tes belajar pad siklus II ini
dengan pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel dilaksanakan dengan
bentuk ulangan harian. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa skor
rata-rata yang dicapai oleh siswa kelas VIIIbSMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar
yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siklus
II yang disajikan dalam Tabel 4.4
Tabel
4.4 Statistik Skor Hasil Belajar Siswa
VIIIb SMP Negeri 1
Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar
Pada Akhir Siklus II
|
Statistik
|
Nilai
statistik
|
|
Jumlah
siswa
Skor
ideal
Nilai
maksimum
Nilai
minimum
Rentang
skor
Skor
rata-rata
Median
Modus
Standar
deviasi
|
32
100
90
60
30
71,41
75
65
dan 70
10,51
|
Lampiran A (2)
Dari Tabel 4.4 menunjukkan hasil belajar
matematika siswa kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara
setelah dilakukan tindakan pada siklus II memiliki skor rata-rata 71,41 dari
skor ideal yang mungkin dicapai yaitu 100 sedangkan skor terendah yang mungkin
dicapai yaitu 0. Perolehan skor untuk siklus II ialah 90 untuk skor tertinggi
dan 60 untuk skor terendah dengan standar deviasi sebesar 10,51 artinya
kecenderungan variasi peyimpangan skor siswa sebesar 10,51 dari skor rata-rata.
Median berpusat pada skor 75 artinya 50% skor siswa berada dibawah atau sama
dengan 75 dan 50% skor siswa berada diatas atau sama dengan 75. Modus berpusat
pada skor 65 dan 70 yang artinya frekuensi terbesar perolehan skor siswa adalah
65 dan 70
Apabila skor hasil belajar siswa
dikelompokkan ke dalam 5 kategori maka diperoleh distribusi frekuensi nilai
dilihat dari Tabel 4.5
Tabel 4.5 Distribusi
Frekuensi dan Persentase Skor Hail Belajar Matematika Siswa VIIIb
SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara
Kabupaten Takalar Pada Akhir Siklus II
|
No
|
Skor
|
Kategori
|
Frekuensi
|
Persentase
(%)
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
0 –
54
55
– 64
65
– 79
80
– 89
90
– 100
|
Sangat
rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat
tinggi
|
-
4
22
4
2
|
-
12,5
68,75
12,5
6,25
|
|
Jumlah
|
32
|
100
|
||
Berdasarkan Tabel 4.5 persentase
skor hasil belajar siswa pada tes Siklus II, tidak terdapat siswa pada kategori
sangat rendah, 4 orang (12,5) berada pada kategor rendah , 22 siswa (68,75)
berada pada kategori sedang, 4 siswa (12,5) berada pada kategori tinggi dan 2
siswa (6,25) yang berada pada kategori sangat tinggi. Sedangkan frekuensi
terbesar perolehan hasil belajar siswa berada pada kategori Sedang.
Apabila hasil belajar siswa pada
siklus II dianalisis maka persentase
ketuntasan belajar siswa siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.6
Tabel 4.6 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa Siklus II
|
Skor
|
Kategori
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
0 -
64
65
– 100
|
Tidak
tuntas
Tuntas
|
4
28
|
12,5
87,5
|
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|
Lampiran A (1)
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa
persentase ketuntasan kelas 87,5% yaitu 28 siswa dari 32 termasuk dalam
kategori tuntas dan 12,5% atau 4 siswa dari 32 termasuk dalam kategori tidak
tuntas.
b. Hasil
Analisis Kualitatif
Selama penelitian berlangsung,
selain terjadi peningkatan hasil belajar
matematika pada siklus I dan siklus II tercatat sejumlah perubahan yang terjadi
pada setiap siswa terhadap pelajaran matematika. Perubahan tersebut
diperoleh dari lembar observasi pada
setiap siklus. Lembar observasi tersebut untuk mengetahui perubahan sikap siswa
selama proses belajar mengajar berlangsung.
Adapun perubahan sikap siswa pada
siklus II adalah sebagai berikut:
1. Kehadiran
siswa semakin meningkat dan semangat memperhatikan pelajaran semakin terlihat,
walaupun masih ada beberapa siswa yang kadang melakukan kegiatan lain ketika
guru sedang menjelaskan.
2. Sudah
terlihat keseriusan siswa dalam menyelesaikan soal-soal serta sudah terlihat
kekompakan dalam kelompoknya.
3. Keaktifan
siswa dalam proses belajar menjawab pertanyaan maupun bertanya tentang materi
yang dibahas. Mereka saling bersaing ingin
kelompoknya yang unggul.
4. Siswa
sudah mampu mengerjakan soal latihan dengan meminta bimbingan dari guru serta bertanya kepada teman
sekelompoknya.
5. Siswa
yang mengerjakan di papan tulis dengan benar semakin meningkat berkat adanya
kerjasama anggota kelompoknya.
6. Pada
siklus II ini siswa sudah mulai berani mengangkat tangan dan mempresentasikan
hasil kerjasama mereka.
7. Pada
siklus II siswa yang tidak kumpul tugas menurun menjadi, 27,34%
c.
Hasil Analisis Refleksi
Pada siklus II peneliti sedikit
mengalami kesulitan yaitu pada saat pembentukan kelompok baru, banyak siswa
yang tidak ingin kelompoknya diubah tapi setelah diberikan sedikit arahan mereka menerima satu sama lain.
Sehingga pada pertemuan berikutnya perhatian, minat dan motivasi belajar serta
kerja sama antara sesama anggota kelompoknya dalam proses belajar mengajar
sudah mengalami peningkatan, dilihat dari siswa yang ditunjuk dapat mewakili
kelompoknya mengerjakan soal di papan tulis dan mengerjakan soal di papan tulis
dan mengerjakan soal dengan cepat dan benar serta membimbing teman
sekelompoknya.
Pada siklus II semangat dan keaktifan siswa semakin
ditandai dengan memperlihatkan kemajuan. Hal ini ditandai dengan bertambahnya
jumlah siswa yang menjawab pertanyaan lisan guru, bertanya tentang materi dan
mengajukan diri mengerjakan soal dipapan tulis.
Secara umum dapat dikatakan bahwa
seluruh kegiatan pada siklus II ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan
siklus I.
B.
Pembahasan
Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini diterapkan
pembelajaran kooperatif tipe Numbered
Heads Together (NHT) yang terdiri dari dua siklus. Penelitian ini
membuahkan hasil yang signifikan yakni meningkatnya kualitas proses dan hasil
belajar matematika di VIIIb SMP
Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar.
Peningkatan yang terjadi bila
dilihat dari Tabel 4.7 dan Tabel 4.8
Tabel 4.7 Perbandingan Hasil
Belajar Matematika Siswa Kelas VIIIb SMP
Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar pada Setiap Siklus
|
Siklus
|
Nilai
Perolehan dari 30 siswa
|
Ketuntasan
|
||||||
|
Maks
|
Min
|
Mean
|
Median
|
Modus
|
Standar
Deviasi
|
Tuntas
|
Tidak
tuntas
|
|
|
1
2
|
85
90
|
35
60
|
61,09
71,41
|
60
75
|
70
65
dan 70
|
15,80
10,51
|
15
28
|
17
4
|
Berdasarkan hasil deskriptif pada
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa setelah dilaksanakan dua kali tes siklus, banyak
siswa yang tuntas secara perorangan pada siklus I adalah 15 siswa meningkat
menjadi 28
Tabel 4.8 Perbandingan Ketuntasan
Belajar Siswa Kelas VIIIb SMP Negeri 1
Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar
pada Setiap Siklus
|
Siklus
|
II
|
Total
|
||
|
Ketuntasan
|
Tidak
tuntas
|
Tuntas
|
||
|
1
|
Tidak
tuntas
Tuntas
|
4
0
|
13
15
|
17
15
|
|
Total
|
|
4
|
28
|
32
|
Lampiran
A (4)
Berdasarkan hasil deskriptif pada
Tabel 4.7 dan Tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa setelah dilaksanakan dua kali
tes siklus, banyak siswa yang tuntas secara perorangan pada siklus I
adalah 15 siswa meningkat menjadi 28
siswa pada siklus II. Pada siklus I dan siklus II ketidaktuntasan belajar 4 orang dan adapun yang tuntas
belajar siklus I dan siklus II 15 siswa, sedangkan tuntas siklus I dan tidak
tuntas siklus II tidak ada, serta yang tidak tuntas siklus I dan tuntas siklus II 13 orang.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat
ditarik kesimpulan yang menyatakan bahwa
hasil belajar matematika siswa kelas VIIIB SMP Negeri 1
Polongbangkeng Utara Kab. Takalar mengalami peningkatan setelah diadakan
pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together selama dua siklus. Hal ini dapat dilihat dari:
1. Adanya peningkatan hasil belajar matematika dilihat
dari rata-rata siklus I 61,09 dan pada siklus II meningkat menjadi 71,41
2. Terjadinya
peningkatan persentase kehadiran siswa, perhatian, minat, keaktifan, serta
semangat belajar siswa dalam proses belajar mengajar.
3. Pembelajaran
kooperatif selain meningkatkan hasil belajar juga dapat meningkatkan kerjasama
antar siswa, serta dapat menimbulkan rasa percaya diri untuk menyelesaikan soal
yang diberikan.
B.
Saran
Dari hasil
penelitian ini diajukan beberapa saran dalam upaya meningkatkan mutu
pendidikan, antara lain:
1. Diharapkan
kepada guru khususnya guru matematika agar menerapkan pembelajaran kooperatif
sejak dini untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal
matematika.
2. Sebagai
tindak lanjut penerapan, pada saat proses pembelajaran diharapkan guru untuk lebih mengawasi dan
mengantar serta membimbing siswa dalam bekerja kelompok.
3. Diharapkan
pula kepada guru bidang studi lain agar mampu mengembangkan dan menerapkan
pembelajaran kooperatif Numbered Heads
Together ini dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Agus
Suprijono. Cooperative learning teori dan
aplikasi paikem. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Arikunto, Suharsimi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta :
Bumi Aksara
Kunandar,
Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas
sebagai pengembangan profesi guru. Jakarta : PT Rajawali Pers
Muhammad Faiq
Dzaki, Penelitian Tindakan kelas.
Blogspot.com/03/2009/cirri-model-pembelajaran-kooperatif. html. Diakses tanggal
22 oktober 2001.
Muh. Kahar Ahmad.
2008. Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pembelajaran Kooperatif tipe
Numbered Heads Together (NHT) pada siswa kelas VIIID SMP negeri 1
bontonompo kab. Gowa. Skripsi
Makassar Unismuh
Taniredja, Tukiran, Irma Pujiati dan
Nyata. 2010. Penelitian Tindakan Kelas
Untuk Pengembangan Profesi Guru Praktik, Praktis dan Mudah. Bandung:
Alfabeta
Trianto, 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana
prenada media group
Trianto, 2010. Model-Model Pembelajaran Inofatif Berorientasi Konstruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka


MEGA DRIVE PLUS 888 Casino Online Slots for FUN - JTM Hub
BalasHapusMEGA 논산 출장마사지 DRIVE PLUS 888 광주 출장안마 Casino Online 인천광역 출장샵 Slots for FUN 나주 출장마사지 · Play the best game in the casino games world · 보령 출장마사지 Choose from 40+ slots, 10+ table games & more.