Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi:Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Pada Siswa Kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar”



BAB I
PENDAHULUAN
  
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam mengantisipasi masa depan, karena pendidikan selalu diorientasikan pada penyiapan peserta didik untuk berperan di masa yang akan datang. Pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan dalam kehidupan dan berlangsung seumur hidup.
Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha membudayakan dan memanusiakan manusia. Manusia itu sendiri adalah pribadi yang utuh dan pribadi yang kompleks sehingga sulit dipelajari dengan tuntas. Oleh karena itu masalah pendidikan tidak akan pernah selesai, sebab hakekat manusia itu sendiri selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupannya. Pendidikan berkenaan dengan upaya pembinaan manusia maka keberhasilan pendidikan tergantung kepada unsur manusianya. Unsur manusia yang paling menentukan keberhasilan pendidikan adalah pelaksana pendidikan yaitu Guru. Guru dituntut memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik dan pengajar.
Mengingat begitu pentingnya peranan matematika dan merupakan ilmu yang diterapkan di setiap jenjang pendidikan, maka perlu adanya suatu upaya dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Beragam pandangan yang muncul terhadap matematika, ada yang menganggap matematika adalah pelajaran yang sangat sulit sehingga harus dijauhi dan di hindari serta penuh teori yang membosankan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru matematika kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar. Bahwa sangat sedikit siswa yang mampu mengerjakan soal-soal matematika dengan benar, ini tampak dari hasil belajar yang masih kurang memuaskan. Dimana KKM (Kriteria ketuntasan Minimal) yang ditetapkan oleh pihak sekolah adalah 65, selebihnya yang mendapat nilai kurang dari KKM yang ditetapkan (tidak tuntas). Keadaan seperti ini disebabkan belum diorganisasikannya dengan baik proses yang memungkinkan siswa belajar lebih aktif dan lebih banyak berpartisipasi dalam proses belajar mengajar.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Proses belajar mengajar ini terjadi apabila ada interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. Interaksi siswa dengan siswa ini terbentuk melalui pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif dalam matematika akan dapat membantu para siswa meningkatkan sikap positif untuk membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya dalam \menyelesaikan masalah matematika sehingga dapat mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap matematika yang banyak dialami para siswa. Pembelajaran kooperatif juga telah terbukti sangat bermanfaat bagi para siswa yang heterogen. Dengan menonjolkan interaksi dalam kelompok model belajar ini dapat membuat siswa menerima pendapat siswa lain yang berkemampuan dan berlatar belakang berbeda.
Pembelajaran dengan metode numbered heads together diawali dengan numbering, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok sebaiknya mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari, jika jumlah peserta didik dalam satu kelas terdiri dari 40 orang dan terbagi menjadi 8 kelompok berdasarkan jumlah konsep yang dipelajari maka tiap kelompok terdiri 5 orang, tiap-tiap orang dalam kelompok diberi nomor 1-5.
Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap-tiap kelompok, mereka diberi kesempatan memberi jawaban atas pertanyaan yang telah diterimanya dari guru. Hal itu dilakukan terus sehingga semua peserta didik dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapat giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru. Berdasarkan jawaban-jawaban itu guru dapat mengembangkan diskusi lebih mendalam, serta peserta didik dapat menemukan jawaban itu sebagai pengetahuan yang utuh.
Berdasarkan kondisi di atas, maka penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Pada Siswa Kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar”


B.     Masalah Penelitian
1.   Identfikasi Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat diidentifikasikan permasalahan dalam penelitian ini disebabkan oleh:
1.   Siswa menganggap pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit.
2.   Kurang motivasi siswa dalam proses belajar mengajar.
3.   Rendahnya hasil belajar matematika siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar
2.   Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah melalui pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar”?
3.   Cara Pemecahan Masalah
Masalah tentang rendahnya hasil belajar matematika pada siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar akan dipecahkan dengan menerapkl pembelajaran model Kooperatif Tipe NHT yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur dalam penelitian tindakan kelas.



C.    Tujuan Penelitian
      Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah “Untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar melalui pembelajaran Kooperatif Tipe NHT”.
D.    Manfaat Penelitian
1.   Bagi Siswa: Dapat Mengurangi rasa cemas terhadap matematika dan dapat membuat siswa menerima siswa lain yang berkemampuan dan latar belakang berbeda. Dan memungkinkan siswa lebih bersemangat belajar matematika sehingga diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat.
2.   Bagi Guru: Sebagai pertimbangan untuk dapat menerapkan model kooperatif Tipe Numbered Heads Together dalam memecahkan beberapa masalah yang dihadapi dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.
3.   Bagi Sekolah: akan memberikan bahan informasi untuk dapat membenahi dan meningkatkan proses belajar matematika khususnya SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar.






BAB II
KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.    KAJIAN PUSTAKA
1.   Hakikat Belajar Matematika
Belajar merupakan istilah kunci yang paling penting dalam pendidikan. Dapat dikatakan bahwa tanpa balajar, sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Karena demikian pentingnya belajar maka tidak heran bila masalah-masalah belajar terus menjadi kajian menarik bagi banyak ahli pendidikan.
Menurut Anthony Robbins (Trianto: 2010) bahwa belajar adalah suatu proses aktif di mana siswa membangun (mengkonstruk) pengetahuan berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan yang sudah dimilikinya. Proses aktif yang dimaksud adalah berupa pengalaman siswa yang telah ada yang akan dikembangkan lebih baik lagi.

Menurut Gagne (Agus: 2010) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas, perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara ilmiah.
Dari berbagai pendapat ahli yang mencoba memberikan defenisi belajar, maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses aktif dimana siswa membangun pengetahuan berdasakan pada pengalaman, dan kemampuan untuk mencapai sebuah perubahan yang lebih baik.
Pembelajaran matematika adalah kegiatan pendidikan yang psikologi seperti abstraksi, klasifikasi, dan generalisasi. Mengabstraksi  faktor guru, faktor siswa juga sangat penting dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, agar proses belajar matematika berjalan sebagaimana mestinya, maka siswa harus memiliki kemampuan dan pengetahuan dasar sebagai materi prasyarat. Sedangkan guru harus memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang keadaan siswa, pengelolaan kelas, penggunaan model pembelajaran yang tepat, dan keterampilan mengadakan variasi, serta teknik penilaian, baik penilaian proses maupun penilaian hasil belajar. Karena salah satu hakikat pembelajaran adalah terjadinya perubahan tingkah laku seseorang dengan adanya pengalaman.
2.   Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses kegiatan belajar mengajar. Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang dapat menjadi indokator tentang batas kemauan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai yang dimiliki seseorang itu dalam suatu pelajaran. Dalam kaitannya dengan usaha belajar, hasil belajar ditunjukkan oleh tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa terhadap materi yang diajarkan setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu.
Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam pendidikan. Seorang siswa yang cerdas dapat menciptakan usaha yang lebih baik untuk mendorong perkembangan intelektual bagi dirinya dalam bermacam-macam kegiatan agar ada peningkatan terhadap hasil belajar.
Baik itu perubahan tingkah laku atau pemahaman yang diperoleh melalui hasil belajar, itulah yang disebut hasil belajar atau dengan kata lain hasil belajar adalah kemampuan menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang telah dipelajari. Sedangkan hasil belajar matematika yang dimaksudkan adalah kemampuan atau penguasaan materi yang telah dikuasai siswa setelah kegiatan belajar mengajar matematika.
Menurut Gagne (Agus: 2010) hasil belajar berupa :
a)   informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun turtulis.
b)   keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.
c)   strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya sendiri.
d)  keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
e)   sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.
Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa hasil belajar adalah ukuran keberhasilan siswa setelah menempuh proses belajar. Hasil belajar yang dicapai seseorang dapat menjadi indikator tentang batas kemampuan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimiliki oleh orang itu dalam suatu pekerjaan.


3.   Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
              Salah satu model pembelajaran yang dapat dikembangkan di sekolah-sekolah adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Cooperative learning dalam matematika akan dapat membantu para siswa meningkatkan sikap positif siswa dalam matematika. Para siswa secara individu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya.
Menurut Ibrahim, dkk (Trianto : 2010), bahwa belajar kooperatif dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar siswa, dan dapat mengembangkan  kemampuan akademis siswa
Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif di dorong dan atau dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai suatu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.
Menurut Muhammad Faiq Dzaki pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.   Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2.   Kelompok dibentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3.   Bilamana mungkin. anggota kelompok berasal dan ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda
4.   Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu
Jika para siswa yang mempunyai kemampuan berbeda dimasukkan dalam satu kelompok yang sama, maka akan dapat memberikan keuntungan bagi para siswa yang berkemampuan rendah dan sedang. Sebaliknya siswa yang berkemampuan tinggi, kemampuan komunikasi verbal dalam matematika bagi siswa tersebut akan semakin meningkat. Untuk memberikan penjelasan tentang suatu materi matematika seorang siswa harus memahami materi itu lebih dalam daripada sekedar kemampuan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah jawaban pada lembar kerja.
4.   Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
Sebagai seorang profesional, guru harus mempunyai pengetahuan dan persediaan strategi pembelajaran. Tidak semua strategi yang diketahui harus dan bisa diterapkan dalam kenyataan sehari-hari di ruang kelas. Guru yang ingin maju dan berkembang perlu mempunyai persediaan strategi dan teknik-teknik pembelajaran yang pasti akan selalu bermanfaat dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Salah satu teknik mengajar gotong royong adalah tipe Numbered Heads Together (NHT).
 Metode ini dikembangkan oleh Spenser Kagan (Trianto: 2010) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together yaitu:
1.   Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2.   Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3.   Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
4.   Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
Adapun sintaks model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Menurut Salvin (Muh. Kahar Ahmad 2008) sebagai berikut:
Tabel 2.2 Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)
                            Fase
Tingkah Laku
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Fase-2
Menyajikan informasi

Fase-3
Mrngorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar






Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Fase-5
Evaluasi

Fase-6
Memberikan penghargaan
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran (indicator hasil belajar). Guru memotivasi siswa. Guru mengaitkan pelajaran sekarang dengan yang terdahulu.
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar dan menjelaskan bagaimana caranya  seperti:
a.       Setiap kelompok beranggotakan 3-5 orang heterogen dan setiap anggots kelompok diberi nomor 1 sampai 5 (penomoran)
b.      Guru mengajukan pertanyaan
c.       Guru meminta siswa mendiskusikan pertanyaan secara kelompok (berpikir bersama)

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta siswa menjawab pertanyaan dengan memanggil satu nomor.
Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya maupun hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok

B.     Kerangka Pikir
Secara umum hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep matematika masih berada dalam tataran rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep matematika guru diharapkan mampu berkreasi dengan menerapkan model dalam  pembelajaran  matematika yang cocok.
Sebagai seorang profesional, guru harus mempunyai pengetahuan dan persediaan strategi pembelajaran. Tidak semua strategi yang diketahui harus dan bisa diterapkan dalam kenyataan sehari-hari di ruang kelas. Guru yang ingin maju dan berkembang perlu mempunyai persediaan strategi dan teknik-teknik pembelajaran yang pasti akan selalu bermanfaat dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Salah satu teknik mengajar gotong royong adalah tipe Numbered Heads Together (NHT).
 Metode ini dikembangkan oleh Spenser Kagan (Trianto: 2010) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
C.    Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka pikir di atas, maka hipotesis penelitian adalah Jika diterapkan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) maka dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar.







BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) pelaksanaannya meliputi empat tahap, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan/observasi (observing), tahap evaluasi, dan refleksi (reflection).
B.     Subjek penelitian
Subjek Penelitian ini adalah siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar  semester I tahun ajaran 2011/2012. Subjek penelitian sebanyak 32 orang, siswa perempuan sebanyak 15 orang dan siswa laki-laki sebanyak 17
C.    Faktor yang Diselidiki
Faktor-faktor yang diselidiki adalah sebagai berikut:
1.   Faktor input, yaitu menyelidiki hasil belajar siswa sebelum pelaksanaan tindakan dengan melihat minat siswa melalui observasi aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung.
2.   Faktor proses, yaitu dengan memperhatikan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran serta perubahan sikap siswa dalam belajar matematika.
3.   Faktor output, menyelidiki hasil belajar matematika setelah pelaksanaan tindakan serta tanggapan siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads together.

D.      Prosedur Penelitian
Alur penelitian menurut Suharsimi arikunto (2007: 16)
perencanaan
 
pelaksanaan
 
refleksi
 
Siklus I
 
       


















pengamatan
 




perencanaan
 








Siklus II
 

pelaksanaan
 





pengamatan
 


 







Dalam penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam dua siklus sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, setiap akhir siklus diberikan tes hasil belajar sebagai tes untuk mengetahui kemampuan siswa.
Adapun prosedur pelaksanaan tindakan ini sebagai berikut:
Gambaran umum siklus 1
1.   Tahap Perencanaan.
Sebelum diadakan penelitian terlebih dahulu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a.    Mengidentifikasikan siswa sebelum mengadakan tindakan siklus I. Hal-hal yang dilakukan yaitu menanyakan mata pelajaran yang mereka senang, kebiasaan belajar matematika, cara guna menyajikan pelajaran matematika.
b.   Menganalisis kurikulum kelas VIIIb
c.    Membuat skenario pembelajaran untuk pelaksanaan tindakan dengan merujuk kepada tipe Numbered Heads Together.
d.   Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi atau keadaan siswa di kelas saat proses belajar mengajar berlangsung selama diadakannya model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT).
e.    Membuat tes hasil belajar.
f.    Membuat angket respon siswa.
2.   Tahap Tindakan
Adapun langkah-langkah yang dilakukan tahap ini sebagai berikut:
a.    Siswa dibagi dalam kelompok, Setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor.
b.   Guru memberikan kesempatan semua kelompok untuk mengerjakan soalnya masing-masing dalam jangka waktu tertentu.
c.    Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
d.   Guru memanggil salah satu nomor, Siswa dengan nomor yang dipanggil secara bergantian melaporkan hasil kerja sama mereka dan anggota kelompok lain berhak menanggapi jawaban dari kelompok tersebut.
e.    Guru membe            rikan skor terhadap hasil laporan setiap anggota kelompok.

3.   Tahap Observasi
a.    Observasi
Observasi dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data observasi yang diambil adalah tentang kehadiran, keaktifan mereka di kelas dalam memberikan jawaban, bertanya dan menuliskan jawaban di papan tulis. Pada akhir siklus diberikan tes hasil belajar.
4.   Tahap Refleksi
Hasil yang telah diperoleh dari pengamatan terhadap tiap-tiap kelompok dikumpulkan serta dianalisis. Baik berupa hasil evaluasi maupun data hasil observasi yang diperoleh pada saat melaksanakan kegiatan pengajaran, sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan siklus berikutnya.
                  Gambaran umum siklus II
                  Kegiatan yang dilakukan pada siklus II pada dasarnya adalah mengulang tahapan-tahapan pada siklus I, akan tetapi dilakukan pola sejumlah rencana baru untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat pada siklus sebelumnya.
E.     Instrumen.
1.      Data tentang hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan diambil dengan teknik dokumentasi.
2.      Data tentang keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar diambil dengan lembar observasi.
3.      Data tentang tanggapan siswa diambil dengan angket respon Siswa.
4.      Data tentang hasil belajar diambil dengan tes hasil belajar
F.     Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
1.   Data tentang hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan diambil dari guru.
2.   Data mengenai keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar yang diambil melalui observasi selama pembelajaran.
3.   Data tentang tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan diambil melalui angket respon siswa.
4.   Data mengenai hasil belajar diambil dari tes setiap akhir siklus.
G.    Teknik Analisis Data
Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif, data hasil belajar yang diperoleh dikategorikan berdasarkan teknik kategoriasi standar yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
SKOR
KATEGORI
0 – 54
55 -64
65 -79
80 -89
90-100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi

H.      Indikator Keberhasilan
Menurut kriteria ketuntasan minimal (KKM) di SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar, adanya peningkatan skor rata-rata hasil belajar matematika siswa disetiap siklus setelah penerapan pembelajaran Kooperatife Tipe Numbered Heads Together dan siswa dikatakan tuntas belajar apabila memperoleh skor minimal 65 dari skor ideal dan tuntas secara klasikal apabila memperoleh skor minimal 85% dari jumlah siswa tuntas belajar individu.



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini membahas tentang hasil-hasil penelitian yang menunjukkan peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIB SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar  Setelah diterapkan pembelajaran kooperatif, tipe NHT. Adapun yang dianalisis adalah skor hasil belajar siswa yang diberikan setiap akhir siklus secara deskriptif, data mengenai perubahan sikap siswa yang diambil dari rekaman pengamatan dan  tanggapan serta refleksi  yang diberikan oleh siswa baik yang tertulis maupun komentar secara lisan.
A.    Hasil Penelitian
1.      Siklus I
a.       Hasil Analisis Kuantitatif
Hasil analisis statistic deskriptif tes hasil belajar matematika siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dapat dilihat pada Tabel 4.1




Tabel 4.1    Statistik Skor Hasil Belajar Siswa Kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar Pada Akhir Siklus I
Statistik
Nilai statistik
Jumlah siswa
Skor ideal
Nilai maksimum
Nilai minimum
Rentang skor 
Skor rata-rata
Median
Modus
Standar deviasi
32
100
85
35
50
61,09
60
70
15,80


Tabel 4.1 menunjukkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara setelah dilakukan tindakan pada siklus 1 memiliki skor rata-rata 61,09 dari skor ideal yang mungkin dicapai yaitu 100 sedangkan skor terendah yang mungkin dicapai yaitu 0. Perolehan skor untuk siklus 1 ialah 85 untuk skor tertinggi dan 35 untuk skor terendah dengan standar deviasi sebesar 15,80 artinya kecenderungan variasi peyimpangan skor siswa sebesar 15,80 dari skor rata-rata. Median berpusat pada skor 60 artinya 50% skor siswa berada dibawah atau sama dengan 60 dan 50% skor siswa berada diatas atau sama dengan 60. Modus berpusat pada skor 70 yang artinya frekuensi terbesar perolehan skor siswa adalah 70.
Hal ini disebabkan karena masih kurangnya perhatian siswa dengan melakukan kegiatan lain selama proses pembelajaran berlangsung. Apabila skor hasil belajar siswa dikelompokkan kedalam 5 kategori maka diperoleh distribusi  frekuensi nilai seperti yang disajikan pada tabel 4.2
Tabel 4.2    Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hail Belajar Matematika Siswa Kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar  Pada Akhir Siklus I
No
Skor
Kategori
Frekuensi
Persentase (%)
1.
2.
3.
4.
5.
0 – 54
55 – 64
65 – 79
80 – 89
90 – 100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi
11
6
8
7
0
34,38
18,75
25
21,87
0
Jumlah
32
100

Berdasarkan Tabel 4.2 persentase skor hasil belajar siswa pada tes Siklus 1,  terdapat 11 siswa (34,38) berada pada kategori sangat rendah, 6 siswa (18,75) berada pada kategori rendah, 8 siswa (25) berada pada kategori sedang, 7 siswa (21,87) berada pada kategori tinggi dan tidak terdapat siswa yang berada pada kategori sangat tinggi. Sedangkan frekuensi terbesar perolehan hasil belajar siswa berada pada kategori  sangat rendah.
Persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.3
Tabel 4.3     Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I
Skor
Kategori
Frekuensi
Persentase
0- 64
65 - 100
Tidak tuntas
Tuntas
17
15
53,12
46,88
Jumlah
32
100,0

Berdasarkan hasil analisis data Tabel 4.1 diperoleh skor rata-rata hasil belajar matematika siswa pada tes Siklus I sebesar 61,09 Jika skor rata-rata tersebut dimasukkan pada Tabel 4.2 maka skor rata-rata berada pada kategori rendah. Hal ini berarti bahwa rata-rata tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan berada pada kategori rendah.
b.      Hasil Analisis Kualitatif
Selama berlangsungnya penelitian pada siklus I tercatat sikap yang te1rjadi pada setiap siswa terhadap pelajaran matematika. Sikap siswa tersebut diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada setiap siklus. Lembar observasi tersebut digunakan  untuk mengetahui perubahan sikap siswa selama  proses belajar  mengajar berlangsung di kelas.
Adapun sikap siswa dari siklus I  adalah sebagai berikut:
1.      Masih banyak siswa yang tidak hadir mengikuti pelajaran baik itu tidak hadir tanpa keterangan maupun yang izin.
2.      Perhatian siswa pada siklus I ini masih berjalan seperti kurang antusiasnya siswa dalam menyelesaikan LKS secara berkelompok dan masih kurangnya kerjasama siswa dalam membantu temannya menyelesaikan LKS secara berkelompok.
3.      Keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar semakin meningkat dalam menjawab pertanyaan maupun bertanya tentang materi yang telah dibahas. Mereka saling bersaing ingin kelompoknya yang unggul.
4.      Keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar sudah baik tapi dalam hal ini siswa mengajukan diri baik mengerjakan soal yang masih didominasi oleh siswa yang pintar dan itu pun masih ditunjuk.
5.      Pada saat siswa melakukan diskusi dengan teman sekelompoknya masih  banyak siswa yang kurang memperhatikan dan sekitar 5,47% siswa yang keluar masuk ruangan.
6.      Pada siklus I siswa dalam mempresentasikan hasil diskusinya kurang berani, bahkan ada kelompok yang belum siap untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
7.      Pada siklus  I masih terdapat sekitar 39,58% siswa yang tidak kumpul pekerjaan rumah.
c.        Hasil Analisis Refleksi
Pada siklus I, semangat minat dan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dalam menjawab pertanyaan lisan guru,  bertanya tentang materi yang dibahas serta  mengerjakan soal-soal di papan tulis dapat dikatakan kurang sekali,  hal tersebut hanya dilakukan oleh siswa yang tergolong  pintar. Tampak sekali tiap siswa yang hanya pasif dan hanya mendengarkan serta mencatat  saja tiap materi yang diajarkan.
Pada pertemuan kedua dan berakhirnya siklus pertama, semangat siswa untuk menyelesaikan soal secara kelompok sudah tampak. Walaupun masih ada siswa  yang masih pasif. Hal ini terlihat dari kurang kompaknya setiap  kelompok dan kurang komunikasinya antara anggota  kelompok serta  masih banyak siswa yang meminta  bimbingan kepada guru sebelum melakukan diskusi dengan teman sekelompoknya bahkan ada kelompok yang anggotanya tidak mau naik menuliskan jawabannya  di papan tulis.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa diantara mereka ada yang tidak menerima dikelompokkan dengan teman sekelompoknya, karena mereka ingin memilih anggota kelompoknya sendiri.
Setiap selesai proses pembelajaran, guru selalu memberikan pekerjaan rumah dengan tujuan agar siswa mau belajar dan melatih diri dalam menyelesaikan soal-soal yang ada  dan dikumpul pada pertemuan berikutnya.
Pembelajaran tipe Numbered Heads Together (NHT) pada fase terakhir adalah pemberian penghargaan baik secara individu maupun kelompok.
2.      Siklus II
a.       Hasil Analisis Kuantitatif
Seperti halnya  siklus I, tes belajar pad siklus II ini dengan pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel dilaksanakan dengan bentuk  ulangan harian. Hasil  analisis kuantitatif menunjukkan bahwa skor rata-rata yang dicapai oleh siswa kelas VIIIbSMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siklus II yang disajikan dalam Tabel 4.4
Tabel 4.4    Statistik Skor Hasil Belajar Siswa VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar  Pada Akhir Siklus II
Statistik
Nilai statistik
Jumlah siswa
Skor ideal
Nilai maksimum
Nilai minimum
Rentang skor 
Skor rata-rata
Median
Modus
Standar deviasi
32
100
90
60
30
71,41
75
65 dan 70
10,51
Lampiran A (2)

Dari Tabel 4.4 menunjukkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara setelah dilakukan tindakan pada siklus II memiliki skor rata-rata 71,41 dari skor ideal yang mungkin dicapai yaitu 100 sedangkan skor terendah yang mungkin dicapai yaitu 0. Perolehan skor untuk siklus II ialah 90 untuk skor tertinggi dan 60 untuk skor terendah dengan standar deviasi sebesar 10,51 artinya kecenderungan variasi peyimpangan skor siswa sebesar 10,51 dari skor rata-rata. Median berpusat pada skor 75 artinya 50% skor siswa berada dibawah atau sama dengan 75 dan 50% skor siswa berada diatas atau sama dengan 75. Modus berpusat pada skor 65 dan 70 yang artinya frekuensi terbesar perolehan skor siswa adalah 65 dan 70
Apabila skor hasil belajar siswa dikelompokkan ke dalam 5 kategori maka diperoleh distribusi frekuensi nilai dilihat dari Tabel 4.5


 Tabel 4.5   Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hail Belajar Matematika Siswa VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar  Pada Akhir Siklus II
No
Skor
Kategori
Frekuensi
Persentase (%)
1.
2.
3.
4.
5.
0 – 54
55 – 64
65 – 79
80 – 89
90 – 100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi
-
4
22
4
2
-
12,5
68,75
12,5
6,25
Jumlah
32
100

Berdasarkan Tabel 4.5 persentase skor hasil belajar siswa pada tes Siklus II, tidak terdapat siswa pada kategori sangat rendah, 4 orang (12,5) berada pada kategor rendah , 22 siswa (68,75) berada pada kategori sedang, 4 siswa (12,5) berada pada kategori tinggi dan 2 siswa (6,25) yang berada pada kategori sangat tinggi. Sedangkan frekuensi terbesar perolehan hasil belajar siswa berada pada kategori Sedang.
Apabila hasil belajar siswa pada siklus II dianalisis  maka persentase ketuntasan belajar siswa siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.6


 
Tabel 4.6 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa Siklus II
Skor
Kategori
Frekuensi
Persentase
0 - 64
65 – 100
Tidak tuntas
Tuntas
4
28
12,5
87,5
Jumlah
30
100
Lampiran A (1)
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa persentase ketuntasan kelas 87,5% yaitu 28 siswa dari 32 termasuk dalam kategori tuntas dan 12,5% atau 4 siswa dari 32 termasuk dalam kategori tidak tuntas.
b.      Hasil Analisis Kualitatif
Selama penelitian berlangsung, selain terjadi peningkatan  hasil belajar matematika pada siklus I dan siklus II tercatat sejumlah perubahan yang terjadi pada setiap siswa terhadap pelajaran matematika. Perubahan tersebut diperoleh  dari lembar observasi pada setiap siklus. Lembar observasi tersebut untuk mengetahui perubahan sikap siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.
Adapun perubahan sikap siswa pada siklus II adalah sebagai berikut:
1.      Kehadiran siswa semakin meningkat dan semangat memperhatikan pelajaran semakin terlihat, walaupun masih ada beberapa siswa yang kadang melakukan kegiatan lain ketika guru sedang menjelaskan.
2.      Sudah terlihat keseriusan siswa dalam menyelesaikan soal-soal serta sudah terlihat kekompakan dalam kelompoknya.
3.      Keaktifan siswa dalam proses belajar menjawab pertanyaan maupun bertanya tentang materi yang dibahas. Mereka saling bersaing ingin  kelompoknya yang unggul.
4.      Siswa sudah mampu mengerjakan soal latihan dengan meminta bimbingan  dari guru serta bertanya kepada teman sekelompoknya.
5.      Siswa yang mengerjakan di papan tulis dengan benar semakin meningkat berkat adanya kerjasama anggota kelompoknya.
6.      Pada siklus II ini siswa sudah mulai berani mengangkat tangan dan mempresentasikan hasil kerjasama mereka.
7.      Pada siklus II siswa yang tidak kumpul tugas menurun menjadi, 27,34%
c.       Hasil Analisis Refleksi
Pada siklus II peneliti sedikit mengalami kesulitan yaitu pada saat pembentukan kelompok baru, banyak siswa yang tidak ingin kelompoknya diubah tapi setelah diberikan sedikit  arahan mereka menerima satu sama lain. Sehingga pada pertemuan berikutnya perhatian, minat dan motivasi belajar serta kerja sama antara sesama anggota kelompoknya dalam proses belajar mengajar sudah mengalami peningkatan, dilihat dari siswa yang ditunjuk dapat mewakili kelompoknya mengerjakan soal di papan tulis dan mengerjakan soal di papan tulis dan mengerjakan soal dengan cepat dan benar serta membimbing teman sekelompoknya.
Pada siklus  II semangat dan keaktifan siswa semakin ditandai dengan memperlihatkan kemajuan. Hal ini ditandai dengan bertambahnya jumlah siswa yang menjawab pertanyaan lisan guru, bertanya tentang materi dan mengajukan diri mengerjakan soal dipapan tulis.
Secara umum dapat dikatakan bahwa seluruh kegiatan pada siklus II ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I.
B.     Pembahasan Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini diterapkan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) yang terdiri dari dua siklus. Penelitian ini membuahkan hasil yang signifikan yakni meningkatnya kualitas proses dan hasil belajar matematika di VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar.
Peningkatan yang terjadi bila dilihat dari Tabel 4.7 dan Tabel 4.8


Tabel 4.7     Perbandingan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar  pada Setiap Siklus
Siklus
Nilai Perolehan dari 30 siswa
Ketuntasan
Maks
Min
Mean
Median
Modus
Standar
Deviasi
Tuntas
Tidak tuntas
1
2
85
90
35
60
61,09
71,41
60
75
70
65 dan 70
15,80
10,51
15
28
17
4

Berdasarkan hasil deskriptif pada Tabel 4.7 menunjukkan bahwa setelah dilaksanakan dua kali tes siklus, banyak siswa yang tuntas secara perorangan pada siklus I adalah 15 siswa meningkat menjadi 28
Tabel 4.8     Perbandingan Ketuntasan Belajar  Siswa Kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar  pada Setiap Siklus
Siklus
II
Total
Ketuntasan
Tidak tuntas
Tuntas
1
Tidak tuntas
Tuntas
4
0
13
15
17
15
Total

4
28
32
Lampiran A (4)


Berdasarkan hasil deskriptif pada Tabel 4.7 dan Tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa setelah dilaksanakan dua kali tes siklus, banyak siswa yang tuntas secara perorangan pada siklus I adalah  15 siswa meningkat menjadi 28 siswa pada siklus II. Pada siklus I dan siklus II ketidaktuntasan  belajar 4 orang dan adapun yang tuntas belajar siklus I dan siklus II 15 siswa, sedangkan tuntas siklus I dan tidak tuntas siklus II tidak ada, serta yang tidak tuntas   siklus I dan tuntas siklus II 13 orang.












BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Berdasarkan  hasil analisis data dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan  yang menyatakan bahwa hasil belajar matematika siswa kelas VIIIB SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar mengalami peningkatan setelah diadakan pembelajaran kooperatif  tipe Numbered Heads Together  selama dua siklus. Hal  ini dapat dilihat dari:
1.      Adanya  peningkatan hasil belajar matematika dilihat dari rata-rata siklus I 61,09 dan pada siklus II meningkat menjadi 71,41
2.      Terjadinya peningkatan persentase kehadiran siswa, perhatian, minat, keaktifan, serta semangat belajar siswa dalam proses belajar mengajar.
3.      Pembelajaran kooperatif selain meningkatkan hasil belajar juga dapat meningkatkan kerjasama antar siswa, serta dapat menimbulkan rasa percaya diri untuk menyelesaikan soal yang diberikan.
B.     Saran
Dari  hasil penelitian ini diajukan beberapa saran dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, antara lain:
1.      Diharapkan kepada guru khususnya guru matematika agar menerapkan pembelajaran kooperatif sejak dini untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika.
2.      Sebagai tindak lanjut penerapan, pada saat proses pembelajaran  diharapkan guru untuk lebih mengawasi dan mengantar serta membimbing siswa dalam bekerja kelompok.
3.      Diharapkan pula kepada guru bidang studi lain agar mampu mengembangkan dan menerapkan pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together ini dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa.
  
 

















DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono. Cooperative learning teori dan aplikasi paikem. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Arikunto, Suharsimi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai pengembangan profesi guru. Jakarta : PT Rajawali Pers
Muhammad Faiq Dzaki, Penelitian Tindakan kelas. Blogspot.com/03/2009/cirri-model-pembelajaran-kooperatif. html. Diakses tanggal 22 oktober 2001. 
Muh. Kahar Ahmad. 2008. Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) pada siswa kelas VIIID SMP negeri 1 bontonompo kab. Gowa. Skripsi Makassar Unismuh
Taniredja, Tukiran, Irma Pujiati dan Nyata. 2010. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Pengembangan Profesi Guru Praktik, Praktis dan Mudah. Bandung: Alfabeta
Trianto, 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana prenada media group
Trianto, 2010. Model-Model Pembelajaran Inofatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka


1 komentar:

  1. MEGA DRIVE PLUS 888 Casino Online Slots for FUN - JTM Hub
    MEGA 논산 출장마사지 DRIVE PLUS 888 광주 출장안마 Casino Online 인천광역 출장샵 Slots for FUN 나주 출장마사지 · Play the best game in the casino games world · 보령 출장마사지 Choose from 40+ slots, 10+ table games & more.

    BalasHapus