Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: EFEKTIVITAS MODEL KOOPERATIF TIPE TGT (TEAMS GAMES TOURNAMENT) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA SISWA KELAS IX SMP NASIONAL MAKASSAR



BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
            Dalam era pembangunan dewasa ini, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mengalami kemajuan yang pesat. Namun, tidak sedikit juga masalah yang cukup rumit di munculkannya karena itu di butuhkan manusia penggerak yang produktif dan kreatif.
Salah satu permasalahan yang di hadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu  pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah. Untuk itu peningkatan mutu pendidikan nasional merupakan kebutuhan yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam program pembangunan bangsa. Karena itulah pemerintah melakukan perubahan dan perkembangan kurikulum pendidikan sebagai salah satu upaya pembaharuan pada sistem pendidikan nasional.
1
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, memegang peranan penting dalam mempercepat penguasaan ilmu dan teknologi. Hal ini di sebabkan karena matematika merupakan sarana berpikir untuk menumbuhkembangkan cara berpikir logis, sistematis, dan kritis. Untuk itulah matematika perlu di kuasai oleh setiap orang. Salah satu kriteria yang harus di perhatikan adalah meningkatkan hasil belajar matematika, sehingga tujuan pembelajaran yang di harapkan dalam proses belajar mengajar dapat tercapai.
Namun kenyataan menunjukkan bahwa siswa mempunyai perbedaan individual dalam kemampuan proses belajarnya. Inilah yang menyebabkan tidak semua siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana yang di harapkan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, dalam proses belajar mengajar selalu ada siswa yang memerlukan bantuan berupa perlakuan pengajaran maupun bimbingan dalam kesulitan belajarnya.
Masalah kesulitan belajar yang di alami siswa, dapat di sebabkan oleh metode atau pendekatan pengajaran yang di gunakan oleh guru masih bersifat konvensional yakni dengan menggunakan model pembelajaran ekspositori yang strategi mengajarnya lebih banyak diberikan melalui ceramah, sehingga siswa sulit untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuannya yang karena hanya akan terbatas pada apa yang diberikan oleh guru.
Dengan melihat fenomena tersebut, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament). Pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) di anggap sebagai alternatif pemecahan masalah dalam penelitian ini. Pembelajaran ini dapat menciptakan situasi yang mana keberhasilan individu dipacu oleh masing-masing kelompok. Karena pada model ini siswa menempati posisi yang sangat dominan dalam proses pembelajaran, dimana semua siswa dalam setiap kelompok diharuskan untuk selalu berusaha aktif, bekerjasama dan saling membantu dalam memahami dan menguasai materi yang sedang diajarkan karena adanya sistem penilaian dari peningkatan individu yang menggunakan menggunakan turnamen akademik. Turnamen ini menyiapkan siswa dari semua tingkat kemampuan yang berbeda agar mempunyai keberanian bersaing, bekerjasama serta andal dalam berkompetisi. Dengan demikian siswa dapat termotivasi untuk lebih aktif, kreatif dan mandiri dalam proses belajar mengajar.
Menurut penelitian terdahulu, Emmi dan Salmiah (2010) bahwa aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks, disamping dapat menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan siswa sehingga hasil belajar matematika siswa dapat meningkat dari sebelumnya.
Berdasarkan pemikiran di atas, maka dirasa perlu diadakan penelitian dengan judul “Efektivitas Model Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas IX SMP Nasional Makassar”.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah penelitian ini:
1.        Seberapa besar hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui pembelajaran Kooperatif  Tipe TGT (Teams Games Tournament) pada kelas IX SMP Nasional Makassar?
2.        Seberapa besar hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui metode ekspositori pada kelas IX SMP Nasional Makassar?
3.        Apakah hasil belajar matematika siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament), lebih tinggi dibanding hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan metode ekspositori?
4.        Bagaimana aktivitas siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) ?
5.        Bagaimana aktivitas siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan motode ekspositori ?
6.        Apakah aktivitas siswa dalam pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) lebih baik dibanding aktivitas siswa dalam pembelajaran ekspositori ?
7.        Bagaimana respons siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) ?
8.        Bagaimana respons siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan motode ekspositori ?
9.        Apakah respons siswa dalam pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) lebih baik dibanding respons siswa dalam pembelajaran ekspositori ?
C.      Tujuan Penelitian
Pada dasarnya tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah. Secara terperinci tujuan tersebut sebagai berikut:
1.        Untuk mengetahui seberapa besar hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui model Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament) pada kelas IX SMP Nasional Makassar,
2.        Untuk mengetahui seberapa besar hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui metode ekspositori pada kelas IX SMP Nasional Makassar,
3.        Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar matematika siswa di kelas IX SMP Nasioanal Makassar yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament), lebih tinggi dibanding hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode ekspositori.
4.        Untuk mengetahui aktivitas siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).
5.        Untuk mengetahui aktivitas siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan motode ekspositori.
6.        Untuk mengetahui apakah aktivitas siswa dalam pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) lebih baik dibanding aktivitas siswa dalam pembelajaran ekspositori.
7.        Untuk mengetahui respons siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).
8.        Untuk mengetahui respons siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan motode ekspositori.
9.        Untuk mengetahui apakah respons siswa dalam pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) lebih baik dibanding respons siswa dalam pembelajaran ekspositori.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A.      Kajian Pustaka
1.        Pengertian Belajar
Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Wittig (Muhibbin. 2008: 66) mengatakan bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam / keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Slameto juga merumuskan pengertian belajar. Menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (Syaiful Bahri. 2008: 13).
Cronbach (Syaiful Bahri, 2008: 13) menyatakan bahwa “belajar adalah suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman”, sementara Howard L. Kingskey (Syaiful Bahri, 2008: 13) juga mengemukakan bahwa “belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan”.
James O. wittaker (Aunurrahman,2010: 35) mengemukakan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
7
Dari pengertian belajar yang dikemukakan oleh para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah merupakan kegiatan atau proses yang dilakukan secara sadar untuk memperoleh perubahan tingkah laku. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dengan berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilan, kecakapan dan kemampuannya dan lain-lain aspek yang ada pada individu.
2.        Hakekat Matematika
Matematika berasal dari kata Yunani, mathein atau manthenein yang berarti mempelajari. Kata ini memiliki hubungan yang erat dengan kata Sanskerta, medha atau widya yang memiliki arti kepandaian, ketahuan, atau intelegensia. Dalam bahasa Belanda, matematika disebut dengan kata wiskunde yang berarti ilmu tentang belajar (Andi Halim Nasution dalam Halim Fathani Yahya: 2009).
Sujono (1988:5) mengemukakan beberapa pengertian matematika. Di antaranya, matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu, matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah yang berhubungan dengan bilangan. Bahkan dia mengartikan matematika sebagai ilmu bantu dalam menginterpretasikan berbagai ide dan kesimpulan (Halim Fathani Yahya; 2009), sedangkan James dan James (Suherman, 2001: 18) dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi tiga bidang yaitu : aljabar, analisis dan geometri.
Johnson dan Rising  (Suherman, 2001: 18) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan symbol dan padat, lebih berupa bahasaa symbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.
Reys, dkk dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola dan hubunngan suatu jalan atau pola berkipir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat. Kemudian Kline dalam bukunya mengatakan pula, bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan social, ekonomi, dan alam (Suherman, 2001: 19).
Matematika adalah disiplin ilmu yang tentang tata cara berpikir dan mengola logika, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Pada matematika diletakkan dasar bagaima mengembangkan cara berpikir dan bertindak melalui aturan yang disebut dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Selanjutnya dasar tersebut dianut dan digunakan oleh bidang studi atau ilmu lain (Suherman. 2001: 253).
3.        Hasil Belajar
Sukardi (Hurniyati, 2011: 10) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan muara kegiatan belajar, merupakan cerminan dari tingkat penguasaan dan pengetahuan serta keterampilan peserta didik yang terwujud berupa angka dan nilai yang sesuai dengan hasil pengukuran tes yang telah dilaksanakan. Hasil tidak lain adalah suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan yang diperoleh dengan kegiatan kerja, baik secara individual maupun kelompok dalam bidang tertentu.
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. (Suprijono, 2011: 5). Lebih lanjut Baharuddin (Hurniyati, 2011: 11) menyatakan bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan.
Dari beberapa pengertian hasil belajar tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar adalah nilai atau prestasi yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang berkenaan dengan materi suatu mata pelajaran. Hasil belajar ini dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belajar.
4.        Efektivitas
Efektifitas berasal dari kata efektif. Menurut kamus Bahasa Indonesia, efektif berarti dapat memberikan hasil; mulai berlaku (tentang peraturan atau undang-undang); ada pengaruhnya; ada akibatnya; ada efeknya.
 Hidayat (1996) berpendapat bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai (Ibnu Noe, 2009).
Efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang telah direncanakan dapat tercapai. Jadi, pendekatan atau metode pembelajaran yang diterapkan dalam suatu pengajaran, khususnya dalam pengajaran matematika dapat dikatakan efektif bila menghasilkan sesuatu sesuai dengan apa yang diharapkan atau direncanakan. Maka makin tinggi kekuatannya untuk menghasilkan sesuatu, makin efektif pendekatan atau metode itu.
Efektivitas berkaitan dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu dan adanya partisipasi aktif dari siswa. Masalah efektivitas biasanya berkaitan dengan perbandingan antara tingkat pencapaian hasil nyata dengan hasil yang direncanakan. Efektivitas dapat dijadikan barometer untuk mengukur keberhasilan pendidikan.
Menurut Eggen dan Kauchak (Hurniati, 2011 ; 6)  ”Pembelajaran yang efektif apabila siswa secara aktif dilibatkan dalam pengorganisasian dan penentuan informasi (pengetahuan).Siswa tidak hanya pasif menerima pengetahuan yang diberikan guru. Hasil belajar ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa saja, tetapi juga meningkatkan keterampilan berfikir siswa.”
Dari uraian diatas dapat dikemukakan bahwa efektivitas pembelajaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sejauh mana pembelajaran model kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dapat mencapai hasil belajar matematika, aktivitas belajar dan respons siswa yang diharapkan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan atau disusun.
Yang menjadi indikator efektivitas adalah :
1.        Hasil belajar siswa lebih baik dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dibanding pembelajaran ekspositori.
2.        Respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dibanding pembelajaran ekspositori.
3.        Keaktifan siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dibanding pembelajaran ekspositori.
5.        Pembelajaran Kooperatif
Cooperative learning (pembelajaran kooperatif) berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim.(Isjoni,2010: 15). Sedangkan Anita Lie (Isjoni,2010: 16) menyebut cooperative learning dengan istilah pembelajaran gotong-royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstuktur.
Slavin mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok , siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok–kelompok kecil yang terdiri adri 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri: 1) untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif, 2) kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, 3) jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya dan jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula, dan 4) penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan (Tukiran 2011: 56).
Roger dan David Johnson (Agus, 2011; 58 ) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan, yaitu :
1.        Saling Ketergantungan Positif
2.        Tanggung Jawab Perseorangan
3.        Tatap Muka
4.        Komunikasi Antar Anggota
5.        Evaluasi Proses Kelompok.
Secara umum  langkah-langkah model pembelajaran kooperatif terdiri atas 6 fase utama yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
FASE
TINGKAH LAKU
Fase -1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin di capai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
Fase -2
Menyajikan informasi
Guru  menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan
Fase -3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase -4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
Fase -5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah di pelajari oleh masing-masing kelompok dan mempresentasikannya
Fase – 6
Pemberian penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
Sumber:Suprijono (2011:65)
Jarolimek dan Parker (Isjoni,2010: 24) mengatakan keunggulan yang diperoleh dalam pembelajaran ini adalah :
1.        Saling ketergantungan yang positif,
2.        Adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu,
3.        Siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas,
4.        Suasana kelas yang rileks dan menyenangkan,
5.        Terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa dan guru,
6.        Memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi yang menyenangkan.
Kelemahan model pembelajaran cooperative learning bersumber pada dua faktor, yaitu faktor dari dalam (intern) dan factor dari luar (ekstern). Faktor dari dalam, yaitu:
1.        Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu,
2.        Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancer maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai,
3.        Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topic permasalahan yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan,
4.        Saat diskusi kelas, terkadang didominasi seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.


6.        Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Turnament (TGT)
Teams Games Tournament (TGT), pada mulanya dikembangkan oleh David de Vries dan Keith Edwards, ini merupakan metode pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Metode ini menggunakan pelajaran yang sama yang disampaikan guru dan tim kerja tetapi ada turnamen mingguannya, dimana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya.
TGT (Teams Games Tournament) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, suku atau ras yang berbeda. (Rusman, 2011; 224). Sedangkan menurut Slavin (Tukiran Taniredja, 2011:67) menyatakan bahwa TGT menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis–kuis dan sistem skor kemajuan individu, dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan menggunakan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.
Dalam metode ini siswa setelah belajar dalam kelompoknya masing–masing anggota kelompok yang setingkat kemampuannya akan dipertemukan dalam suatu pertandingan/ turnamen yang dikenal dengan “tournament table” yang diadakan tiap akhir unit pokok bahasan atau akhir pekan. Skor yang didapat akan memberikan kontribusi rata-rata skor kelompok.
Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif tipe Teams games Tournament (TGT)  menurut Slavin (Tukiran Taniredja, 2011:67) yaitu sebagai berikut :

1.        Penyajian Kelas (Class Pressentation).
Penyajian kelas dalam Pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) tidak berbeda dengan pengajaran biasa atau pengajaran klasikal oleh guru, hanya pengajaraan lebih difokuskan pada materi yang sedang dibahas saja. Ketika penyajian materi berlangsung mereka sudah berada dalam kelompoknya masing-masing.
Pada fase ini, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, pokok materi dan penjelasan singkat tentang LKS yang dibagikan pada kelompok.
2.        Kelompok (Teams).
Kelompok disusun dengan beranggotakan 4 sampai 5 orang yang mewakili pencampuran dari berbagai keragaman dalam kelas seperti kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau etnik. Fungsi utama dari pengelompokan ini adalah anggota-anggota kelompok saling meyakinkan bahwa mereka dapat bekerja sama dalam belajar dan mengerjakan game atau lembar kerja atau lebih khusus lagi untuk menyiapkan semua anggota dalam menghadapi kompetisi.
3.        Permainan (Games).
Gamenya terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang kontennya relevan dengan dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperolehnya dari presentasi dikelas dan pelaksanaan kerja tim.  Game tersebut dimainkan diatas meja dengan tiga orang siswa, yang masing-masing mewakili tim yang berbeda. Kebanyakan game hanya berupa nomor-nomor pertanyaan yang ditulis pada lembar yang sama. Seorang siswa mengambil kartu yang bernomor dan harus menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor yang tertera pada kartu tersebut. Sebuah aturan tentang penantang memperbolehkan para pemain saling menantang jawaban masing-masing.
Gambar 2.1 Bagan putaran permainan
Pembaca
1.    Ambil kartu dan carilah soal yang berhubungan dengan nomor tersebut pada lembar permainan.
2.    Bacalah pertanyaannya dengan keras.
3.    Cobalah untuk menjawab

Penantang I
Menantang jika memang dia mau (dan memberikan jawaban berbeda) atau boleh melewatinya.
Penantang II
Boleh menantang jika penantang I melewati, dan jika dia memang mau. Apabila semua penantang sudah menantang atau melewati, penantang II memeriksa lembar jawaban. Siapa pun yang jawabannya benar berhak menyimpan kartunya. Jika si pembaca salah, tidak ada sanksi, tetapi jika kedua penantangnya salah, maka dia harus mengembalikan kartu yang telah dimenangkannya kedalam kotak, jika ada.
(Slavin, 2011 :173)

4.        Kompetisi / Turnamen (Tournament).
Turnamen adalah sebuah struktur dimana game berlangsung. Biasanya berlangsung pada akhir minggu atau akhir unit, setelah guru memberikan persentasi dikelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan. Pada turnamen pertama, guru menunjuk siswa untuk berada pada meja turnamen- tiga siswa berprestasi tinggi sebelumnya pada meja 1, tiga berikutnya pada meja 2, dan seterusnya.
Gambar 2.2 Penempatan siswa ke meja turnamen.
       TIM A
   A-1       A-2         A-3         A-4
Tinggi  Sedang  Sedang  Rendah
   B-1       B-2         B-3         B-4
Tinggi  Sedang  Sedang  Rendah

   C-1       C-2         C-3         C-4
Tinggi  Sedang  Sedang  Rendah

Meja
Turnamen
1
Meja
Turnamen
2
Meja
Turnamen
3
Meja
Turnamen
4
TIM B

TIM C

5.        Pengakuan Kelompok (Teams Recognition).
Pengakuan kelompok dilakukan dengan memberi penghargaan atas usaha yang telah dilakukan kelompok selama belajar sehingga mencapai kriteria yang telah disepakati bersama.
Ada tiga panghargaan yang dapat diberikan dalam penghargaan tim yaitu Tim Baik, Tim Sangat Baik, dan Tim Super. Kriteria ini merupakan suatu rangkaian sehingga untuk menjadi Tim Sangat Baik sebagian besar anggota tim harus memiliki skor diatas awal mereka, dan untuk menjadi Tim Super sebagian besar anggota tim harus memiliki setidaknya sepuluh poin diatas skor dasar mereka. Kriteria ini dapat dirubah jika kita menginginkannya (Slavin,2011 : 160).
7.        Metode Ekspositori
Metode ekspositori adalah suatu metode pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Roy killen (1998) menamakan metode ekspositori ini dengan istilah pembelajaran langsung, karena dalam metode ini materi pelajaran disampaikan secara langsung oleh guru. Siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu (Wina Sanjaya, 2011 : 179).
Terdapat beberapa karakteristik dalam metode pembelajaran ekspositori. Pertama, metode ekspositori dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan alat utama dalam melakukan metode ini, oleh karena itu sering orang mengidentikannya dengan ceramah. Kedua, biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang. Ketiga, tujuan utamanya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan.
Adapun prinsip- prinsip penggunaan metode pembelajaran ekspositori yaitu berorientasi pada tujuan, prinsip komunikasi, prinsip kesiapan, dan prinsip berkelanjutan.
Ada beberapa langkah dalam penerapan metode ekspositori yaitu :
1.        Persiapan (preparation).
Tahap pesiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran. Dalam metode ekspositori, langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode ekspositori sangat tergantung pada langkah persiapan. Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan persiapan adalah :
§  Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif.
§  Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar.
§  Merangsang dan menggugah rasa ingin tahu siswa.
§  Menciptakan suasana dan iklim pelajaran yang terbuka.
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkaah persiapan adalah :
a.    Berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif.
b.    Mulailah dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai.
c.    Bukalah file dalam otak siswa.
2.        Penyajian (presentation).
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah dapat ditangkap dan dipahami oleh siswa. Oleh sebabitu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini adalah :
§  Penggunaan bahasa.
§  Intonasi suara.
§  Menjaga kontak mata dengan siswa.
§  Menggunakan joke-joke yang menyegarkan.
3.        Menghubungkan / kolerasi (correlation).
Langkah kolerasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya. Langkah kolerasi dilakukan tiada lain untuk memberikan makna terhadap materi pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimilikinya maupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berpikir dan kemampuan motorik siswa.
4.        Menyimpulkan (generalization).
Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti (core) dari materi pelajaran yang telah disajikan. Langkah menyimpulkan merupakan langkah yang sangat penting dalam metode ekspositori, sebab melalui langkah menyimpulkan siswa akan dapat mengambil inti sari dari proses penyajian.Menyimpulkan berarti pula memberikan keyakinan kepada siswa tentang kebenaran suatu paparan.
Menyimpulkan bisa dilakukan dengan beberapa cara yaitu ;
§  Dengan cara mengulang kembali inti-inti materi yang menjadi pokok persoalan.
§  Dengan cara memberikan beberapa pertanyaan yang relevan dengan materi yang telah disajikan.
§  Dengan cara maping melalui pemetaan keterkaitan antarmateri pokok-pokok materi.
5.        Penerapan / mengaplikasikan (application).
Langkah aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Langkah ini merupakan langkah yang sangat pentingdalam proses pembelajaran ekspositori, sebab melalui langkah ini guru akan mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan pemahaman materi pelajaran oleh siswa.
Teknik yang biasa digunakan dalam langkah ini adalah ;
§  Dengan membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan.
§  Dengan memberikan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan.
Metode ekspositori merupakan metode pembelajaran yang banyak dan sering digunakan. Hal ini disebabkan karena metode ini memiliki beberapa keunggulan yaitu :
1.        Dengan strategi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sampai seajauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
2.        Metode pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajara terbatas.
3.        Melalui metode pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan tentang suatu materi pelajaran, juga swkaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).
4.        Metode ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
Disamping memiliki keunggulan, metode ekspositori juga memiliki kelemahan  yaitu sebagai berikut:
1.        Metode pembelajaran ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
2.        Metode ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
3.        Karena metode ini lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal serta kemampuan berpikir kritis.
4.        Keberhasilan metode ekspositori sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru.
5.        Gaya komunikasi yang digunakan dalam metode ini lebih banyak satu arah sehingga pengetahuan yang dimiliki oleh siswa akan terbatas pada apa yang diberikan guru.
Dengan memperhatikan beberapa kelemahan diatas, maka sebaiknya dalam melaksanakan metode ini guru perlu persiapan yang matang baik mengenai materi pelajaran yang akan disampaikan maupun mengenai materi pelajaran yang akan disampaikan maupun mengenai hal-hal yang dapat mempengaruhi kelancaran proses presentasi.
A.      Kerangka Pikir
Setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda dalam proses belajar mengajar dan hal ini yang menyebabkan tidak semua siswa mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu model pembelajaran yang dianggap efektif dapat digunakan dalam pembelajaran  matematika agar mencapai standar ketuntasan belajar yang telah ditetapkan.
Sebagaimana diketahui bahwa metode atau pendekatan pengajaran yang di gunakan oleh guru masih bersifat konvensional yakni dengan menggunakan model pembelajaran ekspositori yang strategi mengajarnya lebih banyak diberikan melalui ceramah, sehingga siswa sulit untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuannya yang karena hanya akan terbatas pada apa yang diberikan oleh guru. Sehingga respons dan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran berkurang yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Untuk itu diperlukan suatu model pembelajaran yang dianggap bisa meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika siswa. Salah satu model yang dapat digunakan yaitu model kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).
TGT (Teams Games Tournament) diharapkan dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan respons, keaktifan dan hasil belajaranya. Karena pada model ini siswa menempati posisi yang sangat dominan dalam proses pembelajaran, dimana semua siswa dalam setiap kelompok diharuskan untuk selalu berusaha aktif, bekerjasama dan saling membantu dalam memahami dan menguasai materi yang sedang diajarkan karena adanya sistem penilaian dari peningkatan individu yang menggunakan menggunakan turnamen akademik. Turnamen ini menyiapkan siswa dari semua tingkat kemampuan yang berbeda agar mempunyai keberanian bersaing, bekerjasama serta andal dalam berkompetisi. Dengan demikian siswa dapat termotivasi untuk lebih aktif, kreatif dan mandiri dalam proses belajar mengajar.
B.       Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian pustaka maka dibuatlah hipotesis penelitian sebagai berikut:
1.        Hasil belajar matematika dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) lebih tinggi dibandingkan hasil belajar dengan menggunakan metode ekspositori.
Untuk kebutuhan pengujian statistik maka hipotesis ini dirumuskan sebagai berikut:
H0 :  lawan H1 :  >
Keterangan
 :  Parameter skor rata-rata hasil belajar matematika dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).
 :  Parameter skor rata-rata hasil belajar matematika dengan menggunakan metode ekspositori.
2.        Aktivitas siswa dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) lebih baik dibandingkan aktivitas dengan menggunakan metode ekspositori.
3.        Respons siswa dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) lebih baik dibandingkan respons siswa dengan menggunakan metode ekspositori.



BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Variabel Penelitian dan Desain Penelitian
1.        Variabel Penelitian
Variabel Penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa, aktivitas siswa serta respons siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dan hasil belajar siswa, aktivitas siswa serta respons dengan menggunakan metode ekspositori.
2.        Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan melibatkan dua kelompok yang terdiri dari satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sebagai kelompok kontrol.
Kelompok
Perlakuan
Hasil Penelitian
E
K
T1
T2
O1
O2

E    : Kelompok eksperimen
K   : Kelompok kontrol
T1 : Proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).
T2   : Proses pembelajaran dengan menggunakan  metode ekspositori
34
O1 : Hasil setelah perlakuan untuk kelas eksperimen
O2 : Hasil setelah perlakuan untuk kelas kontrol
B.     Definisi Operasional Variabel dan Perlakuan
Variabel dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa, aktivitas siswa dan respons siswa kelas IX SMP Nasional Makassar melalui dua macam model pembelajaran yaitu model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dengan metode ekspositori.
a.      Pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).
TGT (Teams Games Tournament) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, suku atau ras yang berbeda yang menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis–kuis dan sistem skor kemajuan individu, dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan menggunakan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.
b.      Metode ekspositori
Metode ekspositori adalah metode pembelajaran yang biasa diterapkan guru di SMP Nasional Makassar yaitu proses dimana guru menjelaskan sementara siswa memperhatikan dan mencatat hal-hal yang dianggap penting, setiap selesai satu unit pelajaran diberi test formatif untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang baru diberikan secara keseluruhan kemudian langsung pada materi.


c.   Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai akhir yang diperoleh setelah menjawab soal-soal tes hasil belajar yang diberikan setelah mendapatkan pengajaran materi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) atau metode ekspositori dalam jangka waktu tertentu pada siswa kelas IX SMP Nasional Makassar.
a.        Aktivitas siswa.
Yang dimaksud dengan aktivitas siswa adalah kegiatan siswa / proses aktif siswa dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) atau metode ekspositori dalam jangka waktu tertentu pada siswa kelas IX SMP Nasional Makassar.
b.        Respons siswa
Respons siswa yang dimaksudkan adalah pendapat siswa terhadap pembelajaran matematika setelah mendapatkan pengajaran materi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) atau metode ekspositori dalam jangka waktu tertentu pada siswa kelas IX SMP Nasional Makassar.




C.    Populasi dan Sampel
1.        Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Nasional Makassar tahun pelajaran 2010/2011 yang terdiri dari 5 (lima) kelas dengan jumlah 200 siswa.
2.        Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah wakil dari populasi yang diteliti, diperoleh dengan menggunakan teknik sampel acak (random sampling), yaitu 80 orang siswa yang terdiri dari 40 orang siswa untuk setiap perlakuan.
Pemilihan sampel pada penelitian ini dilakukan secara random dengan asumsi bahwa kedua kelas pada populasi tersebut adalah homogen. Adapun langkah-langkah pengambilan sampel adalah sebagai brikut:
1.    Dari 5 kelas yang ada, pada kelas IX SMP Nasional Makassar diambil dua kelas secara random untuk dijadikan sampel pada penelitian ini.
2.    Dari dua kelas yang terpilih di random lagi untuk dijadikan perlakuan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).
3.    Dua kelas (tiap  kelas 40 orang siswa) inilah menjadi sampel pada penelitian yaitu Kelas IXB sebagai kelas eksperimen yang di ajar dengan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)  dan Kelas IXA sebagai kelas kontrol atau pembanding yang di ajar dengan pembelajaran Ekspositori. 


D.    Pelaksanaan Eksperimen
1.         Perencanaan Penelitian
Sebelum melaksanakan penelitian maka terlebih dahulu dilakukan perencanaan yang matang agar penelitian dapat berjalan dengan lancar. Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a.    Menelaah kurikulum SMP Nasional Makassar kelas IX untuk bidang    studi matematika.
b.    Mempersiapkan perangkat pembelajaran berupa rencana pembelajaran dan bahan ajar dari materi yang diajarkan.
c.    Mempersiapkan tes hasil belajar untuk melihat hasil belajar matematika siswa setelah diajar menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)  dan  pembelajaran Ekspositori.
2.   Pelaksanaan Penelitian
a.    Melaksanakan proses belajar mengajar di kelas dengan menjalankan  rencana pembelajaran yang disusun sebelumnya.
b.    Menerapkan pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)  pada kelas eksperimen yaitu Kelas IXB dan  pembelajaran Ekspositori pada kelas kontrol pada Kelas IXA.
E.   Instrumen Penelitian
a.   Tes hasil belajar yang digunakan untuk memperoleh hasil tentang kemampuan awal siswa sebelum proses pembelajaran serta penguasaan siswa terhadap mata pelajaran setelah proses pembelajaran.
b.  Lembar observasi digunakan untuk memperoleh hasil tentang keadaan siswa terhadap mata pelajaran setelah proses pembelajaran.
c.   Angket untuk memperoleh hasil tentang pendapat siswa terhadap mata pelajaran dan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dan metode ekspositori.
F.     Teknik Pengumpulan Data
a.         Data tentang hasil belajar siswa diambil dengan menggunakan tes hasil belajar.
b.         Data tentang aktivitas siswa selama penelitian berlangsung diambil dengan menggunakan lembar observasi.
c.         Data tentang respons siswa diambil dari angket.
G.    Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan akan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data hasil observasi dan respon siswa akan dianalisis secara kualitatif sedangkan data mengenai hasil belajar akan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik  deskriptif yang digunakan adalah frekuensi, varians, rata-rata, dan standar deviasi. Statistik ini digunakan untuk mengungkapkan keadaan sampel atau mendeskiripsikan respons. Sedangkan statistik inferenzsial digunakan untuk menguji hipotesis, untuk keperluan ini digunakan statistic uji-t.
Kriteria yang digunakan untuk menentukan hasil belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) pada siswa kelas IX SMP Nasional Makassar dalam penelitian ini tingkat penguasaannya menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Sanimbar, 2011) adalah :

Tabel 3.1 Teknik kategori standar berdasarkan ketetapan Depdiknas
Skor
Kategori
00 – 54
Sangat rendah
55 – 64
Rendah
65 – 79
Sedang
80 – 89
Tinggi
90 – 100
Sangat tinggi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar