BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Dalam
era pembangunan dewasa ini, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mengalami
kemajuan yang pesat. Namun, tidak sedikit juga masalah yang cukup rumit di
munculkannya karena itu di butuhkan manusia penggerak yang produktif dan
kreatif.
Salah satu permasalahan yang di hadapi oleh bangsa
Indonesia adalah rendahnya mutu
pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan khususnya
pendidikan dasar dan menengah. Untuk itu peningkatan mutu pendidikan nasional
merupakan kebutuhan yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam program
pembangunan bangsa. Karena itulah pemerintah melakukan perubahan dan
perkembangan kurikulum pendidikan sebagai salah satu upaya pembaharuan pada
sistem pendidikan nasional.
1
|
Namun kenyataan menunjukkan bahwa siswa mempunyai
perbedaan individual dalam kemampuan proses belajarnya. Inilah yang menyebabkan
tidak semua siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana yang di
harapkan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, dalam proses belajar
mengajar selalu ada siswa yang memerlukan bantuan berupa perlakuan pengajaran
maupun bimbingan dalam kesulitan belajarnya.
Masalah kesulitan belajar yang di alami siswa, dapat di
sebabkan oleh metode atau pendekatan pengajaran yang di gunakan oleh guru masih
bersifat konvensional yakni dengan menggunakan model pembelajaran ekspositori
yang strategi mengajarnya lebih banyak diberikan melalui ceramah, sehingga
siswa sulit untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuannya yang karena hanya
akan terbatas pada apa yang diberikan oleh guru.
Dengan melihat fenomena tersebut, maka salah satu upaya
yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut dalam rangka meningkatkan
hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe TGT (Teams Games Tournament).
Pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams
Games Tournament) di anggap sebagai alternatif pemecahan masalah dalam
penelitian ini.
Pembelajaran ini dapat menciptakan situasi yang mana keberhasilan individu
dipacu oleh masing-masing kelompok. Karena pada model ini siswa menempati
posisi yang sangat dominan dalam proses pembelajaran, dimana semua siswa dalam
setiap kelompok diharuskan untuk selalu berusaha aktif, bekerjasama dan saling
membantu dalam memahami dan menguasai materi yang sedang diajarkan karena
adanya sistem penilaian dari peningkatan individu yang menggunakan menggunakan
turnamen akademik. Turnamen ini menyiapkan siswa dari semua tingkat kemampuan
yang berbeda agar mempunyai keberanian bersaing, bekerjasama serta andal dalam
berkompetisi. Dengan demikian siswa dapat termotivasi untuk lebih aktif,
kreatif dan mandiri dalam proses belajar mengajar.
Menurut penelitian terdahulu, Emmi dan Salmiah (2010)
bahwa aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran
kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks, disamping dapat
menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan siswa
sehingga hasil belajar matematika siswa dapat meningkat dari sebelumnya.
Berdasarkan pemikiran di atas, maka dirasa perlu diadakan
penelitian dengan judul “Efektivitas
Model Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)
dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas IX SMP Nasional Makassar”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka masalah penelitian ini:
1.
Seberapa besar hasil
belajar matematika siswa yang diajar melalui pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams
Games Tournament) pada kelas IX SMP Nasional Makassar?
2.
Seberapa besar hasil
belajar matematika siswa yang diajar melalui metode ekspositori pada kelas IX
SMP Nasional Makassar?
3.
Apakah hasil belajar
matematika siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament), lebih tinggi dibanding hasil belajar siswa
yang diajar dengan menggunakan metode ekspositori?
4.
Bagaimana aktivitas
siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan model
kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament) ?
5.
Bagaimana aktivitas
siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan motode
ekspositori ?
6.
Apakah aktivitas siswa
dalam pembelajaran TGT (Teams Games
Tournament) lebih baik dibanding aktivitas siswa dalam pembelajaran
ekspositori ?
7.
Bagaimana respons siswa
di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan model
kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament) ?
8.
Bagaimana respons siswa
di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan motode
ekspositori ?
9.
Apakah respons siswa
dalam pembelajaran TGT (Teams Games
Tournament) lebih baik dibanding respons siswa dalam pembelajaran
ekspositori ?
C.
Tujuan
Penelitian
Pada
dasarnya tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab masalah-masalah yang telah
dirumuskan dalam rumusan masalah. Secara terperinci tujuan tersebut sebagai
berikut:
1.
Untuk mengetahui
seberapa besar hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui model
Kooperatif Tipe TGT (Teams Games
Tournament) pada kelas IX SMP Nasional Makassar,
2.
Untuk mengetahui
seberapa besar hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui metode
ekspositori pada kelas IX SMP Nasional Makassar,
3.
Untuk mengetahui
perbedaan hasil belajar matematika siswa di kelas IX SMP Nasioanal Makassar
yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament), lebih tinggi
dibanding hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode
ekspositori.
4.
Untuk mengetahui
aktivitas siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan
menggunakan model kooperatif tipe TGT (Teams
Games Tournament).
5.
Untuk mengetahui
aktivitas siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan
menggunakan motode ekspositori.
6.
Untuk mengetahui apakah
aktivitas siswa dalam pembelajaran TGT (Teams
Games Tournament) lebih baik dibanding aktivitas siswa dalam pembelajaran
ekspositori.
7.
Untuk mengetahui
respons siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan
model kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament).
8.
Untuk mengetahui
respons siswa di kelas IX SMP Nasional Makassar yang diajar dengan menggunakan
motode ekspositori.
9.
Untuk mengetahui apakah
respons siswa dalam pembelajaran TGT (Teams
Games Tournament) lebih baik dibanding respons siswa dalam pembelajaran
ekspositori.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A.
Kajian Pustaka
1.
Pengertian Belajar
Pengertian
belajar sudah banyak dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Wittig (Muhibbin.
2008: 66) mengatakan bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang
terjadi dalam segala macam / keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai
hasil pengalaman.
Slameto
juga merumuskan pengertian belajar. Menurutnya belajar adalah suatu
proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya. (Syaiful Bahri. 2008: 13).
Cronbach
(Syaiful Bahri, 2008: 13) menyatakan bahwa “belajar adalah suatu aktivitas yang
ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman”, sementara
Howard L. Kingskey (Syaiful Bahri, 2008: 13) juga mengemukakan bahwa “belajar
adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah
melalui praktek atau latihan”.
James
O. wittaker (Aunurrahman,2010: 35) mengemukakan bahwa belajar adalah proses
dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
7
|
2.
Hakekat Matematika
Matematika berasal dari kata Yunani,
mathein atau manthenein yang berarti mempelajari. Kata ini memiliki hubungan
yang erat dengan kata Sanskerta, medha atau widya yang memiliki arti
kepandaian, ketahuan, atau intelegensia. Dalam bahasa Belanda, matematika
disebut dengan kata wiskunde yang berarti ilmu tentang belajar (Andi Halim
Nasution dalam Halim Fathani Yahya: 2009).
Sujono (1988:5) mengemukakan beberapa
pengertian matematika. Di antaranya, matematika diartikan sebagai cabang ilmu
pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu,
matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah
yang berhubungan dengan bilangan. Bahkan dia mengartikan matematika sebagai
ilmu bantu dalam menginterpretasikan berbagai ide dan kesimpulan (Halim Fathani
Yahya; 2009), sedangkan James dan James
(Suherman, 2001: 18) dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa matematika
adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep
yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang
terbagi tiga bidang yaitu : aljabar, analisis dan geometri.
Johnson
dan Rising (Suherman, 2001: 18) dalam
bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan,
pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah
yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan
symbol dan padat, lebih berupa bahasaa symbol mengenai ide daripada mengenai
bunyi.
Reys,
dkk dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola dan
hubunngan suatu jalan atau pola berkipir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu
alat. Kemudian Kline dalam bukunya mengatakan pula, bahwa matematika itu
bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri,
tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan
menguasai permasalahan social, ekonomi, dan alam (Suherman, 2001: 19).
Matematika
adalah disiplin ilmu yang tentang tata cara berpikir dan mengola logika, baik
secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Pada matematika diletakkan dasar
bagaima mengembangkan cara berpikir dan bertindak melalui aturan yang disebut
dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Selanjutnya dasar
tersebut dianut dan digunakan oleh bidang studi atau ilmu lain (Suherman. 2001:
253).
3.
Hasil Belajar
Sukardi
(Hurniyati, 2011: 10) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan muara kegiatan
belajar, merupakan cerminan dari tingkat penguasaan dan pengetahuan serta
keterampilan peserta didik yang terwujud berupa angka dan nilai yang sesuai
dengan hasil pengukuran tes yang telah dilaksanakan. Hasil tidak lain adalah
suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan yang diperoleh dengan kegiatan
kerja, baik secara individual maupun kelompok dalam bidang tertentu.
Hasil
belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap,
apresiasi dan keterampilan. (Suprijono, 2011: 5). Lebih lanjut Baharuddin (Hurniyati,
2011: 11) menyatakan bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh
dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang
dari luar diri siswa atau faktor lingkungan.
Dari
beberapa pengertian hasil belajar tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil
belajar adalah nilai atau prestasi yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti
proses belajar mengajar yang berkenaan dengan materi suatu mata pelajaran.
Hasil belajar ini dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belajar.
4.
Efektivitas
Efektifitas
berasal dari kata efektif. Menurut kamus Bahasa Indonesia, efektif berarti
dapat memberikan hasil; mulai berlaku (tentang peraturan atau undang-undang);
ada pengaruhnya; ada akibatnya; ada efeknya.
Hidayat (1996) berpendapat bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang
menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai
(Ibnu Noe, 2009).
Efektivitas
adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang telah direncanakan
dapat tercapai. Jadi, pendekatan atau metode pembelajaran yang diterapkan dalam
suatu pengajaran, khususnya dalam pengajaran matematika dapat dikatakan efektif
bila menghasilkan sesuatu sesuai dengan apa yang diharapkan atau direncanakan.
Maka makin tinggi kekuatannya untuk menghasilkan sesuatu, makin efektif
pendekatan atau metode itu.
Efektivitas
berkaitan dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan
waktu dan adanya partisipasi aktif dari siswa. Masalah efektivitas biasanya
berkaitan dengan perbandingan antara tingkat pencapaian hasil nyata dengan
hasil yang direncanakan. Efektivitas dapat dijadikan barometer untuk mengukur
keberhasilan pendidikan.
Menurut Eggen
dan Kauchak (Hurniati, 2011 ; 6) ”Pembelajaran
yang efektif apabila siswa secara aktif dilibatkan dalam pengorganisasian dan
penentuan informasi (pengetahuan).Siswa tidak hanya pasif menerima pengetahuan
yang diberikan guru. Hasil belajar ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa
saja, tetapi juga meningkatkan keterampilan berfikir siswa.”
Dari
uraian diatas dapat dikemukakan bahwa efektivitas pembelajaran yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah sejauh mana pembelajaran model kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dapat mencapai
hasil belajar matematika, aktivitas belajar dan respons siswa yang diharapkan
sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan atau disusun.
Yang
menjadi indikator efektivitas adalah :
1.
Hasil belajar siswa lebih
baik dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dibanding pembelajaran
ekspositori.
2.
Respon siswa terhadap
pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams
Games Tournament) dibanding pembelajaran ekspositori.
3.
Keaktifan siswa dalam
pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams
Games Tournament) dibanding pembelajaran ekspositori.
5.
Pembelajaran Kooperatif
Cooperative learning
(pembelajaran kooperatif) berasal dari kata cooperative
yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu
satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim.(Isjoni,2010: 15).
Sedangkan Anita Lie (Isjoni,2010: 16) menyebut cooperative learning dengan istilah pembelajaran gotong-royong,
yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstuktur.
Slavin
mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan
secara berkelompok , siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok–kelompok kecil
yang terdiri adri 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh
guru. Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri: 1) untuk menuntaskan
materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif, 2) kelompok
dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah,
3) jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku,
budaya dan jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok
terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula, dan 4)
penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan (Tukiran
2011: 56).
Roger
dan David Johnson (Agus, 2011; 58 ) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok
bisa dianggap cooperative learning.
Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong
harus diterapkan, yaitu :
1.
Saling Ketergantungan
Positif
2.
Tanggung Jawab
Perseorangan
3.
Tatap Muka
4.
Komunikasi Antar
Anggota
5.
Evaluasi Proses
Kelompok.
Secara
umum langkah-langkah model pembelajaran
kooperatif terdiri atas 6 fase utama yaitu sebagai berikut:
Tabel
2.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
FASE
|
TINGKAH
LAKU
|
Fase
-1
Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa
|
Guru
menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin di capai pada pelajaran
tersebut dan memotivasi siswa
|
Fase
-2
Menyajikan
informasi
|
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan
jalan demonstrasi atau lewat bacaan
|
Fase
-3
Mengorganisasikan
siswa kedalam kelompok belajar
|
Guru
menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
|
Fase
-4
Membimbing
kelompok bekerja dan belajar
|
Guru
membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
|
Fase
-5
Evaluasi
|
Guru
mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah di pelajari oleh
masing-masing kelompok dan mempresentasikannya
|
Fase
– 6
Pemberian
penghargaan
|
Guru
mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan
kelompok
|
Sumber:Suprijono
(2011:65)
Jarolimek
dan Parker (Isjoni,2010: 24) mengatakan keunggulan yang diperoleh dalam
pembelajaran ini adalah :
1.
Saling ketergantungan
yang positif,
2.
Adanya pengakuan dalam
merespon perbedaan individu,
3.
Siswa dilibatkan dalam
perencanaan dan pengelolaan kelas,
4.
Suasana kelas yang
rileks dan menyenangkan,
5.
Terjalinnya hubungan
yang hangat dan bersahabat antara siswa dan guru,
6.
Memiliki banyak
kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi yang menyenangkan.
Kelemahan
model pembelajaran cooperative learning bersumber
pada dua faktor, yaitu faktor dari dalam (intern)
dan factor dari luar (ekstern).
Faktor dari dalam, yaitu:
1.
Guru harus
mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan lebih banyak
tenaga, pemikiran dan waktu,
2.
Agar proses
pembelajaran berjalan dengan lancer maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat
dan biaya yang cukup memadai,
3.
Selama kegiatan diskusi
kelompok berlangsung, ada kecenderungan topic permasalahan yang sedang dibahas
meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan,
4.
Saat diskusi kelas,
terkadang didominasi seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi
pasif.
6.
Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Turnament (TGT)
Teams Games Tournament (TGT),
pada mulanya dikembangkan oleh David de Vries dan Keith Edwards, ini merupakan
metode pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Metode ini menggunakan
pelajaran yang sama yang disampaikan guru dan tim kerja tetapi ada turnamen
mingguannya, dimana siswa memainkan game
akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya.
TGT
(Teams Games Tournament) adalah salah
satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok
belajar yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa yang memiliki kemampuan,
jenis kelamin, suku atau ras yang berbeda. (Rusman, 2011; 224). Sedangkan
menurut Slavin (Tukiran Taniredja, 2011:67) menyatakan bahwa TGT menggunakan
turnamen akademik, dan menggunakan kuis–kuis dan sistem skor kemajuan individu,
dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan menggunakan anggota
tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.
Dalam
metode ini siswa setelah belajar dalam kelompoknya masing–masing anggota
kelompok yang setingkat kemampuannya akan dipertemukan dalam suatu
pertandingan/ turnamen yang dikenal dengan “tournament
table” yang diadakan tiap akhir unit pokok bahasan atau akhir pekan. Skor
yang didapat akan memberikan kontribusi rata-rata skor kelompok.
Sintaks
Model Pembelajaran Kooperatif tipe Teams
games Tournament (TGT) menurut
Slavin (Tukiran Taniredja, 2011:67) yaitu sebagai berikut :
1.
Penyajian Kelas (Class Pressentation).
Penyajian kelas dalam
Pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams
Games Tournament) tidak berbeda dengan pengajaran biasa atau pengajaran
klasikal oleh guru, hanya pengajaraan lebih difokuskan pada materi yang sedang
dibahas saja. Ketika penyajian materi berlangsung mereka sudah berada dalam
kelompoknya masing-masing.
Pada fase ini, guru
menyampaikan tujuan pembelajaran, pokok materi dan penjelasan singkat tentang
LKS yang dibagikan pada kelompok.
2.
Kelompok (Teams).
Kelompok disusun dengan
beranggotakan 4 sampai 5 orang yang mewakili pencampuran dari berbagai
keragaman dalam kelas seperti kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau
etnik. Fungsi utama dari pengelompokan ini adalah anggota-anggota kelompok
saling meyakinkan bahwa mereka dapat bekerja sama dalam belajar dan mengerjakan
game atau lembar kerja atau lebih
khusus lagi untuk menyiapkan semua anggota dalam menghadapi kompetisi.
3.
Permainan (Games).
Gamenya terdiri atas
pertanyaan-pertanyaan yang kontennya relevan dengan dirancang untuk menguji
pengetahuan siswa yang diperolehnya dari presentasi dikelas dan pelaksanaan
kerja tim. Game tersebut dimainkan
diatas meja dengan tiga orang siswa, yang masing-masing mewakili tim yang
berbeda. Kebanyakan game hanya berupa nomor-nomor pertanyaan yang ditulis pada
lembar yang sama. Seorang siswa mengambil kartu yang bernomor dan harus menjawab
pertanyaan yang sesuai dengan nomor yang tertera pada kartu tersebut. Sebuah
aturan tentang penantang memperbolehkan para pemain saling menantang jawaban
masing-masing.
Gambar
2.1 Bagan putaran permainan
Pembaca
1.
Ambil
kartu dan carilah soal yang berhubungan dengan nomor tersebut pada lembar
permainan.
2.
Bacalah
pertanyaannya dengan keras.
3.
Cobalah
untuk menjawab
|
Penantang I
Menantang jika memang dia
mau (dan memberikan jawaban berbeda) atau boleh melewatinya.
|
Penantang II
Boleh menantang jika penantang
I melewati, dan jika dia memang mau. Apabila semua penantang sudah
menantang atau melewati, penantang II memeriksa lembar
jawaban. Siapa pun yang jawabannya benar berhak menyimpan kartunya. Jika si
pembaca salah, tidak ada sanksi, tetapi jika kedua penantangnya
salah, maka dia harus mengembalikan kartu yang telah dimenangkannya
kedalam kotak, jika ada.
|
(Slavin,
2011 :173)
4.
Kompetisi / Turnamen (Tournament).
Turnamen adalah sebuah
struktur dimana game berlangsung. Biasanya berlangsung pada akhir minggu atau
akhir unit, setelah guru memberikan persentasi dikelas dan tim telah
melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan. Pada turnamen pertama,
guru menunjuk siswa untuk berada pada meja turnamen- tiga siswa berprestasi
tinggi sebelumnya pada meja 1, tiga berikutnya pada meja 2, dan seterusnya.
Gambar
2.2 Penempatan siswa ke meja turnamen.
TIM A
A-1 A-2
A-3 A-4
Tinggi Sedang
Sedang Rendah
|
B-1 B-2 B-3 B-4
Tinggi Sedang
Sedang Rendah
|
C-1 C-2 C-3 C-4
Tinggi Sedang
Sedang Rendah
|
Meja
Turnamen
1
|
Meja
Turnamen
2
|
Meja
Turnamen
3
|
Meja
Turnamen
4
|
TIM
B
|
TIM
C
|
5.
Pengakuan Kelompok (Teams Recognition).
Pengakuan kelompok
dilakukan dengan memberi penghargaan atas usaha yang telah dilakukan kelompok
selama belajar sehingga mencapai kriteria yang telah disepakati bersama.
Ada tiga panghargaan
yang dapat diberikan dalam penghargaan tim yaitu Tim Baik, Tim Sangat Baik, dan
Tim Super. Kriteria ini merupakan suatu rangkaian sehingga untuk menjadi
Tim Sangat Baik sebagian besar anggota tim harus memiliki skor diatas awal
mereka, dan untuk menjadi Tim Super sebagian besar anggota tim harus memiliki
setidaknya sepuluh poin diatas skor dasar mereka. Kriteria ini dapat dirubah
jika kita menginginkannya (Slavin,2011 : 160).
7.
Metode Ekspositori
Metode
ekspositori adalah suatu metode pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal
dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat
menguasai materi pelajaran secara optimal. Roy killen (1998) menamakan metode
ekspositori ini dengan istilah pembelajaran langsung, karena dalam metode ini
materi pelajaran disampaikan secara langsung oleh guru. Siswa tidak dituntut
untuk menemukan materi itu (Wina Sanjaya, 2011 : 179).
Terdapat
beberapa karakteristik dalam metode pembelajaran ekspositori. Pertama, metode ekspositori dilakukan
dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur
secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan alat utama dalam melakukan
metode ini, oleh karena itu sering orang mengidentikannya dengan ceramah. Kedua, biasanya materi pelajaran yang
disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, sehingga tidak menuntut
siswa untuk berpikir ulang. Ketiga,
tujuan utamanya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat
memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang
telah diuraikan.
Adapun
prinsip- prinsip penggunaan metode pembelajaran ekspositori yaitu berorientasi pada
tujuan, prinsip komunikasi, prinsip kesiapan, dan prinsip berkelanjutan.
Ada
beberapa langkah dalam penerapan metode ekspositori yaitu :
1.
Persiapan (preparation).
Tahap pesiapan
berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran. Dalam metode
ekspositori, langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting.
Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode ekspositori
sangat tergantung pada langkah persiapan. Tujuan yang ingin dicapai dalam
melakukan persiapan adalah :
§ Mengajak
siswa keluar dari kondisi mental yang pasif.
§ Membangkitkan
motivasi dan minat siswa untuk belajar.
§ Merangsang
dan menggugah rasa ingin tahu siswa.
§ Menciptakan
suasana dan iklim pelajaran yang terbuka.
Beberapa hal yang harus
dilakukan dalam langkaah persiapan adalah :
a. Berikan
sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif.
b. Mulailah
dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai.
c. Bukalah
file dalam otak siswa.
2.
Penyajian (presentation).
Langkah penyajian
adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah
dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian ini adalah
bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah dapat ditangkap dan dipahami
oleh siswa. Oleh sebabitu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
pelaksanaan langkah ini adalah :
§ Penggunaan
bahasa.
§ Intonasi
suara.
§ Menjaga
kontak mata dengan siswa.
§ Menggunakan
joke-joke yang menyegarkan.
3.
Menghubungkan /
kolerasi (correlation).
Langkah kolerasi adalah
langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan
hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam
struktur pengetahuan yang telah dimilikinya. Langkah kolerasi dilakukan tiada
lain untuk memberikan makna terhadap materi pelajaran, baik makna untuk
memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimilikinya maupun makna untuk
meningkatkan kualitas kemampuan berpikir dan kemampuan motorik siswa.
4.
Menyimpulkan (generalization).
Menyimpulkan adalah
tahapan untuk memahami inti (core) dari materi pelajaran yang telah disajikan.
Langkah menyimpulkan merupakan langkah yang sangat penting dalam metode
ekspositori, sebab melalui langkah menyimpulkan siswa akan dapat mengambil inti
sari dari proses penyajian.Menyimpulkan berarti pula memberikan keyakinan
kepada siswa tentang kebenaran suatu paparan.
Menyimpulkan bisa
dilakukan dengan beberapa cara yaitu ;
§ Dengan
cara mengulang kembali inti-inti materi yang menjadi pokok persoalan.
§ Dengan
cara memberikan beberapa pertanyaan yang relevan dengan materi yang telah
disajikan.
§ Dengan
cara maping melalui pemetaan
keterkaitan antarmateri pokok-pokok materi.
5.
Penerapan /
mengaplikasikan (application).
Langkah
aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak
penjelasan guru. Langkah ini merupakan langkah yang sangat pentingdalam proses
pembelajaran ekspositori, sebab melalui langkah ini guru akan mengumpulkan
informasi tentang penguasaan dan pemahaman materi pelajaran oleh siswa.
Teknik
yang biasa digunakan dalam langkah ini adalah ;
§ Dengan
membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan.
§ Dengan
memberikan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan.
Metode
ekspositori merupakan metode pembelajaran yang banyak dan sering digunakan. Hal
ini disebabkan karena metode ini memiliki beberapa keunggulan yaitu :
1.
Dengan strategi pembelajaran
ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran,
dengan demikian ia dapat mengetahui sampai seajauh mana siswa menguasai bahan
pelajaran yang disampaikan.
2.
Metode pembelajaran
ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus
dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajara
terbatas.
3.
Melalui metode pembelajaran
ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan tentang suatu materi
pelajaran, juga swkaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui
pelaksanaan demonstrasi).
4.
Metode ini bisa
digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
Disamping
memiliki keunggulan, metode ekspositori juga memiliki kelemahan yaitu sebagai berikut:
1.
Metode pembelajaran ini
hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar
dan menyimak secara baik.
2.
Metode ini tidak mungkin
dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan
pengetahuan, minat dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
3.
Karena metode ini lebih
banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa
dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal serta kemampuan
berpikir kritis.
4.
Keberhasilan metode
ekspositori sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru.
5.
Gaya komunikasi yang
digunakan dalam metode ini lebih banyak satu arah sehingga pengetahuan yang
dimiliki oleh siswa akan terbatas pada apa yang diberikan guru.
Dengan
memperhatikan beberapa kelemahan diatas, maka sebaiknya dalam melaksanakan
metode ini guru perlu persiapan yang matang baik mengenai materi pelajaran yang akan disampaikan
maupun mengenai materi pelajaran yang akan disampaikan maupun mengenai hal-hal
yang dapat mempengaruhi kelancaran proses presentasi.
A.
Kerangka
Pikir
Setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda dalam
proses belajar mengajar dan hal ini yang menyebabkan tidak semua siswa mencapai
tujuan pembelajaran yang diharapkan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu
diperlukan adanya suatu model pembelajaran yang dianggap efektif dapat digunakan
dalam pembelajaran matematika agar
mencapai standar ketuntasan belajar yang telah ditetapkan.
Sebagaimana diketahui bahwa metode atau pendekatan
pengajaran yang di gunakan oleh guru masih bersifat konvensional yakni dengan
menggunakan model pembelajaran ekspositori yang strategi mengajarnya lebih
banyak diberikan melalui ceramah, sehingga siswa sulit untuk mengembangkan
kemampuan dan pengetahuannya yang karena hanya akan terbatas pada apa yang
diberikan oleh guru. Sehingga respons dan keaktifan siswa dalam kegiatan
pembelajaran berkurang yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Untuk itu
diperlukan suatu model pembelajaran yang dianggap bisa meningkatkan keaktifan
dan hasil belajar matematika siswa. Salah satu model yang dapat digunakan yaitu model kooperatif tipe TGT
(Teams Games Tournament).
TGT
(Teams Games Tournament) diharapkan dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan respons,
keaktifan dan hasil belajaranya. Karena pada model ini siswa menempati posisi
yang sangat dominan dalam proses pembelajaran, dimana semua siswa dalam setiap
kelompok diharuskan untuk selalu berusaha aktif, bekerjasama dan saling
membantu dalam memahami dan menguasai materi yang sedang diajarkan karena
adanya sistem penilaian dari peningkatan individu yang menggunakan menggunakan
turnamen akademik. Turnamen ini menyiapkan siswa dari semua tingkat kemampuan
yang berbeda agar mempunyai keberanian bersaing, bekerjasama serta andal dalam
berkompetisi. Dengan demikian siswa dapat termotivasi untuk lebih aktif,
kreatif dan mandiri dalam proses belajar mengajar.
B.
Hipotesis
Penelitian
Berdasarkan
kajian pustaka maka dibuatlah hipotesis
penelitian sebagai berikut:
1.
Hasil belajar
matematika dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) lebih tinggi
dibandingkan hasil belajar dengan menggunakan metode ekspositori.
Untuk kebutuhan
pengujian statistik maka hipotesis ini dirumuskan sebagai berikut:
H0
:
lawan H1
:
>
Keterangan
: Parameter
skor rata-rata hasil belajar matematika dengan menggunakan pembelajaran
Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).
: Parameter
skor rata-rata hasil belajar matematika dengan menggunakan metode ekspositori.
2.
Aktivitas siswa dengan
menggunakan pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) lebih baik dibandingkan aktivitas dengan
menggunakan metode ekspositori.
3.
Respons siswa dengan menggunakan
pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams
Games Tournament) lebih baik dibandingkan respons siswa dengan menggunakan
metode ekspositori.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Variabel Penelitian dan Desain Penelitian
1.
Variabel
Penelitian
Variabel
Penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa, aktivitas siswa serta
respons siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dan hasil
belajar siswa, aktivitas siswa serta respons dengan menggunakan metode
ekspositori.
2.
Desain
Penelitian
Penelitian
ini adalah penelitian eksperimen dengan melibatkan dua kelompok yang terdiri
dari satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sebagai kelompok
kontrol.
Kelompok
|
Perlakuan
|
Hasil
Penelitian
|
E
K
|
T1
T2
|
O1
O2
|
E
: Kelompok eksperimen
K
: Kelompok kontrol
T1
: Proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT
(Teams Games Tournament).
T2
: Proses pembelajaran dengan
menggunakan metode ekspositori
34
|
O2
: Hasil setelah perlakuan untuk kelas
kontrol
B.
Definisi
Operasional Variabel dan Perlakuan
Variabel
dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa, aktivitas siswa dan respons
siswa kelas IX SMP Nasional Makassar melalui dua macam model pembelajaran yaitu
model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams
Games Tournament) dengan metode ekspositori.
a. Pembelajaran Kooperatif
tipe TGT (Teams Games Tournament).
TGT
(Teams Games Tournament) adalah salah
satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam
kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa yang
memiliki kemampuan, jenis kelamin, suku atau ras yang berbeda yang menggunakan
turnamen akademik, dan menggunakan kuis–kuis dan sistem skor kemajuan individu,
dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan menggunakan anggota
tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.
b. Metode ekspositori
Metode
ekspositori adalah metode pembelajaran yang biasa diterapkan guru di SMP
Nasional Makassar yaitu proses dimana guru menjelaskan sementara siswa
memperhatikan dan mencatat hal-hal yang dianggap penting, setiap selesai satu
unit pelajaran diberi test formatif untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa
terhadap materi yang baru diberikan secara keseluruhan kemudian langsung pada
materi.
c.
Hasil
Belajar Matematika
Hasil
belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai akhir yang
diperoleh setelah menjawab soal-soal tes hasil belajar yang diberikan setelah
mendapatkan pengajaran materi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe TGT (Teams Games Tournament) atau
metode ekspositori dalam jangka waktu tertentu pada siswa kelas IX SMP Nasional
Makassar.
a.
Aktivitas siswa.
Yang dimaksud dengan aktivitas siswa adalah kegiatan
siswa / proses aktif siswa dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) atau metode ekspositori dalam jangka waktu
tertentu pada siswa kelas IX SMP Nasional Makassar.
b.
Respons
siswa
Respons siswa
yang dimaksudkan adalah pendapat siswa terhadap pembelajaran matematika setelah
mendapatkan pengajaran materi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe TGT (Teams Games Tournament) atau
metode ekspositori dalam jangka waktu tertentu pada siswa kelas IX SMP Nasional
Makassar.
C.
Populasi
dan Sampel
1.
Populasi
Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Nasional Makassar tahun
pelajaran 2010/2011 yang terdiri dari 5 (lima) kelas dengan jumlah 200 siswa.
2.
Sampel
Sampel pada
penelitian ini adalah wakil dari populasi yang diteliti, diperoleh dengan menggunakan teknik sampel acak (random
sampling), yaitu 80 orang siswa yang terdiri dari 40 orang siswa untuk
setiap perlakuan.
Pemilihan
sampel pada penelitian ini dilakukan secara random dengan asumsi
bahwa kedua kelas pada populasi tersebut adalah homogen. Adapun langkah-langkah
pengambilan sampel adalah sebagai brikut:
1.
Dari 5 kelas yang
ada, pada kelas IX SMP Nasional Makassar diambil dua kelas secara random untuk dijadikan sampel
pada penelitian ini.
2.
Dari dua kelas yang
terpilih di random lagi untuk dijadikan perlakuan pembelajaran
kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament).
3.
Dua kelas
(tiap kelas 40 orang siswa) inilah
menjadi sampel pada penelitian yaitu Kelas IXB sebagai kelas eksperimen yang di ajar dengan pembelajaran kooperatif tipe TGT
(Teams Games Tournament) dan Kelas IXA sebagai kelas
kontrol atau pembanding yang di ajar dengan pembelajaran Ekspositori.
D. Pelaksanaan
Eksperimen
1.
Perencanaan
Penelitian
Sebelum melaksanakan penelitian maka terlebih dahulu dilakukan
perencanaan yang matang agar penelitian dapat berjalan dengan lancar. Hal-hal
yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a. Menelaah kurikulum SMP Nasional Makassar kelas IX
untuk bidang studi matematika.
b. Mempersiapkan perangkat pembelajaran berupa rencana pembelajaran
dan bahan ajar dari materi yang diajarkan.
c. Mempersiapkan tes hasil belajar untuk melihat hasil belajar
matematika siswa setelah diajar menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)
dan pembelajaran Ekspositori.
2. Pelaksanaan Penelitian
a. Melaksanakan proses belajar mengajar di kelas dengan menjalankan rencana pembelajaran yang disusun sebelumnya.
b. Menerapkan pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) pada
kelas eksperimen yaitu Kelas IXB
dan pembelajaran Ekspositori pada kelas kontrol pada Kelas IXA.
E. Instrumen Penelitian
a. Tes hasil belajar yang digunakan untuk memperoleh
hasil tentang kemampuan awal siswa sebelum proses pembelajaran serta penguasaan
siswa terhadap mata pelajaran setelah proses pembelajaran.
b. Lembar observasi digunakan untuk memperoleh
hasil tentang keadaan siswa terhadap mata pelajaran setelah proses
pembelajaran.
c. Angket untuk memperoleh hasil tentang pendapat
siswa terhadap mata pelajaran dan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dan metode
ekspositori.
F.
Teknik
Pengumpulan Data
a.
Data tentang hasil
belajar siswa diambil dengan menggunakan tes hasil belajar.
b.
Data tentang aktivitas
siswa selama penelitian berlangsung diambil dengan menggunakan lembar observasi.
c.
Data tentang respons
siswa diambil dari angket.
G.
Teknik Analisis Data
Data
yang dikumpulkan akan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data hasil
observasi dan respon siswa akan dianalisis secara kualitatif sedangkan data
mengenai hasil belajar akan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif
dan statistik inferensial. Statistik
deskriptif yang digunakan adalah frekuensi, varians, rata-rata, dan
standar deviasi. Statistik ini digunakan untuk mengungkapkan keadaan sampel
atau mendeskiripsikan respons. Sedangkan statistik inferenzsial digunakan untuk
menguji hipotesis, untuk keperluan ini digunakan statistic uji-t.
Kriteria
yang digunakan untuk menentukan hasil belajar dengan model pembelajaran
kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament) pada siswa kelas IX SMP Nasional Makassar dalam penelitian ini
tingkat penguasaannya menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Sanimbar,
2011) adalah :
Tabel
3.1 Teknik kategori standar berdasarkan ketetapan Depdiknas
Skor
|
Kategori
|
00
– 54
|
Sangat
rendah
|
55
– 64
|
Rendah
|
65
– 79
|
Sedang
|
80
– 89
|
Tinggi
|
90
– 100
|
Sangat
tinggi
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar