Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Pada Siswa Kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar”



BAB I
PENDAHULUAN
  
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam mengantisipasi masa depan, karena pendidikan selalu diorientasikan pada penyiapan peserta didik untuk berperan di masa yang akan datang. Pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan dalam kehidupan dan berlangsung seumur hidup.
Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha membudayakan dan memanusiakan manusia. Manusia itu sendiri adalah pribadi yang utuh dan pribadi yang kompleks sehingga sulit dipelajari dengan tuntas. Oleh karena itu masalah pendidikan tidak akan pernah selesai, sebab hakekat manusia itu sendiri selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupannya. Pendidikan berkenaan dengan upaya pembinaan manusia maka keberhasilan pendidikan tergantung kepada unsur manusianya. Unsur manusia yang paling menentukan keberhasilan pendidikan adalah pelaksana pendidikan yaitu Guru. Guru dituntut memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik dan pengajar.
Mengingat begitu pentingnya peranan matematika dan merupakan ilmu yang diterapkan di setiap jenjang pendidikan, maka perlu adanya suatu upaya dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Beragam pandangan yang muncul terhadap matematika, ada yang menganggap matematika adalah pelajaran yang sangat sulit sehingga harus dijauhi dan di hindari serta penuh teori yang membosankan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru matematika kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar. Bahwa sangat sedikit siswa yang mampu mengerjakan soal-soal matematika dengan benar, ini tampak dari hasil belajar yang masih kurang memuaskan. Dimana KKM (Kriteria ketuntasan Minimal) yang ditetapkan oleh pihak sekolah adalah 65, selebihnya yang mendapat nilai kurang dari KKM yang ditetapkan (tidak tuntas). Keadaan seperti ini disebabkan belum diorganisasikannya dengan baik proses yang memungkinkan siswa belajar lebih aktif dan lebih banyak berpartisipasi dalam proses belajar mengajar.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Proses belajar mengajar ini terjadi apabila ada interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. Interaksi siswa dengan siswa ini terbentuk melalui pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif dalam matematika akan dapat membantu para siswa meningkatkan sikap positif untuk membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya dalam \menyelesaikan masalah matematika sehingga dapat mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap matematika yang banyak dialami para siswa. Pembelajaran kooperatif juga telah terbukti sangat bermanfaat bagi para siswa yang heterogen. Dengan menonjolkan interaksi dalam kelompok model belajar ini dapat membuat siswa menerima pendapat siswa lain yang berkemampuan dan berlatar belakang berbeda.
Pembelajaran dengan metode numbered heads together diawali dengan numbering, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok sebaiknya mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari, jika jumlah peserta didik dalam satu kelas terdiri dari 40 orang dan terbagi menjadi 8 kelompok berdasarkan jumlah konsep yang dipelajari maka tiap kelompok terdiri 5 orang, tiap-tiap orang dalam kelompok diberi nomor 1-5.
Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap-tiap kelompok, mereka diberi kesempatan memberi jawaban atas pertanyaan yang telah diterimanya dari guru. Hal itu dilakukan terus sehingga semua peserta didik dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapat giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru. Berdasarkan jawaban-jawaban itu guru dapat mengembangkan diskusi lebih mendalam, serta peserta didik dapat menemukan jawaban itu sebagai pengetahuan yang utuh.
Berdasarkan kondisi di atas, maka penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Pada Siswa Kelas VIIIb SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar”

                                                                                
B.     Masalah Penelitian
1.   Identfikasi Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat diidentifikasikan permasalahan dalam penelitian ini disebabkan oleh:
1.   Siswa menganggap pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit.
2.   Kurang motivasi siswa dalam proses belajar mengajar.
3.   Rendahnya hasil belajar matematika siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar
2.   Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar”?
3.   Cara Pemecahan Masalah
Masalah tentang rendahnya hasil belajar matematika pada siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar akan dipecahkan dengan menerapkl pembelajaran model Kooperatif Tipe NHT yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur dalam penelitian tindakan kelas.



C.    Tujuan Penelitian
      Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah “Untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe NHT”.
D.    Manfaat Penelitian
1.   Bagi Siswa: Dapat Mengurangi rasa cemas terhadap matematika dan dapat membuat siswa menerima siswa lain yang berkemampuan dan latar belakang berbeda. Dan memungkinkan siswa lebih bersemangat belajar matematika sehingga diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat.
2.   Bagi Guru: Sebagai pertimbangan untuk dapat menerapkan model kooperatif Tipe Numbered Heads Together dalam memecahkan beberapa masalah yang dihadapi dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.
3.   Bagi Sekolah: akan memberikan bahan informasi untuk dapat membenahi dan meningkatkan proses belajar matematika khususnya SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar.





BAB II
KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.    KAJIAN PUSTAKA
1.   Hakikat Belajar Matematika
Belajar merupakan istilah kunci yang paling penting dalam pendidikan. Dapat dikatakan bahwa tanpa balajar, sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Karena demikian pentingnya belajar maka tidak heran bila masalah-masalah belajar terus menjadi kajian menarik bagi banyak ahli pendidikan.
Menurut Anthony Robbins (Trianto: 2010) bahwa belajar adalah suatu proses aktif di mana siswa membangun (mengkonstruk) pengetahuan berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan yang sudah dimilikinya. Proses aktif yang dimaksud adalah berupa pengalaman siswa yang telah ada yang akan dikembangkan lebih baik lagi.

Menurut Gagne (Agus: 2010) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas, perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara ilmiah.
Dari berbagai pendapat ahli yang mencoba memberikan defenisi belajar, maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses aktif dimana siswa membangun pengetahuan berdasakan pada pengalaman, dan kemampuan untuk mencapai sebuah perubahan yang lebih baik.
Pembelajaran matematika adalah kegiatan pendidikan yang psikologi seperti abstraksi, klasifikasi, dan generalisasi. Mengabstraksi  faktor guru, faktor siswa juga sangat penting dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, agar proses belajar matematika berjalan sebagaimana mestinya, maka siswa harus memiliki kemampuan dan pengetahuan dasar sebagai materi prasyarat. Sedangkan guru harus memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang keadaan siswa, pengelolaan kelas, penggunaan model pembelajaran yang tepat, dan keterampilan mengadakan variasi, serta teknik penilaian, baik penilaian proses maupun penilaian hasil belajar. Karena salah satu hakikat pembelajaran adalah terjadinya perubahan tingkah laku seseorang dengan adanya pengalaman.
2.   Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses kegiatan belajar mengajar. Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang dapat menjadi indokator tentang batas kemauan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai yang dimiliki seseorang itu dalam suatu pelajaran. Dalam kaitannya dengan usaha belajar, hasil belajar ditunjukkan oleh tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa terhadap materi yang diajarkan setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu.
Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam pendidikan. Seorang siswa yang cerdas dapat menciptakan usaha yang lebih baik untuk mendorong perkembangan intelektual bagi dirinya dalam bermacam-macam kegiatan agar ada peningkatan terhadap hasil belajar.
Baik itu perubahan tingkah laku atau pemahaman yang diperoleh melalui hasil belajar, itulah yang disebut hasil belajar atau dengan kata lain hasil belajar adalah kemampuan menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang telah dipelajari. Sedangkan hasil belajar matematika yang dimaksudkan adalah kemampuan atau penguasaan materi yang telah dikuasai siswa setelah kegiatan belajar mengajar matematika.
Menurut Gagne (Agus: 2010) hasil belajar berupa :
a)   informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun turtulis.
b)   keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.
c)   strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya sendiri.
d)  keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
e)   sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.
Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa hasil belajar adalah ukuran keberhasilan siswa setelah menempuh proses belajar. Hasil belajar yang dicapai seseorang dapat menjadi indikator tentang batas kemampuan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimiliki oleh orang itu dalam suatu pekerjaan.


3.   Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
              Salah satu model pembelajaran yang dapat dikembangkan di sekolah-sekolah adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Cooperative learning dalam matematika akan dapat membantu para siswa meningkatkan sikap positif siswa dalam matematika. Para siswa secara individu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya.
Menurut Ibrahim, dkk (Trianto : 2010), bahwa belajar kooperatif dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar siswa, dan dapat mengembangkan  kemampuan akademis siswa
Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif di dorong dan atau dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai suatu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.
Menurut Muhammad Faiq Dzaki pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.   Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2.   Kelompok dibentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3.   Bilamana mungkin. anggota kelompok berasal dan ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda
4.   Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu
Jika para siswa yang mempunyai kemampuan berbeda dimasukkan dalam satu kelompok yang sama, maka akan dapat memberikan keuntungan bagi para siswa yang berkemampuan rendah dan sedang. Sebaliknya siswa yang berkemampuan tinggi, kemampuan komunikasi verbal dalam matematika bagi siswa tersebut akan semakin meningkat. Untuk memberikan penjelasan tentang suatu materi matematika seorang siswa harus memahami materi itu lebih dalam daripada sekedar kemampuan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah jawaban pada lembar kerja.
4.   Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
Sebagai seorang profesional, guru harus mempunyai pengetahuan dan persediaan strategi pembelajaran. Tidak semua strategi yang diketahui harus dan bisa diterapkan dalam kenyataan sehari-hari di ruang kelas. Guru yang ingin maju dan berkembang perlu mempunyai persediaan strategi dan teknik-teknik pembelajaran yang pasti akan selalu bermanfaat dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Salah satu teknik mengajar gotong royong adalah tipe Numbered Heads Together (NHT).
 Metode ini dikembangkan oleh Spenser Kagan (Trianto: 2010) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together yaitu:
1.   Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2.   Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3.   Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
4.   Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
Adapun sintaks model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Menurut Salvin (Muh. Kahar Ahmad 2008) sebagai berikut:
Tabel 2.2 Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)
                            Fase
Tingkah Laku
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Fase-2
Menyajikan informasi

Fase-3
Mrngorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar






Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Fase-5
Evaluasi

Fase-6
Memberikan penghargaan
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran (indicator hasil belajar). Guru memotivasi siswa. Guru mengaitkan pelajaran sekarang dengan yang terdahulu.
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar dan menjelaskan bagaimana caranya  seperti:
a.       Setiap kelompok beranggotakan 3-5 orang heterogen dan setiap anggots kelompok diberi nomor 1 sampai 5 (penomoran)
b.      Guru mengajukan pertanyaan
c.       Guru meminta siswa mendiskusikan pertanyaan secara kelompok (berpikir bersama)

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta siswa menjawab pertanyaan dengan memanggil satu nomor.
Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya maupun hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok

B.     Kerangka Pikir
Secara umum hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep matematika masih berada dalam tataran rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep matematika guru diharapkan mampu berkreasi dengan menerapkan model dalam  pembelajaran  matematika yang cocok.
Sebagai seorang profesional, guru harus mempunyai pengetahuan dan persediaan strategi pembelajaran. Tidak semua strategi yang diketahui harus dan bisa diterapkan dalam kenyataan sehari-hari di ruang kelas. Guru yang ingin maju dan berkembang perlu mempunyai persediaan strategi dan teknik-teknik pembelajaran yang pasti akan selalu bermanfaat dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Salah satu teknik mengajar gotong royong adalah tipe Numbered Heads Together (NHT).
 Metode ini dikembangkan oleh Spenser Kagan (Trianto: 2010) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
C.    Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritik di atas, maka hipotesis penelitian adalah Jika menerapkan model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) maka dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar.








BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) pelaksanaannya meliputi empat tahap, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan/observasi (observing), tahap evaluasi, dan refleksi (reflection).
B.     Subjek penelitian
Subjek Penelitian ini adalah siswa kelas VIIIb SMP  Negeri 1 Polongbangkeng Utara  Kabupaten Takalar  semester I tahun ajaran 2011/2012. Subjek penelitian sebanyak 32 orang, siswa perempuan sebanyak 15 orang dan siswa laki-laki sebanyak 17
C.    Faktor yang Diselidiki
Faktor-faktor yang diselidiki adalah sebagai berikut:
1.   Faktor input, yaitu menyelidiki hasil belajar siswa sebelum pelaksanaan tindakan.
2.   Faktor proses, yaitu dengan memperhatikan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran serta perubahan sikap siswa dalam belajar matematika.
3.   Faktor output, menyelidiki hasil belajar matematika setelah pelaksanaan tindakan serta tanggapan siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads together.


D.      Prosedur Penelitian
Alur penelitian menurut Suharsimi arikunto (2007: 16)
perencanaan
 
pelaksanaan
 
refleksi
 
Siklus I
 
       


















pengamatan
 




perencanaan
 








Siklus II
 

pelaksanaan
 





pengamatan
 


 







Dalam penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam dua siklus sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, setiap akhir siklus diberikan tes hasil belajar sebagai tes untuk mengetahui kemampuan siswa.
Adapun prosedur pelaksanaan tindakan ini sebagai berikut:
Gambaran umum siklus 1
1.   Tahap Perencanaan.
Sebelum diadakan penelitian terlebih dahulu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a.    Mengidentifikasikan siswa sebelum mengadakan tindakan siklus I. Hal-hal yang dilakukan yaitu menanyakan mata pelajaran yang mereka senang, kebiasaan belajar matematika, cara guna menyajikan pelajaran matematika.
b.   Menganalisis kurikulum kelas VIIIb
c.    Membuat skenario pembelajaran untuk pelaksanaan tindakan dengan merujuk kepada tipe Numbered Heads Together.
d.   Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi atau keadaan siswa di kelas saat proses belajar mengajar berlangsung selama diadakannya model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT).
e.    Membuat tes hasil belajar.
2.   Tahap Tindakan
Adapun langkah-langkah yang dilakukan tahap ini sebagai berikut:
a.    Siswa dibagi dalam kelompok, Setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor.
b.   Guru memberikan kesempatan semua kelompok untuk mengerjakan soalnya masing-masing dalam jangka waktu tertentu.
c.    Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
d.   Guru memanggil salah satu nomor, Siswa dengan nomor yang dipanggil secara bergantian melaporkan hasil kerja sama mereka dan anggota kelompok lain berhak menanggapi jawaban dari kelompok tersebut.
e.    Guru membe            rikan skor terhadap hasil laporan setiap anggota kelompok.

3.   Tahap Observasi
a.    Observasi
Observasi dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data observasi yang diambil adalah tentang kehadiran, keaktifan mereka di kelas dalam memberikan jawaban, bertanya dan menuliskan jawaban di papan tulis. Pada akhir siklus diberikan tes hasil belajar.
4.   Tahap Refleksi
Hasil yang telah diperoleh dari pengamatan terhadap tiap-tiap kelompok dikumpulkan serta dianalisis. Baik berupa hasil evaluasi maupun data hasil observasi yang diperoleh pada saat melaksanakan kegiatan pengajaran, sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan siklus berikutnya.
                  Gambaran umum siklus II
                  Kegiatan yang dilakukan pada siklus II pada dasarnya adalah mengulang tahapan-tahapan pada siklus I, akan tetapi dilakukan pola sejumlah rencana baru untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat pada siklus sebelumnya.
E.     Instrumen.
1.      Data tentang hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan diambil dengan teknik dokumentasi.
2.      Data tentang keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar diambil dengan lembar observasi.
3.      Data tentang tanggapan siswa diambil dengan angket respon siswa.
4.      Data tentang hasil belajar diambil dengan tes hasil belajar
F.     Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
1.   Data tentang hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan diambil dari guru.
2.   Data mengenai keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar yang diambil melalui observasi selama pembelajaran.
3.   Data tentang tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan diambil melalui angket respon siswa.
4.   Data mengenai peningkatan penguasaan materi diambil dari tes setiap akhir siklus.
G.    Teknik Analisis Data
Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif, data hasil belajar yang diperoleh dikategorikan berdasarkan teknik kategoriasi standar yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
SKOR
KATEGORI
0 – 54
55 -64
65 -79
80 -89
90-100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi

H.      Indikator Keberhasilan
Menurut criteria ketuntasan minimal (KKM) di SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar, siswa dikatakan tuntas belajar apabila memperoleh skor minimal 65 dari skor ideal dan tuntas secara klasikal apabila memperoleh skor minimal 85% dari jumlah siswa tuntas belajar individu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar