Sabtu, 06 Februari 2016

SKRIPSI: EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA SISWA KELAS VIII MTs MUHAMMADIYAH TALLO MAKASSAR



BAB I
PENDAHULUAN  
A.    Latar Belakang
Peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dewasa ini merupakan kebutuhan utama. Hal ini penting dalam rangka memacu pertumbuhan pembangunan nasional. Sejarah membuktikan bahwa bangsa yang miskin dengan sumber daya alam tetapi memiliki keunggulan sumber daya manusia, berhasil menjadi negara yang makmur, kaya, dan kuat. Sebaliknya bangsa yang kaya dengan sumber daya alam tetapi tidak ditangani oleh sumber daya manusia yang berkualitas pada suatu saat akan mengalami kekecewaan.
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting bagi pembangunan bangsa. Karena itu, hampir semua bangsa menempatkan pembangunan pendidikan sebagai prioritas utama dalam program pembangunan nasional. Sumber daya manusia yang bermutu merupakan produk pendidikan, dan merupakan kunci keberhasilan pembangunan suatu negara. Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Khususnya pendidikan matematika, upaya-upaya yang telah dilakukan antara lain melakukan perubahan kurikulum secara teratur, dengan maksud agar isi kurikulum tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan serta kebutuhan masyarakat yang berkembang dengan cepat.

Matematika sebagai salah satu wahana pendidikan memegang peranan penting dalam pengembangan sumber daya manusia sebagai alat penata nalar dan pembentuk kepribadian peserta didik. Matematika sebagai ilmu dasar merupakan tiang penopang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi suatu bangsa yang ingin maju dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan matematika yang cukup.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam meningkatkan kemampuan intelektual siswa. Dengan belajar matematika, maka siswa dapat berfikir kritis, terampil berhitung, memiliki kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep dasar matematika pada pelajaran lain maupun pada matematika itu sendiri.
Oleh karena pentingnya peranan matematika, maka peningkatan prestasi belajar matematika siswa pada setiap jenjang pendidikan perlu mendapat perhatian yang serius.  Namun, kenyataan menunjukkan bahwa tujuan pendidikan nasional secara totalitas belum tercapai sesuai dengan harapan. Salah satu indikator yang mencerminkan keadaan tersebut adalah masih rendahnya daya serap murid terhadap materi pelajaran dan masih rendahnya prestasi yang dicapai terutama untuk mata pelajaran matematika.
Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika merupakan salah satu bentuk permasalahan bagi mutu pendidikan matematika saat ini, karena itu diperlukan upaya untuk perbaikan di dalam proses pembelajaran matematika dan memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh untuk peningkatan hasil belajar matematika di setiap jenjang pendidikan.
Dengan demikian, pemilihan metode belajar mengajar matematika yang cocok untuk topik tertentu, akan mengakibatkan proses belajar mengajar matematika berjalan dengan efektif dan efisien. Dalam pembelajaran matematika banyak guru mengeluhkan rendahnya kemampuan siswa dalam mengerjakan soal matematika. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya siswa membuat kesalahan dalam mengerjakan soal-soal dan rendahnya hasil belajar siswa (nilai) yang diperoleh baik dalam ulangan harian maupun ulangan semester. Seperti kebanyakan sekolah pada umumnya, MTs Muhammadiyah Tallo Makassar juga mengalami hal yang sama bahwa hasil belajar matematika siswa kurang efektif.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru matematika kelas VIII MTs Muhammadiyah Tallo Makassar mengatakan bahwa penyebab rendahnya prestasi belajar siswa adalah (1) kurangnya variasi mengajar matematika (2) siswa belum terbiasa untuk belajar sendiri, mereka cenderung belajar secara pasif, (3) buku pegangan mereka kurang mendukung keterlaksanaan proses pembelajaran. Olehnya itu untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa, salah satu model yang diharapkan dapat memberikan solusi terhadap masalah tersebut adalah dengan banyak memberikan masalah matematika untuk diselesaikan dengan banyak cara. Model yang dapat digunakan untuk itu adalah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw.
Ikhanuddin (2010:72), yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam penelitiannya mengatakan bahwa, pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu memperbaiki kualitas pembelajaran matematika di kelas tempat penelitian ini dilaksanakan. Dilihat dari rata-rara ketuntasan belajar yang dicapai selama pelaksanaan pembelajaran
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw di anggap sebagai alternatif pemecahan masalah dalam penelitian ini. Pembelajaran ini dapat menciptakan situasi yang mana keberhasilan individu dipacu oleh masing-masing kelompok. Setiap siswa diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap sub materi yang akan di berikan kepadanya serta melatih siswa untuk mampu bekerja sama dengan sistem pembagian tugas.
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw adalah salah satu model pembelajaran yang menuntut siswa berperan aktif memahami dan mencari informasi tentang materi pelajaran, berbagi pengetahuan dengan teman kelompok dan bertanggung jawab dalam keberhasilan kelompoknya sehingga siswa nantinya dapat menyelesaikan masalah matematika yang ada sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis termotivasi melakukan penelitian tentang " Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada Siswa Kelas VIII MTs Muhammadiyah Tallo Makassar

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
1.      Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw?
2.      Bagaimana besar hasil belajar matematika siswa kelas VIII3 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan pembelajaran konvensional?
3.      Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw efektif digunakan dalam  pembelajaran matematika pada siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar ditinjau dari :
a.       Ketuntasan belajar siswa
b.      Aktifitas siswa dalam proses pembelajaran
c.       Keterlaksanaan kemampuan guru dalam mengelolah pelajaran, dan
d.      Respon siswa yang positif terhadap pembelajaran
C.    Tujuan Penelitian
Pada dasarnya penelitian ini bertujuan adalah untuk mejawab masalah- masalah yang telah dirumuskan, yaitu:
1.      Untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
2.      Untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas VIII3 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan pembelajaran konvensional.
3.      Untuk mengetahui bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw efektif  dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar
D.    Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai bahan informasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan agar model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mendapat perhatian disekolah-sekolah dan sebagai bahan informasi bagi penulis selanjutnya yang mempunyai kajian yang sama.






















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA FIKIR
A.    Tinjauan Pustaka
1.      Hakikat Belajar Matematika
Belajar merupakan hal yang kompleks karena melibatkan ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Kompleksitas belajar tersebut dapat berasal dari dua subjek yaitu guru dan siswa. ari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses, yakni proses mental dalam menghadapi bahan pembelajaran dalam berbagai keadaan. Dari segi guru, proses belajar adalah perilaku belajar tentang suatu hal. Belajar pada hakikatnya adalah suatu proses yang di tandai dengan adanya perubahan pada individu baik dari bentuk perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap atau tingkah laku, keterampilan, kecakapan, mental, kemampuan dan aspek-aspek lainnya yang ada pada individu belajar.
Belajar menurut Gredler (Sabahuddin, 2003:84) adalah “proses yang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap”. Pendapat ini sejalan dengan tuntutan dari kamus shorter oxford English dictionary yang mengemukakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan dari bidang studi atau pengajaran            Sedangkan R. Gagne (Slameto, 2010:13) mengemukakan dua defenisi belajar yaitu;
1.      Belajar adalah suatu proses memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku;
2.     
- 7 -
 
Belajar adalah penugasan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.
Belajar matematika pada dasarnya merupakan proses yang diarahkan pada suatu tujuan. Tujuan belajar matematika dapat dilihat dari kemampuan seseorang memfungsionalkan materi matematika yang dipelajari, baik secara konseptual maupun secara praktis. Secara konseptual dimaksudkan dapat mempelajari matematika lebih lanjut, sedangkan secara praktis dimaksudkan menerapkan matematika pada bidang-bidang lain.
Seseorang belajar matematika jika pada diri orang tersebut terjadi perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan matematika. Misal, orang yang telah belajar matematika akan terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dan mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Dari berbagai pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa belajar matematika adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan informasi baru tentang matematika secara berkesinambungan yang menyebabkan peningkatan atau pertambahan pengetahuan, kecakapan, keterampilan, kemampuan mental yang dilihat dari hasil belajarnya sehingga seseorang lebih mampu menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya.
2.      Hakekat Matematika
Matematika adalah terjemahan dari Mathematics. Matematika lebih dari pada aritmetika, yakni ilmu tentang kalkulasi / perhitungan. Ia lebih dari pada aljabar, yang merupakan bahasan lambang, operasi dan relasi. Namun arti atau definisi yang tepat dari matematik tidak dapat diterapkan secara eksak (pasti) dan singkat. Matematika adalah cara/metode berpikir dan bernalar. Matematika dapat digunakan untuk memutuskan apakah suatu ide itu benar atau salah, atau paling sedikit ada kemungkinan benar.
Matematika adalah suatu medan eksplorasi dan penemuan, di situ setiap hari ide-ide baru diketemukan. Matematika adalah cara berpikir yang digunakan untuk memecahkan semua jenis persoalan di dalam sains, pemerintah, dan industri. Ia adalah bahasa lambang yang dipahami oleh semua bangsa berbudaya di dunia. Ada baiknya kita lihat beberapa pendapat para ahli tentang matematika Beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian matematika yang dikutip E. T Ruseffendi (Materi Pokok Pendidikan Matematika III, 1994) antara lain :
 Johnson dan Myklebust (1967: 244) menyatakan bahwa, Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedang fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir.

Kline (1981: 172) menyatakan bahwa, Matematika merupakan bahasa simbolis dan ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa Matematika itu timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran yang terbagi menjadi empat wawasan yang luas, yaitu aritmatika, aljabar, geometri dan analisis, dengan aritmatika mencakup teori bilangan dan statistk.
Matematika selain sebagai seni, kadangkala Matematika itu disebut  atunya ilmu (Mathematics is the Queen of Science), artinya antara lain bahwa Matematika adalah bahasa yang tidak tergantung pada bidang studi lain yang menggunakan simbol dan istilah yang cermat yang disepakati secara universal sehingga mudah dipahami; kemudian merupakan ilmu deduktif yang tidak menerima generalisasi yang didasarkan pada contoh-contoh, observasi, eksperimen tetapi generalisasinya didasarkan pada pembuktian deduktif; kemudian struktur yang terorganisasikan; dan Matematika sebagai pelayan ilmu.
Sedangkan menurut peneliti Matematika merupakan bahasa simbolis yang bersifat universal yang digunakan manusia untuk memecahkan jenis persoalan dalam ilmu pengetahuan dan menentukan kebenaran dalam ide-ide yang mungkin bersifat kabur.
3.      Pengertian Efektivitas
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, efektivitas memiliki arti keefektifan suatu (benda). Sedangkan Perrott (Sahabuddin, 2007: 51) mengemukakan guru yang efektif adalah guru yang dapat menunjukkan kemampuan menghasilkan Tujuan belajar yang telah direncanakan.
Menurut Marwani (Hamsuni Syam Tonra, 2010: 19) efektivitas dapat diartikan sebagai  pencapaian suasana bagi manusia dalam mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan menurut penulis efektivitas adalah tercapainya Tijuana pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya.
4.            Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif sebagai sebuah alternatif untuk model pembelajaran tradisioal yang didasari pada keyakinan bahwa pembelajaran adalah semua efektivitas ketika peserta didik terlibat secara efektif dalam berbagai ide/gagasan dan bekerja secara kooperatif untuk melengkapi tugas-tugas akademik
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi atau metode pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran ini, secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mengasihi antara sesama siswa.
Pembelajaran kooperatif (cooperative Learning) adalah salah satu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok. Yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivisme. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan gender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerjasama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Artzt dan Newman (Trianto, 2011: 56) Menyatakan bahwa belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
Jonhson & Johnson (Trianto, 2011: 57) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan siswa untuk meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara berkelompok.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dimana peserta didik saling kerjasama dalam kelompoknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif siswa juga dituntut untuk ikut bertanggungjawab terhadap keberhasilan kelompoknya.
Dengan demikian pembelajaran kooperatif memungkinkan peserta didik belajar lebih aktif, serta secara bertahap dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. , Menurut Jonhson & Jonhson ( Trianto, 2011: 60 ) dan Sutton ( Trianto, 2011 : 60 ) ada lima elemen dalam pembelajaran kooperatif yaitu adanya: “(1) Saling ketergantungan positif antara siswa, (2) Interaksi siswa yang semakin meningkat, (3) Tanggung jawab individual, dan (4) Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil (5) Proses kelompok
Dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif, ada empat metode yang biasa digunakan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif, yaitu: Metode STAD (Student Teams Achiement Divisions), Metode Jigsaw (Rembuk Ahli), Metode GI (Group Investigation), dan Metode Struktural.
Pada pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan, dan peranan diri sendiri maupun orang lain.
Menciptakan suasana belajar kooperatif bukan pekerjaan yang mudah. Untuk menciptakan suasana belajar tersebut diperlukan pemahaman filosofis dan keilmuan yang cukup disertai didekasi yang tinggi serta latihan yang cukup serius dan terus-menerus.
Secara umum langkah-langkah model pembelajaran kooperatif terdiri atas 6 fase utama yaitu sebagai berikut:









Tabel 2.1 Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif
FASE
TINGKAH LAKU
Fase -1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin di capai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
Fase -2
Menyajikan informasi
Guru  menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan
Fase -3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase -4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
Fase -5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah di pelajari oleh masing-masing kelompok dan mempresentasikannya
Fase -6
Memberi penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
Trianto ( Ibrahim dkk, 2011: 66)
5.      Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw (rembuk ahli)
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Melalui pembelajaran kooperatif tipe jigsaw (rembuk ahli) kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks dan tiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut. Kumpulan siswa seperti itu disebut “kelompok pakar” (expert group).
Selanjutnya, para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali ke kelompok semula “home teams”, para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari.
Berdasarkan uraian tersebut maka kedua langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw akan diuraikan sebagai berikut.
1.      Siswa dibagi atas beberapa kelompok ( tiap kelompok anggotanya 5-6 orang
2.      Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi dalam beberapa sub bab.
3.      Setiap anggota kelompok membaca sus bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
4.      Anggota dalam kelompok lain yang telah mempelajari sus bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
5.      Setiap kelompok ahli setelah kembali ke kelompok asalnya bertugas mengajar teman-temannya.
6.      Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa dikenai tagihan berupa tugas individu.       
Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 1997):
Kelompok Asal


 






Kelompok Ahli
Gambar 2.1. Ilustrasi Kelompok Jigsaw
6.      Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional adalah proses pembelajaran yang biasa dilakukan di Sekolah yaitu pembelajaran yang dimulai dengan pemberian materi selanjutnya diberikan contoh yang terkait evaluasi melalui soal latihan. Pembelajaran konvensional pada umumnya mengutamakan hapalan dari pembahasan, menekankan keterampilan berhitung, mengutamakan hasil dari pada proses dan pengajaran yang berpusat pada guru. dengan kata lain siswa cenderung pasif, kebanyakan siswa hanya mendengar dan menulis. Dengan menggunakan pembelajaran konvensional ini guru memberikan materi melalui ceramah, latihan soal kemudian pemberian tugas.
Ceramah merupakan salah satu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seseorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan. Kegiatan berpusat pada penceramah dan komunikasi searah dari pembaca kepada pendengar. Penceramah mendominasi seluruh kegiatan, sedang pendengar hanya memperhatikan dan membuat catatan seperlunya.
Gambaran pembelajaran matematika dengan pembelajaran konvensional adalah sebagai berikut: Guru mendominasi kegiatan pembelajaran penurunan rumus atau pembuktian dalil dilakukan sendiri oleh guru, contoh-contoh soal diberikan dan dikerjakan pula sendiri oleh guru. Langkah-langkah guru diikuti dengan teliti oleh peserta didik. Mereka meniru cara kerja dan cara penyelesaian yang dilakukan oleh guru.
Kelemahan dari pembelajaran konvensional antara lain:
1.         Pelajaran berjalan membosankan, peserta didik hanya aktif membuat catatan saja.
2.         Kepadatan konsep-konsep yang diajarkan dapat berakibat peserta didik tidak mampu   menguasai bahan yang diajarkan.
3.         Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan.
4.         Ceramah menyebabkan belajar peserta didik menjadi benar menghafal yang tidak menimbulkan pengertian.
Kelebihan dari pembelajaran konvensional adalah peserta didik lebih memperhatikan guru dan pandangan peserta didik hanya tertuju pada guru.
Lisnawati (2007 : 62), yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam penelitiannya mengatakan bahwa, pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu meningkatkan hasil belajar matematika di kelas tempat penelitian ini dilaksanakan. Dan st. Qadriah Abdullah (2010 : 68), yang juga  menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam penelitiannya mengatakan bahwa, pembelajaran matematika menggunakan  model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu memperbaiki kualitas belajar matematika di kelas tempat penelitian ini dilaksanaka. Dilihat dari rata-rata ketuntasan hasil belajar yang dicapai selama pelaksanaan pembelajaran.
Rusli (2006 : 57), yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam penelitiannya mengatakan bahwa, pembelajaran matematika menggunakan  model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu mengefektifkan pembelajaran matematika di kelas tempat penelitiannya dilaksanaka. Serta Nurlina (2010 : 71), yang juga  menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam penelitiannya mengatakan bahwa, dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu meningkatkan hasil belajar matematika di kelas tempat penelitian ini dilaksanaka.
B.     MATERI AJAR
Menentukan Akar Penyelesaian SPLDV
Ada beberapa cara untuk melaksanakan sistem persamaan linear dua variabel, yaitu sebagai berikut :
  1. Menyelesaikan SPLDV dengan metode grafik
Contoh : Tentukan himpunan penyelesaian persamaan berikut dengan metode grafik?
x + y = 3 dan x – y = 1
Misalkan x = 0 maka   x + y = 3     misalkan x = 0 maka        x – y = 1
                                    0 + y = 3                                              0 – y = 1
                                             y = 3    ( 0,3 )                                     - y = 1
                                                                                                y = 1 (0.1)
Misalkan y = 0 maka         x + y = 3     misalkan y = 0 maka        x – y = 1
                                          x + 0 = 3                                              x – 0 = 1
                                            x = 3    ( 3,0 )                                                 x = 1
                                                                                                        x = 1 (1.0)



  1. Menyelesaikan persamaan dengan metode subtitusi
Contoh :
Selesaikanlah persamaan berikut dengan metode subtitusi
2x + y = 5 dan y = 3x
Penyelesaian :
 y = 3x, berarti y pada persamaan 2x + y = 5 dapat disubtitusikan dengan 3x. hasilnya dapat di peroleh sebagai berikut :
2x + y           = 5
2x + 3x         = 5
5x                 = 5
x                   = 1
Karena x = 1 maka dapat disubtitusikan pada y = 3x. hasilnya
y = 3x
y = 3 (1)
y = 3
Jadi, HP {(1,3)}
c.       Menyelesaikan sistem persamaan dengan metode eliminasi
Contoh ;
Dengan metode eliminasi selesaikanlah sistem persamaan berikut :
x + y = 5 dan x – y = 1
penyelesaian :
x + y = 5
x – y = 1 +
2x = 6
x = 3 dan            x + y    = 5
x – y    = 1 –
2y        = 4
y          = 2
Sehingga HP-nya adalah {(3,2)}
d.      Menyelesaika soal cerita yang berkaitan dengan sistem persamaan linear
Contoh :
Harga 2 pensil dan 1 buku adalah Rp 1.000,00. Jika harga buku Rp 400,00 lebih mahal dari harga pensil. Berapa harga masing-masing?
Penyelesaian :
Misalkan : harga sebuah buku = x dan harga sebuah pensil = y maka
2x + y = 1000 dan y = x + 400 diperoleh :
2x + y                       = 1000
2x + x + 400            = 1000
3x + 400                    = 1000
3x                            = 600
x                                = 200
untuk x = 200 maka
y       = x + 400
y       = 200 + 400
y       = 600
Jadi harga sebuh pensil Rp 200,00 dan harga sebuah buku Rp 600,00
C.    Kerangka Pikir
Berdasarkan kajian teori yang diuraikan di atas maka dapat dikemukakan kerangka pikir dalam penelitian ini bahwa prestasi belajar matematika dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah metode pembelajaran.
Model pembelajaran tipe Jigsaw adalah kegiatan pembelajaran dimana siswa bekerja secara bersama-sama, sehingga terjadi suatu interaksi baik dengan peserta didik, guru maupun media belajar. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung sebagian besar aktivitas yang ada di dalam kelas dilakukan oleh peserta sehingga konsep materi ditanamkan sendiri oleh siswa selama memecahkan masalah yang dihadapinya. Model pembelajaran Jigsaw mempunyai empat prisip utama : (1) Team/kelompok yang terdiri dari 4 - 5 anggota, (2) Masing-masing kelompok memilih tema materi dan membentuk tim ahli, (3) Diskusi pada tim ahli, (4) Anggota tim ahli kembali ke kelompok menyampaikan hasil diskusi. Dengan model pembelajaran kooperati tipe Jigsaw diharapkan prestasi belajar matematika yang dicapai akan menjadi lebih baik.
Adapun kelebihan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw diantaranya:
1.      Memberikan kesempatan yang lebih besar kepada guru dan siswa dalam memberikan dan menerima materi pelajaran yang sedang disampaikan.
2.      Guru dapatr memberikan seluruh kreativitas kemampuan melajar.
3.      Siswa dapat lebih komunikatif dalam menyampaikan kesulitan yang dihadapi dalam mempelajari materi.
4.      Siswa dapat termotivasi untuk mendukung dan menunjukkan minat terhadap apa yang dipelajari teman satu timnya.
Sedangkan belajar dengan pembelajaran konvensional adalah proses pembelajaran yang biasa dilakukan di Sekolah yaitu pembelajaran yang dimulai dengan pemberian materi selanjutnya diberikan contoh yang terkait evaluasi melalui soal latihan. Pembelajaran konvensional pada umumnya mengutamakan hapalan dari pembahasan, menekankan keterampilan berhitung, mengutamakan hasil dari pada proses dan pengajaran yang berpusat pada guru. Dengan membandingkan kedua pembelajaran pendekatan diatas, jelas bahwa pemberian pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar.
D.    Hipotesis Penelitian
Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pikir diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah “penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih efektif  dari pada pembelajaran konvensional terhadap pelajaran matematika pada siswa kelas VIII MTs Muhammadiyah Tallo Makassar”
Untuk keperluan pengujian statistiknya, maka hipotesis penelitian tersebut     dirumuskan sebagai berikut:
 H0 : μ1 = μ2  melawan H1 : μ1 > μ2
Keterangan:
μ1 = Parameter skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
μ2 = Parameter skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional











 
BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen (True Experimental) yang melibatkan dua kelompok yakni kelompok eksperimen dan kelompok pembanding (control)
B.     Desain Penelitian


R         X         O1
R                     O2
 
 
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara ramdom (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) disebut kolompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberikan perlakuan disebut kelompok control. Pengaruh adanya perlakuan adalah (O1 : O2) Dalam penelitian ini pengaruh perlakuan dianalisis dengan uji beda, pakai statistic t-test. Kalau terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen (O1)  dan kelompok kontrol (O2), maka perl­akuan yang diberikan berpengaruh secara signifikan.
C.    Variabel Penelitian
- 24 -
 
Penelitian ini menyelidiki satu variabel yaitu hasil belajar pada pokok bahasan yang akan diajarkan dengan dua perlakuan yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw  pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

D.    Defenisi Operasi Variabel
Model pembelajaran dalam penelitian ini adalah suatu cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat pelaksanaan pembelajaran. Yaitu terdiri dari model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk kelompok eksperimen dan pembelajaran konvensional untuk kelompok kontrol
Model pembelajaran kooperatif Jigsaw merupakan suatu tipe kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam suatu kelompok. Tiap kelompok bertangung jawab terhadap tugas yang diberikan dan mengajarkan hasil temuannya kepada kelompok lain. Tiap kelompok beranggotakan 4 sampai 6 siswa. Masing-masing kelompok yang mendapatkan tugas disebut ahli. Keahlian tersebut dapat diperoleh dari menawarkan bagian materi kepada anggota kelompok menurut kemampuan mereka, atau ditunjuk oleh guru sesuai dengan kemampuan kelompoknya. Masing-masing kelompok bertemu dalam suatu diskusi untuk membahas bagian materi yang ditugaskan. Setelah selesai berdiskusi kembali pada kelompoknya untuk menjelaskan pada temannya.
Pembelajaran konvensional adalah proses pembelajaran yang biasa dilakukan di Sekolah yaitu pembelajaran yang dimulai dengan pemberian materi selanjutnya diberikan contoh yang terkait evaluasi melalui soal latihan. Pembelajaran konvensional pada umumnya mengutamakan hapalan dari pembahasan, menekankan keterampilan berhitung, mengutamakan hasil dari pada proses dan pengajaran yang berpusat pada guru. dengan kata lain siswa cenderung pasif, kebanyakan siswa hanya mendengar dan menulis..
E.     Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas VIII MTs Muhammadiyah Tallo Makassar tahun ajaran 2011/2012 dengan rincian VIII1, VIII2, VIII3. Kelas VIII1 sebanyak30 orang siswa dengan jumlah keseluruhan laki-laki, VIII2 sebanyak 33 orang siswa dengan jumlah keseluruhan perempuan, VIII3 sebanyak 28 orang siswa yang terdiri dari 18 orang laki-laki dan 10 orang perempuan.
Sampel pada penelitian ini adalah siswa Kelas, VIII2 sebagai kelas eksperimen dan VIII3 sebagai kkelas kontrol.
Tehnik pengambilam sample dalam penelitian ini adalah tehnik random sampling. Dari seluruh siswa kelas VIII MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang terdiri dari tiga kelas dirandom dan hanya diambil dua kelas untuk sample penelitian. Setelah terpilih dua kelas sebelumnya kemudian dirandom lagi  untuk menentukan kelas yang akan menjadi kelompok eksperimen dan kelompok control.
F.     Prosedur penelitian
Setelah menetapkan sampel, maka pelaksanaan eksperimen akan dilakukan dengan prosedur:
1.      Satu kelas yang terpilih sebagai kelas eksperimen diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan satu lagi yaitu kelas yang terpilih sebagai kelas kontrol yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada materi yang sama.
2.      Pelaksanaan penelitian (kegiatan belajar mengajar) dilaksanakan sebanyak 4 (empat) kali pertemuan. Waktu untuk setiap pertemuan disesuaikan dengan jadwal mata pelajaran sementara yang berlangsung pada lokasi sekolah tempat penelitian dilaksanakan.
3.      Dalam keseluruhan pelaksanaan penelitian yang dilakukan sebanyak 4 (empat) kali pertemuan. 3 (tiga) kali pertemuan digunakan penulis untuk memberikan/menyampaikan materi ajar sedangkan satu kali pertemuan sebagai pertemuan terakhir digunakan untuk memberikan tes hasil belajar matematika pada kedua kelompok tersebut.
G.    Instrumen Penelitian
Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah :
a.       Tes Hasil Belajar
Untuk memperoleh data tentang hasil belajar matematika siswa, digunakan satu perangkat alat instrumen tes hasil belajar yang dibuat sendiri oleh peneliti dengan bimbingan dosen pembimbing. tes ini gigunakan untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap materi setelah belajar dengan jangka waktu tertentu. bentuk teks yang digunakan adalah bentuk uraian. Namun sebelum tes hasi belajar dibuat, terlebih dahulu dibuatkan kisi-kisi agar masing-masing bagian dalam materi dapat terwakilkan secara proporsional dalam tes.
b.      Lembar Observasi
Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Komponen-komponen penilaian berkaitan dengan aktivitas siswa perhatian, kesungguhan, kedisiplinan, dan keterampilan siswa diantaranya sebagai berikut :
a.       Tugas dan reaksi tugas
1)      Keterampilan melaksanakan tugas belajar modul dirumah
2)      Keterampilan membuat rangkuman dari tugas yang diberikan
3)      Keterampilan membuatpertanyaan berkualitas yang dimunculkan ( jumlah pertanyaan )
4)      Keterampilan membuat daftar pertanyaan yang berkualitas
b.      Partisipasi dalam proses pembelajaran
1)      Keterampilan mengikuti jalannyapembelajaran ( proses kesiapan )
2)      K eterampilan mengungkapkan pendapat ( bertanya / menjawab pertanyaan )
3)      K eterampilan memecahkan masalah yang ada
c.       Partisipasi dalam proses pembelajaran
1)      Keterampilan bekerjasama dengan teman
2)      Keterampilan beradaptasi dengan teman
3)      Keterampilan dalam menjawab pertanyaan ( kesiapan )
4)      Keterampilan mengatasi masalah
5)      Keterampilan dalam memberi kesempatan teman kelompok untuk aktif
6)      Keterampilan berperan sebagai pemimpin dalam kelompok
d.      Menutup jalannya pembelajaran
1)      Keterampilan merangkum hasil pembelajaran
2)      Keterampilan menutup kegiatan
c.       Lembar Obsevasi Guru dalam Mengelolah Pelajaran
Instrumen ini digunakan untuk mengetahui kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran. Dalam penelitian ini aspek yang diamati adalah:
a.       Menyampaikan tujuan pembelajaran
b.      Memotivasi siswa
c.       Mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi prasyarat
d.      Mempresentasikan materi pokok yang mendukung tugas belajar kelompok
e.       Mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar.
d.      Angket Respon Siswa
Angket respon siswa dirancang untuk mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan. Aspek respon siswa menyangkut suasana dikelas, minat mengikuti pelajaran berikutnya, cara guru mengajar dan saran-saran.
H.      Teknik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, angket respon siswa, pemberian tes hasil belajar pada pokok bahasan yang diajarkan. Tes dilakukan secara serentak setelah eksperimen berakhir baik untuk kelas eksperimen maupun kelas control.


I.         Teknik Analisis Data
Data yang dikumpul dianalisis dengan menggunakan teknik statistik untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang telah diajukan. Pengelolahan yang dilakukan terdiri dari dua tahap, yaitu analisis instrumen dan tahap analisis penelitian.
Analisis data penelitian digunakan dua jenis statistik yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial.
              i.      Statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul untuk menganalisis data valiabel dalam kelompok tunggal dengan menggunakan tabel frekuensi, presentase rata-rata dan standar deviasi.
            ii.      Statistic inferensial digunakan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Untuk keperluan tersebut digunakan statistic uji –t  yang dirumuskan sebagai berikut :
            Dimana:          
Adapun kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori skor dalam setiap variable pada penelitian adalah kriteria yang berdasarkan kategorisasi stándar yang diterapkan oleh departemen pendidikan dan kebudayaan.
Tabel 3.1  kategorisasi stándar skor hasil belajar.
Skor Hasil Belajar
Kategorisasi
0 – 54
Sangat rendah
54 – 64
Rendah
64 – 79
Sedang
79 – 89
Tinggi
89 – 100
Sangat tinggi











 
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Analisis Statistika Deskriptif
Hasil analisis deskriptif menunjukkan deskripsi tentang karateristik distribusi skor hasil belajar dari masing-masing kelompok penelitian dan sekaligus jawaban atas masalah yang dirumuskan dalam penelitian.
1.      Tingkat Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Model Pembelajaran Kooperati Jigsaw.
Dari analisis deskriptif terhadap hasil belajar, banyaknya siswa yang mengikuti tes sebanyak 33 orang (kehadiran 100%) dapat dilihat pada table berikut;
TABEL 4.1 Deskripsi Skor Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Model Pembelajaran Kooperati tipe Jigsaw
Statistik
Nilai Statistik
Subjek
Skor Ideal
Skor tertinggi
Skor terendah
Rentang skor
Rata-rata skor
Standar Deviasi
33
100
100
35
65
72,64
17,823
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar, pada pokok bahasan SPLDV yang diajar denganpembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah 72,64 dari skor ideal 100. Skor tertinggi yang dicapai siswa adalah 100 dan skor terendah 35, dengan standar deviasi 17,823.  
Oval: 32Jika skor hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan  Model Pembelajaran Kooperatf  tipe Jigsaw dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi skor frekuensi dan persentase seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2 Distribusi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Model Pembelajaran Kooperatf tipe Jigsaw
No
Skor
Kategori
Frekuensi
Persentase
1.
2.
3.
4.
5.
0-54
55-64
65- 79
80- 89
90-100
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
6
1
8
4
5
18,18 %
3,03 %
 24,24 %
12,12 %
15,15 %
JUMLAH
33
100 %
Dari table 4.2 menunjukkan bahwa dari 33 siswa terdapat 6 orang yang hasil belajarnya tergolong sangat rendah atau 18,18%, 1 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong rendah atau 3,03%, 8 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong sedang atau 24,24%, 4 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong tinggi atau 12,12% dan 5 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong sangat tinggi atau 15,15%. Jika skor rata-rata belajar matematika siswa sebesar 72,64 dikonversikan kedalam lima kategori, maka skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas VIII2  MTs Muhammadiyah  Tallo Makassar tergolong sedang.
Frekuensi skor hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode pembelajaran  kooperatif tipe jigsaw dapat diamati dalam gambar histogram seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.1 berikut:
Gambar 4.1

Berdasarkan Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 dapat digambarkan bahwa dari 33 orang siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang dijadikan sampel penelitian untuk kelompok eksperimen, pada umumnya memiliki tingkat hasil belajar matematika dalam kategori sedang dengan skor rata-rata 72,64 dari skor ideal 100.
2.      Tingkat Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Pembelajaran Konvensional.
Hasil statistik yang berkaiatan dengan skor hasil belajar matematika yang diajar dengan  Pembelajaran Konvensional disajikan dalam tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3 Deskriptif Skor Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Pembelajaran Konvensional
Statistik
Nilai Statistik
Subjek
Skor Ideal
Skor tertinggi
Skor terendah
Rentang skor
Rata-rata skor
Standar Deviasi
28
100
89
30
59
62,11
17,637

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas VIII3 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar, pada pokok bahasan SPLDV yang diajar dengan pembelajaran konvensional adalah 62,11 dari skor ideal 100. Skor tertinggi yang dicapai siswa adalah 89 dan skor terendah 30, dengan standar deviasi 16,637.  
Jika skor hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan  Model Pembelajaran konvensional dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi skor frekuensi dan persentase seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4 Distribusi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan  Pembelajaran Konvensional
No
Skor
Kategori
Frekuensi
Persentase
1.
2.
3.
4.
5.
0-54
55-64
65- 79
80- 89
90-100
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
10
4
9
4
1
35,71 %
14,28 %
 32,14 %
14,28 %
3,57 %
JUMLAH
28
100 %
Dari table 4.4 menunjukkan bahwa dari 28 siswa terdapat 10 orang yang hasil belajarnya tergolong sangat rendah atau 35,71%, 4 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong rendah atau 14,28%, 9 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong sedang atau 32,14%, 4 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong tinggi atau 14,28% dan 1 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong sangat tinggi atau 3,57%. Jika skor rata-rata belajar matematika siswa sebesar 62,11 dikonversikan kedalam lima kategori, maka skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas VIII3  MTs Muhammadiyah  Tallo Makassar tergolong rendah.
Frekuensi skor hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode pembelajaran  konvensional dapat diamati dalam gambar histogram seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.2 berikut:
Berdasarkan Tabel 4.3 dan Tabel 4.4 di atas, dapat digambarkan bahwa dari 28 orang siswa kelas VIII3 SMP MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang dijadikan sampel penelitian untuk kelompok kontrol, pada umumnya memiliki tingkat hasil belajar matematika dalam kategori rendah dengan skor rata-rata 62,11 dari skor ideal 100.
B.     Hasil Analisis Statistika Inferensial
1.      Uji Normalitas
Uji Normalitas dilakukan terhadap nilai masing-masing kelompok dengan tujuan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak. Seluruh perhitungannya dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer dengan program Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 16 dengan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov. Hasil analisis nilai postest untuk kelas eksperimen menunjukkan nilai P-value yaitu 0,200  0,05 dan nilai posttest untuk kelas control menunjukan nilai  P-value yaitu 0,137  0,05 . Hal ini menunjukkan bahwa nilai posttest untuk kelas eksperimen dan kelas control termasuk kategori normal. Untuk data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran C hasil Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 16
2.      Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah beberapa varian data adalah sama atau tidak. Uji yang digunakan adalah uji kesamaan varian (homogenitas) dengan Levene’s Test.
Langkah-langkah uji homogenitas sebagai berikut:
a.       Menentukan kedua varians (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol) adalah sama (homogen) atau kedua varians (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol) adalah berbeda (heterogen).
b.      Kriteria pengujian (berdasar probabilitas/signifikansi)
1.      Jika p-value ≥ 0,05 maka kedua varians adalah sama.
2.      Jika p-value < 0,05 maka kedua varians adalah berbeda.
c.       Menarik kesimpulan
Oleh karena nilai P-Value > α yaitu  0,776 > 0,05  maka dapat disimpulkan bahwa kedua varians sama (varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sama). Untuk data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran C hasil Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 16.
3.      Uji Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan uji-T menggunakan Equal Variance Assumed (varian sama), dimana sebelumnya diadakan pengujian persyaratan hipotesis yang dirumuskan:
     
Dimana;
= Rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw
= Rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran Konvensional.
Langkah-langkah uji hipotesis
a.       Menentukan tingkat signifikansi
Pengujian menggunakan uji satu sisi (pihak kanan) dengan tingkat signifikansi atau . Tingkat signifikansi dalam hal ini berarti kita mengambil resiko salah dalam  mengambil keputusan untuk menolak hipotesis yang benar sebanyak-banyaknya 5%.
b.      Menentukan t hitung
Dari tabel hasil SPSS diperoleh nilai t hitung sebesar 2,310.
c.       Menentukan t tabel
Dengan menggunakan tingkat keyakinan (1 - α ) = 95% ,  = 5%, dan  dk = atau 33 + 28 – 2 = 59, hasil diperoleh untuk t tabel sebesar 1,671
d.      Kriteria pengujian
H0 diterima jika –t tabel < t hitung < t tabel
H0 ditolak jika -t hitung > t tabel
e.       Membandingkan t hitung dengan t tabel
Nilai t hitung > t tabel ( 1,738 > 1,68), maka H0 ditolak
f.       Menarik kesimpulan
Karena t hitung > t tabel (2,310 > 1,671), maka Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Untuk data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran C hasil Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 16.
C.    Aktivitas Siswa
1.      Pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran koperatif tipe Jigsaw.
a.       Persentase kehadiran siswa sebesar 86,88%
b.      Persentase siswa yang menjawab pertanyaan guru 63,64 %
c.       Persentase siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru 32,33 %
d.      Persentase siswa yang aktif dalam latihan terkontrol atau kerja kelompok 71.71 %
e.       Persentase siswa yang maju di depan kelas mengerjakan tugas mandiri 29,39%
f.       Persentase siswa yang membuat rangkuman materi yang telah di ajarkan 81,81%
g.      persentase siswa yang mengerjakan PR 83,84%
h.      secara umum rata-rata persentase aktivitas siswa adalah sebesar 64,07%.
2.      Pembelajaran melalui penerapan pembelajaran konvensional
a.       Persentase kehadiran siswa sebesar 80,96%
b.      Persentase siswa yang menjawab pertanyaan guru 34,54 %
c.       Persentase siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru 42,85 %
d.      Persentase siswa yang aktif dalam latihan terkontrol atau kerja kelompok 22.5 %
e.       Persentase siswa yang maju di depan kelas mengerjakan tugas mandiri 14,28%
f.          Persentase siswa yang membuat rangkuman materi yang telah di ajarkan 65,36%
g.      Persentase siswa yang mengerjakan PR 20,25%
h.      Secara umum rata-rata persentase aktivitas siswa adalah sebesar 40,11%.

D.    Respon Siswa
1.      Pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran koperatif tipe jigsaw.
a.       Persentase siswa yang senang belajar secara kelompok sebesar 87,88%.
b.      Persentase siswa yang senang dengan adanya pembelajaran jigsaw 81,82%.
c.       Persentase siswa yang setuju jika pembelajaran berikutnya guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jgsaw 81,82%.
d.      Persentase siswa yang merasa ada kemajuan setelah pembelajaran  dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sebesar 84,85%.
e.       Persentase siswa yang senag dengan berikannya penghargaan kelompok sebesar 90,91%.
f.       Persentase siswa yang suka dengan cara guru mengajar sebesar 100%.
g.      Secara umum persentase respon siswa sebesar 87,88%.
2.      Pembelajaran melalui penerapan pembelajaran konvensional
a.       Persentase siswa yang merasa belajar perorangan 82,14%.
b.      Persentase siswa yang senang dengan pembelajaran yang diterapkan di kelas sebesar 53,57%.
c.       Persentase siswa yang setuju jika pembelajaran berikutnya guru menerapkan pembelajaran konvensional sebesar 50%.
d.      Persentase siswa yang merasa ada kemajuan setelah pembelajaran  dengan metode ekspositori sebesar 100%.
e.       Persentase siswa yang suka dengan cara guru mengajar sebesar 100%.
f.       Secara umum persentase respon siswa sebesar 77,14%.
E.            Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan  hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Hal ini dapat dilihat dari tabel hasil analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial pada lampiran C, baik pada kelompok eksperimen maupun pada kelompok kontrol.
Hasil analisis dekskriptif menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar   yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada pokok bahasan SPLDV berada pada kategori sedang  yaitu terdapat 18,18% tergolong sangat rendah, 3,03% tergolong rendah, 24,24%,  tergolong sedang, dan 12,12%. tergolong tinggi dan 15,15% tergolong sangat tinggi dengan standar deviasi 17,823
Sementara itu hasil analisis dekskriptif menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas VIII3 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar   yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada pokok bahasan SPLDV berada pada kategori rendah  yaitu terdapat 35,71% tergolong sangat rendah, 14,28% tergolong rendah, 32,14%,  tergolong sedang, 14,28%. tergolong tinggi, dan 3,57 tergolong sangat tinggi dengan standar deviasi 17,637.
Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada MTs Muhammadiyah Tallo Makassar, yaitu siswa dikatakan tuntas belajarnya jika hasil belajarnya telah mencapai skor 65 dan ketuntasan belajar klasikal tercapai jika 60% siswa telah mencapai skor 65, maka pada kelas eksperimen siswa yang mencapai ketuntasan belajar adalah sebanyak 26 orang dari jumlah keseluruhan 33 orang dengan persentase 78,78%. Adapun pada kelas kontrol siswa yang mencapai ketuntasan belajar adalah sebanyak 14 orang dari jumlah keseluruhan 28 orang dengan persentase 50%. Dari beberapa pemaparan di atas, maka dapat dilihat bahwa pembelajaran dengan menggunakan  model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan ketuntasan belajar individu maupun klasikal.
  Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional, dimana hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung > ttabel yaitu 2,310 > 1,671. Perbedaan ini juga dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar yang diperoleh oleh kedua kelompok dan ketuntasan belajar siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk siswa kelas VIII MTs Muhammadiyah Tallo Makassar lebih efektif daripada pembelajaran konvensional  untuk pokok bahasan SPLDV.





















  
 
BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa:
a)      Hasil belajar matematika siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw  berada dalam kategori sedang.
b)      Hasil belajar matematika siswa kelas VIII3 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan pembelajaran konvensional berada dalam kategori rendah.
c)      Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional.
B.     Saran
Setelah melihat hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penulis menyarankan bahwa:
a)     
   45
 
Kepada guru bidang studi matematika kiranya pembelajaran pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa, agar dapat diperhitungkan sebagai salah satu alternatif dalam proses belajar mengajar.
b)      Karena penulis tidak luput dari kesalahan dan masih adanya hal-hal yang belum terkontrol dengan baik, maka disarankan untuk mengadakan penelitian yang serupa atau relevan pelaksanaannya, dengan menggunakan waktu yang lebih banyak sehingga hasil analisis yang diharapkan lebih baik.























DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad. 1987. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Anita Lie. 2007. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo.

Arif Tiro Muhammad. 2000. Dasar-Dasar Statistika. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
Hudojo, Herman, 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang; IKIP Malang.
Ibrahim, M., Fida R., Nur, M. dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unasa Press.

Ikhanuddin Muhammad, 2010, Efektivitas Ppemebelajaran Matematika Kooperatif Jigsaw dan Teams Games (TGT) Ditinjau dari Kemampuan Awal Siswa Kelas VII SMP Negri se Kabupaten Sukoharjo , Tesis  (tidak Diterbitkan): Program Pascasarjana
Mulyasa, E, 2005,  Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Sagala, Syaiful, 2003, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta

Slameto. 2010. belajar dan factor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Sugiono, 2011.Metode Penelitian Pendidikan.Bandung: Alfabeta

Sahabuddin, 1999, Mengajar dan Belajar Dua Aspek dari Suatu Proses disebut Pendidikan, Makassar: Badan Penerbit UNM

Sahabuddin, 2007, Mengajar dan Belajar cetakan ketiga, Makassar: Badan Penerbit UNM

Sudjana, 1996, Metode Statistika, Bandung: Tarsito

Suherman Erman, dkk, 1992, Strategi Belajar Mengajar matematika, Jakarta: Universitas Terbuka Depdikbud
Suherman, Herman., dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

T Ruseffendi , 1994,  Materi Pokok Pendidikan Matematika III, Jakarta : Universitas Terbuka Depdikbud

Trianto. 2011. Mendesain Model pembelajaran Inovatif - progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.














LAMPIRAN A

SILABUS
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
DAFTAR HADIR













50
 







LAMPIRAN b

Tes Hasil Belajar
Kunci Jawaban Tes Hasil Belajar
Kisi-Kisi Tes Hasil Belajar








51
 
 






LAMPIRAN c

Data hasil Belajar
Hasil Analisis Deskriftif Hasil Belajar Siswa
Hasil Analisis Inferensial Hasil Belajar Siswa

















Oval: 52







- 7 -
 








LAMPIRAN D

lembar observasi guru
lembar observasi siswa
angket respon siswa











Oval: 53
 














LAMPIRAN E

PERSURATAN





                    





Oval: 54 


LAMPIRAN F

Hasil Pekerjaan Siswa






Tidak ada komentar:

Posting Komentar