BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan
kualitas sumber daya manusia Indonesia dewasa ini merupakan kebutuhan utama.
Hal ini penting dalam rangka memacu pertumbuhan pembangunan nasional. Sejarah
membuktikan bahwa bangsa yang miskin dengan sumber daya alam tetapi memiliki
keunggulan sumber daya manusia, berhasil menjadi negara yang makmur, kaya, dan
kuat. Sebaliknya bangsa yang kaya dengan sumber daya alam tetapi tidak
ditangani oleh sumber daya manusia yang berkualitas pada suatu saat akan
mengalami kekecewaan.
Pendidikan
merupakan salah satu aspek penting bagi pembangunan bangsa. Karena itu, hampir
semua bangsa menempatkan pembangunan pendidikan sebagai prioritas utama dalam
program pembangunan nasional. Sumber daya manusia yang bermutu merupakan produk
pendidikan, dan merupakan kunci keberhasilan pembangunan suatu negara. Berbagai
upaya sudah dilakukan pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan di
Indonesia. Khususnya pendidikan matematika, upaya-upaya yang telah dilakukan
antara lain melakukan perubahan kurikulum secara teratur, dengan maksud agar
isi kurikulum tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu
pengetahuan serta kebutuhan masyarakat yang berkembang dengan cepat.
Matematika
sebagai salah satu wahana pendidikan memegang peranan penting dalam
pengembangan sumber daya manusia sebagai alat penata nalar dan pembentuk
kepribadian peserta didik. Matematika sebagai ilmu dasar merupakan tiang
penopang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi suatu bangsa yang
ingin maju dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi perlu mempersiapkan
sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan matematika yang cukup.
Matematika
merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam meningkatkan kemampuan
intelektual siswa. Dengan belajar matematika, maka siswa dapat berfikir kritis,
terampil berhitung, memiliki kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep dasar
matematika pada pelajaran lain maupun pada matematika itu sendiri.
Oleh karena
pentingnya peranan matematika, maka peningkatan prestasi belajar matematika
siswa pada setiap jenjang pendidikan perlu mendapat perhatian yang serius. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa tujuan pendidikan nasional secara
totalitas belum tercapai sesuai dengan harapan. Salah satu indikator yang
mencerminkan keadaan tersebut adalah masih rendahnya daya serap murid terhadap
materi pelajaran dan masih rendahnya prestasi yang dicapai terutama untuk mata
pelajaran matematika.
Rendahnya hasil belajar siswa
pada mata pelajaran matematika merupakan salah satu bentuk permasalahan bagi
mutu pendidikan matematika saat ini, karena itu diperlukan upaya untuk
perbaikan di dalam proses pembelajaran matematika dan memerlukan perhatian yang
sungguh-sungguh untuk peningkatan hasil belajar matematika di setiap jenjang
pendidikan.
Dengan demikian,
pemilihan metode belajar mengajar matematika yang cocok untuk topik tertentu,
akan mengakibatkan proses belajar mengajar matematika berjalan dengan efektif
dan efisien. Dalam pembelajaran matematika banyak guru mengeluhkan rendahnya
kemampuan siswa dalam mengerjakan soal matematika. Hal ini dapat terlihat dari
banyaknya siswa membuat kesalahan dalam mengerjakan soal-soal dan rendahnya
hasil belajar siswa (nilai) yang diperoleh baik dalam ulangan harian maupun
ulangan semester. Seperti kebanyakan
sekolah pada umumnya, MTs Muhammadiyah Tallo Makassar juga mengalami hal yang sama bahwa
hasil belajar matematika siswa kurang efektif.
Berdasarkan hasil
wawancara dengan salah satu guru matematika kelas VIII MTs Muhammadiyah Tallo
Makassar mengatakan bahwa penyebab rendahnya prestasi belajar siswa adalah (1) kurangnya
variasi mengajar matematika (2) siswa belum terbiasa untuk belajar sendiri,
mereka cenderung belajar secara pasif, (3) buku pegangan mereka kurang
mendukung keterlaksanaan proses pembelajaran. Olehnya itu untuk meningkatkan
hasil belajar matematika siswa, salah satu model yang diharapkan dapat
memberikan solusi terhadap masalah tersebut adalah dengan banyak memberikan
masalah matematika untuk diselesaikan dengan banyak cara. Model yang dapat
digunakan untuk itu adalah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw.
Ikhanuddin
(2010:72), yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
dalam penelitiannya mengatakan bahwa, pembelajaran matematika menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu
memperbaiki kualitas pembelajaran matematika di kelas tempat penelitian ini
dilaksanakan. Dilihat dari rata-rara ketuntasan belajar yang dicapai selama
pelaksanaan pembelajaran
Pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw di anggap sebagai alternatif pemecahan masalah dalam
penelitian ini. Pembelajaran ini dapat menciptakan situasi yang mana keberhasilan
individu dipacu oleh masing-masing kelompok. Setiap siswa diajarkan untuk
bertanggung jawab terhadap sub materi yang akan di berikan kepadanya serta melatih
siswa untuk mampu bekerja sama dengan sistem pembagian tugas.
Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Jigsaw adalah salah satu model pembelajaran yang menuntut siswa
berperan aktif memahami dan mencari informasi tentang materi pelajaran, berbagi
pengetahuan dengan teman kelompok dan bertanggung jawab dalam keberhasilan
kelompoknya sehingga siswa nantinya dapat menyelesaikan masalah matematika yang
ada sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika.
Berdasarkan uraian
di atas maka penulis termotivasi melakukan penelitian tentang " Efektivitas Pembelajaran Matematika
Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada Siswa Kelas VIII
MTs Muhammadiyah Tallo Makassar”
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini yaitu:
1.
Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas VIII2
MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw?
2.
Bagaimana besar hasil belajar matematika siswa kelas
VIII3 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan
pembelajaran konvensional?
3.
Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw efektif digunakan dalam
pembelajaran matematika pada siswa kelas VIII2 MTs
Muhammadiyah Tallo Makassar ditinjau dari :
a.
Ketuntasan belajar siswa
b.
Aktifitas siswa dalam proses pembelajaran
c.
Keterlaksanaan kemampuan guru dalam mengelolah
pelajaran, dan
d.
Respon siswa yang positif terhadap pembelajaran
C. Tujuan Penelitian
Pada dasarnya penelitian
ini bertujuan adalah untuk mejawab masalah- masalah yang telah dirumuskan,
yaitu:
1.
Untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas
VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
2.
Untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas VIII3
MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan pembelajaran konvensional.
3.
Untuk mengetahui bahwa model pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw efektif dalam pembelajaran
matematika pada siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian
ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai bahan informasi dalam mengembangkan
ilmu pengetahuan agar model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mendapat
perhatian disekolah-sekolah dan sebagai bahan informasi bagi penulis
selanjutnya yang mempunyai kajian yang sama.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA FIKIR
A. Tinjauan
Pustaka
1. Hakikat
Belajar Matematika
Belajar merupakan hal yang kompleks karena
melibatkan ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Kompleksitas belajar
tersebut dapat berasal dari dua subjek yaitu guru dan siswa. ari segi siswa,
belajar dialami sebagai suatu proses, yakni proses mental dalam menghadapi
bahan pembelajaran dalam berbagai keadaan. Dari segi guru, proses belajar adalah perilaku belajar
tentang suatu hal. Belajar pada hakikatnya adalah suatu proses yang di tandai
dengan adanya perubahan pada individu baik dari bentuk perubahan pengetahuan,
pemahaman, sikap atau tingkah laku, keterampilan, kecakapan, mental, kemampuan
dan aspek-aspek lainnya yang ada pada individu belajar.
Belajar menurut Gredler (Sabahuddin, 2003:84) adalah
“proses yang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap”. Pendapat
ini sejalan dengan tuntutan dari kamus shorter oxford English dictionary yang
mengemukakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan dari bidang studi atau
pengajaran Sedangkan R. Gagne
(Slameto, 2010:13) mengemukakan dua defenisi belajar yaitu;
1.
Belajar adalah
suatu proses memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan,
dan tingkah laku;
2.
|
Belajar matematika pada dasarnya merupakan
proses yang diarahkan pada suatu tujuan. Tujuan belajar matematika dapat
dilihat dari kemampuan seseorang memfungsionalkan materi matematika yang
dipelajari, baik secara konseptual maupun secara praktis. Secara
konseptual dimaksudkan dapat mempelajari matematika lebih lanjut, sedangkan
secara praktis dimaksudkan menerapkan
matematika pada bidang-bidang lain.
Seseorang belajar
matematika jika pada diri orang tersebut terjadi perubahan tingkah laku yang berkaitan
dengan matematika. Misal, orang yang telah belajar matematika akan terjadi perubahan
dari tidak tahu menjadi tahu, dan mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Dari berbagai pendapat tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa belajar matematika adalah suatu usaha yang dilakukan
seseorang untuk mendapatkan informasi baru tentang matematika secara
berkesinambungan yang menyebabkan peningkatan atau pertambahan pengetahuan,
kecakapan, keterampilan, kemampuan mental yang dilihat dari hasil belajarnya
sehingga seseorang lebih mampu menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang
dihadapi dalam hidupnya.
2. Hakekat
Matematika
Matematika adalah
terjemahan dari Mathematics. Matematika lebih dari pada aritmetika,
yakni ilmu tentang kalkulasi / perhitungan. Ia lebih dari pada aljabar, yang
merupakan bahasan lambang, operasi dan relasi. Namun arti atau definisi yang
tepat dari matematik tidak dapat diterapkan secara eksak (pasti) dan singkat.
Matematika adalah cara/metode berpikir dan bernalar. Matematika dapat digunakan
untuk memutuskan apakah suatu ide itu benar atau salah, atau paling sedikit ada
kemungkinan benar.
Matematika adalah suatu medan eksplorasi dan penemuan, di situ setiap hari
ide-ide baru diketemukan. Matematika adalah cara berpikir yang digunakan untuk
memecahkan semua jenis persoalan di dalam sains, pemerintah, dan industri. Ia
adalah bahasa lambang yang dipahami oleh semua bangsa berbudaya di dunia. Ada
baiknya kita lihat beberapa pendapat para ahli tentang matematika Beberapa
pendapat para ahli mengenai pengertian matematika yang dikutip E. T Ruseffendi
(Materi Pokok Pendidikan Matematika III, 1994) antara lain :
Johnson dan Myklebust (1967: 244) menyatakan
bahwa, Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk
mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedang fungsi
teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir.
Kline (1981: 172)
menyatakan bahwa, Matematika merupakan bahasa simbolis dan ciri utamanya adalah
penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar
induktif.
Ada pendapat yang
mengatakan bahwa Matematika itu timbul karena pikiran-pikiran manusia yang
berhubungan dengan ide, proses dan penalaran yang terbagi menjadi empat wawasan
yang luas, yaitu aritmatika, aljabar, geometri dan analisis, dengan aritmatika
mencakup teori bilangan dan statistk.
Matematika selain
sebagai seni, kadangkala Matematika itu disebut
atunya ilmu (Mathematics is the Queen of Science), artinya antara
lain bahwa Matematika adalah bahasa yang tidak tergantung pada bidang studi
lain yang menggunakan simbol dan istilah yang cermat yang disepakati secara
universal sehingga mudah dipahami; kemudian merupakan ilmu deduktif yang tidak
menerima generalisasi yang didasarkan pada contoh-contoh, observasi, eksperimen
tetapi generalisasinya didasarkan pada pembuktian deduktif; kemudian struktur
yang terorganisasikan; dan Matematika sebagai pelayan ilmu.
Sedangkan menurut peneliti Matematika merupakan
bahasa simbolis yang bersifat universal yang digunakan manusia untuk memecahkan
jenis persoalan dalam ilmu pengetahuan dan menentukan kebenaran dalam ide-ide
yang mungkin bersifat kabur.
3. Pengertian
Efektivitas
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, efektivitas memiliki
arti keefektifan suatu (benda). Sedangkan Perrott (Sahabuddin, 2007: 51)
mengemukakan guru yang efektif adalah guru yang dapat menunjukkan kemampuan
menghasilkan Tujuan belajar yang telah direncanakan.
Menurut Marwani (Hamsuni Syam Tonra, 2010: 19)
efektivitas dapat diartikan sebagai
pencapaian suasana bagi manusia dalam mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan
menurut penulis efektivitas adalah tercapainya Tijuana pembelajaran yang telah direncanakan
sebelumnya.
4.
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif sebagai sebuah alternatif untuk model pembelajaran tradisioal yang
didasari pada keyakinan bahwa pembelajaran adalah semua efektivitas ketika peserta
didik terlibat secara efektif dalam berbagai ide/gagasan dan bekerja secara kooperatif
untuk melengkapi tugas-tugas akademik
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi atau
metode pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual.
Pembelajaran ini, secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling
mengasihi antara sesama siswa.
Pembelajaran kooperatif (cooperative Learning)
adalah salah satu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau
perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur
kerjasama yang teratur dalam kelompok. Yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk
pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivisme. Pembelajaran kooperatif
merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok. Setiap
siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda
(tinggi, sedang, dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal
dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan gender.
Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerjasama dalam menyelesaikan
permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka
mencapai tujuan pembelajaran. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap
siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami
materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum
selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Artzt
dan Newman (Trianto, 2011: 56) Menyatakan bahwa belajar kooperatif siswa
belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok
untuk mencapai tujuan bersama.
Jonhson & Johnson (Trianto, 2011: 57) menyatakan
bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan siswa untuk
meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara
berkelompok.
Berdasarkan
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model
pembelajaran dimana peserta didik saling kerjasama dalam kelompoknya dan saling
membantu dalam memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif siswa
juga dituntut untuk ikut bertanggungjawab terhadap keberhasilan kelompoknya.
Dengan
demikian pembelajaran kooperatif memungkinkan peserta didik belajar lebih
aktif, serta secara bertahap dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif adalah
suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. ,
Menurut Jonhson & Jonhson ( Trianto, 2011: 60 ) dan Sutton ( Trianto, 2011
: 60 ) ada lima elemen dalam pembelajaran kooperatif yaitu adanya: “(1) Saling
ketergantungan positif antara siswa, (2) Interaksi siswa yang semakin meningkat,
(3) Tanggung jawab individual, dan (4) Keterampilan interpersonal dan kelompok
kecil (5) Proses kelompok
Dalam pelaksanaan pembelajaran
kooperatif, ada empat metode yang biasa digunakan oleh guru dalam melaksanakan
pembelajaran kooperatif, yaitu: Metode STAD (Student Teams Achiement
Divisions), Metode Jigsaw (Rembuk Ahli), Metode GI (Group Investigation),
dan Metode Struktural.
Pada pembelajaran kooperatif
dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi
kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling
memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling
menilai kemampuan, dan peranan diri sendiri maupun orang lain.
Menciptakan suasana belajar
kooperatif bukan pekerjaan yang mudah. Untuk menciptakan suasana belajar
tersebut diperlukan pemahaman filosofis dan keilmuan yang cukup disertai
didekasi yang tinggi serta latihan yang cukup serius dan terus-menerus.
Secara umum langkah-langkah model
pembelajaran kooperatif terdiri atas 6 fase utama yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.1 Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif
|
FASE
|
TINGKAH LAKU
|
|
Fase -1
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa
|
Guru
menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin di capai pada pelajaran
tersebut dan memotivasi siswa
|
|
Fase
-2
Menyajikan
informasi
|
Guru
menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat
bacaan
|
|
Fase
-3
Mengorganisasikan
siswa kedalam kelompok belajar
|
Guru menjelaskan kepada siswa
bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok
agar melakukan transisi secara efisien
|
|
Fase -4
Membimbing kelompok bekerja
dan belajar
|
Guru
membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
|
|
Fase
-5
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah di pelajari oleh masing-masing kelompok dan
mempresentasikannya
|
|
Fase
-6
Memberi
penghargaan
|
Guru mencari cara untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
|
Trianto ( Ibrahim dkk, 2011: 66)
5.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
(rembuk ahli)
Pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Elliot Aronson dan
kawan-kawannya dari Universitas Texas
dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Melalui pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw (rembuk ahli) kelas dibagi menjadi beberapa tim yang
anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen.
Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks dan tiap siswa
bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki
tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan
selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut.
Kumpulan siswa seperti itu disebut “kelompok pakar” (expert group).
Selanjutnya, para siswa yang berada dalam kelompok
pakar kembali ke kelompok semula “home teams”, para siswa dievaluasi
secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari.
Berdasarkan uraian tersebut maka kedua
langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw akan diuraikan sebagai
berikut.
1.
Siswa dibagi atas beberapa kelompok ( tiap kelompok
anggotanya 5-6 orang
2.
Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk
teks yang telah dibagi-bagi dalam beberapa sub bab.
3.
Setiap anggota kelompok membaca sus bab yang ditugaskan
dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
4.
Anggota dalam kelompok lain yang telah mempelajari sus
bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
5.
Setiap kelompok ahli setelah kembali ke kelompok
asalnya bertugas mengajar teman-temannya.
6.
Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa dikenai
tagihan berupa tugas individu.
Hubungan antara
kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 1997):
Kelompok Asal
![]() |
Kelompok Ahli
Gambar 2.1.
Ilustrasi Kelompok Jigsaw
6. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran
konvensional adalah proses pembelajaran yang biasa dilakukan di Sekolah yaitu
pembelajaran yang dimulai dengan pemberian materi selanjutnya diberikan contoh
yang terkait evaluasi melalui soal latihan. Pembelajaran konvensional pada
umumnya mengutamakan hapalan dari pembahasan, menekankan keterampilan
berhitung, mengutamakan hasil dari pada proses dan pengajaran yang berpusat
pada guru. dengan kata lain siswa cenderung pasif, kebanyakan siswa hanya
mendengar dan menulis. Dengan menggunakan pembelajaran konvensional ini guru
memberikan materi melalui ceramah, latihan soal kemudian pemberian tugas.
Ceramah
merupakan salah satu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seseorang
kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan. Kegiatan berpusat pada penceramah dan komunikasi searah dari pembaca kepada
pendengar. Penceramah mendominasi seluruh kegiatan, sedang pendengar hanya
memperhatikan dan membuat catatan seperlunya.
Gambaran pembelajaran matematika dengan pembelajaran
konvensional adalah sebagai berikut: Guru mendominasi kegiatan pembelajaran
penurunan rumus atau pembuktian dalil dilakukan sendiri oleh guru,
contoh-contoh soal diberikan dan dikerjakan pula sendiri oleh guru.
Langkah-langkah guru diikuti dengan teliti oleh peserta didik. Mereka meniru
cara kerja dan cara penyelesaian yang dilakukan oleh guru.
Kelemahan dari pembelajaran konvensional
antara lain:
1.
Pelajaran
berjalan membosankan, peserta didik hanya aktif membuat catatan saja.
2.
Kepadatan
konsep-konsep yang diajarkan dapat berakibat peserta didik tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.
3.
Pengetahuan
yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan.
4.
Ceramah
menyebabkan belajar peserta didik menjadi benar menghafal yang tidak
menimbulkan pengertian.
Kelebihan dari pembelajaran konvensional
adalah peserta didik lebih memperhatikan guru dan pandangan peserta didik hanya
tertuju pada guru.
Lisnawati
(2007 : 62), yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam
penelitiannya mengatakan bahwa, pembelajaran matematika menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu meningkatkan hasil belajar matematika
di kelas tempat penelitian ini dilaksanakan. Dan st. Qadriah Abdullah (2010
: 68), yang juga menerapkan pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dalam penelitiannya mengatakan bahwa, pembelajaran
matematika menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu memperbaiki kualitas belajar
matematika di kelas tempat penelitian ini dilaksanaka. Dilihat dari rata-rata
ketuntasan hasil belajar yang dicapai selama pelaksanaan pembelajaran.
Rusli (2006
: 57), yang menerapkan pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dalam penelitiannya mengatakan bahwa, pembelajaran
matematika menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu mengefektifkan pembelajaran
matematika di kelas tempat penelitiannya dilaksanaka. Serta Nurlina (2010 : 71), yang juga menerapkan pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw dalam penelitiannya mengatakan bahwa, dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu meningkatkan hasil belajar matematika
di kelas tempat penelitian ini dilaksanaka.
B. MATERI AJAR
Menentukan Akar Penyelesaian SPLDV
Ada beberapa
cara untuk melaksanakan sistem persamaan linear dua variabel, yaitu sebagai
berikut :
- Menyelesaikan SPLDV dengan metode grafik
Contoh :
Tentukan himpunan penyelesaian persamaan berikut dengan metode grafik?
x + y = 3 dan x
– y = 1
Misalkan x = 0
maka x + y = 3 misalkan x = 0 maka x – y = 1
0 + y = 3 0
– y = 1
y = 3
( 0,3 ) - y = 1
y = 1 (0.1)
Misalkan y = 0
maka x + y = 3 misalkan y = 0 maka x – y = 1
x + 0
= 3 x
– 0 = 1
x =
3 ( 3,0 ) x = 1
x = 1
(1.0)
- Menyelesaikan persamaan dengan metode subtitusi
Contoh :
Selesaikanlah
persamaan berikut dengan metode subtitusi
2x + y = 5 dan y
= 3x
Penyelesaian :
y = 3x, berarti y pada persamaan 2x + y = 5
dapat disubtitusikan dengan 3x. hasilnya dapat di peroleh sebagai berikut :
2x + y = 5
2x + 3x = 5
5x = 5
x = 1
Karena x = 1
maka dapat disubtitusikan pada y = 3x. hasilnya
y = 3x
y = 3 (1)
y = 3
Jadi, HP {(1,3)}
c. Menyelesaikan sistem persamaan dengan metode
eliminasi
Contoh ;
Dengan metode
eliminasi selesaikanlah sistem persamaan berikut :
x + y = 5 dan x
– y = 1
penyelesaian :
x + y = 5
x – y = 1 +
2x = 6
x = 3 dan x + y = 5
x – y = 1 –
2y = 4
y = 2
Sehingga HP-nya
adalah {(3,2)}
d.
Menyelesaika
soal cerita yang berkaitan dengan sistem persamaan linear
Contoh :
Harga 2 pensil
dan 1 buku adalah Rp 1.000,00. Jika harga buku Rp 400,00 lebih mahal dari harga
pensil. Berapa harga masing-masing?
Penyelesaian :
Misalkan : harga
sebuah buku = x dan harga sebuah pensil = y maka
2x + y = 1000
dan y = x + 400 diperoleh :
2x + y = 1000
2x + x + 400 =
1000
3x + 400 = 1000
3x =
600
x = 200
untuk x = 200
maka
y = x + 400
y = 200 + 400
y = 600
Jadi harga sebuh
pensil Rp 200,00 dan harga sebuah buku Rp 600,00
C. Kerangka Pikir
Berdasarkan
kajian teori yang diuraikan di atas maka dapat dikemukakan kerangka pikir dalam
penelitian ini bahwa prestasi belajar matematika dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya adalah metode pembelajaran.
Model
pembelajaran tipe Jigsaw adalah kegiatan pembelajaran dimana siswa bekerja
secara bersama-sama, sehingga terjadi suatu interaksi baik dengan peserta
didik, guru maupun media belajar. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung
sebagian besar aktivitas yang ada di dalam kelas dilakukan oleh peserta
sehingga konsep materi ditanamkan sendiri oleh siswa selama memecahkan masalah
yang dihadapinya. Model pembelajaran Jigsaw mempunyai empat prisip utama : (1) Team/kelompok
yang terdiri dari 4 - 5 anggota, (2) Masing-masing kelompok memilih tema materi
dan membentuk tim ahli, (3) Diskusi pada tim ahli, (4) Anggota tim ahli kembali
ke kelompok menyampaikan hasil diskusi. Dengan model pembelajaran kooperati
tipe Jigsaw diharapkan prestasi belajar matematika yang dicapai akan menjadi
lebih baik.
Adapun kelebihan pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw diantaranya:
1.
Memberikan
kesempatan yang lebih besar kepada guru dan siswa dalam memberikan dan menerima
materi pelajaran yang sedang disampaikan.
2.
Guru
dapatr memberikan seluruh kreativitas kemampuan melajar.
3.
Siswa
dapat lebih komunikatif dalam menyampaikan kesulitan yang dihadapi dalam
mempelajari materi.
4.
Siswa
dapat termotivasi untuk mendukung dan menunjukkan minat terhadap apa yang
dipelajari teman satu timnya.
Sedangkan belajar dengan pembelajaran
konvensional adalah proses pembelajaran yang biasa dilakukan di Sekolah yaitu
pembelajaran yang dimulai dengan pemberian materi selanjutnya diberikan contoh
yang terkait evaluasi melalui soal latihan. Pembelajaran konvensional pada
umumnya mengutamakan hapalan dari pembahasan, menekankan keterampilan
berhitung, mengutamakan hasil dari pada proses dan pengajaran yang berpusat
pada guru. Dengan membandingkan kedua pembelajaran pendekatan
diatas, jelas bahwa pemberian pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe sebaiknya
dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar.
D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan
tinjauan pustaka dan kerangka pikir diatas, maka hipotesis penelitian ini
adalah “penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih
efektif dari pada pembelajaran
konvensional terhadap pelajaran matematika pada siswa kelas VIII MTs
Muhammadiyah Tallo Makassar”
Untuk keperluan pengujian statistiknya,
maka hipotesis penelitian tersebut
dirumuskan sebagai berikut:
H0 : μ1 = μ2 melawan H1 : μ1 > μ2
Keterangan:
μ1
= Parameter skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
μ2 = Parameter skor rata-rata hasil belajar
matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional
|
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen (True Experimental) yang melibatkan dua
kelompok yakni kelompok eksperimen dan kelompok pembanding (control)
B. Desain Penelitian
|
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang
masing-masing dipilih secara ramdom (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X)
disebut kolompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberikan perlakuan disebut
kelompok control. Pengaruh adanya perlakuan adalah (O1 : O2) Dalam penelitian ini pengaruh
perlakuan dianalisis dengan uji beda, pakai statistic t-test. Kalau terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok
eksperimen (O1) dan
kelompok kontrol (O2), maka perlakuan yang diberikan
berpengaruh secara signifikan.
C. Variabel Penelitian
|
D.
Defenisi Operasi
Variabel
Model pembelajaran dalam penelitian ini adalah suatu
cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat
pelaksanaan pembelajaran. Yaitu terdiri dari model pembelajaran kooperatif tipe
Jigsaw untuk kelompok eksperimen dan pembelajaran konvensional untuk kelompok
kontrol
Model pembelajaran kooperatif Jigsaw merupakan suatu
tipe kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam suatu kelompok. Tiap
kelompok bertangung jawab terhadap tugas yang diberikan dan mengajarkan hasil
temuannya kepada kelompok lain. Tiap kelompok beranggotakan 4 sampai 6 siswa. Masing-masing
kelompok yang mendapatkan tugas disebut ahli. Keahlian tersebut dapat diperoleh
dari menawarkan bagian materi kepada anggota kelompok menurut kemampuan mereka,
atau ditunjuk oleh guru sesuai dengan kemampuan kelompoknya. Masing-masing kelompok
bertemu dalam suatu diskusi untuk membahas bagian materi yang ditugaskan. Setelah selesai berdiskusi kembali pada
kelompoknya untuk menjelaskan pada temannya.
Pembelajaran konvensional adalah
proses pembelajaran yang biasa dilakukan di Sekolah yaitu pembelajaran yang
dimulai dengan pemberian materi selanjutnya diberikan contoh yang terkait
evaluasi melalui soal latihan. Pembelajaran konvensional pada umumnya
mengutamakan hapalan dari pembahasan, menekankan keterampilan berhitung,
mengutamakan hasil dari pada proses dan pengajaran yang berpusat pada guru.
dengan kata lain siswa cenderung pasif, kebanyakan siswa hanya mendengar dan
menulis..
E. Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah
seluruh siswa Kelas VIII MTs Muhammadiyah Tallo Makassar tahun ajaran 2011/2012
dengan rincian VIII1, VIII2, VIII3. Kelas VIII1 sebanyak30 orang siswa dengan jumlah keseluruhan laki-laki,
VIII2 sebanyak 33 orang siswa dengan
jumlah keseluruhan perempuan, VIII3 sebanyak 28 orang siswa yang terdiri dari 18 orang
laki-laki dan 10 orang perempuan.
Sampel pada penelitian ini adalah siswa
Kelas, VIII2
sebagai kelas eksperimen dan VIII3 sebagai kkelas kontrol.
Tehnik
pengambilam sample dalam penelitian ini adalah tehnik random sampling. Dari seluruh siswa kelas VIII MTs Muhammadiyah
Tallo Makassar yang terdiri dari tiga kelas dirandom dan hanya diambil dua
kelas untuk sample penelitian. Setelah terpilih dua kelas sebelumnya kemudian
dirandom lagi untuk menentukan kelas
yang akan menjadi kelompok eksperimen dan kelompok control.
F.
Prosedur penelitian
Setelah menetapkan sampel, maka pelaksanaan eksperimen
akan dilakukan dengan prosedur:
1.
Satu
kelas yang terpilih sebagai kelas eksperimen diajar dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan satu lagi yaitu kelas yang terpilih
sebagai kelas kontrol yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional
pada materi yang sama.
2.
Pelaksanaan
penelitian (kegiatan belajar mengajar) dilaksanakan sebanyak 4 (empat) kali
pertemuan. Waktu untuk setiap pertemuan disesuaikan dengan jadwal mata
pelajaran sementara yang berlangsung pada lokasi sekolah tempat penelitian
dilaksanakan.
3.
Dalam
keseluruhan pelaksanaan penelitian yang dilakukan sebanyak 4 (empat) kali
pertemuan. 3 (tiga) kali pertemuan digunakan penulis untuk
memberikan/menyampaikan materi ajar sedangkan satu kali pertemuan sebagai
pertemuan terakhir digunakan untuk memberikan tes hasil belajar matematika pada
kedua kelompok tersebut.
G. Instrumen Penelitian
Instrument yang
digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah :
a.
Tes Hasil Belajar
Untuk
memperoleh data tentang hasil belajar matematika siswa, digunakan satu perangkat
alat instrumen tes hasil belajar yang dibuat sendiri oleh peneliti dengan
bimbingan dosen pembimbing. tes ini gigunakan untuk mengukur tingkat penguasaan
terhadap materi setelah belajar dengan jangka waktu tertentu. bentuk teks yang
digunakan adalah bentuk uraian. Namun sebelum tes hasi belajar dibuat, terlebih
dahulu dibuatkan kisi-kisi agar masing-masing bagian dalam materi dapat
terwakilkan secara proporsional dalam tes.
b.
Lembar Observasi
Instrumen
yang digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa selama proses
pembelajaran berlangsung. Komponen-komponen penilaian berkaitan dengan
aktivitas siswa perhatian, kesungguhan, kedisiplinan, dan keterampilan siswa
diantaranya sebagai berikut :
a.
Tugas dan reaksi tugas
1)
Keterampilan melaksanakan tugas belajar
modul dirumah
2)
Keterampilan membuat rangkuman dari
tugas yang diberikan
3)
Keterampilan membuatpertanyaan
berkualitas yang dimunculkan ( jumlah pertanyaan )
4)
Keterampilan membuat daftar pertanyaan
yang berkualitas
b.
Partisipasi dalam proses pembelajaran
1)
Keterampilan mengikuti
jalannyapembelajaran ( proses kesiapan )
2)
K eterampilan mengungkapkan pendapat (
bertanya / menjawab pertanyaan )
3)
K eterampilan memecahkan masalah yang
ada
c.
Partisipasi dalam proses pembelajaran
1)
Keterampilan bekerjasama dengan teman
2)
Keterampilan beradaptasi dengan teman
3)
Keterampilan dalam menjawab pertanyaan (
kesiapan )
4)
Keterampilan mengatasi masalah
5)
Keterampilan dalam memberi kesempatan
teman kelompok untuk aktif
6)
Keterampilan berperan sebagai pemimpin
dalam kelompok
d.
Menutup jalannya pembelajaran
1)
Keterampilan merangkum hasil
pembelajaran
2)
Keterampilan menutup kegiatan
c.
Lembar Obsevasi Guru dalam Mengelolah
Pelajaran
Instrumen
ini digunakan untuk mengetahui kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran.
Dalam penelitian ini aspek yang diamati adalah:
a.
Menyampaikan tujuan pembelajaran
b.
Memotivasi siswa
c.
Mengaitkan materi yang akan dipelajari
dengan materi prasyarat
d.
Mempresentasikan materi pokok yang
mendukung tugas belajar kelompok
e.
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok
belajar.
d.
Angket Respon Siswa
Angket
respon siswa dirancang untuk mengetahui respon siswa terhadap model
pembelajaran yang diterapkan. Aspek respon siswa menyangkut suasana dikelas,
minat mengikuti pelajaran berikutnya, cara guru mengajar dan saran-saran.
H. Teknik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah lembar observasi, angket respon siswa, pemberian tes
hasil belajar pada pokok bahasan yang diajarkan. Tes dilakukan secara serentak
setelah eksperimen berakhir baik untuk kelas eksperimen maupun kelas control.
I.
Teknik
Analisis Data
Data yang dikumpul dianalisis
dengan menggunakan teknik statistik untuk menjawab rumusan masalah dan menguji
hipotesis yang telah diajukan. Pengelolahan yang dilakukan terdiri dari dua
tahap, yaitu analisis instrumen dan tahap analisis penelitian.
Analisis
data penelitian digunakan dua jenis statistik yaitu statistik deskriptif dan
statistik inferensial.
i.
Statistik
deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau
menggambarkan data yang telah terkumpul untuk menganalisis data valiabel dalam
kelompok tunggal dengan menggunakan tabel frekuensi, presentase rata-rata dan
standar deviasi.
ii.
Statistic
inferensial digunakan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya.
Untuk keperluan tersebut digunakan statistic uji –t yang dirumuskan sebagai berikut :

Dimana: 

Adapun kriteria
yang digunakan untuk menentukan kategori skor dalam setiap variable pada
penelitian adalah kriteria yang berdasarkan kategorisasi stándar yang
diterapkan oleh departemen pendidikan dan kebudayaan.
Tabel 3.1 kategorisasi stándar skor hasil belajar.
|
Skor Hasil Belajar
|
Kategorisasi
|
|
0 – 54
|
Sangat rendah
|
|
54 – 64
|
Rendah
|
|
64 – 79
|
Sedang
|
|
79 – 89
|
Tinggi
|
|
89 – 100
|
Sangat tinggi
|
|
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Analisis Statistika
Deskriptif
Hasil analisis deskriptif menunjukkan
deskripsi tentang karateristik distribusi skor hasil belajar dari masing-masing
kelompok penelitian dan sekaligus jawaban atas masalah yang dirumuskan dalam
penelitian.
1.
Tingkat
Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Model Pembelajaran Kooperati Jigsaw.
Dari analisis deskriptif terhadap hasil belajar,
banyaknya siswa yang mengikuti tes sebanyak 33 orang (kehadiran 100%) dapat dilihat
pada table berikut;
TABEL 4.1 Deskripsi Skor Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar
dengan Model Pembelajaran Kooperati tipe Jigsaw
|
Statistik
|
Nilai Statistik
|
|
Subjek
Skor Ideal
Skor tertinggi
Skor terendah
Rentang skor
Rata-rata skor
Standar Deviasi
|
33
100
100
35
65
72,64
17,823
|
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil
belajar siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar, pada
pokok bahasan SPLDV yang diajar denganpembelajaran kooperatif tipe jigsaw
adalah 72,64
dari skor ideal 100. Skor tertinggi yang dicapai
siswa adalah 100 dan skor terendah 35, dengan standar deviasi 17,823.
Tabel 4.2 Distribusi dan
Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Model
Pembelajaran Kooperatf tipe Jigsaw
|
No
|
Skor
|
Kategori
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
0-54
55-64
65-
79
80-
89
90-100
|
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
|
6
1
8
4
5
|
18,18
%
3,03
%
24,24 %
12,12
%
15,15
%
|
|
JUMLAH
|
33
|
100
%
|
||
Dari table 4.2 menunjukkan bahwa dari 33 siswa terdapat 6 orang yang
hasil belajarnya tergolong sangat rendah atau 18,18%, 1 orang siswa yang hasil
belajarnya tergolong rendah atau 3,03%, 8 orang siswa yang hasil belajarnya
tergolong sedang atau 24,24%, 4 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong tinggi
atau 12,12% dan 5 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong sangat tinggi
atau 15,15%. Jika skor rata-rata belajar matematika siswa sebesar 72,64
dikonversikan kedalam lima kategori, maka skor rata-rata hasil belajar
matematika siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar tergolong sedang.
Frekuensi skor hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dapat diamati
dalam gambar histogram seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.1 berikut:

Gambar 4.1
Berdasarkan Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 dapat digambarkan
bahwa dari 33 orang siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo
Makassar yang dijadikan sampel penelitian untuk kelompok eksperimen, pada
umumnya memiliki tingkat hasil belajar matematika dalam kategori sedang dengan
skor rata-rata 72,64 dari skor ideal 100.
2.
Tingkat
Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Pembelajaran Konvensional.
Hasil
statistik yang berkaiatan dengan skor hasil belajar matematika yang diajar
dengan Pembelajaran Konvensional disajikan
dalam tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3 Deskriptif Skor
Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Pembelajaran Konvensional
|
Statistik
|
Nilai Statistik
|
|
Subjek
Skor Ideal
Skor tertinggi
Skor terendah
Rentang skor
Rata-rata skor
Standar Deviasi
|
28
100
89
30
59
62,11
17,637
|
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil
belajar siswa kelas VIII3 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar, pada
pokok bahasan SPLDV yang diajar dengan pembelajaran konvensional adalah 62,11
dari skor ideal 100. Skor tertinggi yang dicapai
siswa adalah 89 dan skor terendah 30, dengan standar deviasi 16,637.
Jika skor hasil belajar matematika siswa yang diajar
dengan Model Pembelajaran konvensional dikelompokkan ke dalam lima
kategori, maka diperoleh distribusi skor frekuensi dan persentase seperti yang
ditunjukkan pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4 Distribusi dan
Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Pembelajaran Konvensional
|
No
|
Skor
|
Kategori
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
0-54
55-64
65-
79
80-
89
90-100
|
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
|
10
4
9
4
1
|
35,71
%
14,28
%
32,14 %
14,28
%
3,57
%
|
|
JUMLAH
|
28
|
100
%
|
||
Dari table 4.4 menunjukkan bahwa dari 28 siswa terdapat 10 orang yang
hasil belajarnya tergolong sangat rendah atau 35,71%, 4 orang siswa yang hasil
belajarnya tergolong rendah atau 14,28%, 9 orang siswa yang hasil belajarnya
tergolong sedang atau 32,14%, 4 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong tinggi
atau 14,28% dan 1 orang siswa yang hasil belajarnya tergolong sangat tinggi
atau 3,57%. Jika skor rata-rata belajar matematika siswa sebesar 62,11
dikonversikan kedalam lima kategori, maka skor rata-rata hasil belajar
matematika siswa kelas VIII3 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar tergolong rendah.
Frekuensi skor hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode pembelajaran
konvensional dapat diamati dalam gambar
histogram seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.2 berikut:

Berdasarkan Tabel 4.3 dan Tabel 4.4
di atas, dapat digambarkan bahwa dari 28 orang siswa kelas VIII3 SMP
MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang dijadikan sampel penelitian untuk kelompok
kontrol, pada umumnya memiliki tingkat hasil belajar matematika dalam kategori rendah
dengan skor rata-rata 62,11 dari skor ideal 100.
B.
Hasil Analisis Statistika
Inferensial
1. Uji Normalitas
Uji Normalitas dilakukan terhadap nilai
masing-masing kelompok dengan tujuan untuk mengetahui apakah populasi data
berdistribusi normal atau tidak. Seluruh perhitungannya dilakukan dengan
menggunakan bantuan komputer dengan program Statistical Product and Service
Solutions (SPSS) versi 16 dengan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov. Hasil
analisis nilai postest untuk kelas eksperimen menunjukkan nilai P-value
yaitu 0,200
0,05 dan nilai
posttest untuk kelas control menunjukan nilai
P-value
yaitu 0,137
0,05 . Hal ini
menunjukkan bahwa nilai posttest untuk kelas eksperimen dan kelas control
termasuk kategori normal. Untuk data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran C
hasil Statistical Package for Social
Science (SPSS) versi 16
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah
beberapa varian data adalah sama atau tidak. Uji yang digunakan adalah uji
kesamaan varian (homogenitas) dengan Levene’s Test.
Langkah-langkah uji homogenitas sebagai berikut:
a.
Menentukan
kedua varians (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol) adalah sama (homogen)
atau kedua varians (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol) adalah berbeda
(heterogen).
b.
Kriteria
pengujian (berdasar probabilitas/signifikansi)
1.
Jika
p-value ≥ 0,05 maka kedua varians adalah sama.
2.
Jika
p-value < 0,05 maka kedua varians adalah berbeda.
c.
Menarik
kesimpulan
Oleh
karena nilai P-Value > α
yaitu 0,776 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa kedua varians
sama (varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sama). Untuk data
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran C hasil Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 16.
3.
Uji
Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan
menggunakan uji-T menggunakan Equal
Variance Assumed (varian sama), dimana sebelumnya diadakan pengujian
persyaratan hipotesis yang dirumuskan:
Dimana;
Langkah-langkah uji hipotesis
a.
Menentukan tingkat signifikansi
Pengujian
menggunakan uji satu sisi (pihak kanan) dengan tingkat signifikansi
atau
. Tingkat signifikansi dalam hal ini berarti kita
mengambil resiko salah dalam mengambil
keputusan untuk menolak hipotesis yang benar sebanyak-banyaknya 5%.
b.
Menentukan t hitung
Dari
tabel hasil SPSS diperoleh nilai t hitung sebesar 2,310.
c.
Menentukan t tabel
Dengan
menggunakan tingkat keyakinan (1 - α )
= 95%
,
= 5%, dan dk =
atau 33 + 28 – 2 = 59, hasil diperoleh untuk t tabel
sebesar 1,671
d.
Kriteria pengujian
H0
diterima jika –t tabel < t hitung < t tabel
H0
ditolak jika -t hitung
> t tabel
e.
Membandingkan
t hitung dengan t tabel
Nilai t hitung > t tabel ( 1,738 > 1,68), maka H0
ditolak
f.
Menarik kesimpulan
Karena t hitung > t tabel (2,310 > 1,671), maka Ho
ditolak. Hal ini berarti bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajar
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik
dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran
konvensional. Untuk data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran C
hasil Statistical Package for Social
Science (SPSS) versi 16.
C.
Aktivitas Siswa
1.
Pembelajaran melalui penerapan
model pembelajaran koperatif tipe Jigsaw.
a. Persentase kehadiran siswa sebesar 86,88%
b. Persentase siswa yang menjawab pertanyaan guru 63,64
%
c. Persentase siswa yang mengajukan pertanyaan kepada
guru 32,33 %
d. Persentase siswa yang aktif dalam latihan terkontrol
atau kerja kelompok 71.71 %
e. Persentase siswa yang maju di depan kelas
mengerjakan tugas mandiri 29,39%
f. Persentase siswa yang membuat rangkuman materi yang
telah di ajarkan 81,81%
g. persentase siswa yang mengerjakan PR 83,84%
h. secara umum rata-rata persentase aktivitas siswa
adalah sebesar 64,07%.
2.
Pembelajaran melalui penerapan
pembelajaran konvensional
a. Persentase kehadiran siswa sebesar 80,96%
b. Persentase siswa yang menjawab pertanyaan guru 34,54
%
c. Persentase siswa yang mengajukan pertanyaan kepada
guru 42,85 %
d. Persentase siswa yang aktif dalam latihan terkontrol
atau kerja kelompok 22.5 %
e. Persentase siswa yang maju di depan kelas
mengerjakan tugas mandiri 14,28%
f. Persentase
siswa yang membuat rangkuman materi yang telah di ajarkan 65,36%
g. Persentase siswa yang mengerjakan PR 20,25%
h. Secara umum rata-rata persentase aktivitas siswa
adalah sebesar 40,11%.
D.
Respon Siswa
1.
Pembelajaran melalui penerapan
model pembelajaran koperatif tipe jigsaw.
a. Persentase siswa yang senang belajar secara kelompok
sebesar 87,88%.
b. Persentase siswa yang senang dengan adanya pembelajaran
jigsaw 81,82%.
c. Persentase siswa yang setuju jika pembelajaran
berikutnya guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jgsaw 81,82%.
d. Persentase siswa yang merasa ada kemajuan setelah
pembelajaran dengan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw sebesar 84,85%.
e. Persentase siswa yang senag dengan berikannya
penghargaan kelompok sebesar 90,91%.
f. Persentase siswa yang suka dengan cara guru mengajar
sebesar 100%.
g. Secara umum persentase respon siswa sebesar 87,88%.
2.
Pembelajaran melalui penerapan
pembelajaran konvensional
a. Persentase siswa yang merasa belajar perorangan
82,14%.
b. Persentase siswa yang senang dengan pembelajaran
yang diterapkan di kelas sebesar 53,57%.
c. Persentase siswa yang setuju jika pembelajaran
berikutnya guru menerapkan pembelajaran konvensional sebesar 50%.
d. Persentase siswa yang merasa ada kemajuan setelah
pembelajaran dengan metode ekspositori
sebesar 100%.
e. Persentase siswa yang suka dengan cara guru mengajar
sebesar 100%.
f. Secara umum persentase respon siswa sebesar 77,14%.
E.
Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan
hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar
matematika siswa. Hal ini dapat dilihat dari tabel hasil analisis statistik
deskriptif dan statistik inferensial pada lampiran C, baik pada kelompok
eksperimen maupun pada kelompok kontrol.
Hasil analisis
dekskriptif menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas
VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada pokok bahasan SPLDV berada pada
kategori sedang yaitu terdapat 18,18% tergolong sangat rendah, 3,03% tergolong
rendah, 24,24%, tergolong sedang, dan
12,12%. tergolong tinggi dan 15,15% tergolong sangat tinggi dengan standar
deviasi 17,823
Sementara itu hasil
analisis dekskriptif menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa
kelas VIII3 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional
pada pokok bahasan SPLDV berada pada kategori rendah yaitu terdapat 35,71% tergolong sangat rendah, 14,28% tergolong rendah,
32,14%, tergolong sedang, 14,28%.
tergolong tinggi, dan 3,57 tergolong sangat tinggi dengan
standar deviasi 17,637.
Berdasarkan
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada MTs Muhammadiyah Tallo
Makassar, yaitu siswa
dikatakan tuntas belajarnya jika hasil belajarnya telah mencapai skor 65 dan
ketuntasan belajar klasikal tercapai jika 60% siswa telah mencapai skor 65,
maka pada kelas eksperimen siswa yang mencapai ketuntasan belajar adalah
sebanyak 26 orang dari jumlah keseluruhan 33 orang dengan persentase 78,78%.
Adapun pada kelas kontrol siswa yang mencapai ketuntasan belajar adalah
sebanyak 14 orang dari jumlah keseluruhan 28 orang dengan persentase 50%. Dari
beberapa pemaparan di atas, maka dapat dilihat bahwa pembelajaran dengan
menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat
meningkatkan ketuntasan belajar individu maupun klasikal.
Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dengan siswa
yang diajar dengan pembelajaran konvensional, dimana hasil belajar siswa yang
diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang
diajar dengan pembelajaran konvensional. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung
> ttabel yaitu 2,310 > 1,671. Perbedaan ini juga dapat
dilihat dari rata-rata hasil belajar yang diperoleh oleh kedua kelompok dan
ketuntasan belajar siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunkan
model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk
siswa kelas VIII MTs Muhammadiyah Tallo Makassar lebih efektif daripada
pembelajaran konvensional untuk pokok
bahasan SPLDV.
|
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil analisis data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa:
a)
Hasil
belajar matematika siswa kelas VIII2 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar
yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berada dalam kategori sedang.
b)
Hasil
belajar matematika siswa kelas VIII3 MTs Muhammadiyah Tallo Makassar
yang diajar dengan pembelajaran konvensional berada dalam kategori rendah.
c)
Hasil
belajar matematika siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar
dengan pembelajaran konvensional.
B. Saran
Setelah melihat hasil
penelitian yang telah dilakukan, maka penulis menyarankan bahwa:
a)
|
b)
Karena
penulis tidak luput dari kesalahan dan masih adanya hal-hal yang belum
terkontrol dengan baik, maka disarankan untuk mengadakan penelitian yang serupa
atau relevan pelaksanaannya, dengan menggunakan waktu yang lebih banyak
sehingga hasil analisis yang diharapkan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 1987. Guru
Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Sinar Baru
Anita Lie. 2007. Cooperative Learning. Jakarta :
Grasindo.
Arif Tiro
Muhammad. 2000. Dasar-Dasar Statistika. Makassar:
Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
Hudojo, Herman, 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika.
Malang; IKIP Malang.
Ibrahim, M., Fida
R., Nur, M. dan Ismono. 2000. Pembelajaran
Kooperatif. Surabaya: Unasa Press.
Ikhanuddin Muhammad,
2010, Efektivitas Ppemebelajaran Matematika Kooperatif Jigsaw dan Teams Games
(TGT) Ditinjau dari Kemampuan Awal Siswa Kelas VII SMP Negri se Kabupaten Sukoharjo , Tesis (tidak Diterbitkan): Program Pascasarjana
Mulyasa, E, 2005, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya
Sagala, Syaiful, 2003, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung:
Alfabeta
Slameto.
2010. belajar dan factor-faktor yang
mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta
Sugiono, 2011.Metode Penelitian
Pendidikan.Bandung: Alfabeta
Sahabuddin,
1999, Mengajar dan Belajar Dua
Aspek dari Suatu Proses disebut Pendidikan, Makassar: Badan Penerbit
UNM
Sahabuddin, 2007, Mengajar dan Belajar cetakan ketiga, Makassar: Badan Penerbit UNM
Sudjana, 1996, Metode Statistika, Bandung: Tarsito
Suherman Erman, dkk, 1992, Strategi Belajar Mengajar matematika, Jakarta: Universitas
Terbuka Depdikbud
Suherman, Herman., dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
T Ruseffendi , 1994, Materi Pokok Pendidikan Matematika III,
Jakarta : Universitas Terbuka Depdikbud
Trianto. 2011. Mendesain Model
pembelajaran Inovatif - progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

LAMPIRAN A
SILABUS
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
DAFTAR HADIR
|
LAMPIRAN b
Tes Hasil Belajar
Kunci Jawaban Tes Hasil Belajar
Kisi-Kisi
Tes Hasil Belajar
|

LAMPIRAN c
Data hasil Belajar
Hasil Analisis
Deskriftif Hasil Belajar Siswa
Hasil Analisis
Inferensial Hasil Belajar Siswa
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
|
|||||||

LAMPIRAN D
lembar observasi guru
lembar observasi siswa
angket respon siswa
![]() |
|||
LAMPIRAN E


LAMPIRAN F
Hasil
Pekerjaan Siswa




Tidak ada komentar:
Posting Komentar