BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu
faktor yang dapat memacu proses perubahan dalam masyarakat dan mempengaruhi
kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam usaha
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, matematika yang merupakan
salah satu ilmu dasar yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan memegang
peranan penting, dan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan yang lain. Hal ini disebabkan oleh fungsi matematika sebagai sarana
berfikir logis, analitis dan sistematis.
Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai
objek kajian yang bersifat abstrak. Sifat abstrak itu menyebabkan banyak siswa
mengalami kesulitan yang dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran matematika,
dalam pelaksanaannya terlihat belum menggembirakan.
Sebagai tenaga pengajar/pendidik yang secara langsung
terlibat dalam proses belajar mengajar, maka guru memegang peranan penting
dalam menentukan peningkatan kualitas pembelajaran dan prestasi belajar yang
akan dicapai siswanya. Salah satu kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh
pendidik dalam hal ini adalah bagaimana mengajarkan matematika dengan baik agar
tujuan pengajaran dapat dicapai semaksimal mungkin. Dalam hal ini penguasaan
materi dan cara pemilihan pendekatan atau teknik pembelajaran yang sesuai
dengan tercapainya tujuan pengajaran. Demikian juga halnya dengan proses
pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, perlu disusun suatu strategi
agar tujuan itu tercapai dengan optimal. Tanpa suatu strategi yang cocok, tepat
dan jitu, tidak mungkin tujuan dapat tercapai (Sanjaya, 2005).
Pembelajaran yang selama ini dikenal adalah pembelajaran
yang berbasis konvensional, yaitu pembelajaran berpusat pada guru. Guru adalah satu-satunya sumber
informasi bagi siswa. Posisi siswa adalah pendengar dan hanya terkesan menjadi
penerima tanpa harus bertanya tentang proses tersebut. Gaya mengajar seperti
ini membuat kreatifitas siswa menjadi terhambat dan kebanyakan siswa mengalami
kesulitan dalam matematika dalam situasi kehidupan nyata.
Jenning dan Dunne (Suharta, 2004) mengatakan
bahwa, kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke
dalam situasi kehidupan nyata. Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah
karena pembelajaran matematika kurang bermakna. Guru dalam pembelajaran di
kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa
kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksikan
sendiri ide-ide matematika, sehingga anak cepat lupa dan tidak dapat
mengaplikasikan matematika.
Dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara
alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang
dipelajarinya, bukan ‘mengetahuinya’. Pembelajaran yang berorientasi target
penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi ‘mengingat’ jangka pendek,
tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang. Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita. Pendekatan
kontekstual adalah suatu pendekatan pengajaran yang dari karakteristiknya
memenuhi harapan tersebut agar dapat “menghidupkan” kelas secara maksimal (Nurhadi, 2004).
Tugas guru dalam kelas adalah membantu siswa dalam
mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi
daripada memberikan informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai suatu tim
yang bekerjasama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sesuatu yang
baru yakni pengetahuan dan keterampilan datang dari ‘menemukan sendiri’ bukan
dari ‘apa kata guru’. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan
pendekatan kontekstual. Kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar
pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna.
Kondisi pembelajaran matematika yang selama ini
berkembang dialami oleh sekolah-sekolah baik pendidikan dasar maupun pendidikan
menengah termasuk di MTs An-Nuriyah
Bontocini Kabupaten Jeneponto Kelas VIIA. Berdasarkan hasil
observasi dengan guru bidang studi matematika atas nama Sukmawati S.Pd yang
mengatakan bahwa hasil tes ulangan harian pertama pada siswa kelas VIIA
Tahun Ajaran 2011/2012 khususnya mata pelajaran matematika, setelah dirata-ratakan yaitu 53,67 sedangkan
nilai KKM yang harus dicapai siswa adalah 65. Di
samping itu, menurut guru mata pelajaran matematika siswa Kelas VII bahwa
rata-rata siswa menganggap sulitnya pelajaran matematika karena di dalamnya
banyak rumus-rumus yang harus dihafal dan kebanyakan materi dirasakan tidak
berkaitan dengan keseharian/dunia nyata mereka. Hal ini menunjukkan kualitas
pembelajaran matematika masih perlu untuk lebih ditingkatkan.
Mencermati masalah di atas, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tindakan kelas sebagai upaya meningkatkan kualitas
pembelajaran matematika melalui pendekatan kontekstual pada siswa Kelas VIIA MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto.
B. Masalah
Penelitian
1.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka
terdapat beberapa permasalahan yang perlu digaris bawahi sebagai berikut:
-
Siswa
mengalami kesulitan dalam belajar matematika.
-
Pembelajaran matematika di
kelas masih berjalan monoton.
-
Materi yang diajarkan kurang
berkaitan dengan keseharian mereka.
-
Rendahnya
nilai matematika yang dicapai siswa.
2.
Alternatif Pemecahan Masalah
Masalah
rendahnya kualitas pembelajaran matematika siswa kelas VIIA MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto akan
dipecahkan dengan mengunakan pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran
yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur dalam penelitian tindakan kelas.
3.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah kualitas
pembelajaran matematika siswa kelas VIIA MTs. An-Nuriyah Bontocini
Kabupaten Jeneponto akan mengalami peningkatan setelah diterapkan pendekatan
kontekstual ?”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian
tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui pembelajaran
dengan pendekatan kontekstual pada siswa Kelas VIIA MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto.
D. Manfaat
Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dalam
penelitian ini adalah:
1.
Bagi siswa,
hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika siswa.
2.
Bagi guru,
hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi guru bahwa pendekatan
kontekstual merupakan salah satu alternatif dalam pembelajaran matematika.
3.
Bagi sekolah,
hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan andil yang positif, minimal
sebagai informasi dan perbaikan pengembangan pengajaran matematika selanjutnya,
khususnya dalam memenuhi model pembelajaran yang lebih efektif dan juga dapat dijadikan suatu rekomendasi untuk perbaikan pembelajaran
matematika di MTs. Khususnya mengubah pembelajaran matematika yang selama ini lebih
banyak berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa.
4.
Bagi
peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta
pengalaman dalam melakukan penelitian tindakan kelas selanjutnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
TINDAKAN
A. Kajian
Pustaka
1.
Pembelajaran Matematika di SMP/MTs
Dalam Kurikulum KTSP, dikemukakan bahwa tujuan pendidikan
matematika adalah: (1) melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik
kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen,
menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi; (2) mengembangkan
aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan
mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi
dan dugaan, serta mencoba-coba; (3) mengembangkan kemampuan memecahkan masalah;
dan (4) mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi/mengkomunikasikan
kemampuan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta,
diagram, dalam menjelaskan gagasan. Selanjutnya, dikemukakan bahwa kemampuan
pemecahan masalah, penalaran, dan berkomunikasi merupakan kompetensi dasar yang
diharapkan tercapai melalui belajar matematika (Hadira dkk, 2006). Untuk mencapai
kompetensi tersebut guru harus menjabarkan kegiatan belajar mengajar dalam
bentuk silabus dan disesuaikan dengan kekhasan bahan ajar dengan
mempertimbangkan tingkat perkembangan berfikir siswa.
Untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, guru dalam hal ini
sebagai pengajar berperan penting dalam proses belajar mengajar, terutama dalam
pembelajaran yang mengarahkan pada aktivitas keseharian siswa atau dunia nyata
siswa.
Proses pembelajaran yang selama ini berlangsung di SMP/MTs sampai sekarang ini,
pada umumnya didominasi oleh guru, siswa dijadikan objek pembelajaran. Guru
berusaha memberikan informasi sebanyak-banyaknya, sehingga siswa tidak
mempunyai kesempatan yang cukup untuk merenungkan apa yang diberikan oleh guru,
dan yang penting bagi mereka adalah dapat menyelesaikan soal-soal berdasarkan
contoh-contoh yang diberikan, (Hadirah, 2006). Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah
suatu pendekatan pembelajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan itu.
Ada sejumlah alasan mengapa pembelajaran kontekstual
dikembangkan sekarang ini. Sejumlah alasan tersebut dapat dikemukakan sebagai
berikut: (1) Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus, penyusunan
buku pedoman guru, dan buku teks akan mendorong sebagian besar siswa untuk
tetap tertarik dan terlibat dalam kegiatan pendidikan; (2) Penerapan konteks
sosial dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman, dan buku teks yang
dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggota masyarakat
untuk mendiskusikan sebagian isu yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan
masyarakat; (3) Penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan keterampilan
komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa untuk secara penuh terlibat dalam
kegiatan pendidikan dan masyarakat; (4) penerapan konteks ekonomi akan
berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan sosial; (5) penerapan konteks
politik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang berbagai isu yang dapat
berpengaruh terhadap masyarakat (Nurhadi, 2004).
Fungsi mata pelajaran
matematika sebagai: alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut
hendaknya dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah.
Siswa diberi pengalaman
menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu
informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam
model-model matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau
uraian matematika lainnya.
Dalam pelajaran matematika,
para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang
sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek
(abstraksi).
Tujuan umum pembelajaran
matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah memberikan
penekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa. Penekanan pada
keterampilan dalam penerapan matematika, baik dalam kehidupan sehari-hari
maupun dalam membantu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.
Dua hal penting yang merupakan
bagian dari tujuan pembelajaran matematika adalah pembentukan sifat yaitu pola berpikir
kritis dan kreatif. Untuk pembinaan hal tersebut, kita perlu memperhatikan daya
imajinasi dan rasa ingin tahu dari anak didik kita. Dua hal itu harus dipupuk
dan ditumbuhkembangkan, siswa harus dibiasakan untuk diberi kesempatan bertanya
dan berpendapat, sehingga diharapkan proses pembelajaran matematika lebih
bermakna.
Dalam pembelajaran matematika
di sekolah, guru hendaknya memilih dan mengembangkan strategi, pendekatan,
metode dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara
mental, fisik, maupun sosial. Prinsip aktif inilah yang
diharapkan dapat menumbuhkembangkan sasaran pembelajaran matematika yang
kreatif dan kritis.
Berkaitan dengan uraian di atas, maka dalam penelitian
ini dilaksanakan pendekatan kontekstual di MTs dalam bentuk penelitian tindakan kelas, untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran
matematika melalui pembelajaran dengan pendekatan
kontekstual pada siswa kelas VIIA
MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto.
2.
Kualitas Pembelajaran Matematika
Kualitas pendidikan merupakan salah satu masalah yang sedang dihadapi oleh negara-negara berkembang,
termasuk Indonesia, selain masalah kuantitas, efektifitas, efisiensi, dan
masalah relevansi pendidikan. Komponen guru dan siswa merupakan dua subjek yang sangat menentukan
keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas. Guru merupakan subjek yang
merancang strategi sekaligus sutradara yang mengatur jalannya proses
pembelajaran di dalam kelas, termasuk mempersiapkan rencana pengajaran dengan
mempertimbangkan kurikulum, sarana dan prasarana yang ada. Sedangkan siswa
merupakan subjek yang harus memiliki kemampuan, motivasi dan kesiapan yang
memadai untuk belajar. Kualitas diartikan sebagai mutu, tingkat atau nilai
sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa
agar program pembelajaran tumbuh dan berkembang secara optimal.
Proses pendidikan merupakan
salah satu upaya terhadap pengembangan kemampuan dan perilaku manusia yang
melibatkan seluruh pengalaman hidup anak didik. Kemampuan berfikir seseorang
itu dipengaruhi oleh inteligensinya (Herman Hudoyo, 1990). Dengan demikian terlihat adanya kaitan antara inteligensi dengan
proses belajar. Suatu proses belajar adalah bagian kegiatan yang dilakukan
siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan hasil belajar adalah
kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya
(Sudjana, 1989). Dalam teori konstruktivisme, siswa lebih diberi tempat
ketimbang guru. Artinya, dalam proses pembelajaran, siswa merupakan pusat pembelajaran
(student center).
Menurut Fontana (Suherman, 2003) bahwa pembelajaran
merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar
tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam arti sempit, proses pembelajaran
adalah proses pendidikan dalam lingkungan persekolahan, sehingga arti proses
pembelajaran adalah proses sosialisasi individu siswa dengan lingkungan
sekolah, seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman sesama siswa. Proses disini
dimaksudkan sebagai kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran, hal
tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan
lingkungan yang kondusif. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh
peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik, maupun sosialnya (Mulyasa,
2002).
Lovitt dan Clarke (Suherman, 2003) mengemukakan bahwa
kualitas pembelajaran ditandai dengan lingkungan belajar yang dimulai dari mana
siswa berada mengenali bahwa siswa belajar dengan kecepatan yang berbeda, dan
cara yang berbeda, melibatkan siswa secara fisik dalam proses belajar dengan
meminta siswa untuk menvisualkan yang imajiner.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kualitas
pembelajaran matematika dapat diartikan sebagai mutu, tingkat atau nilai, yang
meliputi kualitas proses dan kualitas hasil sebagai upaya penataan lingkungan
yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dari segi proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila
seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat
secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, di
samping menunjukkan semangat belajar yang tinggi, dan
rasa percaya pada diri sendiri. Hal ini bisa dilihat dengan meningkatnya
kehadiran dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, sedangkan peningkatan
kualitas hasil belajar dapat diukur dengan tes atau ketuntasan belajar siswa
pada setiap akhir siklus.
3. Pembelajaran Dengan Setting Kooperatif
Salah satu model
pembelajaran yang dapat dikembangkan di sekolah-sekolah adalah pembelajaran
kooperatif. Ruang kelas merupakan salah satu tempat yang sangat baik untuk
kegiatan belajar kelompok. Di dalam ruang kelas, para siswa dapat diberi
kesempatan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan atau memecahkan
masalah secara bersama-sama. Para siswa diberi
kesempatan untuk mendiskusikan masalah, menentukan strategi pemecahannya dan
menghubungkan masalah tersebut dengan masalah-masalah lain yang telah
diselesaikan sebelumnya.
Kelompok atau team
dapat berkembang dengan sendirinya sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang
ingin dicapai. Metode kelompok ini dipakai dalam proses belajar mengajar agar
para siswa dapat bekerja sama untuk membahas dan memecahkan suatu masalah yang
kadang-kadang tidak dapat diselesaikan secara perorangan.
Pembelajaran
kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem
pengelompokkan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai
latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda
(heterogen).
Siswa
yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan atau
dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus
mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan
pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama
lain untuk mencapai suatu penghargaan bersama. Unsur-unsur dalam pembelajaran
kooperatif adalah sebagai berikut:
a)
Siswa dalam kelompok haruslah
beranggapan bahwa mereka "sehidup sepenanggungan".
b)
Siswa bertanggung jawab atas
segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
c)
Siswa harus melihat bahwa semua
anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d)
Siswa haruslah membagi tugas
dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
e)
Siswa akan dikenakan evaluasi
atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota
kelompok.
f)
Siswa berbagi kepemimpinan dan
membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g)
Siswa akan diminta
mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok
kooperatif.
4. Konsep
Dasar Pendekatan Kontekstual
a.
Contextual Teaching and
Learning (CTL) sebagai Suatu Pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL)
adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan
siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk
dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2005). Dengan
menerapkannya pada kehidupan sehari-hari maka mereka akan memperoleh makna yang
mendalam terhadap apa yang dipelajarinya.
Dari konsep
tersebut ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama, CTL menekankan kepada
proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar
diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam
konteks CTL tidak mengaharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan
tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, CTL mendorong untuk siswa
dapat menemukan hubungan antara materi dengan situasi kehidupan nyata, artinya
siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di
sekolah dengan kehidupan nyata.
Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat
menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat
memahami materi yang dipelajari, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu
dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan
konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Hasil pembelajaran
diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berfikir kritis
dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka
panjangnya. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa
manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya (Nurhadi, 2002).
Jadi jelas
bahwa penerapan pembelajaran kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang di
dalamnya siswa akan menjadi peserta aktif bukan hanya pengamat pasif, yang
bertanggung jawab terhadap belajarnya. Penerapan pembelajaran kontekstual akan
membantu guru untuk menghubungkan materi mata pelajaran dengan situasi dunia
nyata dan memotivasi siswa untuk membentuk hubungan antara pengetahuan dan
aplikasinya dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan
pekerja.
Dengan
demikian, siswa belajar diawali dengan pengetahuan, pengalaman, dan konteks
keseharian yang mereka miliki yang dikaitkan dengan konsep mata pelajaran yang
dipelajari di kelas, dan selanjutnya dimungkinkan untuk mengimplementasikannya
dalam kehidupan keseharian mereka.
Paris dan
Winograd (2001), Hammond dan Snyder (2001), Pierce dan Putnam (2001), serta Sers
dan Hers (2001) (dalam Upu, 2004) antara lain menyimpulkan bahwa
memungkinkan terjadinya proses belajar efektif yang di dalamnya siswa
dimungkinkan menerapkan pemahaman. Selain itu, kemampuan akademik siswa dalam
variasi konteks, di dalam maupun luar kelas, dalam menyelesaikan permasalahan
nyata atau yang disimulasikan baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok.
Selain itu, pengajaran kontekstual memberikan penekanan pada penggunaan
berfikir pemecahan masalah, transfer pengetahuan, pengumpulan, analisis, serta
sintesis informasi dan data dari berbagai sumber serta sudut pandang. Dalam
kaitannya dengan evaluasi, pengajaran kontekstual lebih menekankan pada authentic assessment yang diperoleh dari berbagai sumber dan
pelaksanaan menyatu atau terintegrasi dengan proses pembelajaran. Pembelajaran
matematika sebaiknya dilakukan dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya
kepada anak untuk mencoba menemukan sendiri melalui bantuan tertentu dari guru.
Matematisasi
dalam pembelajaran secara kontekstual merupakan proses yang sangat penting.
Berkaitan dengan hal ini, Freudental (Upu, 2004) mengemukakan dua
alasan yang sangat mendasar. Pertama, matematisasi
bukan hanya merupakan aktivitas ahli matematika saja, melainkan juga aktivitas
siswa dalam memahami situasi sehari-hari. Oleh karena itu, matematika harus
dipelajari oleh siswa melalui objek-objek yang mereka sudah kenal. Kedua, matematisasi berkaitan erat dengan
penemuan kembali (reinvention) ide
atau gagasan bagi siswa. Artinya siswa diarahkan seolah-olah menemukan kembali
suatu konsep dalam matematika.
a.
Penerapan Pendekatan
Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika
Ada tujuh komponen
utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas.
Ketujuh komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1)
Konstruktivisme (Contructivism)
Konstruktivisme
merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas (sempit). Pengetahuan bukanlah seperangkat
fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia
harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman
nyata.
Siswa perlu dibiasakan untuk
memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut
dengan ide-ide. Siswa harus mengkontruksikan pengetahuan di benak mereka
sendiri. Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses
‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’.
2) Penemuan (Inquiry)
Penemuan merupakan bagian inti dari
kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang
diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta,
tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam kegiatan pembelajaran siswa
diarahkan pada penemuan agar siswa mampu memahami materi yang diberikan dan
bukan menghafal.
3)
Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang
selalu bermula dari ‘bertanya’. Questioning
(bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual.
Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong,
membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya
merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi,
mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada
aspek yang belum diketahuinya.
4)
Masyarakat Belajar (Learning
Community)
Dalam masyarakat
belajar hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.
Hasil belajar diperoleh dari sharing
antara teman, kelompok, dan antara mereka yang tahu kepada yang belum tahu.
Hal ini mendorong kerjasama siswa dalam belajar karena suatu masalah tidak
dapat dipecahkan sendiri akan tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Kerjasama inilah yang dibutuhkan untuk
saling memberi dan menerima dalam memecahkan suatu permasalahan.
5)
Pemodelan (Modeling)
Pembelajaran
kontekstual dengan modeling maksudnya
adalah sebuah pembelajaran atau keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada
model yang biasa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang
dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk
belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan.
Dengan kata lain, model itu biasa berupa cara mengoperasikan sesuatu, dengan
begitu guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”.
6)
Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang
apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah
kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan
atau pengetahuan yang baru saja diterima. Setiap berakhir proses pembelajaran,
guru memberi kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali
apa yang telah dipelajari oleh siswa. Siswa secara bebas menafsirkan
pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman
belajarnya.
7)
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic
Assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan
berbagai data yang biasa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa
memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data
yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam
belajar, maka guru segera mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas
kemacetan belajar tersebut.
Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus
diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses
pembelajaran.
B. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan
kajian pustaka maka hipotesis tindakan ini adalah sebagai berikut: Jika
digunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika maka kualitas
pembelajaran matematika siswa kelas VIIA MTs An-Nuriyah Bontocini
Kabupaten Jeneponto dapat meningkat.
BAB III
METODE
PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan secara bersiklus. Setiap
siklus terdiri atas 4 tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi
dan evaluasi, serta (4) refleksi.
B. Lokasi dan Subjek
Penelitian
Lokasi
penelitian ini adalah MTs An-Nuriyah
Bontocini Kabupaten Jeneponto, semester ganjil Tahun Ajaran 2011/2012 dan subjek penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas VIIA
sebanyak 26 orang siswa yang terdiri
dari 12 orang perempuan dan 14 orang laki-laki.
C.
Faktor yang Diselidiki
Faktor-faktor yang diselidiki adalah
sebagai berikut:
1. Faktor proses, yaitu dengan mengamati seluruh aktivitas siswa
selama proses pembelajaran berlangsung.
2. Faktor hasil, yaitu untuk melihat hasil belajar matematika
siswa yang diperoleh dari pemberian tes pada setiap akhir siklus.
D.
Prosedur Penelitian
Prosedur kerja dari penelitian tindakan kelas ini dirancang atas dua
siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai.
Setiap siklus berlangsung selama 4 kali pertemuan, yang terdiri dari 3 kali
pertemuan untuk pelaksanaan tindakan (proses belajar mengajar) dan 1 kali
pertemuan untuk pemberian tes hasil belajar matematika (tes siklus) guna
mengetahui kemampuan siswa.
Gambaran siklus I
1.
Tahap
Perencanaan
Sebelum diadakan penelitian, terlebih dahulu
dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Mengkaji
landasan pustaka yang berkaitan dengan tema penelitian yang akan dilakukan.
b.
Menganalisis materi pelajaran
yang akan diajarkan dalam pelaksanaan tindakan.
c.
Mempelajari bahan yang
diajarkan dari berbagai sumber
d.
Membuat
skenario pembelajaran, buku siswa dan Lembar Kerja
Siswa (LKS) untuk pelaksanaan
tindakan dengan merujuk kepada pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning).
e.
Membuat
instrumen penelitian berupa tes hasil belajar untuk melakukan evaluasi di
setiap akhir siklus serta lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi
siswa di kelas saat proses pembelajaran berlangsung.
2.
Tahap Pelaksanaan
Tindakan
Pelaksanaan
tindakan setiap siklus dalam penelitian ini, mengikuti langkah-langkah/skenario
sebagai berikut:
a. Melaksanakan tindakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah
disiapkan.
b. Memantau dan mengobservasi tindakan yang dilaksanakan dengan
menggunakan lembar observasi atau pengamatan
c. Mengevaluasi hasil pemantauan
d. Mengadakan refleksi I
3.
Tahap
Observasi
Pelaksanaan
pengamatan akan dilakukan selama proses tindakan diberikan, dalam pelaksanaan, peneliti akan mengamati
seluruh aktivitas siswa dengan menggunakan lembar observasi.
Observasi dilakukan oleh peneliti dan observer pada saat kegiatan
belajar mengajar berlangsung. Data observasi yang diambil adalah kehadiran
siswa, perubahan sikap siswa, dan keaktifan siswa pada saat proses belajar
mengajar matematika melalui pendekatan kontekstual serta interaksi antara guru
dan siswa, dan interaksi antara siswa dan siswa.
4.
Tahap
Refleksi
Hasil yang telah diperoleh peneliti dari
pengamatan, baik berupa hasil evaluasi maupun data hasil observasi pada saat
dilaksanakan kegiatan pengajaran akan dianalisis dan digunakan sebagai acuan
bagi peneliti untuk perbaikan pada siklus berikutnya.
Gambaran Siklus II
Siklus II ini dilaksanakan 4 kali pertemuan. Pertemuan pertama sampai
pertemuan ketiga dialokasikan untuk proses belajar mengajar dan pertemuan
keempat untuk melaksanakan tes siklus II. Langkah-langkah yang dilakukan pada
siklus II ini relatif sama dengan perencanaan pelaksanaan dalam siklus I dengan
mengadakan beberapa perbaikan atau perubahan sesuai dengan kenyataan yang
ditemukan di lapangan. Siklus II ini merupakan lanjutan dari siklus I.
E. Instrumen dan Teknik
Pengumpulan Data
Adapun instrumen dan teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah
sebagai berikut:
1. Pedoman observasi, yaitu data mengenai seluruh aktivitas siswa dikumpulkan
melalui pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan
lembar observasi dan dianalisis secara kualitatif.
2. Tes, yaitu data mengenai
hasil belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes pada setiap akhir siklus dan dianalisis secara kuantitatif.
F.
Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dianalisis dengan
menggunakan statistik deskriptif. Sedangkan data hasil observasi dianalisis dengan kategorisasi
standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional
seperti pada tabel berikut:
Tabel 3.1 Teknik kategori standar
berdasarkan ketetapan Depdiknas
|
SKOR
|
KATEGORI
|
|
0
55
65
80
90
|
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi.
|
(http://digilib.Unnes.As.Id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASHO1b8/939e06b4.dir/doc.pdf.
Wardah,Tifa)
G.
Indikator Keberhasilan
Indikator
keberhasilan pelaksanaan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) ini adalah terjadinya peningkatan
kualitas pembelajaran matematika siswa kelas VIIA MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto dari
sebelum ke setelah digunakan pendekatan kontekstual yang
ditandai dengan meningkatnya skor rata-rata atau mean
dengan standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Siswa dikatakan tuntas belajar apabila memperoleh
skor minimal 65 dari skor ideal 100, dan tuntas belajar secara klasikal apabila
memperoleh skor 85% dari jumlah siswa telah tuntas belajar individu. Selain itu, dapat juga kita lihat dari aktivitas dan sikap siswa
yang semakin meningkat selama proses
belajar mengajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar