Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VIIA MTs AN-NURIYAH BONTOCINI KABUPATEN JENEPONTO



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu faktor yang dapat memacu proses perubahan dalam masyarakat dan mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, matematika yang merupakan salah satu ilmu dasar yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan memegang peranan penting, dan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang lain. Hal ini disebabkan oleh fungsi matematika sebagai sarana berfikir logis, analitis dan sistematis.
Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek kajian yang bersifat abstrak. Sifat abstrak itu menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan yang dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran matematika, dalam pelaksanaannya terlihat belum menggembirakan.
Sebagai tenaga pengajar/pendidik yang secara langsung terlibat dalam proses belajar mengajar, maka guru memegang peranan penting dalam menentukan peningkatan kualitas pembelajaran dan prestasi belajar yang akan dicapai siswanya. Salah satu kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh pendidik dalam hal ini adalah bagaimana mengajarkan matematika dengan baik agar tujuan pengajaran dapat dicapai semaksimal mungkin. Dalam hal ini penguasaan materi dan cara pemilihan pendekatan atau teknik pembelajaran yang sesuai dengan tercapainya tujuan pengajaran. Demikian juga halnya dengan proses pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, perlu disusun suatu strategi agar tujuan itu tercapai dengan optimal. Tanpa suatu strategi yang cocok, tepat dan jitu, tidak mungkin tujuan dapat tercapai (Sanjaya, 2005).
Pembelajaran yang selama ini dikenal adalah pembelajaran yang berbasis konvensional, yaitu pembelajaran berpusat pada guru. Guru adalah satu-satunya sumber informasi bagi siswa. Posisi siswa adalah pendengar dan hanya terkesan menjadi penerima tanpa harus bertanya tentang proses tersebut. Gaya mengajar seperti ini membuat kreatifitas siswa menjadi terhambat dan kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam matematika dalam situasi kehidupan nyata.
Jenning dan Dunne (Suharta, 2004) mengatakan bahwa, kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan nyata. Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna. Guru dalam pembelajaran di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksikan sendiri ide-ide matematika, sehingga anak cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika.
Dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahuinya’. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita. Pendekatan kontekstual adalah suatu pendekatan pengajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan tersebut agar dapat “menghidupkan”  kelas secara maksimal (Nurhadi, 2004).
Tugas guru dalam kelas adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberikan informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai suatu tim yang bekerjasama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sesuatu yang baru yakni pengetahuan dan keterampilan datang dari ‘menemukan sendiri’ bukan dari ‘apa kata guru’. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna.
Kondisi pembelajaran matematika yang selama ini berkembang dialami oleh sekolah-sekolah baik pendidikan dasar maupun pendidikan menengah termasuk di MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto Kelas VIIA. Berdasarkan hasil observasi dengan guru bidang studi matematika atas nama Sukmawati S.Pd yang mengatakan bahwa hasil tes ulangan harian pertama pada siswa kelas VIIA Tahun Ajaran 2011/2012 khususnya mata pelajaran matematika, setelah dirata-ratakan yaitu 53,67 sedangkan nilai KKM yang harus dicapai siswa adalah 65. Di samping itu, menurut guru mata pelajaran matematika siswa Kelas VII bahwa rata-rata siswa menganggap sulitnya pelajaran matematika karena di dalamnya banyak rumus-rumus yang harus dihafal dan kebanyakan materi dirasakan tidak berkaitan dengan keseharian/dunia nyata mereka. Hal ini menunjukkan kualitas pembelajaran matematika masih perlu untuk lebih ditingkatkan.
Mencermati masalah di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui pendekatan kontekstual pada siswa Kelas VIIA MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto.
B.     Masalah Penelitian
1.      Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka terdapat beberapa permasalahan yang perlu digaris bawahi sebagai berikut:
-          Siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika.
-          Pembelajaran matematika di kelas masih berjalan monoton.
-          Materi yang diajarkan kurang berkaitan dengan keseharian mereka.
-          Rendahnya nilai matematika yang dicapai siswa.
2.        Alternatif Pemecahan Masalah
Masalah rendahnya kualitas pembelajaran matematika siswa kelas VII­A MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto akan dipecahkan dengan mengunakan pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur dalam penelitian tindakan kelas.
3.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah kualitas pembelajaran matematika siswa kelas VIIA MTs. An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto akan mengalami peningkatan setelah diterapkan pendekatan kontekstual ?”
C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada siswa Kelas VIIA MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto.
D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagi siswa, hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika siswa.
2.      Bagi guru, hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi guru bahwa pendekatan kontekstual merupakan salah satu alternatif dalam pembelajaran matematika.
3.      Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan andil yang positif, minimal sebagai informasi dan perbaikan pengembangan pengajaran matematika selanjutnya, khususnya dalam memenuhi model pembelajaran yang lebih efektif dan juga dapat dijadikan suatu rekomendasi untuk perbaikan pembelajaran matematika di MTs. Khususnya mengubah pembelajaran matematika yang selama ini lebih banyak berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa.
4.      Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pengalaman dalam melakukan penelitian tindakan kelas selanjutnya.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.    Kajian Pustaka
1.      Pembelajaran Matematika di SMP/MTs
Dalam Kurikulum KTSP, dikemukakan bahwa tujuan pendidikan matematika adalah: (1) melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi; (2) mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba; (3) mengembangkan kemampuan memecahkan masalah; dan (4) mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi/mengkomunikasikan kemampuan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan. Selanjutnya, dikemukakan bahwa kemampuan pemecahan masalah, penalaran, dan berkomunikasi merupakan kompetensi dasar yang diharapkan tercapai melalui belajar matematika (Hadira dkk, 2006). Untuk mencapai kompetensi tersebut guru harus menjabarkan kegiatan belajar mengajar dalam bentuk silabus dan disesuaikan dengan kekhasan bahan ajar dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan berfikir siswa.
Untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, guru dalam hal ini sebagai pengajar berperan penting dalam proses belajar mengajar, terutama dalam pembelajaran yang mengarahkan pada aktivitas keseharian siswa atau dunia nyata siswa.
Proses pembelajaran yang selama ini berlangsung di SMP/MTs sampai sekarang ini, pada umumnya didominasi oleh guru, siswa dijadikan objek pembelajaran. Guru berusaha memberikan informasi sebanyak-banyaknya, sehingga siswa tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk merenungkan apa yang diberikan oleh guru, dan yang penting bagi mereka adalah dapat menyelesaikan soal-soal berdasarkan contoh-contoh yang diberikan, (Hadirah, 2006). Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan itu.
Ada sejumlah alasan mengapa pembelajaran kontekstual dikembangkan sekarang ini. Sejumlah alasan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks akan mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan terlibat dalam kegiatan pendidikan; (2) Penerapan konteks sosial dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman, dan buku teks yang dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggota masyarakat untuk mendiskusikan sebagian isu yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat; (3) Penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan masyarakat; (4) penerapan konteks ekonomi akan berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan sosial; (5) penerapan konteks politik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap masyarakat (Nurhadi, 2004).
Fungsi mata pelajaran matematika sebagai: alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut hendaknya dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah.
Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam model-model matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau uraian matematika lainnya.
Dalam pelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi).
Tujuan umum pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah memberikan penekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa. Penekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam membantu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.
Dua hal penting yang merupakan bagian dari tujuan pembelajaran matematika adalah pembentukan sifat yaitu pola berpikir kritis dan kreatif. Untuk pembinaan hal tersebut, kita perlu memperhatikan daya imajinasi dan rasa ingin tahu dari anak didik kita. Dua hal itu harus dipupuk dan ditumbuhkembangkan, siswa harus dibiasakan untuk diberi kesempatan bertanya dan berpendapat, sehingga diharapkan proses pembelajaran matematika lebih bermakna.
Dalam pembelajaran matematika di sekolah, guru hendaknya memilih dan mengembangkan strategi, pendekatan, metode dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial. Prinsip aktif inilah yang diharapkan dapat menumbuhkembangkan sasaran pembelajaran matematika yang kreatif dan kritis.
Berkaitan dengan uraian di atas, maka dalam penelitian ini dilaksanakan pendekatan kontekstual di MTs dalam bentuk penelitian tindakan kelas, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada siswa kelas VIIA MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto.
2.      Kualitas Pembelajaran Matematika
Kualitas pendidikan merupakan salah satu masalah yang sedang dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, selain masalah kuantitas, efektifitas, efisiensi, dan masalah relevansi pendidikan. Komponen guru dan siswa merupakan dua subjek yang sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas. Guru merupakan subjek yang merancang strategi sekaligus sutradara yang mengatur jalannya proses pembelajaran di dalam kelas, termasuk mempersiapkan rencana pengajaran dengan mempertimbangkan kurikulum, sarana dan prasarana yang ada. Sedangkan siswa merupakan subjek yang harus memiliki kemampuan, motivasi dan kesiapan yang memadai untuk belajar. Kualitas diartikan sebagai mutu, tingkat atau nilai sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program pembelajaran tumbuh dan berkembang secara optimal.
Proses pendidikan merupakan salah satu upaya terhadap pengembangan kemampuan dan perilaku manusia yang melibatkan seluruh pengalaman hidup anak didik. Kemampuan berfikir seseorang itu dipengaruhi oleh inteligensinya (Herman Hudoyo, 1990). Dengan demikian terlihat adanya kaitan antara inteligensi dengan proses belajar. Suatu proses belajar adalah bagian kegiatan yang dilakukan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 1989). Dalam teori konstruktivisme, siswa lebih diberi tempat ketimbang guru. Artinya, dalam proses pembelajaran, siswa merupakan pusat pembelajaran (student center).
Menurut Fontana (Suherman, 2003) bahwa pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam arti sempit, proses pembelajaran adalah proses pendidikan dalam lingkungan persekolahan, sehingga arti proses pembelajaran adalah proses sosialisasi individu siswa dengan lingkungan sekolah, seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman sesama siswa. Proses disini dimaksudkan sebagai kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran, hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik, maupun sosialnya (Mulyasa, 2002).
Lovitt dan Clarke (Suherman, 2003) mengemukakan bahwa kualitas pembelajaran ditandai dengan lingkungan belajar yang dimulai dari mana siswa berada mengenali bahwa siswa belajar dengan kecepatan yang berbeda, dan cara yang berbeda, melibatkan siswa secara fisik dalam proses belajar dengan meminta siswa untuk menvisualkan yang imajiner.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kualitas pembelajaran matematika dapat diartikan sebagai mutu, tingkat atau nilai, yang meliputi kualitas proses dan kualitas hasil sebagai upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dari segi proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan semangat belajar yang tinggi,  dan rasa percaya pada diri sendiri. Hal ini bisa dilihat dengan meningkatnya kehadiran dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, sedangkan peningkatan kualitas hasil belajar dapat diukur dengan tes atau ketuntasan belajar siswa pada setiap akhir siklus.
3.      Pembelajaran Dengan Setting Kooperatif
Salah satu model pembelajaran yang dapat dikembangkan di sekolah-sekolah adalah pembelajaran kooperatif. Ruang kelas merupakan salah satu tempat yang sangat baik untuk kegiatan belajar kelompok. Di dalam ruang kelas, para siswa dapat diberi kesempatan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan atau memecahkan masalah secara bersama-sama. Para siswa diberi kesempatan untuk mendiskusikan masalah, menentukan strategi pemecahannya dan menghubungkan masalah tersebut dengan masalah-masalah lain yang telah diselesaikan sebelumnya.
Kelompok atau team dapat berkembang dengan sendirinya sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Metode kelompok ini dipakai dalam proses belajar mengajar agar para siswa dapat bekerja sama untuk membahas dan memecahkan suatu masalah yang kadang-kadang tidak dapat diselesaikan secara perorangan.
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokkan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen).
Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan atau dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai suatu penghargaan bersama. Unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a)      Siswa dalam kelompok haruslah beranggapan bahwa mereka "sehidup sepenanggungan".
b)      Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
c)      Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d)     Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
e)      Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
f)       Siswa berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g)      Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
4.      Konsep Dasar Pendekatan Kontekstual
a.      Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai Suatu Pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2005). Dengan menerapkannya pada kehidupan sehari-hari maka mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya.
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengaharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, CTL mendorong untuk siswa dapat menemukan hubungan antara materi dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajari, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berfikir kritis dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya (Nurhadi, 2002).
Jadi jelas bahwa penerapan pembelajaran kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang di dalamnya siswa akan menjadi peserta aktif bukan hanya pengamat pasif, yang bertanggung jawab terhadap belajarnya. Penerapan pembelajaran kontekstual akan membantu guru untuk menghubungkan materi mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan pekerja.
Dengan demikian, siswa belajar diawali dengan pengetahuan, pengalaman, dan konteks keseharian yang mereka miliki yang dikaitkan dengan konsep mata pelajaran yang dipelajari di kelas, dan selanjutnya dimungkinkan untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan keseharian mereka.
Paris dan Winograd (2001), Hammond dan Snyder (2001), Pierce dan Putnam (2001), serta Sers dan Hers (2001) (dalam Upu, 2004) antara lain menyimpulkan bahwa memungkinkan terjadinya proses belajar efektif yang di dalamnya siswa dimungkinkan menerapkan pemahaman. Selain itu, kemampuan akademik siswa dalam variasi konteks, di dalam maupun luar kelas, dalam menyelesaikan permasalahan nyata atau yang disimulasikan baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Selain itu, pengajaran kontekstual memberikan penekanan pada penggunaan berfikir pemecahan masalah, transfer pengetahuan, pengumpulan, analisis, serta sintesis informasi dan data dari berbagai sumber serta sudut pandang. Dalam kaitannya dengan evaluasi, pengajaran kontekstual lebih menekankan pada authentic assessment yang diperoleh dari berbagai sumber dan pelaksanaan menyatu atau terintegrasi dengan proses pembelajaran. Pembelajaran matematika sebaiknya dilakukan dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk mencoba menemukan sendiri melalui bantuan tertentu dari guru.
Matematisasi dalam pembelajaran secara kontekstual merupakan proses yang sangat penting. Berkaitan dengan hal ini, Freudental (Upu, 2004) mengemukakan dua alasan yang sangat mendasar. Pertama, matematisasi bukan hanya merupakan aktivitas ahli matematika saja, melainkan juga aktivitas siswa dalam memahami situasi sehari-hari. Oleh karena itu, matematika harus dipelajari oleh siswa melalui objek-objek yang mereka sudah kenal. Kedua, matematisasi berkaitan erat dengan penemuan kembali (reinvention) ide atau gagasan bagi siswa. Artinya siswa diarahkan seolah-olah menemukan kembali suatu konsep dalam matematika.
a.      Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika
Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Konstruktivisme (Contructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit). Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengkontruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’.
2)  Penemuan (Inquiry)
Penemuan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam kegiatan pembelajaran siswa diarahkan pada penemuan agar siswa mampu memahami materi yang diberikan dan bukan menghafal.
3)      Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari ‘bertanya’. Questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
4)      Masyarakat Belajar (Learning Community)
Dalam masyarakat belajar hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, kelompok, dan antara mereka yang tahu kepada yang belum tahu. Hal ini mendorong kerjasama siswa dalam belajar karena suatu masalah tidak dapat dipecahkan sendiri akan tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Kerjasama inilah yang dibutuhkan untuk saling memberi dan menerima dalam memecahkan suatu permasalahan.


5)      Pemodelan (Modeling)
Pembelajaran kontekstual dengan modeling maksudnya adalah sebuah pembelajaran atau keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang biasa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Dengan kata lain, model itu biasa berupa cara mengoperasikan sesuatu, dengan begitu guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”.
6)      Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajari oleh siswa. Siswa secara bebas menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.
7)      Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang biasa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas kemacetan belajar tersebut.
Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
B.     Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka maka hipotesis tindakan ini adalah sebagai berikut: Jika digunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika maka kualitas pembelajaran matematika siswa kelas VIIA MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto dapat meningkat.
BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan secara bersiklus. Setiap siklus terdiri atas 4 tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi dan evaluasi, serta (4) refleksi.
B.     Lokasi dan Subjek Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto, semester ganjil Tahun Ajaran 2011/2012 dan subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIIA sebanyak 26 orang siswa yang terdiri dari 12 orang perempuan dan 14 orang laki-laki.
C.    Faktor yang Diselidiki
Faktor-faktor yang diselidiki adalah sebagai berikut:
1.    Faktor proses, yaitu dengan mengamati seluruh aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
2.    Faktor hasil, yaitu untuk melihat hasil belajar matematika siswa yang diperoleh dari pemberian tes pada setiap akhir siklus.
D.    Prosedur Penelitian
Prosedur kerja dari penelitian tindakan kelas ini dirancang atas dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Setiap siklus berlangsung selama 4 kali pertemuan, yang terdiri dari 3 kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan (proses belajar mengajar) dan 1 kali pertemuan untuk pemberian tes hasil belajar matematika (tes siklus) guna mengetahui kemampuan siswa.
Gambaran siklus I
1.        Tahap Perencanaan
Sebelum diadakan penelitian, terlebih dahulu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a.         Mengkaji landasan pustaka yang berkaitan dengan tema penelitian yang akan dilakukan.
b.         Menganalisis materi pelajaran yang akan diajarkan dalam pelaksanaan tindakan.
c.         Mempelajari bahan yang diajarkan dari berbagai sumber
d.        Membuat skenario pembelajaran, buku siswa dan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk pelaksanaan tindakan dengan merujuk kepada pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning).
e.         Membuat instrumen penelitian berupa tes hasil belajar untuk melakukan evaluasi di setiap akhir siklus serta lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi siswa di kelas saat proses pembelajaran berlangsung.
2.        Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan setiap siklus dalam penelitian ini, mengikuti langkah-langkah/skenario sebagai berikut:
a.    Melaksanakan tindakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah disiapkan.
b.    Memantau dan mengobservasi tindakan yang dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi atau pengamatan

c.    Mengevaluasi hasil pemantauan
d.   Mengadakan refleksi I
3.        Tahap Observasi
Pelaksanaan pengamatan akan dilakukan selama proses tindakan diberikan, dalam pelaksanaan, peneliti akan mengamati seluruh aktivitas siswa dengan menggunakan lembar observasi.
Observasi dilakukan oleh peneliti dan observer pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data observasi yang diambil adalah kehadiran siswa, perubahan sikap siswa, dan keaktifan siswa pada saat proses belajar mengajar matematika melalui pendekatan kontekstual serta interaksi antara guru dan siswa, dan interaksi antara siswa dan siswa.
4.        Tahap Refleksi
Hasil yang telah diperoleh peneliti dari pengamatan, baik berupa hasil evaluasi maupun data hasil observasi pada saat dilaksanakan kegiatan pengajaran akan dianalisis dan digunakan sebagai acuan bagi peneliti untuk perbaikan pada siklus berikutnya.
Gambaran Siklus II
Siklus II ini dilaksanakan 4 kali pertemuan. Pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga dialokasikan untuk proses belajar mengajar dan pertemuan keempat untuk melaksanakan tes siklus II. Langkah-langkah yang dilakukan pada siklus II ini relatif sama dengan perencanaan pelaksanaan dalam siklus I dengan mengadakan beberapa perbaikan atau perubahan sesuai dengan kenyataan yang ditemukan di lapangan. Siklus II ini merupakan lanjutan dari siklus I.
E.   Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
Adapun instrumen dan teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.      Pedoman observasi, yaitu data mengenai seluruh aktivitas siswa dikumpulkan melalui pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi dan dianalisis secara kualitatif.
2.      Tes, yaitu data mengenai hasil belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes pada setiap akhir siklus dan dianalisis secara kuantitatif.
F.     Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Sedangkan data hasil observasi dianalisis dengan kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional seperti pada tabel berikut:









Tabel 3.1 Teknik kategori standar berdasarkan ketetapan Depdiknas
SKOR
KATEGORI
0  54
55 64
65  79
80  89
90  100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi.
     
G.    Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan pelaksanaan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) ini adalah terjadinya peningkatan kualitas pembelajaran matematika siswa kelas VIIA MTs An-Nuriyah Bontocini Kabupaten Jeneponto dari sebelum ke setelah digunakan pendekatan kontekstual yang ditandai dengan meningkatnya skor rata-rata atau mean dengan standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Siswa dikatakan tuntas belajar apabila memperoleh skor minimal 65 dari skor ideal 100, dan tuntas belajar secara klasikal apabila memperoleh skor 85% dari jumlah siswa telah tuntas belajar individu. Selain itu, dapat juga kita lihat dari aktivitas dan sikap siswa yang semakin meningkat selama proses belajar mengajar.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar