BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu faktor
yang dapat memacu proses perubahan dalam masyarakat dan mempengaruhi kehidupan
manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam usaha pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, matematika yang merupakan salah satu
ilmu dasar yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan memegang peranan
penting, dan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan
yang lain. Hal ini disebabkan oleh fungsi matematika sebagai sarana berfikir
logis, analitis dan sistematis.
Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai
objek kajian yang bersifat abstrak. Sifat abstrak itu menyebabkan banyak siswa
mengalami kesulitan yang dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran matematika, dalam
pelaksanaannya terlihat belum menggembirakan.
Kualitas pembelajaran matematika dapat dilihat dalam dua
segi yaitu kualitas proses dan kualitas hasil. Dari segi kualitas proses siswa
masih cenderung passif dalam proses belajar mengajar, sementara diharapkan
siswa dapat secara aktif terlibat dalam proses belajar mengajar yang
dilaksanakan. Dari segi kualitas hasil dapat dilihat dari prestasi belajar atau
ketuntasan belajar yang dicapai siswa.
Sebagai tenaga pengajar/pendidik yang secara langsung
terlibat dalam proses belajar mengajar, maka guru memegang peranan penting
dalam menentukan peningkatan kualitas pembelajaran dan prestasi belajar yang
akan dicapai siswanya. Salah satu kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh
pendidik dalam hal ini adalah bagaimana mengajarkan matematika dengan baik agar
tujuan pengajaran dapat dicapai semaksimal mungkin. Dalam hal ini penguasaan
materi dan cara pemilihan pendekatan atau teknik pembelajaran yang sesuai
dengan menentukan tercapainya tujuan pengajaran. Demikian juga halnya dengan
proses pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, perlu disusun suatu
strategi agar tujuan itu tercapai dengan optimal. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategei
bisa diartikan sebagai pola-pola umum
kegiatan guru dan anak didik
dalam perwujudan kegiatan belajar
mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan (Trianto, 2009:
139).
Pembelajaran yang selama ini dikenal adalah pembelajaran
yang berbasis konvensional, yang mana pembelajaran berpusat pada guru. Guru
adalah satu-satunya sumber informasi bagi siswa. Posisi siswa adalah pendengar
dan hanya terkesan menjadi penerima tanpa harus bertanya tentang proses
tersebut. Gaya
mengajar seperti ini membuat kreatifitas siswa menjadi terhambat dan kebanyakan
siswa mengalami kesulitan dalam matematika dalam situasi kehidupan real. Tanpa
disadari indikator keberhasilan pendidikan adalah bahwa anak didik kita
sejahtera jika aktivitas belajar menyenangkan dan menggairahkan.
Diantara permasalahan yang perlu mendapat perhatian
dalam pembelajaran matematika diungkapkan oleh Awi (2000) yaitu :
“(1) Bagaimana pengajaran matematika sehingga para siswa menyenangi
pelajaran ini, atau sekurang-kurangnya tidak membencinya, (2) Bagaimana
mengajarkan matematika sehingga para siswa mudah memahaminya, dan (3) Materi apa yang harus diajarkan, sehingga
pelajaran matematika ini memang tampak bermanfaat baik dalam belajar ilmiah
pengetahuan lain maupun dalam kehidupan sehari-hari”.
Jenning dan Dunne (Suharta, 2004) mengatakan bahwa,
kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam
situasi kehidupan real. Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi
siswa adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna. Guru dalam pembelajaran
di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa
kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksikan
sendiri ide-ide matematika, sehingga anak cepat lupa dan tidak dapat
mengaplikasikan matematika.
Dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara
alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang
dipelajarinya, bukan ‘mengetahuinya’. Pembelajaran yang berorientasi target
penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi ‘mengingat’ jangka pendek,
tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang. Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita. Penerapan pembelajaran kontekstual akan sangat
membantu guru untuk menghubungkan materi
pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membentuk
hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dengan kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga, warga negara, dan pekerja (Trianto, 2009: 108). Tugas guru dalam
kelas adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih
banyak berurusan dengan strategi daripada memberikan informasi. Tugas guru
mengelolah kelas sebagai suatu tim yang bekerjasama untuk menemukan sesuatu
yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru yakni pengetahuan dan
keterampilan datang dari ‘menemukan sendiri’ bukan dari ‘apa kata guru’.
Begitulah peran guru di kelas yang dikelolah dengan pendekatan kontekstual.
Kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih
produktif dan bermakna.
Sedangkan dalam proses belajar mengajar di kelas berdasarkan
observasi yang telah dilakukan oleh penulis masih terlihat kurangnya siswa yang
terlibat secara aktif dalam kegiatan proses belajar mengajar. Disamping itu,
menurut guru mata pelajaran matematika siswa Kelas VIIIA menyatakan
bahwa rata-rata siswa menganggap sulitnya pelajaran matematika karena di
dalamnya banyak rumus-rumus yang harus dihafal dan kebanyakan materi dirasakan
tidak berkaitan dengan keseharian/dunia nyata mereka. Hal ini menunjukkan
kualitas pembelajaran matematika masih perlu untuk lebih ditingkatkan. Dan kemudian itu Dari hasil wawancara terakhir dengan guru
bidang studi matematika, dikatakan bahwa hasil belajar matematika siswa kelas
VIII masih rendah, hal ini dapat dilihat
dari nilai rata-rata ujian siswa ulangan
pertengahan semester ganjil tahun
ajaran 2010/2011 yaitu 53,16 dan hanya 6 orang dari 26 siswa yang tuntas
sebelum diadakan remedial. Data ini diperoleh dari dokumen guru bidang studi matematika MTs. As’adiyah Dapoko tahun
ajaran 2010/2011
Mencermati masalah di atas, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tindakan kelas sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran
matematika melalui pendekatan kontekstual pada siswa Kelas VIIIA Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan dari latar belakang
yang telah diuraikan diatas, terlihat bahwa masalah dalam pendidikan adalah
bagaimana memilih pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran
matematika siswa. Sesuai dengan informasi yang diperoleh, bahwa pembelajaran
yang digunakan masih cenderung mempasifkan siswa dan tidak mengadaptasikan pembelajaran kontekstual
sebagai konsep matematika sehingga
siswa kesulitan
dalam belajar matematika serta banyaknya materi matematika kurang berkaitan
dengan keseharian/dunia nyata siswa.
C. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang menjadi pusat
perhatian dalam penelitian ini adalah “Apakah kualitas pembelajaran matematika
siswa Kelas VIIIA Madrasah
Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng akan mengalami peningkatan setelah diterapkan
pendekatan kontekstual dengan mengacu
tiga pertanyaan berikut:
1. Apakah hasil belajar siswa meningkat dengan penerapan
pendekatan kontekstual
dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIIIA MTs
As’adiyah Dapoko kabupaten Bantaeng ?
2. Bagaimana aktivitas siswa
dengan penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIIIA MTs
As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng?
3. Bagaimana respon siswa dengan penerapan pendekatan kontekstual
Pada siswa kelas VIIIA
MTs As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng
?
B. Tujuan Penelitian
Berdasarkan di atas, maka tujuan penelitian tindakan
kelas ini adalah
- Meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada siswa Kelas VIIIA Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.
- Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan penerapan pendekatan kontekstual pada siswa kelas VIIIA Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.
- Untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika dengan penerapan pendekatan kontekstual pada siswa kelas VIIIA Madrasah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng
- Untuk meningkatkan respon siswa dalam pembelajaran matematika dengan penerapan pendekatan kontekstual pada siswa kelas VIIIA Madarasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.
C. Manfaat Hasil
Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah satu sekolah, yaitu Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten
Bantaeng., dan difokuskan pada siswa Kelas VIIIA dalam belajar
matematika (materi teorema pythagoras). Pendekatan pembelajaran yang akan diterapkan adalah pendekatan
kontekstual, dalam bentuk penelitian tindakan kelas.
Mengacu dari tujuan yang akan dicapai maka hasil yang
diharapkan dari penelitian ini adalah pembelajaran dengan pendekatan
kontekstual dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada Siswa kelas VIIIA Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten
Bantaeng.
Hasil penelitian ini juga dapat
dijadikan suatu rekomendasi
untuk perbaikan pembelajaran matematika
di SMP/MTs.
Khususnya mengubah pembelajaran matematika yang selama ini lebih banyak
berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa.
- Bagi Siswa: Diharapkan dapat meningkatkan semangat dan motivasi dalam belajar matematika sehingga dapat mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari melalui pembelajaran pendekatan kontekstual.
- Bagi Guru: Sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui pendekatan kontekstual pada pokok bahasan yang lain.
- Bagi Sekolah: Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika dari penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi sekolah dalam usaha memperbaiki sistem pembelajaran yang ada di sekolah khususnya di sekolah tempat penelitian berlangsung.
BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A.
Kajian Teori
1.
Pembelajaran Matematika di MTs
Dalam Kurikulum matematika KTSP 2006, (Hadira, dkk),
dikemukakan bahwa tujuan pendidikan matematika adalah: (1) melatih cara
berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan
penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan,
konsisten dan inkonsistensi; (2) mengembangkan aktivitas kreatif yang
melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran
divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta
mencoba-coba; (3) mengembangkan kemampuan memecahkan masalah; dan (4)
mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi/mengkomunikasikan kemampuan
gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram,
dalam menjelaskan gagasan. Selanjutnya, dikemukakan bahwa kemampuan pemecahan
masalah, penalaran, dan berkomunikasi merupakan kompetensi dasar yang
diharapkan tercapai melalui belajar matematika. Untuk mencapai kompetensi tersebut
guru harus menjabarkan kegiatan belajar mengajar dalam bentuk silabus dan
disesuaikan dengan kekhasan bahan ajar dengan mempertimbangkan tingkat
perkembangan berfikir siswa.
Untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, guru dalam hal ini
sebagai pengajar berperan penting dalam proses belajar mengajar, terutama dalam
pembelajaran yang mengarahkan pada aktivitas keseharian siswa atau dunia nyata
siswa.
Proses pembelajaran yang selama ini berlangsung di SMP/MTs sampai sekarang
ini, pada umumnya didominasi oleh guru, siswa dijadikan objek pembelajaran.
Guru berusaha memberikan informasi sebanyak-banyaknya, sehingga siswa tidak
mempunyai kesempatan yang cukup untuk merenungkan apa yang diberikan oleh guru,
dan yang penting bagi mereka adalah dapat menyelesaikan soal-soal berdasarkan
contoh-contoh yang diberikan, (Hadirah, 2006). Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning(CTL))
adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dari karakteristiknya memenuhi
harapan itu.
Ada sejumlah alasan mengapa pembelajaran kontekstual dikembangkan
sekarang ini, (Nurhadi 2004). Sejumlah alasan tersebut dapat dikemukakan
sebagai berikut: (1) Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus,
penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks akan mendorong sebagian besar siswa
untuk tetap tertarik dan terlibat dalam kegiatan pendidikan; (2) Penerapan
konteks sosial dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman, dan buku
teks yang dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggota
masyarakat untuk mendiskusikan sebagian isu yang dapat berpengaruh terhadap
perkembangan masyarakat; (3) Penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan
keterampilan komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa untuk secara penuh
terlibat dalam kegiatan pendidikan dan masyarakat; (4) penerapan konteks
ekonomi akan berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan sosial; (5)
penerapan konteks politik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang berbagai
isu yang dapat berpengaruh terhadap masyarakat.
Fungsi mata pelajaran
matematika sebagai : alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut
hendaknya dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah.
Siswa diberi pengalaman
menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu
informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam
model-model matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau
uraian matematika lainnya.
Dalam pelajaran matematika,
para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang
sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek
(abstraksi).
Tujuan umum pembelajaran
matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah memberikan
penekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa. Penekanan pada
keterampilan dalam penerapan matematika, baik dalam kehidupan sehari-hari
maupun dalam membantu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.
Dua hal penting yang merupakan
bagian dari tujuan pembelajaran matematika adalah pembentukan sifat yaitu pola
berpikir kritis dan kreatif. Untuk pembinaan hal tersebut, kita perlu
memperhatikan daya imajinasi dan rasa ingin tahu dari anak didik kita. Dua hal
itu harus dipupuk dan ditumbuhkembangkan, siswa harus dibinasakan untuk diberi
kesempatan bertanya dan berpendapat, sehingga diharapkan proses pembelajaran
matematika lebih bermakna.
Dalam pembelajaran matematika di sekolah, guru hendaknya
memilih dan mengembangkan strategi, pendekatan, metode dan teknik yang banyak
melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial.
Prinsip aktif inilah yang diharapkan dapat menumbuhkembangkan sasaran
pembelajaran matematika yang kreatif dan kritis.
Berkaitan dengan uraian di atas, maka dalam penelitian
ini dilaksanakan pendekatan kontekstual di MTs dalam bentuk penelitian tindakan kelas, untuk
mengetahui apakah dengan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual tersebut
dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.
2.
Kualitas Pembelajaran
Matematika
Kualitas pendidikan merupakan salah satu masalah krusial
yang sedang dihadapi oleh Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, selain
masalah kuantitas, masalah efektifitas, masalah efisiensi, dan masalah
relevansi pendidikan. Komponen
guru dan siswa merupakan dua subjek yang sangat menentukan keberhasilan proses
pembelajaran di dalam kelas. Guru merupakan subjek yang merancang strategi
sekaligus sutradara yang mengatur jalannya proses pembelajaran di dalam kelas,
termasuk mempersiapkan rencana pengajaran dengan mempertimbangkan kurikulum, sarana
dan prasarana yang ada. Sedangkan siswa merupakan subjek yang harus memiliki
kemampuan, motivasi dan kesiapan yang memadai untuk belajar. Kualitas diartikan
sebagai mutu, tingkat atau nilai sedangkan pembelajaran merupakan upaya
penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program pembelajaran tumbuh dan
berkembang secara optimal.
Proses pendidikan merupakan
salah satu upaya terhadap pengembangan kemampuan dan perilaku manusia yang
melibatkan penggunaan hampiran seluruh pengalaman hidup anak didik. Menurut
Herman Hudoyo (1990: 5) kemampuan berfikir seseorang itu dipengaruhi oleh
inteligensinya. Dengan demikian terlihat adanya kaitan antara inteligensi
dengan proses belajar. Suatu proses belajar adalah bagian kegiatan yang
dilakukan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan hasil belajar
adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya (Sudjana, 1989: 22). Dalam teori konstruktivisme, siswa lebih diberi
tempat ketimbang guru. Artinya, dalam proses pembelajaran, siswa merupakan
pusat pembelajaran (student center).
Menurut Fontana (Suherman, 2003) bahwa pembelajaran
merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar
tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam arti sempit, proses pembelajaran
adalah proses pendidikan dalam lingkungan persekolahan, sehingga arti dan
proses pembelajaran adalah proses sosialisasi individu siswa dengan lingkungan
sekolah, seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman sesama siswa. Proses disini
dimaksudkan sebagai kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran, hal
tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan
lingkungan yang kondusif. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh
peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik, maupun sosialnya
(Mulyasa, 2002).
Lovitt dan Clarke (Suherman, 2003) mengemukakan bahwa
kualitas pembelajaran ditandai dengan berapa luas dalam lingkungan belajar yang
dimulai dari mana siswa berada mengenali bahwa siswa belajar dengan kecepatan
yang berbeda, dan cara yang berbeda, melibatkan siswa secara fisik dalam proses
belajar dengan meminta siswa untuk menvisualkan yang imajiner.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kualitas
pembelajaran matematika dapat diartikan sebagai mutu, tingkat atau nilai, yang
meliputi kualitas proses dan kualitas hasil sebagai upaya penataan lingkungan
yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dari segi proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya
atau setidak-tidaknya sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik,
mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan
kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya
pada diri sendiri. Hal ini bisa dilihat dengan meningkatnya kehadiran dan aktivitas siswa dalam
proses pembelajaran, sedangkan peningkatan kualitas hasil belajar dapat diukur
dengan tes atau ketuntasan belajar siswa.
B. Pendekatan
CTL (Contextual Teaching and Learning)
1.
Contextual Teaching and
Learning (CTL) sebagai Suatu Pendekatan
Pembelajaran kontekstual (Contextual
Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama
pembelajaran kontekstual, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya
(questioning), inkuiri (inquiry), masyarakat belajar (learning community),
pemodelan (modeling), dan penilaian autentik (authentic assessment) (Trianto,
2009: 107). Dengan menerapkannya pada kehidupan
sehari-hari maka mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya.
Dari
konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama, CTL menekankan
kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar
diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam
konteks CTL tidak mengaharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan
tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, CTL mendorong untuk siswa dapat menemukan hubungan antara materi dengan
situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan
antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL
bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajari, akan tetapi
bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan
sehari-hari.
Dengan
konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Hasil pembelajaran
diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berfikir kritis
dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka
panjangnya. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa
manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. (Nurhadi,2002:
1)
Jadi jelas
bahwa penerapan pembelajaran kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang di
dalamnya siswa akan menjadi peserta aktif bukan hanya pengamat pasif, yang
bertanggung jawab terhadap belajarnya. Penerapan pembelajaran kontekstual akan
membantu guru untuk menghubungkan materi mata pelajaran dengan situasi dunia
nyata dan memotivasi siswa untuk membentuk hubungan antara pengetahuan dan
aplikasinya dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan
pekerja.
Dengan
demikian, siswa belajar diawali dengan pengetahuan, pengalaman, dan konteks
keseharian yang mereka miliki yang dikaitkan dengan konsep mata pelajaran yang dipelajari
di kelas, dan selanjutnya dimungkinkan untuk mengimplementasikannya dalam
kehidupan keseharian mereka.
Paris dan
Winograd (2001), Hammond dan Snyder (2001), Pierce dan Putnam (2001), serta
Sers dan Hers (2001) (Upu : 2004) antara lain menyimpulkan bahwa memungkinkan
terjadinya proses belajar efektif yang di dalamnya siswa dimungkinkan
menerapkan pemahaman. Selain itu, kemampuan akademik siswa dalam variasi
konteks, di dalam maupun luar kelas, dalam menyelesaikan permasalahan nyata
atau yang disimulasikan baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Selain
itu, pengajaran kontekstual memberikan penekanan pada penggunaan berfikir
pemecahan masalah, transfer pengetahuan, pengumpulan, analisis, serta sintesis
informasi dan data dari berbagai sumber serta sudut pandang. Dalam kaitannya
dengan evaluasi, pengajaran kontekstual lebih menekankan pada authentic assessment yang diperoleh dari
berbagai sumber dan pelaksanaan menyatu atau terintegrasi dengan proses
pembelajaran. Pembelajaran matematika sebaiknya dilakukan dengan memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk mencoba menemukan sendiri melalui
bantuan tertentu dari guru.
Matematisasi
dalam pembelajaran secara kontekstual merupakan proses yang sangat penting.
Berkaitan dengan hal ini, Freudental (Upu: 2004) mengemukakan dua alasan yang
sangat mendasar. Pertama, matematisasi
bukan hanya merupakan aktivitas ahli matematika saja, melainkan juga aktivitas
siswa dalam memahami situasi sehari-hari. Oleh karena itu, matematika harus
dipelajari oleh siswa melalui objek-objek yang mereka sudah kenal. Kedua, matematisasi berkaitan erat
dengan penemuan kembali (reinvention)
ide atau gagasan bagi siswa. Artinya siswa diarahkan seolah-olah menemukan
kembali suatu konsep dalam matematika.
2.
Penerapan Pendekatan
Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika
Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan
pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen tersebut adalah sebagai
berikut:
a.
Konstruktivisme (Contructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi)
pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit
demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit)
dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta,
konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus
mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah,
menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa
harus mengkontruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Dengan dasar itu,
pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’.
b.
Penemuan (Inquiry)
Penemuan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa
diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari
menemukan sendiri. Dalam kegiatan pembelajaran siswa diarahkan pada penemuan
agar siswa mampu memahami materi yang diberikan dan bukan menghafal.
c.
Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari
‘bertanya’. Questioning (bertanya)
merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam
pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan
menilai kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan
bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi,
mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada
aspek yang belum diketahuinya.
d.
Masyarakat Belajar (Learning
Community)
Dalam masyarakat belajar hasil pembelajaran dapat
diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari
sharing antara teman, antar kelompok, dan antara mereka yang tahu ke mereka
yang belum tahu. Hal ini mendorong kerjasama siswa dalam belajar karena suatu
masalah tidak dapat dipecahkan sendiri akan tetapi membutuhkan bantuan orang
lain. Kerjasama inilah yang
dibutuhkan untuk saling memberi dan menerima dalam memecahkan suatu
permasalahan.
e.
Pemodelan (Modeling)
Pembelajaran kontekstual dengan modeling maksudnya
adalah sebuah pembelajaran atau keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada
model yang biasa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang
dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk
belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan.
Dengan kata lain, model itu biasa berupa cara mengoperasikan sesuatu, dengan
begitu guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”.
f.
Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru
dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di
masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan
yang baru saja diterima. Setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberi
kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah
dipelajari oleh siswa. Siswa secara bebas menafsirkan pengalamannya sendiri,
sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.
g.
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic
Assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang
biasa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Gambaran
perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa
siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan
guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka
guru segera biasa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas kemacetan
belajar tersebut.
Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka
data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa
pada saat melakukan proses pembelajaran.
Secara garis besar langkah-langkah
penerapan CTL dalam kelas sebagai berikut.
1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih
bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi
sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk
semua topik.
3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4) Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam
kelompok-kelompok).
5) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai
cara.
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritik, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “jika siswa diberikan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, maka hasil belajar matematika siswa akan meningkat”.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom actin research) yang melibatkan refleksi berulang yaitu perencanaan (planing), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan dengan kajian utama
untuk mengetahui penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang
dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika siswa dalam belajar teorema pythagoras.
B.
Lokasi dan Subjek Penelitian
a. penelitian ini adalah akan
dilaksanakan Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.
b. Subjek dalam penelitian ini
adalah siswa pada satu kelas yaitu Kelas VIIIA sebanyak 33 orang siswa, dan
peneliti sebagai guru matematika di kelas tersebut. Penelitian ini akan di laksanakan pada semester
ganjail tahun ajaran 2011/2012.
c. Faktor yang
Diselidiki
Faktor yang akan diselidiki dalam
pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Faktor
proses, yaitu dengan menyelidiki
aktivitas siswa selama pelaksanaan tindakan.
2. Faktor
hasil, Menyelidiki hasil belajar matematika setelah pelaksanaan tindakan serta
respon siswa terhadap pembelajaran kontekstual.
D. Prosedur Penelitian
a. Tahap Pelaksanaan
A.
Siklus I
1)
Tahap Persiapan Tindakan
Sebelum melakukan tindakan dalam penelitian ini,
terlebih dahulu diadakan persiapan antara lain, sebagai berikut.
1)
Menganalisis materi pelajaran
yang akan diajarkan dalam pelaksanaan tindakan.
2)
Mempelajari bahan yang
diajarkan dari berbagai sumber
3)
Membuat rencana pembelajaran,
buku siswa dan Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan menerapkan pendekatan
kontekstual.
4)
Membuat instrumen dan alat
observasi selama pembelajaran.
5)
Merumuskan rencana Pembalajaran
yang berisi langkah-langkah pembelajaran kontekstual untuk tindakan pada Siklus
I.
2)
Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan setiap siklus dalam penelitian ini,
mengikuti langkah-langkah/skenario sebagai berikut.
Siklus I : - Melaksanakan tindakan berdasarkan rencana
pembelajaran yang telah disiapkan.
-
Memantau dan mengobservasi
tindakan yang dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi atau pengamatan
-
Mengevaluasi hasil pemantauan
-
Mengadakan refleksi I
B. Siklus II :
- Memperbaiki / merencanakan
tindakan baru II berdasarkan refleksi I
-
Melaksanakan tindakan perbaikan
II
-
Memantau dan mengobservasi
tindakan yang dilaksanakan
-
Mengadakan refleksi II
Pelaporan :
-
Menganalisis hasil penelitian
dari setiap siklus.
-
Menyusun laporan hasil
penelitian, implementasi dan tindak lanjut jika diperlukan.
3)
Tahap Pelaksanaan
Pengamatan
Pelaksanaan pengamatan akan dilakukan selama proses
tindakan diberikan, dalam pelaksanaan penelitian akan mengamati aktivitas siswa
dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa.
4)
Tahap Analisis Data
Analisis akan dilakukan setiap akhir pembelajaran
berdasarkan hasil yang diperoleh selama pengamatan. Berdasarkan hasil
pengamatan dan perumusan analisis perbaikan akan dianalisis untuk refleksi
perbaikan tindakan berikutnya.
E. Data
dan Cara Pengumpulannya
1.
Sumber Data
Data dalam penelitian ini diperoleh dari siswa yang
menjadi subjek penelitian, yaitu Siswa Kelas VIIIA Madrasah
Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.
2.
Jenis Data
a.
Data kualitatif
b.
Data kuantitatif
F. Instrument Penelitian
Instrument
yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam rangka penelitian ini adalah:
1. Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Lembar Observasi digunakan untuk mengetahui data tentang kehadiran siswa, dan aktivitas siswa dalam mengikuti proses belajar
mengajar.
2. Angket Respon Siswa
Angket ini digunkan untuk
mengumpulkan data tentang respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.
3. Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar digunakan
untuk memperoleh informasi tentang penguasaan siswa setelah proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
kontekstual.
G.
Teknik Pengumpulan Data
3
Cara Pengambilan Data
a.
Data mengenai aktivitas siswa dikumpulkan
dengan menggunakan lembar observasi
dan data hasil belajar matematika siswa diambil sebelum pelaksanaan tindakan
dikumpulkan melalui dokumen(nilai harian) .
- Data tentang respon siswa diambil dengan menggunakan angket.
- Data hasil belajar matematika siswa diperoleh setelah pelaksanaan tindakan dikumpulkan dengan melalui tes hasil belajar yang diberikan kepada siswa tiap akhir siklus.
H. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan
menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Untuk analisis
kualitatif diperoleh dari lembar observasi yang digunakan dalam penelitian
yaitu lembar observasi keaktifan siswa sedangkan analisis kuantitatif digunakan
statistik deskriptif untuk melihat skor rata-rata persentase dan ketuntasan
hasil belajar siswa dengan bantuan
kemputer.
Kriteria
yang digunakan untuk menentukan kategorisasasi hasil belajar siswa adalah
berdasarkan teknik kategorisasi skala lima. Menurut direktorat jenderal
pendidikan dasar dan menengah (Depdikbud, 2011) bahwa skor standar umum yang
digunakan adalah skala lima yaitu:
·
Kemampuan 0%
– 54% atau skor 0 – 54 dikategorikan sangat rendah.
·
Kemampuan 55%
– 64% atau skor 55 – 64 dikategorikan
rendah.
·
Kemampuan 65%
–
79% atau skor 65 – 79 dikategorikan sedang.
·
Kemampuan 80%
– 89% atau skor 80 – 89 dikategorikan tinggi.
·
Kemampuan 90% – 100% atau skor 90 – 100 dikategorikan
sangat tinggi.
I. Indikator Keberhasilan
Meningkatnya hasil belajar siswa, yang ditinjau dari
hasil tes setiap akhir siklus yakni bila skor rata-rata hasil belajar
matematika siswa meningkat dari siklus I ke siklus II dan tuntas secara
klasikal. Dimana seorang siswa dikatakan tuntas hasil belajarnya jika
memperoleh nilai minimal 65 sesuai kriteria ketuntasan minimal dan kelas
dikatakan tuntas hasil belajarnya jika 85 % dari jumlah seluruh siswa mencapai
kriteria ketuntasan minimal.
Review of Slots.lv Casino Site | Lucky Club Live
BalasHapusOur review of Slots.lv Casino Site of the best online casinos 카지노사이트luckclub at online casinos around the world, including the ones that offer