Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas VIIIA Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu faktor yang dapat memacu proses perubahan dalam masyarakat dan mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, matematika yang merupakan salah satu ilmu dasar yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan memegang peranan penting, dan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang lain. Hal ini disebabkan oleh fungsi matematika sebagai sarana berfikir logis, analitis dan sistematis.
Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek kajian yang bersifat abstrak. Sifat abstrak itu menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan yang dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran matematika, dalam pelaksanaannya terlihat belum menggembirakan.
Kualitas pembelajaran matematika dapat dilihat dalam dua segi yaitu kualitas proses dan kualitas hasil. Dari segi kualitas proses siswa masih cenderung passif dalam proses belajar mengajar, sementara diharapkan siswa dapat secara aktif terlibat dalam proses belajar mengajar yang dilaksanakan. Dari segi kualitas hasil dapat dilihat dari prestasi belajar atau ketuntasan belajar yang dicapai siswa.
Sebagai tenaga pengajar/pendidik yang secara langsung terlibat dalam proses belajar mengajar, maka guru memegang peranan penting dalam menentukan peningkatan kualitas pembelajaran dan prestasi belajar yang akan dicapai siswanya. Salah satu kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh pendidik dalam hal ini adalah bagaimana mengajarkan matematika dengan baik agar tujuan pengajaran dapat dicapai semaksimal mungkin. Dalam hal ini penguasaan materi dan cara pemilihan pendekatan atau teknik pembelajaran yang sesuai dengan menentukan tercapainya tujuan pengajaran. Demikian juga halnya dengan proses pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, perlu disusun suatu strategi agar tujuan itu tercapai dengan optimal. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategei bisa diartikan sebagai pola-pola umum  kegiatan  guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar  mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan (Trianto, 2009: 139). 
Pembelajaran yang selama ini dikenal adalah pembelajaran yang berbasis konvensional, yang mana pembelajaran berpusat pada guru. Guru adalah satu-satunya sumber informasi bagi siswa. Posisi siswa adalah pendengar dan hanya terkesan menjadi penerima tanpa harus bertanya tentang proses tersebut. Gaya mengajar seperti ini membuat kreatifitas siswa menjadi terhambat dan kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam matematika dalam situasi kehidupan real. Tanpa disadari indikator keberhasilan pendidikan adalah bahwa anak didik kita sejahtera jika aktivitas belajar menyenangkan dan menggairahkan.


Diantara permasalahan yang perlu mendapat perhatian dalam pembelajaran matematika diungkapkan oleh Awi (2000) yaitu :
“(1) Bagaimana pengajaran matematika sehingga para siswa menyenangi pelajaran ini, atau sekurang-kurangnya tidak membencinya, (2) Bagaimana mengajarkan matematika sehingga para siswa mudah memahaminya, dan (3)  Materi apa yang harus diajarkan, sehingga pelajaran matematika ini memang tampak bermanfaat baik dalam belajar ilmiah pengetahuan lain maupun dalam kehidupan sehari-hari”.


Jenning dan Dunne (Suharta, 2004) mengatakan bahwa, kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real. Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna. Guru dalam pembelajaran di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksikan sendiri ide-ide matematika, sehingga anak cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika.

Dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahuinya’. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita. Penerapan pembelajaran kontekstual akan sangat membantu  guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja (Trianto, 2009: 108).  Tugas guru dalam kelas adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberikan informasi. Tugas guru mengelolah kelas sebagai suatu tim yang bekerjasama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru yakni pengetahuan dan keterampilan datang dari ‘menemukan sendiri’ bukan dari ‘apa kata guru’. Begitulah peran guru di kelas yang dikelolah dengan pendekatan kontekstual. Kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna.
Sedangkan dalam  proses belajar mengajar di kelas berdasarkan observasi yang telah dilakukan oleh penulis masih terlihat kurangnya siswa yang terlibat secara aktif dalam kegiatan proses belajar mengajar. Disamping itu, menurut guru mata pelajaran matematika siswa Kelas VIIIA menyatakan bahwa rata-rata siswa menganggap sulitnya pelajaran matematika karena di dalamnya banyak rumus-rumus yang harus dihafal dan kebanyakan materi dirasakan tidak berkaitan dengan keseharian/dunia nyata mereka. Hal ini menunjukkan kualitas pembelajaran matematika masih perlu untuk lebih ditingkatkan. Dan kemudian itu Dari hasil wawancara terakhir dengan guru bidang studi matematika, dikatakan bahwa  hasil belajar matematika siswa kelas VIII  masih rendah, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ujian siswa ulangan pertengahan semester ganjil tahun ajaran 2010/2011 yaitu 53,16 dan hanya 6 orang dari 26 siswa yang tuntas sebelum diadakan remedial. Data ini diperoleh dari dokumen guru bidang studi matematika MTs. As’adiyah Dapoko tahun ajaran 2010/2011
Mencermati masalah di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui pendekatan kontekstual pada siswa Kelas VIIIA Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, terlihat bahwa masalah dalam pendidikan adalah bagaimana memilih pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika siswa. Sesuai dengan informasi yang diperoleh, bahwa pembelajaran yang digunakan masih cenderung mempasifkan siswa dan tidak mengadaptasikan pembelajaran kontekstual sebagai konsep matematika sehingga siswa kesulitan dalam belajar matematika serta banyaknya materi matematika kurang berkaitan dengan keseharian/dunia nyata siswa.
C. Rumusan Masalah
          Berdasarkan  latar belakang masalah di atas, maka masalah yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian ini adalah “Apakah kualitas pembelajaran matematika siswa Kelas VIIIA  Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng akan  mengalami peningkatan setelah diterapkan pendekatan kontekstual dengan mengacu tiga pertanyaan berikut:
1. Apakah hasil  belajar siswa meningkat dengan  penerapan  pendekatan kontekstual          dalam  pembelajaran  matematika pada siswa kelas  VIIIA  MTs  As’adiyah Dapoko kabupaten Bantaeng ?
2. Bagaimana aktivitas siswa dengan penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran  matematika pada siswa kelas VIIIA  MTs  As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng?
3. Bagaimana respon  siswa dengan penerapan pendekatan kontekstual Pada siswa kelas VIIIA  MTs  As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng  ?  
B.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan di atas, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah 
  1. Meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada siswa Kelas VIIIA  Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.
  2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan penerapan  pendekatan kontekstual pada siswa kelas VIIIA  Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.
  3. Untuk meningkatkan  keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika dengan penerapan  pendekatan  kontekstual  pada  siswa kelas VIIIA Madrasah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng
  4. Untuk meningkatkan  respon siswa dalam  pembelajaran  matematika dengan penerapan pendekatan kontekstual pada siswa kelas VIIIA Madarasah Tsanawiyah  As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.
C.    Manfaat Hasil Penelitian 
Ruang lingkup penelitian ini adalah satu sekolah, yaitu  Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng., dan difokuskan pada siswa Kelas VIIIA dalam belajar matematika (materi teorema pythagoras). Pendekatan pembelajaran yang akan diterapkan adalah pendekatan kontekstual, dalam bentuk penelitian tindakan kelas.
Mengacu dari tujuan yang akan dicapai maka hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada Siswa kelas VIIIA  Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.
Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan  suatu rekomendasi untuk perbaikan pembelajaran  matematika di SMP/MTs. Khususnya mengubah pembelajaran matematika yang selama ini lebih banyak berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa.
  1. Bagi Siswa: Diharapkan dapat meningkatkan semangat dan motivasi dalam belajar matematika sehingga dapat mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari melalui pembelajaran pendekatan kontekstual.
  2. Bagi Guru: Sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui pendekatan kontekstual pada pokok bahasan yang lain.
  3. Bagi Sekolah: Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika dari penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi sekolah dalam usaha memperbaiki sistem pembelajaran yang ada di sekolah khususnya di sekolah tempat penelitian berlangsung.


BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.      Kajian Teori
1.      Pembelajaran Matematika di MTs
Dalam Kurikulum matematika KTSP 2006, (Hadira, dkk), dikemukakan bahwa tujuan pendidikan matematika adalah: (1) melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi; (2) mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba; (3) mengembangkan kemampuan memecahkan masalah; dan (4) mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi/mengkomunikasikan kemampuan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan. Selanjutnya, dikemukakan bahwa kemampuan pemecahan masalah, penalaran, dan berkomunikasi merupakan kompetensi dasar yang diharapkan tercapai melalui belajar matematika. Untuk mencapai kompetensi tersebut guru harus menjabarkan kegiatan belajar mengajar dalam bentuk silabus dan disesuaikan dengan kekhasan bahan ajar dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan berfikir siswa.
Untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, guru dalam hal ini sebagai pengajar berperan penting dalam proses belajar mengajar, terutama dalam pembelajaran yang mengarahkan pada aktivitas keseharian siswa atau dunia nyata siswa.
Proses pembelajaran yang selama ini berlangsung di SMP/MTs sampai sekarang ini, pada umumnya didominasi oleh guru, siswa dijadikan objek pembelajaran. Guru berusaha memberikan informasi sebanyak-banyaknya, sehingga siswa tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk merenungkan apa yang diberikan oleh guru, dan yang penting bagi mereka adalah dapat menyelesaikan soal-soal berdasarkan contoh-contoh yang diberikan, (Hadirah, 2006). Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning(CTL)) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan itu.
Ada sejumlah alasan mengapa pembelajaran kontekstual dikembangkan sekarang ini, (Nurhadi 2004). Sejumlah alasan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks akan mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan terlibat dalam kegiatan pendidikan; (2) Penerapan konteks sosial dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman, dan buku teks yang dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggota masyarakat untuk mendiskusikan sebagian isu yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat; (3) Penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan masyarakat; (4) penerapan konteks ekonomi akan berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan sosial; (5) penerapan konteks politik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap masyarakat.
Fungsi mata pelajaran matematika sebagai : alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut hendaknya dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah.
Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam model-model matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau uraian matematika lainnya.
Dalam pelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi).
Tujuan umum pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah memberikan penekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa. Penekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam membantu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.
Dua hal penting yang merupakan bagian dari tujuan pembelajaran matematika adalah pembentukan sifat yaitu pola berpikir kritis dan kreatif. Untuk pembinaan hal tersebut, kita perlu memperhatikan daya imajinasi dan rasa ingin tahu dari anak didik kita. Dua hal itu harus dipupuk dan ditumbuhkembangkan, siswa harus dibinasakan untuk diberi kesempatan bertanya dan berpendapat, sehingga diharapkan proses pembelajaran matematika lebih bermakna.
Dalam pembelajaran matematika di sekolah, guru hendaknya memilih dan mengembangkan strategi, pendekatan, metode dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial. Prinsip aktif inilah yang diharapkan dapat menumbuhkembangkan sasaran pembelajaran matematika yang kreatif dan kritis.
Berkaitan dengan uraian di atas, maka dalam penelitian ini dilaksanakan pendekatan kontekstual di MTs dalam bentuk penelitian tindakan kelas, untuk mengetahui apakah dengan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual tersebut dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.

2.      Kualitas Pembelajaran Matematika
Kualitas pendidikan merupakan salah satu masalah krusial yang sedang dihadapi oleh Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, selain masalah kuantitas, masalah efektifitas, masalah efisiensi, dan masalah relevansi pendidikan. Komponen guru dan siswa merupakan dua subjek yang sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas. Guru merupakan subjek yang merancang strategi sekaligus sutradara yang mengatur jalannya proses pembelajaran di dalam kelas, termasuk mempersiapkan rencana pengajaran dengan mempertimbangkan kurikulum, sarana dan prasarana yang ada. Sedangkan siswa merupakan subjek yang harus memiliki kemampuan, motivasi dan kesiapan yang memadai untuk belajar. Kualitas diartikan sebagai mutu, tingkat atau nilai sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program pembelajaran tumbuh dan berkembang secara optimal.
Proses pendidikan merupakan salah satu upaya terhadap pengembangan kemampuan dan perilaku manusia yang melibatkan penggunaan hampiran seluruh pengalaman hidup anak didik. Menurut Herman Hudoyo (1990: 5) kemampuan berfikir seseorang itu dipengaruhi oleh inteligensinya. Dengan demikian terlihat adanya kaitan antara inteligensi dengan proses belajar. Suatu proses belajar adalah bagian kegiatan yang dilakukan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 1989: 22). Dalam teori konstruktivisme, siswa lebih diberi tempat ketimbang guru. Artinya, dalam proses pembelajaran, siswa merupakan pusat pembelajaran (student center).
Menurut Fontana (Suherman, 2003) bahwa pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam arti sempit, proses pembelajaran adalah proses pendidikan dalam lingkungan persekolahan, sehingga arti dan proses pembelajaran adalah proses sosialisasi individu siswa dengan lingkungan sekolah, seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman sesama siswa. Proses disini dimaksudkan sebagai kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran, hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik, maupun sosialnya (Mulyasa, 2002).
Lovitt dan Clarke (Suherman, 2003) mengemukakan bahwa kualitas pembelajaran ditandai dengan berapa luas dalam lingkungan belajar yang dimulai dari mana siswa berada mengenali bahwa siswa belajar dengan kecepatan yang berbeda, dan cara yang berbeda, melibatkan siswa secara fisik dalam proses belajar dengan meminta siswa untuk menvisualkan yang imajiner.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kualitas pembelajaran matematika dapat diartikan sebagai mutu, tingkat atau nilai, yang meliputi kualitas proses dan kualitas hasil sebagai upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dari segi proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri. Hal ini bisa dilihat dengan meningkatnya kehadiran dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, sedangkan peningkatan kualitas hasil belajar dapat diukur dengan tes atau ketuntasan belajar siswa.




B.     Pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning)
1.      Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai Suatu Pendekatan
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), inkuiri (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian autentik (authentic assessment) (Trianto, 2009: 107). Dengan menerapkannya pada kehidupan sehari-hari maka mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya.
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengaharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, CTL mendorong untuk siswa dapat menemukan hubungan antara materi dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajari, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berfikir kritis dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. (Nurhadi,2002: 1)
Jadi jelas bahwa penerapan pembelajaran kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang di dalamnya siswa akan menjadi peserta aktif bukan hanya pengamat pasif, yang bertanggung jawab terhadap belajarnya. Penerapan pembelajaran kontekstual akan membantu guru untuk menghubungkan materi mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan pekerja.
Dengan demikian, siswa belajar diawali dengan pengetahuan, pengalaman, dan konteks keseharian yang mereka miliki yang dikaitkan dengan konsep mata pelajaran yang dipelajari di kelas, dan selanjutnya dimungkinkan untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan keseharian mereka.
Paris dan Winograd (2001), Hammond dan Snyder (2001), Pierce dan Putnam (2001), serta Sers dan Hers (2001) (Upu : 2004) antara lain menyimpulkan bahwa memungkinkan terjadinya proses belajar efektif yang di dalamnya siswa dimungkinkan menerapkan pemahaman. Selain itu, kemampuan akademik siswa dalam variasi konteks, di dalam maupun luar kelas, dalam menyelesaikan permasalahan nyata atau yang disimulasikan baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Selain itu, pengajaran kontekstual memberikan penekanan pada penggunaan berfikir pemecahan masalah, transfer pengetahuan, pengumpulan, analisis, serta sintesis informasi dan data dari berbagai sumber serta sudut pandang. Dalam kaitannya dengan evaluasi, pengajaran kontekstual lebih menekankan pada authentic assessment yang diperoleh dari berbagai sumber dan pelaksanaan menyatu atau terintegrasi dengan proses pembelajaran. Pembelajaran matematika sebaiknya dilakukan dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk mencoba menemukan sendiri melalui bantuan tertentu dari guru.
Matematisasi dalam pembelajaran secara kontekstual merupakan proses yang sangat penting. Berkaitan dengan hal ini, Freudental (Upu: 2004) mengemukakan dua alasan yang sangat mendasar. Pertama, matematisasi bukan hanya merupakan aktivitas ahli matematika saja, melainkan juga aktivitas siswa dalam memahami situasi sehari-hari. Oleh karena itu, matematika harus dipelajari oleh siswa melalui objek-objek yang mereka sudah kenal. Kedua, matematisasi berkaitan erat dengan penemuan kembali (reinvention) ide atau gagasan bagi siswa. Artinya siswa diarahkan seolah-olah menemukan kembali suatu konsep dalam matematika.
2.      Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika
Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen tersebut adalah sebagai berikut:
a.      Konstruktivisme (Contructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengkontruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’.

b.      Penemuan (Inquiry)
Penemuan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam kegiatan pembelajaran siswa diarahkan pada penemuan agar siswa mampu memahami materi yang diberikan dan bukan menghafal.
c.       Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari ‘bertanya’. Questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
d.      Masyarakat Belajar (Learning Community)
Dalam masyarakat belajar hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok, dan antara mereka yang tahu ke mereka yang belum tahu. Hal ini mendorong kerjasama siswa dalam belajar karena suatu masalah tidak dapat dipecahkan sendiri akan tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Kerjasama inilah yang dibutuhkan untuk saling memberi dan menerima dalam memecahkan suatu permasalahan.
e.       Pemodelan (Modeling)
Pembelajaran kontekstual dengan modeling maksudnya adalah sebuah pembelajaran atau keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang biasa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Dengan kata lain, model itu biasa berupa cara mengoperasikan sesuatu, dengan begitu guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”.
f.       Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajari oleh siswa. Siswa secara bebas menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.
g.      Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang biasa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
         Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera biasa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas kemacetan belajar tersebut.
Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas sebagai berikut.
1)      Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2)      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3)      Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4)      Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
5)      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6)      Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7)      Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
       C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritik, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “jika siswa diberikan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, maka hasil belajar matematika siswa akan meningkat”.



BAB III
METODE  PENELITIAN
A. Jenis Penelitian

       Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom actin research) yang melibatkan refleksi berulang yaitu perencanaan (planing­), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).

      Penelitian ini merupakan penelitian tindakan dengan kajian utama untuk mengetahui penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika siswa dalam belajar teorema pythagoras.
B. Lokasi dan Subjek Penelitian
a. penelitian ini adalah akan dilaksanakan Madrasah Tsanawiyah As’adiyah           Dapoko Kabupaten Bantaeng.
b. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa pada satu kelas yaitu Kelas VIIIA sebanyak 33 orang siswa, dan peneliti sebagai guru matematika di kelas tersebut. Penelitian ini akan di laksanakan pada semester ganjail tahun ajaran 2011/2012. 
c.  Faktor yang Diselidiki
Faktor yang akan diselidiki dalam pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.   Faktor proses, yaitu dengan menyelidiki aktivitas siswa selama pelaksanaan tindakan.
2.   Faktor hasil, Menyelidiki hasil belajar matematika setelah pelaksanaan tindakan serta respon siswa terhadap pembelajaran kontekstual.  
D. Prosedur Penelitian
a. Tahap Pelaksanaan
A. Siklus I
1)      Tahap Persiapan Tindakan
Sebelum melakukan tindakan dalam penelitian ini, terlebih dahulu diadakan persiapan antara lain, sebagai berikut.
1)      Menganalisis materi pelajaran yang akan diajarkan dalam pelaksanaan tindakan.
2)      Mempelajari bahan yang diajarkan dari berbagai sumber
3)      Membuat rencana pembelajaran, buku siswa dan Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan menerapkan pendekatan kontekstual.
4)      Membuat instrumen dan alat observasi selama pembelajaran.
5)      Merumuskan rencana Pembalajaran yang berisi langkah-langkah pembelajaran kontekstual untuk tindakan pada Siklus I.
2)      Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan setiap siklus dalam penelitian ini, mengikuti langkah-langkah/skenario sebagai berikut.
Siklus I    :  -   Melaksanakan tindakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah disiapkan.
-       Memantau dan mengobservasi tindakan yang dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi atau pengamatan
-       Mengevaluasi hasil pemantauan
-       Mengadakan refleksi I
B. Siklus II    :  
                     - Memperbaiki / merencanakan tindakan baru II berdasarkan  refleksi I
-      Melaksanakan tindakan perbaikan II
-      Memantau dan mengobservasi tindakan yang dilaksanakan
-      Mengadakan refleksi II
Pelaporan :
-       Menganalisis hasil penelitian dari setiap siklus.
-       Menyusun laporan hasil penelitian, implementasi dan tindak lanjut jika diperlukan.
3)      Tahap Pelaksanaan Pengamatan
Pelaksanaan pengamatan akan dilakukan selama proses tindakan diberikan, dalam pelaksanaan penelitian akan mengamati aktivitas siswa dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa.
4)      Tahap Analisis Data
Analisis akan dilakukan setiap akhir pembelajaran berdasarkan hasil yang diperoleh selama pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan dan perumusan analisis perbaikan akan dianalisis untuk refleksi perbaikan tindakan berikutnya.
E. Data dan Cara Pengumpulannya
1.      Sumber Data
Data dalam penelitian ini diperoleh dari siswa yang menjadi subjek penelitian, yaitu Siswa Kelas VIIIA Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Dapoko Kabupaten Bantaeng.
2.      Jenis Data
a.       Data kualitatif
b.      Data kuantitatif
F. Instrument Penelitian
Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam rangka penelitian ini adalah:
1.      Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Lembar Observasi digunakan untuk mengetahui data tentang  kehadiran siswa, dan aktivitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
2.      Angket Respon Siswa
Angket ini digunkan untuk mengumpulkan data tentang respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.
3.      Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar digunakan untuk memperoleh informasi tentang penguasaan siswa setelah proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

G.                Teknik Pengumpulan Data
3        Cara Pengambilan Data
a.       Data mengenai aktivitas siswa dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi dan data hasil belajar matematika siswa diambil sebelum pelaksanaan tindakan dikumpulkan melalui dokumen(nilai harian) .
    1. Data tentang respon siswa diambil dengan menggunakan angket.
    2. Data hasil belajar matematika siswa diperoleh setelah pelaksanaan tindakan dikumpulkan dengan melalui tes hasil belajar yang diberikan kepada siswa tiap akhir siklus.
H. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Untuk analisis kualitatif diperoleh dari lembar observasi yang digunakan dalam penelitian yaitu lembar observasi keaktifan siswa sedangkan analisis kuantitatif digunakan statistik deskriptif untuk melihat skor rata-rata persentase dan ketuntasan hasil belajar siswa dengan bantuan kemputer.
     Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategorisasasi hasil belajar siswa adalah berdasarkan teknik kategorisasi skala lima. Menurut direktorat jenderal pendidikan dasar dan menengah (Depdikbud, 2011) bahwa skor standar umum yang digunakan adalah skala lima yaitu:

·         Kemampuan 0% – 54% atau skor 0 – 54 dikategorikan sangat rendah.
·         Kemampuan 55% –  64% atau skor 55 – 64 dikategorikan rendah.
·         Kemampuan 65%   79% atau skor 65 – 79 dikategorikan sedang.
·         Kemampuan 80% – 89% atau skor 80 – 89 dikategorikan tinggi.
·         Kemampuan 90%  – 100% atau skor 90 – 100 dikategorikan sangat tinggi.
I. Indikator Keberhasilan
Meningkatnya hasil belajar siswa, yang ditinjau dari hasil tes setiap akhir siklus yakni bila skor rata-rata hasil belajar matematika siswa meningkat dari siklus I ke siklus II dan tuntas secara klasikal. Dimana seorang siswa dikatakan tuntas hasil belajarnya jika memperoleh nilai minimal 65 sesuai kriteria ketuntasan minimal dan kelas dikatakan tuntas hasil belajarnya jika 85 % dari jumlah seluruh siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal.

1 komentar:

  1. Review of Slots.lv Casino Site | Lucky Club Live
    Our review of Slots.lv Casino Site of the best online casinos 카지노사이트luckclub at online casinos around the world, including the ones that offer

    BalasHapus