Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MELALUI PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 SINJAI TENGAH KABUPATEN SINJAI


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sampai batas tertentu matematika hendaknya dapat dikuasai oleh segenap warga negara Indonesia. Lebih lanjut matematika dapat memberi bekal kepada siswa untuk menerapkan matematika dalam berbagai keperluan. Akan tetapi persepsi negatif siswa terhadap matematika tidak dapat diacuhkan begitu saja. Umumnya pelajaran matematika di sekolah menjadi momok bagi siswa. Sifat abstrak dari objek matematika menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika. Akibatnya prestasi matematika siswa secara umum belum menggembirakan.
1
Hasil belajar siswa selain dipengaruhi oleh model pembelajaran juga dipengaruhi oleh partisipasi siswa. Jika siswa aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran maka tidak hanya aspek prestasi saja yang diraihnya namun ada aspek lain diperoleh yaitu aspek afektif dan  aspek social. Mengingat pentingnya partisipasi siswa dalam pembelajaran, maka guru di harapkan dapat menciptakan situasi pembelajaran yang lebih banyak melibatkan partisipasi siswa, sedangkan siswa hendaknya dapat memotivasi dirinya sendiri agar aktif  dalam proses pembelajaran. Dengan meningkatnya partisipasi siswa dalam pembelajaran maka diharapkan prestasi belajar siswa akan semakin meningkat.
2
Pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Pemecahan masalah tidak sekadar sebagai bentuk kemampuan menerapkan aturan-aturan yng telah dikuasai melalui kegiatan-kegiatan belajar terdahulu,melainkan dari itu, merupakan proses untuk mendapatkan seperangkat aturan pada tingkat yang lebih tinggi. Apabila seseorang telah mendapatkan suatu kombinasi perangkat aturan yang terbukti dapat dioperasikan sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi maka ia tidak saja dapat memecahkan suatu masalah, melainkan juga telah berhasil menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang dimaksud adalah perangkat prosedur atau strategi yang memugkinkan  seseorang dapat meningkatkan kemampuan dalam berpikir. Menurut Gagne (dalam Made Wena, 2011: 52)
Idealnya aktivitis pembelajaran tidak hanya difokuskan pada upaya mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya,melainkan juga bagaimana menggunakan segenap pengetahuan yang didapat untuk menghadapi situasi baru atau memecahkan masalah-masalah khusus yang ada kaitannya dengan bidang studi yang dipelajari. Hakikat pemecahan masalah adalah melakukan operasi procedural urutan tindakan,tahap demi tahap secara sistematis,sebagai seorang pemula (novice) memecahkan suatu masalah. Menurut Travers (dalam Made Wena,2011:52) kemampuan yang berstruktur procedural harus dapat diuji transfer pada situasi permasalahan baru yang relevan,karena yang dipelajari adalah prosedur-prosedur pemecahan masalah yang berorientasi pada proses . Sedangkan Raka Joni  (dalam Made Wena,2011:52) mengatakan bahwa proses yang dimaksud bukan dilihat sebagai perolehan informasi yang terjadi secara satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses simulasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya.
3
Kemampuan pemecahan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan masa depannya. Para ahli pembelajaran sependapat bahwa kemampuan pemecahan masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkan. Menurut suharsono (dalam Made Wena, 2011: 53). Persoalan tentang bagaimana mengajarkan pemecahan masalah tidak akan pernah terselesaikan tanpa memerhatikan jenis masalah yang ingin dipecahkan, saran dan bentuk program yang disiapkan untuk mengajarkannya, serta variabel-variabel pembawaan siswa.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa umumnya siswa mengerti dengan penjelasan serta contoh soal yang diberikan guru, namun ketika kembali ke rumah dan ingin menyelesaikan soal-soal yang sedikit berbeda dengan contoh sebelumnya, siswa kembali bingung bahkan lupa dengan penjelasan gurunya. Apa yang dialami siswa ini menunjukkan bahwa siswa belum mempunyai pengetahuan konseptual. Selain itu pendekatan pembelajaran matematika yang digunakan oleh guru tidak variatif. Guru masih mengandalkan pendekatan pembelajaran konvensional dengan metode ceramah sebagai metode utama. Begitu pun halnya di SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai. Oleh karena itu perlu dikembangkan dan diterapkan suatu pembelajaran matematika yang tidak hanya mentransfer pengetahuan guru kepada siswa.
4
Sejalan dengan hal yang tercantum di atas, salah satu pendekatan yang dikembangkan dan diterapkan adalah melalui pendekatan pemecahan masalah (Problem Solving) yang dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis hendak melakukan suatu penelitian eksperimen dengan judul Efektivitas Pembelajaran Melalui Pendekatan Pemecahan Masalah Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X SMAN 1 Sinjai Tengah  Kab. Sinjai.
B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dari latar belakang maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah :
1.    Apakah model pembelajaran pendekatan Pemecahan Masalah efektif digunakan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas X SMAN 1 Sinjai Tengah? Ditinjau dari:
a.       Ketuntasan hasil belajar.
b.      Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran.
c.       Respon siswa yang positif terhadap pembelajaran.
d.      Keterlakasanaan pembelajaran
2.    Seberapa besar hasil belajar matematika siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai dengan megunakan pendekatan Pemecahan Masalah?
3.    Seberapa besar hasil belajar matematika siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai dengan megunakan model pembelajaran langsung?
C.   
5
TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh jawaban atas masalah yang telah dirumuskan di atas. Secara rinci tujuan tersebut adalah untuk mengetahui :
1.    Hasil belajar siswa kelas kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung .
2.    Hasil belajar siswa kelas kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai yang diajar dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah.
3.    Hasil pembelajaran yang diajar dengan pendekatan Pemecahan Masalah lebih efektif dari pada pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran langsung.
D.    MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang diharapkan setelah penelitian ini dilaksanakan adalah :
1. Bagi siswa, dapat mengetahui hasil belajar siswa dan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran matematika.
2.   Bagi guru, sebagai masukan untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa melalui penerapan pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah.
3.   Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan akan memberi wacana perubahan yang lebih baik sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian  Belajar
Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit(tersembunyi). Teori-teori yang dikembangkan dalam komponen ini meliputi antara lain teori tentang tujuan pendidikan, organisasi kurikulum, isi kurikulum, dan model-model pengembangan kurikulum.
Belajar merupakan kegiatan penting setiap orang, termasuk di dalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar. Sebuah survey memperlihatkan bahwa 82% waktu mereka berusia 16 tahun. Konsekuensinya, 4 dari 5 remaja dan orang dewasa memulai pengalaman belajarnya yang baru dengan perasaan ketidaknyamanan (Nichol, dalam buku Aunurrahman 2009: 33).
Meskipun belajar, mengajar dan pembelajaran menunjuk kepada aktivitas yang berbeda, namun keduanya bermuara pada tujuan yang sama. Belajar mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran, namun pengaruh aktivitas pembelajaran dalam belajar hasilnya lebih sering menguntungkan dan biasanya lebih mudah diamati. Mengajar diartikan sebagai suatu keadaan atau suatu aktivitas untuk menciptakan suatu situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar.
B.     Hasil Belajar
6
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang bersifat menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional (Abdurrahman, 2003:38).
7
A.J. Romiszowski dalam Abdurrahman (2003:38) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu sistem pemprosesan masukan (inputs). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja (performance). Menurut Romiszwoski, hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari empat macam kategori, yaitu pengetahuan tentang fakta, pengetahuan tentang prosedur, pengetahuan tentang konsep dan pengetahuan tentang prinsip. Keterampilan juga terdiri dari empat kategori, yaitu keterampilan untuk berpikir atau keterampilan kognitif, keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik, keterampilan bereaksi atau bersikap, dan keterampilan berinteraksi.
Hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi dan penguasaan awal anak tentang materi yang akan dipelajari. Ini berarti bahwa guru perlu menetapkan tujuan belajar sesuai dengan kapasitas intelegensi anak; dan pencapaian tujuan belajar perlu menggunakan bahan apersepsi, yaitu bahan yang telah dikuasai anak sebagai batu loncatan untuk menguasai bahan pelajaran baru. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan yang diberikan kepada anak. Ini berarti bahwa guru perlu menyusun rancangan dan pengelolaan pembelajaran yang memungkinkan anak bebas untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya (Abdurrahman, 2003:40).
C.   
8
Efektivitas
Efektifitas berasal dari kata “efektif”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “efektif” berarti: (1) ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), (2) dapat membawa hasil, berhasil guna. Sedangkan efektivitas berarti: (1) keadaan berpengaruh: hal berkesan, (2) keberhasilan usaha atau tindakan.
Menurut Prasetyo Budi Saksono (Ahmad Farid Haebah, 2010: 7) menyatakan bahwa efektivitas adalah seberapa besar tingkat kelekatan output yang dicapai dengan output yang diharapkan dari sejumlah input . Sedangkan Ekosusilo dalam Nugraha (2006:6) mengemukakan bahwa efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang telah direncanakan dapat tercapai, semakin banyak rencana yang dapat dicapai, berarti semakin efektif pula kegiatan tersebut
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa efektivitas adalah hal, ukuran atau keadaan yang berkaitan dengan sejauh mana keberhasilan dari suatu usaha atau tindakan.
Pada penelitian ini, akan dibahas mengenai efektivitas pembelajaran. Menurut Eggen dan Kauchak, dikatakan pembelajaran efektif apabila siswa secara aktif dilibatkan dalam pengorganisasian dan penentuan informasi (pengetahuan).
9
Efektivitas dapat tercapai apabila pemilihan tujuan, peralatan dan metode yang tepat dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini efektivitas yang ingin dilihat adalah efektivitas penggunaan strategi pembelajaran pendekatan pemecahan masalah pada pembelajaran matematika. Khusus untuk penelitian ini, model pembelajaran dikatakan efektif apabila mampu meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai. Dengan kata lain untuk mengukur tingkat efektivitas adalah dengan perbandingan antara rencana atau target yang telah ditentukan dengan hasil yang telah dicapai. Semakin tinggi hasil yang dicapai dibandingkan dengan target yang direncanakan, maka semakin tinggi pula efektivitasnya.
D.    Pembelajaran Langsung
Menurut Trianto (2009: 41) menyatakan bahwa pembelajaran langsung adalah “suatu model pembelajaran yang bersifat teaching center”. Menurut Arends (Trianto, 2009: 41) pembelajaran langsung adalah salah satu model pembelajaran yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan  prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
10
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran langsung adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada guru yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang diajarkan selangkah demi selangkah.
Menurut Kadri & Nur (Trionto, 2009: 43) sintaks model pembelajaran langsung disajikan dalam lima tahap, seperti ditunjukkan table 2.1 berikut.
Table 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Langsung
Fase
Peran Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.
Fase 2
Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
Fase 3
Membimbing pelatihan
Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal.
Fase 4
Mengecek pemahaman dan memberi umpan balik
Mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.
Fase 5
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.
Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.
     Sumber: kadri & nur (2000: 8)

E.    
11
Pendekatan Pemecahan Masalah
Pemecahan Masalah atau Problem Solving juga merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran matematika. Tetapi sebelum menjelaskan pengertian pemecahan masalah, terlebih dahulu dijelaskan pengertian masalah itu sendiri.
Bell (dalam Upu 2003: 29) mengemukakan bahwa suatu situasi dikatakan masalah bagi seseorang jika ia menyadari keberadaan situasi tersebut, mengakui bahwa situasi tersebut memerlukan tindakan dan dengan segera dapat menemukan pemecahannya. Hayes (dalam Upu 2003: 29) mendukung pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa suatu masalah merupakan kesenjangan antara keadaan sekarang dengan tujuan yang ingin dicapai, sedangkan kita tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Berdasarkan beberapa pengertian tentang masalah (problem) yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dikatakan bahwa suatu situasi tertentu, tetapi belum tentu marupakan masalah bagi orang  lain. Dengan kata lain, suatu situasi mungkin merupakan masalah bagi seseorang pada waktu tertentu, akan tetapi belum tentu merupakan masalah baginya pada saat yang berbeda.
Polya (dalam Upu 2003: 31) mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu mudah segera dapat dicapai. Pemecahan masalah dalam hal ini meliputi dua aspek, yaitu masalah untuk menemukan (problem to find) dan masalah membuktikan (problem to prove). Pemecahan masalah dapat juga diartikan sebagai penemuan langkah-langkah untuk mengatasi kesenjangan yang ada. Sedangkan kegiatan pemecahan masalah itu sediri merupakan kegiatan manusia dalam menerapkan konsep-konsep dan aturan-aturan yang diperoleh sebelumnya.
12
Utari (dalam Upu 2003: 29) menegaskan bahwa pemecahan masalah dapat berupa menciptakan ide baru, menemukan teknik atau produk baru. Bahkan di dalam pembelajaran matematika, selain pemecahan masalah mempuanyai arti khusus, istilah tersebut juga mempunyai interpretasi yang berbeda. Misalnya menyelesaikan soal cerita atau soal yang tidak rutin dan mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dari sejumlah pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa pemecahan masalah merupakan usaha nyata dalam rangka mencapai jalan keluar atau ide yang berkenan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Upu (2003: 34) mengemukakan bahwa pemecahan masalah matematika memerlukan langkah-langkah dan prosedur yang benar. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat mengarahkan siswa dalam melakukan pemecahan masalah matematika.
Polya (dalam Upu 2003: 34) mengajukan sejumlah langkah berkaitan dengan pemecahan masalah yaitu sebagai berikut:
1.      Pemahaman masalah (understanding the problem)
2.      Perencanaan penyelesaian (devising a plan)
3.      Pelaksanaan (carrying out the plan)
4.      Pemeriksaan kembali proses dan hasil  (looking back).
13
Menurut Burner (dalam Trianto 2007: 67) mengatakan bahwa berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Suatu konsekuensi logis, karena dengan beruasaha untuk mencari pemecahan masalah secara mandiri akan memberikan suatu pengalaman konkret, dengan pengalaman tersebut dapat digunakan pula memecahkan masalah-masalah serupa, karena pengalaman itu memberikan makna tersendiri bagi peserta didik.  
F.     Hipotesis Penelitian
Berangkat dari kajian teori, penelitian yang relevan dan kerangka berpikir maka hipotesis dari penelitian ini dapat dirumuskan sebagai ”pembelajaran matematika dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah lebih efektif dari pembelajaran matematika dengan menggunakan Model  Pembelajaran langsung pada  siswa Kelas  X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah”.
Dalam pengujian statistik, hipotesis tersebut dirumuskan sebagai berikut :
H0 : µ1 = µ 2 lawan H1 : µ 1 > µ 2
Keterangan:
 : Parameter rata-rata hasil belajar matematika dengan menggunakan    Pendekatan Pemecahan Masalah.
 : Parameter rata-rata hasil belajar matematika dengan menggunakan Model  Pembelajaran langsung
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Variabel Penelitian dan Desain Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mencari perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Dalam penelitian ini melibatkan 2 kelompok, yaitu satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol (pembanding). Untuk kelompok eksperimen diajar dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan pemecahan masalah sedangkan pada kelompok kontrol diajar dengan menggunakan model  pembelajaran langsung.
2.      Variabel Penelitian
Variabel Penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu hasil belajar matematika siswa dengan Pendekatan Pemecahan Masalah dan hasil belajar menggunakan  Model Pembelajaran Langsung.` 
3.      Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah:

Grup
Pretest
Treatment
Posttest
(R)

(R)
Eksperimen

Kontrol
O1

O1
T

T
O2

O2

14
 
15

Keterangan:
E  : Kelas Eksperimen
K  : Kelas Kontrol
R  : Random
T  : Treatment (perlakuan)
O1   : Pretest sebelum perlakuan
O2   : Postest setelah perlakuan

Desain penelitian yang digunakan dalam peneliatian ini adalah rancangan dengan jenis Desain Kelompok Kontrol Pretes-Postes (The Pretest-Posttest Control Group Design). Rancangan penelitian ini melibatkan dua kelompok belajar yang diambil secara acak. Dimana satu kelas dijadikan kelas eksperimen dan satu dijadikan kelas kontrol, kemudian diberi pretes untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
B.     Definisi Operasional Variabel dan Perlakuan
Variabel dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah melalui dua macam pendekatan pembelajaran yaitu Pendekatan Pemecahan Masalah dan Model Pembelajaran Langsung.
1.         Pendekatan Pemecahan Masalah
Pendekatan Pemecahan Masalah adalah pendekatan yang digunakan dalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan dengan maksud mengubah keadaan yang ritual menjadi suatu keadaan, seperti yang kita kehendaki dengan memperhatikan prosedur  pemecahan secara sistematis.
16
Utari (dalam Upu 2003: 29) menegaskan bahwa pemecahan masalah dapat berupa menciptakan ide baru, menemukan teknik atau produk baru. Bahkan di dalam pembelajaran matematika, selain pemecahan masalah mempuanyai arti khusus, istilah tersebut juga mempunyai interprestasi yang berbeda. Misalnya menyelesaikan soal cerita atau soal yang tidak rutin dan mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dari sejumlah pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa pemecahan masalah merupakan usaha nyata dalam rangka mencapai jalan keluar atau ide yang berkenan
2.         Pembelajaran Langsung
 Menurut Trianto (2009: 41) menyatakan bahwa pembelajaran langsung adalah “suatu model pembelajaran yang bersifat teaching center”. Menurut Arends (Trianto, 2009: 41) pembelajaran langsung adalah salah satu model pembelajaran yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan  prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran langsung adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada guru yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang diajarkan selangkah demi selangkah.
C.      
17
Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 1 Sinjai Tengah tahun ajaran 2011/2012.
2.    Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X5 dan X6 SMA Negeri 1 Sinjai Tengah tahun ajaran 2011/2012 yang dipilih secara random.
D.    Pelaksanaan Eksperimen
1.      Langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah sebagai berikut :
a.       Kegiatan Guru
1.   Menulis pokok bahasan/sub pokok bahasan dari materi yang akan dibahas di papan tulis.
2.      Menyampaikan tujuan pembelajaran.
3.      Menyiapkan  alat atau bahan pembelajaran.
4.      Memberikan arahan-arahan tentang proses pembelajaran matematika yang akan berlangsung.
5.      Membahas materi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah:
a.       Membimbing siswa secara bertahap untuk melakukan analisis soal.
b.      Membimbing siswa untuk melakukan trans-formasi soal.
c.       Membimbing siswa melakukan operasi hitungan.
d.     
18
Membimbing siswa melakukan pengecekan terhadap hasil penyelesaian soal.
6.      Materi latihan/PR.
b.      Kegiatan Siswa
1.      Menulis pokok bahasan/sub pokok bahasan di buku catatan.
2.      Memahami tujuan pembelajaran
3.      Siswa memperhatikan dan mendengarkan arahan-arahan dari guru tentang proses pembelajaran yang akan berlangsung.
a.    Membaca seluruh soal yang diberikan secara saksama, mentransformasi soal kebentuk skema yang menggambarkan situasi soal, menulis besaran yang ditanyakan, memperkirakan jawaban.
b.   Mengecek apakah soalnya sudah berbentuk standar? Jika ya lanjutkan ke fase berikutnya; jika tidak ikuti langkah selanjutnya.
c.    Mensubtitusikan data yang diketahui ke dalam bentuk standar yang telah diperoleh, kemudian melakukan perhitungan, mengecek apakah tanda dan satuan telah sesuai?
d.   Mengecek jawaban dengan cara membandingkan dengan perkiraan jawaban yang dibuat pada fase pertama, mengecek apakah jawaban sudah sesuai dengan apa yang ditanyakan?, menelusuri kesalahan-kesalahan apa yang telah dilakukan.
4.      Mencatat soal-soal yang diberikan oleh guru sebagai PR.
2.      Langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Langsung sebagai berikut :
a.      
19
Kegiatan Guru
1.      Menulis pokok bahasan/sub pokok bahasan dari materi yang akan dibahas di papan tulis.
2.      Menyampaikan tujuan pembelajaran.
3.      Menjelaskan tentang materi pembelajaran yang akan berlangsung.
4.      Memberikan kesempatan kepada siswa yang ingin bertanya.
5.      Memberikan soal-soal yang ada pada buku paket  untuk dikerjakan di kelas.
6.      Memberikan soal-soal pekerjaan rumah.
b.      Kegiatan Siswa
1.      Menulis pokok bahasan/sub pokok bahasan di buku catatan.
2.      Memahami tujuan pembelajaran.
3.      Siswa memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru.
4.      Menanyakan hal-hal yang kurang jelas.
5.      Memahami Penjelasan guru.
6.      Mengerjakan soal latihan pada buku paket
7.      Mencatat soal-soal yang diberikan oleh guru sebagai PR.
E.     Instrumen Penelitian
Adapun instrumen yang peneliti gunakan adalah :
1.      Tes Hasil Belajar Matematika
Untuk memperoleh data tentang hasil belajar, instrumen yang digunakan adalah tes hasil belajar yang dibuat oleh penulis. Instrumen penelitian sebelum digunakan akan diuji validitas berupa validitas isi yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana instrumen tersebut mencerminkan isi tes yang dikehendaki. Tes hasil belajar yang akan digunakan dalam penelitian ini berbentuk essay. Tes tersebut dimaksudkan untuk mengukur tingkat penguasaan siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai terhadap materi yang diperoleh setelah mengalami proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2.     
20
Lembar Observasi
Pengisian lembar observasi bertujuan untuk menilai aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung baik untuk kelompok eksperimen   maupun kelompok kontrol.

F.     Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan memberi tes hasil belajar secara langsung pada kedua kelompok sampel. Pengawasan dilakukan secara langsung oleh penulis dengan dibantu oleh guru bidang studi matematika SMA Negeri 1 Sinjai Tengah
Data yang terkumpul merupakan skor masing-masing siswa. Skor tersebut akan mencerminkan tingkat daya serap atau hasil belajar siswa yang dicapai selama penelitian berlangsung dan tes yang diberikan kedua kelompok adalah sama.


G.   
    21
Teknik Analisis Data
Pengolahan data hasil penelitian digunakan dua teknik statitsik, yaitu statistik dekskriptif dan statistik inferensial.
1.    Analisis Statistik Deskriptif
            Analisis statistik deskriptif adalah analisis yang menekankan pada pembahasan data-data dan subjek penelitian dengan menyajikan data-data secara sistematik dan tidak menyimpulkan hasil penelitian.
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan skor hasil belajar matematika siswa baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Statistika deskriptif yang digunakan diantaranya rata-rata, nilai maksimun, nilai minimum, modus, variansi, standar deviasi, dan tabel disturibusi frekuensi. Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori hasil belajar matematika siswa kelas X  SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai dalam penelitian ini adalah menggunakan skala lima yang disusun oleh Departemen Pendidikan Nasional sebagai berikut.
 Tabel 3.4 Tabel Interpretasi Kategori Nilai Hasil Belajar
Nilai
Kategori
0-54
Sangat rendah
55-64
Rendah
65-79
Sedang
80-89
Tinggi
90-100
Sangat tinggi


2.   
22
Analisis Statistik Inferensial
Statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji-t. Namun sebelumnya dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisa yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.
a.    Uji persyaratan analisis
1)   Uji Normalitas Data
Uji nomalitas data digunakan untuk menguji apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Pengujian ini juga dilakukan untuk mengetahui data yang akan yang diperoleh akan diuji dengan statistik parametrik atau statistik nonparametrik. Untuk pengujian tersebut digunakan uji Anderson Darly atau Kolmogorov Smirnov dengan menggunakan taraf signifikansi 5% atau 0,05, dengan syarat:
Jika Pvalue  = 0,05 maka distribusinya adalah normal
Jika Pvalue <  = 0,05 maka distribusinya adalah tidak normal.
2)   Uji Homogenitas Varians Populasi
Uji kesamaan dua varians (homogenitas) digunakan untuk menguji apakah kedua data yang diperoleh homogen. Yaitu dengan membandingkan kedua variannya. Dalam artian bahwa apabila data yang diperoleh homogen maka kelompok-kelompok sampel berasal dari populasi yang sama.
Pengujian ini juga dilakukan untuk mengetahui uji t-test komparatif yang akan digunakan, apakah rumus yang akan digunakan separated varians atau polled varians. Untuk pengujian tersebut digunakan uji F atau uji Levenne.
23
Jika P >  maka data homogen.
Jika P <  maka data tidak homogen.
b.    Pengujian hipotesis
Pengujian hipotesis digunakan untuk mengetahui dugaan sementara yang dirumuskan dalam hipotesis penelitian dengan menggunakan uji dua pihak.
                                versus
Keterangan:
  =  Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah.
  = Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan  model pembelajaran langsung.
H0  = Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah lebih kecil atau sama efektif dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung.
H1  = Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah lebih efektif dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung.
24
Untuk pengujian ini digunakan uji t-test untuk dua sampel dengan kriteria:
Terima H0 jika P    = 0,05 dan
Tolak H0 jika P <  = 0,05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar