BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Matematika merupakan salah satu ilmu
dasar yang mempunyai peranan penting dalam upaya penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Sampai batas tertentu matematika hendaknya dapat dikuasai oleh
segenap warga negara Indonesia. Lebih lanjut matematika dapat memberi bekal
kepada siswa untuk menerapkan matematika dalam berbagai keperluan. Akan tetapi
persepsi negatif siswa terhadap matematika tidak dapat diacuhkan begitu saja.
Umumnya pelajaran matematika di sekolah menjadi momok bagi siswa. Sifat abstrak
dari objek matematika menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam
memahami konsep-konsep matematika. Akibatnya prestasi matematika siswa secara
umum belum menggembirakan.
|
1
|
|
2
|
Idealnya aktivitis pembelajaran tidak
hanya difokuskan pada upaya mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya,melainkan
juga bagaimana menggunakan segenap pengetahuan yang didapat untuk menghadapi
situasi baru atau memecahkan masalah-masalah khusus yang ada kaitannya dengan
bidang studi yang dipelajari. Hakikat pemecahan masalah adalah melakukan operasi
procedural urutan tindakan,tahap demi tahap secara sistematis,sebagai seorang
pemula (novice) memecahkan suatu masalah. Menurut Travers (dalam Made
Wena,2011:52) kemampuan yang berstruktur procedural harus dapat diuji transfer
pada situasi permasalahan baru yang relevan,karena yang dipelajari adalah
prosedur-prosedur pemecahan masalah yang berorientasi pada proses . Sedangkan
Raka Joni (dalam Made Wena,2011:52)
mengatakan bahwa proses yang dimaksud bukan dilihat sebagai perolehan informasi
yang terjadi secara satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai
pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses simulasi dan
akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya.
|
3
|
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa
umumnya siswa mengerti dengan penjelasan serta contoh soal yang diberikan guru,
namun ketika kembali ke rumah dan ingin menyelesaikan soal-soal yang sedikit
berbeda dengan contoh sebelumnya, siswa kembali bingung bahkan lupa dengan
penjelasan gurunya. Apa yang dialami siswa ini menunjukkan bahwa siswa belum
mempunyai pengetahuan konseptual. Selain itu pendekatan pembelajaran matematika
yang digunakan oleh guru tidak variatif. Guru masih mengandalkan pendekatan
pembelajaran konvensional dengan metode ceramah sebagai metode utama. Begitu
pun halnya di SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai. Oleh karena itu perlu
dikembangkan dan diterapkan suatu pembelajaran matematika yang tidak hanya
mentransfer pengetahuan guru kepada siswa.
|
4
|
Berdasarkan uraian diatas, maka
penulis hendak melakukan suatu penelitian eksperimen dengan judul Efektivitas Pembelajaran Melalui Pendekatan
Pemecahan Masalah Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X SMAN 1 Sinjai
Tengah Kab. Sinjai.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dari latar belakang
maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah :
1.
Apakah model pembelajaran pendekatan
Pemecahan Masalah efektif digunakan dalam pembelajaran matematika pada siswa
kelas X SMAN 1 Sinjai Tengah? Ditinjau dari:
a.
Ketuntasan hasil belajar.
b.
Aktivitas siswa dalam mengikuti
pembelajaran.
c.
Respon siswa yang positif
terhadap pembelajaran.
d.
Keterlakasanaan pembelajaran
2.
Seberapa besar hasil belajar
matematika siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai dengan
megunakan pendekatan Pemecahan Masalah?
3.
Seberapa besar hasil belajar
matematika siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai dengan
megunakan model pembelajaran langsung?
C.
|
5
|
Adapun tujuan dari penelitian ini
adalah untuk memperoleh jawaban atas masalah yang telah dirumuskan di atas.
Secara rinci tujuan tersebut adalah untuk mengetahui :
1.
Hasil belajar siswa kelas kelas
X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran langsung .
2.
Hasil belajar siswa kelas kelas
X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai yang diajar dengan menggunakan Pendekatan
Pemecahan Masalah.
3.
Hasil pembelajaran yang diajar dengan
pendekatan Pemecahan Masalah lebih efektif
dari pada pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran langsung.
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang diharapkan setelah penelitian ini dilaksanakan
adalah :
1.
Bagi siswa, dapat
mengetahui hasil belajar siswa dan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa untuk
memecahkan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran matematika.
2.
Bagi guru, sebagai
masukan untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa melalui penerapan
pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah.
3. Bagi
sekolah, hasil penelitian
ini diharapkan akan memberi wacana perubahan yang lebih baik sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan komponen ilmu
pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang
bersifat eksplisit maupun implisit(tersembunyi). Teori-teori yang dikembangkan
dalam komponen ini meliputi antara lain teori tentang tujuan pendidikan,
organisasi kurikulum, isi kurikulum, dan model-model pengembangan kurikulum.
Belajar
merupakan kegiatan penting setiap orang, termasuk di dalamnya belajar bagaimana
seharusnya belajar. Sebuah survey memperlihatkan bahwa 82% waktu mereka berusia
16 tahun. Konsekuensinya, 4 dari 5 remaja dan orang dewasa memulai pengalaman
belajarnya yang baru dengan perasaan ketidaknyamanan (Nichol, dalam buku
Aunurrahman 2009: 33).
Meskipun belajar, mengajar dan pembelajaran menunjuk kepada aktivitas yang
berbeda, namun keduanya bermuara pada tujuan yang sama. Belajar mungkin saja
terjadi tanpa pembelajaran, namun pengaruh aktivitas pembelajaran dalam belajar
hasilnya lebih sering menguntungkan dan biasanya lebih mudah diamati. Mengajar
diartikan sebagai suatu keadaan atau suatu aktivitas untuk menciptakan suatu
situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar.
B. Hasil Belajar
|
6
|
|
7
|
Hasil belajar juga dipengaruhi oleh
intelegensi dan penguasaan awal anak tentang materi yang akan dipelajari. Ini
berarti bahwa guru perlu menetapkan tujuan belajar sesuai dengan kapasitas
intelegensi anak; dan pencapaian tujuan belajar perlu menggunakan bahan
apersepsi, yaitu bahan yang telah dikuasai anak sebagai batu loncatan untuk
menguasai bahan pelajaran baru. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh adanya
kesempatan yang diberikan kepada anak. Ini berarti bahwa guru perlu menyusun
rancangan dan pengelolaan pembelajaran yang memungkinkan anak bebas untuk
melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya (Abdurrahman, 2003:40).
C.
|
8
|
Efektifitas berasal dari kata
“efektif”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “efektif” berarti: (1) ada
efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), (2) dapat membawa hasil, berhasil
guna. Sedangkan efektivitas berarti: (1) keadaan berpengaruh: hal berkesan, (2)
keberhasilan usaha atau tindakan.
Menurut Prasetyo Budi Saksono (Ahmad Farid Haebah,
2010: 7) menyatakan bahwa efektivitas
adalah seberapa besar tingkat kelekatan output yang dicapai dengan output yang
diharapkan dari sejumlah input . Sedangkan Ekosusilo
dalam Nugraha (2006:6) mengemukakan bahwa efektivitas adalah suatu keadaan yang
menunjukkan sejauh mana apa yang telah direncanakan dapat tercapai, semakin
banyak rencana yang dapat dicapai, berarti semakin efektif pula kegiatan
tersebut
Berdasarkan
beberapa definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa
efektivitas adalah hal, ukuran atau keadaan yang berkaitan dengan sejauh mana
keberhasilan dari suatu usaha atau tindakan.
Pada
penelitian ini, akan dibahas mengenai efektivitas pembelajaran. Menurut Eggen dan Kauchak, dikatakan pembelajaran efektif apabila siswa secara aktif
dilibatkan dalam pengorganisasian dan penentuan informasi (pengetahuan).
|
9
|
D.
Pembelajaran
Langsung
Menurut
Trianto (2009: 41) menyatakan bahwa pembelajaran langsung adalah “suatu model
pembelajaran yang bersifat teaching
center”. Menurut Arends (Trianto, 2009: 41) pembelajaran langsung adalah salah
satu model pembelajaran yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar
siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan
prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola
kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Pengetahuan deklaratif adalah
pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah
pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
|
10
|
Menurut Kadri & Nur (Trionto, 2009: 43) sintaks model
pembelajaran langsung disajikan dalam lima tahap, seperti ditunjukkan table 2.1
berikut.
Table 2.1 Sintaks Model
Pembelajaran Langsung
|
Fase
|
Peran Guru
|
|
Fase
1
Menyampaikan
tujuan dan mempersiapkan siswa
|
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa
untuk belajar.
|
|
Fase
2
Mendemonstrasikan
pengetahuan dan keterampilan
|
Guru mendemonstrasikan keterampilan
dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
|
|
Fase
3
Membimbing
pelatihan
|
Guru merencanakan dan memberi bimbingan
pelatihan awal.
|
|
Fase
4
Mengecek
pemahaman dan memberi umpan balik
|
Mencek apakah siswa telah berhasil
melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.
|
|
Fase
5
Memberikan
kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.
|
Guru mempersiapkan kesempatan melakukan
pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi
lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.
|
Sumber: kadri
& nur (2000: 8)
E.
|
11
|
Pemecahan Masalah atau Problem Solving juga merupakan salah satu
pendekatan dalam pembelajaran matematika. Tetapi sebelum menjelaskan pengertian
pemecahan masalah, terlebih dahulu dijelaskan pengertian masalah itu sendiri.
Bell (dalam Upu
2003: 29) mengemukakan bahwa suatu situasi dikatakan masalah bagi seseorang
jika ia menyadari keberadaan situasi tersebut, mengakui bahwa situasi tersebut
memerlukan tindakan dan dengan segera dapat menemukan pemecahannya. Hayes
(dalam Upu 2003: 29) mendukung pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa suatu
masalah merupakan kesenjangan antara keadaan sekarang dengan tujuan yang ingin
dicapai, sedangkan kita tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan untuk
mencapai tujuan tersebut.
Berdasarkan
beberapa pengertian tentang masalah (problem) yang telah dikemukakan di atas,
maka dapat dikatakan bahwa suatu situasi tertentu, tetapi belum tentu marupakan
masalah bagi orang lain. Dengan kata
lain, suatu situasi mungkin merupakan masalah bagi seseorang pada waktu
tertentu, akan tetapi belum tentu merupakan masalah baginya pada saat yang
berbeda.
Polya (dalam Upu
2003: 31) mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan
keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu mudah
segera dapat dicapai. Pemecahan masalah dalam hal ini meliputi dua aspek, yaitu
masalah untuk menemukan (problem to find)
dan masalah membuktikan (problem to prove).
Pemecahan masalah dapat juga diartikan sebagai penemuan langkah-langkah untuk
mengatasi kesenjangan yang ada. Sedangkan kegiatan pemecahan masalah itu sediri
merupakan kegiatan manusia dalam menerapkan konsep-konsep dan aturan-aturan
yang diperoleh sebelumnya.
|
12
|
Upu (2003: 34) mengemukakan
bahwa pemecahan masalah matematika memerlukan langkah-langkah dan prosedur yang
benar. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat mengarahkan siswa dalam
melakukan pemecahan masalah matematika.
Polya (dalam Upu
2003: 34) mengajukan sejumlah langkah berkaitan dengan pemecahan masalah yaitu
sebagai berikut:
1. Pemahaman masalah (understanding
the problem)
2. Perencanaan penyelesaian (devising a plan)
3. Pelaksanaan (carrying
out the plan)
4. Pemeriksaan kembali proses dan hasil (looking
back).
|
13
|
F. Hipotesis Penelitian
Berangkat dari kajian teori, penelitian yang relevan dan kerangka
berpikir maka hipotesis dari penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
”pembelajaran matematika dengan menggunakan Pendekatan
Pemecahan Masalah lebih efektif dari
pembelajaran matematika dengan menggunakan Model
Pembelajaran
langsung pada siswa Kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah”.
Dalam
pengujian statistik, hipotesis tersebut dirumuskan sebagai berikut :
H0 :
µ1 = µ 2 lawan H1 : µ 1 > µ 2
Keterangan:
: Parameter rata-rata hasil belajar matematika
dengan menggunakan Pendekatan
Pemecahan Masalah.
: Parameter rata-rata hasil belajar matematika
dengan menggunakan Model Pembelajaran
langsung
BAB III
METODE
PENELITIAN
A.
Variabel Penelitian dan
Desain Penelitian
1.
Jenis
Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis
penelitian eksperimen semu, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk
mencari perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.
Dalam penelitian ini melibatkan 2 kelompok, yaitu satu kelompok eksperimen dan
satu kelompok kontrol (pembanding). Untuk kelompok eksperimen diajar dengan pembelajaran yang menggunakan
pendekatan pemecahan masalah sedangkan pada kelompok kontrol diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung.
2.
Variabel
Penelitian
Variabel Penelitian ini adalah
variabel tunggal yaitu hasil belajar matematika siswa dengan Pendekatan
Pemecahan Masalah dan hasil belajar menggunakan Model Pembelajaran Langsung.`
3.
Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah:
|
|
Grup
|
Pretest
|
Treatment
|
Posttest
|
|
(R)
(R)
|
Eksperimen
Kontrol
|
O1
O1
|
T
T
|
O2
O2
|
|
14
|
|
15
|
|
|
E : Kelas Eksperimen
K : Kelas Kontrol
R : Random
T : Treatment (perlakuan)
O1 : Pretest sebelum
perlakuan
O2 : Postest setelah perlakuan
Desain
penelitian yang digunakan dalam peneliatian ini adalah rancangan dengan jenis
Desain Kelompok Kontrol Pretes-Postes (The
Pretest-Posttest
Control Group Design).
Rancangan penelitian ini melibatkan dua kelompok belajar yang diambil secara
acak. Dimana satu kelas dijadikan kelas eksperimen dan satu dijadikan kelas
kontrol, kemudian diberi pretes untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan
antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
B.
Definisi Operasional
Variabel dan Perlakuan
Variabel dalam penelitian ini adalah
hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah melalui dua macam
pendekatan pembelajaran yaitu Pendekatan Pemecahan Masalah dan Model Pembelajaran
Langsung.
1.
Pendekatan Pemecahan
Masalah
Pendekatan Pemecahan Masalah adalah
pendekatan yang digunakan dalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan dengan
maksud mengubah keadaan yang ritual menjadi suatu keadaan, seperti yang kita
kehendaki dengan memperhatikan prosedur
pemecahan secara sistematis.
|
16
|
2.
Pembelajaran Langsung
Menurut Trianto (2009: 41) menyatakan bahwa pembelajaran
langsung adalah “suatu model pembelajaran yang bersifat teaching center”. Menurut Arends (Trianto, 2009: 41) pembelajaran
langsung adalah salah satu model pembelajaran yang dirancang khusus untuk
menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan
pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan
dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Pengetahuan
deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural
adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Berdasarkan
pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran langsung adalah
suatu model pembelajaran yang berpusat pada guru yang dirancang khusus untuk
menunjang proses belajar siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan
memperoleh informasi yang diajarkan selangkah demi selangkah.
C.
|
17
|
1. Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa SMA
Negeri 1 Sinjai Tengah tahun ajaran 2011/2012.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X5
dan X6 SMA Negeri 1 Sinjai Tengah tahun ajaran 2011/2012 yang
dipilih secara random.
D.
Pelaksanaan Eksperimen
1. Langkah-langkah
kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah sebagai
berikut :
a.
Kegiatan Guru
1. Menulis pokok bahasan/sub pokok bahasan dari
materi yang akan dibahas di papan tulis.
2.
Menyampaikan tujuan
pembelajaran.
3.
Menyiapkan alat atau bahan pembelajaran.
4.
Memberikan arahan-arahan
tentang proses pembelajaran matematika yang akan berlangsung.
5.
Membahas materi pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah:
a.
Membimbing siswa secara
bertahap untuk melakukan analisis soal.
b.
Membimbing siswa untuk
melakukan trans-formasi soal.
c.
Membimbing siswa melakukan
operasi hitungan.
d.
|
18
|
6.
Materi latihan/PR.
b.
Kegiatan Siswa
1.
Menulis pokok bahasan/sub pokok
bahasan di buku catatan.
2.
Memahami tujuan pembelajaran
3.
Siswa memperhatikan dan
mendengarkan arahan-arahan dari guru tentang proses pembelajaran yang akan
berlangsung.
a. Membaca
seluruh soal yang diberikan secara saksama, mentransformasi soal kebentuk skema
yang menggambarkan situasi soal, menulis besaran yang ditanyakan, memperkirakan
jawaban.
b. Mengecek
apakah soalnya sudah berbentuk standar? Jika ya lanjutkan ke fase berikutnya;
jika tidak ikuti langkah selanjutnya.
c. Mensubtitusikan
data yang diketahui ke dalam bentuk standar yang telah diperoleh, kemudian
melakukan perhitungan, mengecek apakah tanda dan satuan telah sesuai?
d. Mengecek
jawaban dengan cara membandingkan dengan perkiraan jawaban yang dibuat pada
fase pertama, mengecek apakah jawaban sudah sesuai dengan apa yang ditanyakan?,
menelusuri kesalahan-kesalahan apa yang telah dilakukan.
4. Mencatat
soal-soal yang diberikan oleh guru sebagai PR.
2.
Langkah-langkah kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Langsung sebagai berikut :
a.
|
19
|
1.
Menulis pokok bahasan/sub pokok
bahasan dari materi yang akan dibahas di papan tulis.
2.
Menyampaikan tujuan
pembelajaran.
3.
Menjelaskan tentang materi
pembelajaran yang akan berlangsung.
4.
Memberikan kesempatan kepada
siswa yang ingin bertanya.
5.
Memberikan soal-soal yang ada pada
buku paket untuk dikerjakan di kelas.
6.
Memberikan soal-soal pekerjaan
rumah.
b.
Kegiatan Siswa
1.
Menulis pokok bahasan/sub pokok
bahasan di buku catatan.
2.
Memahami tujuan pembelajaran.
3.
Siswa memperhatikan dan
mendengarkan penjelasan guru.
4.
Menanyakan hal-hal yang kurang
jelas.
5.
Memahami Penjelasan guru.
6.
Mengerjakan soal latihan pada
buku paket
7.
Mencatat soal-soal yang
diberikan oleh guru sebagai PR.
E. Instrumen
Penelitian
Adapun instrumen yang peneliti
gunakan adalah :
1. Tes
Hasil Belajar Matematika
Untuk memperoleh data
tentang hasil belajar, instrumen yang digunakan adalah tes hasil belajar yang
dibuat oleh penulis. Instrumen penelitian sebelum digunakan akan diuji
validitas berupa validitas isi yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
instrumen tersebut mencerminkan isi tes yang dikehendaki. Tes hasil belajar yang akan digunakan dalam penelitian
ini berbentuk essay. Tes tersebut dimaksudkan untuk mengukur tingkat penguasaan
siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kab. Sinjai terhadap materi yang
diperoleh setelah mengalami proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2.
|
20
|
Pengisian lembar observasi bertujuan untuk menilai
aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung baik untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.
F. Teknik
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan
memberi tes hasil belajar secara langsung pada kedua kelompok sampel.
Pengawasan dilakukan secara langsung oleh penulis dengan dibantu oleh guru
bidang studi matematika SMA Negeri 1 Sinjai Tengah
Data yang terkumpul merupakan skor
masing-masing siswa. Skor tersebut akan mencerminkan tingkat daya serap atau
hasil belajar siswa yang dicapai selama penelitian berlangsung dan tes yang
diberikan kedua kelompok adalah sama.
G.
|
21
|
Pengolahan
data hasil penelitian digunakan dua teknik statitsik, yaitu statistik dekskriptif
dan statistik inferensial.
1. Analisis Statistik
Deskriptif
Analisis
statistik deskriptif adalah analisis yang menekankan pada pembahasan data-data
dan subjek penelitian dengan menyajikan data-data secara sistematik dan tidak
menyimpulkan hasil penelitian.
Analisis statistik deskriptif
digunakan untuk mendeskripsikan skor hasil belajar matematika siswa baik pada
kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Statistika deskriptif yang
digunakan diantaranya rata-rata, nilai maksimun, nilai minimum, modus,
variansi, standar deviasi, dan tabel disturibusi frekuensi. Kriteria yang
digunakan untuk menentukan kategori hasil belajar matematika siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai
dalam penelitian ini adalah menggunakan skala lima yang disusun oleh Departemen
Pendidikan Nasional sebagai berikut.
Tabel 3.4 Tabel Interpretasi
Kategori Nilai Hasil Belajar
|
Nilai
|
Kategori
|
|
0-54
|
Sangat
rendah
|
|
55-64
|
Rendah
|
|
65-79
|
Sedang
|
|
80-89
|
Tinggi
|
|
90-100
|
Sangat
tinggi
|
2.
|
22
|
Statistik inferensial digunakan untuk
menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji-t. Namun sebelumnya dilakukan
pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisa yaitu
uji normalitas dan uji homogenitas.
a. Uji
persyaratan analisis
1) Uji
Normalitas Data
Uji nomalitas data digunakan untuk
menguji apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.
Pengujian ini juga dilakukan untuk mengetahui data yang akan yang diperoleh
akan diuji dengan statistik parametrik atau statistik nonparametrik. Untuk
pengujian tersebut digunakan uji Anderson
Darly atau Kolmogorov Smirnov
dengan menggunakan taraf signifikansi 5% atau 0,05, dengan syarat:
Jika Pvalue ≥
= 0,05 maka distribusinya adalah normal
Jika Pvalue <
= 0,05 maka distribusinya adalah tidak normal.
2) Uji
Homogenitas Varians Populasi
Uji kesamaan dua varians
(homogenitas) digunakan untuk menguji apakah kedua data yang diperoleh homogen.
Yaitu dengan membandingkan kedua variannya. Dalam artian bahwa apabila data
yang diperoleh homogen maka kelompok-kelompok sampel berasal dari populasi yang
sama.
Pengujian ini juga dilakukan untuk
mengetahui uji t-test komparatif yang akan digunakan, apakah rumus yang akan
digunakan separated varians atau polled varians. Untuk pengujian
tersebut digunakan uji F atau uji Levenne.
|
23
|
Jika P <
maka data tidak homogen.
b. Pengujian
hipotesis
Pengujian hipotesis digunakan untuk mengetahui dugaan sementara yang
dirumuskan dalam hipotesis penelitian dengan menggunakan uji dua pihak.
versus
Keterangan:
= Hasil belajar matematika siswa
yang diajar dengan menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah.
= Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung.
H0 =
Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan
pemecahan masalah lebih kecil atau sama efektif dengan hasil belajar matematika
siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung.
H1 =
Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan
pemecahan masalah lebih efektif dengan hasil belajar matematika siswa yang
diajar dengan model pembelajaran langsung.
|
24
|
Terima H0
jika P
= 0,05 dan
Tolak H0
jika P <
= 0,05
Tidak ada komentar:
Posting Komentar