Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: Efektivitas pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Pada Siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar



BAB I

PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
               Pendidikan pada hakikatnya adalah suatu usaha sadar yang dilakukan dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga dapat berguna bagi bangsa dan Negara, terutama sebagai penerus yang diharapkan mampu meningkatkan taraf pendidikan khususnya.Dalam pendidikan nasional, ada penjenjangan pendidikan jalur sekolah yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Perwujudan manusia yang berkualitas melalui pendidikan utamanya dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, oleh karena itu matematika sebagai suatu ilmu dasar memegang peranan penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang dibutuhkan oleh siswa untuk mendapatkan kemampuan yang lebih baik dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti yang dikemukakan oleh Djali (sakarani, 2005:1), bahwa :” matematika merupakan sarana berpikir ilmiah, memegang peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kesejahtraan bangsa.
1
Mengingat peranan matematika sangat penting, maka guru dituntut melaksanakan usaha-usaha perbaikan pengajaran baik dalam hal materi maupun maetode pengajaran yang tentunya sesuai dengan kebutuhan siswa, dengan demikian maka prestasi siswa tersebut dapat meningkat. Keberhasilan seorang guru dalam mengajar terletak pada kemampuannya memilih metode pengajaran dan melaksanakan proses belajar mengajar yang sebaik-baiknya dalam arti siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pelaksanaan pembelajaran didalam kelas merupakan salah satu tugas utama guru. Pembelajaran diartikan sebagai kegiatan yang dapat ditujukan untuk mempelajari bahan pengajaran. Dominasi guru dalam proses pembelajaran dengan menetapkan metode ceramah menyebabkan siswa dengan sendirinya dapat memahami materi yang diajarkan, keterampilan atau sikap yang mereka butuhkan. Kondisi seperti ini tidak akan menumbuhkembangkan aspek kemampuan siswa seperti yang diharapkan. Pada umumnya guru memulai pembelajaran langsung pada pemaparan materi, kemudian pemberian contoh soal dan selanjutnya mengevaluasi siswa melalui latihan soal, sehingga mengakibatkan minat belajar siswa menurun pada pelajaran matematika dikarenakan kualitas pengajaran yang rendah. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bidang studi matematika kelas VII, pada tahun 2011 hasil belajar matematika siswa kelas VII berada dibawah rata-rata bahkan tergolong sangat rendah sebagai standar keberhasilan, sehingga guru merasa perihatin dan ingin memperbaiki keadaan tersebut dengan melaksanakan pembelajaran yang akan membuat siswa dapat belajar aktif.
Rendahnya tingkat penguasaan peserta didik terhadap matematika merupakan indikator bahwa perlu adanya pembelajaran matematika yang baik, yang dapat meningkatkan penguasaan peserta didik terhadap mata pelajaran matematika.
Pembelajaran matematika disekolah seharusnya tidak lagi berorientasi pada materi pelajaran, tetapi berorientasi pada kompetensi siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang diharapkan dapat direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Siswa harus diupayakan menjadi subjek belajar yang aktif mengkostruksikan atau membangun sendiri pemahaman terhadap materi yang dipelajari, sedangkan guru sebaiknya berperan sebagai fasilitator dan mediator yang kreatif agar siswa dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan. Hal ini sejalan dengan kurikulum yang diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan menilai, sikap dan minat peserta didik khususnya dalam berpikir logis dengan daya nalar yang tinggi. Oleh karena itu matematika sebagai salah satu ilmu dasar merupakan wahana pendidikan yang memuat aspek penalaran, mempunyai peranan penting dalam mewujudkan tujuan, fungsi dan tanggung jawab pendidikan.
Penerapan sistem pembelajaran pada metode pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) akan melatih siswa untuk belajar mandiri sehingga dibutuhkan persiapan yang mantap agar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Model pembelajaran yang efektif meliputi: mengajar siswa untuk belajar mengingat, berpikir dan memotivasi diri sendiri. Hal ini berarti model pembelajaran sesungguhnya adalah model dimana guru dapat membantu siswa untuk memperoleh informasi, ide, keterampilan, cara berpikir dan mengekspresikan dirinya sendiri.
Alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) sangat membantu dalam pengembangan pendidikan terutama dalam peningkatan hasil belajar siswa khususnya pada bidang matematika, karena dalam proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran terbalik siswa dituntut untuk betul-betul memahami dan mengkaji sendiri materi yang akan dibahas, kemudin setelah itu siswa akan menjelaskan sendiri kepada siswa yang lain. Dengan cara seperti ini siswa akan betul-betul serius dalam mempelajari materi yang ditugaskan oleh pengajar dan tidak merasa jenuh dalam proses pembelajarannya.
Berdasarkan uraian diatas penulis terdorong untuik mengkaji lebih jauh dengan mengangkat judul penelitian “Efektivitas pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Pada Siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar.”

B. Rumusan Masalah        
Berdasarkan uraian diatas maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)?
2.      Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung?
3.      Apakah penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) lebih efektif dari pada penerapan  model pembelajaran langsung terhadap pembelajaran matematika pada siswa kelas VII SMP Negeri 21  Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.      Untuk memperoleh hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Makassar yang diajar dengan menggunakan  pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)
2.      Untuk memperoleh hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Makassar yang diajar dengan menggunakan  pembelajaran langsung.
3.      Untuk mengetahui keefektivan belajar siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar yang diajar dengan menggunakan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dengan  siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran langsung.
D. Manfaat Hasil Penelitian      
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini diantaranya  adalah:
1.      Sebagai bahan informasi kepada guru matematika dan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran matematika.
2.      Menambah wawasan bagi guru matematika yang berhubungan dengan model pembelajaran.
3.      Bagi penulis, penelitian ini nmenjadi media dalam usaha melatih diri menyatakan atau menyusun buah pikiran secara tertulis dan sistematis, sekaligus mengaplikasikan ilmu yang diperoleh.















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1.       Hakekat Matematika
Matematika merupakan disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas bila dibandingkan dengan ilmu yang lain. Matematika menekankan pada proses deduktif yang memerlukan penalaran yang logis dan aksiomatik. Di samping itu materi matematika bersifat hirarkis sehingga pembahasannya dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Hal ini sejalan  dengan pendapat Djali yang mengemukakan tentang definisi matematika (Chaeruddin, 2001: 76) bahwa:
“Matematika sebagai ilmu pengetahuan abstrak tentang ruang dan bilangan, ia sering dilukiskan sebagai kumpulan sistem matematika yang mempunyai struktur tersendiri yang bersifat deduktif.Matematika berkaitan dengan ide-ide struktur dan hubungan yang teratur menurut aturan yang logis”.
Menurut, Johnson dan Rising dalam Suherman dkk (2001: 19) berpendapat  bahwa:
“Matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefenisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan simbol yang padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide dari pada bunyi”.

Menurut, Hudoyo (1990: 3) mengemukakan bahwa matematika adalah sebagai berikut:
7
“Matematika berkenaan dengan ide-ide gagasan-gagasan struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur secara logis sehingga matematika ini berkaitan dengan konsep-konsep abstrak”.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa matematika adalah suatu mata pelajaran yang bersifat hirarki, logis dan berjenjang.
2.      Pengertian Belajar
Belajar merupakan  suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada individu. Hudoyo (1990:1) mengemukakan bahwa:
“Belajar adalah kegiatan bagi setiap orang, pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, kegemaran, dan sikap seseorang terbentuk dan dimodifikasi dan berkembang disebabkan belajar, karena itu seseorang dikatakana belajar, bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan  suatu perubahan tingkah laku”.
      
Dari kegiatan belajar akan terlihat sebagai perubahan tingkah laku. Dari hasil pengalaman-pengalaman inilah yang akan membentuk pribadi individu kearah kedewasaan.
              Definisi lain dikemukakan oleh The Lian Gie dalam Sappaile (1996: 7) memberikan pengertian belajar sebagai berikut:
              “Belajar adalah segenap rangkaian/aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa perubahan dalam pengetahuan atau kemahiran yang sifatnya sedikit banyak permanen”.

Sedangkan Slameto (1991: 2) mengemukakan pengertian belajar bahwa:
“Belajar adalah proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Dari beberapa definisi tentang belajar yang dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar oleh individu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mengakibatkan adanya perubahan tingkah laku pada individu tersebut.
      
3.      Hasil  Belajar Matematika
Dalam proses belajar mengajar matematika dikelas, penyajian materi pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa dengan maksud siswa dapat menguasai materi pelajaran yang telah diberikan. Bila dikaitkan dengan matematika, maka prestasi belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam selang waktu tertentu. Apabila siswa telah menguasai materi pelajaran maka terjadi perubahan tingkah laku. Perubahan ini merupakan tujuan pengajaran matematika dalam arti siswa telah memiliki pengetahuan tentang matematika. Prestasi belajar matematika ini dapat diukur dengan tes prestasi belajar.
Prestasi belajar berarti suatu yang telah dihasilkan atau dilakukan dengan tes. Hal ini sejalan dengan pendapat yang  dikemukakan oleh Syamsu Mappa dalam Darori (1998:13) bahwa:
“ Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai oleh murid dalam suatu bidang studi tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukur keberhasilan murid”.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar matematika merupakan hasil yang dicapai atau diperoleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar matematika, yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku.
4.      Efektivitas
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional 2007: 284), efektivitas memiliki arti keefektifitasan sesuatu (benda). Selanjutnya keefektivitasan artinya keadaan berpengaruh atau keberhasilan suatu usaha atau tindakan. Sedangkan menurut Perrot mengemukakan guru yang efektif adalah guru yang dapat menunjukkan kemampuan-kemampuan menghasilkan tujuan belajar yang telah direncanakan. Dengan demikian, efektivitas yang dimaksud penulis dalam penelitian ini adalah tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
5.      Hakekat Pembelajaran Langsung
a. Pengetian Pembelajaran  Langsung
Pembelajaran Langsung adalah cara menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa, siswa dipandang  sebagai objek yang menerima materii yang diberikan oleh guru. Biasanya guru memberikan informasi mengenai bahan pengajaran dalam bentuk penjelasan dan peneuran secara lisan, yang lebih dikenal dengan metode ceramah. Pada umumnya pembelajaran berlangsung satu arah, guru memberikan ide (gagasan), informasi dan siswa menerima (Hudoyo, 1990: 123).
Pada pembelajaran langsung guru memberikan informasi tentang suatu materi kepada siswa yang sebelumnya diolah tuntaskan guru. Dalam proses pembelajaran, komunikasi hanya berpusat pada guru, siswa hanya sekali-kali dapat bertanya, mencatat hal yang dianggap penting dari penjelasan guru.
b.      Keunggulan dan kelemahan Pembelajaran Langsung.
1.      Keunggulan Pembelajaran Langsung.
a.       Mengajar terencana, isi silabus dapat diselesaikan menurut waktu yang tersedia.
b.      Dapat dipakai pada kelas yang besar maupun yang kecil.
c.       Tidak terlalu banyak memerlukan alat bantu.
d.      Dapat dipakai sebagai penambah bahan yang dibaca.
2.      Kelemahan Pembelajaran Langsung.
a.       Menghalangi respon dari yang belajar.
b.      Hanya sedikit pengajar yang dapat menjadi pembicara yang baik.
c.       Pembicara harus memahami pokok pembicaraannya.
d.      Membatasi daya ingat siswa.

6.      Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)
Menurut Nur (2000: 15) Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah metode pembelajaran yang berdasarkan prinsip-prinsip pengajuan pertanyaan yang mana keterampilan-keterampilan metakognitif diajarkan melalui pembelajaran langsung dan pemodelan oleh guru untuk memperbaiki kemampuan membaca siswa yang pemahamannya rendah. Sedangkan menurut Arends (1997) dalam Wiludjeng (2000: 4) pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah prosedur pembelajaran atau pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan kepada siswa tentang strategi-strategi kognitif serta untuk membantu siswa memahami bacaan dengan baik.
Menurut Palincsar (1986) pembelajaran terbalik mengacu pada suatu aktivitas instruksional yang berlangsung dalam wujud suatu dialog antara guru dan siswa mengenal segmen teks. Sedangkan menurut Annemarie Sullivan (1985) pembelajaran terbalik adalah suatu dialog antara guru dan siswa dimana peserta mengambil giliran mengumpamakan peran guru.
            Pendapat lain dikemukakan oleh Manoy (2002) Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah prosedur pembelajaran untuk mengajarkan kepada siswa empat macam strategi pemahaman mandiri yaitu merangkum, bertanya, menjelaskan dan memprediksi. Pembelajaran terbalik lebih menghendaki guru menjadi model dan pembantu dari pada penyaji proses pembelajaran. Untuk mempelajari strategi-strategi ini, guru dan siswa membaca bacaan yang ditugaskan dalam kelompok-kelompok kecil dan guru memodelkan keempat keterampilan tersebut dengan merangkum bacaan, mengajukan satu atau dua pertanyaan, mengklarifikasi poin-poin yang sulit, dan memprediksi apa yang akan ditulis pada bagian tulisan berikutnya. Pada saat pembelajaran berjalan situasi terbalik, yaitu siswa mengambil giliran dan melaksanakan peran guru dan bertindak sebagai pemimpin diskusi untuk kelompok tersebut. Sementara siswa berperan sebagai guru, guru tersebut memberikan dukungan sebagai umpan balik dan semangat ketika siswa belajar strategi tersebut dan membentuk mereka saling mengajar satu sama lain.
            Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki manfaat agar tujuan pembelajaran tercapai, kemampuan siswa dalam belajar mandiri juga ditingkatkan.
            Dengan demikian kekuatan-kekuatan dari pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) sebagai berikut:
a.          Melatih kemampuan siswa belajar mandiri
b.         Melatih siswa untuk menjelaskan kembali materi yang dipelajari kepada pihak   lain.
c.          Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Dengan demikian kemampuan bernalar siswa juga semakin berkembang.
d.         Mempertinggi kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.
            Dari penjelasan di atas, untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar mandiri melalui pembelajaran terbalik, guru perlu menyediakan sarana misalnya materi bahan pelajaran, memberikan bimbingan yang diperlukan, memberikan motivasi/dukungan, bersedia memberikan umpan balik, dan rangsangan ketika siswa mempelajari materi tersebut.
Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)  sebagai berikut:
a.          Guru menginformasikan  tujuan pembelajaran bahwa pembelajaran ini bertujuan untuk menanamkan strategi pemahaman mandiri yang khusus dan akan ditunjuk seorang siswa untuk tampil ke depan mengajar temannya yang lain.
b.         Guru memberikan petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan siswa pada saat pembelajaran berlangsung.
c.          Siswa melaksanakan tugas sebagai berikut:
1.      Mempelajari materi yang ditugaskan oleh guru secara mandiri, selanjutnya merangkum atau meringkas materi tersebut.
2.      Membuat pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang diringkasnya.
d.         Guru mengecek hasil pekerjaan siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan secara lisan pada siswa, kemudian guru mencatat (menandai) sejumlah siswa yang benar secara meyakinkan.
e.          Guru menyuruh beberapa siswa “siswa guru” untuk menjelaskan/menyajikan hasil temuannya pada saat belajar mandiri di depan kelas.
f.       Guru memandu proses pembelajaran dengan memberikan kesempatan siswa yang lain  untuk menanggapi materi yang telah disampaikan oleh temannya.
g.     Dengan metode tanya jawab, guru mengungkapkan kembali pengembangan materi tersebut untuk melihat pengalaman siswa yang lain.
h.      Guru memberi tugas soal latihan secara mandiri, termasuk memberikan soal yang mengacu pada kemampuan siswa dalam memprediksi kemungkinan pengembangan materi tersebut.
i.        Guru melakukan evaluasi diri/ refleksi untuk mengamati keberhasilan penerapan pembelajaran terbalik yang telah dilakukan.
 (Emi Pujiastuti, 2000: 35)
Dalam penelitian ini menggunakan 3 komponen sebagai indikator keefektifan model pembelajaran terbalik pada pembelajaran matematika yaitu
1.      Hasil belajar siswa
2.      Aktivitas siswa
3.      Respon siswa
Sedangkan model pembelajaran terbalik dikatakan efektif pada pembelajaran matematika apabila memenuhi 3 indikator diatas yaitu
1.        Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran terbalik memenuhi standar ketuntasan.
2.        Aktivitas siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran terbalik terlihat antusias dalam proses pembelajaran matematika.
3.        Siswa member respon positif terhadap penggunaan model pembelajaran terbalik pada proses pembelajaran matematika.  
B.  Kerangka berpikir
Proses belajar mengajar  sangat ditentukan oleh adanya interaksi edukatif dari komponen pembelajaran yang meliputi guru, siswa, materi pelajaran, serta model pembelajaran. Guru sebagai pelaksana dalam pengajaran matematika harus memilih dan menerapkan  suatu cara mengajar yang sesuai dengan karakteristik bahan pelajaran, supaya siswa dapat belajar dengan baik sehingga hasil belajarnya dapat meningkat.
Sebagaimana umum diketahui bahwa dalam pembelajaran langsung hanya berorientasi pada target penguasaan materi. Salah satu contoh pembelajaran langsung adalah menghafal. Berdasarkan segi penguasaan materi, menghafal terbukti berhasil dalam kompotisi hasil belajar siswa, tetapi gagal dalam membekali siswa memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pembelajaran terbalik adalah prosedur pembelajaran untuk mengajarkan kepada siswa empat macam strategi pemahaman mandiri yaitu merangkum, bertanya, menjelaskan, dan memprediksi. Pada pembelajaran berjalan situasi terbalik, yaitu siswa mengambil giliran dan melaksanakan peran guru dan bertindak sebagai pemimpin diskusi untuk kelompok tersebut. Sementara memberikan dukungan sebagai umpan balik dan semangat ketika siswa belajar strategi dan saling mengajar satu sama lain.
Untuk memenuhi tuntutan model pembelajaran terbalik efektif digunakan dalam pembelajaran matematika, sedangkan untuk tuntutan yang sama pembelajaran langsung dianggap kurang memberikan hasil yang lebih baik bagi prestasi belajar matematika. Pembelajaran yang menggunakan pembelajaran terbalik lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran langsung.

C. Hasil Penelitian yang Relevan
1.    Wiludjeng (2000: 50) mengatakan bahwa dalam pembelajaran dengan reciprocal teaching akan mengkondisikan siswa mengalami proses belajar secara mandiri.
2.    Arnita (2003: 23) mengatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar Biologi siswa kelas II MTs Negeri Model Makassar antara siswa yang diajar dengan menggunakan model reciprocal teaching dengan siswa yang diajar dengan metode ceramah.
3.    Muhammad Asdar (2004: 31) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar Matematika Pokok Bahasan Statistik & Statistika siswa yang diajar dengan reciprocal teaching dengan siswa yang diajar dengan Pembelajaran Tradisional pada siswa kelas II MAN Model Makassar.

D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka berpikir maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) lebih efektif dari pada penerapan model pembelajaran langsung terhadap pembelajaran matematika pada siswa Kelas VII SMP Negeri 21 Makassar”.
           Untuk keperluan pengujian statistiknya, maka hipotesis penelitian tersebut dirumuskan sebagai berikut:
H0 : µ1  =  µ2     lawan   H1 : µ1  > µ2
                                                            (M. Arif Tiro & Baharuddin Ilias 2007: 197)
Keterangan:                              
µ1 = Parameter skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching).
µ2 = Parameter skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran langsung.
                                                                    






BAB III
METODE PENELITIAN
A. Variabel dan Desain Penelitian
1.   Variabel Penelitian
            Penelitian ini akan menyelidiki satu variable yaitu hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran terbalik (Reciprocal Teaching) dan hasil belajar dengan menggunakan pembelajaran langsung.
2. Desain Penelitian
            Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah randomisasi kelompok pembanding atau disebut juga Randomizaed Control Group Design. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok control. Kelompok eksperimen dan kelompok control dipilih dan ditempatkan secara random sehingga kedua kelompok tersebut dianggap memiliki tingkat penguasaan materi pelajaran matematika sebanding. Hal ini akan ada perbedaan setelah terjadi perlakuan.
Adapun skema sebagai berikut:
Random
Kelompok
Perlakuan
Hasil Penelitian
R
E
T1
O1
R
K
T2
O2
Sumber: Suharsimi dalam Abdul (2008: 25)
Dimana:
R : Random
23
         E : Kelompok Eksperimen
         K : Kelompok Kontrol
        T1: Perlakuan untuk kelompok eksperimen, dengan menggunakan model pembelajaran terbalik
        T2: Perlakuan untuk kelompok control, dengan menggunakan model    pembelajaran langsung
        O1: Observasi setelah perlakuan untuk kelas Eksperimen
              O2:  Observasi setelah perlakuan untuk kelas Kontrol.        
A.      Definisi Operasional Variabel
           Untuk menggambarkan variable yang digunakan dalam penelitian ini secara operasional dinyatakan sebagai berikut:
1.      Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)
            Pembelajaran terbalik adalah prosedur pembelajaran untuk mengajarkan kepada siswa empat macam strategi pemahaman mandiri yaitu merangkum, bertanya, menjelaskan dan memprediksi.
2.      Pembelajaran Langsung
            Pembelajaran langsung adalah model pengajaran yang lebih terpusat pada guru, peran guru adalah sebagai penyaji materi (pengajar).
3.      Hasil belajar matematika
Hasil belajar matematika adalah ukuran tercapainya pembelajaran yang ditinjau dari aspek kognitif melalui tes tertulis setelah siswa mengikuti pengajaran dengan pemberian model pembelajaran terbalik dan pemberian model pembelajaran langsung.

B.   Populasi dan Sampel
1.        Populasi
            Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar tahun pelajaran 2011/ 2012 yang terdiri dari 9 kelas.
2.         Sampel
 Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan teknik cluster random sampling. Dari seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar yang terdiri dari 9 kelas, dirandom dan hanya diambil 2 kelas sebagai sampel penelitian. Dari kedua kelas yang terpilih sebelumnya, dirandom lagi untuk menentukan kelas yang menjadi kelompok eksperimen dan kelas yang menjadi kelompok control. Dalam hal ini, terpilih kelas VIID sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas yaitu kelas VIIH  otomatis sebagai kelas control.

C.    Prosedur Pelaksanaan Eksperimen
Setelah menetapkan sampel, maka pelaksanaan eksperimen akan dilakukan dengan prosedur sebagai beriku:
1.      Satu kelas yaitu kelas yang terpilih sebagai kelompok eksperimen diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan satu lagi yaitu sebagai kelas yang terpilih sebagai kelompok control diajarkan dengan menggunakan pembelajaran langsung pada materi yang sama.
2.      Pelaksanaan penelitian (kegiatan belajar mengajar) dilaksanakan sebanyak 5 kali pertemuan. Waktu untuk setiap pertemuan disesuaikan dengan jadwal mata pelajaran semester yang berjalan pada lokasi sekolah tempat penelitian dilaksanakan.
3.      Dalam keseluruhan pelaksanaan penelitian yang dilaksanakan sebanyak 5 kali pertemuan. 4 kali pertemuan dipergunakan penulis untuk memberikan atau menyampaikan materi ajar dan dilakukan pengamatan terhadap aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan 1 kali pertemuan sebagai pertemuan terakhir digunakan untuk memberikan tes hasil belajar matematika pada kedua kelompok dan diakhiri dengan refleksi yaitu memberikan kesempatan kepada kelompok eksperimen untuk memberikan respon tentang penggunaan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) pada proses pembelajaran matematika.
4.      Pemberian tes hasil belajar pada kedua kelompok penelitian dilaksanakan setelah dilakukan validasi instrument tes oleh validator.

Sedangkan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran pada dua kelompok adalah sebagai berikut:
1.      Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching).
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
a. Menyampaikan tujuan       pembelajaran.
a. Memahami tujuan pembelajaran.
b. Menyampaikan model pembelajaran        yang digunakan.
b. Memahami model pembelajaran.
c. Memberikan kesempatan siswa membuat ringkasan dan membuat pertanyaan.
c. Membuat ringkasan dan membuat     pertanyaan.
d. Mengecek hasil pekerjaan siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara lisan
d. Menjawab pertanyaan lisan
e. Menunjuk siswa (sebagai siswa yang mantap “siswa guru”) untuk menjelaskan materi pelajaran, secara bergantian didepan kelas.
e. Menjelaskan materi pelajaran, secara bergantian didepan kelas.
f. Memberikan kesempatan siswa untuk menanggapi perjelasan “siswa guru” yang telah diberikan.
f. Menanggapi materi pelajaran
g. Dengan metode tanya jawab diberikan penjelasan/pengembangan materi untuk mengetahui pemahaman siswa yang lain
g. Memahami pengembangan materi yang disampaikan oleh guru.
h. Memberi tugas soal latihan secara mandiri, termasuk memberikan soal yang mengacu pada kemampuan siswa dan memprediksi pengembangan materi
h. Mencatat soal latihan secara mandiri.
i.  Mengarahkan siswa membuat rangkuman
i. Membuat rangkuman

j. Memberikan PR kepada siswa
j. Mencatat PR

                                                                                    (Emi Pujiastuti, 2000: 35)
2.      Pembelajaran dengan Menggunakan  Pembelajaran Langsung.
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran
a. Memahami tujuan pembelajaran.
b. Mendemonstrasikan keterampilan dan menyajikan informasi tahap demi tahap.
b. Memahami dan menyalin materi yang  materi tahap demi tahap.
c. Memberikan bimbingan pelatihan
c. Memahami dan mencatat soal latihan.
d. Mengecek pemahaman siswa dan     memberikan umpan balik
d. Menjawab pertanyaan yang akan diberikan guru.
e. Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penelarapan.
e. Menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti.

                                                                                    (Muhammad Nur, 2000: 8)

D.    Teknik Pengumpulan Data
Data hasil penelitian dari dua kelompok perlakuan, dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa tes prestasi belajar matematika yang telah dibuat dan dikembangkan oleh penulis.
           Data yang terkumpul merupakan skor untuk masing-masing individu dalam setiap kelompok. Skor tersebut akan mencerminkan tingkat daya serap atau hasil belajar individu yang dicapai selama penelitian berlangsung dan tes yang diberikan kedua kelompok adalah sama. Selain itu, juga dilakukan pemberian angket untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pelaksanaan tindakan serta  penilaian aktivitas siswa selama  proses pembelajaran melalui pengisian lembar observasi.

E.     Instrumen Penelitian
           Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa
1.   Tes hasil belajar dalam bentuk essay tes yang terdiri dari 5 butir soal untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa.
2.   Pedoman observasi untuk mengamati aktivitas siswa.
3.   Pemberian kuisioner dalam bentuk pertanyaan terbuka untuk mengetahui respon siswa kelompok eksperimen terhadap penggunaan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) pada proses pembelajaran matematika.



F.     Teknik Analisis Data
            Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh adalah dengan menggunakan analisis statistika deskriptif dan analisis statistika inferensial.
1.   Analisis Statistika Deskriptif
Analisis statistika deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan skor hasil belajar matematika yang diperoleh dari masing-masing kelas eksperimen penelitian. Untuk keperluan analisis digunakan table distribusi frekuensi, rata-rata, standar deviasi, median, modus, rentang, skor ideal.
2.   Analisis Statistika Inferensial
Statistika inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji-T. Namun sebelumnya dilakukan pengujian hipotesis, sebelumnya dilakukan uji persyaratan analisa yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.
Untuk pengujian normalitas yang digunakan adalah Kolmogorov smirnov  yang betujuan untuk mengetahui apakah populasi berdistribusi normal. Hipotesis yang akan diuji sebagai berikut:
H0 : Populasi berdistribusi normal
H1 : Populasi tidak berdistribusi normal
Data hasil belajar matematika siswa yang diperoleh dikatakan berdistribusi normal, jika menerima H0,  yaitu nilai peluang  p – value  α .
Sementara untuk pengujian homogenitas yang digunakan adalah Levene’s Test for Eguality of Variances yang bertujuan untuk mengetahui apakah variansi  populasi homogen. Hipotesis yang diuji sebagai berikut:
H0 : Variansi data dari populasi yang  homogen.
H1 : Variansi data dari populasi yang  tidak homogen.
Data hasil belajar matematika  siswa yang diperoleh dikatakan mempunyai variansi yang homogen jika menerima H0 yaitu  nilai peluang  p – value  α .
Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk menjawab hipotesis penelitian yang telah diajukan. Untuk maksud tersebut maka pengujian dilakukan dengan menggunakan uji-t dengan hipotesis sebagai berikut:
H0 : µ1  =  µ2     lawan   H1 : µ1  > µ2
Keterangan:                              
µ1 = Parameter skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching).
µ2 = Parameter skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran langsung.
Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
Hipotesis H0   diterima jika nilai peluang p – value  α, dan H0 ditolak jika p  
            Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori-kategori skor hasil belajar matematika adalah skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Rosnaeni (2006:26).

Skor   0-34     Dikategorikan sangat rendah
Skor   35-54   Dikategorikan rendah
Skor   55-64   Dikategorikan sedang
Skor   65-84   Dikategorikan tinggi
Skor   85-100 Dikategorikan sangat tinggi
          










.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar