BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan pada hakikatnya adalah
suatu usaha sadar yang dilakukan dalam rangka menciptakan sumber daya manusia
yang berkualitas sehingga dapat berguna bagi bangsa dan Negara, terutama
sebagai penerus yang diharapkan mampu meningkatkan taraf pendidikan
khususnya.Dalam pendidikan nasional, ada penjenjangan pendidikan jalur sekolah
yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Perwujudan
manusia yang berkualitas melalui pendidikan utamanya dalam penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi, oleh karena itu matematika sebagai suatu ilmu dasar
memegang peranan penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang
berkualitas. Matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang dibutuhkan oleh
siswa untuk mendapatkan kemampuan yang lebih baik dalam penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi, seperti yang dikemukakan oleh Djali (sakarani,
2005:1), bahwa :” matematika merupakan sarana berpikir ilmiah, memegang peranan
penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan
kesejahtraan bangsa.
|
1
|
Pelaksanaan
pembelajaran didalam kelas merupakan salah satu tugas utama guru. Pembelajaran
diartikan sebagai kegiatan yang dapat ditujukan untuk mempelajari bahan
pengajaran. Dominasi guru dalam proses pembelajaran dengan menetapkan metode
ceramah menyebabkan siswa dengan sendirinya dapat memahami materi yang
diajarkan, keterampilan atau sikap yang mereka butuhkan. Kondisi seperti ini
tidak akan menumbuhkembangkan aspek kemampuan siswa seperti yang diharapkan.
Pada umumnya guru memulai pembelajaran langsung pada pemaparan materi, kemudian
pemberian contoh soal dan selanjutnya mengevaluasi siswa melalui latihan soal, sehingga
mengakibatkan minat belajar siswa menurun pada pelajaran matematika dikarenakan
kualitas pengajaran yang rendah. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bidang
studi matematika kelas VII, pada tahun 2011 hasil belajar matematika siswa
kelas VII berada dibawah rata-rata bahkan tergolong sangat rendah sebagai
standar keberhasilan, sehingga guru merasa perihatin dan ingin memperbaiki
keadaan tersebut dengan melaksanakan pembelajaran yang akan membuat siswa dapat
belajar aktif.
Rendahnya tingkat penguasaan
peserta didik terhadap matematika merupakan indikator bahwa perlu adanya
pembelajaran matematika yang baik, yang dapat meningkatkan penguasaan peserta
didik terhadap mata pelajaran matematika.
Pembelajaran
matematika disekolah seharusnya tidak lagi berorientasi pada materi pelajaran,
tetapi berorientasi pada kompetensi siswa yang meliputi pengetahuan,
keterampilan dan nilai-nilai dasar yang diharapkan dapat direfleksikan dalam
kebiasaan berpikir dan bertindak. Siswa harus diupayakan menjadi subjek belajar
yang aktif mengkostruksikan atau membangun sendiri pemahaman terhadap materi
yang dipelajari, sedangkan guru sebaiknya berperan sebagai fasilitator dan
mediator yang kreatif agar siswa dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan.
Hal ini sejalan dengan kurikulum yang diarahkan untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman, kemampuan menilai, sikap dan minat peserta didik
khususnya dalam berpikir logis dengan daya nalar yang tinggi. Oleh karena itu
matematika sebagai salah satu ilmu dasar merupakan wahana pendidikan yang
memuat aspek penalaran, mempunyai peranan penting dalam mewujudkan tujuan,
fungsi dan tanggung jawab pendidikan.
Penerapan
sistem pembelajaran pada metode pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) akan melatih siswa untuk belajar mandiri
sehingga dibutuhkan persiapan yang mantap agar sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai. Model pembelajaran yang efektif meliputi: mengajar siswa untuk belajar
mengingat, berpikir dan memotivasi diri sendiri. Hal ini berarti model
pembelajaran sesungguhnya adalah model dimana guru dapat membantu siswa untuk
memperoleh informasi, ide, keterampilan, cara berpikir dan mengekspresikan
dirinya sendiri.
Alternatif
model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Pembelajaran
terbalik (reciprocal teaching) sangat
membantu dalam pengembangan pendidikan terutama dalam peningkatan hasil belajar
siswa khususnya pada bidang matematika, karena dalam proses pembelajaran dengan
menerapkan model pembelajaran terbalik siswa dituntut untuk betul-betul
memahami dan mengkaji sendiri materi yang akan dibahas, kemudin setelah itu
siswa akan menjelaskan sendiri kepada siswa yang lain. Dengan cara seperti ini
siswa akan betul-betul serius dalam mempelajari materi yang ditugaskan oleh pengajar
dan tidak merasa jenuh dalam proses pembelajarannya.
Berdasarkan
uraian diatas penulis terdorong untuik mengkaji lebih jauh dengan mengangkat
judul penelitian “Efektivitas pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Model Pembelajaran
Terbalik (Reciprocal Teaching) Pada
Siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar.”
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian diatas maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas VII
SMP Negeri 21 Makassar yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran terbalik (reciprocal
teaching)?
2. Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri
21 Makassar yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran langsung?
3. Apakah penerapan model
pembelajaran terbalik (reciprocal
teaching) lebih
efektif dari pada penerapan model pembelajaran langsung
terhadap pembelajaran matematika
pada siswa kelas VII SMP
Negeri 21 Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan
permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk
memperoleh hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 5
Makassar yang diajar dengan menggunakan
pembelajaran terbalik (reciprocal
teaching)
2. Untuk
memperoleh hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 5
Makassar yang diajar dengan menggunakan
pembelajaran langsung.
3. Untuk
mengetahui keefektivan belajar siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar yang
diajar dengan menggunakan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dengan
siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran langsung.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat
yang diharapkan dalam penelitian ini diantaranya adalah:
1. Sebagai bahan informasi kepada guru matematika dan kepala
sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran matematika.
2. Menambah wawasan bagi guru matematika yang berhubungan dengan model pembelajaran.
3. Bagi penulis, penelitian ini nmenjadi media dalam usaha
melatih diri menyatakan atau menyusun buah pikiran secara tertulis dan
sistematis, sekaligus mengaplikasikan ilmu yang diperoleh.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA DAN
KERANGKA BERPIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1.
Hakekat
Matematika
Matematika merupakan disiplin ilmu
yang mempunyai sifat khas bila dibandingkan dengan ilmu yang lain. Matematika menekankan
pada proses deduktif yang memerlukan penalaran yang logis dan aksiomatik. Di
samping itu materi matematika bersifat hirarkis sehingga pembahasannya dapat
berlangsung secara efektif dan efisien. Hal ini sejalan dengan pendapat Djali yang mengemukakan
tentang definisi matematika (Chaeruddin, 2001: 76) bahwa:
“Matematika
sebagai ilmu pengetahuan abstrak tentang ruang dan bilangan, ia sering
dilukiskan sebagai kumpulan sistem matematika yang mempunyai struktur
tersendiri yang bersifat deduktif.Matematika berkaitan dengan ide-ide struktur
dan hubungan yang teratur menurut aturan yang logis”.
Menurut, Johnson dan Rising dalam
Suherman dkk (2001: 19) berpendapat
bahwa:
“Matematika
adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logik, matematika
itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefenisikan dengan cermat,
jelas dan akurat, representasinya dengan simbol yang padat, lebih berupa bahasa
simbol mengenai ide dari pada bunyi”.
Menurut, Hudoyo (1990: 3) mengemukakan
bahwa matematika adalah sebagai berikut:
|
7
|
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa matematika
adalah suatu mata pelajaran yang bersifat hirarki, logis dan berjenjang.
2.
Pengertian
Belajar
Belajar merupakan
suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada individu. Hudoyo
(1990:1) mengemukakan bahwa:
“Belajar
adalah kegiatan bagi setiap orang, pengetahuan, keterampilan, kebiasaan,
kegemaran, dan sikap seseorang terbentuk dan dimodifikasi dan berkembang
disebabkan belajar, karena itu seseorang dikatakana belajar, bila dapat
diasumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang
mengakibatkan suatu perubahan tingkah
laku”.
Dari kegiatan
belajar akan terlihat sebagai perubahan tingkah laku. Dari hasil
pengalaman-pengalaman inilah yang akan membentuk pribadi individu kearah
kedewasaan.
Definisi lain dikemukakan oleh The Lian Gie dalam
Sappaile (1996: 7) memberikan pengertian belajar sebagai berikut:
“Belajar
adalah segenap rangkaian/aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang
yang mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa perubahan dalam pengetahuan
atau kemahiran yang sifatnya sedikit banyak permanen”.
Sedangkan
Slameto (1991: 2) mengemukakan pengertian belajar bahwa:
“Belajar
adalah proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu
itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Dari
beberapa definisi tentang belajar yang dikemukakan di atas maka dapat
disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar oleh
individu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang
mengakibatkan adanya perubahan tingkah laku pada individu tersebut.
3.
Hasil Belajar Matematika
Dalam
proses belajar mengajar matematika dikelas, penyajian materi pelajaran yang
diberikan oleh guru kepada siswa dengan maksud siswa dapat menguasai materi
pelajaran yang telah diberikan. Bila dikaitkan dengan matematika, maka prestasi
belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah
mengikuti proses belajar mengajar dalam selang waktu tertentu. Apabila siswa
telah menguasai materi pelajaran maka terjadi perubahan tingkah laku. Perubahan
ini merupakan tujuan pengajaran matematika dalam arti siswa telah memiliki
pengetahuan tentang matematika. Prestasi belajar matematika ini dapat diukur
dengan tes prestasi belajar.
Prestasi belajar
berarti suatu yang telah dihasilkan atau dilakukan dengan tes. Hal ini sejalan
dengan pendapat yang dikemukakan oleh
Syamsu Mappa dalam Darori (1998:13) bahwa:
“
Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai oleh murid dalam suatu
bidang studi tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukur
keberhasilan murid”.
Dari
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar matematika merupakan hasil
yang dicapai atau diperoleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar
matematika, yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku.
4.
Efektivitas
Dalam
kamus besar bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional 2007: 284),
efektivitas memiliki arti keefektifitasan sesuatu (benda). Selanjutnya keefektivitasan
artinya keadaan berpengaruh atau keberhasilan suatu usaha atau tindakan.
Sedangkan menurut Perrot mengemukakan guru yang efektif adalah guru yang dapat
menunjukkan kemampuan-kemampuan menghasilkan tujuan belajar yang telah
direncanakan. Dengan demikian, efektivitas yang dimaksud penulis dalam
penelitian ini adalah tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
5.
Hakekat
Pembelajaran Langsung
a.
Pengetian Pembelajaran Langsung
Pembelajaran
Langsung adalah cara menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa, siswa
dipandang sebagai objek yang menerima
materii yang diberikan oleh guru. Biasanya guru memberikan informasi mengenai
bahan pengajaran dalam bentuk penjelasan dan peneuran secara lisan, yang lebih
dikenal dengan metode ceramah. Pada umumnya pembelajaran berlangsung satu arah,
guru memberikan ide (gagasan), informasi dan siswa menerima (Hudoyo, 1990:
123).
Pada pembelajaran
langsung guru memberikan informasi tentang suatu materi kepada siswa yang sebelumnya
diolah tuntaskan guru. Dalam proses pembelajaran, komunikasi hanya berpusat
pada guru, siswa hanya sekali-kali dapat bertanya, mencatat hal yang dianggap
penting dari penjelasan guru.
b. Keunggulan
dan kelemahan Pembelajaran Langsung.
1. Keunggulan
Pembelajaran Langsung.
a. Mengajar
terencana, isi silabus dapat diselesaikan menurut waktu yang tersedia.
b. Dapat
dipakai pada kelas yang besar maupun yang kecil.
c. Tidak
terlalu banyak memerlukan alat bantu.
d. Dapat
dipakai sebagai penambah bahan yang dibaca.
2. Kelemahan
Pembelajaran Langsung.
a. Menghalangi
respon dari yang belajar.
b. Hanya
sedikit pengajar yang dapat menjadi pembicara yang baik.
c. Pembicara
harus memahami pokok pembicaraannya.
d. Membatasi
daya ingat siswa.
6.
Pembelajaran
Terbalik (Reciprocal Teaching)
Menurut
Nur (2000: 15) Pembelajaran terbalik (reciprocal
teaching) adalah metode pembelajaran yang berdasarkan prinsip-prinsip
pengajuan pertanyaan yang mana keterampilan-keterampilan metakognitif diajarkan
melalui pembelajaran langsung dan pemodelan oleh guru untuk memperbaiki
kemampuan membaca siswa yang pemahamannya rendah. Sedangkan menurut Arends
(1997) dalam Wiludjeng (2000: 4) pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah prosedur pembelajaran atau pendekatan
yang dirancang untuk mengajarkan kepada siswa tentang strategi-strategi
kognitif serta untuk membantu siswa memahami bacaan dengan baik.
Menurut
Palincsar (1986) pembelajaran terbalik mengacu pada suatu aktivitas
instruksional yang berlangsung dalam wujud suatu dialog antara guru dan siswa
mengenal segmen teks. Sedangkan menurut Annemarie Sullivan (1985) pembelajaran
terbalik adalah suatu dialog antara guru dan siswa dimana peserta mengambil
giliran mengumpamakan peran guru.
Pendapat lain dikemukakan oleh Manoy
(2002) Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)
adalah prosedur pembelajaran untuk mengajarkan kepada siswa empat macam
strategi pemahaman mandiri yaitu merangkum, bertanya, menjelaskan dan
memprediksi. Pembelajaran terbalik lebih menghendaki guru menjadi model dan
pembantu dari pada penyaji proses pembelajaran. Untuk mempelajari
strategi-strategi ini, guru dan siswa membaca bacaan yang ditugaskan dalam
kelompok-kelompok kecil dan guru memodelkan keempat keterampilan tersebut
dengan merangkum bacaan, mengajukan satu atau dua pertanyaan, mengklarifikasi
poin-poin yang sulit, dan memprediksi apa yang akan ditulis pada bagian tulisan
berikutnya. Pada saat pembelajaran berjalan situasi terbalik, yaitu siswa
mengambil giliran dan melaksanakan peran guru dan bertindak sebagai pemimpin
diskusi untuk kelompok tersebut. Sementara siswa berperan sebagai guru, guru
tersebut memberikan dukungan sebagai umpan balik dan semangat ketika siswa
belajar strategi tersebut dan membentuk mereka saling mengajar satu sama lain.
Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) merupakan salah
satu model pembelajaran yang memiliki manfaat agar tujuan pembelajaran
tercapai, kemampuan siswa dalam belajar mandiri juga ditingkatkan.
Dengan demikian kekuatan-kekuatan
dari pembelajaran terbalik (reciprocal
teaching) sebagai berikut:
a.
Melatih kemampuan siswa
belajar mandiri
b.
Melatih siswa untuk
menjelaskan kembali materi yang dipelajari kepada pihak lain.
c.
Orientasi pembelajaran
adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Dengan demikian kemampuan bernalar siswa juga semakin berkembang.
d.
Mempertinggi kemampuan
siswa dalam memecahkan masalah.
Dari penjelasan di atas, untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar mandiri melalui pembelajaran
terbalik, guru perlu menyediakan sarana misalnya materi bahan pelajaran,
memberikan bimbingan yang diperlukan, memberikan motivasi/dukungan, bersedia
memberikan umpan balik, dan rangsangan ketika siswa mempelajari materi
tersebut.
Langkah-langkah
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) sebagai berikut:
a.
Guru
menginformasikan tujuan pembelajaran
bahwa pembelajaran ini bertujuan untuk menanamkan strategi pemahaman mandiri
yang khusus dan akan ditunjuk seorang siswa untuk tampil ke depan mengajar
temannya yang lain.
b.
Guru memberikan
petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan siswa pada saat pembelajaran
berlangsung.
c.
Siswa melaksanakan
tugas sebagai berikut:
1. Mempelajari
materi yang ditugaskan oleh guru secara mandiri, selanjutnya merangkum atau
meringkas materi tersebut.
2. Membuat
pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang diringkasnya.
d.
Guru mengecek hasil
pekerjaan siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan secara lisan pada
siswa, kemudian guru mencatat (menandai) sejumlah siswa yang benar secara
meyakinkan.
e.
Guru menyuruh beberapa
siswa “siswa guru” untuk menjelaskan/menyajikan hasil temuannya pada saat
belajar mandiri di depan kelas.
f. Guru
memandu proses pembelajaran dengan memberikan kesempatan siswa yang lain untuk menanggapi materi yang telah
disampaikan oleh temannya.
g. Dengan metode tanya jawab, guru mengungkapkan
kembali pengembangan materi tersebut untuk melihat pengalaman siswa yang lain.
h. Guru
memberi tugas soal latihan secara mandiri, termasuk memberikan soal yang
mengacu pada kemampuan siswa dalam memprediksi kemungkinan pengembangan materi
tersebut.
i.
Guru melakukan evaluasi
diri/ refleksi untuk mengamati keberhasilan penerapan pembelajaran terbalik
yang telah dilakukan.
(Emi Pujiastuti, 2000: 35)
Dalam penelitian ini menggunakan 3 komponen sebagai indikator
keefektifan model pembelajaran terbalik pada pembelajaran matematika yaitu
1.
Hasil belajar siswa
2.
Aktivitas siswa
3.
Respon siswa
Sedangkan
model pembelajaran terbalik dikatakan efektif pada pembelajaran matematika
apabila memenuhi 3 indikator diatas yaitu
1.
Hasil belajar
matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran terbalik
memenuhi standar ketuntasan.
2.
Aktivitas siswa yang
diajar dengan menggunakan model pembelajaran terbalik terlihat antusias dalam
proses pembelajaran matematika.
3.
Siswa member respon
positif terhadap penggunaan model pembelajaran terbalik pada proses
pembelajaran matematika.
B. Kerangka berpikir
Proses belajar
mengajar sangat ditentukan oleh adanya
interaksi edukatif dari komponen pembelajaran yang meliputi guru, siswa, materi
pelajaran, serta model pembelajaran. Guru sebagai pelaksana dalam pengajaran
matematika harus memilih dan menerapkan
suatu cara mengajar yang sesuai dengan karakteristik bahan pelajaran,
supaya siswa dapat belajar dengan baik sehingga hasil belajarnya dapat
meningkat.
Sebagaimana umum
diketahui bahwa dalam pembelajaran langsung hanya berorientasi pada target
penguasaan materi. Salah satu contoh pembelajaran langsung adalah menghafal. Berdasarkan
segi penguasaan materi, menghafal terbukti berhasil dalam kompotisi hasil
belajar siswa, tetapi gagal dalam membekali siswa memecahkan persoalan dalam
kehidupan jangka panjang.
Pembelajaran
terbalik adalah prosedur pembelajaran untuk mengajarkan kepada siswa empat
macam strategi pemahaman mandiri yaitu merangkum, bertanya, menjelaskan, dan
memprediksi. Pada pembelajaran berjalan situasi terbalik, yaitu siswa mengambil
giliran dan melaksanakan peran guru dan bertindak sebagai pemimpin diskusi
untuk kelompok tersebut. Sementara memberikan dukungan sebagai umpan balik dan
semangat ketika siswa belajar strategi dan saling mengajar satu sama lain.
Untuk
memenuhi tuntutan model pembelajaran terbalik efektif digunakan dalam
pembelajaran matematika, sedangkan untuk tuntutan yang sama pembelajaran
langsung dianggap kurang memberikan hasil yang lebih baik bagi prestasi belajar
matematika. Pembelajaran yang menggunakan pembelajaran terbalik lebih baik
dibandingkan dengan pembelajaran langsung.
C.
Hasil Penelitian yang Relevan
1. Wiludjeng
(2000: 50) mengatakan bahwa dalam pembelajaran dengan reciprocal teaching akan mengkondisikan siswa mengalami proses
belajar secara mandiri.
2. Arnita
(2003: 23) mengatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar Biologi siswa
kelas II MTs Negeri Model Makassar antara siswa yang diajar dengan menggunakan
model reciprocal teaching dengan
siswa yang diajar dengan metode ceramah.
3. Muhammad
Asdar (2004: 31) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar Matematika
Pokok Bahasan Statistik & Statistika siswa yang diajar dengan reciprocal teaching dengan siswa yang
diajar dengan Pembelajaran Tradisional pada siswa kelas II MAN Model Makassar.
D.
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan
tinjauan pustaka dan kerangka berpikir maka hipotesis dalam penelitian ini
adalah:
“Penerapan
model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) lebih efektif dari pada
penerapan model pembelajaran langsung terhadap pembelajaran matematika pada siswa Kelas VII SMP Negeri
21 Makassar”.
Untuk keperluan pengujian
statistiknya, maka hipotesis penelitian tersebut dirumuskan sebagai berikut:
H0
: µ1 = µ2 lawan H1 : µ1 > µ2
(M.
Arif Tiro & Baharuddin Ilias 2007: 197)
Keterangan:
µ1 = Parameter skor rata-rata
hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran
terbalik (reciprocal teaching).
µ2 = Parameter skor
rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan
pembelajaran langsung.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A. Variabel dan Desain
Penelitian
1.
Variabel
Penelitian
Penelitian ini akan menyelidiki satu
variable yaitu hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran terbalik (Reciprocal Teaching) dan hasil belajar
dengan menggunakan pembelajaran langsung.
2. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian
ini adalah randomisasi kelompok pembanding atau disebut juga Randomizaed Control Group Design. Subjek
dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok control.
Kelompok eksperimen dan kelompok control dipilih dan ditempatkan secara random
sehingga kedua kelompok tersebut dianggap memiliki tingkat penguasaan materi
pelajaran matematika sebanding. Hal ini akan ada perbedaan setelah terjadi
perlakuan.
Adapun skema
sebagai berikut:
|
Random
|
Kelompok
|
Perlakuan
|
Hasil
Penelitian
|
|
R
|
E
|
T1
|
O1
|
|
R
|
K
|
T2
|
O2
|
Sumber:
Suharsimi dalam Abdul (2008: 25)
Dimana:
R : Random
|
23
|
K : Kelompok Kontrol
T1:
Perlakuan untuk kelompok eksperimen, dengan
menggunakan model pembelajaran terbalik
T2:
Perlakuan untuk kelompok control, dengan
menggunakan model pembelajaran langsung
O1: Observasi setelah perlakuan untuk
kelas Eksperimen
O2: Observasi setelah perlakuan untuk kelas
Kontrol.
A.
Definisi
Operasional Variabel
Untuk
menggambarkan variable yang digunakan dalam penelitian ini secara operasional
dinyatakan sebagai berikut:
1. Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)
Pembelajaran terbalik adalah
prosedur pembelajaran untuk mengajarkan kepada siswa empat macam strategi
pemahaman mandiri yaitu merangkum, bertanya, menjelaskan dan memprediksi.
2. Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung adalah model
pengajaran yang lebih terpusat pada guru, peran guru adalah sebagai penyaji
materi (pengajar).
3.
Hasil
belajar matematika
Hasil
belajar matematika adalah ukuran tercapainya pembelajaran yang ditinjau dari
aspek kognitif melalui tes tertulis setelah siswa mengikuti pengajaran dengan
pemberian model pembelajaran terbalik dan pemberian model pembelajaran
langsung.
B. Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar tahun pelajaran 2011/ 2012 yang
terdiri dari 9 kelas.
2.
Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah
dengan teknik cluster random sampling.
Dari seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar yang terdiri dari 9 kelas,
dirandom dan hanya diambil 2 kelas sebagai sampel penelitian. Dari kedua kelas
yang terpilih sebelumnya, dirandom lagi untuk menentukan kelas yang menjadi
kelompok eksperimen dan kelas yang menjadi kelompok control. Dalam hal ini,
terpilih kelas VIID sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas yaitu
kelas VIIH otomatis sebagai
kelas control.
C.
Prosedur
Pelaksanaan Eksperimen
Setelah
menetapkan sampel, maka pelaksanaan eksperimen akan dilakukan dengan prosedur
sebagai beriku:
1. Satu
kelas yaitu kelas yang terpilih sebagai kelompok eksperimen diajarkan dengan
menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal
teaching) dan satu lagi yaitu sebagai kelas yang terpilih sebagai kelompok
control diajarkan dengan menggunakan pembelajaran langsung pada materi yang
sama.
2. Pelaksanaan
penelitian (kegiatan belajar mengajar) dilaksanakan sebanyak 5 kali pertemuan.
Waktu untuk setiap pertemuan disesuaikan dengan jadwal mata pelajaran semester
yang berjalan pada lokasi sekolah tempat penelitian dilaksanakan.
3. Dalam
keseluruhan pelaksanaan penelitian yang dilaksanakan sebanyak 5 kali pertemuan.
4 kali pertemuan dipergunakan penulis untuk memberikan atau menyampaikan materi
ajar dan dilakukan pengamatan terhadap aktifitas siswa selama proses pembelajaran
berlangsung. Sedangkan 1 kali pertemuan sebagai pertemuan terakhir digunakan
untuk memberikan tes hasil belajar matematika pada kedua kelompok dan diakhiri
dengan refleksi yaitu memberikan kesempatan kepada kelompok eksperimen untuk
memberikan respon tentang penggunaan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) pada proses
pembelajaran matematika.
4. Pemberian
tes hasil belajar pada kedua kelompok penelitian dilaksanakan setelah dilakukan
validasi instrument tes oleh validator.
Sedangkan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran
pada dua kelompok adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching).
|
Kegiatan
Guru
|
Kegiatan
Siswa
|
|
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
|
a. Memahami tujuan pembelajaran.
|
|
b. Menyampaikan model pembelajaran yang digunakan.
|
b. Memahami model pembelajaran.
|
|
c. Memberikan kesempatan siswa membuat ringkasan
dan membuat pertanyaan.
|
c. Membuat ringkasan dan membuat pertanyaan.
|
|
d.
Mengecek hasil pekerjaan siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara
lisan
|
d. Menjawab pertanyaan lisan
|
|
e.
Menunjuk siswa (sebagai siswa yang mantap “siswa guru”) untuk menjelaskan
materi pelajaran, secara bergantian didepan kelas.
|
e. Menjelaskan materi pelajaran, secara bergantian
didepan kelas.
|
|
f.
Memberikan kesempatan siswa untuk menanggapi perjelasan “siswa guru” yang
telah diberikan.
|
f. Menanggapi materi pelajaran
|
|
g. Dengan metode tanya jawab diberikan
penjelasan/pengembangan materi untuk mengetahui pemahaman siswa yang lain
|
g. Memahami pengembangan materi yang disampaikan
oleh guru.
|
|
h.
Memberi tugas soal latihan secara mandiri, termasuk memberikan soal yang
mengacu pada kemampuan siswa dan memprediksi pengembangan materi
|
h. Mencatat soal latihan secara mandiri.
|
|
i. Mengarahkan siswa membuat rangkuman
|
i. Membuat rangkuman
|
|
j. Memberikan PR kepada siswa
|
j. Mencatat PR
|
(Emi
Pujiastuti, 2000: 35)
2. Pembelajaran
dengan Menggunakan Pembelajaran
Langsung.
|
Kegiatan
Guru
|
Kegiatan
Siswa
|
|
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran
|
a. Memahami tujuan pembelajaran.
|
|
b.
Mendemonstrasikan keterampilan dan menyajikan informasi tahap demi tahap.
|
b. Memahami dan menyalin materi yang materi tahap demi tahap.
|
|
c. Memberikan bimbingan pelatihan
|
c. Memahami dan mencatat soal latihan.
|
|
d.
Mengecek pemahaman siswa dan
memberikan umpan balik
|
d. Menjawab pertanyaan yang akan diberikan guru.
|
|
e.
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penelarapan.
|
e. Menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti.
|
(Muhammad Nur, 2000: 8)
D.
Teknik
Pengumpulan Data
Data hasil
penelitian dari dua kelompok perlakuan, dikumpulkan dengan menggunakan
instrumen penelitian berupa tes prestasi belajar matematika yang telah dibuat
dan dikembangkan oleh penulis.
Data yang terkumpul merupakan skor
untuk masing-masing individu dalam setiap kelompok. Skor tersebut akan
mencerminkan tingkat daya serap atau hasil belajar individu yang dicapai selama
penelitian berlangsung dan tes yang diberikan kedua kelompok adalah sama.
Selain itu, juga dilakukan pemberian angket untuk mengetahui tanggapan siswa
terhadap pelaksanaan tindakan serta
penilaian aktivitas siswa selama
proses pembelajaran melalui pengisian lembar observasi.
E.
Instrumen
Penelitian
Instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa
1. Tes
hasil belajar dalam bentuk essay tes yang terdiri dari 5 butir soal untuk
mengetahui hasil belajar matematika siswa.
2. Pedoman
observasi untuk mengamati aktivitas siswa.
3. Pemberian
kuisioner dalam bentuk pertanyaan terbuka untuk mengetahui respon siswa
kelompok eksperimen terhadap penggunaan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) pada proses
pembelajaran matematika.
F.
Teknik
Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan
untuk menganalisis data yang diperoleh adalah dengan menggunakan analisis
statistika deskriptif dan analisis statistika inferensial.
1.
Analisis
Statistika Deskriptif
Analisis statistika deskriptif digunakan untuk
mendeskripsikan skor hasil belajar matematika yang diperoleh dari masing-masing
kelas eksperimen penelitian. Untuk keperluan analisis digunakan table
distribusi frekuensi, rata-rata, standar deviasi, median, modus, rentang, skor
ideal.
2.
Analisis
Statistika Inferensial
Statistika
inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan
uji-T. Namun sebelumnya dilakukan pengujian hipotesis, sebelumnya dilakukan uji
persyaratan analisa yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.
Untuk pengujian
normalitas yang digunakan adalah Kolmogorov smirnov yang betujuan
untuk mengetahui apakah populasi berdistribusi normal. Hipotesis yang akan
diuji sebagai berikut:
H0
: Populasi berdistribusi normal
H1
: Populasi tidak berdistribusi normal
Data hasil belajar matematika siswa
yang diperoleh dikatakan berdistribusi normal, jika menerima H0, yaitu nilai peluang p –
value
α .
Sementara untuk pengujian homogenitas
yang digunakan adalah Levene’s Test for
Eguality of Variances yang bertujuan untuk mengetahui apakah variansi populasi homogen. Hipotesis yang diuji sebagai
berikut:
H0 : Variansi data dari populasi yang homogen.
H1
: Variansi data
dari populasi yang tidak homogen.
Data
hasil belajar matematika siswa yang
diperoleh dikatakan mempunyai variansi yang homogen jika menerima H0
yaitu nilai peluang p –
value
α .
Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk menjawab
hipotesis penelitian yang telah diajukan. Untuk maksud tersebut maka pengujian
dilakukan dengan menggunakan uji-t
dengan hipotesis sebagai berikut:
H0
: µ1 = µ2 lawan H1 : µ1 > µ2
Keterangan:
µ1 = Parameter skor rata-rata
hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran
terbalik (reciprocal teaching).
µ2 = Parameter skor
rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan
pembelajaran langsung.
Dengan
kriteria pengujian
sebagai berikut:
Hipotesis
H0 diterima jika nilai
peluang p – value
α, dan
H0 ditolak jika p
Kriteria
yang digunakan untuk menentukan kategori-kategori skor hasil belajar matematika
adalah skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar yang diterapkan oleh
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Rosnaeni (2006:26).
Skor 0-34 Dikategorikan
sangat rendah
Skor 35-54 Dikategorikan rendah
Skor 55-64 Dikategorikan sedang
Skor 65-84 Dikategorikan tinggi
Skor 85-100
Dikategorikan sangat tinggi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar