Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TS-TS (TWO STAY-TWO STRAY) PADA SISWA KELAS XI TEKNIK AUTOMOTIF SMK AMI MAKASSAR



BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
            Pendidikan memiliki peran penting dan strategis dalam mewujudkan sumber daya manusia yang bermutu agar mampu menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dapat menggunakannya untuk kesejahteraan bangsa.
Sejalan dengan hal ini pemerintah senantiasa berusaha meningkatkan kualitas pendidikan antara lain dengan penyempurnaan kurikulum, penyediaan buku-buku bermutu dan peningkatan pengetahuan guru melalui pelatihan-pelatihan maupun studi lanjut. Semuanya ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang masih dirasa kurang.
1
            Upaya peningkatan mutu pendidikan saat ini tentunya tidak terlepas dari proses pendidikan yang terkait dengan kegiatan belajar mengajar di kelas. Kegiatan belajar mengajar sangat ditentukan oleh kerjasama antara guru dan siswa, serta interaksi yang terjadi antara siswa dengan guru sehingga siswa dapat menyerap materi pelajaran dengan maksimal dan optimal. Sebagai tenaga pengajar yang secara langsung terlibat dalam mengarahkan siswa mencapai hasil belajar yang maksimal. Salah satu kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh pendidik adalah bagaimana mengajarkan materi pelajaran dengan baik, dalam hal ini perlu pembelajaran yang sesuai.
            Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru-guru di kelas XI Teknik Automotif SMK AMI Makassar dalam proses pembelajaran matematika di kelas menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru, siswa sulit mengerjakan soal-soal yang diberikan, sikap siswa kurang bergairah menerima pelajaran, siswa kurang aktif pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar, bahkan siswa merasa takut dan malu bertanya tentang materi yang belum diketahui pada saat pelajaran matematika. Hal ini dikarenakan oleh pembelajaran yang dilakukan guru cenderung menggunakan metode konvensional yakni ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas.
            Salah satu cara untuk mengatasi kodisi di atas adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered Intrukction). Model pembelajaran yang relefan dan sesuai dengan permintaan kurikulum adalah model pembelajaran kooperatif.
Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan adalah Pembelajaran Kooperatif Tipe Ts-Ts (Two Stay–Two Stray). Pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay Two Stray) ini dapat memberi pengaruh yang positif terhadap proses belajar siswa. Tipe TS-TS (Two Stay Two Stray) akan mengatasi kesulitan siswa dalam belajar, mengantar siswa kedalam suasana kelas yang aktif, membangkitkan semangat dan rasa ingin tahu siswa, dan menuntut kerja sama dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay Two Stray) merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerjasama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah dan saling mendorong untuk berprestasi. Metode ini juga melatih siswa untuk bersosialisasi dengan baik.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merasa perlu untuk mengimplementasikan pembelajaran Kooperatif Tipe Ts-Ts (Two Stay–Two Stray). Oleh karena itulah, penulis termotivasi untuk mengadakan penelitian dengan judul “Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray)  Pada Siswa Kelas XI Teknik Automotif SMK AMI Makassar.
B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka secara umum rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikutr :
1.      Bagaimana hasil belajar siswa dalam mengaplikasikan konsep matematika melalui pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) ?
2.      Bagaimana aktifitas siswa  pada saat proses belajar mengajar berlangsung ?
3.      Bagaimana respon siswa tentang pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) ?
4.      Bagaimana kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) ?


C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam mengaplikasikan konsep matematika melalui pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray).
2.    Untuk mengetahui aktifitas siswa  pada saat proses belajar mengajar berlangsung.
3.    Untuk mengetahui respon siswa tentang pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray).
4.    Untuk mengetahui kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray).
D.   Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
             1.     Bagi Siswa
Diharapkan mampu menarik minat siswa untuk meningkatkan semangat dan motivasi dalam belajar serta meningkatkan hasil belajar siswa.



             2.     Bagi Guru
a.       Diharapkan guru dapat mengimplementasikan pembelajaran yang lebih baik dan dapat menggunakan di dalam kelas, sehingga dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
b.      Sebagai motivasi untuk mengimplementasikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) pada pokok bahasan yang lainnya.
             3.     Bagi Sekolah
Implementasi model pembelajaran yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi sekolah sehingga dijadikan masukan dalam usaha memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran disekolah.
             4.     Bagi Peneliti
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, peneliti semakin terlatih dalam mengimplementasikan model pembelajaran dan memberikan tambahan informasi bagi peneliti dalam melakukan penelitian selanjutnya.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.      Kajian Pustaka
1.    Pengertian Belajar
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Hal ini dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan guru. Siswa dan guru adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terdiri berkat siswa mempelajari sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa merupakan keadaan alam, benda-benda, hewan tumbuhan, manusia, atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar. Tindakan belajar tersebut merupakan perilaku belajar yang tampak dari luar (Dimyati dan Mudjiono, 2009:7).
Menurut Slameto (2003:2) mengemukakan bahwa:
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Hamalik (2009:27) mengemukakan bahwa belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. (Learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing). Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami.

6

Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dalam lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Belajar pada dasarnya adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman dan sebagai hasil dari interaksi dalam lingkungannya. Unsur lingkungan yang disebutkan di atas pada hakikatnya berfungsi sebagai lingkungan belajar seseorang, yakni lingkungan tempat ia tinggal dan berinteraksi sehingga menumbuhkan kegiatan belajar pada dirinya (Abdul Haling, 2006:2).
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang disengaja dan bertujuan sehingga memunculkan perubahan-perubahan tingkah laku dan aspek-aspek kepribadian pada orang yang belajar sebagai akibat interaksi dengan individu dan lingkungannya.
2.    Hasil Belajar
Hasil belajar adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha tertentu. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan mengajar. Dalam hal ini hasil belajar yang dicapai siswa dalam bidang studi tertentu setelah mengikuti proses belajar mengajar.
Menurut Bloom dalam Arikunto (2009:116) Ada tiga ranah atau domain besar yang berhubungan dengan hasil belajar yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.
a.    Ranah kognitif
Kemampuan ini mengatur cara belajar dan berpikir seseorang dalam arti yang seluas-luasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan yang tercakup dalam domain kognitif meliputi enam aspek yang berkaitan satu sama lain, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b.    Ranah afektif, berkenaan dengan aspek yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
c.    Ranah psikomotor, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan, kemampuan bertindak. Ada enam aspek psikomotorik, yakni: (a) gerakan refleks, (b) keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perseptual, (d) keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan keterampilan kompleks, (f) gerakan ekspresif dan interpretatif.
Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling dominan mendapat penilaian dari guru di sekolah, karena hal itu berkaitan dengan kemampuan dalam menguasai isi bahan pelajaran. Secara spesifik hal ini dikenal dengan istilah hasil belajar. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika, maka hasil belajar siswa dinamakan hasil belajar matematika yaitu tingkat keberhasilan siswa menguasai bahan pelajaran matematika setelah memperoleh pengalaman belajar matematika dalam interval waktu tertentu. Tingkat keberhasilan siswa diukur dengan memberikan tes hasil belajar. Hasil pengukuran dengan menggunakan tes dapat menjadi indikator tentang batas kemampuan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap atau nilai yang dimiliki oleh orang itu dalam belajar matematika.
Di dalam proses belajar mengajar, guru sebagai fasilitator dituntut adanya profil kualifikasi tertentu dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap dan tata nilai.
Perlu ditegaskan bahwa setiap saat dalam kehidupan terjadi suatu proses belajar mengajar, baik sengaja maupun tidak sengaja, disadari atau tidak disadari. Dari proses belajar mengajar ini, akan diperoleh suatu hasil yang pada umumnya disebut hasil belajar. Untuk memperoleh hasil yang optimal maka proses belajar mengajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja serta terorganisasi dengan baik.
Pendapat lain diungkapkan Gagne dan Driscoll (Ekawarna, 2009:40) mengemukakan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa (leartner’s performance).
Lain lagi yang dikemukakan oleh Dick dan Reiser (dalam Ekawarna, 2009:40) bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran”. Mereka membedakan hasil belajar atas empat macam yaitu: pengetahuan, keterampilan intelektual, keterampilan motorik dan sikap.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hasil belajar adalah tingkat penguasaan bahan pelajaran setelah memperoleh pengalaman belajar dalam interval waktu tertentu.

3.    Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen and Kauchak, 1996:279).
Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Pada model pembelajaran kooperatif terdapat enam langkah utama. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut


Tabel  2.1 : Langkah-langkah Dalam Pembelajaran Kooperatif
FASE
TINGKAH LAKU GURU
FASE-1
Menyampaikan tujuan dan
Memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
FASE-2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
FASE-3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
FASE-4
Membimbing kelompok
bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
FASE-5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
FASE-6
Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu dan kelompok
Sumber : Muslimin Ibrahim dkk (2000:10)
4.    Pembelajaran Kooperatif Tipe TS-TS (two stay-two stray)
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) . “Dua tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992 dan biasa digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered Heads). Struktur Ts-Ts (Two Stay – Two Stray)  yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya.
Langkah-langkah model pembelajaran Ts-Ts (Two Stay – Two Stray adalah sebagai berikut.
a.    Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa.
b.    Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke kelompok yang lain.
c.    Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
d.   Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
e.    Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
Adapun alur pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) :
KELOMPOK 1
I         J
H
E
C
B
J
D
F
G
I
A
KELOMPOK 2
C         D
KELOMPOK 3
E         F
KELOMPOK 4
G         H
KELOMPOK 1
A         B
 
















 Gambar 2.1 : Skema diskusi tipe TS-TS (Two Stay - Two Stray). 

Pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray)  terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut :             
1.   Persiapan 
Pada tahap persiapan ini, hal yang dilakukan guru adalah membuat silabus dan sistem penilaian, desain pembelajaran, menyiapkan tugas siswa dan membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing anggota 4 siswa dan setiap anggota kelompok harus heterogen berdasarkan prestasi akademik siswa dan suku.
2.    Presentasi Guru
Pada tahap ini guru menyampaikan indikator pembelajaran, mengenal dan menjelaskan materi sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
3.    Kegiatan Kelompok
Pada kegiatan ini pembelajaran menggunakan lembar kegiatan yang berisi tugas-tugas yang harus dipelajari oleh tiap-tiap siswa dalam satu kelompok. Setelah menerima lembar kegiatan yang berisi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan konsep materi dan klasifikasinya, siswa mempela-jarinya dalam kelompok kecil (4 siswa) yaitu mendiskusikan masalah tersebut bersama-sama anggota kelompoknya. Masing-masing kelompok menyelesai-kan atau memecahkan masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri. Kemudian 2 dari 4 anggota dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok yang lain, sementara 2 anggota yang tinggal dalam kelompok bertugas menyampaikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu. Setelah memperoleh informasi dari 2 anggota yang tinggal, tamu mohon diri dan kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan temuannya serta mancocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka. 
4.    Formalisasi
Setelah belajar dalam kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya untuk dikomunikasikan atau didiskusikan dengan kelompok lainnya. Kemudian guru membahas dan mengarahkan siswa ke bentuk formal.
5.    Evaluasi Kelompok Dan Penghargaan
Pada tahap evaluasi ini untuk mengetahui seberapa besar kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah diperoleh dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray). Masing-masing siswa diberi kuis yang berisi pertanyaan-pertanyaan dari hasil pembelajaran dengan model Ts-Ts (Two Stay – Two Stray), yang selanjutnya dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada kelompok yang mendapatkan skor rata-rata tertinggi.
Tipe TS-TS memiliki kelebihan dan kekurangan yaitu:
1.    Kelebihan Tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) antara lain:
a.    Memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling bertukar pikiran dalam mengerjakan tugas dari guru.
b.    Tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) dapat meningkatkan pola interaksi siswa.
c.    Tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) dapat memudahkan siswa memahami materi yang diberikan dan menghindari perasaan jenuh siswa dalam belajar.
d.   Tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) akan mengantar siswa kedalam suasana kelas yang aktif.
e.    Tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) akan membangkitkan semangat dan rasa ingin tahu siswa.
f.     Tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) menuntut kerja sama dalam kelompok, serta menyita waktu siswa untuk menyelesaikan tugasnya sehingga tidak ada waktu bagi siswa untuk bermain dan bergurau.


2.    Kekurangan tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) antara lain:
a.    Siswa sulit dikontrol, apakah yang mengerjakan tugas itu dirinya sendiri ataukah orang lain.
b.    Tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) memungkinkan butuh waktu yang lebih dari waktu yang ditentukan.
c.    Setiap kelompok sulit dikontrol, apakah kelompok yang sedang bertamu atau kelompok yang menerima tamu sesuai dengan yang ditentukan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.   Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan survey. Penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan melukiskan keadaan subyek dan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya. Survey adalah Suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu.
Pelaksanaan metode penelitian deskriptif ini digunakan untuk mengetahui implementasi pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay - Two Stray) pada siswa kelas XI Teknik Automotif SMK AMI Makassar. Metode penelitian deskriptif ini tidak terbatas sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisis dan interpretasi rentang data tersebut, selain itu semua yang dikumpulkan memungkinkan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti.
B.       Lokasi Dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK AMI Makassar. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa  kelas XI Teknik Automotif.

43

 
C.      Faktor yang Diselidiki
Faktor yang akan diselidiki dalam pelaksanaan penelitian ini adalah:
1.         Faktor proses, yaitu melihat aktifitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas, melihat respon siswa tentang pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) serta melihat kemampuan guru dalam berinteraksi dengan siswa maupun dengan melihat model pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran di kelas serta bagaimana materi pelajaran tersebut dipersiapkan.
2.         Faktor hasil, yaitu dengan melihat hasil belajar siswa setelah diberikan tindakan yakni pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay - Two Stray).
D.      Instrumen Penelitian
Dalam penelitian deskriptif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah :
1.    Observasi.
2.    Kuesioner atau Angket.
3.    Soal tes.


E.       Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, soal tes, dan kuesioner atau angket.
1.    Lembar Observasi Guru
Lembar observasi guru digunakan untuk melihat gambaran penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay - Two Stray) dikelas dan untuk mendapatkan informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran dikelas baik sebelum pembelajaran dimulai sampai pada kegiatan menutup.
2.    Lembar Observasi siswa
Lembar observasi siswa dilakukan dengan cara mengamati tingkah laku siswa atau obyek sedemikian rupa, diharapkan siswa atau obyek yang diamati tidak mengetahui bahwa dia sedang diamati. Dan juga digunakan untuk melihat aktifitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay - Two Stray).
3.    Kuesioner atau Angket
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang hal-hal pribadinya atau hal-hal yang siswa ketahui.

Angket digunakan untuk mengetahui ketertarikan (minat belajar) siswa dalam mengikuti pembelajaran Matematika. Adapun instrumen pengumpulan data dilakukan  dengan menggunakan angket (inventori atau check list) dengan skala Likert dalam bentuk checklist di mana responden memberikan tanda checklist (√) ke dalam kolom jawaban yang disediakan.
Tabel 3.2 Pembobotan skala Likert (Riduwan, 2004)
Pernyataan Sikap
SS
ST
RR
TS
STS
Pernyataan Positif
5
4
3
2
1

Keterangan:
SS        : Sangat Setuju
ST        : Setuju
RR       : Ragu-Ragu
TS        : Tidak Setuju
STS     : Sangat Tidak Setuju
4.    Soal tes
Soal tes digunakan untuk mengetahui gambaran sejauh mana kemampuan siswa dalam menyelesaikan tes yang diberikan. Tes yang diberikan berupa beberapa pertanyaan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, kemampuan, dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa tersebut.
F.       Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Instrumen penelitian yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu sahih (valid) dan handal (reliabel), sehingga instrumen tersebut dapat digunakan untuk memperoleh data yang tepat dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, perlu dilakukan uji kesahihan (validitas) dan kehandalan (reliabilitas) instrumen.
a)    Validitas
Pengujian validitas konstruksi dilakukan dengan analisis faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antara skor item instrumen dengan rumus korelasi Pearson Product Moment yaitu:
(Riduwan, 2004:98)
Keterangan:
r hitung  = Koefisien korelasi
Σ X     = Jumlah skor item
Σ Y     = Jumlah skor total (seluruh item)
n         = Jumlah responden

          Dari ke 14 instrumen penelitian yang diujicobakan setelah dianalisis ternyata diperoleh 12 item untuk  yang memenuhi kriteria valid.
b)      Reliabilitas tes
Uji reliabilitas dilakukan untuk mendapatkan tingkat ketepatan alat pengumpul data (instrumen) yang digunakan. Suatu instrumen dikatakan mempunyai taraf kehandalan atau kepercayaan (reliabilitas) yang tinggi jika test tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan metode Alpha dengan rumus sebagai berikut.
                                     (Riduwan, 2004:98)
Keterangan:
r 11  = Nilai Reliabilitas
Σ Si = Jumlah varians skor tiap-tiap item
    St     = Varians total
                k     = Jumlah item
Kriteria tingkat reliabilitas sebagai berikut :
Tabel 3.4 Kriteria tingkat reliabilitas item pada aspek afektif
Rentang Nilai
Kategori
 0,800-1,000
Tinggi
 0,600-0,800
Cukup tinggi
 0,400-0,600
Sedang
 0,200-0,400
Rendah
 0,000-0,200
Sangat rendah


(Riduwan,  2004:98)

Berdasarkan perhitungan, reliabilitas item setelah diuji cobakan adalah 0,788. Ini berarti bahwa item yang digunakan reliabel (dapat dipercaya sebagai alat pengumpul data). Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, maka tes yang digunakan mempunyai tingkat reliabilitas dengan kategori tinggi dan memenuhi syarat untuk digunakan dalam penelitian.


G.      Teknik Analisis Data
Untuk data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif.
1.        Analisis Deskriptif
Menurut Arikunto (2008:284), analisis deskriptif yaitu teknik analisis data yang digunakan untuk menggambarkan data hasil penelitian lapangan dengan menggunakan metode pengelolahan data dan menurut sifat kuantitatif sebuah data.
Untuk menentukan kriteria ketuntasan belajar Matematika siswa dalam hal kognitif dan psikomotorik adalah sebagai berikut:
              Tabel 3.5 Kriteria Ketuntasan Siswa
Tuntas
Tidak tuntas

Untuk hasil belajar matematika siswa akan dikategorikan menurut standar kategorisasi dari Kementrian Pendidikan Nasional (Ayudiah: 2007) yang dinyatakan dalam tabel berikut:
              Tabel 1.2 Kategorisasi Standar yang Ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional
NO
Nilai
Kategori
1.
                   0 – 54
Sangat Rendah
2.
55 – 64
Rendah
3.
65 – 79
Sedang
4.
80 – 89
Tinggi
5.
90 – 100
Sangat Tinggi
         Sumber: Kementrian Pendidikan Nasional (Ayudiah: 2007)
Selanjutnya kriteria yang digunakan untuk menentukan respon siswa yaitu:
Interval
Kategori
0% - 20%
21% - 40%
41% - 60%
61% - 80%
81% - 100%
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi

Selanjutnya data mengenai kemampuan guru kriteria penilaian yang digunakan yaitu :
1.    Persentase 80% - 100% apabila ketelaksanaan pembelajaran dikategorikan sangat baik.
2.    Persentase 60% - 79% apabila ketelaksanaan pembelajaran dikategorikan baik.
3.    Persentase 40% - 59% apabila ketelaksanaan pembelajaran dikategorikan cukup baik.
4.    Persentase 10% - 39% apabila ketelaksanaan pembelajaran dikategorikan kurang baik.
5.    Persentase 0% - 9% apabila ketelaksanaan pembelajaran dikategorikan sangat kurang baik.
Adapun persentase ketercapaian penerapan pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Persentase kemampuan guru =   X 100%.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar