BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Pendidikan memiliki peran
penting dan strategis dalam mewujudkan sumber daya manusia yang bermutu agar
mampu menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dapat
menggunakannya untuk kesejahteraan bangsa.
Sejalan dengan hal ini pemerintah senantiasa berusaha meningkatkan kualitas pendidikan antara lain dengan penyempurnaan kurikulum, penyediaan buku-buku bermutu dan peningkatan pengetahuan guru melalui pelatihan-pelatihan maupun studi lanjut. Semuanya ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang masih dirasa kurang.
Sejalan dengan hal ini pemerintah senantiasa berusaha meningkatkan kualitas pendidikan antara lain dengan penyempurnaan kurikulum, penyediaan buku-buku bermutu dan peningkatan pengetahuan guru melalui pelatihan-pelatihan maupun studi lanjut. Semuanya ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang masih dirasa kurang.
1
|
Berdasarkan
hasil wawancara peneliti dengan guru-guru di kelas XI Teknik Automotif SMK AMI
Makassar dalam proses pembelajaran matematika di kelas menunjukkan bahwa siswa
mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru, siswa sulit
mengerjakan soal-soal yang diberikan, sikap siswa kurang bergairah menerima
pelajaran, siswa kurang aktif pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar,
bahkan siswa merasa takut dan malu bertanya
tentang materi yang belum diketahui pada saat pelajaran matematika. Hal ini
dikarenakan oleh pembelajaran yang dilakukan guru cenderung menggunakan metode
konvensional yakni ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas.
Salah
satu cara untuk mengatasi kodisi di atas adalah dengan menggunakan model
pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student
Centered Intrukction). Model pembelajaran yang relefan dan sesuai dengan permintaan
kurikulum adalah model pembelajaran kooperatif.
Salah
satu model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan adalah Pembelajaran
Kooperatif Tipe Ts-Ts (Two Stay–Two Stray). Pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts
(Two
Stay Two Stray) ini dapat memberi
pengaruh yang positif terhadap proses belajar siswa. Tipe TS-TS (Two Stay Two Stray) akan mengatasi
kesulitan siswa dalam belajar, mengantar siswa kedalam
suasana kelas yang aktif, membangkitkan semangat dan rasa ingin tahu siswa, dan menuntut kerja sama dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts
(Two
Stay Two Stray) merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan
agar siswa dapat saling bekerjasama, bertanggung jawab, saling membantu
memecahkan masalah dan saling mendorong untuk berprestasi. Metode ini juga
melatih siswa untuk bersosialisasi dengan baik.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merasa perlu untuk mengimplementasikan
pembelajaran Kooperatif
Tipe Ts-Ts (Two Stay–Two Stray). Oleh karena itulah, penulis termotivasi untuk
mengadakan penelitian dengan judul “Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) Pada
Siswa Kelas XI Teknik Automotif SMK AMI Makassar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka secara umum rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah sebagai berikutr :
1.
Bagaimana hasil belajar siswa dalam
mengaplikasikan konsep matematika
melalui pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) ?
2.
Bagaimana
aktifitas siswa pada saat proses belajar
mengajar berlangsung ?
3.
Bagaimana
respon siswa tentang pembelajaran kooperatif
tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) ?
4.
Bagaimana
kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif
tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk
mengetahui hasil belajar siswa dalam
mengaplikasikan konsep matematika
melalui pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray).
2.
Untuk
mengetahui aktifitas siswa pada saat
proses belajar mengajar berlangsung.
3.
Untuk
mengetahui respon siswa tentang pembelajaran kooperatif
tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray).
4.
Untuk
mengetahui kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran melalui pembelajaran
kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray).
D. Manfaat
Penelitian
Manfaat yang
diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Bagi
Siswa
Diharapkan mampu menarik
minat siswa untuk meningkatkan semangat dan motivasi dalam belajar serta
meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Bagi
Guru
a. Diharapkan guru dapat mengimplementasikan pembelajaran
yang lebih baik dan dapat menggunakan di dalam kelas, sehingga dapat
meningkatkan kemampuan guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
b. Sebagai motivasi untuk mengimplementasikan pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) pada pokok bahasan yang lainnya.
3. Bagi
Sekolah
Implementasi
model pembelajaran yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi
sumbangan bagi sekolah sehingga dijadikan masukan dalam usaha memperbaiki dan
meningkatkan mutu pembelajaran disekolah.
4. Bagi
Peneliti
Diharapkan
dengan adanya penelitian ini, peneliti semakin terlatih dalam mengimplementasikan
model pembelajaran dan memberikan tambahan informasi bagi peneliti dalam
melakukan penelitian selanjutnya.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Kajian
Pustaka
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan
tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Hal ini dapat dipandang dari dua
subjek, yaitu dari siswa dan guru. Siswa dan guru adalah penentu terjadinya
atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terdiri berkat siswa
mempelajari sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari
oleh siswa merupakan keadaan alam, benda-benda, hewan tumbuhan, manusia, atau
hal-hal yang dijadikan bahan belajar. Tindakan belajar tersebut merupakan
perilaku belajar yang tampak dari luar (Dimyati dan Mudjiono, 2009:7).
Menurut Slameto
(2003:2) mengemukakan bahwa:
“Belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya”.
Hamalik (2009:27) mengemukakan bahwa
belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. (Learning is defined as the modification or
strengthening of behavior through experiencing). Belajar merupakan suatu
proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya
mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami.
6
|
Belajar
pada dasarnya adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman dan
sebagai hasil dari interaksi dalam lingkungannya. Unsur lingkungan yang
disebutkan di atas pada hakikatnya berfungsi sebagai lingkungan belajar
seseorang, yakni lingkungan tempat ia tinggal dan berinteraksi sehingga
menumbuhkan kegiatan belajar pada dirinya (Abdul Haling, 2006:2).
Berdasarkan
uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang
disengaja dan bertujuan sehingga memunculkan perubahan-perubahan tingkah laku
dan aspek-aspek kepribadian pada orang yang belajar sebagai akibat interaksi
dengan individu dan lingkungannya.
2. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah
istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh
seseorang setelah melakukan usaha tertentu. Hasil belajar merupakan hasil dari
suatu interaksi tindak belajar dan mengajar. Dalam hal ini hasil belajar yang
dicapai siswa dalam bidang studi tertentu setelah mengikuti proses belajar
mengajar.
Menurut Bloom dalam Arikunto (2009:116) Ada
tiga ranah atau domain besar yang berhubungan dengan hasil belajar yaitu ranah
kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.
a. Ranah kognitif
Kemampuan ini mengatur cara belajar dan
berpikir seseorang dalam arti yang seluas-luasnya, termasuk kemampuan
memecahkan masalah. Kemampuan yang tercakup dalam domain kognitif meliputi enam
aspek yang berkaitan satu sama lain, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b.
Ranah afektif, berkenaan dengan aspek yang
terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian,
organisasi dan internalisasi.
c.
Ranah psikomotor, berkenaan dengan hasil belajar
keterampilan, kemampuan bertindak. Ada enam aspek psikomotorik, yakni: (a)
gerakan refleks, (b) keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perseptual, (d)
keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan keterampilan kompleks, (f) gerakan
ekspresif dan interpretatif.
Diantara ketiga ranah
itu, ranah kognitiflah yang paling dominan mendapat penilaian dari guru di
sekolah, karena hal itu berkaitan dengan kemampuan dalam menguasai isi bahan
pelajaran. Secara spesifik hal ini dikenal dengan istilah hasil belajar. Oleh
karena itu, dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika, maka hasil belajar
siswa dinamakan hasil belajar matematika yaitu tingkat keberhasilan siswa
menguasai bahan pelajaran matematika setelah memperoleh pengalaman belajar matematika
dalam interval waktu tertentu. Tingkat keberhasilan siswa diukur dengan
memberikan tes hasil belajar. Hasil pengukuran dengan menggunakan tes dapat
menjadi indikator
tentang batas kemampuan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan,
keterampilan dan sikap atau nilai yang dimiliki oleh orang itu dalam belajar matematika.
Di dalam proses belajar mengajar, guru sebagai fasilitator dituntut
adanya profil kualifikasi tertentu dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap dan
tata nilai.
Perlu ditegaskan bahwa setiap saat dalam kehidupan terjadi suatu
proses belajar mengajar, baik sengaja maupun tidak sengaja, disadari atau tidak
disadari. Dari proses belajar mengajar ini, akan diperoleh suatu hasil yang
pada umumnya disebut hasil belajar. Untuk memperoleh hasil yang optimal maka
proses belajar mengajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja serta
terorganisasi dengan baik.
Pendapat lain diungkapkan Gagne dan
Driscoll (Ekawarna, 2009:40) mengemukakan hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa akibat perbuatan belajar dan dapat
diamati melalui penampilan siswa (leartner’s
performance).
Lain lagi yang dikemukakan oleh Dick dan
Reiser (dalam Ekawarna, 2009:40) bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan
yang dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran”. Mereka membedakan
hasil belajar atas empat macam yaitu: pengetahuan, keterampilan intelektual,
keterampilan motorik dan sikap.
Berdasarkan
pendapat di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hasil belajar
adalah tingkat penguasaan bahan pelajaran setelah memperoleh pengalaman belajar
dalam interval waktu tertentu.
3. Pembelajaran
Kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa
siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka
saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok
untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi hakikat
sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran
kooperatif.
Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok
strategi pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk
mencapai tujuan bersama (Eggen and Kauchak, 1996:279).
Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran
kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul
dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa
menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan
keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja
bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Pada model pembelajaran kooperatif terdapat enam
langkah utama. Langkah-langkah tersebut
adalah sebagai berikut
Tabel 2.1 : Langkah-langkah
Dalam Pembelajaran Kooperatif
FASE
|
TINGKAH LAKU GURU
|
FASE-1
Menyampaikan tujuan dan
Memotivasi siswa
|
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin
dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
|
FASE-2
Menyajikan informasi
|
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan
demonstrasi atau lewat bahan bacaan
|
FASE-3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
|
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk
kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara
efisien
|
FASE-4
Membimbing kelompok
bekerja dan belajar
|
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka
mengerjakan tugas mereka
|
FASE-5
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah
dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
|
FASE-6
Memberikan penghargaan
|
Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil
belajar individu dan kelompok
|
Sumber :
Muslimin Ibrahim dkk (2000:10)
4.
Pembelajaran Kooperatif
Tipe TS-TS (two stay-two stray)
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) . “Dua tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992
dan biasa digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered Heads).
Struktur Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) yaitu salah satu tipe
pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan
hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak
kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu.
Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang
lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja
manusia saling bergantung satu sama lainnya.
Langkah-langkah model pembelajaran
Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) adalah sebagai berikut.
a.
Siswa bekerja sama dalam
kelompok berempat seperti biasa.
b.
Setelah selesai, dua siswa
dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing
bertamu ke kelompok yang lain.
c.
Dua siswa yang tinggal dalam
kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
d.
Tamu mohon diri dan kembali
ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
e.
Kelompok mencocokkan dan
membahas hasil-hasil kerja mereka.
Adapun
alur pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) :
KELOMPOK 1
I J
|
H
|
E
|
C
|
B
|
J
|
D
|
F
|
G
|
I
|
A
|
KELOMPOK 2
C D
|
KELOMPOK 3
E F
|
KELOMPOK 4
G H
|
KELOMPOK 1
A B
|
Gambar 2.1 : Skema diskusi tipe TS-TS (Two Stay - Two Stray).
Pembelajaran kooperatif
tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) terdiri dari beberapa
tahapan sebagai berikut :
1. Persiapan
1. Persiapan
Pada tahap persiapan
ini, hal yang dilakukan guru adalah membuat silabus dan sistem penilaian,
desain pembelajaran, menyiapkan tugas siswa dan membagi siswa menjadi beberapa
kelompok dengan masing-masing anggota 4 siswa dan setiap anggota kelompok harus
heterogen berdasarkan prestasi akademik siswa dan suku.
2. Presentasi
Guru
Pada
tahap ini guru menyampaikan indikator pembelajaran, mengenal dan menjelaskan
materi sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
3. Kegiatan Kelompok
Pada kegiatan ini
pembelajaran menggunakan lembar kegiatan yang berisi tugas-tugas yang harus
dipelajari oleh tiap-tiap siswa dalam satu kelompok. Setelah menerima lembar
kegiatan yang berisi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan konsep
materi dan klasifikasinya, siswa mempela-jarinya dalam kelompok kecil (4 siswa)
yaitu mendiskusikan masalah tersebut bersama-sama anggota kelompoknya.
Masing-masing kelompok menyelesai-kan atau memecahkan masalah yang diberikan
dengan cara mereka sendiri. Kemudian 2 dari 4 anggota dari masing-masing
kelompok meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok yang lain, sementara
2 anggota yang tinggal dalam kelompok bertugas menyampaikan hasil kerja dan
informasi mereka ke tamu. Setelah memperoleh informasi dari 2 anggota yang
tinggal, tamu mohon diri dan kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan
temuannya serta mancocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
4. Formalisasi
Setelah
belajar dalam kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan salah satu
kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya untuk dikomunikasikan atau
didiskusikan dengan kelompok lainnya. Kemudian guru membahas dan mengarahkan
siswa ke bentuk formal.
5.
Evaluasi Kelompok Dan Penghargaan
Pada tahap
evaluasi ini untuk mengetahui seberapa besar kemampuan siswa dalam memahami
materi yang telah diperoleh dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray).
Masing-masing siswa diberi kuis yang berisi pertanyaan-pertanyaan dari hasil
pembelajaran dengan model Ts-Ts (Two Stay – Two Stray), yang selanjutnya dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada
kelompok yang mendapatkan skor rata-rata tertinggi.
Tipe TS-TS
memiliki kelebihan dan kekurangan yaitu:
1.
Kelebihan
Tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) antara
lain:
a.
Memberikan
kesempatan kepada siswa untuk saling bertukar pikiran dalam mengerjakan tugas
dari guru.
b.
Tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) dapat
meningkatkan pola interaksi siswa.
c.
Tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) dapat
memudahkan siswa memahami materi yang diberikan dan menghindari perasaan jenuh
siswa dalam belajar.
d.
Tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) akan
mengantar siswa kedalam suasana kelas yang aktif.
e.
Tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) akan membangkitkan semangat dan rasa ingin tahu
siswa.
f.
Tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) menuntut kerja sama dalam kelompok, serta menyita
waktu siswa untuk menyelesaikan tugasnya sehingga tidak ada waktu bagi siswa
untuk bermain dan bergurau.
2.
Kekurangan
tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) antara
lain:
a.
Siswa sulit
dikontrol, apakah yang mengerjakan tugas itu dirinya sendiri ataukah orang
lain.
b.
Tipe Ts-Ts (Two Stay
– Two Stray)
memungkinkan butuh waktu yang lebih dari waktu yang ditentukan.
c.
Setiap
kelompok sulit dikontrol, apakah kelompok yang sedang bertamu atau kelompok
yang menerima tamu sesuai dengan yang ditentukan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan survey. Penelitian deskriptif
dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan
melukiskan keadaan subyek dan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan
fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya. Survey adalah Suatu cara
penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya
cukup banyak dalam jangka waktu tertentu.
Pelaksanaan metode penelitian deskriptif ini digunakan untuk mengetahui
implementasi pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay - Two Stray) pada
siswa kelas XI Teknik Automotif SMK AMI Makassar. Metode
penelitian deskriptif ini tidak terbatas sampai pada pengumpulan dan penyusunan
data, tetapi meliputi analisis dan interpretasi rentang data tersebut, selain
itu semua yang dikumpulkan memungkinkan menjadi kunci terhadap apa yang
diteliti.
B.
Lokasi Dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK AMI Makassar. Dalam penelitian ini yang menjadi
subjek penelitian adalah siswa kelas XI Teknik
Automotif.
43
|
C. Faktor yang Diselidiki
Faktor yang akan
diselidiki dalam pelaksanaan penelitian ini adalah:
1.
Faktor proses, yaitu melihat aktifitas siswa dalam mengikuti
proses belajar mengajar di kelas, melihat respon siswa tentang
pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay – Two Stray) serta melihat kemampuan guru dalam berinteraksi dengan siswa maupun dengan melihat model
pembelajaran yang digunakan guru
dalam pembelajaran di kelas serta bagaimana materi pelajaran tersebut
dipersiapkan.
2.
Faktor hasil,
yaitu dengan melihat hasil belajar siswa setelah diberikan tindakan yakni pembelajaran dengan menggunakan
pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two
Stay - Two Stray).
D.
Instrumen Penelitian
Dalam penelitian deskriptif, yang menjadi instrumen atau alat
penelitian adalah :
1. Observasi.
2. Kuesioner atau Angket.
3. Soal tes.
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, soal tes, dan
kuesioner atau angket.
1. Lembar Observasi Guru
Lembar observasi guru digunakan untuk melihat gambaran
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay - Two Stray) dikelas dan untuk mendapatkan
informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran dikelas baik
sebelum pembelajaran dimulai sampai pada kegiatan menutup.
2. Lembar
Observasi siswa
Lembar observasi siswa dilakukan dengan cara mengamati
tingkah laku siswa atau obyek sedemikian rupa, diharapkan siswa atau obyek yang
diamati tidak mengetahui bahwa dia sedang diamati. Dan juga digunakan untuk melihat
aktifitas
siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two Stay - Two Stray).
3. Kuesioner atau Angket
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang
hal-hal pribadinya atau hal-hal yang siswa ketahui.
Angket digunakan untuk mengetahui
ketertarikan (minat belajar) siswa dalam mengikuti pembelajaran Matematika.
Adapun instrumen pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket (inventori atau check
list) dengan skala Likert dalam bentuk checklist di mana responden
memberikan tanda checklist (√) ke dalam kolom jawaban yang disediakan.
Tabel 3.2
Pembobotan skala Likert (Riduwan, 2004)
Pernyataan
Sikap
|
SS
|
ST
|
RR
|
TS
|
STS
|
Pernyataan
Positif
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
Keterangan:
SS : Sangat Setuju
ST : Setuju
RR : Ragu-Ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
4. Soal tes
Soal tes digunakan untuk mengetahui gambaran sejauh mana kemampuan
siswa dalam menyelesaikan tes yang diberikan. Tes yang diberikan berupa
beberapa pertanyaan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, kemampuan, dan
pengetahuan yang dimiliki oleh siswa tersebut.
F.
Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Instrumen
penelitian yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu sahih (valid)
dan handal (reliabel), sehingga instrumen tersebut dapat digunakan untuk
memperoleh data yang tepat dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, perlu
dilakukan uji kesahihan (validitas) dan kehandalan (reliabilitas)
instrumen.
a) Validitas
Pengujian validitas konstruksi dilakukan
dengan analisis faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antara skor item instrumen
dengan rumus korelasi Pearson Product Moment yaitu:
(Riduwan, 2004:98)
Keterangan:
r hitung = Koefisien korelasi
Σ X = Jumlah skor item
Σ Y = Jumlah skor total
(seluruh item)
n = Jumlah responden
Dari
ke 14 instrumen penelitian yang diujicobakan setelah dianalisis ternyata
diperoleh 12 item untuk yang memenuhi
kriteria valid.
b) Reliabilitas
tes
Uji reliabilitas
dilakukan untuk mendapatkan tingkat ketepatan alat pengumpul data (instrumen)
yang digunakan. Suatu instrumen dikatakan
mempunyai taraf kehandalan atau kepercayaan (reliabilitas)
yang tinggi jika test tersebut dapat memberikan hasil
yang tetap. Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan metode Alpha dengan rumus sebagai berikut.
(Riduwan,
2004:98)
Keterangan:
r 11 = Nilai
Reliabilitas
Σ Si = Jumlah varians skor tiap-tiap item
St
= Varians total
k = Jumlah item
Kriteria tingkat reliabilitas sebagai berikut :
Tabel 3.4 Kriteria tingkat reliabilitas item
pada aspek afektif
Rentang
Nilai
|
Kategori
|
0,800-1,000
|
Tinggi
|
0,600-0,800
|
Cukup tinggi
|
0,400-0,600
|
Sedang
|
0,200-0,400
|
Rendah
|
0,000-0,200
|
Sangat rendah
|
(Riduwan, 2004:98)
Berdasarkan
perhitungan, reliabilitas item setelah diuji cobakan adalah 0,788. Ini
berarti bahwa item yang digunakan reliabel (dapat dipercaya sebagai alat
pengumpul data). Berdasarkan hasil
perhitungan tersebut, maka tes yang digunakan mempunyai tingkat reliabilitas
dengan kategori tinggi dan memenuhi syarat untuk digunakan dalam penelitian.
G.
Teknik Analisis Data
Untuk data hasil
penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif.
1.
Analisis
Deskriptif
Menurut Arikunto (2008:284), analisis deskriptif yaitu teknik analisis
data yang digunakan untuk menggambarkan data hasil penelitian lapangan dengan
menggunakan metode pengelolahan data dan menurut sifat kuantitatif sebuah data.
Untuk
menentukan kriteria ketuntasan belajar Matematika siswa dalam hal kognitif dan
psikomotorik adalah sebagai berikut:
Tabel 3.5 Kriteria Ketuntasan
Siswa
Tuntas
|
|
Tidak
tuntas
|
Untuk
hasil belajar matematika siswa akan dikategorikan
menurut standar kategorisasi dari Kementrian Pendidikan Nasional (Ayudiah:
2007) yang dinyatakan dalam tabel berikut:
Tabel 1.2 Kategorisasi
Standar yang Ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional
NO
|
Nilai
|
Kategori
|
1.
|
0 – 54
|
Sangat Rendah
|
2.
|
55 – 64
|
Rendah
|
3.
|
65 – 79
|
Sedang
|
4.
|
80 – 89
|
Tinggi
|
5.
|
90 – 100
|
Sangat Tinggi
|
Sumber: Kementrian Pendidikan
Nasional (Ayudiah: 2007)
Selanjutnya
kriteria yang digunakan untuk menentukan respon siswa yaitu:
Interval
|
Kategori
|
0%
- 20%
21%
- 40%
41%
- 60%
61%
- 80%
81%
- 100%
|
Sangat
Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat
Tinggi
|
Selanjutnya
data mengenai kemampuan guru kriteria penilaian yang digunakan yaitu :
1.
Persentase
80% - 100% apabila ketelaksanaan pembelajaran dikategorikan sangat baik.
2.
Persentase
60% - 79% apabila ketelaksanaan pembelajaran dikategorikan baik.
3.
Persentase
40% - 59% apabila ketelaksanaan pembelajaran dikategorikan cukup baik.
4.
Persentase
10% - 39% apabila ketelaksanaan pembelajaran dikategorikan kurang baik.
5.
Persentase
0% - 9% apabila ketelaksanaan pembelajaran dikategorikan sangat kurang baik.
Adapun
persentase ketercapaian penerapan pembelajaran kooperatif tipe Ts-Ts (Two
Stay – Two Stray) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut
:
Persentase kemampuan
guru =
X
100%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar