Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: Implementasi Pembelajaran Berbasis Portofolio dalam Meningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII6 SMP Negeri



BAB I


PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kepribadian, peradaban dan kemajuan bangsa demi masa yang akan datang. Pendidikan nasional bersumber pada kebudayaan bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan upaya untuk mencerdasarkan kehidupan bangsa. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa.
Namun dalam pelaksanaannya pendidikan selalu menghadapi tantangan, misalnya masalah kualitas, relevansi, pemerataan dan sebagainya. Masalah mutu pendidikan adalah salah satu tantangan dalam bidang pendidikan. Mendidik anak sambil terus mempertahankan mutu pendidikan yang tinggi, bukanlah suatu tugas yang mudah. Disamping itu, mutu perlu juga ditingkatkan dari waktu ke waktu secara teratur dan berkesinambungan. Jadi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diperlukan tindakan nyata, konprehensip, dan terpadu.
Kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian merupakan tiga dimensi dari sekian banyak dimensi yang penting dalam pendidikan. Kurikulum merupakan penjabaran tujuan pendidikan yang menjadi landasan program pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan guru untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam dalam kurikulum. Penilaian merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dan menilai tingkat pencapaian kurikulum dan berhasil tidaknya proses pembelajaran.
Perubahan kurikulum dari kurikulum berbasis isi (content-based curriculum) ke kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum) mengakibatkan perubahan paradigma pada proses pembelajaran yaitu dari apa yang harus diajarkan (isi) menjadi tentang apa yang harus dikuasai peserta didik (kompetensi). Perubahan kurikulum tersebut tidak hanya mengakibatkan terjadinya penyesuain substansi materi dari format kurikulum yang menekankan pada isi ke kurikulum yang menekankan pada tuntutan kompetensi, tetepi juga terjadi pergeseran paradigma dari pendekatan pendidikan yang berorientasi masukan (input-oriented education) ke pendekatan pendidikan yang berorientasi hasil atau standar (outcome-based education). Perubahan kurikulum tersebut membawa implikasi terhadap cara guru mengajar (proses pembelajaran)  
Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa tujuan umum pendidikan matematika adalah agar siswa memiliki:
1.       Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah matematika, pelajaran lain, ataupun masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata.
2.       Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi.
3.       Kemampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang dapat dialihgunakan pada setiap keadaan, seperti berfikir kritis, berfikir logis, berfikir sistematis, bersifat objektif, bersifat jujur, bersifat disiplin dalam memandang dan menyelesaikan masalah matematika.
Untuk mencapai tujuan pendidikan matematika di sekolah, sudah saatnya seorang guru bekerja dengan menyadari bahwa mengajar matematika tidak sekedar mengarahkan siswa berpikir tentang apa yang dipelajarinya dan menerapkan metode mengajar yang dipilih, tetapi harus melihat dan mengamati apa yang dipikirkan siswa serta proses yang berkembang dalam suatu diskusi terhadap materi matematika yang dipelajari siswa. Guru harus mencari cara agar siswa aktif mengkomunikasikan pengetahuan  matematika yang dipilih. Oleh sebab itu guru harus menggunakan model pembelajaran yang menempatkan siswa pada posisi sentral dalam keseluruhan program pembelajaran.
Proses pembelajaran yang diinginkan adalah pola pembelajaran matematika yang dapat membuat matematika terasa mudah dan menyenangkan. Karena itu guru mempersyaratkan berbagai kemampuan dan keterampilan, minimal penguasaan materi pelajaran dan keterampilan mengajarnya. Dengan demikian, seorang guru yang profesional dalam melaksanakan tugas mengajarnya harus mampu menerapkan cara mengajar secara efektif dan efisien agar tujuan pembelajaran dapat dilakukan secara optimal.
Salah satu model pembelajaran yang memenuhi kebutuhan tersebut adalah model pembelajaran berbasis portofolio. Portofolio merupakan kumpulan hasil objek penilaian (evidence) atau hasil belajar atau karya peserta didik yang menujukkan usaha, perkembangan, prestasi belajar peserta didik dari waktu ke waktu dan dari satu mata pelajaran ke pelajaran yang lain.
Berdasarkan observasi yang dilakukan pada SMP Negeri 1 Watansoppeng diperoleh informasi bahwa SMP Negeri 1 Watansoppeng telah memberlakukan kurikulum 2004 dalam pembelajaran. Pada dasarnya kurikulum 2004 sangatlah ditekankan pada kompetensi yang artinya proses pembelajaran berkaitan dengan apa yang harus dikuasai oleh peserta didik. Akan tetapi berdasarkan hasil pengamatan peneliti, penerapan kurikulum berbasis kompetensi tersebut belum tercapai secara maksimal. Khususnya pada bidang studi matematika terlihat bahwa siswa SMP Negeri 1 Watansoppeng tidak berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, mereka cenderung menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber informasi. Kondisi tersebut sangatlah berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Sebagaimana dokumentasi hasil belajar siswa Kelas VIII6 pada semester ganjil 2005/2006 hanya mencapai nilai rata-rata 5,37. Gambaran ini menunjukkan rendahnya hasil belajar matematika siswa kelas VIII6 SMP Negeri 1 Watansoppeng.
 Salah satu alternatif untuk menerapakan kurikulum 2004 sesuai dengan fungsinya dan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa Kelas VIII6 SMP Negeri 1 Watansoppeng yaitu dengan menerapkan pembelajaran berbasis portofolio. Dengan pembelajaran berbasis portofolio diharapkan dapat mengubah sikap peserta didik terhadap matematika menjadi lebih berinisiatif, kreatif, dan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis termotivasi meneliti masalah tersebut sebagai tugas akhir dengan judul : “Implementasi Pembelajaran Berbasis Portofolio dalam Meningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII6  SMP
Negeri 1 Watansoppeng ”.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah melalui pembelajaran berbasis portofolio hasil belajar matematika siswa Kelas VIII6 SMP Negeri 1 Watansoppeng akan meningkat?”  

C. Cara Pemecahan Masalah
Agar sasaran penelitian ini dapat tercapai, maka dalam mengatasi masalah yang telah dikemukakan di atas, dilakukan suatu proses tindakan pembelajaran menggunakan pembelajaran berbasis portofolio bagi siswa Kelas VIII6 SMP Negeri 1 Watansoppeng.

D. Tujuan Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa Kelas VIII6 SMP Negeri 1 Watansoppeng melalui penerapan pembelajaran berbasis portofolio.

E. Manfaat Penelitian

Hasil dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diharapkan memberikan manfaat berarti bagi:
1.       Bagi siswa :
a.       Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman belajar melalui tugas-tugas yang terorganisir dalam suatu portofolio, melatih siswa lebih aktif belajar.
b.       Berdasarkan pengalaman belajar atau pengetahuan baru yang diperolehnya, memungkinkan siswa mengkonstruksi pengetahuan yang telah dimilikinya, sehingga dengan pengetahuan baru itu ia dapat merumuskan langkah-langkah dalam peyelesaian masalah.
c.       Model pembelajaran portofolio menerapkan teori belajar konstruktivisme, sehingga melalui model pembelajaran ini diharapkan pengetahuan yang diterima siswa dapat tersimpan lebih baik.
2.       Bagi Guru :
Sebagai bahan pertimbangan bagi guru dalam memilih model pembelajaran yang lebih efektif dalam mengajarkan mata pelajaran matematika.
3.       Bagi Sekolah :
Diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan mutu sekolah. 
BAB II


KERANGKA TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN



A.  Kerangka Teoretik

1.       Belajar Matematika

Belajar merupakan suatu suatu proses kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Belajar adalah suatu proses perubahan dalam diri seseorang yang ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan pengetahuan, kecakapan, daya pikir, sikap, dan kebiasaan.
Matematika adalah suatu pelajaran yang tersusun secara beraturan, logis, berjenjang dari yang paling mudah hingga yang paling kompleks. Bruner (Hudoyo, 1990: 48) memberikan batasan tentang belajar matematika adalah belajar tentang konsep–konsep dan struktur–struktur matematika yang terdapat dalam materi yang dipelajari.
Belajar matematika memang memerlukan aktivitas mental yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan belajar mata pelajaran lainnya, sehingga banyak siswa yang menganggapnya sulit bahkan menakutkan. Tapi bukan mustahil bila guru memberikan suasana mengajar yang kondusif akan mengakibatkan siswa terfokus pada pembelajaran matematika.
Pengetahuan yang dapat dibentuk dengan mempelajari matematika atau yang diistilahkan dengan objek langsung matematika, menurut Gagne (Soedjadi, 2000: 13) dapat digolongkan menjadi 4 macam yaitu:
a)      Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi dalam matematika yang diungkap dengan symbol tertentu. Contohnya: simbol bilangan “3” secara umum sudah dipahami sebagai bilangan “tiga” dan sebaliknya.
b)      Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. Contohnya: segitiga, persegipanjang, persamaan, pertidaksamaan, bilangan cacah dan lain sebagainya.
c)      Operasi (abstrak) adalah pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar dan pengerjaan matematika yang lain. Contohnya:  mencari jumlah dua bilangan,  mencari kelipatan persekutuan terkecil dari dua bilangan.
d)     Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang kompleks. Prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta, konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi. Contohnya: pada setiap segitiga samakaki, kedua sudut alas sama besar, hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol bila dan hanya bila p=0 atau q=0.
 Dengan demikian pengertian belajar dalam konteks matematika juga merupakan proses  aktif yang sengaja dilakukan untuk memperoleh pengetahuan dengan memanipulasi simbol–simbol dalam struktur matematika sehingga menyebabkan perubahah tingkah laku.

2.       Mengajar Matematika

Mengajar menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah memberikan pelajaran. Sedangkan pelajaran adalah sesuatu yang dikaji/dipahami atau yang diajarkan misalnya membaca, latihan, penyelidikan. Proses mengajar berbentuk pengajaran yang berarti cara memberikan ilmu atau pengetahuan serta keterampilan kepada anak-anak (onderwijs). Pengajaran dapat juga berarti membantu siswa mengembangkan potensi intelektual yang ada padanya yang bertujuan agar intelektual setiap siswa berkembang secara optimal. Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah memberikan sesuatu dengan cara membimbing dan membantu kegiatan belajar siswa dalam mengembangkan potensi intelektual mereka secara optimal.
Mengajar matematika membutuhkan kerja keras dan kreatifitas dalam mentrasfer pembelajaran matematika. Kemampuan, keterampilan, dan sikap yang dipilih guru itu harus relevan dengan tujuan belajar dan disesuaikan dengan struktur kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dimiliki oleh setiap siswa.
Dalam mengajar seorang guru harus memperhatikan tekanan yang diberikan kepada siswa. Tekanan yang dimaksud bernilai positif atau suportif, dikenal sebagai eustress, otak dapat terlibat secara emosional dan memungkinkan kegiatan saraf maksimal. Mihaly Csikszentmihalyi (Waris, 2004: 7) mendokumentasikan suatu keadaan flow, yang didefinisikan sebagai keadaan dimana seseorang sangat terlibat dalam sebuah kegiatan sehingga hal lain seakan tak berarti lagi. Goleman (Waris, 2004: 7) menggambarkan hubungan antara eustress dan flow sebagai berikut:
“Orang agaknya dapat berkonsentrasi paling baik saat mereka sedikit lebih dituntut daripada biasanya dan mereka dapat memberikan lebih dari biasanya. Jika tuntutan terlalu sedikit, orang akan mejadi bosan. Jika tuntutan terlalu besar untuk diatasi, mereka akan menjadi cemas. Flow terjadi di daerah genting antara kebosanan dan kecemasan .”


Jadi guru dituntut untuk memberikan suasana mengajar yang memungkinkan unsur kognitif, afektif, dan unjuk kerja/ keterampilan siswa dapat berlangsung secara menyeluruh. Hal ini tidak lepas dari metode yang cocok dalam mengajar dengan baik dan lancar sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan.

3. Pembelajaran Matematika
Dalam arti sempit  pembelajaran merupakan  pendidikan dalam lingkup persekolahan, sedangkan arti dari  pembelajaran itu sendiri merupakan  sosialisasi siswa dengan lingkungan sekolah seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman-teman sesama siswa. Berikut ini (Haling, 2004: 9) ada beberapa pendapat tentang pembelajaran:
a)      Degeng dan Miarso, pembelajaran adalah suatu  yang dilaksanakan  secara sistematik dimana setiap komponen saling berpengaruh.
b)      Gagne, pembelajaran adalah usaha guru yang bertujuan untuk menolong siswa belajar, dimana pembelajaran merupakan seperangkat peristiwa yang mempengaruhi terjadinya belajar siswa.
c)      AECT, pembelajaran adalah suatu  dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan terjadinya belajar siswa.
d)     JICA, pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.
Menurut kamus umum bahasa Indonesia  pembelajaran merupakan jalannya kegiatan belajar siswa dan mengajar guru. Suatu pembelajaran akan berdaya guna bila guru menggunakan berbagai prinsip termasuk menumbuhkan adanya saling percaya antara guru dan anak didik, terutama memperhatikan kebutuhan individu anak didik agar tak mengganggu belajarnya. Pada dasarnya  pembelajaran dilangsungkan untuk mencapai tujuan pendidikan dan hal ini bisa terlaksana dengan baik jika didukung oleh empat unsur yaitu tujuan, bahan pelajaran, metode, alat (media), dan penilaian.
Dengan demikian pengertian pembelajaran dalam konteks matematika merupakan berlangsungnya kegiatan belajar dan mengajar matematika yang saling berpengaruh untuk mencapai tujuan pendidikan.

4.  Pengertian Portofolio
Portofolio berasal dari bahasa Inggris “portfolio” yang artinya dokumen atau surat-surat. Portofolio didefinisikan sebagai koleksi sistematis dari kerja seseorang. Dalam pendidikan, portofolio mengacu pada koleksi sistematis siswa dalam waktu terentu. Menurut Martin (Ratumanan, 2003: 80), “portofolio are representatif samples of student’s work collection over a period of time”.

Poulson (1991) mendefinisikan portofolio sebagai berikut:
“Portofolio adalah kumpulan pekerjaan siswa yang menunjukkan usaha, perkembangan, dan kecakapan mereka dalam suatu bidang atau lebih. Kumpulan ini harus mencakup partisipasi siswa dalam seleksi isi, kriteria seleksi, kriteria penilaian, dan bukti refleksi diri”.


Selanjutnya Gronlund (1998) mengemukakan bahwa:
”Portofolio mencakup berbagai contoh pekerjaan siswa yang tergantung pada keluasan tujuan. Apa yang harus tersurat, tergantung pada subjek dan tujuan penggunaan portofolio. Contoh pekerjaan siswa ini memberikan dasar bagi pertimbangan kemajuan belajarnya dan dapat dikomunikasikan kepada siswa, orang tua, serta pihak lain yang berkepentingan”.


Portofolio menurut Budimansyah (2003: 5) dapat diartikan sebagai suatu wujud benda fisik, sebagai suatu proses sosial pedagogis, maupun sebagai adjective. Sebagai suatu wujud benda fisik portofolio adalah bundel, yakni kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan pada suatu bundel. Misalnya hasil tes awal (pre-test), tugas-tugas, catatan anekdot, piagam penghargaan, keterangan melaksanakan tugas terstruktur, hasil tes akhir (post-test), dan sebagainya. Sebagai suatu proses sosial pedagogis, portofolio adalah collection of learning experience yang terdapat di dalam pikiran peserta didik baik yang berujud pengetahuan (kognitif), keterampilan (skill), maupun nilai dan sikap (afektif).  Adapun sebagai suatu adjective portofolio sering kali disandingkan dengan konsep lain, misalnya dengan konsep pembelajaran dan penilaian. Jika disandingkan dengan konsep pembelajaran maka dikenal istilah pembelajaran berbasis portofolio (portfolio based learning), sedangkan jika disandingkan dengan konsep penilaian maka dikenal istilah penilaian berbasis portofolio (portfolio based assessment).
Dalam kaitannya dengan pembelajaran, portofolio diartikan oleh Arnie Fajar (2004: 47) sebagai kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan. Panduan-panduan ini beragam tergantung pada mata pelajaran dan tujuan pembelajaran portofolio itu. Selain itu, Lambas (2004: 22) mengemukakan bahwa portofolio adalah kumpulan pekerjaan (tugas-tugas) siswa yang representatif dalam periode waktu tertentu. Dalam pembelajaran matematika, portofolio dapat menceritakan tentang kegiatan siswa dalam memecahkan masalah matematika.
Sementara itu, Fancisco (1999: 1) mengemukakan, “a portfolio is a collection of a learner’s experiences and achievements during a period of educational activity” suatu portofolio adalah suatu kumpulan  beberapa pengalaman dan prestasi peserta didik selama periode proses kependidikan. Hal senada juga dikemukakan oleh  Arter & Spandel (1998: 1), “portfolio as a purposefull collection of student work that tells the story of the student’s efforts, progress, or achievement in (a) given area(s)” portofolio sebagai suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu yakni menceritakan tentang usaha, kemajuan atau prestasi dalam suatu area tertentu.  
Dari beberapa pengertian diatas, portofolio dapat diartikan sebagai kumpulan tugas-tugas siswa, baik tugas individu atau kelompok maupun pekerjaan rumah yang disatukan dalam satu bundel.
Awalnya portofolio digunakan untuk menunujukkan prestasi siswa di dalam berbagai bidang, tetapi sekarang portofolio telah digunakan untuk memperoleh contoh representatif dari pekerjaan siswa dalam suatu disiplin (mata pelajaran) tertentu atau untuk semua mata pelajaran. Oleh karena itu portofolio tidak selalu harus selalu berbentuk catatan atau tulisan, tetapi dapat pula berbentuk gambar, model, fisik atu alat peraga. Portofolio meliputi koleksi kemajuan siswa dalam kurun waktu tertentu, dapat pula dalam satu semester, satu tahun, atau beberapa tahun.
Portofolio terbagi menjadi dua bagian yaitu; portofolio tampilan, yang isinya antara lain adalah rangkuman permasalahan yang dikaji, berbagai alternatif untuk mengatasi masalah, usulan kebijakan untuk mengatasi masalah, membuat rencana tindakan. Yang kedua yaitu portofolio dokumentasi, yang dikemas dalam map ordener atau sejenisnya yang disusun secara sistematis mengikuti urutan atau langkah-langkah portofolio tampilan, selanjutnya disjikan dalam suatu stimulasi atau dengar pendapat (public hearing), yang dapat menghadirkan orang-orang terkait dengan masalah tersebut.

5.  Pembelajaran Berbasis Portofolio
Pembelajaran berbasis portofolio menurut Fajar (2004: 44-47) dapat dikatakan sebagai upaya mendekatkan siswa kepada objek yang dibahas. Pengajaran yang menjadikan materi pelajaran yang dibahas secara langsung dihadapkan kepada siswa atau siswa secara langsung mencari informasi tentang hal yang dibahas. Dalam pembelajaran ini, setiap portofolio berisi karya terpilih dari kelas siswa secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif memilih, membahas, mencari data, mengolah, menganalisa dan mencari pemecahan terhadap masalah yang dikaji. Tampilan portofolio secara utuh melukiskan “integrated learning experiences” atau pengalaman belajar yang terpadu dan dialami oleh siswa.
Pada dasarnya portofolio sebagai model pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan guru agar siswa memiliki kemampuan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya sebagai individu maupun kelompok. Kemampuan tersebut diperoleh siswa melalui pengalaman belajar sehingga memiliki kemampuan mengorganisir informasi yang ditemukan, membuat laporan dan menuliskan apa yang ada dalam pikirannya, dan selanjutnya dituangkan secara penuh dalam pekerjaan/tugas-tugasnya.
Pembelajaran berbasis portofolio (portfolio based learning) menurut Francisco (1999: 1), “is a process that the learner undertakes” suatu proses usaha dari peserta didik. Lebih lanjut dikemukakan “The portfolio allows learning to be centred on the  individual’s learning needs” portofolio sebagai suatu pembelajaran yang terfokus secara langsung pada kebutuhan belajar individu itu sendiri. Selain itu, dikemukakan pula oleh Francisco (2000: 1), “Portfolio based learning: (1) collection of evidence that learning has taken place, (2) usually based on negotiated set of learning.” Pembelajaran berbasis portofolio: (1) kumpulan bukti bahwa pembelajaran telah berlangsung, (2) biasanya berdasarkan atas kumpulan kegiatan pembelajaran yang dinegoisasikan.
Pada hakikatnya dengan pembelajaran berbasis portofolio, disamping memperoleh pengalaman fisik terhadap objek dalam pembelajaran, siswa juga memperoleh pengalaman atau terlibat secara mental. Pengalaman fisik dalam arti melibatkan siswa atau mempertemukan siswa dengan objek pembelajaran. Pengalaman mental dalam arti memperhatikan informasi awal yang telah ada pada diri siswa, dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk menyusun sendiri informasi yang diperolehnya.
Model pembelajaran berbasis portofolio menurut Budimansyah (2003: 7) dilandasi oleh beberapa landasan pemikiran, yaitu:
a)      Empat pilar pendidikan
Dalam proses pembelajaran, peserta didik diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajar (learning to do) sehingga mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya (learning to know). Diharapkan hasil interaksi dengan berbagai  individu dan kelompok (learning live together) dapat membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya (learning to be).
b)       Pandangan konstruktivisme
Dasar pengembangan model pembelajaran berbasis portofolio ada teori belajar kontruktivisme, yang pada prinsipnya mengambarkan bahwa siswa membangun atau membentuk pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungannya. Beberapa bentuk kondisi belajar yang sesuai dengan filosofi konstruktivisme antara lain; diskusi yang menyediakan kesempatan agar semua peserta didik mau mengungkapkan gagasan, pengujian dan hasil penelitian sederhana, demonstrasi dan peragaan prosedur ilmiah, dan kegiatan praktis lain yang memberi peluang peserta didik untuk mempertajam gagasannya.
c)      Democratic teaching
Dalam prakteknya, pendidik memposisikan peserta didik sebagai insan yang harus dihargai kemampuannya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya..
Adapun langkah-langkah pembelajaran berbasis portofolio menurut Budimanyah (2003: 25) yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, (2) memilih masalah untuk kajian kelas, (3) mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas, (4) mengembangkan portofolio kelas, (5) penyajian portofolio. Hal senada juga dikemukakan oleh Fajar (2004: 48), dalam pembelajaran portofolio dtetapkan langkah-langkah: (1) mengidentifikasi masalah yang ada, (2) memilih suatu masalah untuk dikaji di kelas, (3) mengumpulkan informasi yang terkait dengan masalah yang dikaji, (4) membuat portofolio kelas, (5) menyajikan portofolio/dengar pendapat, (6) melakukan refleksi pengalaman belajar.
Sementara itu, Francisco (1999: 3) mengemukakan, Stages in PBL (portfolio based learning): (1) define the educational period the portfolio reflects, (2) identify your learning needs, (3) identify how you are going to meet these needs, (4) identify how you are going to assess whether you have met those needs, i.e. what outcomes are you going to look for?, (5) reflect on your portfolio and plan for the next educational period”. Hal senada juga dikemukakan oleh Francisco (2000: 1), PBL is a process by which you: (1) identify your learning needs, (2) plan your learning based on these needs, (3) use appropriate resources to meet these needs, (4) demonstrate what you have learned”.
Pembelajaran berbasis portofolio memungkinkan siswa untuk:
a)      Berlatih memadukan antara konsep yang diperoleh dari penjelasan guru atau dari buku/bacaan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
b)      Siswa diberi kesempatan untuk mencari informasi di luar kelas baik informasi yang sifatnya benda/bacaan, penglihatan (objek langsung, TV/radio/internet) maupun orang/pakar/tokoh.
c)      Membuat alternatif untuk mengatasi topik/objek yang dibahas.
d)     Membuat suatu keputusan (sesuai kemampuannya) yang berkaitan dengan konsep yang telah dipelajarinya, dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.
e)      Merumuskan langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah dan mencegah timbulnya masalah yang berkaitan dengan topik yang dibahas.








6.  Isi Portofolio Matematika
Isi portofolio untuk pelajaran matematika, Johnson & Johnson (Maesuri 2002: 7) mengemukakan bahwa isi portofolio matematika dapat berorientasi pada aspek :
a)      Perhitungan dengan mengetahui  perhitungan dasar.
b)      Pemecahan masalah dengan mengembangkan dengan menerapakan strategi-strategi.
c)      Komunikasi matematika dengan membaca dan menulis matematika
d)     Teknologi dengan menggunakan komputer atau kalkulator.
e)      Hubungan dengan menerapkan matematika pada pelajaran atau bidang lain.
f)       Kerja kelompok dengan bekerja secara kooperatif dalam belajar matematika.
Isi portofolio yang digunakan untuk menilai  dan hasil belajar matematika akan ditentukan oleh:
a)      Siswa dengan memutuskan apa yang akan dimasukkan dalam portofolio mereka.
b)      Kelompok siswa dengan merekomendasikan tentang apa yang akan dimasukkan dalam portofolio.
c)      Guru dan sekolah dengan tujuan tertentu sebagai dasar penilaian kemampuan dasar matematika siswa.






7.   Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar adalah prestasi yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang berkenaan dengan materi suatu mata pelajaran. Hasil belajar ini dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Sedangkan menurut Winkel (Bani, 2005:9) mengartikannya dengan “ prestasi sebagai bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapai”. Belajar merupakan suatu proses yang diarahkan kepada pencapaian suatu tujuan. Tujuan yang dimaksud adalah hasil belajar. Sehingga kualitas hasil belajar matematika adalah mutu atau tingkat prestasi yang dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar matematika.
Menurut Soedjadi (Bani, 2005:5) tujuan pembelajaran matematika di sekolah ada dua, yaitu (1) tujuan yang bersifat formal dan, (2) tujuan yang bersifat material. Tujuan yang bersifat formal lebih menekankan kepada penataan nalar dan membentuk kepribadian siswa. Sedangkan tujuan yang bersifat material lebih menekankan kepada kemampuan menerapkan metematika dan keterampilan matematika. Sehingga untuk mendapatkan  hasil belajar yang tinggi, maka semua yang menjadi tujuan pembelajaran di atas harus tercapai. Karena siswa yang mempunyai kemampuan matematika dan keterampilan matematika yang tinggi, serta penataan nalar dan sikap yang baik maka akan memperoleh hasil belajar yang tinggi pula.


B.  Kerangka Berpikir
Proses belajar mengajar adalah suatu rangkaian peristiwa yang mempunyai tujuan untuk dicapai. Hasil belajar diperoleh melalui proses belajar mengajar, namun tidak semua proses belajar mengajar yang dilakukan akan mencapai tujuan. Untuk itu demi mencapai tujuan pembelajaran dalam hal ini penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan dapat meningkat, maka peneliti menerapkan pembelajaran berbasis portofolio, dimana penilaian terhadap hasil belajar siswa diperoleh dari tes yang diberikan selama proses pembelajaran. Yang mana hasil tes ini dikumpulkan dalam satu tempat yang disebut bundel.
Berdasarkan pemikiran inilah, peneliti menduga bahwa dengan penerapan pembelajaran berbasis portofolio dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

C.  Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoretik, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “jika siswa diberikan pembelajaran berbasis portofolio, maka hasil belajar matematika siswa akan meningkat”

BAB III  
METODOLOGI PENELITIAN
  

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Actoin Research) yang melibatkan refleksi berulang yaitu perencanaan (planing­), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).


B. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Watansoppeng. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VIII6 pada semester genap 2005/2006 yang berjumlah 32 orang.  

C. Faktor yang Diselidiki
Faktor yang akan diselidiki dalam pelaksanaan penelitian ini adalah :
1.      Faktor siswa, yaitu kehadiran dan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan bahan pelajaran, keaktifan siswa dalam mengumpulkan tugas-tugas portofolio serta kemampuan siswa dalam memahami dan menyelesaikan soal-soal matematika.

2.      Faktor proses pembelajaran, yaitu apakah berlangsung sesuai dengan pembelajaran berbasis portofolio.
3.      Faktor hasil, yaitu hasil belajar matematika melalui tes serta isi dari portofolio.

D.  Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
1.      Siklus Pertama
Siklus pertama ini berlangsung selama 6 kali pertemuan, 5 kali pertemuan digunakan sebagai proses pembelajaran dan 1 kali pertemuan sebagai tes siklus I.
a.      Perencanaan
1.      Menelaah kurikulum SMP Negeri 1 Watansoppeng semester genap tahun ajaran 2005/2006.
2.      Menyusun rencana pengajaran berbasis portfolio.
3.      Membuat format dan bentuk portofolio.
4.      Menentukan alternatif tugas yang merupakan isi dari portofolio siswa serta rubrik penilaian untuk mengukur hasil portofolio siswa.
5.      Rencana tindakan pembelajaran yang berorientasi pada rencana pengajaran yang akan disusun berdasarkan format  yang diberlakukan di sekolah.
6.      Membuat lembar observasi untuk pengamatan/pencatatan data mengenai keaktifan siswa serta kondisi pembelajaran pada saat pelaksanaan tindakan.
7.      Mendesain alat evaluasi.
8.      Perumusan indikator deskriptif keberhasilan tindakan tentang kemampuan yang telah dicapai siswa berdasarkan isi dari portofolio.
Merujuk isi portofolio yang disarankan oleh Johnson (Asdar, 2005) maka peneliti mengembangkan isi portofolio yang memuat hal berikut:
a)      Halaman judul yang menggambarkan sifat dari kerja siswa atau kelompok siswa.
b)      Daftar isi yang memuat judul setiap pekerjaan siswa dan nomor halamannya.
c)      Contoh-contoh pekerjaan siswa yang telah diberi refleksi berupa komentar dan pekerjaan yang sudah diperbaiki oleh siswa berdasarkan arahan yang diberikan oleh peneliti.
d)     Lembar partisipasi yang ditulis oleh siswa.
e)      Refleksi terhadap materi yang dipelajari
Alternatif tugas-tugas belajar siswa yang dikembangkan oleh peneliti yang merupakan isi dalam portofolio matematika adalah:

Tabel 3.1.Alternatif tugas-tugas belajar siswa yang dikembangkan oleh peneliti yang merupakan isi dalam portofolio matematika

Ide Pengembangan
Tugas-tugas Belajar Siswa
Proses matematisasi (Mathematical process)
Tugas kelompok (soal pemahaman dan soal proyek)
Topik-topik isi pelajaran (Content topics)
Tugas individu (soal komputasi, keterampilan matematika, dan pemecahan masalah)
Refleksi (Reflection)
Ringkasan penting (Mathematical highlights)

Tugas kelompok bertujuan untuk melihat kemampuan kerjasama siswa dalam proses pembelajaran serta pemahaman konsep dasar siswa terhadap materi pelajaran. Tugas individu bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa menerapkan konsep materi yang telah dipelajari dalam penyelesaian soal. Sedangkan refleksi bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap topik-topik pembelajaran.

b. Tindakan
Tujuan utama pemberian tindakan dalam penelitian ini adalah terjadinya perubahan yang mendukung tercapainya perbaikan kualitas pembelajaran matematika terutama dalam hal hasil belajar siswa melalui pembelajaran berbasis portofolio. Bentuk-bentuk tindakan yang dilakukan terdiri atas:
1.      Pengajaran matematika.
2.      Pengembangan aktivitas-aktivitas siswa dalam belajar.
3.      Pemberian tugas-tugas portofolio baik secara individu maupun kelompok.
4.      Setiap pertemuan siswa mengisi lembar partisipasi.
5.      Setiap akhir siklus siswa membuat refleksi terhadap materi yang telah dipelajari secara jelas dan singkat.
6.      Tiap pertemuan guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting seperti kehadiran siswa dan keaktifan siswa mengikuti pelajaran.
7.      Melaksanakan tes hasil belajar matematika setiap siklus.

  
c.       Observasi
Observasi selama pemberian tindakan akan mendokumentasikan pengaruh tindakan yang diberikan selama proses pembelajaran matematika dan akan memberikan dasar bagi refleksi selama putaran pertama ini. Sifat observasi yang diterapkan adalah observasi responsive artinya terbuka pandangan dan pikiran peneliti untuk menangkap data yang tak terduga. Fokus observasi adalah proses tindakan, pengaruh tindakan, kendala tindakan, dan persoalan lain yang dapat timbul.

d.      Refleksi Hasil Kegiatan
1.      Refleksi dari penelitian  berdasarkan hasil yang diperoleh dari:
a)      Hasil portofolio.
b)      Hasil tes
2.      Mendiskusikan hasil refleksi yang telah dibuat bersama dengan guru mata pelajaran matematika lainnya.
3.      Merencanakan perbaikan-perbaikan tindakan pada siklus tindakan berikutnya.
4.      Mengevaluasi tingkat keberhasilan yang dicapai sesuai dengan tujuan pemberian tindakan.

2.      Siklus Kedua
Siklus kedua penelitian ini berlangsung 6 kali pertemuan, 5 kali pertemuan digunakan sebagai proses pembelajaran dan 1 kali pertemuan sebagai tes siklus II Aktivitas-aktivitas yang akan dilaksanakan pada siklus kedua ini merupakan hasil refleksi dari siklus pertama. Oleh karena itu langkah-langkah yang dilakukan relatif sama dengan siklus pertama dengan mengadakan beberapa perbaikan sesuai dengan kenyataan yang telah ditemukan dilapangan.

a.      Perencanaan

Pada tahap perencanaan pada putaran kedua, dikembangkan aktivitas:
1.      Melanjutkan aktivitas perancangan (1) sampai dengan (8) pada putaran pertama.
2.      Mengatur kembali rumusan indikator-indikator deskriptif keberhasilan tindakan tentang kemampuan-kemampuan yang telah dicapai siswa berdasarkan isi dari portofolio siswa.
3.      Merancang format pemberian nilai akhir matematika yang mempertimbangkan hasil portofolio, tes hasil belajar matematika siswa.

b.      Tindakan
Pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada siklus kedua adalah mengulangi kembali tahap-tahap yang dilakukan pada siklus pertama sambil mengadakan perbaikan atau penyempurnaan sesuai hasil yang diperoleh pada siklus pertama.

c.       Observasi
Aktivitas observasi pada putaran kedua mengikuti teknik observasi pada putaran pertama.





d.      Refleksi Hasil Kegiatan
Data yang diperoleh dari hasil observasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil tersebut peneliti merefleksi diri dengan melihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Dari hasil analisis tersebut peneliti dapat membuat evaluasi akhir terhadap seluruh hasil pembelajaran matematika setelah diterapkan pembelajaran berbasis portofolio.

E.  Teknik Pengumpulan Data

1.      Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa Kelas VIII6 SMP Negeri 1 Watansoppeng yang menjadi subjek penelitian.

2.      Jenis Data

Jenis data yang diperoleh dari sumber data kualitatif dan kuantitatif , yang terdiri dari :
a)      Tes hasil belajar
b)      Isi portofolio siswa
c)      Hasil observasi





3.      Cara Pengambilan Data

a)      Data tentang hasil belajar diperoleh melalui pemberian tes ulangan pada setiap akhir siklus.
b)      Data tentang kemajuan siswa dalam proses pembelajaran diperoleh melalui isi portofolio siswa.
c)      Data tentang keaktifan siswa dalam pembelajaran diperoleh melalui observasi.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif deskriptif. Analisis data secara kualitatif akan berlangsung selama peneliti berada di lokasi penelitian hingga akhir pengumpulan data.
Analisis data secara kuantitatif akan mendeskripsikan kategori hasil belajar matematika yang akan dikelompokkan dalam kategori sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Depdikbud (Bani, 2005):
1)      Nilai 0 – 3,4 dikategorikan sangat rendah
2)      Nilai 3,5 – 5,4 dikategorikan rendah
3)      Nilai 5,5 – 6,4 dikategorikan sedang
4)      Nilai 6,5 – 8,4 dikategorikan tinggi
5)      Nilai 8,5 – 10 dikategorikan sangat tinggi
Dari pengkategorian di atas, akan diperoleh frekuensi dan persentase siswa pada masing-masing kategori yang telah ditentukan.

G. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah bila skor rata-rata hasil belajar matematika siswa serta hasil portofolio siswa melalui pembelajaran berbasis portofolio dari subjek penelitian terjadi peningkatan yang nyata, dan terjadi perubahan sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran, yang ditandai dengan peningkatan keaktifan siswa dalam hal:
a)      Frekuensi kehadiran
b)      Bertanya kepada guru atau teman
c)      Menawarkan ide/menjawab pertanyaan guru atau teman
d)     Membantu teman dalam belajar












Tidak ada komentar:

Posting Komentar