BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu
sarana untuk meningkatkan kepribadian, peradaban dan kemajuan bangsa demi masa
yang akan datang. Pendidikan nasional bersumber pada kebudayaan bangsa Indonesia
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan upaya
untuk mencerdasarkan kehidupan bangsa. Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia
dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa.
Namun dalam pelaksanaannya
pendidikan selalu menghadapi tantangan, misalnya masalah kualitas, relevansi,
pemerataan dan sebagainya. Masalah mutu pendidikan adalah salah satu tantangan
dalam bidang pendidikan. Mendidik anak sambil terus mempertahankan mutu
pendidikan yang tinggi, bukanlah suatu tugas yang mudah. Disamping itu, mutu perlu juga
ditingkatkan dari waktu ke waktu secara teratur dan berkesinambungan. Jadi
untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diperlukan tindakan nyata,
konprehensip, dan terpadu.
Kurikulum,
proses pembelajaran, dan penilaian merupakan tiga dimensi dari sekian banyak
dimensi yang penting dalam pendidikan. Kurikulum
merupakan penjabaran tujuan pendidikan yang menjadi landasan program
pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan guru untuk
mencapai tujuan yang dirumuskan dalam dalam kurikulum. Penilaian merupakan
salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dan menilai tingkat
pencapaian kurikulum dan berhasil tidaknya proses pembelajaran.
Perubahan kurikulum dari kurikulum berbasis
isi (content-based curriculum) ke
kurikulum berbasis kompetensi (competency-based
curriculum) mengakibatkan perubahan paradigma pada proses pembelajaran
yaitu dari apa yang harus diajarkan (isi) menjadi tentang apa yang harus
dikuasai peserta didik (kompetensi). Perubahan kurikulum tersebut tidak hanya
mengakibatkan terjadinya penyesuain substansi materi dari format kurikulum yang
menekankan pada isi ke kurikulum yang menekankan pada tuntutan kompetensi,
tetepi juga terjadi pergeseran paradigma dari pendekatan pendidikan yang
berorientasi masukan (input-oriented
education) ke pendekatan pendidikan yang berorientasi hasil atau standar (outcome-based education). Perubahan kurikulum tersebut membawa
implikasi terhadap cara guru mengajar (proses pembelajaran)
Dalam Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional
dijelaskan bahwa tujuan umum pendidikan matematika adalah agar siswa memiliki:
1. Kemampuan yang berkaitan dengan
matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah matematika, pelajaran
lain, ataupun masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata.
2.
Kemampuan menggunakan matematika
sebagai alat komunikasi.
3.
Kemampuan menggunakan
matematika sebagai cara bernalar yang dapat dialihgunakan pada setiap keadaan,
seperti berfikir kritis, berfikir logis, berfikir sistematis, bersifat
objektif, bersifat jujur, bersifat disiplin dalam memandang dan menyelesaikan
masalah matematika.
Untuk mencapai tujuan
pendidikan matematika di sekolah, sudah saatnya seorang guru bekerja dengan
menyadari bahwa mengajar matematika tidak sekedar mengarahkan siswa berpikir
tentang apa yang dipelajarinya dan menerapkan metode mengajar yang dipilih,
tetapi harus melihat dan mengamati apa yang dipikirkan siswa serta proses yang
berkembang dalam suatu diskusi terhadap materi matematika yang dipelajari
siswa. Guru harus mencari cara agar siswa aktif mengkomunikasikan
pengetahuan matematika yang dipilih.
Oleh sebab itu guru harus menggunakan model pembelajaran yang menempatkan siswa
pada posisi sentral dalam keseluruhan program pembelajaran.
Proses pembelajaran yang
diinginkan adalah pola pembelajaran matematika yang dapat membuat matematika
terasa mudah dan menyenangkan. Karena itu guru mempersyaratkan berbagai kemampuan
dan keterampilan, minimal penguasaan materi pelajaran dan keterampilan
mengajarnya. Dengan demikian, seorang guru yang profesional dalam melaksanakan
tugas mengajarnya harus mampu menerapkan cara mengajar secara efektif dan
efisien agar tujuan pembelajaran dapat dilakukan secara optimal.
Salah satu model pembelajaran
yang memenuhi kebutuhan tersebut adalah model pembelajaran berbasis portofolio.
Portofolio merupakan kumpulan hasil objek penilaian (evidence) atau hasil belajar atau karya peserta didik yang
menujukkan usaha, perkembangan, prestasi belajar peserta didik dari waktu ke
waktu dan dari satu mata pelajaran ke pelajaran yang lain.
Berdasarkan observasi yang
dilakukan pada SMP Negeri 1 Watansoppeng diperoleh informasi bahwa SMP Negeri 1
Watansoppeng telah memberlakukan kurikulum 2004 dalam pembelajaran. Pada
dasarnya kurikulum 2004 sangatlah ditekankan pada kompetensi yang artinya
proses pembelajaran berkaitan dengan apa yang harus dikuasai oleh peserta
didik. Akan tetapi
berdasarkan hasil pengamatan peneliti, penerapan kurikulum berbasis kompetensi
tersebut belum tercapai secara maksimal. Khususnya pada
bidang studi matematika terlihat bahwa siswa SMP Negeri 1 Watansoppeng tidak
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, mereka cenderung menjadikan
guru sebagai satu-satunya sumber informasi. Kondisi tersebut sangatlah
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Sebagaimana dokumentasi hasil belajar siswa
Kelas VIII6 pada semester ganjil 2005/2006 hanya mencapai nilai
rata-rata 5,37. Gambaran ini menunjukkan rendahnya hasil belajar matematika
siswa kelas VIII6 SMP Negeri 1 Watansoppeng.
Salah satu alternatif untuk menerapakan kurikulum
2004 sesuai dengan fungsinya dan untuk meningkatkan hasil belajar matematika
siswa Kelas VIII6 SMP Negeri 1 Watansoppeng yaitu dengan menerapkan
pembelajaran berbasis portofolio. Dengan pembelajaran berbasis
portofolio diharapkan dapat mengubah sikap peserta didik terhadap matematika
menjadi lebih berinisiatif, kreatif, dan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis termotivasi
meneliti masalah tersebut sebagai tugas akhir dengan judul : “Implementasi
Pembelajaran Berbasis Portofolio dalam Meningkatan Hasil Belajar Matematika
Siswa Kelas VIII6 SMP
Negeri 1
Watansoppeng ”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah “Apakah melalui pembelajaran berbasis portofolio
hasil belajar matematika siswa Kelas VIII6 SMP Negeri 1 Watansoppeng
akan meningkat?”
C. Cara Pemecahan Masalah
Agar
sasaran penelitian ini dapat tercapai, maka dalam mengatasi masalah yang telah
dikemukakan di atas, dilakukan suatu proses tindakan pembelajaran menggunakan
pembelajaran berbasis portofolio bagi siswa Kelas VIII6 SMP Negeri 1
Watansoppeng.
D. Tujuan Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar
matematika siswa Kelas VIII6 SMP Negeri 1 Watansoppeng melalui
penerapan pembelajaran berbasis portofolio.
E. Manfaat Penelitian
Hasil dari pelaksanaan penelitian
tindakan kelas ini diharapkan memberikan manfaat berarti bagi:
1. Bagi siswa :
a. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
memperoleh pengalaman belajar melalui tugas-tugas yang terorganisir dalam suatu
portofolio, melatih siswa lebih aktif belajar.
b. Berdasarkan pengalaman belajar atau pengetahuan
baru yang diperolehnya, memungkinkan siswa mengkonstruksi pengetahuan yang
telah dimilikinya, sehingga dengan pengetahuan baru itu ia dapat merumuskan
langkah-langkah dalam peyelesaian masalah.
c. Model pembelajaran portofolio menerapkan teori
belajar konstruktivisme, sehingga melalui model pembelajaran ini diharapkan
pengetahuan yang diterima siswa dapat tersimpan lebih baik.
2. Bagi Guru :
Sebagai bahan
pertimbangan bagi guru dalam memilih model pembelajaran yang lebih efektif
dalam mengajarkan mata pelajaran matematika.
3. Bagi Sekolah :
Diharapkan dapat memberikan kontribusi
dalam meningkatkan mutu sekolah.
BAB II
KERANGKA TEORETIS DAN
HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kerangka Teoretik
1. Belajar Matematika
Belajar merupakan suatu suatu proses kegiatan aktif
siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Belajar adalah suatu proses
perubahan dalam diri seseorang yang ditampakkan dalam bentuk peningkatan
kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan pengetahuan, kecakapan,
daya pikir, sikap, dan kebiasaan.
Matematika adalah suatu pelajaran yang tersusun secara
beraturan, logis, berjenjang dari yang paling mudah hingga yang paling
kompleks. Bruner (Hudoyo, 1990: 48) memberikan batasan tentang belajar
matematika adalah belajar tentang konsep–konsep dan struktur–struktur
matematika yang terdapat dalam materi yang dipelajari.
Belajar matematika memang memerlukan aktivitas mental
yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan belajar mata pelajaran lainnya,
sehingga banyak siswa yang menganggapnya sulit bahkan menakutkan. Tapi bukan
mustahil bila guru memberikan suasana mengajar yang kondusif akan mengakibatkan
siswa terfokus pada pembelajaran matematika.
Pengetahuan yang dapat dibentuk dengan mempelajari
matematika atau yang diistilahkan dengan objek langsung matematika, menurut
Gagne (Soedjadi, 2000: 13) dapat digolongkan menjadi 4 macam yaitu:
a)
Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi
dalam matematika yang diungkap dengan symbol tertentu. Contohnya: simbol
bilangan “3” secara umum sudah dipahami sebagai bilangan “tiga” dan sebaliknya.
b)
Konsep adalah ide abstrak yang
dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek.
Contohnya: segitiga, persegipanjang, persamaan, pertidaksamaan, bilangan cacah
dan lain sebagainya.
c)
Operasi (abstrak) adalah
pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar dan pengerjaan matematika yang lain.
Contohnya: mencari jumlah dua bilangan, mencari kelipatan persekutuan terkecil dari
dua bilangan.
d)
Prinsip (abstrak) adalah objek
matematika yang kompleks. Prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta, konsep
yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi. Contohnya: pada setiap
segitiga samakaki, kedua sudut alas sama besar, hasil kali dua bilangan p dan q
sama dengan nol bila dan hanya bila p=0 atau q=0.
Dengan demikian
pengertian belajar dalam konteks matematika juga merupakan proses aktif yang sengaja dilakukan untuk memperoleh
pengetahuan dengan memanipulasi simbol–simbol dalam struktur matematika
sehingga menyebabkan perubahah tingkah laku.
2. Mengajar Matematika
Mengajar menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah
memberikan pelajaran. Sedangkan pelajaran adalah sesuatu yang dikaji/dipahami
atau yang diajarkan misalnya membaca, latihan, penyelidikan. Proses mengajar
berbentuk pengajaran yang berarti cara memberikan ilmu atau pengetahuan serta
keterampilan kepada anak-anak (onderwijs).
Pengajaran dapat juga berarti membantu siswa mengembangkan potensi intelektual
yang ada padanya yang bertujuan agar intelektual setiap siswa berkembang secara
optimal. Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa mengajar
adalah memberikan sesuatu dengan cara membimbing dan membantu kegiatan belajar
siswa dalam mengembangkan potensi intelektual mereka secara optimal.
Mengajar matematika membutuhkan kerja keras dan kreatifitas dalam mentrasfer pembelajaran
matematika. Kemampuan, keterampilan, dan sikap yang dipilih guru itu harus
relevan dengan tujuan belajar dan disesuaikan dengan struktur kognitif,
afektif, dan psikomotorik yang dimiliki oleh setiap siswa.
Dalam mengajar seorang
guru harus memperhatikan tekanan yang diberikan kepada siswa. Tekanan yang
dimaksud bernilai positif atau suportif, dikenal sebagai eustress, otak
dapat terlibat secara emosional dan memungkinkan kegiatan saraf maksimal.
Mihaly Csikszentmihalyi (Waris, 2004: 7) mendokumentasikan suatu keadaan flow,
yang didefinisikan sebagai keadaan dimana seseorang sangat terlibat dalam
sebuah kegiatan sehingga hal lain seakan tak berarti lagi. Goleman (Waris, 2004: 7) menggambarkan hubungan antara eustress dan
flow sebagai berikut:
“Orang agaknya dapat berkonsentrasi paling
baik saat mereka sedikit lebih dituntut daripada biasanya dan mereka dapat
memberikan lebih dari biasanya. Jika tuntutan terlalu sedikit, orang akan
mejadi bosan. Jika tuntutan terlalu besar untuk diatasi, mereka akan menjadi
cemas. Flow terjadi di daerah genting antara kebosanan dan kecemasan .”
Jadi
guru dituntut untuk memberikan suasana mengajar yang memungkinkan unsur
kognitif, afektif, dan unjuk kerja/ keterampilan siswa dapat berlangsung secara
menyeluruh. Hal ini tidak lepas dari metode yang cocok dalam mengajar dengan
baik dan lancar sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan.
3. Pembelajaran Matematika
Dalam arti sempit
pembelajaran merupakan pendidikan
dalam lingkup persekolahan, sedangkan arti dari
pembelajaran itu sendiri merupakan
sosialisasi siswa dengan lingkungan sekolah seperti guru, sumber/fasilitas,
dan teman-teman sesama siswa. Berikut ini (Haling, 2004: 9) ada beberapa
pendapat tentang pembelajaran:
a)
Degeng dan Miarso, pembelajaran
adalah suatu yang dilaksanakan secara sistematik dimana setiap komponen
saling berpengaruh.
b)
Gagne, pembelajaran adalah
usaha guru yang bertujuan untuk menolong siswa belajar, dimana pembelajaran
merupakan seperangkat peristiwa yang mempengaruhi terjadinya belajar siswa.
c)
AECT, pembelajaran adalah
suatu dimana lingkungan seseorang secara
sengaja dikelola untuk memungkinkan terjadinya belajar siswa.
d)
JICA, pembelajaran merupakan
upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan
berkembang secara optimal.
Menurut kamus umum bahasa Indonesia pembelajaran merupakan jalannya kegiatan
belajar siswa dan mengajar guru. Suatu pembelajaran akan berdaya guna bila guru
menggunakan berbagai prinsip termasuk menumbuhkan adanya saling percaya antara
guru dan anak didik, terutama memperhatikan kebutuhan individu anak didik agar
tak mengganggu belajarnya. Pada dasarnya
pembelajaran dilangsungkan untuk mencapai tujuan pendidikan dan hal ini
bisa terlaksana dengan baik jika didukung oleh empat unsur yaitu tujuan, bahan
pelajaran, metode, alat (media), dan penilaian.
Dengan demikian pengertian pembelajaran dalam konteks
matematika merupakan berlangsungnya kegiatan belajar dan mengajar matematika
yang saling berpengaruh untuk mencapai tujuan pendidikan.
4. Pengertian Portofolio
Portofolio berasal dari bahasa Inggris
“portfolio” yang artinya dokumen atau surat-surat. Portofolio
didefinisikan sebagai koleksi sistematis dari kerja seseorang. Dalam
pendidikan, portofolio mengacu pada koleksi sistematis siswa dalam waktu
terentu. Menurut Martin (Ratumanan, 2003: 80), “portofolio are representatif samples of student’s work collection over
a period of time”.
Poulson (1991) mendefinisikan
portofolio sebagai berikut:
“Portofolio adalah kumpulan pekerjaan siswa yang
menunjukkan usaha, perkembangan, dan kecakapan mereka dalam suatu bidang atau
lebih. Kumpulan ini harus mencakup partisipasi siswa dalam seleksi isi,
kriteria seleksi, kriteria penilaian, dan bukti refleksi diri”.
Selanjutnya Gronlund (1998)
mengemukakan bahwa:
”Portofolio mencakup berbagai contoh pekerjaan
siswa yang tergantung pada keluasan tujuan. Apa yang harus tersurat, tergantung
pada subjek dan tujuan penggunaan portofolio. Contoh pekerjaan siswa ini
memberikan dasar bagi pertimbangan kemajuan belajarnya dan dapat
dikomunikasikan kepada siswa, orang tua, serta pihak lain yang berkepentingan”.
Portofolio menurut Budimansyah (2003:
5) dapat diartikan sebagai suatu wujud benda fisik, sebagai suatu proses sosial
pedagogis, maupun sebagai adjective. Sebagai suatu wujud benda fisik
portofolio adalah bundel, yakni kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan
peserta didik yang disimpan pada suatu bundel. Misalnya hasil tes awal (pre-test),
tugas-tugas, catatan anekdot, piagam penghargaan, keterangan melaksanakan tugas
terstruktur, hasil tes akhir (post-test), dan sebagainya. Sebagai suatu
proses sosial pedagogis, portofolio adalah collection of learning experience
yang terdapat di dalam pikiran peserta didik baik yang berujud pengetahuan (kognitif),
keterampilan (skill), maupun nilai dan sikap (afektif). Adapun sebagai suatu adjective
portofolio sering kali disandingkan dengan konsep lain, misalnya dengan konsep
pembelajaran dan penilaian. Jika disandingkan dengan konsep pembelajaran maka
dikenal istilah pembelajaran berbasis portofolio (portfolio based learning),
sedangkan jika disandingkan dengan konsep penilaian maka dikenal istilah
penilaian berbasis portofolio (portfolio based assessment).
Dalam kaitannya dengan pembelajaran,
portofolio diartikan oleh Arnie Fajar (2004: 47) sebagai kumpulan pekerjaan
siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan
yang ditentukan. Panduan-panduan ini beragam tergantung pada mata pelajaran dan
tujuan pembelajaran portofolio itu. Selain itu, Lambas (2004: 22) mengemukakan bahwa portofolio adalah kumpulan
pekerjaan (tugas-tugas) siswa yang representatif dalam periode waktu tertentu.
Dalam pembelajaran matematika, portofolio dapat menceritakan tentang kegiatan
siswa dalam memecahkan masalah matematika.
Sementara itu, Fancisco (1999: 1)
mengemukakan, “a portfolio is a collection of a learner’s experiences and
achievements during a period of educational activity” suatu portofolio
adalah suatu kumpulan beberapa
pengalaman dan prestasi peserta didik selama periode proses kependidikan. Hal
senada juga dikemukakan oleh Arter &
Spandel (1998: 1), “portfolio as a purposefull collection of student work
that tells the story of the student’s efforts, progress, or achievement in (a)
given area(s)” portofolio sebagai suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan
maksud tertentu yakni menceritakan tentang usaha, kemajuan atau prestasi dalam
suatu area tertentu.
Dari beberapa pengertian diatas,
portofolio dapat diartikan sebagai kumpulan tugas-tugas siswa, baik tugas
individu atau kelompok maupun pekerjaan rumah yang disatukan dalam satu bundel.
Awalnya portofolio digunakan untuk
menunujukkan prestasi siswa di dalam berbagai bidang, tetapi sekarang
portofolio telah digunakan untuk memperoleh contoh representatif dari pekerjaan
siswa dalam suatu disiplin (mata pelajaran) tertentu atau untuk semua mata
pelajaran. Oleh karena itu portofolio tidak selalu harus selalu berbentuk
catatan atau tulisan, tetapi dapat pula berbentuk gambar, model, fisik atu alat
peraga. Portofolio meliputi koleksi kemajuan siswa dalam kurun waktu tertentu,
dapat pula dalam satu semester, satu tahun, atau beberapa tahun.
Portofolio terbagi menjadi dua bagian
yaitu; portofolio tampilan, yang isinya antara lain adalah rangkuman
permasalahan yang dikaji, berbagai alternatif untuk mengatasi masalah, usulan
kebijakan untuk mengatasi masalah, membuat rencana tindakan. Yang kedua yaitu
portofolio dokumentasi, yang dikemas dalam map ordener atau sejenisnya yang
disusun secara sistematis mengikuti urutan atau langkah-langkah portofolio
tampilan, selanjutnya disjikan dalam suatu stimulasi atau dengar pendapat (public hearing), yang dapat menghadirkan
orang-orang terkait dengan masalah tersebut.
5. Pembelajaran
Berbasis Portofolio
Pembelajaran berbasis portofolio
menurut Fajar (2004: 44-47) dapat dikatakan sebagai upaya mendekatkan siswa
kepada objek yang dibahas. Pengajaran yang menjadikan materi pelajaran yang
dibahas secara langsung dihadapkan kepada siswa atau siswa secara langsung
mencari informasi tentang hal yang dibahas. Dalam pembelajaran ini, setiap
portofolio berisi karya terpilih dari kelas siswa secara keseluruhan yang
bekerja secara kooperatif memilih, membahas, mencari data, mengolah,
menganalisa dan mencari pemecahan terhadap masalah yang dikaji. Tampilan
portofolio secara utuh melukiskan “integrated learning experiences” atau
pengalaman belajar yang terpadu dan dialami oleh siswa.
Pada dasarnya portofolio sebagai model
pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan guru agar siswa memiliki kemampuan
untuk mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya sebagai individu maupun
kelompok. Kemampuan tersebut diperoleh siswa melalui pengalaman belajar
sehingga memiliki kemampuan mengorganisir informasi yang ditemukan, membuat
laporan dan menuliskan apa yang ada dalam pikirannya, dan selanjutnya dituangkan
secara penuh dalam pekerjaan/tugas-tugasnya.
Pembelajaran berbasis portofolio (portfolio
based learning) menurut Francisco (1999: 1), “is a process that the
learner undertakes” suatu
proses usaha dari peserta didik. Lebih lanjut dikemukakan “The portfolio
allows learning to be centred on the
individual’s learning needs” portofolio sebagai suatu pembelajaran
yang terfokus secara langsung pada kebutuhan belajar individu itu sendiri.
Selain itu, dikemukakan pula oleh Francisco (2000: 1), “Portfolio based
learning: (1) collection of evidence that learning has taken place, (2) usually
based on negotiated set of learning.”
Pembelajaran berbasis portofolio: (1) kumpulan bukti bahwa pembelajaran telah
berlangsung, (2) biasanya berdasarkan atas kumpulan kegiatan pembelajaran yang
dinegoisasikan.
Pada hakikatnya dengan pembelajaran
berbasis portofolio, disamping memperoleh pengalaman fisik terhadap objek dalam
pembelajaran, siswa juga memperoleh pengalaman atau terlibat secara mental.
Pengalaman fisik dalam arti melibatkan siswa atau mempertemukan siswa dengan
objek pembelajaran. Pengalaman mental dalam arti memperhatikan informasi awal
yang telah ada pada diri siswa, dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk
menyusun sendiri informasi yang diperolehnya.
Model pembelajaran berbasis portofolio
menurut Budimansyah (2003: 7) dilandasi oleh beberapa landasan pemikiran,
yaitu:
a)
Empat pilar pendidikan
Dalam proses pembelajaran, peserta
didik diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman
belajar (learning to do) sehingga
mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya (learning to know). Diharapkan hasil
interaksi dengan berbagai individu dan
kelompok (learning live together)
dapat membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya (learning to be).
b)
Pandangan
konstruktivisme
Dasar pengembangan model pembelajaran
berbasis portofolio ada teori belajar kontruktivisme, yang pada prinsipnya
mengambarkan bahwa siswa membangun atau membentuk pengetahuannya melalui
interaksi dengan lingkungannya. Beberapa bentuk kondisi belajar yang sesuai
dengan filosofi konstruktivisme antara lain; diskusi yang menyediakan
kesempatan agar semua peserta didik mau mengungkapkan gagasan, pengujian dan
hasil penelitian sederhana, demonstrasi dan peragaan prosedur ilmiah, dan
kegiatan praktis lain yang memberi peluang peserta didik untuk mempertajam
gagasannya.
c)
Democratic teaching
Dalam prakteknya, pendidik
memposisikan peserta didik sebagai insan yang harus dihargai kemampuannya dan
diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya..
Adapun langkah-langkah pembelajaran
berbasis portofolio menurut Budimanyah (2003: 25) yaitu: (1) mengidentifikasi
masalah, (2) memilih masalah untuk kajian kelas, (3) mengumpulkan informasi
tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas, (4) mengembangkan portofolio
kelas, (5) penyajian portofolio. Hal senada juga dikemukakan oleh Fajar (2004:
48), dalam pembelajaran portofolio dtetapkan langkah-langkah: (1)
mengidentifikasi masalah yang ada, (2) memilih suatu masalah untuk dikaji di
kelas, (3) mengumpulkan informasi yang terkait dengan masalah yang dikaji, (4)
membuat portofolio kelas, (5) menyajikan portofolio/dengar pendapat, (6)
melakukan refleksi pengalaman belajar.
Sementara itu, Francisco (1999: 3)
mengemukakan, “Stages in PBL (portfolio based learning): (1) define the educational period
the portfolio reflects, (2) identify your learning needs, (3) identify how you are going to meet these needs, (4) identify how you are going to assess whether
you have met those needs, i.e. what outcomes are you going to look for?, (5)
reflect on your portfolio and plan for
the next educational period”. Hal senada juga dikemukakan oleh Francisco (2000: 1), “PBL is a
process by which you: (1) identify your
learning needs, (2) plan your learning based on these needs, (3) use
appropriate resources to meet these needs, (4) demonstrate
what you have learned”.
Pembelajaran berbasis
portofolio memungkinkan siswa untuk:
a) Berlatih memadukan antara konsep
yang diperoleh dari penjelasan guru atau dari buku/bacaan dengan penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.
b) Siswa diberi kesempatan untuk
mencari informasi di luar kelas baik informasi yang sifatnya benda/bacaan,
penglihatan (objek langsung, TV/radio/internet) maupun orang/pakar/tokoh.
c) Membuat alternatif untuk mengatasi
topik/objek yang dibahas.
d) Membuat suatu keputusan (sesuai
kemampuannya) yang berkaitan dengan konsep yang telah dipelajarinya, dengan
mempertimbangkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.
e) Merumuskan langkah yang akan
dilakukan untuk mengatasi masalah dan mencegah timbulnya masalah yang berkaitan
dengan topik yang dibahas.
6. Isi Portofolio Matematika
Isi portofolio untuk pelajaran matematika, Johnson &
Johnson (Maesuri 2002: 7) mengemukakan bahwa isi portofolio matematika dapat
berorientasi pada aspek :
a)
Perhitungan dengan
mengetahui perhitungan dasar.
b)
Pemecahan masalah dengan
mengembangkan dengan menerapakan strategi-strategi.
c)
Komunikasi matematika dengan
membaca dan menulis matematika
d)
Teknologi dengan menggunakan
komputer atau kalkulator.
e)
Hubungan dengan menerapkan
matematika pada pelajaran atau bidang lain.
f)
Kerja kelompok dengan bekerja
secara kooperatif dalam belajar matematika.
Isi portofolio yang digunakan untuk menilai dan hasil belajar matematika akan ditentukan
oleh:
a)
Siswa dengan memutuskan apa
yang akan dimasukkan dalam portofolio mereka.
b)
Kelompok siswa dengan
merekomendasikan tentang apa yang akan dimasukkan dalam portofolio.
c)
Guru dan sekolah dengan tujuan
tertentu sebagai dasar penilaian kemampuan dasar matematika siswa.
7. Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar adalah prestasi yang dicapai oleh siswa
setelah mengikuti proses belajar mengajar yang berkenaan dengan materi suatu
mata pelajaran. Hasil belajar ini dapat diukur dengan menggunakan tes hasil
belajar. Sedangkan menurut Winkel (Bani, 2005:9) mengartikannya dengan “ prestasi
sebagai bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapai”. Belajar merupakan suatu
proses yang diarahkan kepada pencapaian suatu tujuan. Tujuan yang dimaksud
adalah hasil belajar. Sehingga kualitas hasil belajar matematika adalah mutu
atau tingkat prestasi yang dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar
mengajar matematika.
Menurut Soedjadi (Bani, 2005:5) tujuan pembelajaran
matematika di sekolah ada dua, yaitu (1) tujuan yang bersifat formal dan, (2)
tujuan yang bersifat material. Tujuan yang bersifat formal lebih menekankan
kepada penataan nalar dan membentuk kepribadian siswa. Sedangkan tujuan yang
bersifat material lebih menekankan kepada kemampuan menerapkan metematika dan
keterampilan matematika. Sehingga untuk mendapatkan hasil belajar yang tinggi, maka semua yang
menjadi tujuan pembelajaran di atas harus tercapai. Karena siswa yang mempunyai
kemampuan matematika dan keterampilan matematika yang tinggi, serta penataan
nalar dan sikap yang baik maka akan memperoleh hasil belajar yang tinggi pula.
B. Kerangka Berpikir
Proses belajar mengajar adalah
suatu rangkaian peristiwa yang mempunyai tujuan untuk dicapai. Hasil belajar
diperoleh melalui proses belajar mengajar, namun tidak semua proses belajar
mengajar yang dilakukan akan mencapai tujuan. Untuk itu demi mencapai tujuan
pembelajaran dalam hal ini penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan
dapat meningkat, maka peneliti menerapkan pembelajaran berbasis portofolio,
dimana penilaian terhadap hasil belajar siswa diperoleh dari tes yang diberikan
selama proses pembelajaran. Yang mana hasil tes ini dikumpulkan dalam satu
tempat yang disebut bundel.
Berdasarkan pemikiran inilah,
peneliti menduga bahwa dengan penerapan pembelajaran berbasis portofolio dapat
meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoretik,
maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “jika siswa diberikan pembelajaran
berbasis portofolio, maka hasil belajar matematika siswa akan
meningkat”
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Actoin Research) yang melibatkan refleksi berulang yaitu perencanaan (planing), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).
B. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri
1 Watansoppeng. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VIII6 pada
semester genap 2005/2006 yang berjumlah 32 orang.
C. Faktor yang Diselidiki
Faktor yang akan diselidiki dalam pelaksanaan penelitian
ini adalah :
1. Faktor siswa, yaitu kehadiran dan
keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan bahan pelajaran, keaktifan
siswa dalam mengumpulkan tugas-tugas portofolio serta kemampuan siswa dalam
memahami dan menyelesaikan soal-soal matematika.
2. Faktor proses pembelajaran, yaitu
apakah berlangsung sesuai dengan pembelajaran berbasis portofolio.
3.
Faktor
hasil, yaitu hasil belajar matematika melalui tes serta isi dari portofolio.
D. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus
terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
1.
Siklus Pertama
Siklus pertama ini
berlangsung selama 6 kali pertemuan, 5 kali pertemuan digunakan sebagai proses pembelajaran dan 1 kali
pertemuan sebagai tes siklus I.
a. Perencanaan
1.
Menelaah kurikulum SMP Negeri 1 Watansoppeng semester genap
tahun ajaran 2005/2006.
2.
Menyusun rencana pengajaran berbasis portfolio.
3.
Membuat format dan bentuk
portofolio.
4.
Menentukan
alternatif tugas yang merupakan isi dari portofolio siswa serta rubrik
penilaian untuk mengukur hasil portofolio siswa.
5.
Rencana tindakan pembelajaran
yang berorientasi pada rencana pengajaran yang akan disusun berdasarkan format yang diberlakukan di sekolah.
6.
Membuat lembar observasi untuk
pengamatan/pencatatan data mengenai keaktifan siswa serta kondisi pembelajaran
pada saat pelaksanaan tindakan.
7.
Mendesain alat evaluasi.
8.
Perumusan indikator deskriptif
keberhasilan tindakan tentang kemampuan yang telah dicapai siswa berdasarkan
isi dari portofolio.
Merujuk isi portofolio
yang disarankan oleh Johnson (Asdar, 2005) maka peneliti mengembangkan isi
portofolio yang memuat hal berikut:
a) Halaman judul
yang menggambarkan sifat dari kerja siswa atau kelompok siswa.
b)
Daftar isi yang memuat judul setiap pekerjaan siswa dan nomor halamannya.
c)
Contoh-contoh pekerjaan siswa yang
telah diberi refleksi berupa komentar dan pekerjaan yang sudah diperbaiki oleh
siswa berdasarkan arahan yang diberikan oleh peneliti.
d)
Lembar partisipasi yang ditulis oleh siswa.
e)
Refleksi terhadap materi yang
dipelajari
Alternatif tugas-tugas belajar siswa yang dikembangkan
oleh peneliti yang merupakan isi dalam portofolio matematika adalah:
Tabel 3.1.Alternatif
tugas-tugas belajar siswa yang dikembangkan oleh peneliti yang merupakan isi
dalam portofolio matematika
|
Ide Pengembangan
|
Tugas-tugas Belajar Siswa
|
|
Proses matematisasi (Mathematical process)
|
Tugas kelompok (soal pemahaman dan
soal proyek)
|
|
Topik-topik isi pelajaran (Content topics)
|
Tugas individu (soal komputasi, keterampilan matematika,
dan pemecahan masalah)
|
|
Refleksi (Reflection)
|
Ringkasan penting (Mathematical highlights)
|
Tugas
kelompok bertujuan untuk melihat kemampuan kerjasama siswa dalam proses
pembelajaran serta pemahaman konsep dasar siswa terhadap materi pelajaran.
Tugas individu bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa menerapkan konsep
materi yang telah dipelajari dalam penyelesaian soal. Sedangkan refleksi
bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap topik-topik pembelajaran.
b. Tindakan
Tujuan utama pemberian tindakan dalam
penelitian ini adalah terjadinya perubahan yang mendukung tercapainya perbaikan
kualitas pembelajaran matematika terutama dalam hal hasil belajar siswa melalui
pembelajaran berbasis portofolio. Bentuk-bentuk
tindakan yang dilakukan terdiri atas:
1.
Pengajaran matematika.
2.
Pengembangan
aktivitas-aktivitas siswa dalam belajar.
3. Pemberian tugas-tugas portofolio baik secara individu maupun kelompok.
4. Setiap pertemuan siswa mengisi
lembar partisipasi.
5. Setiap akhir siklus siswa membuat
refleksi terhadap materi yang telah dipelajari secara jelas dan singkat.
6. Tiap pertemuan guru mencatat semua kejadian yang
dianggap penting seperti kehadiran siswa dan keaktifan siswa mengikuti
pelajaran.
7.
Melaksanakan tes hasil belajar
matematika setiap siklus.
c.
Observasi
Observasi selama pemberian tindakan akan
mendokumentasikan pengaruh tindakan yang diberikan selama proses pembelajaran
matematika dan akan memberikan dasar bagi refleksi selama putaran pertama ini.
Sifat observasi yang diterapkan adalah observasi responsive artinya terbuka
pandangan dan pikiran peneliti untuk menangkap data yang tak terduga. Fokus
observasi adalah proses tindakan, pengaruh tindakan, kendala tindakan, dan
persoalan lain yang dapat timbul.
d.
Refleksi Hasil Kegiatan
1. Refleksi dari penelitian berdasarkan hasil yang diperoleh dari:
a) Hasil portofolio.
b) Hasil tes
2. Mendiskusikan hasil refleksi yang telah
dibuat bersama dengan guru mata pelajaran matematika lainnya.
3. Merencanakan perbaikan-perbaikan tindakan
pada siklus tindakan berikutnya.
4. Mengevaluasi tingkat keberhasilan yang
dicapai sesuai dengan tujuan pemberian tindakan.
2.
Siklus Kedua
Siklus kedua penelitian ini
berlangsung 6 kali pertemuan, 5 kali pertemuan digunakan sebagai proses
pembelajaran dan 1 kali pertemuan sebagai tes siklus II Aktivitas-aktivitas yang akan dilaksanakan pada
siklus kedua ini merupakan hasil refleksi dari siklus pertama. Oleh karena itu
langkah-langkah yang dilakukan relatif sama dengan siklus pertama dengan
mengadakan beberapa perbaikan sesuai dengan kenyataan yang telah ditemukan
dilapangan.
a.
Perencanaan
Pada tahap perencanaan
pada putaran kedua, dikembangkan aktivitas:
1. Melanjutkan aktivitas perancangan
(1) sampai dengan (8) pada putaran pertama.
2. Mengatur kembali rumusan
indikator-indikator deskriptif keberhasilan tindakan tentang
kemampuan-kemampuan yang telah dicapai siswa berdasarkan isi dari portofolio
siswa.
3.
Merancang format pemberian
nilai akhir matematika yang mempertimbangkan hasil portofolio, tes hasil
belajar matematika siswa.
b.
Tindakan
Pelaksanaan tindakan yang
dilakukan pada siklus kedua adalah mengulangi kembali tahap-tahap yang
dilakukan pada siklus pertama sambil mengadakan perbaikan atau penyempurnaan
sesuai hasil yang diperoleh pada siklus pertama.
c.
Observasi
Aktivitas observasi pada
putaran kedua mengikuti teknik observasi pada putaran pertama.
d.
Refleksi Hasil Kegiatan
Data yang diperoleh dari hasil
observasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil tersebut peneliti merefleksi
diri dengan melihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Dari hasil analisis tersebut
peneliti dapat membuat evaluasi akhir terhadap seluruh hasil pembelajaran
matematika setelah diterapkan pembelajaran berbasis portofolio.
E. Teknik Pengumpulan Data
1.
Sumber Data
Sumber
data dalam penelitian ini adalah siswa Kelas VIII6 SMP Negeri 1
Watansoppeng yang menjadi subjek penelitian.
2. Jenis Data
Jenis data yang diperoleh dari
sumber data kualitatif dan kuantitatif , yang terdiri dari :
a)
Tes hasil belajar
b)
Isi portofolio siswa
c)
Hasil observasi
3. Cara Pengambilan Data
a) Data tentang hasil belajar diperoleh melalui pemberian tes
ulangan pada setiap akhir siklus.
b) Data tentang kemajuan siswa dalam
proses pembelajaran diperoleh melalui isi portofolio siswa.
c) Data tentang keaktifan siswa dalam
pembelajaran diperoleh melalui observasi.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data pada penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dan kuantitatif deskriptif. Analisis data secara kualitatif akan
berlangsung selama peneliti berada di lokasi penelitian hingga akhir
pengumpulan data.
Analisis data secara kuantitatif akan mendeskripsikan
kategori hasil belajar matematika yang akan dikelompokkan dalam kategori sangat
rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Depdikbud (Bani, 2005):
1)
Nilai 0 – 3,4 dikategorikan
sangat rendah
2)
Nilai 3,5 – 5,4 dikategorikan
rendah
3)
Nilai 5,5 – 6,4 dikategorikan
sedang
4)
Nilai 6,5 – 8,4 dikategorikan
tinggi
5)
Nilai 8,5 – 10 dikategorikan
sangat tinggi
Dari pengkategorian di atas, akan
diperoleh frekuensi dan persentase siswa pada masing-masing kategori yang telah
ditentukan.
G. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam
penelitian tindakan kelas ini adalah bila skor rata-rata hasil belajar
matematika siswa serta hasil portofolio siswa melalui pembelajaran berbasis
portofolio dari subjek penelitian terjadi peningkatan yang nyata, dan terjadi
perubahan sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran, yang ditandai
dengan peningkatan keaktifan siswa dalam hal:
a) Frekuensi kehadiran
b) Bertanya kepada guru
atau teman
c)
Menawarkan ide/menjawab pertanyaan guru atau teman
d)
Membantu teman dalam belajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar