BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
“Aktivitas hidup manusia membutuhkan
matematika”. Demikianlah ungkapan sederhana yang menunjukkan bahwa matematika
memiliki peranan penting dalam kehidupan kita. Pada dasarnya sejak kecil dan
sejak memasuki jenjang pendidikan kita telah belajar dan diajarkan matematika.
Namun rendahnya hasil belajar matematika siswa yang menjadi masalah di setiap
jenjang pendidikan di Indonesia
menunjukkan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sangat sulit dipahami
oleh siswa. Akibatnya pelajaran matematika yang diharapkan dan seharusnya
disenangi para siswa justru menjadi bomerang dan cenderung dihindari siswa pada
umumnya. Padahal untuk mempelajari dan menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
kita membutuhkan matematika.
Sejauh ini kegiatan pembelajaran matematika yang
berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan formal didominasi pandangan bahwa
pengetahuan matematika sebagai seperangkat fakta-fakta yang harus dihapalkan,
kelas berfokus pada guru sebagai sumber pengetahuan. Pembelajaran matematika yang
berorientasi pada target penguasaan materi tersebut, mungkin terbukti berhasil
dalam kompetensi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali siswa untuk
memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Belajar matematika dirasakan
sebagai tekanan dan beban, yang sering terjadi adalah materi yang telah
dipelajari mudah dilupakan dan tidak bermakna bagi siswa. Akibatnya semakin
tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi materi pembelajaran matematika,
semakin sulit pula bagi siswa untuk memahami matematika.
Adanya kesan dan fakta yang demikian itu, seharusnya
membuat kita peka bahwa mungkin saja proses pembelajaran yang cenderung oriented text book kurang tepat
diterapkan untuk pelajaran matematika. Pembelajaran konsep yang cenderung
abstrak akan sulit dipahami siswa. Pola belajar yang cenderung menghapal dan
mekanistik menjadikan pembelajaran kurang bermakna. Guru kurang memperhatikan
kemampuan berpikir siswa sehingga motivasi belajar menjadi sulit ditumbuhkan. Sedangkan
untuk mempelajari matematika, tidak cukup dengan menghapal rumus-rumus yang
diberikan guru. Siswa harus memahami konsep-konsep matematika yang saling
bertalian satu sama lain.
Mencermati hal tersebut di atas, sudah saatnya untuk
diadakan perubahan merancang proses pembelajaran matematika yang lebih
memberdayakan dan mengoptimalkan potensi siswa dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan mengalami, mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri.
Proses pembelajaran matematika membutuhkan inovasi sehingga belajar matematika
menjadi bermakna bagi siswa, menjadi kesenangan bagi siswa yang diikuti
implementasi dalam action-nya ke arah
pencapaian tujuan pembelajaran matematika yang meliputi kemampuan berpikir
kritis, logis, sistematis dan bukan sekedar menerima ilmu yang siap saji. Oleh
karena itu, upaya-upaya guru dalam mengelola dan memberdayakan berbagai
variabel pembelajaran merupakan bagian penting dalam keberhasilan siswa
mencapai tujuan yang direncanakan.
Mengajar berarti memberikan banyak pengalaman belajar kepada
siswa dengan berbagai informasi, fakta, konsep dan teori sebagai materi
pembelajaran. Walaupun saat ini telah banyak tersedia media belajar berupa buku
cetak yang siap digunakan dalam proses pembelajaran. Akan tetapi, bagi
pelajaran matematika guru harus tetap merancang metode penyampaian yang tepat
dalam membelajarkan konsep agar mudah dipahami oleh siswa. Penggunaan metode
yang tepat menyebabkan konsep yang diajarkan akan lebih berkesan dan mantap
dalam ingatan siswa. Menurut Suryosubroto (1997) bahwa dalam proses pendidikan
anak adalah yang utama, bukan mata pelajaran. Guru seharusnya menjadi penunjuk
(guide) bagi anak, bukan merupakan
kamus berjalan bagi anak. Sedangkan tujuan belajar adalah agar apa yang
dipelajari berguna dikemudian hari, yakni membantu kita dapat belajar dan terus
belajar dengan cara yang lebih mudah, penguasaan prinsip-prinsip fundamental
mengembangkan sikap positif terhadap pelajaran, penelitian penemuan, pemecahan
masalah atas kemampuan sendiri. Oleh karena itu tugas guru yang utama bukan
lagi menyampaikan pengetahuan, melainkan memupuk pengertian mereka belajar
sendiri.
Salah satu metode pembelajaran yang dianggap perlu
dikembangkan dan nantinya dapat diterapkan dalam proses pembelajaran adalah
metode penemuan terbimbing. Jerome S. Bruner sangat menganjurkan kemampuan
siswa menemukan sendiri dan yang paling
penting ditemukan adalah struktur disiplin ilmu. Sukar diramalkan pengetahuan
apa yang berguna bagi siswa di masa mendatang. Namun yang terpenting adalah
bagaimana memupuk sikap dan teknik belajar, agar terus belajar sepanjang hayat.
Untuk itu metode penemuan terbimbing hendaknya dapat diterapkan dalam
pembelajaran dan diupayakan untuk melatih siswa sedini mungkin untuk belajar
menemukan sendiri pengetahuannya.
Seperti kebanyakan sekolah pada umumnya, SMP Negeri 15
Makassar juga mengalami hal yang sama bahwa hasil belajar matematika siswa
sangat rendah. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi bahwa ketuntasan
belajar matematika siswa baik perorangan maupun klasikal sangat rendah. Hasil
observasi langsung terhadap proses pembelajaran matematika di kelas VII sekolah
tersebut, tampak bahwa penyampaian materi cenderung dengan pembelajaran tradisional.
Media pembelajaran berupa alat peraga dan sumber belajar tidak digunakan dalam
proses pembelajaran. Buku catatan siswa menjadi satu-satunya media belajar
siswa. Dengan suasana pembelajaran yang demikian, mungkin saja dirasakan mudah
bagi siswa yang berkemampuan tinggi. Akan tetapi, kemampuan setiap siswa dalam
satu kelas berbeda-beda. Sehingga hanya siswa yang tahulah yang tampak aktif
dalam proses pembelajaran. Sebaliknya, siswa yang tidak tahu lebih memilih diam
atau melakukan aktivitas lain di dalam kelas. Guru matematika bukan tidak
menyadari fenomena tersebut. Akan tetapi menurut argumen mereka, kekurangannya
terletak pada tidak adanya buku paket pegangan siswa.
Bertolak dari berbagai masalah tersebut di atas,
peneliti menerapkan metode penemuan terbimbing dalam pembelajaran matematika.
Siswa perlu diajarkan bagaimana membentuk pengetahuan matematika mereka,
bagaimana menemukan konsep dan hubungan di antara konsep-konsep tersebut, dan
yang terpenting adalah bagaimana memupuk sikap positif siswa terhadap pelajaran
matematika. Sehingga walaupun matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap
sulit dan dengan keterbatasan media belajar, tetapi justru dianggap sebagai
tantangan yang harus dipecahkan. Untuk membelajarkan hal tersebut kepada siswa
sedini mungkin, peneliti menerapkan pembelajaran matematika melalui metode
penemuan dan memilih kelas VII SMP Negeri 15 Makassar.
Pendapat siswa bahwa pelajaran matematika identik dengan
rumus-rumus dan letak kesulitan belajar siswa adalah bagaimana menggunakan
berbagai rumus tersebut dengan tepat dan memahami bahasa matematika dalam rumus-rumus
tersebut. Selain itu, pada umumnya siswa tidak memiliki buku paket sebagai
pegangan. Melalui pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing yang
diperkenalkan di sekolah ini untuk kali pertama, pembelajaran dirancang berupa
kegiatan penemuan rumus matematika melalui pengalaman belajar siswa dengan
bantuan alat peraga. Oleh karena itu, peneliti memilih pokok bahasan bangun
segiempat yang berorientasi pada penemuan sifat-sifat, menyimpulkan pengertian
masing-masing bangun segiempat tersebut berdasarkan sifat-sifatnya dan
menemukan rumus keliling dan luas daerah bangun segiempat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
yang telah dipaparkan di atas maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini
adalah:
“Apakah pembelajaran matematika dengan metode penemuan
terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 15
Makassar?”
Hasil belajar matematika yang dimaksud adalah perolehan skor tes
hasil belajar matematika, ketuntasan belajar siswa dan aktivitas belajar siswa
dalam proses pembelajaran. Aktivitas belajar siswa tersebut meliputi: kehadiran
siswa, memberi tanggapan atas pertanyaan guru dan teman, mengajukan pertanyaan,
dapat menemukan sendiri dan membuat kesimpulan.
C. Pemecahan Masalah
Sebagai upaya untuk meningkatkan
hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 15 Makassar, pembelajaran
matematika pokok bahasan bangun segiempat diterapkan dengan menggunakan metode
penemuan terbimbing.
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang
dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil
belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 15 Makassar melalui pembelajaran
dengan metode penemuan terbimbing pada pokok bahasan bangun segiempat.
E. Manfaat Penelitian
1.
Bagi siswa
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar
matematika siswa, memberikan kesan dan menumbuhkembangkan kesadaran siswa
tentang pentingnya aktivitas dalam belajar untuk menemukan sendiri informasi;
fakta; konsep; prinsip; dan teori yang dapat diperoleh melalui penggunaan
metode penemuan terbimbing.
2.
Bagi guru
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kesan bagi guru, menjadi
salah satu alternatif metode pembelajaran matematika yang dapat diterapkan demi
peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar matematika siswa.
3.
Bagi sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam rangka
perbaikan hasil belajar siswa dan peningkatan kualitas pembelajaran matematika
khususnya di sekolah tempat penelitian ini berlangsung.
4.
Bagi peneliti
Penelitian ini merupakan pengalaman berharga yang dapat dijadikan
bekal kelak ketika terjun langsung sebagai pendidik, bagaimana untuk
mengoptimalkan penerapannya di masa yang akan datang. Sebagai bahan referensi
dan perbandingan baik bagi peneliti maupun bagi yang akan mengkaji masalah yang
relevan dengan penelitian ini.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1.
Matematika sekolah
Istilah matematika berasal dari perkataan Yunani,
awalnya dari kata mathema berarti
pengetahuan (knowledge, science).
Secara sederhana matematika dikenal sebagai ilmu menghitung dengan menggunakan
bilangan-bilangan. Namun penerapan matematika banyak digunakan di berbagai
bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Bahkan dikenal ungkapan “matematika
adalah queen of science (ratu ilmu)”.
Ini menunjukkan bahwa matematika selain sebagai ilmu yang berkembang secara
tersendiri, reputasi matematika telah mampu merambah ke bidang lain. Definisi
matematika pun berkembang. Matematika adalah cabang ilmu yang sistematis dan
eksak, pengetahuan mengenai kuantitatif dan ruang. Matematika bagian dari
kehidupan manusia, alat mengembangkan cara berpikir, menolong manusia
menafsirkan berbagai ide dan kesimpulan secara eksak. Akan tetapi yang utama
adalah memahami karakteristik matematika.
Adapun karakteristik matematika adalah sebagai berikut:
a.
Memiliki objek telaah yang
abstrak.
b.
Dijiwai oleh
kesepakatan-kesepakatan.
c.
Berpola pikir deduktif
aksiomatik.
d.
Memiliki simbol yang kosong
dari arti.
e.
Memperhatikan semesta
pembicaraan.
f.
Konsisten dalam sistemnya.
Menurut Elea Tinggih (1972) secara etimologis matematika
adalah suatu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar (Suherman, dkk., 2001).
Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia melalui pengalaman nyata
yang diproses dengan penalaran dalam struktur kognitif. Sehingga objek dasar
yang dipelajari adalah abstrak yang kemudian disusun sebagai suatu pola dan
struktur matematika. Bell (1981) mengemukakan bahwa objek telaah matematika
terdiri atas objek langsung dan objek tak langsung. Objek langsung meliputi
fakta, konsep, operasi dan prinsip. Sedangkan objek tak langsung meliputi
transfer belajar, kemampuan menemukan, pemecahan masalah, disiplin diri dan
apresiasi terhadap struktur matematika (Rahman, 2002). Berkaitan dengan objek
langsung matematika, fakta berupa konvensi yang diungkapkan dengan simbol,
konsep adalah ide abstrak untuk mengklasifikasikan sekumpulan objek, operasi
adalah pengerjaan matematika berupa suatu fungsi yaitu aturan memperoleh elemen
tunggal dari satu atau lebih elemen yang diketahui yang kemudian disebut hasil
operasi, prinsip sebagai objek matematika yang kompleks merupakan hubungan
antara berbagai objek dasar matematika.
Hudoyo (1990) menemukakan bahwa pada hakikatnya landasan
berpikir matematika adalah kesepakatan-kesepakatan. Menurut Soedjadi (2000) bahwa
kesepakatan yang amat mendasar adalah aksioma dan konsep primitif.
Kesepakatan-kesepakatan sebagai bahasa matematika agar konsep-konsep matematika
mudah dipahami dan dimanipulasi. Dan melalui kesepakatan-kesepakatan
memungkinkan berkembang berbagai struktur yang tetap konsisten dalam objek
dasar matematika. Sehubungan dengan objek telaah yang abstrak digunakan
simbol-simbol yang kosong dari arti sehingga memungkinkan intervensi matematika
di berbagai bidang. Matematika memperhatikan semesta pembicaraan menunjukkan
bahwa dalam menggunakan matematika diperlukan kejelasan dalam lingkup apa
simbol tersebut digunakan.
Matematika dikenal dengan pola pikir deduktif
aksiomatik. Gie (1993) mengemukakan bahwa penyimpulan secara deduktif adalah
suatu tata alur yang menurunkan suatu kesimpulan secara runtun dari aksioma
atau konsep primitif yang diketahui atau ditetapkan (Suherman, dkk., 2001).
Jadi meskipun dalam mencari kebenaran dimulai dengan cara induktif, tetapi
generalisasi harus dibuktikan secara deduktif.
Demikian pentingnya peranan matematika sehingga penting
untuk diajarkan sejak usia dini. Akan tetapi, mencermati karakteristik
matematika tersebut di atas nampak jelas bahwa matematika akan sulit dicerna
oleh peserta didik dengan kemampuan dan pemikirannya yang masih terbatas. Oleh
Karena itu, matematika yang diajarkan hanya bagian dari matematika sebagai ilmu
yang berorientasi pada tujuan pendidikan matematika yang kemudian dikenal
dengan matematika sekolah. Matematika sekolah yaitu matematika yang diajarkan di
jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Penyajian matematika sekolah
dimulai dari yang sifatnya sederhana, terbatas dan konkrit. Bahkan proses
pembelajarannya dapat menggunakan pola pikir induktif sesuai dengan tahap
perkembangan intelektual siswa. Matematika sekolah baik dalam hal penyajian
maupun materinya harus dapat memenuhi kebutuhan siswa. Sebagaimana tujuan umum
matematika sekolah yang dikemukakan Soedjadi (2000) antara lain mempersiapkan
siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan dalam kehidupan dan dunia yang
selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis,
rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien serta mempersiapkan siswa
agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan
sehari-hari dan dalam mempelajari Ilmu Pengetahuan.
2.
Pembelajaran matematika
Proses pembelajaran merupakan inti dari proses
pendidikan di sekolah dengan melibatkan guru dan siswa yang melakukan aktivitas
belajar dan mengajar. Menurut Hamalik (1994) pembelajaran adalah suatu
kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas,
perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Heinich, dkk., (1996) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan susunan
dari informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi belajar (Suherman, dkk.,
2001). Berdasarkan pengertian pembelajaran tersebut dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran matematika sebagai suatu proses dimana terjadi interaksi dan
organisasi untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika. Interaksi dalam
pembelajaran matematika meliputi interaksi pedagogik antara siswa dan guru
yaitu belajar dan mengajar. Menurut Gelder (1991) belajar adalah proses orang
memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap (Haling, 2004). Sedangkan
mengajar sebagai upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik (Hamalik,
1994). Dan menurut Usman (2003) Proses belajar merupakan suatu proses yang
mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbalbalik
yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.
Organisasi dalam pembelajaran matematika meliputi
rencana dan penataan komponen-komponen yang merupakan unsur-unsur sistem
pembelajaran. Sedangkan tujuan utama pembelajaran adalah mengupayakan agar
siswa belajar. Hal tersebut menunjukkan bahwa peran guru sangat penting dalam
interaksi dan organisasi untuk menciptakan iklim pembelajaran yang efektif.
Upaya guru dalam mengelola dan memberdayakan berbagai variabel pembelajaran
merupakan bagian penting dalam keberhasilan siswa mencapai tujuan yang
direncanakan. Oleh karena itu, pemilihan strategi, model, pendekatan dan metode
pembelajaran yang tepat adalah sangat penting. Memilih strategi dapat pula
berarti mengatur siasat dalam kaitannya dengan pembelajaran yang sengaja
direncanakan sebelum melaksanakan pembelajaran. Model pembelajaran dimaksudkan
sebagai pola interaksi siswa dengan guru
yang terkait dengan strategi, pendekatan, metode yang diterapkan dalam proses
pembelajaran matematika Pendekatan terkait dengan cara yang ditempuh guru agar
konsep yang disajikan dapat diadaptasikan dengan siswa. Sedangkan metode
terkait dengan cara-cara menyajikan materi ajar.
Proses pembelajaran diharapkan senantiasa melibatkan
siswa aktif dalam belajar baik secara mental, fisik maupun sosial. Strategi
pembelajaran sebelum melaksanakan pembelajaran meliputi penyusunan rencana
pembelajaran, mempersiapkan media pembelajaran, perangkat pembelajaran dan
instrumen penilaian.
Salah satu model pembelajaran matematika adalah model
pembelajaran langsung. Model pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran
yang dirancang agar siswa dapat mengembangkan belajarnya, memperoleh informasi
dan pengetahuan yang diajarkan secara terstruktur. Model pembelajaran langsung
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.
Adanya tujuan pembelajaran dan
pengaruh model pada siswa.
Tujuan pembelajaran dikemukakan secara spesifik termasuk
mengemukakan tingkat ketercapaian kinerja yang diharapkan dari siswa.
b.
Sintaks pembelajaran
Pada model pembelajaran langsung terdapat 5 fase yang
sangat penting, yaitu:
1).
Menyampaikan tujuan dan
menyiapkan siswa.
Pembelajaran matematika diawali dengan menjelaskan
tujuan pembelajaran dan menyiapkan siswa belajar, menarik perhatian siswa agar
terfokus pada pokok pembicaraan dan diharapkan siswa mampu membuat hubungan
antara suatu pelajaran tertentu dan relevansinya terhadap kehidupan nyata.
2).
Presentasi dan demonstrasi.
Fase kedua ini meliputi pemberian informasi secara jelas
dan spesifik diikuti langkah-langkah demonstrasi yang efektif. Dengan
menyampaikan informasi tahap demi tahap, demonstrasi akan berlangsung terarah
dan tetap terfokus pada tujuan pembelajaran.
3).
Menyediakan latihan terbimbing.
Setelah siswa memperoleh informasi dan demonstrasi, fase
berikutnya adalah guru mempersiapkan dan melaksanakan pelatihan terbimbing. Diupayakan
memberikan latihan dengan melibatkan siswa secara aktif sampai siswa menguasai
konsep yang dipelajarinya namun tetap memperoleh bimbingan guru secara tepat
agar pembelajaran tetap berlangsung efektif. Melalui latihan terbimbing siswa
diharapkan mampu menerapkan konsep dan keterampilan pada situasi yang baru.
4).
Mengecek pemahaman dan
memberikan umpanbalik.
Fase yang keempat dalam model pembelajaran langsung ini
ditandai dengan guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk mengecek
pemahaman siswa, kemudian siswa memberikan jawaban menurut pendapat mereka dan
guru merespon jawaban siswa tersebut. Hal ini dapat dilakukan baik secara lisan
maupun tertulis. Dengan mengecek pemahaman siswa dan memberikan umpanbalik,
diharapkan siswa dapat memperbaiki kekurangan atau kesalahannya dan dapat
menguasai suatu keterampilan dengan mantap. Di sisi lain guru memperoleh
gambaran tentang hasil belajar siswa yang dapat dijadikan sebagai refleksi bagi
guru untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya.
5).
Memberikan kesempatan untuk
pelatihan lanjutan dan penerapan.
Fase ini sebagai tahap akhir dalam model pembelajaran
langsung. Informasi, pengetahuan dan keterampilan yang baru saja diperoleh
perlu segera mungkin diaplikasikan sebagai tindak lanjut agar pembelajaran
dapat lebih bermakna. Untuk itu, fase ini memberikan kesempatan kepada siswa
secara mandiri menerapkan keterampilan yang baru bahkan dalam situasi baru yang
lebih kompleks atau kehidupan nyata. Latihan mandiri dapat berupa tugas, tes dan
atau pekerjaan rumah.
c.
Lingkungan belajar dan sistem
pengelolaan.
Merencanakan dan mengelola waktu dan lingkungan belajar
merupakan kegiatan yang sangat penting dalam pembelajaran. Oleh karena itu,
guru harus memastikan bahwa waktu yang disediakan sepadan dengan bakat dan
kemampuan siswa serta mengupayakan pengelolaan kelas yang baik agar siswa tetap
melakukan tugas-tugasnya dengan perhatian yang optimal. Melalui perencanaan
belajar dan sistem pengelolaan yang baik, lebih mudah untuk mencapai tujuan
pembelajaran secara efektif dan efisien.
Salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang perlu
dikembangkan adalah pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL). Melalui Contextual
Teaching and Learning dapat membantu siswa dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, membuat hubungan antara
pengetahuannya dengan penerapanya dalam kehidupan nyata sehingga pembelajaran
matematika dapat lebih bermakna. Selain itu proses pembelajaran memerlukan
adanya metode penyampaian bahan ajar yang harus dikuasai guru agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai. Metode yang digunakan memungkinkan siswa dapat
terlibat secara aktif agar terjadi interaksi semua unsur pembelajaran.
3.
Metode penemuan terbimbing
Agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik, guru
hendaknya menguasai berbagai metode pembelajaran. Menurut Hudoyo (2005):
Metode
mengajar adalah suatu cara atau teknik mengajar topik-topik tertentu yang
disusun secara teratur dan logik yang di dalamnya termuat interaksi antara guru
dengan siswa dan interaksi antara siswa dengan materi yang dipelajarinya.
Salah satu metode pembelajaran
matematika adalah metode penemuan terbimbing. Sebelum membahas metode penemuan
terbimbing terlebih dahulu kita tinjau metode penemuan. Penemuan oleh Maier
(1995) disebut sebagai ‘heuristik’ apa yang hendak ditemukan, proses
semata-mata ditentukan oleh siswa sendiri (Widdiharto, 2003). Bruner (1960)
mengusulkan teorinya yang disebut “free
discovery learning”. Menurut teori ini proses belajar berjalan dengan baik
dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu
aturan (konsep, teori, definisi dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang
menggambarkan aturan yang menjadi sumbernya (Atmowidjoyo, 2000). Dengan kata
lain, Bruner menyarankan keaktifan siswa dalam proses belajarnya.
Metode penemuan dalam pembelajaran matematika (Hudoyo, 2005)
merupakan cara penyampaian topik-topik matematika tertentu yang memungkinkan
suatu proses belajar dimana siswa menemukan sendiri pola-pola atau
struktur-struktur matematika melalui serentetan pengalaman-pengalaman belajar
yang lampau. Melalui metode penemuan siswa diharapkan dapat menemukan sendiri
hal-hal baru baginya berupa konsep, dalil, teorema, rumus, aturan, pola dan
sebagainya. Sehingga keterangan-keterangan yang harus dipelajari tidak
disajikan dalam bentuk akhir tetapi siswa diwajibkan melakukan aktivitas mental
sebelum keterangan yang disajikan itu dapat dipahami. Dengan demikian
pembelajaran menjadi bermakna karena siswa tidak hanya belajar untuk mengetahui
sesuatu tetapi juga belajar melakukan, belajar menjiwai, belajar bagaimana
seharusnya belajar dan memungkinkan siswa belajar bersosialisasi dengan guru
ataupun dengan teman-temannya.
Beberapa keunggulan yang dapat dimiliki siswa yang
memperoleh pembelajaran dengan metode penemuan, antara lain:
a.
Siswa aktif dalam kegiatan
belajarnya sebab metode penemuan dapat memicu keingintahuan siswa, memotivasi
mereka untuk berpikir menggunakan kemampuan untuk memperoleh hasil akhir.
b.
Siswa dapat memahami betul
materi yang dipelajarinya (tingkat penguasaan tinggi), sebab ia mengalami
sendiri proses menemukannya. Juga memungkinkan materi tersebut dapat diingat
lebih lama dan mudah mengingatnya kembali jika ia lupa.
c.
Sesuatu yang ditemukan sendiri menimbulkan
kepuasan tersendiri dan memungkinkan timbulnya semangat ingin tahu lebih
lanjut.
d.
Melatih siswa untuk banyak
belajar sendiri dan meningkatkan minat belajarnya sehingga memungkinkan
timbulnya sikap ilmiah melakukan penemuan-penemuan.
e.
Siswa lebih mudah mentransfer
pengetahuan ke berbagai konteks atau kepada orang lain dan dapat mendukung
kemampuan memecahkan masalah siswa (Widdiharto, 2005).
Di samping keunggulannya, metode penemuan memiliki
beberapa kelemahan antara lain:
a.
Metode ini memerlukan banyak waktu
sehingga proses pembelajaran berjalan dengan lambat, apalagi untuk
materi-materi tertentu.
b.
Umumnya siswa cenderung
tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan. Tidak semua siswa dapat mengikuti
pelajaran dengan cara ini dan tidak menjamin bahwa selama proses pembelajaran
siswa akan tetap bersemangat menemukan sendiri.
c.
Tidak semua topik cocok
disampaikan dengan metode penemuan (Widdiharto, 2005).
Berangkat dari kelemahan-kelemahan itulah sehingga
muncul metode penemuan terbimbing. Metode penemuan yang ekstrim tidak mungkin
dilaksanakan, karena pada umumnya sebagian besar siswa masih butuh pemahaman
konsep dasar untuk dapat menemukan sesuatu. Siswa pada dasarnya bukan penemu
tetapi sebagai calon penemu. Oleh karena itu, siswa masih memerlukan bimbingan
dan pertolongan guru mengembangkan kemampuannya untuk memahami pengetahuan
baru. Walaupun sebenarnya siswa harus mengatasi kesulitannya sendiri tetapi petunjuk
dari guru sangat perlu diberikan ketika siswa tidak menunjukkan kemampuan.
Metode penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai
fasilitator yang senantiasa membimbing siswa dimana ia dibutuhkan dan juga
bertindak sebagai pengawas dan penunjuk jalan. Siswa didorong untuk berpikir
sendiri, menganalisis sendiri, memiliki pengalaman dan melakukan percobaan
sehingga dapat menemukan prinsip-prinsip berdasarkan bahan atau data yang telah
disediakan oleh guru. Dengan metode penemuan terbimbing siswa dihadapkan pada
situasi dimana ia bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Terkaan, intuisi
dan mencoba-coba (trial and error) sangat
dianjurkan dalam pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing. Guru membantu
siswa agar mempergunakan ide, konsep, keterampilan yang telah mereka pelajari
sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan yang baru atau dengan kata lain siswa
dibimbing secara induktif (Sudana, 1989) untuk memahami suatu kebenaran umum.
Adapun langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan
metode penemuan terbimbing, sebagai berikut:
a.
Merumuskan masalah yang
diberikan kepada siswa dengan data secukupnya.
b.
Dari data yang diberikan guru
siswa mengamati dan melakukan observasi, kemudian menyusun, mengorganisir dan
menganalisis data tersebut.
c.
Siswa menyusun konjektur
(prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukan.
d.
Setelah diperoleh kepastian
tentang kebenaran konjektur tersebut, verbalisasi konjektur diserahkan kepada
siswa untuk menyusunnya. Perlu diingat bahwa induksi tidak menjamin 100 persen kebenaran
konjektur (Widdiharto, 2005).
Melalui pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing,
guru bukan menyelesaikan masalah bagi siswa, melainkan menyajikan masalah dan
mengantarkan siswa menyelesaikan masalah. Bantuan guru hanya pada bagian-bagian
yang diperlukan sehingga memungkinkan pembelajaran berlangsung seefektif
mungkin dan tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal baik oleh guru
maupun siswa. Oleh sebab itu merencanakan pembelajaran dengan metode penemuan
terbimbing, guru hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
a.
Perencanaan kegiatan awal perlu
memperhatikan kebutuhan dan minat siswa terhadap prinsip-prinsip, generalisasi,
pengertian dan hubungannya dengan apa yang dipelajari.
b.
Mengatur setting pembelajaran sedemikian rupa sehingga memudahkan
terlibatnya arus bebas berpikir siswa, interaksi antar siswa dengan guru dan
siswa dengan siswa.
c.
Perumusan dengan data secukupnya
harus jelas, hindari pertanyaan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah
yang ditempuh siswa tidak salah. Selain itu penggunaan alat peraga, gambar atau
demonstrasi juga perlu.
d.
Memberikan kesempatan siswa
bekerja dengan data, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja
sebab bimbingan yang terlampau berlebihan akan mematikan inisiatif siswa.
e.
Bimbingan guru sebaiknya
mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju. Bersikap membantu
jawaban, pandangan dan tafsiran siswa yang berbeda-beda untuk menarik
kesimpulan yang benar.
f.
Mengajukan
pertanyaan-pertanyaan baik tingkat tinggi maupun tingkat sederhana.
g.
Memberikan penguatan dan memuji
siswa yang sedang bergiat dalam proses penemuan.
h.
Hasil (bentuk akhir) ditemukan
sendiri oleh siswa.
i.
Setelah siswa menemukan apa
yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk
memeriksa hasil temuan siswanya.
Pada kenyataannya bahwa ilmu
pengetahuan diperoleh melalui penemuan sehingga diharapkan siswa secara aktif
terlibat dalam proses penemuan lalu kemudian terbiasa dengan proses penemuan.
Sebab siswa adalah calon penemu dan setiap siswa adalah manusia yang kreatif.
Metode penemuan dapat meningkatkan kreativitas siswa dan kemampuan memecahkan
masalah. Seperti yang diketahui bahwa matematika menggunakan konsep yang
abstrak sehingga diharapkan dapat lebih melekat bila diajarkan dengan metode
penemuan terbimbing. Dengan demikian metode penemuan terbimbing perlu
diterapkan dalam proses pembelajaran matematika.
4.
Hasil belajar matematika
Hasil sebagai bentuk akhir dalam suatu aktivitas. Sama
halnya dalam proses pembelajaran hasil belajar merupakan salah satu unsur
penting sebagai bentuk akhir setelah siswa mengalami aktivitas belajarnya.
Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan
perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Segala
perencanaan pembelajaran dipersiapkan untuk membuat prosedur pembelajaran yang
efektif dan berorientasi pada pencapaian hasil belajar yang optimal. Hasil
belajar bermanfaat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dan
sebagai umpanbalik untuk memperbaiki proses pembelajaran. Untuk mengukur
berhasil tidaknya suatu pembelajaran diperlukan adanya penilaian terhadap hasil
belajar. Penilaian adalah kegiatan membandingkan hasil pengukuran (skor) sifat
suatu objek dengan acuan yang relevan sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu
kualitas yang kuantitatif. Jadi penilaian hasil belajar pada hakikatnya adalah
penilaian terhadap perubahan tingkah laku siswa setelah mengikuti proses
belajar.
Untuk dapat melakukan penilaian hasil belajar yang
dicapai siswa dalam suatu bidang studi tertentu diperlukan alat sebagai
instrumen dan metode mengukur keberhasilan belajar siswa. Nurkancana (1983)
berpendapat bahwa ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengetahui
kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar yang
mereka lakukan yaitu metode tes dan metode observasi. Untuk metode tes,
digunakan alat berupa tes hasil belajar dan untuk metode observasi diperlukan
adanya lembar dan pedoman observasi. Tes adalah suatu alat penilaian berupa
serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara sengaja dalam suatu situasi
yang distandardisasikan dengan maksud untuk menilai kemampuan dan hasil belajar
individu atau kelompok. Sedangkan observasi adalah suatu cara untuk mengadakan
penilaian dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung dan sistematis.
Berdasarkan pengertian hasil belajar yang dikemukakan
sebelumnya dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah hasil yang
dicapai oleh seorang siswa setelah mengikuti proses pembelajaran matematika
dalam kurun waktu tertentu yang dapat diketahui dengan memberikan tes hasil
belajar sebagai alat penilaian. Adapun hasil belajar matematika yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika setelah diberikan tindakan
metode penemuan terbimbing pada siswa. Hasil belajar siswa diamati dengan
menggunakan lembar observasi selama proses pembelajaran dengan metode penemuan
terbimbing dan diharapkan adanya perubahan tingkah laku sebagai tujuan
pembelajaran matematika.
Salah satu penilaian terhadap skor tes hasil belajar
matematika siswa adalah dengan menentukan daya serap siswa terhadap materi yang
telah diajarkan. Menentukan daya serap siswa sangat berguna sebagai balikan
untuk memperbaiki proses pembelajaran berikutnya dan kemudian menjadi acuan untuk
menentukan dan mengetahui ketuntasan belajar siswa terhadap materi yang telah
diajarkan. Jadi daya serap siswa diartikan sebagai persentase penguasaan siswa
terhadap materi yang telah dipelajarinya. Setelah menentukan daya serap siswa,
ditentukan pula ketuntasan belajar siswa baik perorangan maupun klasikal
berdasarkan pencapaian daya serap siswa terhadap materi. Adapun kriteria
ketuntasan belajar siswa menurut Usman (2003) adalah sebagai berikut:
Seorang siswa dikatakan tuntas belajar untuk program
satuan pelajaran, bila daya serap yang diperoleh minimal 65 persen sedangkan
ketuntasan belajar klasikal adalah apabila 85 persen jumlah siswa telah
mencapai daya serap sekurang-kurangnya 65 persen.
B. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan tinjauan pustaka yang
dikemukakan di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah:
“Jika pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode
penemuan terbimbing, maka hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri
15 Makassar dapat ditingkatkan.”
BAB III
METODE
PENELITIAN
A. Setting Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Lokasi penelitian bertempat di SMP Negeri 15 Makassar
yang berada di sebelah barat kota
Makassar, Jl. Permandian Alam Barombong.
Adapun subjek penelitian adalah siswa kelas VIIA SMP Negeri 15
Makassar pada semester genap tahun ajaran 2005/2006. Jumlah siswa kelas VIIA
sebanyak 33 orang. Pemberian tindakan ini dilaksanakan pada proses pembelajaran
pokok bahasan bangun segiempat.
B. Faktor yang Diteliti
Adapun faktor-faktor yang diteliti untuk
menjawab permasalahan tersebut di atas terkait dengan siswa sebagai subjek
belajar meliputi aktivitas belajar siswa dan skor tes hasil belajar siswa.
Faktor aktivitas belajar siswa meliputi kehadiran siswa, siswa yang memberikan
tanggapan atas pertanyaan guru, siswa
yang memberikan tanggapan atas pertanyaan teman, siswa yang mengajukan
pertanyaan, siswa yang masih memerlukan bimbingan dan siswa yang dapat menarik
kesimpulan. Sedangkan faktor skor tes hasil belajar siswa melalui tes hasil
belajar yang diberikan pada akhir Siklus I dan Siklus II meliputi daya serap
siswa terhadap materi dan ketuntasan belajar siswa serta ketuntasan belajar
klasikal.
C. Rencana Tindakan
Prosedur Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) ini terdiri atas 2 siklus. Siklus I dilaksanakan dengan 5 kali pertemuan
dan Siklus II dilaksanakan dengan 4 kali pertemuan. Setiap siklus dilaksanakan
sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Sehingga desain penelitian tindakan
kelas ini mengikuti model Kemmis dan Taggart yang meliputi perencanaan,
tindakan dan pengamatan, serta refleksi.
Untuk dapat menyusun perencanaan tindakan maka dilakukan
observasi awal. Observasi awal juga dimaksudkan untuk memastikan apakah guru
matematika kelas VIIA SMP Negeri 15 Makassar berkompeten dan dapat
diajak berkolaborasi dalam penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan selama 2
bulan yang dimulai pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2006.
1.
Observasi/pengamatan awal
Sebelum melaksanakan pemberian tindakan pada penelitian
ini, terlebih dahulu Peneliti melakukan observasi awal. Adapun kegiatan selama
observasi awal tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Menelaah kurikulum matematika
kelas VII SMP Negeri 15 Makassar untuk semester genap.
b.
Mengadakan wawancara dengan
pihak sekolah mengenai keadaan siswa dan proses pembelajaran di SMP Negeri 15 Makassar.
c.
Mengadakan wawancara dengan
guru matematika mengenai keadaan siswa kelas VII SMP Negeri 15 Makassar dan
proses pembelajarannya.
d.
Melakukan pengamatan terhadap
proses pembelajaran matematika di kelas VIIA SMP Negeri 15 Makassar.
e.
Menyusun perencanaan dan
rancangan pemberian tindakan.
f.
Konsultasi dengan guru
matematika kelas VIIA SMP
Negeri 15 Makassar mengenai perencanaan tindakan dan pemilihan subjek
penelitian.
2.
Perencanaan tindakan
Sebelum pelaksanaan tindakan pada Siklus I, dibuat
perencanaan tindakan. Adapun tahap-tahap perencanaan tindakan tersebut adalah
sebagai berikut:
a.
Membuat kisi-kisi materi dan
instrumen penelitian.
b.
Membuat perangkat pembelajaran
berupa Rencana Pembelajaran (RP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS).
c.
Membuat lembar observasi siswa
dan lembar tanggapan siswa.
d.
Menyiapkan alat dan bahan serta
alat peraga yang diperlukan sebagai media pembelajaran.
e.
Mengkonsultasikan kisi-kisi,
instrumen, perangkat pembelajaran, lembar observasi kepada dosen pembimbing dan
divalidasi. Kemudian kisi-kisi, instrumen, perangkat pembelajaran, lembar
observasi dikonfirmasikan kepada guru matematika kelas VIIA SMP
Negeri 15 Makassar.
Sedangkan perencanaan tindakan
sebelum melaksanakan Siklus II berupa revisi perencanaan tindakan berdasarkan hasil
observasi, skor tes hasil belajar siswa dan hasil refleksi yang diperoleh pada Siklus
I.
3.
Pelaksanaan tindakan dan pengamatan
Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah
sebagai berikut:
a.
Melaksanakan skenario
pembelajaran sesuai rencana pembelajaran yang telah dibuat pada tahap
perencanaan.
b.
Melakukan pengamatan selama
proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi siswa.
c.
Siswa mengerjakan LKS dan tugas.
4.
Refleksi
Refleksi dilakukan baik di setiap akhir pertemuan pada Siklus
I dan Siklus II maupun setelah pemberian tes hasil belajar Siklus I dan Siklus
II. Refleksi di setiap akhir pertemuan pada Siklus I dan Siklus II dilaksanakan
berdasarkan hasil observasi. Sedangkan refleksi setelah pemberian tes hasil
belajar Siklus I dan Siklus II dilaksanakan berdasarkan perolehan skor tes
hasil belajar matematika siswa. Analisis hasil observasi dan evaluasi juga
dilaksanakan dalam tahap ini. Dari hasil yang diperoleh dilakukan refleksi diri
atas kekurangan-kekurangan yang terjadi pada setiap pertemuan. Kekurangan baik
dari proses pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing maupun
kelemahan-kelamahan yang dialami siswa, berusaha diminimalkan pada pertemuan
berikutnya. Kekurangan-kekurangan pada Siklus I juga digunakan sebagai acuan
untuk merevisi perencanaan tindakan pada
Siklus II. Bentuk refleksi pada Siklus II antara lain dengan mengamati
perubahan-perubahan yang terjadi pada Siklus I dan apakah dengan pemberian
tindakan, proses pembelajaran mengalami kemajuan serta dapat meningkatkan hasil
belajar matematika siswa kelas VIIA SMP Negeri 15 Makassar.
D. Data dan Teknik
Pengumpulannya
1.
Sumber data: berasal dari siswa.
2.
Jenis data: data yang diperoleh berupa
data kuantitatif dari tes hasil belajar dan data kualitatif dari lembar
observasi.
3.
Teknik pengumpulan data:
a.
Data hasil belajar diperoleh
dengan memberikan tes hasil belajar kepada siswa.
b.
Data mengenai aktivitas belajar
siswa diperoleh melalui lembar observasi pada saat pemberian tindakan.
c.
Data mengenai tanggapan siswa
pada proses pembelajaran diperoleh melalui lembar tanggapan siswa.
E. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan
statistik deskriptif. Data hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa dan
hasil tanggapan siswa menggunakan analisis kualitatif. Sedangkan data hasil
belajar matematika menggunakan analisis kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan
bantuan komputer program SPSS For Windows
11,0 dan Mikrosoft Exel.
Adapun metode penilaian hasil belajar matematika adalah
sebagai berikut:
Untuk menentukan daya serap siswa terhadap materi yang
diajarkan pada saat pemberian tindakan didasarkan pada perolehan skor tes hasil
belajar matematika setiap siswa pada setiap siklus.
Sedangkan untuk menentukan ketuntasan belajar siswa,
berdasarkan pada daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan pada setiap
siklus. Secara perorangan siswa dikatakan tuntas belajar apabila daya serap
siswa mencapai minimal 65 persen. Dari ketuntasan belajar yang diperoleh setiap
siswa, ketuntasan belajar klasikal dikatakan tercapai apabila dari 33 siswa
kelas VIIA minimal sebanyak 85 persen siswa mencapai ketuntasan
belajar secara perorangan. Adapun kategorisasi ketuntasan belajar siswa yang
terdiri dari kriteria tuntas dan tidak tuntas dapat dilihat pada tabel 1 sebagai
berikut:
Tabel 1 Kategorisasi Ketuntasan Belajar Siswa
|
Daya Serap Siswa
|
Kategori Ketuntasan Belajar
|
|
|
0%
- 64%
|
Tidak
tuntas
|
|
|
65%
- 100%
|
Tuntas
|
F. Indikator Kinerja
Indikator kinerja yang menunjukkan
keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah jika terjadi peningkatan
rata-rata skor hasil belajar matematika pada Siklus II, dan peningkatan
ketuntasan belajar klasikal yaitu 85 persen jumlah siswa yang mencapai
ketuntasan belajar perorangan. Terjadi peningkatan jumlah siswa yang melakukan
aktivitas belajar.