Sabtu, 06 Februari 2016

skripsi: Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik pada Siswa Kelas VII MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng



 BAB I
PENDAHULUAN
A.           LATAR BELAKANG MASALAH
Proses pendidikan dapat terjadi dalam lingkungan sosial yang merupakan ruang lingkup kehidupan manusia. Secara garis besar proses pendidikan dapat terjadi dalam tiga lingkungan pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Berdasarkan pada tiga lingkungan diatas maka dapat dibedakan menjadi pendidikan keluarga (pendidikan informal), pendidikan sekolah (pendidikan formal) dan pendidikan masyararakat (pendidikan non formal).
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal, secara sistematis telah merencanakan bermacam lingkungan, yaitu lingkungan pendidikan yang menyediakan kesempatan bagi siswa untuk melakukan pembelajaran sehingga para siswa memperoleh pengalaman pendidikan yang akan mendorong pertumbuhan dan perkembangan kearah suatu tujuan yang dicita-citakan. Lingkungan tersebut disusun dalam bentuk kurikulum dan metode pengajaran.
Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan umum dari sistem pendidikan nasional. Tujuan ini merupakan tujuan jangka panjang yang sangat luas dan menjadi pedoman dari semua kegiatan atau usaha pendidikan dinegara kita. Tujuan ini kemudian dijadikan landasan dalam menentukan tujuan sekolah dan tujuan kurikulum sekolah, tujuan pendidikan formal dan non formal. Dengan kata lain tujuan pendidikan nasional menjadi pedoman dari seluruh kegiatan dan lembaga pendidikan dinegara kita.
Dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mata pelajaran matematika menurut Permendiknas No. 23 Tahun 2006 telah disebutkan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama (Depdiknas, 2006).
Dalam konteks pendidikan, matematika diajarkan pada dasarnya bertujuan untuk  membantu melatih pola pikir siswa agar dapat memecahkan masalah dengan kritis, logis, cermat dan tepat. Disamping itu agar siswa terbentuk kepribadiannya serta terampil menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Matematika juga berkenaan dengan ide atau konsep yang abstrak yang diberi simbol-simbol tertentu secara hirearki, artinya matematika merupakan pembelajaran yang selalu berkaitan dan berkesinambungan menurut urutan tertentu.
Pembelajaran pada dasarnya adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam situasi pendidikan. Pembelajaran merupakan suatu proses yang rumit karena bukan sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi juga melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilaksanakan terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik.
Dalam proses pembelajaran guru matematika seharusnya mengerti bagaimana memberikan stimulus sehingga siswa menyukai belajar matematika dan lebih memahami materi yang diberikan oleh guru, serta mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses pembelajaran. Salah satu kegiatan pembelajaran yang menekankan berbagai kegiatan dan tindakan adalah menggunakan pendekatan tertentu. Pendekatan dalam pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu upaya dalam mengembalikan dan meningkatkan aktivitas belajar yang dilakukan oleh guru dan siswa. Pendekatan belajar (Approach to learn) termasuk faktor yang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Pendekatan dalam pembelajaran pada dasarnya adalah melakukan proses pembelajaran yang menekankan pentingnya belajar melalui proses mengajar untuk memperoleh pemahaman.
Hal lain yang berperan dalam proses pembelajaran, adalah cara guru mengajar atau menyampaikan pelajaran. Penyampaian guru yang cenderung bersifat monoton, hampir tanpa variasi kreatif, ternyata sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Hampir sebagian besar siswa takut dengan pelajaran matematika karena matematika dianggap sebagai momok, hal inilah yang dialami oleh siswa kelas VII MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng. Seandainya siswa ditanya tentang matematika ada saja alasan yang mereka kemukakan seperti matematika sulit dan membosankan. Sehingga siswa kurang suka terhadap pelajaran matematika dan menyebabkan siswa malas untuk belajar matematika.
Hal ini mengakibatkan rata-rata hasil belajar siswa masih sangat rendah, selain itu salah satu sebab kurang memuaskannya penguasaan bahan ajar para siswa terhadap matematika adalah disebabkan oleh model dan pendekatan yang digunakan kurang tepat dan efektif. Sehingga nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada pelajaran matematika disekolah tersebut adalah 60,00. Ini menunjukkan bahwa hasil belajar matematika disekolah tersebut belum maksimal.
 Hasil empiris di atas jelas merupakan suatu permasalahan yang merupakan faktor penting dalam mewujudkan tujuan pembelajaran matematika sesuai yang diamanatkan dalam kurikulum pendidikan matematika. Sehingga Untuk mengatasi permasalahan di atas perlu dicari suatu pendekatan yang dapat mendukung proses pembelajaran matematika yang menyenangkan dan bukan menyeramkan sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis sekaligus mempermudah pemahaman siswa dalam belajar matematika. Salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang saat ini sedang dalam uji coba adalah pendekatan matematika realistik.
Menurut Suherman (2001:7), pendekatan (approach) pembelajaran matematika adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Salah satu pendekatan yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari dan menerapkan matematika dalam pengalaman sehari-hari adalah pendekatan matematika realistik.
Pendekatan Matematika Realistik sebagai suatu pendekatan baru dalam pembelajaran matematika memang memberikan banyak harapan kepada dunia pendidikan matematika. Munculnya Pendekatan Matematika Realistik ini diharapkan akan dapat memberikan jalan keluar terhadap berbagai permasalahan yang selama ini muncul dalam praktek pembelajaran matematika disekolah  dan dalam pendidikan matematika pada umumnya.
Upaya untuk meningkatkan hasil belajar itu tidaklah mudah untuk dicapai secara maksimal karena banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar itu sendiri. Perbaikan dan penyempurnaan ini meliputi perbaikan pada sistem pendidikan ataupun dalam hal yang langsung berkaitan dengan praktik pembelajaran, misalnya dalam penggunaan metode mengajar.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, penulis mencoba untuk menerapkan satu pendekatan baru yang lebih mengarahkan siswa ke dunia nyata yaitu satu pendekatan yang disebut dengan pendekatan matematika realistik karena pendekatan ini lebih memfokuskan pada kehidupan riil siswa yang membentuk lingkungan belajar yang kondusif karena siswa adalah salah satu faktor pendukung berjalannya kegiatan belajar mengajar (KBM) dan penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik pada Siswa Kelas VII MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng”.
B.            RUMUSAN MASALAH PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang serta identifikasi masalah diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : apakah hasil belajar matematika dapat ditingkatkan melalui penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik pada siswa kelas VII MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng ?
C.           TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatan hasil belajar matematika melalui penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik pada siswa kelas VII MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng.
D.           MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini tentunya memiliki manfaat. Adapun manfaat yang akan diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.             Bagi Siswa
Pelaksanaan penelitian ini akan dapat membuat siswa lebih berperan aktif dan lebih terampil dalam belajar serta dapat merangsang belajar matematika, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan dalam upaya mengembangkan pengetahuan.

2.             Bagi Guru
Dapat dijadikan sebagai alternatif untuk memilih/menyiapkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan yang diharapkan serta untuk menumbuh kembangkan pola pikir siswa khususnya mata pelajaran matematika.
3.             Bagi Sekolah
Pelaksanaan penelitian ini akan dapat memberikan memberikan informasi dalam rangka meningkatkan pembelajaran di dalam kelas berupa peningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika maupun mata pelajaran yang lain dan memperbaiki teknik dan metode pembelajaran yang memiliki banyak bervariasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR
DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.  TINJAUAN PUSTAKA

1.    Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Sekarang timbul pertanyaan apakah belajar itu sebenarnya? Samakah belajar dengan latihan, dengan menghafal, dengan pengumpulan fakta dan studi? Tentu saja terhadap pertanyaan tersebut banyak pendapat yang mungkin satu sama lain berbeda.
Ada beberapa pandangan tentang belajar diantaranya menurut Slameto (1995:2) berpendapat bahwa :
“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”
Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar.
Adapun definisi belajar menurut Sanjaya (2006:110) sebagai berikut :
“Belajar dianggap sebagai proses perubahan prilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan.”
Menurut definisi di atas seseorang mengalami proses belajar kalau ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dalam menguasai ilmu pengetahuan. Belajar disini merupakan “suatu proses” dimana guru melihat apa yang terjadi selama murid menjalani pengalaman edukatif untuk mencapai suatu tujuan. Yang harus diperhatikan dari siswa adalah pola perubahan pada pengetahuan selama pengalaman belajar itu berlangsung. 
Sedangkan belajar menurut Mappasoro (2009) adalah
“Belajar adalah aktivitas mental (psikhis) yang terjadi karena adanya interaksi aktif antara individu dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan yang bersifat relatif tetap dalam aspek-aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif.”
Perubahan tersebut dapat berupa sesuatu yang sama sekali baru atau penyempurnaan/peningkatan dari hasil belajar yang telah diperoleh sebelumnya.
Selanjutnya arti belajar menurut Suparno (1997:61) bahwa :
“Belajar merupakan proses aktif, belajar mengkonstruksi arti entah teks, dialog, pengalaman fisis, dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan.”
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang baru secara kesulurahan, sebagai akibat dari pengalaman dan latihan, dengan perubahan–perubahan yang dihasilkan bersifat relatif tetap.

2.    Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang bersifat menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional (Abdurrahman, 2003:38).
A.J. Romiszowski dalam Abdurrahman (2003:38) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu sistem pemrosesan masukan (inputs). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja (performance). Menurut Romiszwoski, hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari empat macam kategori, yaitu pengetahuan tentang fakta, pengetahuan tentang prosedur, pengetahuan tentang konsep dan pengetahuan tentang prinsip. Keterampilan juga terdiri dari empat kategori, yaitu keterampilan untuk berpikir atau keterampilan kognitif, keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik, keterampilan bereaksi atau bersikap, dan keterampilan berinteraksi.
Hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi dan penguasaan awal anak tentang materi yang akan dipelajari. Ini berarti bahwa guru perlu menetapkan tujuan belajar sesuai dengan kapasitas intelegensi anak dan pencapaian tujuan belajar perlu menggunakan bahan apersepsi, yaitu bahan yang telah dikuasai anak sebagai batu loncatan untuk menguasai bahan pelajaran baru. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan yang diberikan kepada anak. Ini berarti bahwa guru perlu menyusun rancangan dan pengelolaan pembelajaran yang memungkinkan anak bebas untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya (Abdurrahman, 2003:40).
Secara umum, maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah suatu proses kegiatan yang menimbulkan kegiatan kelakuan baik hingga seseorang lebih mampu memecahkan masalah dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya. Dari beberapa pemikiran di atas maka hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tingkat penguasaan bahan pelajaran setelah mendapatkan atau memperoleh pengalaman belajar dalam kurung waktu tertentu, yang dapat diukur dengan menggunakan tes atau penilaian tertentu melalui proses pembelajaran yang melibatkan siswa dan guru.
3.    Pembelajaran Matematika
Istilah mathematics (Inggris), mathematic (Jerman), berasal dari perkataan latin mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan Yunani, mathematike, yang berarti “relatin learning”. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema  yang berarti pengetahuan. Perkataan mathematike berhubungan sangat erat dengan sebuah kata lain yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar (berpikir). Jadi, berdasarkan etimologis Elea Tinggih  (Suherman, 2001:18) perkataan matematika berarti “Ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan nalar”.
Johnson dan Rising (Suherman, 2001:19) mengatakan bahwa :
“Matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi”.

Sedangkan Reys (Suherman, 2001:19) mengatakan bahwa :
“Matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola pikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat”.

Jadi, belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur matematika sehingga dapat menimbulkan suatu perubahan tingkah laku dan pola pikir sebagai hasil pengalaman individu mempelajari matematika.
4.    Hasil Belajar Matematika
Proses belajar yang di alami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dibidang pemahaman, pengetahuan, keterampilan , nilai dan sikap. Adanya perubahan itu tampak dalam prestasi belajar siswa, tes atau tugas yang dibebankan kepada guru. Bercermin kepada prestasi belajar siswa, guru harus selalu mengadakan perbaikan-perbaikan mengajarnya baik metode maupun penguasaan materi yang akan diajarkan. Hasil yang diperoleh dari penilaian hasil belajar siswa baik individual maupun kelompok di dalam kelasnya, akan menggambarkan kemajuan yang telah dicapainya selama periode tertentu.
Hasil belajar matematika merupakan puncak dari proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi karena evaluasi guru. Cara menilai hasil belajar matematika biasanya menggunakan tes. Tujuan dari tes tersebut adalah mengukur hasil belajar yang dicapai siswa dalam mempelajari matematika. Disamping itu tes juga dipergunakan untuk menentukan seberapa jauh pemahaman materi yang telah dipelajari karena itu tes dapat digunakan sebagai penilaian diagnostik, formatif, sumatif dan penentuan tingkat pencapaian.
Keberhasilan seseorang mempelajari matematika tidak hanya dipengaruhi minat, kesadaran, kemauan, tetapi juga bergantung pada kemampuannya terhadap matematika serta diperlukan keterampilan intelektual, misalnya keterampilan berhitung. Hasil yang dimaksud adalah tingkat penguasaan untuk mengukur hasil belajar sesuai dengan tujuan pencapaian kognitif disesuaikan dengan taraf kognitif siswa.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.  
Hal-hal yang dipengaruhi hasil belajar adalah:
a.              Intelegensi dan penguasaan anak tentang materi yang akan dipelajari.
b.             Adanya kesempatan yang diberikan oleh anak.
c.              Motivasi.
d.             Usaha yang dilakukan oleh anak.

Jadi, Hasil belajar matematika yang dimaksud adalah tingkat keberhasilan
 siswa menguasai bahan pelajaran matematika setelah memperoleh pengalaman belajar matematika dalam suatu kurun waktu tertentu.
5.    Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Matematika Realistik
a.              Pengertian Pendekatan Matematika Realistik
Banyak pendekatan yang telah dikemukakan oleh para ahli dan bisa digunakan oleh para pendidik atau tenaga kependidikan dalam proses pembelajaran. Setiap pendekatan mempunyai kelebihan dan kelemahan Dalam hal ini, guru harus pandai dalam memilih pendekatan yang sesuai dengan bahan ajar yang akan disampaikan sesuai dengan karaktersitik anak dan cocok pula dengan sarana dan prasarana yang tersedia.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika adalah pendekatan matematika reaslistik atau lebih dikenal dengan sebutan RME (Realistic of Mathematic Education).
Pendidikan matematika realistik (RME) diketahui sebagai pendekatan yang telah berhasil di Nederlands. Ada suatu hasil yang menjanjikan dari penelitian kuantitatif dan kualitatif yang telah ditunjukkan bahwa siswa didalam pendekatan RME mempunyai skor yang lebih tinggi  dibanding dengan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan tradisional dalam hal keterampilan berhitung, lebih khusus lagi dalam aplikasi (Suherman, 2001:125).
Realistic mathematics education, yang diterjemahkan sebagai pendidikan matematika realistik (PMR), adalah sebuah pendekatan belajar matematika yang dikembangkan sejak tahun 1971 oleh sekelompok ahli matematika dari Freudenthal Institute, Utrecht University di Negeri Belanda. Pendekatan ini didasarkan pada anggapan Hans Freudenthal (1905-1990) bahwa matematika adalah kegiatan manusia. Menurut pendekatan ini, kelas matematika bukan tempat memindahkan matematika dari guru kepada siswa, melainkan tempat siswa menemukan kembali ide dan konsep matematika melalui eksplorasi masalah-masalah nyata. Di sini matematika dilihat sebagai kegiatan manusia yang bermula dari pemecahan masalah (Dolk, 2006).
Pembelajaran matematika tidak dapat dipisahkan dari sifat matematika seseorang memecahkan masalah, mencari masalah, dan mengorganisasi atau matematisasi materi pelajaran (Gravemeijer dalam Hadi 2003:1). Secara garis besar PMR atau RME adalah suatu teori pembelajaran yang telah dikembangkan khusus untuk matematika. Konsep matematika realistik ini sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar (Supinah, 2008:15). Dalam pengertian yang lainnya, Pendekatan matematika realistik adalah pendekatan pembelajaran matematika yang berdasarkan pandangan konstruktivistik, yaitu proses belajar matematika yang memberi keleluasaan kepada siswa yang mengkonstruk konsep-konsep matematika melalui konteks (contextual problem). Konteks yang diterjemahkan siswa ke dalam model-model matematika sebagai jembatan untuk menghantarkan siswa sampai memahami konsep-konsep formal.
Dalam pandangan realistik, matematika merupakan proses kegiatan manusia yang aktif (as human activity) dan bukan merupakan teori pendidikan matematika yang statis dan selesai. Sumarmo (2001:10) mengemukakan bahwa: “Matematika juga berkaitan dengan dunia siswa (realita), menekankan siswa menemukan kembali (reinvention) melalui penyajian situasi masalah dalam konteks”.
Zulkardi (2001:14) mengatakan “pendekatan matematika realistik adalah pendekatan dalam pendidikan matematika yang berdasarkan ide bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata dalam konteks kehidupan sehari-hari siswa sebagai sumber pengembangan sekaligus sebagai aplikasi melalui proses matematisasi baik horizontal maupun vertikal.
Dari beberapa pendapat diatas dapat dikatakan bahwa RME atau pendekatan Realistik adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sehari- hari sebagai sumber inspirasi dalam pembentukan konsep dan mengaplikasikan konsep- konsep tersebut atau bisa dikatakan suatu pembelajaran matematika yang berdasarkan pada hal- hal nyata atau real bagi siswa dan mengacu pada konstruktivis sosial.
Matematika realistik merupakan pendekatan belajar mengajar matematika yang memanfaatkan pengetahuan siswa sebagai jembatan untuk memahami konsep-konsep matematika. Siswa tidak belajar konsep matekatika dengan cara langsung dari guru atau orang lain melalui penjelasan, tetapi siswa membangun sendiri sesuatu yang diketahui oleh siswa itu sendiri. Matematika itu sendiri member kesempatan kepada siswa mengkonstruk sendiri konsep-konsep matematika melalui sesuatu yang diketahuinya. Berdasarkan sesuatu yang diketahui siswa melakukan, berbuat, mengerjakan, menginterpretasikan, dan semacamnya, yang akhirnya siswa memahami konsep matematika. Menurut Freudental (Suherman, 2001:128), matematika sebagai aktivitas manusia atau mathematics as a human activity. Pandangan ini mengharuskan matematika dipelajari secara aktif. Gagasan dari kunci matematika realistik adalah memberi kesempatan siswa menemukan kembali konsep-konsep matematika melalui bimbingan guru (guide reinvention). Melalui pengetahuan informal siswa, guru membimbing siswa sampai menemukan konsep-konsep matematika sebagai pengetahuan formal. Melalui memecahkan contextual problem yang dipahami, siswa menggunakan pengetahuan informal untuk menemukan konsep matematika. Proses seperti ini mendorong siswa belajar secara interaktif, karena guru hanya berperan membangun ide dasar siswa. Matematika Realistik adalah pendekatan pembelajaran yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Suryanto dan Sugiman, 2001:6):
1.             Menggunakan masalah kontekstual, yaitu matematika dipandang sebagai kegiatan sehari-hari manusia, sehingga memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi atau dialami oleh siswa (masalah kontekstual yang realistik bagi siswa) merupakan bagian yang sangat penting.
2.             Menggunakan model, yaitu belajar matematika berarti bekerja dengan matematika (alat matematis hasil matematisasi horisontal).
3.             Menggunakan hasil dan konstruksi siswa sendiri, yaitu siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematis, di bawah bimbingan guru.
4.             Pembelajaran terfokus pada siswa
5.             Terjadi interaksi antara murid dan guru, yaitu aktivitas belajar meliputi kegiatan memecahkan masalah kontekstual yang realistik, mengorganisasikan pengalaman matematis, dan mendiskusikan hasil-hasil pemecahan masalah tersebut.


b.             Prinsip-Prinsip Matematika Realistik
Untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan RME kita harus tahu prinsip-prinsip yang digunakannya. Ada tiga prinsip kunci RME (Gravemeijer,1994:90), yaitu: “Guided re-invention, Didactical Phenomenology dan Self-delevoped Model”.
1)            Guided Re-invention atau Menemukan Kembali Secara Seimbang.
Memberikan kesempatan bagi siswa untuk melakukan matematisasi dengan masalah kontekstual yang realistik bagi siswa dengan bantuan dari guru. Siswa didorong atau ditantang untuk aktif bekerja bahkan diharapkan dapat mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuan yang akan diperolehnya.
2)            Didactical Phenomenology atau Fenomena Didaktik.
Topik-topik matematika disajikan atas dasar aplikasinya dan kontribusinya bagi perkembangan matematika. Pembelajaran matematika yang cenderung berorientasi kepada memberi informasi atau memberitahu siswa dan memakai matematika yang sudah siap pakai untuk memecahkan masalah, diubah dengan menjadikan masalah sebagai sarana utama untuk mengawali pembelajaran sehingga memungkinkan siswa dengan caranya sendiri mencoba memecahkannya. Dengan masalah kontekstual yang diberikan pada awal pembelajaran seperti tersebut di atas, dimungkinkan banyak/beraneka ragam cara yang digunakan atau ditemukan siswa dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian, siswa mulai dibiasakan untuk bebas berpikir dan berani berpendapat, karena cara yang digunakan siswa satu dengan yang lain berbeda atau bahkan berbeda dengan pemikiran guru tetapi cara itu benar dan hasilnya juga benar. Ini suatu fenomena didaktik. Dengan memperhatikan fenomena didaktik yang ada di dalam kelas, maka akan terbentuk proses pembelajaran matematika yang tidak lagi berorientasi pada guru, tetapi diubah kepada pembelajaran matematika yang berorientasi pada siswa atau bahkan berorientasi pada masalah (Marpaung, 2006:4).
3)            Self-delevoped Models atau model dibangun sendiri oleh siswa.
Pada waktu siswa mengerjakan masalah kontekstual, siswa mengembangkan suatu model. Model ini diharapkan dibangun sendiri oleh siswa, baik dalam proses matematisasi horizontal ataupun vertikal. Kebebasan yang diberikan kepada siswa untuk memecahkan masalah secara mandiri atau kelompok, dengan sendirinya akan memungkinkan munculnya berbagai model pemecahan masalah buatan siswa. Dalam pembelajaran matematika realistik diharapkan terjadi urutan ”situasi nyata” → ”model dari situasi itu” → ”model ke arah formal” → ”pengetahuan formal”., inilah yang disebut ”buttom up” dan merupakan prinsip RME yang disebut ”Self-delevoped Models” (Soedjadi, 2004:1).
c.              Karakteristik Pendekatan Matematika Realistik
Beberapa karakteristik pendekatan matematika realistik menurut Gravemeijer (1994:94) adalah sebagai berikut:
1)            Menggunakan masalah kontekstual
Masalah konsektual berfungsi sebagai aplikasi dan sebagai titik tolak dari mana matematika yang digunakan dapat muncul. Bagaimana masalah matematika itu muncul (yang berhubungan dengan kehidupan sehari- hari).
2)            Menggunakan model atau jembatan
Perhatian diarahkan kepada pengembangan model, skema, dan simbolisasi dari pada hanya mentrasfer rumus. Dengan menggunakan media pembelajaran siswa akan lebih faham dan mengerti tentang pembelajaran aritmatika sosial.
3)            Menggunakan kontribusi siswa
Kontribusi yang besar pada saat proses belajar mengajar diharapkan dari konstruksi murid sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal ke arah metode yang lebih formal. Dalam kehidupan sehari- hari diharapkan siswa dapat membedakan pengunaan aritmatika sosial terutama pada jual beli. Contohnya: harga baju yang didiskon dengan harga baju yang tidak didiskon.
4)            Interaktivitas
Negosiasi secara eksplisit, intervensi, dan evaluasi sesama murid dan guru adalah faktor penting dalam proses belajar secara konstruktif dimana strategi informal siswa digunakan sebagai jembatan untuk menncapai strategi formal. Secara berkelompok siswa diminta untuk membuat pertanyaan kemudian diminta mempresentasikan didepan kelas sedangkan kelompok yang lain menanggapinya. Disini guru bertindak sebagai fasilitator.
5)            Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya (bersifat holistik)
Aritmatika sosial tidak hanya terdapat pada pembelajaran matematika saja, tetapi juga terdapat pada pembelajaran yang lainnya, misalnya pada akutansi, ekonomi, dan kehidupan sehari- hari.
Beberapa hal yang perlu dicatat dari karakteristik pendekatan matematika realistik di atas adalah bahwa pembelajaran matematika realistik
1)            Termasuk “cara belajar siswa aktif” karena pembelajaran matematika dilakukan melalui ”belajar dengan mengerjakan.
2)            Termasuk pembelajaran yang berpusat pada siswa karena mereka memecahkan masalah dari dunia mereka sesuai dengan potensi mereka, sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator.
3)            Termasuk pembelajaran dengan penemuan terbimbing karena siswa dikondisikan untuk menemukan atau menemukan kembali konsep dan prinsip matematika.
4)            Termasuk pembelajaran kontekstual karena titik awal pembelajaran matematika adalah masalah kontekstual, yaitu masalah yang diambil dari dunia siswa.
5)            Termasuk pembelajaran konstruktivisme karena siswa diarahkan untuk menemukan sendiri pengetahuan matematika mereka dengan memecahkan masalah dan diskusi.
Dua catatan terakhir di atas mengisyaratkan bahwa secara prinsip pendekatan matematika realistik merupakan gabungan pendekatan konstruktivisme dan kontekstual dalam arti memberi kesempatan kepada siswa untuk membentuk (mengkonstruksi) sendiri pemahaman mereka tentang ide dan konsep matematika, melalui penyelesaian masalah dunia nyata (kontekstual).
d.             Langkah-langkah pembelajaran matematika realistik
Secara umum langkah-langkah pembelajaran matematika realistik dapat dijelaskan sebagai berikut (Zulkardi, 2001):
1)            Persiapan
Selain menyiapkan masalah kontekstual, guru harus benar-benar memahami masalah dan memiliki berbagai macam strategi yang mungkin akan ditempuh siswa dalam menyelesaikannya.
2)            Pembukaan
Pada bagian ini siswa diperkenalkan dengan strategi pembelajaran yang dipakai dan diperkenalkan kepada masalah dari dunia nyata. Kemudian siswa diminta untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara mereka sendiri.
3)            Proses pembelajaran
Siswa mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan pengalamannya, dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kelompok. Kemudian setiap siswa atau kelompok mempresentasikan hasil kerjanya di depan siswa atau kelompok lain dan siswa atau kelompok lain memberi tanggapan terhadap hasil kerja siswa atau kelompok penyaji. Guru mengamati jalannya diskusi kelas dan memberi tanggapan sambil mengarahkan siswa untuk mendapatkan strategi terbaik serta menemukan aturan atau prinsip yang bersifat lebih umum.
4)            Penutup
Setelah mencapai kesepakatan tentang strategi terbaik melalui diskusi kelas, siswa diajak menarik kesimpulan dari pelajaran saat itu. Pada akhir pembelajaran siswa harus mengerjakan soal evaluasi dalam bentuk matematika formal.

B.  KERANGKA BERPIKIR

Secara umum hasil belajar matematika siswa masih berada dalam tataran rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa, guru diharapkan mampu berkreasi dengan menerapkan model ataupun pendekatan dalam pembelajaran matematika yang cocok. Model atau pendekatan ini haruslah sesuai dengan materi yang akan diajarkan serta dapat mengoptimalkan suasana belajar.
Salah satu pendekatan yang membawa alam pikiran siswa ke dalam pembelajaran dan melibatkan siswa secara aktif adalah pendekatan matematika realistik. Pendekatan matematika realistik adalah suatu pendekatan yang menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran dimana siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan matematika formalnya melalui masalah-masalah realitas yang ada. Dengan pendekatan ini siswa tidak hanya mudah menguasai konsep dan materi pelajaran namun juga tidak cepat lupa dengan apa yang telah diperolehnya tersebut. Pendekatan ini pula tepat diterapkan dalam mengajarkan konsep-konsep dasar dan diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan meningkatnya hasil belajar siswa maka pendekatan ini dapat dikatakan efektif. Dengan kata lain proses belajar matematika dengan menggunakan pendekatan matematika realistik lebih efektif dari pada pembelajaran tanpa menggunakan pendekatan matematika realistik.

Adapun bagan dari kerangka berpikir diatas adalah sebagai berikut :
 






C.      HIPOTESIS TINDAKAN

Berdasarkan tinjuan pustaka, maka hipotesis penelitian ini adalah “Jika siswa diberi pengajaran dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik maka hasil belajar siswa kelas VII MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng akan meningkat”.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.           Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang meliputi perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection), yang selanjutnya keempat komponen tersebut dirangkaikan dalam suatu siklus kegiatan.
B.            Lokasi dan Subyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada MTs. Ma’arif Puro’ro Desa Patallassang Kec. Tompobulu Kab. Bantaeng  dengan subyek penelitian adalah siswa kelas VII dengan jumlah siswa 24 orang, terdiri dari 11 laki-laki dan 13 perempuan.
C.           Faktor Yang Diselidiki
a.              Faktor proses, yaitu dengan mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Aktivitas yang dimaksud antara lain:
1)            Siswa yang hadir pada saat proses belajar berlangsung.
2)            Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru.
3)            Siswa yang menjawab pertanyaan dari guru.
4)            Siswa yang aktif pada saat diskusi.
5)            Siswa yang mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas.
b.             Faktor hasil, yaitu melihat hasil belajar matematika siswa setelah penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik yang diperoleh dari setiap tes akhir siklus.
D.           Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah:
a.              Lembar Observasi
Lembar Observasi digunkan untuk mengetahui data tentang  kehadiran siswa, keaktifan, dan perhatian siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
b.             Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar digunakan untuk memperoleh informasi tentang penguasaan siswa setelah proses pembelajaran.
E.            Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus, yaitu siklus I diadakan 4 kali pertemuan yang terdiri dari 3 kali proses belajar dan 1 kali tes siklus 1 dan siklus II diadakan 4 kali pertemuan yang terdiri dari 3 kali proses belajar dan 1 kali tes siklus II. Sesuai dengan hakikat penelitan tindakan kelas, maka penelitian pada siklus II merupakan pelaksanaan perbaikan dari kekurangan pada siklus I, dan setiap siklus terdiri dari 4 tahap yakni perencanaan, tindakan, observasi, evaluasi, dan refleksi.
Ø Gambaran Siklus
a.              Tahap Perencanaan
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut :
1)            Menelaah Kurikulum SMP Kelas VII semester I mata pelajaran matematika.
2)            Membuat rencana pembelajaran yang mencerminkan pendekatan pembelajaran matematika realistik.
3)            Membuat tugas dalam bentuk LKS, yang akan dikerjakan oleh siswa secara berkelompok.
4)            Membuat instrumen penelitian berupa tes hasil belajar sebanyak 5 nomor dalam bentuk soal essay untuk melakukan evaluasi di setiap akhir siklus.
5)           Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi atau keadaan siswa di kelas selama proses belajar mengajar berlangsung.
b.             Tahap Tindakan
1)            Guru menyajikan materi  secara klasikal, pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan jam pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar.
2)            Siswa diarahkan untuk membentuk kelompok kecil yang anggotanya heterogen berjumlah 4-6 orang tiap kelompok.
3)            Siswa mendengarkan tugas-tugas yang dibacakan oleh guru yang harus dikerjakan oleh kelompok.
4)            Siswa diberi soal latihan yang sama dan diselesaikan dengan kelompok masing-masing. Setelah siswa itu diberi soal yang identik untuk diselesaikan secara individual.
5)            Selama proses belajar kelompok berlangsung, setiap kelompok tetap diawasi, dikontrol dan diarahkan, serta diberi bimbingan secara langsung pada kelompok yang mengalami kesulitan.
6)            Evaluasi tentang hasil kerja kelompok, masing-masing kelompok ditunjuk wakilnya untuk mempresentasikan hasil diskusinya dan kelompok lain memberi tanggapan.
7)            Guru memberi penghargaan atas hasil kerja siswa baik secara individual maupun kelompok.
c.              Tahap Observasi
Selama proses pembelajaran akan diadakan pengamatan tentang:
1)            Kemampuan siswa memahami materi yang telah dipelajari selama siklus I dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik.
2)            Keaktifan siswa dalam kelompok bertanya kepada temannya maupun kepada guru atau keaktifan siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru maupun dengan kelompoknya dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik.
3)            Kelompok dan kerjasama yang diperlihatkan siswa dalam kelompoknya.
4)            Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan.


d.             Tahap Refleksi
Melihat dan mempelajari kembali hasil yang dilakukan pada tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan evaluasi. Ternyata pada siklus I belum sesuai dengan indikator kinerja, maka dilanjutkan pada siklus II.
F.            Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.              Data mengenai sikap, minat serta kesungguhan siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika realistik diambil dengan teknik observasi, yaitu pengamatan yang dilakukan penulis kepada siswa yang menjadi subjek penelitian, pengamatan ini dilakukan disaat berlangsungnya proses belajar mengajar.
b.             Data mengenai peningkatan prestasi belajar matematika siswa diambil dari hasil tes pada setiap akhir siklus.
G.           Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Untuk analisis kuantitatif digunakan deskriptif yaitu rata-rata skor dan persentase. Selain itu akan dibentuk pula standar deviasi, table frekuensi dan persentase, nilai minimum dan maksimum yang siswa peroleh.
Untuk analisis data kualitatif, maka teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Sanimbar, 2011) adalah sebagai berikut:
Nilai 90-100% dikategorikan ”sangat tinggi”
Nilai 80-89% dikategorikan ”tinggi”
Nilai 65-79% dikategorikan ”sedang
Nilai 55-64% dikategorikan ”rendah”
Nilai 0-54% dikategorikan ”sangat rendah
H.           Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas (classroom action reseach) ini adalah setelah diterapkan pembelajaran matematika realistik, maka hasil belajar matematika mengalami peningkatan. Hasil ini ditandai dengan terjadinya peningkatan keaktifan fisik, keaktifan mental dan keaktifan sosial siswa. Sedangkan hasil kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika ditandai dengan meningkatnya skor rata-rata dengan memperhatikan ketuntasan belajar siswa. Adapun teknik analisis kualitatif akan digunakan kategori ketuntasan belajar siswa dapat dari  kategori  yaitu Seorang siswa disebut telah tuntas hasil belajarnya bila ia telah mencapai skor 65% atau 6,5 dan ketuntasan klasikal tercapai jika minimal 85 % mencapai nilai 65 dari skor ideal 100.
 


1 komentar:

  1. Online Casino | Kadangpintar.com
    Get started by 온카지노 playing real money online casino 메리트 카지노 고객센터 games with real money welcome bonuses. Sign-up and start winning 샌즈카지노 real money with KADANGPINTAR!

    BalasHapus